Penentuan shaum Arafah dan Iedul Adha Berdasarkan Wukuf

WUKUF BUKAN MUQADDAMAH WUJUD

Oleh: Ibnu Muchtar

 

Ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa Idul Adha ditetapkan berdasarkan waktu wukuf di Arafah. Dengan perkataan lain wukuf itu sebagai standar penetapan Iedul Adha. Istinbath ini ditetapkan berdasarkan sabda Nabi saw. tentang shaum ‘Arafah dalam hadis Abu Qatadah al-Anshari:

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ

Berdasarkan penamaan shaum ini dengan “shaumu yaumi ‘arafah” maka dipahami bahwa shaum Arafah itu waktunya harus bersesuaian dengan waktu wukuf di ‘Arafah. Karena Idul Adha didahului oleh shaum hari Arafah, maka Idul Adha pun ditetapkan berdasarkan wukuf di Arafah itu.

Hemat kami, istinbath demikian tidak tepat dilihat dari beberapa aspek:

1. Latar belakang penamaan Arafah

Ibnu Abidin menjelaskan:

عَرَفَةُ إِسْمُ اليَوْمِ وَعَرَفَاتُ إِسْمُ المَكَانِ

“Arafah adalah ismul yaum (nama hari) dan Arafaat adalah ismul makan (nama tempat)” Hasyiah Raddil Mukhtar, II:192

Menurut Imam ar-Raghib, al-Baghawi, dan al-Kirmani Arafah adalah

إِسْمٌ لِلْيَوْمِ التَّاسِعِ مِنْ ذِي الحِجَّةِ

Nama hari ke-9 dari bulan Dzulhijjah.

Hari tersebut dinamakan Arafah berkaitan dengan peristiwa mimpinya Nabi Ibrahim yang diperintah untuk menyembelih anaknya. Pada pagi harinya

فَعَرَفَ أَنَّهُ مِنَ اللهِ فَسُمِّيَ يَوْمَ عَرَفَةَ

“Maka ia mengenal/mengetahui bahwa mimpi itu benar-benar (datang) dari Allah. Maka (hari itu) dinamakan hari Arafah”. Lihat, al-Mughni, III:58

Menurut Imam al-‘Aini dan ar-Raghib Arafat adalah

عَلَمٌ لِهذَا المَكَانِ المَخْصُوصِ

Nama bagi tempat yang khusus ini. (Lihat, Umdatul Qari, I:263; dalam redaksi ar-Raghib: buq’ah makhshushah [tanah/daerah yang khusus] Lihat, al-Mufradat fi Gharibil Quran, hal. 969)

Adapun tempat tersebut dinamakan Arafah berkaitan dengan peristiwa ta’arufnya antara Nabi Adam dan Hawa ditempat itu, sebagaimana dijelaskan Ibnu Abas

وَتَعَارَفَا بِعَرَفَاتِ فَلِذلِكَ سُمِّيَتْ عَرَفَاتِ

Dan keduanya ta’aruf di Arafat, karena itu dinamai ‘Arafat. (Lihat, al-Kamil fit Tarikh, I:12). Keterangan Ibnu Abas itu dijadikan pinjakan oleh para ulama, antara lain Yaqut bin Abdullah al-Hamuwi dalam Mu’jam al-Buldan (IV:104), Ahmad bin Yahya bin al-Murtadha, dalam at-Taj al-Madzhab li Ahkam al-Madzhab, (II:89); ar-Raghib al-Ashfahani dalam al-Mufradat fi Gharibil Quran (hal. 969).

Berbagai keterangan di atas menunjukkan bahwa

(a)     Penamaan Arafah, baik sebagai ismul yaum maupun ismul makan, sudah digunakan sebelum disyariatkan ibadah haji.

(b)     Penamaan Arafah bukan karena fi’lun (wukuf dalam ibadah haji). Dengan perkataan lain, fi’lun (wukuf dalam ibadah haji) bukan muqaddamah wujud penamaan Arafah.

2. Latar belakang penamaan Shaum dengan Arafah

Nabi menyatakan:

صَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةَ

Kalimat Yaum Arafah disebut idhafah bayaniyyah, yakni bayan zamani (keterangan waktu), bukan idhafah makaniyyah, apalagi idhafah fi’liyyah. Berdasarkan latar belakang penamaan di atas maka struktur kalimat Shaum Yaum Arafah harus dipahami “Shaum pada hari ke-9 bulan Dzulhijjah yang disebut hari Arafah” Dengan demikian, penyandaran kata shaum pada kalimat Yaum ‘Arafah untuk menunjukkan bahwa Yaum Arafah (hari ke-9) itu sebagai muqaddamah wujud, yaitu syarat sahnya shaum tersebut. Dengan perkataan lain, shaum itu terikat oleh miqat zamani (ketentuan waktu). Apabila struktur kalimat Shaum Yaum Arafah akan dipahami bahwa “shaum itu waktunya harus bersesuaian dengan waktu wukuf di ‘Arafah”, maka harus disertakan qarinah (keterangan pendukung), karena cara pemahaman seperti ini khilaful qiyas (menyalahi kaidah), dalam hal ini kaidah tentang idhafah bayan zamani, juga dalil-dalil tentang shaum itu.  Karena dalam berbagai hadis untuk shaum ini digunakan beberapa sebutan, yaitu:

(a)     Tis’a Dzilhijjah (9 Dzulhijjah)

عَنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ r  قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللهِ r يَصُومُ تِسْعَ ذِي الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ– رواه أبو داود وأحمد والبيهقي –

Dari sebagian istri Nabi saw., ia berkata, “Rasulullah saw. shaum tis’a Dzilhijjah, hari Asyura, tiga hari setiap bulan” H.r. Abu Daud, Sunan Abu Daud, Juz VI:418, No. 2081; Ahmad, Musnad Ahmad, 45:311, No. 21302, 53:424. No. 25263, dan al-Baihaqi, as-Sunan al-Kubra, IV:285, Syu’abul Iman, VIII:268

Dalam hadis ini disebut dengan lafal Tis’a Dzilhijjah, yang berarti tanggal 9 Dzulhijjah. Hadis ini memberikan batasan miqat zamani (ketentuan waktu pelaksanaan) shaum ini, yaitu pada tanggal 9 Dzulhijjah.

(2)     Shaum al-‘Asyru

عَنْ حَفْصَةَ قَالَتْ : أَرْبَعٌ لَمْ يَكُنْ يَدَعُهُنَّ رَسُولُ اللهِ e  : صِيَامَ عَاشُورَاءَ وَ العَشْرَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَ الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ اْلغَدَاةِ – رواه أحمد و النسائي –

Dari Hafshah, ia berkata,” Empat perkara yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah saw. : shaum Asyura, shaum arafah, shaum tiga hari setiap bulan dan dua rakaat qabla subuh.”.H.r. Ahmad, al-Musnad, X : 167. No. 26521 dan an-Nasai, Sunan an-Nasai, II : 238

Kata al-‘Asyru secara umum menunjukkan jumlah 10 hari. Berdasarkan makna umum itu, maka dapat dipahami dari hadis tersebut bahwa Rasul tidak pernah meninggalkan shaum 10 hari bulan Dzulhijjah. Namun pemahaman itu jelas bertentangan dengan ketetapan Nabi sendiri yang melarang shaum pada hari Iedul Adha (10 Dzulhijjah) (Hr. An-Nasai, as-Sunan al-Kubra, II:150) serta penjelasan Aisyah “Aku sama sekali tidak pernah melihat Nabi shaum pada 10 (Dzulhijjah)” (H.r. Muslim)

Dengan demikian kata al-Asyru pada hadis ini sama maksudnya dengan Tis’a Dzilhijjah pada hadis di atas. Adapun penamaan shaum tanggal 9 Dzulhijjah dengan al-‘Asyru, karena hari pelaksanaan shaum tersebut termasuk pada hari-hari al-‘Asyru (10 hari pertama bulan Dzulhijjah) yang agung sebagaimana dinyatakan Rasul dalam hadis sebagai berikut:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ r مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلعم  وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ – رواه الترمذي

Dari Ibnu Abbas, bahwasanya ia berkata, ‘Rasulullah saw. Bersabda, ‘Tidak ada dalam hari-hari yang amal shalih padanya lebih dicintai Allah daripada hari-hari yang sepuluh ini. Para sahabat bertanya, ‘(apakah) jihad fi Sabilillah juga tidak termasuk? Rasul menjawab, ‘Tidak, kecuali seseorang yang berkorban dengan jiwanya dan hartanya kemudian dia tidak mengharapkan apa-apa darinya.’ Hr. At-Tirmidzi, Tuhfah al-Ahwadzi, III: 463

Selain itu penamaan tersebut menunjukkan bahwa hari ‘Arafah itu hari yang paling agung di antara hari-hari yang sepuluh itu, sebagaimana dinyatakan oleh Nabi saw.

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يَعْتِقَ اللهُ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِي بِهِمُ المَلاَئِكَةُ فَيَقُولُ : مَا أَرَادَ هَؤُلاَءِ ؟ – رواه مسلم –

“Tiada hari yang Allah lebih  banyak membebaskan hamba-Nya dari neraka melebihi hari Arafah, dan bahwa Ia dekat. Kemudian malaikat merasa bangga  dengan mereka, mereka (malaikat) berkata, ‘Duhai apakah gerangan yang diinginkan mereka?’.” (Lihat, Shahih Muslim, I : 472)

Berbagai keterangan di atas menunjukkan bahwa

(a)     Penamaan Shaum itu dengan yaum Arafah, Tis’a Dzilhijjah, dan al-Asyru menunjukkan bahwa pelaksanaan shaum tersebut terikat oleh miqat zamani (tanggal 9 Dzulhijjah)

(b)     Penamaan shaum Arafah bukan karena fi’lun (wukuf dalam ibadah haji). Dengan perkataan lain, fi’lun (wukuf dalam ibadah haji) bukan muqaddamah wujud disyariatkannya shaum Arafah. Karena itu, penamaan tersebut tidak dapat dijadikan dalil  bahwa waktu shaum itu harus bersamaan dengan pelaksanaan wukuf di Arafah.

Untuk lebih mempertegas bahwa waktu shaum itu tidak disyaratkan harus bersamaan dengan pelaksanaan wukuf di Arafah, maka kita kaji berdasarkan Tarikh Tasyri’ Shaum Arafah dan Iedul Adha.

3. Tarikh Tasyri Shaum Arafah dan Iedul Adha

عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ النَّحْرِ

Dari Anas, ia berkata, “Rasulullah saw. datang ke Madinah, dan mereka mempunyai dua hari yang mereka bermain-main pada keduanya pada masa jahiliyyah. Maka beliau bersabda, ‘Sungguh Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik dari keduanya, yaitu Hari Adha dan Hari Fitri’.” H.r. Ahmad, Musnad Ahmad, XXIV:114, No. 11568; Abu Daud, Sunan Abu Daud, III:353, No. 959. Dan redaksi di atas versi Ahmad.

Sehubungan dengan hadis itu para ulama menerangkan bahwa Ied yang pertama disyariatkan adalah Iedul Fitri, kemudian Iedul Adha. Keduanya disyariatkan pada tahun ke-2 hijrah. (Lihat, Shubhul A’sya, II:444; Bulughul Amani, juz VI:119; Subulus Salam, I:60)

Dalam hal ini para ulama menerangkan:

وَإِنَّمَا كَانَ يَوْمُ الْفِطْرِ مِنْ رَمَضَانَ عِيدًا لِجَمِيعِ هَذِهِ الْأُمَّةِ إشَارَةً لِكَثْرَةِ الْعِتْقِ قَبْلَهُ كَمَا أَنَّ يَوْمَ النَّحْرِ هُوَ الْعِيدُ الْأَكْبَرُ لِكَثْرَةِ الْعِتْقِ فِي يَوْمِ عَرَفَةَ قَبْلَهُ إذْ لَا يَوْمَ يُرَى أَكْثَرُ عِتْقًا مِنْهُ

“Yaum fitri dari Ramadhan (ditetapkan) sebagai ied bagi semua umat ini tiada lain sebagai isyarat karena banyaknya pembebasan (dari neraka), sebagaimana hari Nahar, yang dia itu ied akbar, karena banyaknya pembebasan (dari nereka) pada hari Arafah sebelum Iedul Adha. Karena tidak ada hari yang dipandang lebih banyak pembebasan daripada hari itu (Arafah)” (Lihat, Hasyiah al-Jumal, VI:203; Hasyiah al-Bajirumi ‘alal Manhaj, IV:235)

Keterangan di atas menunjukkan bahwa Shaum Arafah mulai syariatkan bersamaan dengan Iedul Adha,  yaitu tahun ke-2 hijriah. Keduanya disyariatkan setelah syariatkannya Shaum Ramadhan dan Iedul Fitri pada tahun yang sama.

Adapun ibadah haji (termasuk di dalamnya  wukuf di Arafah) mulai disyariatkan pada tahun ke-6 hijriah sebagaimana dinyatakan oleh Jumhur ulama (lihat, Fathul Bari, III:442). Namun menurut Ibnu Qayyim disyariatkan tahun ke-9/ke-10 Hijriah. (lihat, Zaadul Ma’ad, II:101, Manarul Qari, III:64)

Keterangan-keterangan di atas menunjukkan bahwa

(a)     Waktu tasyri’ Shaum Arafah dan Iedul Adha lebih dahulu daripada tasyri’ wukuf di Arafah.

(b)     Wukuf di Arafah bukan muqaddamah wujud shaum Arafah dan Iedul Adha.

Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan “Istinbat bahwa waktu shaum Arafah dan Iedul Adha harus berdasarkan standard pelaksanaan wukuf di Arafah” tidak berdasarkan dalil dan thuruqul istinbath yang jelas.

 

About rendyadamf
assalamu'alaikum wrwb..salam kenal buat teman - teman semuanya..gw rendy TTL : Bandung, 30-06-84. gw kuliah di UNISBA. gw nulis blog ini hanya untuk curahkan semua pemikiran gw..dan gw udah ubah haluan jalan hidup gw..menjadikan jihad sebagai satu-satunya jalan hidup gw!!

14 Responses to Penentuan shaum Arafah dan Iedul Adha Berdasarkan Wukuf

  1. Pingback: Iedul Adha 1431H Jatuh Pada Hari Rabu 17 November 2010 « cahaya di atas cahaya

  2. iman says:

    yang ane tau tentang penetapan aidil adha adalah, kalau wukuf di arafah dilaksanakan, maka kita yang tidak melaksanakan ibadah haji disunnahkan berpuasa, maka keesokan harinya kita melaksanakan sholat ‘ied, (mudah2an ane gak keliru)

  3. chairi says:

    assalamu alaykum..syukron bt ilmunya tadz..nuwun.izin copas.

  4. untung says:

    ya bagus nambah wawasan ane ust,syukron banget,bisa ndak di kirimi artikel tentang cara berudhiyah?

  5. rendyadamf says:

    Iman: Bismillah, penetapan Iedul Adha berdasarkan hadits bahwa Iedul adha pada tanggal 10 dzulhijjah (An-Nasai), begitupun bagi orang yang tidak melaksanakan Haji disunatkan untuk shaum Arafah pada hari kesembilan dzulhijjah (Tis’ah Dzulhijjah) bukan berdasarkan wukuf.

    chairi: wa’alaykumussalam wrwb..silahkan ^^

    untung: iya insya Allah..

  6. Pria Idaman says:

    فِطْرُكُمْ يَوْمَ تُفْطِرُوْنَ وَأَضْحَاكُمْ يَوْمَ تُضَحُّوْنَ، وَعَرَفَةُ يَوْمَ تُعَرِّفُوْنَ
    Hari
    Raya Idul Fitri kalian adalah hari ketika kalian berbuka (usai puasa
    Ramadhan), dan Hari Raya Idul Adha kalian adalah hari ketika kalian
    menyembelih kurban, sedangkan Hari Arafah adalah hari ketika kalian
    (jamaah haji) berkumpul di Arafah. ( HR as-Syafii dari ‘Aisyah, dalam al-Umm, juz I, hal. 230 )

  7. anissa says:

    bismillah,
    jazakallahu khoyron atas postingannya. boleh ana tahu siapa ust. Ibnu muchtar ini, diamana beliau belajar dan apakah ada webnya sehingga bisa tanya-tanya langsung?

    barakallahu fiyk

  8. rendyadamf says:

    Pria idaman: hari arafah bertepatan tanggal 9 dzulhijjah, kalo merujuk pada wukuf di arafah maka di indonesia masih tanggal 8 dzulhijjah sehingga tidak bisa dijadikan standar. dan kalau benar penentuan awal bulan itu bisa dilakukan secara global (hanya dgn melihat hilal di mekah misalnya),kenapa ada riwayat bahwa Ibn Abbas berbeda ied dgn Muawiyah?Padahal jarak antara domisili Ibnu Abas dgn Muawiyah hanya antara mekah-siria (Hadis riwayat Muslim no.1819)

    Annisa: Nama : Amin Saefullah Muchtar

    TTL : Bandung, 21 Januari 1973

    Status Merital : Menikah (1 istri dan 4 anak)

    Alamat : Jl. Maleer V, No. 220/118, Bandung

    Pendidikan:

    1. Sekolah Dasar tahun 1986 di Bandung
    2. Tsanawiyyah (SLTP) tahun 1990 di Bandung,
    3. Mu’alimin (SLTA) tahun 1993 di Bandung
    4. Mu’alimin (SLTA) tahun 1994 di Garut
    5. Takhasus (pendidikan spesialis) bidang hadis dan ilmu hadis tahun 1994-1996 di Pesantren Tahdzibul Washiyyah, Bandung.

    Pekerjaan:

    1. Konsultan Hadis & Manajemen Syariah
    2. Dewan Syariah Jembar Panalar (Forum Studi & Analisa Sosial)
    3. Dewan Syariah Bani Muchtar Management
    4. Editor Buku

    Pengalaman Organisasi:

    1. Forum Pengkajian Hadis “Ibnu Hajar” Bandung tahun 1996-1999, sebagai Ketua.
    2. IMN (International Media Network) tahun 1995, sebagai anggota.
    3. Dewan Syariah FITRAH (Forum Ilmiah Transformasi Sunnah) tahun 1995, sebagai ketua
    4. Departemen Kajian Ekonomi Syariah KUBE (Kelompok Usaha Bersama Ekonomi) tahun 1995, sebagai ketua
    5. Eskplorasi Dinamika dan Analisa Sosial (EDAS) tahun 1996, sebagai anggota.
    6. Dewan Syariah Mihdan Corporation tahun 1995 – 2008, sebagai Ketua.
    7. Dewan Syariah CV Karsa Mandiri Utama tahun 2005 – 2006, sebagai Ketua.
    8. Dewan Syariah CV Inter Buana Indonesia tahun 2005 – 2008, sebagai Ketua.
    9. Dewan Syariah Bani Muchtar Management 2006 – sekarang, sebagai ketua.
    10. Lembaga Studi Ilmiah “Ibn Hajar”, 2006 – sekarang, sebagai ketua
    11. Pesantren Tahdzibul washiyyah, 1996 – 2005, sebagai Bendahara & pelaksana Teknis
    12. Majalah al-Qudwah, 2000-2006, sebagai Sekretaris
    13. Yayasan Tahdzibul washiyyah, 2006, sebagai Sekretaris Dewan Pengurus

    Pengalaman Organisasi Internal:

    1. Organisasi kesantrian (RG) Pesantren Persatuan Islam tahun 1991, sebagai Ketua Bidang Dakwah.
    2. Organisasi kesantrian (RG) Pesantren Persatuan Islam tahun 1992, sebagai Ketua Bidang Tarbiyyah.
    3. Pimpinan Jama’ah Pemuda Persatuan Islam Cabang Batununggal tahun 1993, sebagai Ketua.
    4. Pimpinan Cabang (PC) Pemuda Persis Batununggal, Bandung (Masa Jihad 1990-1993), sebagai Ketua Bidang Pendidikan
    5. Pimpinan Cabang (PC) Pemuda Persis Batununggal, Bandung (Masa Jihad 1993-1996), sebagai Ketua II (Bidang Tarbiyyah)
    6. Pimpinan Cabang (PC) Pemuda Persis Batununggal, Bandung (Masa Jihad 2009-2011), sebagai Penasehat
    7. Pimpinan Daerah (PD) Pemuda Persis Kota Bandung (Masa Jihad 2005-2008), sebagai Penasehat
    8. Pimpinan Pusat Pemuda Persatuan Islam tahun 2000-2005, sebagai Ketua Bidang Pendidikan
    9. Pimpinan Pusat Pemuda Persatuan Islam tahun 2005-2007, sebagai sebagai Wakil Ketua Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang)

    Riset dan Karya ilmiah

    1. A. Makalah/Artikel
    1. Metodologi Imam as-Syafi’I (Risalah: 1993)
    2. Kehujjahan Hadis Ahad (Risalah: 1994)
    3. Menimbang Shahih al-Bukhari (Risalah: 1994)
    4. Abu Thalib: Mukminkah? (Risalah: 1994)
    5. Telaah Hadis: Nabi Isa Turun (Risalah: 1994)
    6. Hadis Mua’allaq Versi al-Bukhari (Risalah: 1994)
    7. Telaah Hadis: Mayit Tersiksa Karena Ditangisi (Risalah: 1994)
    8. Telaah Hadis: Haji Satu Kali Sa’i (Risalah: 1995)
    9. Telaah Konsep: Kullu Shahabah ‘Udul (Risalah: 1995)
    10. Telaah Hadis: Merapatkan Tumit Ketika Sujud (Risalah: 1995)
    11. Telaah Masalah: Di Mana Imam Wanita Mesti Berdiri (Risalah: 1995)
    12. Telaah Status Rawi:Ashim bin Kuleb Dhaifkah? (Risalah: 1996)
    13. Hadis Mu’alaq Versi al-Bukhari (Bina Dakwah: 1996)
    14. Telaah Hadis: Isyarat Telunjuk Waktu Tasyahud (Risalah: 1997)
    15. Telaah Hadis: Nabi Musa dan Malakal Maut (Risalah: 1997)
    16. Telaah Status Rawi: Yahya bin Ayyub: Hasankah? (Risalah: 1997)
    17. Telaah Hadis: Hadis al-Gharaniq: Antara Ibnu Hajar dan Jumhur Ulama (Risalah: 1997)
    18. Telaah Hadis: Salat Istighatsah (Risalah: 1998)
    19. Telaah Hadis: Salat Tasbih (Risalah: 1998)
    20. Sababul Wurud Hadis Maudhu (Telaah Kritis Hadis Palsu) (Risalah: 1998)
    21. Tadwin al-Hadis (al-Qudwah: 2000)
    22. Ilmu hadits Dirayah dan Riwayah (al-Qudwah: 2000)
    23. Kriteria hadits Nabawi (al-Qudwah: 2000)
    24. Kriteria Hadits Qudsi (al-Qudwah: 2000)
    25. Tadwinul Hadits (Proses Kodifikasi Hadis) (al-Qudwah: 2000)
    26. Al-Kutubus Sittah (Sumber Primer Ajaran Islam) (al-Qudwah: 2000)
    27. At-Thuruq fi Thalabil Hadits (Metode Pencarian Hadis) (al-Qudwah: 2000-2001)
    28. Riwayatul Hadits (al-Qudwah: 2001-2002)
    29. Kedudukan Hadis Burukul Ba’ir (Diskusi Cililin: 2001)
    30. Pemalsuan Quran Via Internet (Kiblat: 2001)
    31. Status Hukum Salat Tahajud Berjama’ah (al-Qudwah: 2001)
    32. Kedudukan Qunut Pada Salat Witir (al-Qudwah: 2001)
    33. Hukum Melabuhkan Pakaian (Isbal) (al-Qudwah: 2001)
    34. Jumlah Takbir dalam Adzan dan Iqamah (al-Qudwah: 2001)
    35. Shaum Atas Orang Yang Meninggal (al-Qudwah: 2001)
    36. Thabaqatur Ruwah (Stratifikasi Generasi Periwayat Hadis) (al-Qudwah: 2002-2006)
    37. Kedudukan Hadis Doa Kafaratul Majlis (Diskusi Kota Bandung: 2002)
    38. Kedudukan Hadis Ahad Dalam Persoalan Akidah (Diskusi Kota Bandung: 2002)
    39. Perbandingan Teologi Sunnah dan Syi’ah (Diskusi Majalengka: 2002)
    40. Kedudukan Hadis Salat Tasbih (al-Qudwah: 2002)
    41. Status Hukum Zakat Profesi (al-Qudwah: 2002)
    42. Isyarat Telunjuk Pada Duduk di antara Dua Sujud (al-Qudwah: 2002)
    43. Kesalahkaprahan Muhasabah (al-Qudwah: 2002)
    44. Permasalahan di Seputar Kaifiyat Shalat (Diskusi Subang: 2003)
    45. Tantangan Terhadap Sunnah: Dahulu, Sekarang, dan akan Datang (Diskusi Kab Bandung: 2003)
    46. Kapan Qunut Nazilah dilaksanakan? (al-Qudwah: 2003)
    47. Kedudukan Berdoa Waktu Thawaf (al-Qudwah: 2003)
    48. Beberapa Masalah Sekitar Zakat Tijarah (Perdagangan) (al-Qudwah: 2003)
    49. Kedudukan Salawat Munfarijah (al-Qudwah: 2003)
    50. Kedudukan Milad, Maulid, Ultah, dan Natal (al-Qudwah: 2003)
    51. Masbuq Berjama’ah (al-Qudwah: 2003)
    52. Berdoa Saat Berbuka Shaum (al-Qudwah: 2003)
    53. Kornetisasi Daging Kurban Menyalahi Sunnah (al-Qudwah: 2003)
    54. Mengangkat Tangan pada Salat Ied (al-Qudwah: 2003)
    55. Makmum Masbuq (al-Qudwah: 2003)
    56. Hukum Calon Legislatif Wanita (al-Qudwah: 2003)
    57. Perbandingan Manhaj Salaf Antara Syekh al-Albani dan Dewan Hisbah Persatuan Islam (Diskusi Subang: 2004)
    58. Studi Kritis Atas Shahih al-Bukhari (Daurah Du’at Kab. Bandung: 2004)
    59. Salafi dan Manhajnya (Kajian Tematis Kab. Bandung: 2004)
    60. Nilai Sebuah Sumpah (al-Qudwah: 2004)
    61. Arti Sebuah Jabatan (al-Qudwah: 2004)
    62. Mengangkat Tangan Ketika Hendak Sujud dan Bangkit dari Sujud (al-Qudwah: 2004)
    63. Status Hukum Bisnis Melalui MLM (Multi Level marketing) (al-Qudwah: 2004)
    64. Bid’ah-bid’ah Seputar Ied (al-Qudwah: 2004)
    65. Gema Syariah (Diskusi Masjid PT PLN Kota Bandung: 2004)
    66. Kedudukan Hadis Shaum Syawwal (Diskusi Masjid PT INTI Kota Bandung: 2004)
    67. Sunnah Tasyri’iyyah dan Ghair Tasyri’iyyah (Kajian Tematis Kota Bandung: 2005)
    68. Hukum Memperingati Tahun Baru Hijriah (al-Qudwah: 2005)
    69. Makmum Masbuq Mendapatkan Ruku Imam (al-Qudwah: 2005)
    70. Perempuan Itu Salat Dzuhur, Tidak Jumat (al-Qudwah: 2005)
    71. Miqat Syarat Ibadah Haji (al-Qudwah: 2005)
    72. Pendekatan Kebahasaan dalam Memahami Alquran dan as-Sunnah (Seminar Universitas Pendidikan Indonesia: 2005)
    73. Shaum Bagi Yang Tidak Mendapatkan Hadyu (al-Qudwah: 2005)
    74. Nabi Isa Sudah Wafat? (al-Qudwah: 2005)
    75. Metodologi Ijtihad dalam Perspektif Madzhab (Training Muballigh Gorontalo: 2005)

    B. Kontribusi tulisan

    1. Skripsi Dewi Kartika, S.Ag. Kedudukan Hadis-hadis Tentang Imam Mahdi (1994)
    2. Skripsi Agus Muslim, S.Ag, Hadis Mu’allaq Versi al-Bukhari dalam Perspektif Ibn Hajar al-Asqalani (1995)
    3. Skripsi Ahmad Gunawan, S. Ag. Pemahaman Hadis Antara Tekstual dan Kontekstual (1998).
    4. Tesis Magister Irma Yulianti, M. Ag. Takhrij Hadis tentang Kepemimpinan Wanita (1997);
    5. Tesis Magister Drs. Zarkasyi Chumaidi, M. Ag, Konsepsi Wanita dalam Perspektif Sunnah: Pendekatan Historis-Sosiologis (2004).
    6. Tesis Magister Agus Suyadi Raharusun, Lc. MA, Sistematika Penyusunan Hadis dalam Jami’ al-Shahih al-Bukhari (Relevansi judul dengan Kandungan Matan) (2004)

    C. Hasil Riset

    1. Status Abu Thalib dalam Perspektif Sunnah (1994)
    2. Tela’ah Hadis Isyarat Telunjuk Waktu Tasyahhud (1997)
    3. Sababul Wurud Hadis Maudhu’ (1998).
    4. Takhrij Hadis Tentang Salat Tasbih (1999)
    5. Ilmu al-Takhrij: Metode Praktis Penelitian Hadis (2000-2001)
    6. Tadwinul Hadis: Telaah Kronologis dan Metodologis Kodifikasi Hadis (2000)
    7. Fiqhul Hadis tentang Niyabatul Hajj (2001)
    8. Kedudukan Hadis Tentang Shaum Sunnat Enam Hari Pada Bulan Syawwal (2001)
    9. At-Thuruq fi Thalibil Hadits (Metode-metode Pencarian Hadis) (2001)
    10. Riwayatul Hadits: Proses Periwayatan Hadis (2001-2002);
    11. Thabaqatur Ruwah: Telaah Kriteria Lapisan Generasi Periwayat Hadis (2002-sekarang)
    12. Metodologi Pembelajaran Hadis (2002- sekarang)
    13. Tautsiq Shahih al-Bukhari (Autentikasi Shahih al-Bukhari): Penelitian Litografi (2000-2004)
    14. Status Bunga dalam Lembaga Keuangan Konvensional (2002- sekarang)
    15. Imam Mahdi Tokoh Fiktif: Telaah Kritis atas Hadis-hadis Mahdawiyyah (2004)
    16. Kedudukan Riwayat Syiah dalam Shahih al-Bukhari (2004 – sekarang)
    17. Fiqih Manhaji dan Istibathi Ibnu Hajar dalam Bulugh al-Maram (2004 – sekarang)

    D. Buku

    1. Imam al-Bukhari Dalam Sorotan (CV Andika, Bandung, 1994).
    2. Keajaiban al-Qur’an & Tantangan Zaman (KORPRI, 1997).
    3. Salah Kaprah Muhasabah (Humaniora, Bandung, 2007)
    4. Emosi Oknum Salafiy (Puslitbang PP Pemuda Persis, 2008)
    5. Koperasi Syariah: Dari Teori Hingga Praktik (2008, siap terbit)
    6. Tautsiq Shahih al-Bukhari (Autentikasi Shahih al-Bukhari): Penelitian Litografi (2004, siap terbit)
    7. Panduan Praktis Penelitian Hadis (2005, siap terbit)
    8. Lutut Ataukah Tangan? Telaah Hadis Kaifiyat Turun Untuk Sujud (2006, siap terbit)
    9. Dakwah Salafyyah: Antara Cita dan Realita (2007, siap terbit)
    10. Metode Belajar-Mengajar Hadis (2007, siap terbit)
    11. Fiqih Duit: Sejarah, Konsep, dan Daya Tarik Uang dalam Pandangan Islam (2007, siap terbit)
    12. Harta Kita Bukan Milik Kita (2008, siap terbit)
    13. Anugrah Safinah (2008, siap terbit)

    sebenarnya belum ada web al-ustadz, kalo ada yang mau ditanyakan nanti mungkin bisa saya sampaikan kepada beliau.

  9. abu nafis says:

    Assalamu alaikum, afwan akh kalau minta alamat email atau no telpn ustad ibnu muchtar bs g’ ? Ana mahasiswa di darul hadits yaman

  10. rendyadamf says:

    abu nafis: wa’alaykumussalam wrwb..iya saya konfirmasi dl ke al-ustadz amin ya..saya sedang diluar kota, insya Allah ba’da ied adha saya kbandung, kemana saya bisa hub kang abu nafis? ^^

  11. asep says:

    dupi majalah al-Qudwah aya web site na, nyuhunkeun alamat web site al-qudwah hatur nuhun

  12. asep says:

    dimana tiasa meser buku buku kang rendy ?

  13. rendyadamf says:

    maaf, websitenya sudah tidak aktif, ada yg bisa saya bantu? ^^

  14. rendyadamf says:

    bisa hubungi atau sms ke 085624552499 ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: