Kedudukan Shalat Hajat

Shalat hajat ialah shalat dua rakaat yang dilakukan apabila seseorang memiliki keperluan kepada Allah atau kepada yang lainnya dari makhluk Allah, terutma sesama manusia. Maka orang ini diharuskan berwudlu atau mandi, kemudian setelah itu shalat dua rakaat, lalu memuji Allah dan bershalawat atas nabi sallallahu ‘alaihi wassalam. Setelah itu mengucap doa-doa hajat yang kemudian disambung dengan doa-doa memohon kebaika dunia dan akhirat.

Dari Abdullah bin Abu Aufa Al-Islami, ia mengatakan “Rasulullah sallallahu ‘alaihi wassalam telah mendatangi kami dan bersabda “Barangsiapa yang memiliki keperluan kepada Allah atau kepada seseorang dari makhluk-Nya, maka hendaklah berwudhu dan salat dua rakaat, kemudian hendaklah mengucapkan.”Tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Lemah Lembut dan Maha Bijaksana, Maha Suci Allah yang Maha Mengurus Arasy, segala puji milik Allah Yang Mengurus sekalian alam, Ya Allah Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu sesuatu yag memastikan rahmat-Mu, keniscayaan ampunan-Mu, dan aku memohon kepada-Mu ganimah dari setiap kebaikan, dan terlupu dari setiap dosa, aku memohon kepada-Mu agar Engkau tidak meninggalkan sebuah dosa pun yang Engkau ampuni, sebuah kebingungan yang Engkau beri jalan keluar, sebuah keperluan yang Engkau kabulkan untukku” Kemudian ia (boleh) memohon kepada Allah apa pun berupa kepentingan dunia dan akhirat. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa”. (HR. Ibnu Majah, I:441)

Hadits ini sangat lemah denga kelemahan yang tidak dapat diternggang lagi. Pada hadits ini terdapat seorang rawi yang bernama Fa’id bin Abdurrahman.

Untuk lebih jelas, marilah kita perhatikan untaian sanad tersebut:

Tentang Rawi Faid bin Abdurrahman ini marilah kita perhatikan keterangan-keterangan para ahli:

Nama lengkapya adalah Fa’id bin Abdurrahman Abul Warqa Al-Kufi Al-Athari

  1. Abdullah bin Ahmad bin Hanbal dari bapaknya mengatakan “Matrukul Hadits”
  2. Abbas Ad-Dauri dari Yahya bin main mengatakan “Ia lemah, ia tsiqah dan laisa bi syaiin”
  3. Al-Bukhari mengatakan “Munkarul hadits”
  4. Abu daud mengatakan “Laisa bi syaiin”
  5. At.Tirmidzi mengatakan “Ia lemah didalam hadits”
  6. An-Nasai mengatakan “Tidak tsiqah” dan pada kesempatan lain beliau mengatakan “matrukul hadits”
  7. Ibnu Hibban mengatakan “Tidak boleh berhujjah dengannya” (Tahdzibul kamal, XXIII:137-140)
  8. Imam Az-Zahabi mengatakan “Ahmad dan ulama ahli lain meninggalkannya” (Mizanul I’tidal, III:340)

Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dengan lafal yang persis dengan hadits di atas, hanya saja di akhir doa ditambah dengan kata-kata Ya Arrahmarrahimin.

Sanad hadits riwayat At-Tirmidzi ini pun menggunakan jalan yang sama, yaitu elalui rawi Fa’id bin Abdurrahman yang sangat lemah ditas. Inilah untaian sanadnya:

Seain hadits di atas masih terdapat hadits lain, masih dari shahabat Abdullah bin Abul Aufa yang diriwayatkan oleh Imam Al-hakim dengan beberapa perbedaan lafad. Agar lebih jelas, marilah kita perhaikan hadits riwayat Al-Hakim tersebut:

“dari Abdullah bin Abu Aufa Al-Islami ia mengatakan “Rasulullah sallallahu ‘alaihi wassalam telah mendatangi kami suatu hari dan susuk kemudian bersabda “Barangsiapa memiliki keperluan kepada Allah atau kepada seseorang dari bani Adam, maka hendaklah berwudu dengan sebaik-baiknya, kemudia shalat dua rakaat memuji Allah dan bersalawat atas Nabi Sallallahu ‘alaihi wassalam, kemudian hendaklah mengucapkan, “Tidak ada Tuhan Selain Allah Yang Maha Lemah Lembut dan Maha Bijaksana, maha Suci Allah Yang maha Agung Yang Mengurus Arasy, segala puji milik Allah Yang mengurus sekalian alam, Aku memohon kepada-Mu sesuatu yang memastikan ampunan-Mu, pemeliharaan dari dosa, dan terlepas dari setiap dosa”. (HR. AL-Hakim, Al-Mustadrak, I:320)

Hadits riwayat Al-Hakim pun sangat lemah dengan kelemahan yang sama dengan hadits riwayat Ibnu Majah diatas, Dan dibawah ini untaian sanad Hadits Riwayat Al-hakim:


“dari Usman bin Hunaif, bahwasanya seorang laki-laki yang matanya tidak awas mendatangi nabi sallallahu ‘alaihi wassalam dan berkata, “Berdoalah anda kepada Allah agar Dia menyembuhkan aku”. Beliau menjawab “jika engkau mau berdoalah atau jika mau bersabarlah, maka itu akan lebih baik bagimu: ia berkata “berdoalah engkau” ia berkata “Maka ab sallallahu ‘alaihi wassalam memerintahkannya untuk berwudu dengan sebaik-baiknya dan berdoa dengan doa ini. “Ya Allah sesungguhna aku memohon kepada-Mu dan aku menghadap kepada-Mu melalui Nabi-Mu Muhammad nabi yang pengasih, sesungguhnya aku menghadap melalui Anda kepada Tuhanku untuk keperluanku ini agar Ia berkenan memenuhinya, Ya Allah Syafaatlah ia padaku”. (HR. At-Tirmidzi, Tuhfathul Ahwadzi, X:22-23)

Kalau kita perhatikan lebih seksama pada hadits ini tidak ada keterangan tentang shalat hajat, karena Rasulullah sallallahu ‘alaihi wassalam setelah menyuruhnya berwudu, tidak menyuruhnya melakukan shalat. Dengan demikian hadits ini lebih tepat dikatakan menerangkan wudhu hajat, dan bukan salat hajat.

Namun bagaimanapun matan hadits tersebut yang jelas sanadnya tidak luput dari kelemahan. Karena di dalamya terdapat seorang rawi yang disebut Abu Ja’far, Dan inilah untaian sanadnya:


Pada sanad diatas diceritakan bahwa Mahmud bin Gailan menerima dari Usman bin Umar, padahal didalam kitab-kitab rijal tidak tercatat bahwa keduanya merupakan guru dan murid, artinya di antara keduanya tidak terbukti terjadinya penyampaian hadits. Terutama Rawi Abu Ja’far ini dinyatakan lemah oleh para ahli:

  1. Abdullah bin Ahmad, dari bapaknya, mengatakan “Laisa bilqawiyi fil hadits”
  2. Amr bin Ali mengatakan “Padanya terdapat kedhaifan”
  3. Ibnu Hibban mengatakan “Ia sendirian meriwayatkan hadits-hadits munkar dari para guru yang masyhur”
  4. Al-Ijli mengatakan “Laisa bilqawiy” (Tahdzibut tahdzib, XII:56-57)
  5. Ada yang mengatakan bahwa Abu Ja’far di dalam sanad ini adalah Abu Ja’far Al-Khatmi. Menurut keterangan At-Tirmidzi sendiri bukan al-Khatmi sebba al-Khatmi adalah rawi yang tsiqah. (As-sunan walmubtada’at, I:26)

Selain diriwayatkan oleh At-Tirmidzi hadits ini pun diriwayatkan oleh Ibnu Majah degan matan yang sama dan dengan sanad yang sama (Sunan Ibnu Majah, I:441,332)

Dengan keterangan-keterangan tersebut, nyatalah bahwa shaat hajat yang telah banyak dikerjakan oleh sementara orang adalah suatu pekerjaan yang bid’ah. Hal itu disebbakan hadits-haditsnya sangat emah dengan kelemahan yang tidak saling membantu, mengingat rawi yang lemah diatas ifirad (menyendiri dalam periwayatan hadits), Dengan demikian tidak benar Rasulullah sallallahu ‘alaihi wassalam telah mencontohkan apalagi memerintahkannya

About rendyadamf
assalamu'alaikum wrwb..salam kenal buat teman - teman semuanya..gw rendy TTL : Bandung, 30-06-84. gw kuliah di UNISBA. gw nulis blog ini hanya untuk curahkan semua pemikiran gw..dan gw udah ubah haluan jalan hidup gw..menjadikan jihad sebagai satu-satunya jalan hidup gw!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: