Makmum yang Masbuq Menyusul Ruku Imam dapat Satu Rakaat

Pada pembahasan yang lalu dikemukakan bahwa ada dua pendapat dikalangan ulama tentang masbuq mendapatkan imam sedang ruku, apakah dihitung mendapatkan rakaat itu atau tidak. Setelah membahas kedua pendapat tersebut, kami cenderung kepada pendapat yang kedua bahwa apabila seorang makmum yang menyusul ruku imam dalam posisi apapun dan ia tertinggal al-Fathihah sejak awal, maka ia wajib mengulangi rakaat yang tertinggal itu. Namun sehubungan dengan munculnya berbagai pertanyaan-pertanyaan tentang kedudukan riwayat-riwyat baik qaul (perkataan) maupun amal (perbuatan) diantara sahabat Rasul yang berhubungan dengan masalah tersebut, maka pembahasan tentang masalah ini kami kemukakan lagi pada edisi ini.

Didalam beberapa riwayat, baik berupa qaul (perkataan) maupun amal (perbuatan) diterangkan bahwa makmum yang masbuq jika mendapatkan ruku bersama imam walaupun diluar shaf, maka ia mendapatkan rakaat tersebut. Adapun riwayat-riwayat yang dimaksud adalah sebagai berikut:

A.    Riwayat ibnu Mas’ud

Dari Abdullah bin mas’ud ia berkata “Siapa yang tidak dapat menyusul imam ketika ruku, ia tidak mendapatkan rakaat itu”. (HR. Al-Baihaqi, as-Sunanul Kubra, II:90)

Dari Zaid bin Ahmar, dari Ibnu Mas’ud ia berkata “Apabila seseorang di antara kamu ruku, lalu berjalan (sambil ruku) menuju shaf sebelum jamaah mengangkat kepala mereka, maka ia mendapatkan rakaat itu. Dan jika merek mengangkat kepala sebelum masuk ke shaf, maka rakaat itu tidak terhitung”. (HR. Thabarani, al-Mu’jamul Kabir, IX:270)

Kedua riwayat ini secara tegas menerangkan pendapat Ibnu Mas’ud bahwa jika makmum masbuq mendapatkan ruku bersama imam walaupun diluar shaf, sebelum imam bangkir dari rukunya, ia mendapatkan rakaat tersebut. Pendapat ini secara konsisten diamalkan ketika beliau masbuk bersama Zaid bin Wahab, bahkan beliau mencegah zaid bin Wahab ketika akan menambah rakaat yang terlewat. Hal itu sebagaimana diterangkan dalam riwayat sebagai berikut:

Dari Zaid bin Wahab ia berkata “Aku keluar bersama Abdullah bin Mas’ud dari rumahnya menuju masjid. Tatkala kami berada ditengah mesjid itu, imam telah ruku, maka Ibnu Mas’ud bertakbir dan ruku dan akupun ruku bersamanya. Kemudian kami berjlan dalam keadaan ruku hingga sampai shaf ketika jamaah mengangkat kepala mereka. Ketika imam selesai dari salatnya, aku berdiri dan berpendapat tidak mendapatkan rakaat itu. Lalu Ibnu Mas’ud memegang tanganku dan menundukanku, kemudia berkata “Sesungguhnya kamu sudah mendapatkan rakaat” (HR. Al-Baihaqi, as-Sunanul Kubra, II:90; Ath-Thabarani, al-Mu’jamul Kabir, IX:270).

Pada riwayat At-Thabarani lainnya dengan redaksi

“Sesungguhnya kamu telah menyempurnakan shalat itu”

Demikian pula ketika beliau masbuk bersama kawan-kawannya (satu orang shahabat rasul bernama Thariq bin Syihab dan Sembilan orang tabi’in), sebagai berikut:

Dari Thariq bin Syihab ia berkata “kami sedang berkumpul di rumah Ibnu Mas’ud, maka datang seseorang lalu berkata “Iqamah telah dikumandangkan”. Kemudian Ibnu Mas;ud berdiri dan kamipun berdiri bersamanya. Ketika kami masuk masjid, kami melihat orang-orang sedang ruku dibagian depan masjid, maka Ibnu Mas’ud ruku dan kamipun ruku, lalu kami berjalan dan melakukan seperti yang dilakukannya (berjalan sambil ruku). Maka seseorang lewat dengan cepat, lalu berkata “Alaikassalam wahai Abu Abdurrahman Ibnu Mas’ud menjawab waktu ruku, “Sadaqallahu qa rasuluhu”. Ketika kami selesai shalat dan kembali (kerumah Ibnu Mas’ud), ia menemui keluarganya, kami menunggu. Maka sebagian diantara kami bertanya, “Apakah kalian mendengar jawaban (salam) beliau kepada orang itu sadaqallahu” (HR. Ahmad, Musnad al-Imam Ahmad, VI:179, no Hadits 3.664; VI:415-416, No Hadits 3.870)

Sesungguhnya Qaul dan amal ini benar-benar bersumber dari Ibnu Mas’ud, maka besar kemungkinan peristiwa itu terjadi setelah 10 hingga 12 Tahun Rasul meninggal, yakni ketika Ibnu Mas’ud menetap di Kuffah selama 3 Tahun, sejak Tahun 21 H/641M hingga 23 H/643 M tatkala diutus oleh Umar bin Khattab sebagai Mu’allim (pengajar) dan wazir (pengatur) baitul mall mendampinginya Ammar bin Yasar sebagai amir (gubernur) disana. Sepeninggal Umar (23H/643M), ia diangkat sebagai “Amir oleh Utsman, hanya tidak lama kemudian Itsman memintanya untuk kembali ke Madinah (Lihat al-Ishabah fi tamyizis shahabah, II:37)

Namun ternyata qaul dan amal ini disangsikan kebenarannya karena menururt penelitian kami, riwayat-riwayat tersebut tidak selamat dari kedhaifan.

Kedhaifan riwayat Ibnu Mas’ud

1.      Ibnu Mas’ud ruku dibelakang shaf, lalu berjalan sambil ruku menuju shaf. Sehubungan dengan masalah ruku dibelakang shaf, Qatadah mengatakan

Dari Qatadah, sesungguhnya Ibnu Mas’ud berkata “Tidak mengapa anda ruku (sendirian) dibelakang shaf”. (HR. Thabarani, Al-Mu’jamul Kabir, IX:271, No Hadits 9.356)

2.      Ibnu Mas’ud menetapkan ukuran makmum mendapatkan rakaat itu adalah rukunya imam.

Namun Setelah diteliti ternyata pada riwayat-riwayat tersebut terdapat beberapa kedhaifan, yaitu:

A.    Riwayat Qauli

Pada riwayat al-Baihaqi terdapat dua kedhaifan, yakni (1) pada sanad itu disebutkan Alin bin Ashim berkata, “telah bercerita kepada kami Khalid bin Khadzdza (ia menerima), dari Alin bin Al-Aqmar, dari Abdul Ahwash” sanad ini munqathi (terputus), karena Khalid bin al-Hadzdza tercatat mempunyai 40 orang guru, namun tidak ada satupun yang bernama Ali bin Aqmar (lihat Tahdzibul kamal, VIII:178-179). Demikian pula dengan halnya Ali bin Aqmar tercatat mempunyai 17 orang murid, namun tidak ada satupun yang bernama Khalid bin Khadzdza (lihat Tahdzibul kamal, XX:324). (2) pada sanad itu terdapat rawi bernama “Ashim bun Shuhaib. Kata Yazid bin Zurai, “Ali telah menceritakan kepada kami dari Khalid sebanyak lebih dari 10 hadits, lalu kami menanyakan hadits itu kepada Khalid satu demi satu” maka Khalid berkata “Ia pendusta, hati hatilah terhadapnya” (Lihat At-Tarikhul Kabir, VI:290). Sehubungan dengan itu Ibnu Hajar Berkata “Shaduqun Yukhtiu (dia keliru)”. (Lihat Taqribut Tahdzib, I:403)

Pada Riwayat At-Thabarani terdapat kedhaifan, yakni pada sanad itu disebutkan bahwa Abdullah bin Yazid an-Nakha’I menerima dari Zaid bin Ahmar, dari Ibnu Mas’ud, sanad inipun munqathi (terputus), karena anakha’I tercatat mempunyai 4 orang guru, namun tidak ada satupun yang bernama Zaid bin Ahmar. Disamping itu Zaid bin Ahmar tidak tercatat pada kitab-kitab rijal (kitab-kitab tentang rawi).Namun yang tercatat bernama Yazid bin al-Ahmar (Lihat Tahdzibul Kamal, XVI:310), seandainya yang dimaksud dengan Zaid bin Ahmar itu adalah yazid, tetap saja sanad hadits itu munqathi, karena ia tidak pernah menerima hadits dari Ibnu Mas’ud. Tetapi ia hanya menerima hadits dari Hudzaifah bin al-Yaman (Lihat Ats-Tsiqat, V:535)

Pada riwayat Ath-Thabarani dari Qatadah, dari Ibnu Mas’ud terjadi inqitha (terputus) sanadnya, yakni ghair mu’asharah (tidak sezaman) antara Qatadah bin Di’amah dengan Ibnu Mas’ud, sebba Ibnu Mas’ud wafat Tahun 32H/652 M (lihat Tadzkirul Hufazh, Juz I:14) sedangkan Qatadah bin Di’amah lahir 29 Tahun setelah Ibnu Mas’ud wafat, yakni Tahun 61 H/680 M, (Lihat Tahdzibul Kamal, XXIII:517)

B.     Riwayat Amali

1.      Melalui Zaid bi Wahab

Kejadian Ibnu mas’ud masbuq beserta Zaid diriwayatkan oleh At-Thabarani melalui beberapa jalur periwayatan, namun semuanya tidak terepas dari kedhaifan, yaitu:

1.      Dari Muhammad bin Nadhr al Azdi, dari Muawiyyah Bin Amr, Dari Zaidah bin Qudamah, dari Manshur. Dalam sanad lain Zaidah, dari Mughirah, dari Ibraim an-Nakha’I tanpa menyebutkan nama orang yang masbuq bersama Ibnu Mas’ud itu, tetapi hanya disebut shahib Abdullah (kawan ibnu mas’ud). Sanad ini diragukan Mutassil (bersambungnya), karena didalam kitab-kitab rijal ada tiga rawi yang bernama Muhammad bin An-nadhr:

a.       Muhammad bin an-Nadhr bin Salamah al-‘Amiri al-jarudi

b.      Muhammad bin an-Nadhr bin Abdul Wahhab an-Naisaburi

c.       Muhammad bin an-Nadhr bin Musawir al-Marwuzi.

Namun tidak ada satupun yang disebut al-Azdi. Yang jelas ketiganya tidak tercatat dalam guru ath-Thabrani. (Lihat Tahdzibul Kamal, XXVI:553-556, no rawi 5.656, 5.567, 5.568)

2.      Dari Ishaq bin Ibrahim, dari Abdur Razaq, dari Sufyan Ats-Tsauri, dari manshur. Didalam kitab-kitab rijal terdapat 15 orang bernama Ishaq bin Ibrahim, namun yang tercatat sebagai periwayat dari Abdur-razaq hanya 3 orang, yaitu:

a.       Ishaq bin Ibrahim bin Rahawaih

b.      Ishaq bin Ibrahim bin nashr

c.       Ishaq bin Ibrahim bin Abbad ad-Dabari

(Lihat Tahdzibul Kamal, II:361-396, XVII:54, Al Kamil fi Dhu’afair Rijal, I:344)

Pada sanad ini tidak dijelaskan Ishaq yang dimaksud, tetapi bila digunakan dalam periyatan Ath-Thabarani maka yang termasyhur adalah Ishaq Bin Ibrahim Abbad Ad-dabari, sedangkan periwayatan Ishaq Ad-Dabari dari Abdur razaq terdapat masalah yakni:

1.      Ia tidak pernah menerima hadits secara langsung dari Abdur- razaq tetapi melaui ayahnya bernama Ibrahim (Lisanul Mizan, !:349)

2.      Ia menerima Hadits secara langsung dari abdur-Razaq, namun abdurrazaq telah ikhlilath (buta matanya), karena itu Imam Ahmad berkata “Siapa yang menerima hadits dari Abdur-Razaq setelah buta matanya, maka penerimaan hadits itu dhaif”. (Lihat Tahdzibul kamal, XVIII:58)

Menurut Ibnu hajar “Hadits-hadits Ishaq AD-Dabari dari Abdur Razaq yang tidak dimuat pada kitab-kitabnya, maka hadisnya munkar, karena ia menerima darinya setelah ikhtilath” (Lisanil Mizan, I:350). Karena Hadits ini tidak dimuat pada kitab Abdur razaq, maka hadits ini munkar (tertolak), yakni diriwayatkan olehnya setelah Abdur Razaq Ikhtilath.

3.      Dari Ali Bin Abdul Aziz, dari Hajjaj bin Minhal, dari Abu Awanah, dari manshur. Sanad inipun diragukan ke mutahsilannya, karena Abu Awanah tidak menyebutkan secara pasti bentuk penerimaan hadits itu dari Manshur, ia hanya menyebut ‘An (dari). Menurut para ahli Hadits periwayatan Abu Awanah dapat ditetapkan mutashil (bersambung) bia ia meriwayatkan dari catatannya, namun jika melalui hapalannya, maka hadits itu tidak selamat dari kesalahan. (Tahdzibul kamal, XXX:447)

Riwayah Al-baihaqi diterima dari Abu nashr bin Qatadah, dari Abu fadhl HUmairuwaih, dari Ahmad bin Najdah, dari Said bin Manshur, dari Abul Ahwash, dari Manshur. Sanad ini munqathi (terputus), karena Ahmad bin najdah tidak menerima hadits ini dari Sa’id bin Manshur. Dan ia hanya sebagai periwayat as-sunan dari sa’in bin Manshur, bukan sebagai periwayat haditsnya. Sedangkan hadits ini tidak tercatat dalam kitab sunan tersebut. (Tahdzibul Kamal, XI:79)

Hadits tersebut diriwayatkan pula oleh Ibnu Syaibah, dai Abul Ahwash Salam bin Sulaim, Dari manshur, dari Zaid bin Wahab. (Al-Mushannaf, I:229) menurut penelitian kami hanya riwayat inilah yang mutashshil.

3.      Melalui Thariq bin Syihab

Kejadian Ibnu Mas’ud masbuq beserta kawan-kawannya diriwayatkan oleh Imam Ahmad melalui jalur periwayatan:

a.       Thariq bin Syihab

b.      Al-Aswad bin Zaid

Namun Kedua sanad itu tidak terlepas dari kedhaifan, yaitu:

1.      Pada sanad Thariq terdapat rawi bernama Sayyar, para ahli hadits versilang pendapat tentang Sayyar yang dimaksud pada sanad ini, antara Abul hakam dan Abu Hamzah. Basyir bin Sulaiman, Makhlad bin Yazid, Waki’ Yahya bin Adam, Abdullah bin Daud, Abu Ahmad Azzubairi (para periwayat itu dari Sayyar), semuanya mengatakan dari Sayyar Abu Hakam. (Ilal ad-Daruquthni, V:115). Namun ahmad, Abu daud, Yahya bin Ma’in, dan Ad-Daruquthni menyatakan bahwa dia yahya Abu Hamzah. Menurut mereka “Sungguh keliru yang mengatakan bahwa ia Sayyar Abul Hakam”. (Dr. Syuib al-Arnauth, dkk, pada ta’liq ‘ala musnad al-imam Ahmad, VI:416). Dengan demikian, selama tidak dapat ditetapkan kebenaran di antara nama itu, maka sanad tersebut dapat dikatakan idhtirab (Kacau)

2.      Pada sanad al-Aswad bin zaid terdapat rawi bernama Mujalid bin Sa’id bin Umair. Imam ahmad sebagai periwayat hadits itu menyatakan “laysa bisyain (sama sekali tidak bernilai/berkualitas)” (Lihat tahdzibul Kamal, XXVII:221) Ibnu Hajar berkata, Laisa Bil Qawwi (tidak kuat) benar-benar pikun di akhir hayatnya”. (Taqribut Tahdzib, I:520)

Tanggapan terhadap riwayat Ibnu mas’ud versi Ibnu Abu Syaibah dan shahabat lainnya adalah sebagai berikut:

Kejadian Ibnu mas’ud masbuq beserta Zaid diriwayatkan pula oleh Ibnu Syaibah, dari Abul Ahwash Salam bin Sulaim, dari manshur, dari Zaid bin Wahab (Mushnaf, I:229), secara sanad riwayat inilah yang dipastikan mutassil (bersambung), namun kandungan matannya mukhalafah (menyalahi) beberapa aturan shalat berjamaah yang ditetapkan Rasulullah, sebagai berikut:

1.      Pada riwayat tersebut diterangkan bahwa Ibnu Mas’ud dan Zaid ruku diluar shaf, Padahal Rasul melarangnya. Hal ini sebagaimana diterangkan oleh Abu Hurairah

Nabi bersabda “Apabila seseorang diantara kamu mendatangi shalat (berjamaah), maka jangan ruku diluar shaf, hingga menempati tempatnya pada shaf itu”. (HR. Ath-Thahawi, syarh ma’anil Atsar, I:396)

2.      Pada riwayat tersebut diterangkan bahwa Ibnu Mas’ud dan Zaid ruku sambil berjalan menuju shaf. Padahal amal seperti ini jelas dilarang oleh Rasul berdasarkan hadits Abu Bakrah sebagai berikut:

Sesungguhnya Abu Bakrah datang ketika Rasul sedang ruku, lalu ia ruku diluar shaf kemudian berjalan (dalam keadaan ruku) menuju shaf. Ketika nabi Selesai salatnya beliau bersabda, “Siapa diantara kalian yang ruku diluar shaf kemudian berjalan (dalam keadaan ruku) menuju shaf? Maka Abu Bakrah berkata “saya”. Kemudian Nabi bersabda “mudah-mudahan Allah menambah semangatmu, dan janganlah kamu mengulangi (amal seperti itu)” (HR.Al Jamaah, dan redaksi ini riwayat Abu Daud)

Dan redaksi dari an-Nasai:

أَخْبَرَنَا حُمَيْدُ بْنُ مَسْعَدَةَ عَنْ يَزِيدَ بْنِ زُرَيْعٍ قَالَ حَدَّثَنَا سَعِيدٌ عَنْ زِيَادٍ الْأَعْلَمِ قَالَ حَدَّثَنَا الْحَسَنُ أَنَّ أَبَا بَكْرَةَ حَدَّثَهُ أَنَّهُ دَخَلَ الْمَسْجِدَ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَاكِعٌ فَرَكَعَ دُونَ الصَّفِّ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَادَكَ اللَّهُ حِرْصًا وَلَا تَعُدْ

Dari Ziad al-A’lam, ia berkata,”Al-Hasan telah menceitakan kepada kami bahwasannya Abu Bakrah menceritakan bahwa ia masuk ke mesjid sedangkan Rasulullah saw. sedang dalam posisi ruku, maka ia ruku di belakang shaf. Nabi saw. bersabda,’Mudah-mudahan Allah menambah semangatmu, tetapi janganlah kau ulangi.’”. H.r. Abu Daud, An-Nasai

Pada kedua hadis ini jelas sekali bahwa Abu Bakrah melakukan ruku sejak dari belakang shaf lalu pada hadis kedua ini dilengkapi dengan keterangan bahwa dalam keadaan ruku ia memasuki shaf.

عَبْدَ الْعَزِيزِ بْنَ أَبِي بَكْرَةَ يُحَدِّثُ أَنَّ أَبَا بَكْرَةَ جَاءَ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَاكِعٌ فَسَمِعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَوْتَ نَعْلِ أَبِي بَكْرَةَ وَهُوَ يَحْضُرُ يُرِيدُ أَنْ يُدْرِكَ الرَّكْعَةَ فَلَمَّا انْصَرَفَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ السَّاعِي قَالَ أَبُو بَكْرَةَ أَنَا قَالَ زَادَكَ اللَّهُ حِرْصًا وَلَا تَعُدْ

Abdul Aziz bin Abu Bakrah menceritakan bahwa Abu Bakrah datang sedangkan Nabi saw. sedang ruku. Maka Nabi saw. mendengar derap sandal Abu Bakrah dan ia hadir menginginkan untuk mendapatkan rakaat itu. Ketika Nabi saw. selesai dari salat, beliau bertanya,”Siapakah yang berjalan?’ Abu Bakrah menjawab,’Saya’Nabi saw. bersabda,’Semoga Allah menambah semangatmu, tetapi janganlah kau ulangi.’”. H.r. Ahmad : 19540.

وَهُوَ يَحْضُرُ يُرِيدُ أَنْ يُدْرِكَ الرَّكْعَةَ

Dan ia hadir karena ingin mendapatkan rakaat itu

Kata-kata ini menunjukkan ia ruku sejak dari belakang saf agar mendapatkan rakaat itu.

Pada hadis masih riwayat Ahmad bin Hanbal ada yang menggunakan lafal:

مَنْ هَذَا الَّذِي رَكَعَ ثُمَّ مَشَى إِلَى الصَّفِّ

Siapa gerangan yang ruku kemudian berjalan menuju shaf? : 19558

Hadis-hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, I:88 741, An-Nasai : 861, Abu Daud : 585,586, Ahmad bin Hanbal, 19510, 19540, 19558, 19559, 10570, dan 19604. Ibnu Hiban, V : 568, 569, dan 570.

Tanggapan dan keterangan

Abu Bakrah tidak diterangkan diperintah menambah kekurangan rakaat. Ini tidak berarti tidak menambah kekurangan rakaat. Karena jika tidak menambah kekurangan rakaat akan bertentangan dengan hadis-hadis lainnya yang sahih. Yaitu kerjakanlah yang kamu dapatkan dan sempurnakanlah yang kamu ketinggalan H.r. Al-Bukhari.

Rasulullah saw. mendoakan Abu Bakrah karena semangatnya untuk sesegera mungkin dapat turut berjama’ah.

Abu Bakrah bersegera agar mendapatkan ruku sehingga ia melakukannya walaupun belum memasuki shaf dan agar mendapatkan ruku itu itu

Ibnu Masud dan Zaid bin Wahab mengalami hal yang sama, mereka pun tentu mendapatkan ruku tetapi tidak mendapatkan rakaat. Terbukti Ibnu Mas’ud memberi kawannya dengan kata-kata :

قَدْ أَْدَرْكَتَهُ.

“Engkau telah mendapatkan ruku itu”. Bukan dengan kata-kata :

قَدْ أَْدَرْكَتَهَا.

Engkau telah mendapatkan rakaat itu.

Jadi Tentu Ibnu Mas’ud menambah kekurangannya.

Kesimpulan inisejalan dengan hadis-hadis lain yang menerangkan sebagai berikut :

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْتَرِئْ بِأُمِّ الْقُرْآنِ ، مسلم : 596

Dari Ubadah bin As-shamit, ia berkata,”Rasulullah saw. telah brsabda,’Tidak sah salat bagi yang tidak membaca alfatihah.’” H.r. Muslim : 596

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ يَبْلُغُ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ ، مسلم : 595

Dari Ubadah bin As-shamit, ia berkata,”Rasulullah saw. telah brsabda,’Tidak sah salat bagi yang tidak membaca alfatihah.’” H.r. Muslim : 596

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا سَمِعْتُمْ الْإِقَامَةَ فَامْشُوا إِلَى الصَّلَاةِ وَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ وَالْوَقَارِ وَلَا تُسْرِعُوا فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا. البخاري : 600

Dari Abu Huraerah dari Nabi saw. beliau bersabda,”Apabila kalian mendengan iqamah, berjalanlah menuju salat dan lakukanlah dengan tenang dan janganlah kalian bersegera. Apa yang kalian dapatkan lakukanlah dan apa yang kalian tertinggal sempurnakanlah.

Jelas sekali dari amal Abu Bakrah bahwa ia ketinggalan rakaat tetapi masih mendapatkan ruku yang tentu ada pahalanya seperti yang dialami oleh Ibnu Mas’ud dan Zaed bin Wahab.

Selain katerangan-keterangan di atas mengenai kedudukan Alfatihah pada setiap rakaat terdapat hadis lain sebagai berikut :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ قَالَ : مَنْ أَدْرَكَ اِلإمَامَ فِي الرُّكُوعِ فَلْيَرْكَعْ مَعَهُ وَلْيُعِدِ الرَّكْعَةَ – رَوَاهُ ابْنُ سَيِّدِ النَّاسِ عَمَّنْ رَوَى عَنِ ابْنِ خُزَيْمَةَ –

Dari Abu Huraerah, bahwa Nabi saw bersabda,”Siapa yang menyusul imam ketika ruku, maka rukulah bersamanya dan ulangilah ruku itu” – H.R.Ibnu Sayyidinnas dari orang yang meriwayatkan dari Ibnu Khuzaimah”

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ قَالَ: إِنْ أَدْرَكْتَ القَوْمَ رُكُوعًا لَمْ تَعْتَدَّ بِتِلْكَ الرَّكْعَةِ . – رَوَاهُ البُخَارِيُّ فِي القِرَاءَةِ خَلْفَ اِلإمَامِ وَهَذَا هُوَ المَعْرُوفُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ مَوْقُوفًا

Dari Abu Huraerah bahwasannya ia mengatakan,”Siapa yang menyusul kaom sedang ruku, maka janganlah menghitung ruku itu” – H.r. Al-Bukhari di dalam al-Qiraah khalfal imam dan inilah yang telah dikenal dari Abu Huraerah secara mauquf .

Hadis ini di antara contoh hadis mauquf secara sanad tetapi marfu’ secara hukum. Karena sahabat bukan pembuat Syariat.

Oleh karena itu mendapatkan imam yang sedang ruku adalah ketinggalan rakaat itu karena ketinggalan Al-fatihah yang dibaca pada qiyam.

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ وَأَبِي هُرَيْرَةَ … مَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا – متفق عليهما –

Dari Abu Qatadah dan Abu Huraerah,” Apa yang dapat kalian susul maka lakukanlah dan apa yang tertinggal maka sempurnakanlah” Muttaqun alaihima –

Berdasarkan hadis-hadis ini jelas sekali bahwa salat tidak sah tanpa qiyam dan qiyam tidak sah tanpa Alfatihah.

Abu Bakrah ruku sejak dari belakang saf karena ingin mendapatkan rukuk itu dan tentu ada pahalanya. Hanya saja ia telah salah karena dilakukan sejak sebelum masuk saf.

Hadis Abu Bakrah serta Ibnu Mas’ud dan Zaid bin Wahab menegaskan mendapatkan ruku tidak mendapatkan rakaat itu.

Demikian pula dengan keumuman perintah yang senantiasa dikemukakan oleh Nabi kepada orang makmum yang masbuq

“Apabila shalat telah dilaksanakan, janganlah seorang berjalan dengan tergesa-gesa mendatangi shalat itu, tetapi hendaklah ia tenang, lakukanlah apa yang kamu dapati dan sempurnakanlah apa yang terlewat”. (HR. Muslim dan pada riwayat al-Bukhari dengan redaksi

“Apabila kalian mendatangi salat, hendaklah tenang, apa yang dapat kalian susul maka lakukanlah dan apa saja yang tertinggal maka sempurnakanlah”

3.      Pada riwayat tersebut diterangkan bahwa Ibnu mas’ud menetapkan ukuran makmum mendapatkan rakaat itu adalah rukunya imam. Padahal Nabi menyuruh Abu bakrah yang dapat menyusul ruku imam untuk menambah rakaat yang terlewat itu dengan kalimat

“lakukanlah apa yang kamu dapati dan sempurnakanlah apa yang terlewat”. (HR Bukhari dalam qiraah khalfah Imam)

Perintah Nabi kepada Abu Bakrah ini menjadikan tolak ukur makmum mendapatkan satu rakaat bukan rukunya imam, hal ini dipertegas pula oleh Abu Hurairah

“Apabila kamu menyusul jamaah salat sedang ruku, maka janganlah ruku itu dijadikan rakaat”. (Talkhishul habir, II:545, no. 595)

Pernyataan Abu Hurairah tersebut semakin mempertegas sikap para shahabat terhadap masalah makmum masbuq mendapati imam sedang ruku tidak dihitung satu rakaat

Dengan ketiga factor mukhalafah di atas kami meragukan keshahihan Ibnu Abu Syaibah diatas, karena tidak mungkin shahabat menyalahi sunnah Rasul

Riwayat Ibnu Umar

Dari Ibnu Umar ia berkata “Apabila kamu dapat menyusul imam sedang ruku, lalu kamu ruku sebelum ia (imam) bengkit, maka kamu telah mendapatkan (rakaat), Dan jika ia bangkit sebelum kamu ruku, maka kamu terlewat (rakaat) itu”. (HR. Abdur Razaq, al mushshanaf, II:279). Dalam riwayat al-Baihaqi dengan redaksi:

“Siapa yang dapat menyusul imam sedang ruku, lalu kamu ruku sebelum imam bangkit, maka kamu telah mendapatkan rakaat itu”. (As-Sunanul Kubra, II:90)

Sedangkan dalam riwayat Ibnu Abu Syaibah dengan redaksi:

“Apabila kamu satang ketika imam sedang ruku, lalu kamu ruku sebelum imam bangkit, maka kamu telah mendapatkan (rakaat itu)”. (Al-Mushshanaf, I:219)

Ketiga riwayat ini secara tegas menerangkan pendapat Ibnu umar bahwa jika makmum masbuq mendapatkan ruku bersama imam berarti ia mendapatkan rakaat tersebut. Namun setelah diteliti ternyata ketiga riwayat tersebut terdapat beberapa kedhaifan, yaitu:

Riwayat Abdurrazaq dan Ibnu Abu Syaibah

Kedua riwayat ini diterima dari Abnu Juraij, dari naïf dengan menggunaka dua bentuk periwayatan. Pada Ibnu Abu Syaibah menggunakan lafal (‘an=dari), sedangkan pada riwayat Abdurrazaq mengunakan kalimat (qaala akhbaraniy) Kedua bentuk periwayatan tersebut menunjukan bahwa pada sanad ini terjadi tadlis sanad (penyamaran sanad), yakni ketidak pastian Ibnu Juraij dalam menerima riwayat tersebut dari nafi’, karena Ibnu Juraij dikenal mudallis isnad (menyamarkan sanad karena ragu-ragu), sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu hajar:

“Dia tsiqat terpercaya, ahli fiqih terkemuka, dan ia melakukan tadlis dan irsal (meriwayatkan hadits nabi tanpa menyebut shahabat)”. (Taqribut Tahdzib, I:363)

Sehubungan dengan itu Imam Ahmad berkata “Dia Tsiqat hafizh, tetapi melakukan tadlis dengan lafal ‘an dan qala”. (Siyaru A’lamin Nubala, VI:352)

Dengan demikian hadits ini dhaif karena terputus sanadnya

Riwayat Al-baihaqi

Riwayat ini dhaif karena pada sanadnya terdapat rawi bernama Walid bin Muslim. Abu hatim mengatakan “Sering waham (sering salah)” dan pada riwayat lainnya beliau berkata “sering keliru”. (Tahqiq ‘ala Tahdzibul kamal, XXXI:94)

Sehubungan dengan kedhaifan riwayat Ibnu Mas’ud dan Ibnu Umar diatas, maka hadits-hadits yang mendapatkan rakaat apabila menyusul ruku imam sedang ruku, hadits-haditsnya dhaif dan tidak dapat dijadikan hujjah.

“Siapa yang mendapatkan Ruku, berarti ia mendapatkan satu rakaat” (HR. Abu Daud, Fiqih Sulaiman Rasyid: 116)

Abu Hurairah, ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW telah bersabda “apabila kamu datang untuk shalat, padahal kamu sedang sujud, maka bersujudlah, dan jangan kamu hitung sesuatu (satu rakaat) dan siapa yang mendapatkan ruku, berarti ia mendapatkan satu ruku (rakaat) dalam shalatnya) (HR Abu Daud, 1:207)

Menurut jumhur “yang dimaksud ruku disana adalah rakaat, jadi siapa yang mendapatkan imam sedang ruku, berarti ia mendapatkan satu rakaat” (al-Mu’in al-mubin, 1:93)

Juga telah diriwayatkansecara marfu’ dari Abu Hurairah “Siapa yang mendapatkan ruku dari shalat, sebelum imam menegakkan tulang rusuknya, berarti ia mendapatkan satu rakaat”. Dan telah dijadika judul dari hadits tersebut. Bab yang menerangkan ketika – dalam hal mana- imam mendapatkan satu rakaat ialah manakala ma’mum mendpatkan (sempat) ruku bersama imam. (subulussalam, 2:36)

Dalam riwayat Daraquthni yang dishahihkan oleh Ibnu Hibban (diterangkan): “siapa yang mendapatkan ruku dari shalat sebelum imam menegakkan tulang rusuknya (bangkit dari ruku), maka ia berarti mendapatkan satu rakaat” (Masail al-muhimmah:37)

Bahwa sesungguhnya Abu Bakar telah datang untuk shalat bersama Nabi dalam keadaan ruku – sebelum sampai menuju shaf- hal itu dismpaikan kepada Nabi, mka Nabi berkata “Semoga Allah menambah kesungguhanmu, tetapi jangan kau ulangi lagi” (HR. Bukhari)

Sanggahan

Pada Hadits Abu Daud pertama tidak ditemukan dalam kitab sunan Abu Daud, maka bisa disimpulkan adanya kekeliruan dalam pengutipan

Pada hadits kedua pada point 2 pendapat pertama, terdapat rawi yang bernama Yahya bin Abi Sulaiman al-Madani. Munurut Amir al-Mu’minin didalam hadits ialah: Muhammad bin Ismail al-Bukhari dalam kitab “JUZ-U AL-QIRA’AT”, Yahya yang ini munkar al hadits (Mizanul I’tidal, 4:383; Aunul ma’bud, 3:147)

Menurut pernyataan Bukhari “Setiap orang yang kami nyatakan munkarul al-hadits, berarti tidak dapat dijadikan hujjah –bahkan- dalam satu riwayat dinyatakan “tidak halal sesuatu yag diriwayatkan darinya” (Fathul Bari, 1:346)

Menurut riwayat yang lainnya hadits tersebut telah diriwayatkan sendirian oleh Yahya bin Sulaiman, sedang ia tidak kuat hafalannya (aunul ma’bud, 3.147)

Hadits tersebut bukan dalil untuk pendapat mereka, karena anda pasti tahu bahwa rakaat itu mencakup semua aspek: bacaan, rukun-rukunnya secara hakiki, syara maupun urf (kebiasaan). Kedua arti tersebut harus didahulukan dari pada arti menurut bahasa. Demikian ketetapan para ahli ushul fiqh. (nailul Authar, 2:245)

Disini tidak terdapat qarinah (alasan) apapun yang memalingkan arti hakiki rakaat kepada arti lain selain ruku, maka hadits termaksud bukan dalil, bahwa yang mendapatkan imam dalam ruku berarti mendapatkan satu rakaat. (Aunul Ma’bud, 3:148)

Tertulis dalam catatan kaki al-Mughni atas sunan Daruquthni, dalam hadits termaksud ada rawi bernama Yahya bin Humaid. Menurut al-Bukhari tidak terdapat mutabi (jalan lain yang menguatkan haditsnya) dan juga dinyatakan dhaif oleh Daraquthni (Aunul Ma’bud, 3:148)

Ibn Hazm dalam Al-Muhalla telah membahas mengenai hadits Abi Bakrah,menurutnya bahwa hadits tersebut tidak bisa dijadikan hujjah oleh mereka dalam hal termaksud, yaitu termasuk rakaat asal mendapatkan ruku. Karena pada hadits tersebut tidak dinyatakan cukup terhitung rakaat (Aunul Ma’bud, 3:141)

Menurut Asy-syaukani: dalam hadits tersebut tidak ada dalil (bukan dalil) yang menguatkan pendapat mereka, karena sebagaimana dimaklumi tidak ada perintah untuk mengulanginya (rakaat), tapi juga dinyatakan terhitung rakaat, tapi juga tidak menyatakan terhitung rakaat. Adapun Nabi mendoakan kepadanya agar lebih bersungguh-sungguh itu tidak berarti terhitung rakaat. (Nailul authar, 2:246)

Dari keterangan-keterangan diatas dapat kita istinbath bahwa dalil pendapat pertama itu adalah lemah, sedangkan hujjah pendapat kedua itu kuat sehingga bisa dijadikan argument, apalagi jika dikuatkan dengan hadits-hadits berikut:

1.      Dari Abu Hurairah ra bahwasanya ia berkata “Jika engkau mendapatkan kaum sedang ruku, maka tidak terhitung rakaat” (HR. Bukhari; Aunul Ma’bud, 3:146)

2.      Dari Qatadah Bahwa Nabi suka membaca Fathihah kitab pada setiap rakaat (HR Tirmidzi)

3.      Dari Abu Hurairah, Nabi SAW ia bersabda “apabila kamu mendengar iqamat pergilah untuk shalat dan kamu mesti tenang, santai dan tidak terburu-buru, apa yang dapati bersama imam shalatlah, apa yang ketinggalan dari imam maka sempurnakanlah (HR. jamaah)

4.      Menurut Imam hafizh dalam kitab al-Baari: hadits itu dapat dijadikan dalil bahwa orang yang mendapatkan imam sedang ruku tidak dihitung rakaat, karena ada perintah untuk menyempurnakan apa-apa yang keitnggalan, sedangkan dalam hal ini jelas makmum ketinggalan (tidak ikut berdiir dan membaca al-fathihah). (fathul Bari, 2:99)

5.      Dengan ini, jelaslah kelemahan alasan-alasan pendapat jumhur yang menyatakan bahwa siapa yang mendapatkan imam dalam keadaan ruku, termasuk rakaat bersamanya (imam) dan bisa dihitung satu rakaat sekalipun tidak mendapat bacaan (fathihah) sedikitpun. (Aunul Ma’bud, 3:147)

6.      Inilah Muhammad bin Ismail Bukhari, salah seorang mujtahid serta figure tokoh agama,beliau berpendapat bahwa yang mendapatkan ruku bersama-sama dengan imam tidak dihitung mendapatkan rakaat, sampai ia membaca al-fathihah kitab dengan sempurna, maka ia mesti mengulang lagi rakaat itu (yang tidak sempat membaca fathihah, setelah imam salam. (Aunul ma’bud, 3:152)

Ada sebagian orang yang tetap berpendapat bahwa ruku imam menjadi tolak ukur mendapatkan satu rakaat, bagaimana dengan Bacaan Al-Fatihah, Bukankah Wajib Dibaca? Mereka menjawab:

Mungkin ada sebagian orang yang masih sedikit penasaran dan tetap mempermasalahkan hal ini. Sebab makmum yang sempat ikut ruku” saja dengan imam berarti tidak sempat membaca surat Al-Fatihah. Sementara ada hadits yang menyebutkan bahwa tidak sah shalat seseorang bila tidak membaca surat itu. Termasuk juga oleh makmum di belakang imam.

Dari Ubadah bin Shamit, dia mengabarkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidak sah shalat orang yang tidak membaca Ummul Qur”an (Al-Fatihah).” (HR Muslim)

Hadits ini memang secara tegas menyebutkan bahwa baca surat Al-Fatihah itu merupakan rukun shalat. Bila tidak dibaca, maka shalat itu menjadi tidak sah.

Namun masalah itu terjawab dengan adanya hadits lain danmenjelaskan bahwa bacaan imam sudah cukup bagi makmum, sehingga ketika makmum tidak membaca ummul kitab itu, hukumnya sudah sah.

Dari Jabir berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang mempunyai imam, maka bacaan imam menjadi bacaannya juga.” (HR Ahmad).

Jadi kedua hadits di atas bisa kita pertemukan menjadi sebuah kesimpulan, yaitu bahwa imam atau seorang yang shalat sendirian wajib membaca Al-Fatihah. Sedangkan makmum tidak perlu membacanya, karena bacaan imam sudah menjadi bacaan bagi makmum.

Sanggahan

Kita jawab bahwa dari hadits riwayat ahmad diatas meskipun shahih, tetapi makmum mendapatkan bacaan imam (Pada shalat yang bacaannya jahr) jika makmum tersebut mendengar, memperhatikan dan otomatis mengikutinya dalam hati bacaan fatihah imamnya, hal ini alasannya adalah:

“Dan apabila qur’an dibaca, hendaklah kamu dengarkan dan diam, supaya kamu diberi rahmat”. (QS. Al-A’raf: 204)

Ayat Al-Quran diatas turun tentang salat sebagaimana perkataan Imam Ahmad sebagai berikut:

“Telah berkata Imam Ahmad di riwayat Abu Daud “Telah Ijma manusia (Ulama Islam), bahwa ayat ini turun tentang urusan shalat. (Mughni)

Apabila kita mendengar maka hatipun akan mengikutinya sebagaimana hadits berikut:

“Telah berkata Abu Qilabah, bahwasanya Rasulullah sallallahu ‘alaihi wassalam bertanya kepada sahabat-sahabatnya ‘Adakah kamu membaca dibelakang imam kamu? Sebagian menjawab “ya dan berkata sebagian, tidak” maka sabdanya “Kalau kamu rasanya berbuat begitu, maka hendaklah kamu baca al-fathihah dalam hati kamu” (HR Ibnu Abi Syaibah)

Lalu jika kita mendengar dimana hati kita otomatis mengikuti bacaan imam itu tentu saja maknanya kita memperhatikan bacaan imam tersebut, seperti dalam haditsa:

“Telah berkata Abu Wail ‘seorang laki-laki bertanya kepada Ibnu Mas’ud tentang membaca dibelakang Imam, maka ia jawab: “Diamlah buat mendengarkan Alquran, karena didalam shalat ada urusan (memperhatikan) dan bacaan itu dikerjakan oleh imam untukmu” (HR. Al-Baihaqi)

Kesimpulan

1.      Masbuq dapat satu rakaat jika mendapatkan (mendengar, memperhatikan dan otomatis mengikuti dengan hati) bacaan al-fatihah imam.

2.      Masbuq mendapatkan ruku imam tidak terhitung satu rakaat karena alasannya lemah

About rendyadamf
assalamu'alaikum wrwb..salam kenal buat teman - teman semuanya..gw rendy TTL : Bandung, 30-06-84. gw kuliah di UNISBA. gw nulis blog ini hanya untuk curahkan semua pemikiran gw..dan gw udah ubah haluan jalan hidup gw..menjadikan jihad sebagai satu-satunya jalan hidup gw!!

One Response to Makmum yang Masbuq Menyusul Ruku Imam dapat Satu Rakaat

  1. Pingback: 12. Masbuq Mendapatkan Ruku Imam « cahaya di atas cahaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: