Adzan 2 Kali Pada Shalat Jumat

Kajian ini membahas mengenai bagaimanakah hukum 3 kali adzan Shalat Jumat yang sangat perlu kita kaji, hingga kita dapat beramal atas ilmu, bukan mendalili amal. Berikut pembahasannya

Dalam kitab Shahih al-Bukhari dijelaskan :

Imam az-Zuhri -rahimahullah- berkata: as-Sa`ib bin Yazid mengabarkan kepadaku:

أَنَّ الأَذَانَ [ الَّذِيْ ذَكَرَهُ اللَّهُ فِي الْقُرْآنِ ] كَانَ أَوَّلُهُ حِيْنَ يَجْلِسُ الإِمَامُ عَلَى الْمِنْبَرِ [ وَإِذَا قَامَتِ الصَّلاَةُ ] يَوْمَ الْجُمُعَةِ [ عَلَى بَابِ الْمَسْجِدِ ] فِي عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ، فَلَمَّا كَانَ خِلاَفَةُ عُثْمَانَ وَكَثُرَ النَّاسُ [ وَتَبَاعَدَتِ الْمَنَازِلُ ] أَمَرَ عُثْمَانُ يَوْمَ الْجُمُعَة بِالأَذَانِ الثَّالِثِ ( وَ فِيْ رِوَايَةٍ: الأَوَّلِ، وَ فِي أُخْرَى: بِأَذَانٍ ثَانٍ ) [ عَلَى دَارٍ [ لَهُ ] فِي السُّوْقِ يُقَالُ لَهَا الزَّوْرَاءُ ] فَأُذِّنَ عَلَى الزَّوْرَاءِ [ قَبْلَ خُرُوْجِهِ لِيُعْلِمَ النَّاسَ أَنَّ الْجُمُعَةَ قَدْ حَضَرَتْ ]، فَثَبَتَ الأَمْرُ عَلَى ذَلِكَ، [ فَلَمْ يَعِبِ النَّاسُ ذَلِكَ عَلَيْهِ، وَقَدْ عَابُوْا عَلَيْهِ حِيْنَ أَتَمَّ الصَّلاَةَ بِمِنَى

Bahwasanya adzan yang telah Allah sebutkan di dalam al-Qur`an pada mulanya dikumandangan ketika imam duduk di atas mimbar dan ketika sholat akan ditegakkan pada hari jum'at di depan pintu masjid pada masa Nabi -shollallahu alaihi wa sallam-, Abu Bakar dan Umar. Kemudian ketika tiba khilafah Utsman dan orang-orang semakin bertambah banyak serta rumah-rumah saling berjauhan, Utsman memerintahkan pada hari jum'at untuk dikumandangkan adzan yang ketiga (Disebut adzan ketiga dengan hitungan bahwa adzan dan iqamat yang asal ada itu dianggap dua adzan) di atas sebuah rumah miliknya di sebuah pasar yang bernama az-Zaura`. Lalu adzan dikumandangkan di az-Zaura` sebelum beliau keluar untuk memberitahukan kepada orang-orang bahwa waktu jum'at telah tiba. Maka demikianlah seterusnya hal tersebut berlangsung, dan orang-orang tidak mencela beliau atas hal itu, akan tetapi mereka pernah mencela beliau lantaran menyempurnakan shalat (tidak mengqasharnya) ketika berada di Mina. [HR. al-Bukhari, jilid 2, hlm. 314, 316, 317, Abu Dawud, jilid 1, hlm. 171, an-Nasa`i, jilid 1, hlm. 297, at-Tirmidzi, jilid 2, hlm. 392 dan Ibnu Majah, jilid 1, hlm. 228. Juga diriwayatkan oleh asy-Syafi'i, Ibnul Jarud, al-Baihaqi, Ahmad, Ishaq, Ibnu Khuzaimah, ath-Thabrani, Ibnul Munzdir, dll.]

عَنْ سَائِبٍ قَالَ, سَمِعْتُ السَائِبَ بنَ يَزِيْدٍ يَقُوْلُ إِنَّ الأَذَانَ يَوْمَ الجُمْعَةِ كَانَ أَوَّلُهُ حِيْنَ يَجْلِسُ الإِمَامُ يَوْمَ الجُمْعَةِ عَلَى المِنْبَرِ

فِيْ عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا فَلَمَّا كَانَ فِيْ خِلاَفَةِ عُثْمَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ

وَكَثَرُوْا أَمَرَ عُثْمَانُ يَوْمَ الجُمْعَةِ بِالأَذَانِ الثَّالِثِ فَأَذَانَ بِهِ عَلَى الزَّوْرَاءِ فَثَبَتَ الأَمْرُ عَلَى ذَالِكَ
Dari Sa’ib ia berkata, “Saya mendengar dari Sa’ib bin Yazid, beliau berkata, “Sesungguhnya adzan di hari jumat pada asalnya ketika masa Rasulullah SAW, Abu Bakar RA dan Umar RA dilakukan ketika imam duduk di atas mimbar. Namun ketika masa Khalifah Utsman RA dan kaum muslimin sudah banyak, maka beliau memerintahkan agar diadakan adzan yang ketiga (Disebut adzan ketiga dengan hitungan bahwa adzan dan iqamat yang asal ada itu dianggap dua adzan). Adzan tersebut dikumandangkan di atas Zaura’ (nama pasar). Maka tetaplah hal tersebut (sampai sekarang)”. ( Shahih al-Bukhari: 865)

Zaura’ adalah sebuah tempat yang terletak di pasar kota Madinah saat itu. Al-Qurthubi mengatakan bahwa Utsman ra memerinahkan untuk dikumandangkan adzan di suatu rumah yang disebut Zaura”.

Yang dimaksud dengan adzan yang ketiga adalah adzan yang dilakukan sebelum khatib naik ke mimbar. Sementara adzan pertama adalah adzan setelah khathib naik ke mimbar dan adzan kedua adalah iqamah. Dari sinilah, Syaikh Zainuddin al-Malibari, pengarang kitab Fath al-Mu’in, mengatakan bahwa sunnah mengumandangkan adzan dua kali. Pertama sebelum khatib naik ke mimbar dan yang kedua dilakukan setelah khatib naik di atas mimbar :

وَيُسَنُّ أَذَانَانِ لِصُبْحٍ وَاحِدٍ قَبْلَ الفَجْرِ وَآخرِ بَعْدَهُ فَإِن اقَتَصَرَ فَالأَوْلَى بَعْدَهُ, وَأَذَانَانِ لِلْجُمْعَة أَحَدُهُمَا بَعْدَ صُعُوْدِ الخَطِيْبِ

عَلَى الْمِمْبَرِ وَالأَخَرُ الَّذِيْ قَبْلَهُا

Disunnahkan adzan dua kali untuk shalat ٍٍٍShubuh, yakni sebelum fajar dan setelahnya. Jika hanya mengumandangkan satu kali, maka yang utama dilakukan setelah fajar. Dan sunnah dua adzan untuk shalat Jum’at. Salah satunya setelah khatib naik ke mimbar dan yang lain sebelumnya”. (Fath al-Mu’in, Fasal Azan dan Iqamat: 15)

Menurut riwayat Ahmad dan Nasa’I, adalah Bilal beradzan apabila Nabi telah duduk dimimbar, dan ia (bilal) qamat apabila Nabi turun mimbar. (Nailul Authar, 3:97)

Maka ketika dimasa Utsman terdapat kebutuhan dengan semakin banyak muslim, dan orang-orang tidak segera berangkat (pergi) ke mesjid sebagaimana dilakukan orang-orang sebelumnya (di zaman Nabi), maka Utsman memerintahkan adzan Jum’at di Zaura (tempat di pasar Madinah), maka orang-orang yang membawakan lafazh azan tanpa contoh  dari Nabi atau menetapkannya diluar fungsi pemberitahuan datangnya waktu shalat, maka itulah yang bid’ah. (al-Ibdaa, 1:64)

Dari keterangan diatas dapat kita dapatkan informasi bahwa motivasi Khalifah Utsman RA melakukan Adzan Ketiga karena semakin banyaknya kaum muslimin serta rumah-rumahnya yang saling berjauhan, bagaimanakah jika dihadapkan pada zaman sekarang yang hal tersebut sudah sudah lebih mudah dengan fasilitas pengeras suara? Apakah masih perlu adzan tambahan (adzan ketiga) tersebut?

Menurut Syeikh Al-Albani “Tidak samar lagi bahwa pemberitahuan seperti ini dapat dilakukan pada zaman sekarang tanpa perlu adzan tambahan. Sebab hampir tidak ada seorang pun yang berjalan beberapa langkah, melainkan pasti mendengar adzan Jum’at dari menara-menara mesjid. Apalagi alat-alat pengeras suara telah dipasang di menara-menara tersebut, jam-jam penunjuk waktu dan selainnya telah tersebar dimana-mana” (al Ajwibah an Nafi’ah hal. 28 oleh Syaikh al Albani)
Syeikh al-Mahfuzh dalam kitab al-ibdaa menetapkan makruhnya adzan jumat pertama (maksudnya adzan yang diadakan khalifah utsman, dikatakan adzan pertama karena adanya dipermulaan sebelum adzan yang asal yaitu – setelah khatib naik mimbar-) jika tidak diperlukan, terutama pada zaman sekarang ini. (Al-Ibdaa:167-168)
Di dalam Kitab Tafsirnya, al Qurthubi menjelaskan (XVIII/100) dari al Mawardi,
“Adapun adzan yang pertama (maksudnya adzan yang diadakan khalifah utsman, dikatakan adzan pertama karena adanya dipermulaan sebelum adzan yang asal yaitu – setelah khatib naik mimbar-) adalah sesuatu yang baru, dilakukan oleh Utsman agar orang-orang mempersiapkan dirinya untuk mengikuti khutbah, dikarenakan kota Madinah sangat luas sedangkan penduduknya banyak”

Al-Hafidz Ibnu Hajar sebagaimana dikutip oleh Asy-Syaukani di dala kitab Nailul Authar mengatakan bahwa praktek adzan 2 (Sebelum dan setelah Khatib naik mimbar) kali ini dilakukan bukan hanya oleh Khalifah Utsman ra saat itu, melainkan oleh semua umat Islam di mana pun. Bukan hanya di Madinah, melainkan di seluruh penjuru dunia Islam, semua masjid melakukan 2 kali adzan shalat Jumat.

Dan meski tidak pernah dilaksanakan di zaman Rasulullah SAW, namun apa yang dipraktekkan oleh para shahabat secara kompak ini tidak bisa dikatakan sebagai bid”ah yang mendatangkan dosa dan siksa. Lantaran tidak semua perkara yang tidak terjadi di zaman nabi termasuk sesuatu yang buruk. (Lihat Nailul Authar jilid III halaman 278-279).

Ijtihad Sayyidina Utsman RA. tersebut tidak diingkari (dibantah) oleh para sahabat Nabi SAW yang lain. Itulah yang disebut dengan “ijma sukuti”, yakni satu kesepakatan para sahabat Nabi SAW terhadap hukum suatu kasus dengan cara tidak mengingkarinya. Diam berarti setuju pada keputusan hukumnya. Dalam kitab al-Mawahib al-Ladunniyyah disebutkan :

ثُمَّ إِنَّ فِعْلَ عُثْمَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ كَانَ إِجْمَاعاً سُكُوْتِياً لأَِنَّهُمْ لاَ يُنْكِرُوْنَهُ عَلَيْهِ
“Sesungguhnya apa yang dilakukan oleh Sayyidina Ustman ra. itu merupakan ijma’ sukuti (kesepakatan tidak langsung) karena para sahabat yang lain tidak menentang kebijakan tersebut” (al-Mawahib al Laduniyah, juz II,: 249)

 

Tetapi ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu ketika berada di Kufah merasa cukup dengan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak melakukan seperti yang dilakukan oleh ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu, hal ini seperti yang diungkap di dalam Tafsir al Qurthubi.

Ibnu Umar radhiyallaHu ‘anHu juga mengingkari adzan pertama (maksudnya adzan yang diadakan khalifah utsman, dikatakan adzan pertama karena adanya dipermulaan sebelum adzan yang asal yaitu – setelah khatib naik mimbar-)  yang diprakarsai oleh Utsman bin Affan radhiyallaHu ‘anHu:
“Sesungguhnya Nabi apabila naik ke atas mimbar, maka Bilal mengumandangkan adzan dan apabila Nabi selesai dari khutbahnya, maka shalat diqamatkan. Sementara adzan yang pertama (maksudnya adzan yang diadakan khalifah utsman, dikatakan adzan pertama karena adanya dipermulaan sebelum adzan yang asal yaitu – setelah khatib naik mimbar-) adalah bid’ah” (HR. Ibnu Abi Syaibah II/48 dan Abu Thahir al Mukhlish dalam kitabnya al Fawaaid lembar ke 229/1-2)

Riwayat Ibnu Syaibah ini belum nyata sahnya, sedangkan Riwayat Bukhari diatas sudah terang dan shah. Jadi tetaplah riwayat Bukhari yang menerangkan tambahan adzan itu boleh dipakai, dengan arti kalau kita mau mengadakan adzan dua kali (Sebelum dan setelah Khatib naik mimbar), hendaklah sifatnya seperti khalifah Utsman ra, bukan sebagaimana yang sedang berlaku, yaitu adzan dua kali dalam mesjid, adzan dua kali dalam satu mesjid adalah betul-betul bid’ah yang sesat, karena tidak ada contoh dari Nabi dan tidak pula dari shahabat-shahabat beliau yang dapat dianggap ijma’ Periksa (Nailul Authar, 3:323; Fathul Bari, 2:269; Irsyadus-Sari, 2:179)

Apakah itu tidak mengubah sunah Rasul? Tentu Adzan dua kali tidak mengubah sunnah Rasulullah SAW karena kita mengikuti Utsman bin Affan ra. itu juga berarti ikut Rasulullah SAW. Beliau telah bersabda:

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّّتِيْ وَسُنَّةِ الخُلَفَآءِ الرَّاشِدِيْنَ مِنْ بَعْدِيْ
“Maka hendaklah kamu berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah al-Khulafa’ al-Rasyidun sesudah aku “. (Musnad Ahmad bin Hanbal)

Sebab Khalifah Utsman adalah bagian dari sumber syariah dengan dalil berikut ini:

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya siapa yang hidup setelah ini, maka dia akan menyaksikan perbedaan pendapat (ikhtilaf) yang besar. Maka hendaklah kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah para khulafa” ar-rasyidin setelahkku yang mendapat petunjuk. Gigitlah dengan gerahammu.” (HR Abu Daud, At-Tirmizy, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban)
Maka tindakan seperti itu tidak bisa dikategorikan sebagai bid”ah, karena dikerjakan oleh semua shahabat nabi SAW dan tidak mungkin shahabat-shahabat nabi SAW bersepakat untuk berbuat bid’ah.

Lalu bagaimana kita menyikapinya? Mengikuti sunnah Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam-, Abu Bakar dan Umar -radhiallohu anhuma-. Dan tentu saja sunnah beliau jauh lebih kita cintai dari pada sunnah yang lainnya.

Sebagaimana Imam as-Syafi’i -rahimahullah- berkata di kitab al-Umm, jilid 1, hlm. 172-173:

“Dan saya menyukai adzan pada hari jum’at dikumandangkan ketika imam masuk masjid dan duduk di atas mimbar. Apabila imam telah melakukan hal itu, maka muadzdzin memulai adzan. Bila telah usai, maka imam berdiri dan menyampaikan khutbahnya, dan tidak boleh ditambah-tambahi (adzan lain) lagi.”( al-Umm, 1:172-173)

Lalu beliau menyebutkan hadits as-Sa`ib di atas dan berkata: “Dahulu Atho` mengingkari bahwa Utsman yang memulainya dan berkata: ‘Yang membuatnya adalah Mu’awiyah.’ Siapapun yang memulainya, (kata Imam asy-Syafi’i) maka perkara yang telah ada pada masa Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam- tentu lebih aku cintai.” [Disimpulkan dari kitab al-Ajwibah an-Nafi'ah 'an As`ilah Lajnah Masjid al-Jami'ah, karya Syaikh al-Albani, cetakan al-Maktab al-Islami]

Kesimpulan:

  1. Adzan Shalat Jumat menurut Rasulullah SAW adalah 1. pada saat khatib naik mimbar, dan 2. turun mimbar (Iqamat)
  2. Adzan Pertama (maksudnya adzan yang diadakan khalifah utsman, dikatakan adzan pertama karena adanya dipermulaan sebelum adzan yang asal yaitu – setelah khatib naik mimbar-) atau Ketiga (Disebut adzan ketiga dengan hitungan bahwa adzan dan iqamat yang asal ada itu dianggap dua adzan) Diamalkan oleh Khalifah Utsman ra karena adanya sebab yaitu semakin banyaknya kaum muslimin dan rumahnya berjauhan
  3. Jika konsisten (baca:dipaksakan) pada amalan Utsman ra, maka caranya harus sesuai dengan beliau yaitu tidak memakai pengeras suara, dan dilakukan dipasar atau tempat kumpulnya kaum muslimin, Tetapi zaman sekarang maka hal tersebut tidak perlu lagi karena sudah difasilitasi oleh alat dan menara pengeras suara.

Tambahan:

Bahkan dimesjid-mesjid tertentu sebelum mengumandangkan adzan pertama dimulai dengan tahaluk (khutbah pertama) dan biasanya satu paket dengan tabuhan bedug, adzan awal, 2 rakaat qabliyah jumat dan muraqqi (yang menaikan khatib kemimbar) dengan perlengkapan tongkat dan kata-kata tertentu. Maka semua ini merupakan pekerjaan yang bid’ah dhalalah (sesat). (Alqudwah No:71 1427H/2006M, Al-Masail, Majelis Muthala’ah Dewan Asatidzah Tahdzibul Wahiyyah: 23-25)

 

About these ads

About rendyadamf
assalamu'alaikum wrwb..salam kenal buat teman - teman semuanya..gw rendy TTL : Bandung, 30-06-84. gw kuliah di UNISBA. gw nulis blog ini hanya untuk curahkan semua pemikiran gw..dan gw udah ubah haluan jalan hidup gw..menjadikan jihad sebagai satu-satunya jalan hidup gw!!

13 Responses to Adzan 2 Kali Pada Shalat Jumat

  1. imam syafii says:

    Assalamu’alaikum wr wb
    Terima kasih tulisannya, semoga bermanfaat bagi saya dan bagi teman2 yang membacanya. Dan saya ijin akan mengkopi tulisan anda, terima kasih.
    wassalam

  2. rendyadamf says:

    Wa’alaykumussalam wrwb..iya silahkan kalo dianggap memadai ^^

  3. sabur says:

    Mohon izin untuk facebook yang saya miliki karena saya sering hadir di sholat jum’at yang adzannya 2 kali

  4. hamba says:

    maaf sedikit saya membahas ,di tempat saya memang kalau jumat begitu, kenapa anda bisa bilang kalau itu sesat ,Alloh pun juga tidak bilang kalau itu sesat ,tujuan kita sama beribahdah kepada Alloh,karena orang yang baik itu adalah orang yang tidak pernah mempermasalahkan hal2 yang akan merusak antara sesama agamanya sendiri,yang jelas kita sama2 menegakan apa yang kita tau ,kalau memang menurut anda tidak begitu ya kerjakan ,dan kalau memang menurut orang lain begitu iya silahkan 2 aja, yang penting kita itu sama beribadah kepada Alloh, dan Alloh yang akan menilai itu semua,

  5. rendyadamf says:

    hamba: Kalau yang menilai sesat tidaknya intinya memang Allah Swt. Tapi kalau pengetahuan tentang itu tidak diturunkan Allah Swt. bagaimana bisa kita menentukan yang benar. Bukankah kalau kita ingin tahu mana yang benar, tentu harus tahu apa yang salah! Ini sesuatu yang tidak bisa dipisahkan.
    jadi, kalau kita tahu mana Islam yang benar, tentu pada saat yang sama akan ada yang dianggap “salah”. Yang menurunkan prinsip penilaiannya adalah Allah Swt. melalui wahyu-Nya. Lantas disampaikan oleh rasul kepada manusia dan dipelihara oleh para ulama.
    kalau maksud ikwan dengan ungkapan di atas bahwa tidak ada manusia yang tahu sah enggaknya suatu ajaran, apa gunanya Al-Quran, Nabi Saw., para sahabat, dan para ulama?
    kata-kata skeptis seperti itu adalah produk nihilisme dan relativisme Barat (sofisme)yang meracuni pikiran umat Islam belakangan ini.

  6. parahnya setelah adzan pertama malah ditambahi shalat qabliyyah jumat, yg didasarkan pada qiyas dengan shalat zuhur. Bener2 terlalu kreatif..

  7. kholil says:

    maaf, sy komentar sedikit, kenapa mayoritas orang Nu melaksanakan azdan dua kali. Padahal setau sy merekalah yang mengklaim diri bermazdhabkan imam Syafi’i.

  8. rendyadamf says:

    iya, pembuktian lebih bgs drpd pengakuan ^^

  9. Andy Darsal El-Boegiesy says:

    Hal2 sperti ini baiknya gak usah diperdebatkan. krn malah akan semakin menimbulkan perpecahan dikalangan umat islam sendiri. Toh mengklaim org lain keliru ataupun sesat itu tidak baik jg. Tp baiknya mmng semua org islam mngetahui sejarah terjadinya sumber perbedaan pendapat dr setiap amalan yg dipraktekkan oleh berbagai kalangan umat islam agar seseorang bisa membandingkan semuanya dan menjalankan yg diyakini kbenarannya, bukannya hnya ikut-ikutan sj dg mengikuti tradisi keagamaan di lingkungannya (taqlid buta). Berbicara masalah bid’ahnya adzan 2 kali, sama aja kasusnya dg sholat tarwih berjamaah & al-qur’an yg tidak pernah diperintahkan oleh nabi untuk dibukukan dsbg. Kalo yg di permasalahkan krn zaman sekarang sudah modern dg bnyaknya pengeras suara, yg jadi permasalahan baru yakni membudayanya sikap sebagian saudara2 seiman kita yang baru masuk ke masjid pabila suara azan terdengar. sy tidak mensupport org2 yg membenarkan azan 2 kali. Yg paling penting menurut sy, marilah kita tingkatkan iman & taqwa aja dg mengimplementasikannya sesuai dg thoriqat yg kita yakini kbenarannya masing2, tentunya yg berdasarkan dg sumber yang jelas. Marilah kita menjaga persatuan umat islam, krn tanpa persatuan umat islam tidak akan bisa bangkit kembali. salam…

  10. Abu salma yudha says:

    Jazakallohu khoir smoga bermangfa’at.aku tidak pandang apakah sesat atau tidak yang penting tambah ilmu.maju terus mas Rendy

  11. Abu salma yudha says:

    yang jelas ada ilmu dalam tiap amal kita.masalah perbedaan Allohua’lam tiap orang punya keyakinan sendiri2,selama ada dasar yang jelas sesuai sunnah,masalah bid’ah atau bukan adalah kapasitas ahli ilmu untuk menjelaskan,& bukan kapasitas awam.Jazakallohu khoir untuk bg ilmunya.

  12. muhluksyaf says:

    O.k. I really thank you for teaching me. We do not need to blame each other, but we should do what Rasulullah SAW did. Thanks a lot, bro.

  13. abdullah says:

    kalo mau berdakwah dengan cara halus wahai para saudara ku yg seiman
    sederhana dalam beribadah itu lebih baik dr pd bersungguh sungguh dalam bid’ah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 58 other followers

%d bloggers like this: