Istigatsah dan Shalat Istigatsah

Sebagaimana yang kita maklumi bahwa di tanah Air kita kerap kali mendengar acara istigatsah dan pelaksanaan shalat istigatsah. Namun terkadang pula tanpa disertai salat. Pada umumnya, format acara istigatsah berjamaah itu adalah berdzikir bersama, dengan melantunkan kalimat lailaaha illallah tiga ribukali, Allahu akbar tiga ribu kali, dan bacaan-bacaan atau pujian-pujian lainnya.

Makalah ini mencoba menganalisa tentang istigasah, salat istigatsah, maupun upacara dzikir tersebut menurut tinjauan bahasa, Alquran dan sunah Rasul, sehingga dapat diketahui pengertian dan kedudukan yang sebenarnya dalam ajaran Islam.

Pengertian Istighatsah

Istigatsah secara bahasa berarti thalab al-gauts wa an-nashr (memohon bantuan dan pertolongan). Sedangkan secara istilah maknanya tidak jauh dari makna bahasa, yaitu thalab al-‘aun wa tafrij al-kurub (memohon pertolongan dan meringankan kesedihan/kesusahan). Makna ini sebagaimana digunakan pada ayat berikut:

اِذْ تَسْتَغِثُوْنَ رَبَّكُمْ فَا سْتَجَابَ لَكُمْ اَنِّي مُمِذُّكُمْ بِاَلْفٍ مِنَ الْمَلاَ ئِكَةِ مُرْدَفِيْنَ

Ingatlah olehmu  sewaktu kamu memohom pertolongan kepada Tuhanmu Maka Allah memperkenankan doamu. Titahnya,”Sesungguhnya Aku membantu kamu dengan seribu malaikat yang satu sama lain beriring-iring. Q.S. Al Anfal:9

Dilihat dari pengertian di atas tampak jelas bahwa istighatsah memiliki persamaan dan perbedaan dengan isti’anah. Persamaannya bahwa istighatsah dan isti’anah adalah memohon pertolongan. Sedangkan perbedaannya bahwa istighatsah lebih khusus, yakni dilakukan untuk situasi sulit, sedangkan isti’anah lebih umum. Dengan perkataan lain, setiap istighatsah pasti isti’anah, namun tidak setiap isti’anah adalah istighatsah.

Adapun salat istigatsah maknanya memohon agar diberi pertolongan dengan cara melakukan salat.

Istighatsah Dalam Sejarah Islam

Ketika peristiwa perang Badar kubra, hari Jumat 17 Ramadhan tahun ke-2 H, Rasululah saw. merasa sangat was-was dan khawatir akan pasukannya yang sangat sedikit mesti berhadapan dengan musyrikin dengan jumlah sangat banyak. Sehingga ketidakseimbangan yang menakutkan ini mendorong beliau untuk memohon kepada Allah secara khusus. Lihat, al-Kamil fi at-Tarikh, I:280-284.

Dalam riwayat Muslim dikisahkan oleh Umar bin Khatab

لَمَّا كَانَ يَوْمُ بَدْرٍ نَظَرَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِلَى الْمُشْرِكِينَ وَهُمْ أَلْفٌ وَأَصْحَابُهُ ثَلاَثُ مِائَةٍ وَتِسْعَةَ عَشَرَ رَجُلاً فَاسْتَقْبَلَ نَبِيُّ اللهِ صلى الله عليه وسلم  الْقِبْلَةَ ثُمَّ مَدَّ يَدَيْهِ فَجَعَلَ يَهْتِفُ بِرَبِّهِ اللّهُمَّ أَنْجِزْ لِي مَا وَعَدْتَنِي اللّهُمَّ آتِ مَا وَعَدْتَنِي اللّهُمَّ إِنْ تُهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةَ مِنْ أَهْلِ اْلاِسْلاَمِ لاَ تُعْبَدْ فِي اْلاَرْضِ فَمَا زَالَ يَهْتِفُ بِرَبِّهِ مَادًّا يَدَيْهِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ حَتَّى  سَقَطَ رِدَاؤُهُ عَنْ مَنْكِبَيْهِ فَأَتَاهُ أَبُو بَكْرٍ فَأَخَذَ رِدَاءَهُ فَأَلْقَاهُ عَلَى مَنْكِبَيْهِ ثُمَّ الْتَزَمَهُ مِنْ وَرَائِهِ وَقَالَ : يَا نَبِيَّ اللهِ! كَذَاكَ مُنَاشَدَتُكَ رَبَّكَ فَإِنَّهُ سَيُنْجِزُ لَكَ مَا وَعَدَكَ. فَأَنْزَلَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ ( إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلاَئِكَةِ مُرْدِفِينَ ) فَأَمَدَّهُ اللهُ بِالْمَلاَئِكَةِ

Dari Umar bin Khatab, ia berkata, ‘Ketika hari perang badar, Rasulullah saw. melihat musyrikin yang berjumlah seribu orang sedangkan para sahabatnya yang hanya tiga ratus sembilan belas orang. Maka Nabiyullah menghadap ke kiblat dan mengangkat kedua tangannya serta mulailah ia berdoa kepada Tuhannya,”Ya Allah penuhilah janji-Mu kepadaku, Ya Allah, berikanlah apa yang telah Engkau janjikan itu, Ya Allah, Jika kelompok ahli Islam ini musnah, Engkau tidak akan disembah di bumi ini. Maka terus menerus beliau berdoa kepada Tuhannya seraya mengangkat kedua tanganya sambil menghadap kiblat sampai bajunya melorot jatuh dari kedua pundaknya. Abu Bakar mendatanginya dan mengambil bajunya dan mengenakannya kembali pada kedua pundak beliau, dan menguatkan kedua baju itu dari belakangnya, seraya berkata,”Wahai Nabi Allah, telah sedemikian rupa permohonanmu kepada Tuhanmu, niscaya Ia akan memenuhi janji-Nya kepadamu. Maka Allah menurunkan ayat (Al-Anfal : 9)” H.r. Muslim, Shahih Muslim, II:146-147

Keterangan:

1.      Hadis ini adalah satu-satunya hadis shahih tentang Istighatsah yang pernah dilakukan oleh Rasulullah saw. sepanjang hayat beliau, yaitu terjadi pada perang Badar Kubra tahun ke-2 H.

2.     Istigatsah ketika itu hanya dilakukan oleh Rasullah saw. sendirian tidak secara berjama’ah.

3.     Istigatsah yang dimaksud adalah berdoa secara bersungguh-sungguh tanpa disertai dzikir-dzikir dan bacaan-bacaan dengan bilangan yang tertentu, juga tanpa disertai dengan salat istighatsah.

4.     Istigatsah dilakukan dengan cara menghadap ke arah kiblat dan mengangkat kedua tangan

Salat Istighatsah

Di dalam beberapa hadis diceritakan bahwa ketika itu Rasulullah saw berdoa dan melakukan salat istighatsah. Adapun hadis-hadis itu sebagai berikut:

عَنْ عُبَيْدِ اللهِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ : لَمَّا كَانَ يَوْمُ بَدْرٍ فَنَظَرَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم  إِلَى المُشْرِكِيْنَ   وَتَكَاثُرِهِمْ  وَنَظَرَ إِلَى المُسْلِمِينَ فَاسْتَقَلَّهُمْ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ وَقَامَ أَبُو بَكْرٍ عَنْ يَمِيْنِهِ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ  صلى الله عليه وسلم  فِى صَلاَتِهِ. أللّهُمَّ لاَ تَوَدَّعْ مِنِّى أللّهُمَّ لاَ تَخْذُلْنِى أللّهُمَّ لاَ تَتِرَّنِى أللّهُمَّ أَنْشُدُكَ مَا وَعَدْتَنِى أللّهُمَّ إِنْ يَهْزَمُ هذَا الجَمْعُ مِنَ المُشْرِكِينَ هذَا الجَمْعَ مِنَ المُسْلِمِينَ لاَ تُعْبَدُ أَبَدًا فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: أَلحَفْتَ وَاللهِ بِأَبِى أَنْتَ وَأُمِّي وَاللهِ لاَ يَتَوَدَّعُ مِنْكَ وَلاَ يَخْذُلُكَ، وَلاَيَتْرُكَ، وَلَيَنْصُرَنَّكَ عَلَى عَدُوِّكَ كَمَا وَعَدَكَ فَانْصَرَفَ رَسُولُ اللهِ r  مَسْرُورًا، وَقَالَ رَأَيْتُ جِبْرِيْلَ مُعْتَجِرًا مُتَدَلِّيًا مِنَ السَّمَاءِ مُعْتَجِزًا بِعِجْزَةٍ

Dari Ubaidillah bin Abdullah,ia mengatakan,” Ketika hari perang badar, Rasulullah saw. melihat musyrikin dan banyaknya jumlah mereka dan melihat kaum muslimin dan menganggap mereka terlalu sedikit. Lalu beliau salat dua rakaat dan berdirilah Abu Bakar di sebelah kanannya, Rasululah saw. berdoa di dalam salatnya. Ya Allah, janganlah Engkau meninggalkan aku, ya Allah, janganlah engkau hinakan aku, Ya Allah, janganlah Engkau aniyaya aku, Ya Allah, aku memohon janji-Mu padaku jika kelompok musyrikin menghancurkan kelompok muslimin, Engkau tidak akan disembah di bumi ini selamanya.” Abu Bakar berkata,” Aku bersumpah, demi Allah, Allah tidak akan meninggalkanmu, tidak akan mencelakakanmu, tidak akan menghinakanmu dan pasti Ia akan menolongmu atas musuhmu, sebagaimana telah Ia janjikan kepadamu. Maka Rasulullah saw. beranjak dengan gembira dan bersabda,”Aku melihat Jibril sangat gagah turun dari langit dengan gagahnya.” H.r. Sa’id bin Manshur, Sunan Said bin Manshur, II:312-313

Hadis ini daif karena sanadnya munqathi’ (terputus), yaitu Ubaidullah bin Abdulah Bin Utbah dilahirkan pada masa kekhalifahan Umar Bin Khatab (13-23 H/634-644 M) atau sedikit sesudahnya. Lihat, Siyar a’lam an-Nubala, IV:475. Sedangkan perang Badar Kubra terjadi tahun ke-2 H. Jadi terdapat selisih waktu yang cukup jauh antara peristiwa itu dengan kelahiran Ubaidullah, sekitar 14 tahun, bila Ubaidullah lahir ditahun ke-2 masa kekhalifahan Umar. Dengan demikian ia tidak mengetahui peristiwa itu secara langsung. Sedangkan Umar bin Khatab yang terlibat langsung dengan peristiwa itu hanya menerangkan bahwa Rasulullah saw. berdoa dengan cara menghadap kiblat dan mengangkat kedua tangan, tanpa disertai dengan salat.

Selanjutnya hadis:

عَنْ عَبْدِ اللهِ قَالَ: لَمَّا التَقَيْنَا يَوْمَ بَدْرٍ قَامَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم  يُصَلِّي فَمَا رَأَيْتُ نَاشِدًا يَنْشُدُ حَقًّالَهُ أَشَدَّ مِنْ مُنَاشَدَةِ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم  رَبَّهُ تَعَالَى، وَهُوَ يَقُولُ : اللّهُمَّ إِنِّي أَنْشُدُكَ وَعْدَكَ وَعَهْدَكَ، اللّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مَاوَعَدْتَنِي اللّهُمَّ اِنْ تَهْلِكَ هذِهِ العِصَابَةُ لاَتُعْبَدُ فِي الاَرْضِ، ثُمَّ التَفَتْ اِلَيْنَا كَأَنَّ شِقَّةَ وَجْهِهِ القَمَرِ فَقَالَ : هذِهِ مَصَارِعُ القَوْمِ العَشِيَّةَ.

Dari Abdullah, ia berkata,” Ketika kami bertempur di perang badar, rasululah saw. berdiri salat, maka saya tidak pernah melihat seorang pemohon yang memohon haknya melebihi permohonan Muhamad kepada Tuhannya, ia berucap,”Ya Allah, aku memohon kepadamu akan janjiMu dan kesanggupanMu, Ya Allah aku memohon kepadaMu apa yang telah Engkau janjikan kepadaku, Ya Allah jika celaka kelompok muslim ini, maka Engkau tidak akan disembah dimuka bumi ini.” Kemudian beliau berpaling menoleh kepada kami seolah-olah wajahnya bagaikan bulan purnama (berseri-seri), ia bersabda,”Ini pertempuran sengit kaum sore hari ini.” H.r. An-Nasai, as-Sunan al-Kubra, VI:155

Keterangan:

Hadis ini pun daif karena sanadnya munqathi’ (terputus), yaitu pada sanadnya Abu Ubaidah yang bernama Amir bin Abdullah bin Mas’ud disebutkan menerima dari ayahnya, Abdullah bin Mas’ud. Padahal ia tidak pernah mendengar hadis dari ayahnya. Ibnu Main berkata,” Ia tsiqah tetapi tidak mendengar hadis dari bapaknya. Dan ketika ayahnya wafat ia masih berumur tujuh tahun” Lihat, Tahdzib al-Kamal, XIV : 60-62

Kemudian pada hadis dari Ali bin Abu Thalib diceritakan:

عَنْ عَلِيٍّ قَالَ: لَمَّا كَانَ يَوْمُ بَدْرٍ قَاتَلْتُ شَيْئًا مِنْ قِتَالٍ ثُمَّ جِئْتُ اِلَى رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم  أَنْظُرُ مَاصَنَعَ فَجِئْتُ فَإِذَا هُوَ سَاجِدٌ يَقُولُ : يَاحَيٌّ يَا قَيُّومٌ يَاحَيٌّ يَا قَيُّومٌ ثُمَّ رَجَعْتُ اِلَى القِتَالِ ثُمَّ جِئْتُ فَإِذَا هُوَ سَاجِدٌ لاَيَزِيدُ عَلَى ذلِكَ ثُمَّ ذَهَبْتُ اِلَى القِتَالِ ثُمَّ جِئْتُ فَإِذَا هُوَ سَاجِدٌ يَقُولُ ذلِكَ فَفَتَحَ اللهُ عَلَيْهِ.

Dari Ali bin Abi Thalib, ia berkata, ”Ketika hari perang Badar, aku hanya sebentar berperang kemudian aku  segera mendatangi Rasululah saw. untuk melihat apa yang sedang beliau lakukan, ia berkata,” Ternyata beliau sedang bersujud dan berdoa,”Ya hayun ya Qayyum, tiada yang lebih dari itu,.” Maka aku kembali berperang sebentar kemudian aku datang lagi dan ternyata beliau sedang bersujud dan berdoa, maka aku bergi lagi berperang dan datang lagi sedang beliau masih tetap bersujud dan berdoa sampai Allah memberi kemenangan kepada beliau”. H.r. an-Nasai, as-Sunan al-Kubra, VI:156-157

Keterangan :

Hadis ini daif, karena pada sanadnya terdapat seorang rawi bernama Ismail bin Aun bin Ali bin Ubaidilah. Dia tidak ada yang menjarh (mencela) juga tidak ada yang menta’dil (memuji) dan ia tercatat hanya memiliki seorang murid. Rawi yang seperti ini dikategorikan majhul al-‘ain. Lihat, Tahdzib al-Kamal, III:162

src: http://www.facebook.com/notes/amin-saefullah-muchtar/istighatsah-salat-istighatsah/178471118850941

About these ads

About rendyadamf
assalamu'alaikum wrwb..salam kenal buat teman - teman semuanya..gw rendy TTL : Bandung, 30-06-84. gw kuliah di UNISBA. gw nulis blog ini hanya untuk curahkan semua pemikiran gw..dan gw udah ubah haluan jalan hidup gw..menjadikan jihad sebagai satu-satunya jalan hidup gw!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 58 other followers

%d bloggers like this: