Kejawen Menurut Islam

Pendahuluan

Banyak pertanyaan dari masyarakat seputar ajaran Kejawen. Pertanyaan tersebut tidak semata disampaikan oleh orang yang awam terhadap Islam, akan tetapi juga oleh para dai, takmir masjid, dan tokoh masyarakat. Dari ‘nada’ pertanyaan mereka, penulis menangkap bahwa masyarakat masih menganggap Kejawen merupakan bagian dari Islam, sehingga mereka sering menyebut dengan nama Islam Kejawen. Untuk itulah kami menurunkan tulisan ini, yang insya Allah akan membantu menjawab kerancuan (syubhat) tersebut. Dalam bagian pertama ini akan dibahas tentang aliran Sapto Darmo, yang merupakan salah satu aliran besar kejawen.

  1. Pengertian Kejawen (Kebatinan)

Rahnip M., B.A. dalam bukunya Aliran Kepercayaan dan Kebatinan dalam Sorotan menjelaskan, “Kebatinan adalah hasil pikir dan angan-angan manusia yang menimbulkan suatu aliran kepercayaan dalam dada penganutnya dengan membawakan ritus tertentu, bertujuan untuk mengetahui hal-hal yang ghaib, bahkan untuk mencapai persekutuan dengan sesuatu yang mereka anggap Tuhan secara perenungan batin, sehingga dengan demikian –menurut anggapan mereka- dapat mencapai budi luhur untuk kesempurnaan hidup kini dan akan datang sesuai dengan konsepsi sendiri.” Dari pengertian di atas didapat beberapa istilah kunci dari ajaran kebatinan yaitu:

  1. Merupakan hasil pikir dan angan-angan manusia,
  2. Memiliki cara beribadat (ritual) tertentu,
  3. Yang dituju adalah pengetahuan ghaib dan terkadang juga malah bertujuan menyatukan diri dengan Tuhan,
  4. Hasil akhir adalah kesempurnaan hidup dengan konsepsi sendiri.

B. Sejarah Berdirinya

Secara umum kejawen (kebatinan) banyak bersumber dari ajaran nenek moyang bangsa Jawa yaitu animisme dan dinamisme, yang diwariskan secara turun temurun sehingga tidak dapat diketahui asal muasalnya

.

Sapto Darmo —salah satu aliran besar kejawen— pertama kali dicetuskan oleh Hardjosapuro dan selanjutnya dia ajarkan hingga meninggalnya 16 Desember 1964. Nama Sapto Darmo diambil dari bahasa Jawa; sapto artinya tujuh dan darmo artinya kewajiban suci. Jadi, sapto darmo artinya tujuh kewajiban suci. Sekarang aliran ini banyak berkembang di Yogya dan Jawa Tengah, bahkan sampai ke Luar Jawa. Aliran ini mempunyai pasukan dakwah yang dinamakan Corps Penyebar Sapto Darmo, yang dalam dakwahnya sering dipimpin oleh ketuanya sendiri (Sri Pawenang) yang bergelar Juru Bicara Tuntunan Agung.

C. Ajaran pokok Sapto Darmo dan Bantahannya

1. Tujuh Kewajiban Suci (Sapto Darmo)

Penganut Sapto Darmo meyakini bahwa manusia hanya memiliki 7 kewajiban atau disebut juga 7 Wewarah Suci, yaitu:

a. Setia dan tawakkal kepada Pancasila Allah (Maha Agung, Maha Rahim, Maha Adil, Maha Kuasa, dan Maha Kekal).

b. Jujur dan suci hati menjalankan undang-undang negara.

c. Turut menyingsingkan lengan baju menegakkan nusa dan bangsa.

d. Menolong siapa saja tanpa pamrih, melainkan atas dasar cinta kasih.

e. Berani hidup atas kepercayaan penuh pada kekuatan diri-sendiri.

f.  Hidup dalam bermasyarakat dengan susila dan disertai halusnya budi pekerti.

g. Yakin bahwa dunia ini tidak abadi, melainkan berubah-ubah (angkoro manggilingan).

Bantahannya:

Dalam sudut pandang Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, ajaran Sapto Darmo hanya berisi keimanan kepada Allah sebatas beriman terhadap Rububiyah Allah; itupun dengan pemahaman yang salah. Rububiyah Allah hanya difahami sebatas lima sifat (Pancasila Allah) yaitu Maha Agung, Maha Rahim, Maha Adil, Maha Kuasa, dan Maha Kekal. Padahal sifat rububiyah Allah itu banyak sekali (tidak terbatas dengan bilangan). Keimanan secara benar terhadap Rububiyah Allah saja belum menjamin kebenaran Iman atau Islam seseorang, apalagi yang hanya beriman kepada sebagian kecil dari sifat rububiyah Allah seperti ajaran Sapto Darmo ini. (Baca: Rubrik Tauhid oleh Ustadz Abu Nida’, halaman 2) Inti ajaran Sapto Darmo hanya mengajarkan iman kepada Allah saja. Hal itu menunjukkan batilnya ajaran

2 Animisme adalah kepercayaan kepada roh-roh yang mendiami suatu benda (pohon, batu, sungai, gunung, dll), sedangkan Dinamisme adalah kepercayaan bahwa sesuatu benda mempunyai tenaga atau kekuatan. (lihat Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, 1997).

3 Disarikan dari buku Rahnip M., BA., idem, hal. 73-112.

Firaq

Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H – 2002 M 53

Sapto Darmo dalam pandangan Islam. Aqidah Islam memerintahkan untuk mengimani enam perkara yang dikenal dengan rukun iman, yaitu beriman kepada Allah, Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, Hari Akhir, dan Takdir yang baik maupun buruk.Al-Allamah Ali bin Ali bin Muhammad bin Abil ‘Izzi 4 dalam menjelaskan rukun iman mengatakan, “Perkara-perkara tersebut adalah termasuk rukun iman”. Allah _ berfirman: “Rasul telah beriman kepada Al Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya; demikian pula orang-orang yang beriman; mereka semuanya beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat- Nya, Kitab-kitab-Nya dan Rasul-rasul-Nya…” (Al Baqarah: 285) juga firman-Nya _: “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah Timur dan Barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, Hari Kemudian, Malaikat-malaikat, Kitab-kitab, Nabi-nabi.” (Al Baqarah: 177)

Maka, keimanan yang dikehendaki oleh Allah adalah iman kepada semua perkara tersebut. Dan orang yang beriman kepada perkara-perkara tersebut dinamakan mukmin; surgalah balasan baginya. Sedangkan yang mengingkari perkara-perkara tersebut dinamakan kafir dan neraka jahannamlah tempat kembali yang pantas untuknya. Allah _ berfirman: “Barangsiapa tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya maka Kami sediakan untuk orang-orang yang kafir neraka yang menyala-nyala.” (QS.Al Fath:13)

Dan dalam sebuah hadits yang kesahihannya tidak diperselisihkan lagi, Rasulullah menjawab pertanyaan yang disampaikan oleh Malaikat Jibril kepada beliau tentang arti iman. Beliau

menjawab: “Bahwa keimanan itu adalah engkau beriman kepada Allah, para Malaikat- Nya, Kitab-kitab-Nya, para Rasulnya, Hari Akhir, dan Takdir yang baik maupun buruk. “5 Inilah prinsip dasar yang telah disepakati oleh para nabi dan rasul.

4 Syarah Ath Thahawiyah fi Al Aqidah As-Salafiyah, hal. 183-184, Darul Fikr, 1408H./1988M.

5 Muslim hadits no.9, At Tirmidzi had no.2535, Nasa-i hadits no.4904, Abu Dawud hadits no.4075, Ibnu Majah hadits no.62, dan Ahmad hadits no.179,186,346

Firaq

54 Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H – 2002 M

Seseorang tidak dikatakan beriman kecuali dengan mengimani para Rasul dan rukun iman yang lainnya.

2. Panca Sifat Manusia

Menurut Sapto Darmo, manusia harus memiliki 5 sifat dasar yaitu:

  1. Berbudi luhur terhadap sesama umat lain.
  2. Belas kasih (welas asih) terhadap sesama ummat yang lain.
  3. Berperasaan dan bertindak adil.
  4. Sadar bahwa manusia dalam kekuasaan (purba wasesa) Allah.
  5. Sadar bahwa hanya rohani manusia yang berasal dari Nur Yang Maha Kuasa yang bersifat abadi.

Bantahannya:

Salah satu dari ajaran Sapto Darmo dalam Panca Sifat Manusia –yang perlu dikritisi- adalah bahwa hanya ruhani manusia yang berasal dari sinar cahaya Yang Maha Kuasa yang bersifat abadi. Dalam pandangan Islam keyakinan seperti ini sangat batil. Sebab semua yang ada di alam semesta ini selain Allah adalah makhluk; dan semua makhluk adalah tidak kekal, termasuk juga manusia, baik rohnya maupun jasadnya. Manusia adalah makhluk;yang diciptakan oleh Allah dari tanah.Sebagaimana firman Allah _ dalam Surat Ash Shaffat, “…Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat.”(Q.S. Ash Shaffat :11)

Dalam ayat lain disebutkan bahwa manusia diciptakan dari at-thin (tanah), sebagaimana dikatakan oleh Iblis ketika menolak bersujud kepada Adam, iaberdalih:“Engkau ciptakan aku dari api, sedang Engkau ciptakan dia (manusia) dari tanah.” (Q.S. Al A’raf: 12) Karena manusia itu makhluk, maka baik roh maupun jasadnya tidak ada yang abadi.

Keyakinan Sapto Darmo tentang keabadian roh manusia muncul dari anggapan mereka bahwa pada diri manusia terdapat ‘persatuan dua unsur’ yaitu unsur jasmani -dari tanah- dan unsur ruhani -yang mereka dakwakan sebagai- cahaya Allah yang abadi. Dalam terminologi kebatinan hal itu disebut dengan ajaran Panteisme, yakni bersatunya unsur Tuhan (Laahut) dan unsur manusia (Naasut). Terhadap pandangan yang menyatakan bahwa ruh itu abadi, Al- Allamah Ali bin Ali bin Muhammad bin Abil ‘Izzi menjelaskan, “Dikatakan bahwa ruh itu azali (qadim). Padahal para Rasul telah bersepakat bahwa ruh itu baru, makhluk, diciptakan, dipelihara, dan diurus. Ini adalah perkara yang telah diketahui secara pasti dalam agama bahwa alam itu baru (muhdats). Para sahabat dan tabi’in juga memahami yang seperti ini kecuali setelah muncul pemikiran yang bersumber dari orang yang dangkal pemahamannya terhadap Al-Qur’an dan As-Sunnah lalu menyangka bahwa ruh itu qadim. Dia berhujjah bahwa ruh itu termasuk urusan Allah (min amrillah) sedangkan amrullah bukan makhluk karena di-idhafah-kan kepada Allah seperti ‘ilmu, qudrah, sama’, bashar’, dan tangan. Ahlus Sunnah wal Jama’ah telah sepakat bahwa ruh itu makhluk. Diantara ulama yang menyebutkan tentang ijma’ tersebut adalah Muhammad bin Nashr al-Muruziy, Ibnu Qutaibah, dan lainnya. Adapun dalil bahwa ruh itu makhluk adalah firman Allah ta’ala: “ Allah-lah Pencipta segala sesuatu.” (Q.S. Az Zumar: 62)

Dalam alenia berikutnya beliau melanjutkan keterangannya, “Allah ta’ala adalah Al-Ilah yang memiliki sifat kesempurnaan. Maka ilmu-Nya, Kekuasaan-Nya, hidup-Nya, pendengaran- Nya, penglihatan-Nya, dan semua sifat-sifat-Nya termasuk dalam sebutan nama-Nya. Maka Dia, Allah Subhanahu, dzat maupun sifat-Nya adalah Pencipta (Al-Khaliq) dan selain Dia adalah makhluk. Dan telah difahami secara qath’iy bahwa ruh itu bukan Allah dan bukan pula salah satu dari sifat Allah melainkan salah satu dari ciptaan-Nya.” Adapun terkait dengan penisbatan (idhafah) ruh kepada Allah maka beliau menjelaskan, “Perlu diketahui bahwa penisbatan kepada Allah ada dua macam,

Pertama: penisbatan sifat yang menyatu dengan dzat Allah seperti ilmu, qudrah, kalam, sama’, dan bashar. Maka penisbatan ini adalah penisbatan sifat kepada yang disifati (idhafatu shifah ila maushuf). Oleh karena itu ilmu, kalam, sama’, dan bashar adalah sifat Allah. Demikian juga wajah dan tangan Allah.

Kedua: penisbatan dzat yang terpisah (munfashilah) dari Allah seperti rumah, hamba, rasul, dan ruh. Maka penisbatan rumah, hamba, rasul, dan ruh kepada Allah adalah penisbatan makhluk kepada Pencipta Nya.”

3. Konsep Kitab Suci

Kitab suci penganut Sapto Darmo adalah yang diusahakan oleh Bopo Panuntun Gutama, yang tidak lain adalah pendirinya itu sendiri, Hardjosapuro. Menurut pandangan mereka, kitab ini berasal dari kumpulan ‘wahyu’ dari Tuhan yang memiliki sifat Pancasila Allah.

Bantahannya:

Kitab Suci penganut Sapto Darmo sebagaimana disebutkan di muka adalah yang diusahakan oleh Bopo Panuntun Gutama, yaitu Hardjosapuro. Menurut pandangan mereka, kitab suci mereka itu berasal dari ‘wahyu’ yang berasal dari Tuhan yang memiliki sifat Pancasila Allah. Itu berarti bahwa ‘kitab suci’ tersebut baru, lahir sekitar 40 tahun yang lalu. Bagaimana kalau dikembalikan kepada ajaran Islam? Aqidah Islam mengajarkan bahwa Nabi Muhammad_ adalah penutup kenabian dan kerasulan. Dan Al-Qur’an adalah kitab suci terakhir yang diturunkan Allah _; karena tidaklah kitab suci itu diturunkan melainkan melalui para rasul; dan Nabi kita Muhammad _ adalah penutup para nabi dan rasul. Sebagaimana firman Allah _: “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Q.S. Al Ahzab: 40)

Dengan meyakini ‘kitab suci’ yang dibikin sekitar 40 tahun itu berarti sama saja dengan mengingkari Muhammad sebagai penutup para nabi dan rasul. Itu berarti ajaran ini secara tidak langsung mengakui dan menetapkan adanya Nabi baru setelah Nabi Muhammad _. Tentu ajaran seperti ini jelas-jelas bertentangan dengan ajaran Islam.

4. Konsep tentang Alam

Konsep alam dalam pandangan Sapto Darmo adalah meliputi 3 alam:

  1. Alam Wajar yaitu alam dunia sekarang ini.
  2. Alam Abadi yaitu alam langgeng atau alam kasuwargan. Dalam terminologi Islam maknanya mendekati alam akhirat.
  3. Alam Halus yaitu alam tempat roh-roh yang gentayangan (berkeliaran) karena tidak sanggup langsung menuju alam keswargaan. Roh-roh tersebut berasal dari manusia yang selama hidup di dunia banyak berdosa.

Bantahannya:

Aliran Sapto Darmo meyakini adanya alam halus yaitu alam tempat roh-roh yang gentayangan atau berkeliaran karena tidak sanggup langsung menuju alam keswargaan. Kata mereka, roh-roh tersebut berasal dari manusia yang selama hidup di dunia banyak berdosa. Aqidah Islam tidak mengenal alam yang demikian itu. Setelah manusia meninggal dunia – bagaimanapun cara meninggalnya- maka selanjutnya ia berada dalam suatu alam yang disebut dengan alam kubur atau alam barzakh, sebagaimana dijelaskan oleh Al Allamah Ali bin Ali bin Muhammad bin Abil ‘Izzi. “Ketahuilah, bahwa adzab kubur adalah adzab barzakh.

Semua orang yang mati dalam keadaan membawa dosa berhak mendapat adzab sesuai dengan dosa yang dilakukannya, baik jasadnya dikuburkan, dimakan srigala, terbakar sehingga menjadi abu, melayang-layang di angkasa, disalib, atau tenggelam di lautan. Adzab kubur akan dirasakan oleh si mati dengan jasad dan ruh-nya, meski jasadnya tidak terkubur. Hal-hal ghaib yang berkaitan dengan bagaimana duduknya orang yang mati

6 Syarah At Thahawiyah fi Al Aqidah as-Salafiyah, ibid, hal. 264.

ketika di kubur, seperti apa tulang rusuknya, dan hal-hal yang semacamnya, maka wajib kita pahami (yakini) sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah; tidak boleh kita menambah-nambah ataupun menguranginya…” 6 Terkait dengan alam, Ibnu Abil ‘Izzi pada alenia berikutnya menjelaskan,“Kesimpulannya adalah bahwa alam itu ada tiga; alam dunia (dar ad-dunya), alam barzakh (Dar al barzakh), dan alam akhirat (dar al qarar). Allah telah memberlakukan hukum-hukum tertentu bagi tiap-tiap alam tersebut, dan manusia (jasad maupun ruh) akan berjalan sesuai dengan hukum tersebut. Allah menjadikan hukum-hukum dunia berlaku bagi jasad dan ruh sesuai keadaannya di dunia. Demikian juga; Allah menjadikan hukum-hukum di alam barzakh berlaku bagi jasad dan ruh sesuai keadaannya di alam barzakh. Kemudian, tatkala datang hari dibangkitannya semua jasad dan manusia dari kubur mereka, maka akan berlakulah hukum-hukum yang ada di sana; pemberian pahala dan siksa, juga kepada ruh dan jasad secara bersama-sama.” (ed)

5. Konsep Peribadatan

Konsep ibadah dalam Sapto Darmo tercermin pada ajaran mereka tentang “Sujud Dasar”. Sujud Dasar terdiri dari tiga kali sujud menghadap ke Timur. Sikap duduk dengan kepala ditundukkan sampai ke tanah, mengikuti gerak naik sperma yakni dari tulang tungging ke ubun-ubun melalui tulang belakang, kemudian turun kembali. Amalan seperti itu dilakukan sebanyak tiga kali. Dalam sehari semalam, pengikut Sapto Darmo diwajibkan melakukan Sujud Dasar sebanyak 1 kali, sedang selebihnya dinilai sebagai keutamaan.

Telaah:

Konsep peribadatan Sapto Darmo tercermin dalam ajaran ‘Sujud Dasar’ yang pengikutnya diwajibkan satu kali dalam sehari semalam. Dari konsep ini diketahui bahwa Sapto Darmo tidak semata-mata berupa ajaran moral atau etika, tetapi aliran ini di samping memiliki sistem aqidah; juga memiliki sistem ibadah tersendiri yang semuanya bertentangan dengan ajaran Islam. Oleh karena itu tidak perlu kaget kalau mendengar penganut aliran ini menolak untuk melaksanakan shalat karena memang mereka mempunyai sistem ibadah (shalat) tersendiri. Pada hakikatnya, penolakan mereka terhadap shalat sudah cukup untuk menggolongkan mereka ke dalam barisan orang-orang di luar Islam (kafir).

Dalil-dalil tentang kafirnya orang yang menolak shalat dapat kita temui di banyak perkataan dan tulisan para ulama di antaranya dijelaskan oleh Sayid Sabiq1 sebagai berikut,

“Orang yang meninggalkan shalat karena menolak dan mengingkari akan kewajibannya berarti kufur dan keluar dari agama Islam menurut ijma’ kaum muslimin.” Padahal, orang yang meninggalkan shalat, tetapi   masih mengimani dan meyakini kewajibannya, karena malas, lalai atau alasan-alasan lain yang tidak syar‘i, terdapat hadits-hadits yang menjelaskan akan perintah untuk membunuhnya (baik karena anggapan kekafirannya atau sebagai hukuman atas keengganannya melaksanakan kewajiban). Hadits-hadits yang menerangkan hal tersebut ialah:

Fiqih As Sunnah oleh Syaikh Sayid Sabiq, Jilid I, hal. 92-93, terbitan Dar Al-Kitab Al-‘Arabi.

52 Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H – 2002 M

Pertama, dari Jabir _ bahwa Rasulullah _ bersabda, “Pembatas seseorang dengan kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (H.R. Ahmad, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

Kedua, dari Buraidah _ bahwa Rasulullah _ bersabda,“Sesungguhnya pengikat antara kami dan mereka adalah shalat; maka barangsiapa meninggalkan shalat berarti telah kafir.” (H.R. Ahmad dan Ashabus Sunan)

Ketiga, dari Abdullah bin Amru bin al- Ash _ dari Nabi _, bahwa suatu hari ia berbicara tentang masalah shalat, maka Rasulullah _ bersabda: “Barangsiapa memelihara shalat maka baginya cahaya, petunjuk, dan keselamatan di Hari Kiamat. Dan barangsiapa tidak memelihara shalat maka tidak akan mendapatkan cahaya, petunjuk, dan keselamatan di Hari Kiamat; dan kelak dia akan dikumpulkan dengan Qarun, Fir’aun, Haman, dan Ubay bin Khalaf.” (H.R. Ahmad, Thabrani, dan Ibnu Hibban; sanadnya Jayyid)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Orang yang tidak memelihara shalat –umumnya- dilalaikan oleh harta, kekuasaan, jabatan, atau bisnis. Barangsiapa yang lalai karena harta maka ia akan bersama dengan Qarun; barangsiapa yang lalai karena kekuasaan maka ia akan bersama dengan Fir’aun; barangsiapa yang lalai karena jabatan maka ia akan bersama dengan Haman; dan barangsiapa yang lalai karena bisnis maka ia akan bersama dengan Ubay bin Khalaf. …”

Persoalan lain di samping menolak shalat adalah mereka juga memiliki sistem peribadatan tersendiri. Dengan memiliki sistem peribadatan tersendiri, mereka itu selain telah merampas hak Allah, juga terjerumus ke dalam perbuatan syirik, yaitu Syirik Uluhiyah. Mengenai hal itu, terdapat riwayat dari Imam Bukhari dan Imam Muslim bahwa Muadz bin Jabal berkata, “Aku membonceng Nabi mengendarai himar lalu Nabi bertanya kepadaku, “Tahukah kamu apa hak Allah atas hamba dan hak hamba atas Allah ?” Saya jawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Kemudian Rasulullah menjelaskan, “Hak Allah atas hamba adalah

mereka menyembah Allah dan tidak menyekutukan dengan sesuatupun, sedangkan hak hamba atas Allah adalah bahwa Allah tidak akan mengadzabnya sepanjang ia tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu…”.”2

2 Fath Al Majid Syarah Kitab At-Tauhid, oleh Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu As-Syaikh, hal.30,

Terbitan Darul Fikr.

Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H – 2002 M 53

Fatawa Vol. 02/ I / Syawwal 52

6. Menyatu dengan Tuhan

Sebagai hasil dari amalan Sujud Dasar, mereka meyakini dapat menyatu dengan Tuhan dan dapat menerima wahyu tentang hal-hal ghaib. Mereka juga meyakini, orang yang sudah menyatu dengan Tuhan bisa memiliki kekuatan besar (dahsyat) yang disebut sebagai atom berjiwa, akal menjadi cerdas, dan dapat menyembuhkan atau mengobati penyakit.

Telaah:

Ajaran ini secara prinsip sama dengan ajaran hulul yang banyak dikembangkan oleh orang-orang rusak dari kalangan tasawuf seperti Al-Hallaj. Bedanya, kalau kalangan tasawuf menganggap kondisi bersekutunya Tuhan dengan manusia merupakan buah dari dzikr yang mencapai klimaks, sedangkan menurut Sapto Darmo kondisi itu merupakan buah dari keberhasilan Sujud Dasar.

7. Hening

Hening adalah salah satu ajaran Sapto Darmo yang dilakukan dengan cara menenangkan semua fikiran seraya mengucapkan, Allah Hyang Maha Agung, Allah Hyang Maha Rahim, Allah Hyang Maha Adil. Orang yang berhasil dalam melakukan hening akan dapat melakukan hal-hal yang luar biasa, antara lain:

(1) dapat melihat dan mengetahui keluarga yang tempatnya jauh,

(2) dapat melihat arwah leluhur yang sudah meninggal,

(3) dapat mendeteksi suatu perbuatan, jadi dikerjakan atau tidak,

(4) dapat mengirim atau menerima telegram rasa,

(5) dapat melihat tempat yang angker untuk dihilangkan keangkerannya,

(6) dapat menerima wahyu atau berita ghaib.

Telaah:

Hasil dari ritual ‘hening’ seperti yang disebutkan di atas semuanya adalah takhayul dan khurafat, bahkan sebagiannya termasuk syirik. Dapat melihat keadaan keluarga yang jauh, mengirim telegram rasa, dan yang sejenisnya merupakan hal-hal yang tidak ada dasarnya baik dari dasar wahyu (dalil naqli) maupun dasar rasional (dalil aqli). Kemudian, hasil ‘hening’ yang berupa kemampuan menerima wahyu dan dapat melihat arwah leluhur yang telah meninggal, tidak diragukan merupakan suatu bentuk khurafat dan kesyirikan. Termasuk hal yang sudah diketahui dengan pasti bahwa wahyu itu hanya diberikan oleh Allah kepada para nabi dan rasul, tidak diberikan kepada sembarang orang, dan tidak bisa diusahakan dengan amalan-amalan tertentu.

8. Racut

Racut adalah ajaran dan praktek dalam Sapto Darmo yang intinya adalah usaha untuk memisahkan rasa, fikiran, atau ruh dari jasad tubuhnya untuk menghadap Allah, kemudian setelah tujuan yang diinginkan selesai lalu kembali ke tubuh asalnya. Caranya yaitu setelah melakukan sujud dasar, kemudian membungkukkan badan dan tidur membujur Timur-Barat dengan kepala di bagian timur, posisi tangan dalam keadaan bersedekap di atas dada (sedekap saluku tunggal) dan harus mengosongkan pikiran. Kondisi tubuh di mana akal dan fikirannya kosong sementara ruh berjalan-jalan itulah yang dituju dalam racut, atau disebut juga kondisi mati sajroning urip.

54 Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H – 2002 M

Telaah:

Ajaran racut sebagaimana diajarkan oleh Sapto Darmo tidak dikenal dalam Islam. Terpisahnya ruh dari jasad hanya ada pada saat manusia meninggal dunia. Karena persoalan ruh adalah persoalan ghaib, maka manusia tidak akan dapat mengetahuinya kecuali Allah dan orang-orang yang diberitahu oleh Allah lewat wahyu; itupun hanya sedikit. Allah _ berfirman,

“Dan mereka bertanya tentang ruh3; katakanlah, “Ruh itu urusan Tuhanku dan tidaklah kalian diberitahu akan hal itu kecuali hanya sedikit” (Q.S. Al-Isra’:85)

Sebagian dari mereka berdalih bahwa ajaran yang demikian ada dalam Islam dan didasarkan dari peristiwa mi‘raj (naik) Nabi dalam peristiwa isra’ mi‘raj. Mereka beranggapan Nabi dalam mi‘raj hanya ruh-nya saja, tidak disertai jasadnya. Dalam hal ini Ahlus Sunnah meyakini bahwa dalam peristiwa isrami‘raj, Nabi melakukannya baik dengan ruh maupun jasadnya. Imam Thahawiy menjelaskan bahwa al-Mi‘raj adalah hak, dan sungguh Nabi telah di-isra’-kan dan di-mi‘raj-kan dengan jasadnya dalam keadaan sadar (terjaga) ke langit, kemudian ke tempat yang dikehendaki oleh Allah.”4 Dalam syarahnya, Al-Allamah Abil

Izziy mengatakan bahwa, “kata al-mi‘raj dari wazan mif’alun berasal dari kata al- ‘uruj artinya alat untuk naik, yang berada di suatu tempat yang aman, akan tetapi tidak diketahui tentang bagaimananya, sedang hukumnya sama seperti hukum perkara-perkara ghaib yang lain dimana kita mengimani tanpa mempertanyakan bagaimananya.”5 Terhadap pandangan yang mengatakan bahwa Nabi isra’ dan mi‘raj lewat mimpi atau hanya ruhnya saja, beliau menjelaskan, “Dari hadits isra’ diketahui bahwa Nabi melakukan isra’ dan mi‘raj dengan jasadnya dan dalam keadaan sadar (terjaga) dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha dengan mengendarai Buraq6 Lalu naik ke Langit kesatu sampai ke Langit ketujuh, lalu naik ke Sidratul Muntaha, kemudian naik lagi ke Baitul Ma’mur. Kemudian naik menghadap Allah untuk menerima perintah shalat 50 waktu yang akhirnya menjadi shalat lima waktu.”7

3 Yang mereka tanyakan adalah “asal, dzat dan hakekat ruh”. Lihat Zubdah At Tafsir min Fath al Qadir, oleh Muhammad Sulaiman Abdullah Al-Asyqar, hal. 376.

4 Syarah Thahawiyah, idem, halaman 126.

5 Idem.

6 Buraq adalah kendaraan Nabi saat isra’ yang kecepatannya seperti kilat dan tidak diketahui tentang bagaimananya. Orang yang suka klenik menggambarkan buraq itu semacam kuda berkepala wanita cantik jelita. Gambaran itu jelas salah dan bertujuan jahat untuk menghina Nabi seolah-olah Nabi Muhammad suka berkendaraan seperti itu di waktu malam. Di samping itu, gambaran seperti itu terinspirasi dari cerita Hindu (pewayangan). Dikisahkan tatkala Resi Durna tidak mendapati kendaraan untuk menyeberang lautan, datanglah Bethari (perempuan) menyamar seekor kuda terbang lalu menawarkan jasa penyeberangan dengan imbalan “menaiki” selama perjalanan. Hasilnya hamil lalu lahirlah ksatria jahat yang sakti bernama Bambang Haswotomo. (Pen.).

7 Syarah Thahawiyah, idem, halaman 127-128.

Ahlus Sunnah juga meyakini bahwa peristiwa isra’ mi‘raj merupakan mukjizat dari Allah kepada Nabi Muhammad dengan tujuan untuk menunjukkan betapa dahsyatnya kebesaran Allah sebagaimana disebutkan dalam Al- Qur’an:

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Q.S. Al-Isra’:1).

Mukjizat itu hanya diberikan kepada para nabi atau rasul dan tidak diberikan kepada semua orang.

9. Simbol-Simbol

Ajaran Sapto Darmo juga banyak menggunakan simbol-simbol. Ada empat simbol pokok dalam Sapto Darmo, yaitu:

(1) gambar segi empat, yang menggambarkan manusia seutuhnya,

(2) warna dasar pada gambar segi empat, yaitu hijau muda yang melambangkan sinar cahaya Allah,

(3) empat sabuk lingkaran dengan warna yang berbeda-beda, hitam melambangkan nafsu lauwamah, merah melambangkan nafsu ammarah, kuning melambangkan nafsu sauwiyah, dan putih melambangkan nafsu muthmainnah;

(4) Vignette Semar (gambar arsir Semar) melambangkan budi luhur. Genggaman tangan kiri melambangkan roh suci, pusaka semar melambangkan punya kekuatan sabda suci, dan kain kampuh berlipat lima (wiron limo) melambangkan taat pada Pancasila Allah.

Telaah:

Penggunaan simbol-simbol khususnya vignette Semar oleh Sapto Darmo menunjukkan bahwa ajaran ini bersumber dari ajaran Hindu. Jadi jelas batil, dan mana ada istilah dan tokoh SEMAR dalam sejarah Islam ?! Mana pula ada para rasul, shahabat Nabi atau tokoh Islam yang namanya Semar?? Tidak ada. Seorang muslim sejati tidak dibenarkan mengambil ajaran agama lain sebagai pegangan walaupun sebagian. Hal demikian dilarang oleh Allah dan tertolak. Firman Allah _:

Barangsiapa mencari selain Islam sebagai agama, maka tidak akan diterima agama tersebut dan di akhirat nanti dia tergolong orang yang merugi”. (Q.S. Ali Imran:85)

D. Kesimpulan

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kesesatan/kekufuran ajaran Sapto Darmo sebagai berikut.

1. Mereka meyakini adanya sesuatu – yang mereka anggapTuhan- tetapi bukan Allah, walaupun mereka menggunakan sebutan Allah dalam Pancasila Allah.

2. Mereka tidak beriman kepada Malaikat, para Rasul, Kitab-kitab, Hari Akhir, dan Takdir.

3. Mereka memiliki ‘kitab suci’ sendiri dan tidak beriman kepada al-Qur’an.

4. Mereka memiliki sistem peribadatan sendiri.

5. Mereka tidak membedakan antara wahyu dengan bisikan syetan.

6. Ajaran mereka banyak bersumber dari ajaran Hindu.

Anggapan masyarakat bahwa ajaran Kejawen Sapto Darmo merupakan sekte atau bagian dari Islam dengan memberikan label Islam Kejawen adalah anggapan yang sesat dan menyesatkan. Anggapan tersebut banyak didasarkan pada ‘klaim politik’ yang menyatakan bahwa agama penduduk Indonesia itu adalah 98 % Islam. Islam di sini maksudnya adalah selain Katholik, Protestan, Hindu dan Budha. Aliran Kebatinan yang tidak sedikit jumlahnya itu dalam sensus penduduk dan pembuatan KTP dimasukkan ke dalam Islam. Baru setelah ada TAP MPR yang memberikan legalitas adanya wadah resmi bagi penganut aliran kepercayaan, sebagian mereka keluar dari kelompok Islam, sehingga penduduk yang beragama Islam berkurang (tinggal 90%).

Kejawen Sapto Darmo adalah bukan ajaran Islam dan justru bertentangan dengan ajaran Islam. Akan lebih tepat dikatakan bahwa Kejawen Sapto Darmo termasuk salah satu sekte dari ajaran Hindu, persisnya Hindu Jawa

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Islam adalah agama yang diturunkan kepada manusia sebagai rohmat bagi alam semesta. Ajaran-ajarannya selalu membawa kemaslahatan bagikehidupan manusia di dunia ini. Allah swt sendiri telah menyatakan hal ini,sebagaimana yang tersebut dalam ( QS. Toha : 2 ) : “ Kami tidak menurunkanAl Qur’an ini kapadamu agar kamu menjadi susah “. Artinya bahwa umatmanusia yang mau mengikuti petunjuk Al Qur’an ini, akan dijamin oleh Allah bahwa kehidupan mereka akan bahagia dan sejahtera dunia dan akherat.

Ajaran-­ajaran Islam yang penuh dengan kemaslahatan bagi manusia ini, tentunya mencakup segala aspek kehidupan manusia. Tidak ada satupun bentuk kegiatan yang dilakukan manusia, kecuali Allah telah meletakkan aturan-­aturannya dalam ajaran Islam ini. Kebudayaan adalah salah satu darisisi pentig dari kehidupan manusia, dan Islampun telah mengatur danmemberikan batasan­batasannya.1Kebudayaan umumnya dikatakan sebagaiproses atau hasil krida, cipta, rasa, dan karsa manusia dalam upaya menjawabtantangan kehidupan yang berasal dari alam sekelilingnya.2

Islam lahir sekitar abad ke-6 M. hingga saat ini, Islam berkembangsangat pesat. Perluasan- perluasan wilayah terus dilakukan. Hingga akhirnya Islam menjelma sebagai agama terbesar di dunia. Dari banyak perluasan yang dilakukan, yang menjadi kunci utama dalam perkembangan Islam adalahfleksibilitas ajaran Islam terhadap kebudayaan daerah setempat. Jadi, pada waktu itu Islam hanya melakukan ekspansi politik yang tetap memberi kebebasan terhadap budaya local untuk tetap berkembang.3

Sehingga dalam setiap perkembangan Islam di suatu daerah, sudah dipastikan Islam akanberakulturasi dengan kebudayaan daerah tersebut. Salah satunya adalahbudaya Jawa. Hasil akulturasi tersebut menyebabkan adanya istilah IslamJawa atau ”Islam kejawen”.

Diskursus ini telah menyebabkan polemic tentang apakah golongan ini masih layak disebut Islam atau bukan. Terkait dengan hal itu, melalui mungkin bisa disimpulkan bahwa penulis lebih setuju pada pendapat Woodward yang mengatakan bahwa Islam Jawa merupakan varian yang wajar dalam Islam dan berhak Hadir, sebagaimana juga ada Islam India, Islam Persia, Islam Melayu, dan seterusnya.4 Terlepas dari polemic itu, tulisan inimencoba mengupas sejarah Islam Jawa.

Islam Jawa ini tergolong unik, bukan karena ia mempertahankan aspek-aspek budaya dan agama pra –Islam, tetapi karena konsep-konsep sufi mengenai kewalian, jalan mistik dan kesempurnaan manusia diterapkan dalam formulasi suatu kultus keratin (imperial cult). Pada gilirannya, agama Negara itu merupakan suatu model konsepsi Jawa tradisional mengenai aturan social,ritual, dan bahkan aspek-aspek kehidupan social.5

B. RUMUSAN MASALAH

1. Bagaimana sejarah Islam masuk ke Jawa?
2. Apa pengaruh masuknya Islam di Jawa?
3. Bagaimana perkembangan Islam Jawa?
4. Bagaimana profil beberapa aliran Islam Jawa?

C. Tujuan

1. Mengetahui sejarah masuknya Islam di Jawa.
2. Mengetahui pengaruh masuknya Islam di Jawa.
3. Mengetahui perkembangan Islam Jawa.
4. Mengetahui profil beberapa aliran Islam Jawa.

BAB II

PEMBAHASAN

B.Sejarah Masuknya Islam di Jawa

Tentang masuknya Islam di Nusantara, dalam L’arabie et les IndesNeerlandaises, Snouck mengatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia padamasa-masa awal, yakni pada abad ke-12 atau 13. Ada juga yangmenyakiniIslam masuk ke wilayah Nusantara pada abad ke-13. Dan wilayah pertamayang dijamah adalah Samudera Pasai. Bahkan ada pula yang mengatakan padaawal abad ke-7. Artinya, menurut teori ini, Islam masuk ke Indonesia padaawal abad hijriah, bahkan pada masa khulafaur rasyidin memerintah. Islamsudah mulai ekspidesinya ke Nusantara ketika sahabat Abu Bakar, Umar binKhattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib memegang kendali sebagaiamirul mukminin. Bahkan sumber-sumber literatur Cina menyebutkan,menjelang seperempat abad ke-7, sudah berdiri perkampungan Arab Muslimdi pesisir pantai Sumatera. Di perkampungan-perkampungan ini diberitakan,orang-orang Arab bermukim dan menikah dengan penduduk lokal danmembentuk komunitas-komunitas muslimin.6

Tentang kapan pribumi nusantara memeluk Islam, para ahli berbeda pendapat. Hal ini terjadi karenaIslamisasi di Indonesiatidak terdokumentasi dengan baik sehingga banyakspekulasi dikalangan ilmuwan yang menimbulkan polemic yang hingga saatini belum selesai.7

Sedangkan sejarah islam masuk ke Jawa tidak bisa lepas dari sejarahwali songo. Para wali songo mulai datang ke Indonesia dimulai dari abad ke15 berdasarkan batu nisan Maulana Malik Ibrahim yang disebut sebagaisesepuh wali dan wali pertama yang menyebarkan agama Islam di Tanah Jawa

penyebaran dakwah Islam oleh wali Songo dimulai dari Maulana MalikIbrahim.8 Jadi kemungkinan besar Islam datang di Jawa pada abad tersebut. DiJawa, penyebaran agama Islam dihadapkan kepada dua jenis lingkunganbudaya kejawen, yaitu lingkungan budaya istana Majapahit yang telahmenyerap budaya Hinduisme dan budaya pedesaan yang masih hidup dalambaying-bayang animism-dinamisme, dan hanya lapisan luarnya saja yang terpengaruh budaya Hinduisme.9

 

Dari perjalanan sejarah proses Islamisasi di Jawa, tampak bahwa Islam sulit diterima dilingkungan budaya Jawa istana, bahkan dalam ceritaBabad Tanah Jawa dijelaskan bahwa raja Majapahit menolak agama baru itu.

 

Sehingga, para penyebar Islam lebih menekankan kegiatan dakwahnyadilingkungan masyarakat pedesaan. Ternyata, didaerah-daerah pesisir iniIslam diterima dengan penuh kegairahan. Dengan demikian, daerah-daerahpedesaan telah berubah menjadi tradisi besar baru, yaitu kebudayaan pesantrenyang kemudian menjadi pesaing kebudayaan istana. Pesantren yang dipimpinoleh para kiai yang sangat dihormati oleh masyarakat dan murid-muridnya,bahkan para guru tarekat ini mereka pandang sebagai wali. Lambat laun,mereka menjadi raja-raja local. Malah ada diantaranya menjelma menjadikesultanan, yakni Demak, Surabaya, dan lain sebagainya.10

Pada saat itulah terjadi interaksi antara budaya pesantren dan kejawen.Ketertarikan para cendekiawan jawa terhadap perbendaharaan pesantren inimenimbulkan penyerapan terhadap budaya Islam pesantren yangmenghasilkan naskah-naskah Jawa bertuturkan Islam. Selain itu, interaksi inijuga menghasilkan budaya Islam kejawen.11

 

Budaya ini kemudian menghasilkan berbagai macam aliran yang berorientasi pada kebatinan.

Faham kebatinan ini dalam telah ada sejak Islam bersentuhan denganbudaya Jawa Hindu, justru perpaduan antara mistik Islam dan Hindu Budhaitulah yang menghasilkan mistik Islam Kejawen yang menjadi ciri khas aliran

kepercayaan atau aliran kebatinan.12

C.Profil Beberapa Aliran Islam Jawa

1. Paguyuban Sumarah

Pendiri aliran ini adalah Sukinohartono. Dia adalah penduduk desaSemau, Gunung Kidul (Wonosobo). Dia berpendidikan rendah dankemudian menjadi mentri pamicis di keratin kesultanan Yogyakarta.sejakkecil ia telah tertarik pada aliran kepercayaan Hardapusara, mengikuti teknikwiridan dan menjalankan laku tapa brata yang dianjurkan Hardapusara, yaitu kungkum atau merendam diri disungai pada malam hari. Meditasi dan do’a ini ia lanjutkan untuk kemerdekaan bangsa Indonesia, dan akhurnya ia menerima wahyu Sumarah pada 1935 M.13

Sejak 1935 hingga 1945 para pengikut Sumarah masih merupakankelompok kecil. Kemudian pada 1945, Dr. Surono mulai menyusunorganisasi para pengikut Sumarah. Sesudah pemberontakan Partai KomunisIndonesia 1965, Drs. Arymurthy menata kembali para pengikut Sumarah diJakarta. Kini para pengikut paguyuban ini telah mencapai 5.000 orang dandipimpin oleh Zahid Husein. Cabang- cabang paguyuban ini menyebar diJawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta.14 Bahkan ada sumber yangmengatakan bahwa jumlah anggotanya kini sudah mencapai 115.000 orangbaik yang berasal dari golongan priyayi maupun dari kelas-kelas masyarakatlain.15Ajaran paguyuban ini sangat dipengaruhi oleh animism-dinamisme mengenai hubungan langsung dengan ruh dan kekuatan gaib. Inti ajarannyalebih terletak pada laku keprihatinan dan meditasi melalui sujud sumarah,sebagai sarana untuk mengadakan hubungan langsung dengan Tuhan ataumelalui perantaraan malaikat Jibril dan ruh-ruh Gaib. Dengan kata lain,untuk mencapai jumbuhing kawula gusti.16 mengajarkan untuk kembali kepada Allah.20

 

Pangestu resmi didirikan di Surakarta pada bulan mei 1949, dananggota-anggotanya yang kini sudah berjumlah 50.000 orang tersebar dibanyak kota di Jawa, terutama berasal dari kalangan priyayi. Namun anggotayang berasal dari daerah pedesaan juga banyak yaitu yang tinggal dipemukiman transmigrasi di sumatera dan kalimantan. Majalah yangdikeluarkan organisasi itu dwijawara merupakan tali pengikat bagi paraanggotanya yang tersebar itu.21

3. Saptadarma

Sapta darma adalah yang termudadari kelima gerakan kebatinan yang terbesar di jawa yang didirikan tahun 1955 oleh guru agama bernamaHardjosaputro yang kemudian mengganti namanya menjadi Panuntun SriGutomo. Beliau berasal dari desa Keplakan, Pare, Kediri. Berbeda dengankeempat organisasi yang lain, sapta darma beranggotakan orang-orang daridaerah pedesaan dan orang-orang pekerja kasar yang tinggal di kota-kota.Walaupun demikian para pemimpinnya hampir semua priyayi. Buku yangberisi ajarannya adalah kitab pewarah sapta darma.22

Hardjosapuro dilahirkan di Pare, Kediri pada tahun 1910 M danlulusan Sekolah Rakyat kelas V tahun 1925 M. pada 1947 ia pernah aktifdalam PESINDO (Pemuda Sosial Indonesia). Pada 1952 ia menyatakanmenerima wahyu. Dia merasa dirinya digerakkan oleh getaran tulangtungging (silit kodok) dan disujudkan. Dia menganggap gerakan tersebutdiperintahkan oleh Tuhan atau wahyu Tuhan Yang Maha Kuasa.

 

Saptadharma, yang berarti tujuh kewajiban, memiliki ajaran yang cukup sederhana, sebagai berikut:

1. Mempercayai adanyaTuhan Yang Maha Esa dengan lima sifat keagungan yang dikenal dengan Pancasila Allah.

2. Setia melaksanakanundang-undang Negaradengan hati yang jujur dan suci.

3. Ikut Serta berjuang menegakkan nusa dan bangsa.

4.Menolong siapa pun Yang membutuhkan pertolongan atas dasar kasih sayang, tanpa pamrih.

5. Hidup bermasyarakat, dan berbudi luhur, berlaku jujur, dan memelihara ketenteraman.

6. Berani hidup atas kekuatan sendiri, tidak selalu mengharapkan bantuan orang lain.

7.Yakin bahwa dunia tidaklah kekal, tetapi bersifat cakra manggilingan, selalu berubah-ubah, karena itu warga Saptadarmahendaknya tidak terpikat oleh gebyar keduniaan.23

4.Susila Buddhi Dharma (Subud)

Susila budi (SUBUD) didirikan pada tahun 1925 di Semarang, pusatnya sekarang berada di Jakarta. Budaya ini tidak mau disebut budayakebatinan, melainkan menamakan dirinya “pusat latihan kejiwaan”.Anggota-anggotanya yang berjumlah beberapa ribu itu tersebar di berbagaikota diseluruh indonesia dan mempunyai sebanyak 87 cabang di luar negeri.Banyak dari para pengikutnya adalah orang asia, eropa, australia danamerika. Doktrin ajaran organisasi itu dimuat dalam buku berjudul susilabudhi dharma; selain itu, gerakan itu juga menerbitkan majalah berkalaberjudul pewarta kejiwaan subud.24

Aliran ini dibina oleh Muhammad Subuh, yang lahir di Semarang padaJuni 1901 M. Ia dibesarkan dilingkungan budaya kejawen dan sukabertirakat sejak usia muda. Konon dia bersahabat dengan guru tarekatNaqsyabandiyah, Syaikh Abdurrahman dari Blora. Naqsyabandiyah adalahtarekat yang menekankan pada segi-segi praktis ajaran tasawwuf. Yaitulatihan zikir sebagai sarana meditasi (samadi) untuk mencapai penghayatantentang yang ghaib. Maka dari itu, Subud lebih menekankan pada praktikpenghayatan kebatinan dengan latihan samadi atau dzikir. Ia jugamengutamakan latihan persujudan untuk membimbing para pengikutnyamencapai penghayatan spiritual (kejiwaan) secara otomatis.

 

Menurut Subud, ada dua macam teori latihan kejiwaan, yaitu:

1.Nganggo patrap nyawi jekake cipta atau pemusatan pikiran. Teori ini sering dipraktikkan dalam ajaran tasawuf. Seperti Al Ghazali.

2.Nganggo patrap nyuwungake cipta, yaitu mengosongkan pikiran dan angan-angan.25

BAB III

KESIMPULAN

Islam adalah agama yang diturunkan kepada manusia sebagai rohmat bagi alam semesta. Maka dari itu, dalam perkembangannya, Islam berinteraksi denganberbagai macam budaya. Salah satunya adalah budaya Jawa yang kental denganaroma animism-dinamisme serta mistiknya. Sehingga beberapa aliran yangdihasilkan, mayoritas bercorak kebatinan. Diantara beberapa aliran tersebut adalah:

1. Paguyuban Sumarah

2.Paguyuban Ngesthi Tunggal

3. Saptadarma

4.Susila Buddhi Dharma (Subud)

Beberapa aliran diatas, menurut keputusan Sidang Umum MPR 1978 memutuskan bahwa mereka adalah aliran kepercayaan dan bukan agama, danhanya merupakan aspek spiritual budaya Jawa. Maka dari itu mengambil istilahWoodward, mereka adalah varian Islam yang sinkretik bila dipandang dari segiagama dan sintesis bila dipandang dari segi budaya.

DAFTAR PUSTAKA

Mulyati, Sri.2003 Mengenal dan Memahami Tarekat-Tarekat Muktabarah di

Indonesia. Jakarta: Kencana.

Simuh.2003. Islam dan Pergumulan Budaya Jawa. Jakarta: TERAJU

Sofwan, Ridin. 1999.Menguak Seluk Beluk Aliran Kebatinan. Semarang: CV.Aneka Ilmu.

Woodward, Mark R. 1999 Islam Jawa, Kesalehan Normatif Versus Kebatinan, Yogyakarta:LKiS.
Yatim, Badri.1993. Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada
http://kacahati.wordpress.com/2009/04/08/artikel-tentang-islam-dan-budaya/

http://www.swaramuslim.net/galery/islamindonesia/index.php?page=falsafah

jawa,12-12-09.

http://macheda.blog.uns.ac.id/2009/06/11/resensi-sejarah-wali-songo-misi-

pengislaman-di-tanah-jawa/

 

  1. http://kacahati.wordpress.com/2009/04/08/artikel-tentang-islam-dan-budaya/
  2. Simuh, Islam dan Pergumulan Budaya Jawa,(Jakarta: TERAJU,2003)h.1
  3. Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1993) hal. 1-4
  4. Mark R. Woodward, Islam Jawa, Kesalehan Normatif Versus Kebatinan, (Yogyakarta: LKiS,1999) h.vi

5. Ibid.h 352

6.http://www.swaramuslim.net/galery/islam indonesia/index.php?page=risalahislamnusantara,24- 12-09

7. Sri Mulyati, Mengenal dan Memahami Tarekat-Tarekat Muktabarah di Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2006 hal.7-12

8. http://macheda.blog.uns.ac.id/2009/06/11/resensi-sejarah-wali-songo-misi-pengislaman-di-tanah- jawa/

9. Simuh, Islam dan Pergumulan Budaya Jawa, (Jakarta: TERAJU, 2003)h.66
10. Ibid.h 66-68
11. Ibid. 80-95.

12. Ridin Sofwan, Menguak Seluk Beluk Aliran Kebatinan, (Semarang: CV. Aneka Ilmu, 1999) h.9
13. Simuh, Islam dan Pergumulan Budaya Jawa,(Jakarta: TERAJU,2003)h.173-174
14. Ibid.h 173-174
15. http://www.swaramuslim.net/galery/islam-indonesia/index.php?page=falsafah jawa,24   12-09

16. Simuh, Islam dan Pergumulan Budaya Jawa,(Jakarta: TERAJU,2003)h.175

20 Ibid.h.180-184

21http://www.swaramuslim.net/galery/islam-indonesia/index.php?page=falsafah jawa,24-12-09

22 http://www.swaramuslim.net/galery/islam-indonesia/index.php?page=falsafah jawa,24-12-09

23 Simuh, Islam dan Pergumulan Budaya Jawa,(Jakarta: TERAJU,2003)h.185-190

24 http://www.swaramuslim.net/galery/islam-indonesia/index.php?page=falsafah jawa,12-12-09.Bandingkan dengan Simuh, Islam dan Pergumulan Budaya Jawa,(Jakarta: TERAJU,2003)h.191.25 Simuh, Islam dan Pergumulan Budaya Jawa,(Jakarta: TERAJU,2003)h.190-198.

 

 

About rendyadamf
assalamu'alaikum wrwb..salam kenal buat teman - teman semuanya..gw rendy TTL : Bandung, 30-06-84. gw kuliah di UNISBA. gw nulis blog ini hanya untuk curahkan semua pemikiran gw..dan gw udah ubah haluan jalan hidup gw..menjadikan jihad sebagai satu-satunya jalan hidup gw!!

5 Responses to Kejawen Menurut Islam

  1. info yang menarik…

    izin nyimak ya…

    di tunggu kunjungan baliknya…

    by king of giant news

  2. xenofobie says:

    assalamu’alaikum
    adapun pendapat saya mengenai kejawen sapto dharmo dan segala variannya adalah bukan pendapat saya pribadi, melainkan ialah ijma’ ulama.
    yang dimana segala sesuatunya berdasarkan dalil yang shahih, bukan sekedar hasil pemikiran akal.
    sebab ISLAM yang mulia dibangun dengan dasar ilmu, al ilmu qoblal qoul wal amal
    ilmu sebelum berkata dan beramal. jika kita masih saja mengambil nash-nash dari para teolog kafir dan sufi, tiada lain yang kita dapat pastila kebinasaan agama kita.
    semua harus merujuk pada Kitabulloh, Sunnah dengan pemahaman para shalafussaleh…
    wassalamu’alaikum….

  3. imam syafii says:

    HAYO MAU KOMENTAR APA.. SEMOGA TEMAN2 DARI ISLAM KEJAWEN MAU MEMBACA DAN KEMBALI KE ISLAM

  4. rendyadamf says:

    Wa’alaykumussalaam..iya maksudya ijma ulama yang mana? karena menurut ulama pasca periode sahabat, setelah masa enam tahun kekhalifahan Usman sampai saat ini tidak mungkin terjadi ijma. Menurut Imam Ahmad “barangsiapa mendakwakan adanya ijma, maka dia pembohong” (Al-Ahkam fi ushalil ahkam, Imam al-Amidi, I:248)

  5. sange says:

    minta izin copas brow buat tugas makala!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: