Kedudukan tambahan wabihamdihi dalam bacaan ruku dan sujud

Hadis yang ditanyakan itu demikian ;

 

dari Uqbah bin Amir….ia berkata : Maka adala rasulullah apabila ia ruku menyebut “subhana rabbiyal ‘adzimi wa bihamdihi tiga kali dan apabila sujud menyebut “subhana rabbiyal ‘ala wa bihamdihi” tiga kali

Penjelasan :

1.   Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud 1 : 139, selain Abu Dawud ada juga diriwayatkan oleh Ad-Daraquthni 130. Imam Ahmad, Ath0Thabrani dan Al-hakim, semua ini riwayatnya lemah. Cukup kita perbincangkan riwayat Abu Dawud saja

 

2.   Riwayat Abu Dawud ini pun lemah karena :

 

Pertama : Abu dawud sendiri berkata “tambahan ini dikhawatirkan tak terpelihara(sah)” Ucapan Abu Dawu ini meragu ragukan dan memberi gambaran bahwa tambahan itu belum tentu sah.

Kedua : Ibnush-Shalah, seorang ahli hadis yang kenamaan memungkiri tambahan ini (mailul Authar 2:271)

 

Ketiga : Dalam sanad hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud itu dikatakan dari Ayub bin Musa, atau Musa bin Ayub terbalik. Ini menunjukan keragu-raguan tentang jalan riwayatnya.

 

Keempat dalam sanad Abu Dawud itu disebut “dari seorang laki-laki dari kaumnya” hadis demikian dalam ilmu hadis dikataklan mubham(tersembunyi).

 

Kelima, dalam sanad lain yang sah dari jalan Uqbah bin Amir itu dan dari lain-lain sahabat Nabi saw tidak memakai tambahan wabihamdihi itu

A.  Dalam kitab tersebut, halaman 137 dan 154, syaikh Al-Albani betul berkata bahwa hadis bagi dzikir ruku dan sujud tersebut di atasadalah sahih. Di halaman-halaman itu juga Syaikh Al-Albani berkata bahwa hadis itu diriwayatkan oleh Abu Dawud, Ad-Daraquthni, Ahmad, Baihaqi dan Thabrani.

 

B,   Mari kita periksa benar atau tidak bahwa hadis itu sahih “

 

Riwayat Abu Dawud :

Yang diriwayatkan Abu Dawud, sanadnya begini :

Rasulullah sawàUqbah bin AmiràSeorang dari kaumnyaàAyyub bin Musa bin AyyubàLaits (bin Sa’ad) àAhmad bin YunusàAbu Dawud.

 

Keterangannya :

1.   Dalam sanad itu ada : Ayyub bin Musa atau Musa bin Ayyub, ini adalah             keragu-raguan si rawi. Menurut Al-Allamah Aa-baady yang benar adalah         Musa bin Ayyub (aunul-Ma’bud 3:121). Keragu-raguan ini sekalipun kecil       tetapi berpengaruh juga pada matan (ini) dari hadis tersebut.

 

2.   Dalam sanad itu disebut seorang dari kaumnya, menurut sanad lain bahwa itu     adalah paman Musa bin Ayyub, namanya I-yaas bin Aamir (Aunul Ma’bud 3:120).

 

3.   Tentang tambahan (wa bi hamdihi) itu, Abu Dawud yang meriwayatkan hadis     itu sendiri berkata “dan tambahan ini dikhawatirkan bahwa ia tidak          mahfuz”(terpelihara dari kelemahan)(Abu Dawud : Aunul Ma’bud 3 : 122).

 

4.   Imam Ahmad pernah ditanya tentang tambahan itu ia menjawab “adapun aku,    aku tidak menjawab wa bi hamdihi” (A. Ma’bud 3:122)

 

5.   Ada yang berkata bahwa tambahan itu, dari riwayat Ibnu Abi Laila, sedang dia seorang yang lemah. (Al-Mughni IQ 1 : 543). Kelemahan Ibnu Abi Laila ini        buruk hafalannya, banyak salah (Tahdzieb).

 

6.   Ibnush-shalah menolak tambahan itu (Nailul-Authar 2:273, Aunul Ma’bud 3      :122).

 

7.   Ringkasnya hadis Abu Dawud tersebut meragukan.

 

Riwayat Ad-Daraquthni :

Yang diriwayatkan Ad-Darquthni ada dua :

1.   dari jalan sahabat Hudzaifah, tetapi dalam sanadnya ada rawi lemah, namanya    Muhammad bin Abdurrahman bin Abi Laila, kelemahannya sudah tersebut      dalam pembicaraan riwayat Abu Dawud di atas.

 

2.   Dari jalan Ibnu Mas’ud, dalam sanadnya ada As-Sariy bin Ismail seorang rawi   lemah. Kata Yahya Al-Qath-thaan : “telah nyata bagiku dustanya dalam sati       majlis” (M I’tidal)

 

 

 

 

Riwayat Ahmad :

Riwayat Ahmad ini tresebut dalam jilid 5 : 343, dari musnad Ahmad dalam Al-fat-hurrabaniy juz 3 :151 hadis no. 478.

 

Hadis diriwayatkan dari jalan Abu Malik Al-Asy’ari, dalam sanadnya ada rawi bernama Syahr bin Hausyah. Sebagian ilama menghasankan hadisnya tersebut karena menganggapnya dai kepercayaan (Aunul-Ma’bud 3 : 122, Al fat-hurrabaniy 3:152)

 

Tetapi sebenarnya ia tercela, karena :

 

a.   Kata Yahya al-Qaththan : aku pernah naik haji bersama syahr, lalu ia curi          tempat perhiasanku (tas) (mizanul I’tidal). Mungkin ia mencuri tas itu sebelum sampai nisab untuk dipotong tangannya, tetapi perbuatannya itu suatu celaan.

 

b.   Yahya bin Abi Bukair Al-Karmaniy berkata “Ayahku (Abu Bukair) telah           menceritakan kepadaku, katanya”adalah syarh itu pengurus baitul maal, lalu ia            mengambil beberapa dirham dari padanya” (mizanul I’tidaal).

 

c.   Kata Ibnu Hajar “ia seorang yang benar, tapi banyak memursalkan hadis dan     banyak salahnya (taqribut-tahdzieb)

 

Riwayat Baihaqi

Riwayat Baihaqi ini ada dua :

Pertama : dari jalan Uqbah bin Amir yang ada Ayyub bin Musa atau  Musa bin Ayyub sebagaimana riwayat Abu Dawud di atas. Dan ada sebutan dari seorang dari kaumnya. Lemah

 

Kedua, dalam sanadnya ada sebutan dari As-Sa’diy dari ayahnya atau pamannya. Ini menunjukan keragu-raguan.

 

Ada sebutan As-Sa’dy mestinya dari As-Sa’diy ini namanya ‘Amr, kata Ibnu Asakir “aku tidak melihat dia terpelihara (kata-kata yang menunjukan kepada kelemahan) (Tahdzibut-tahdzib)

(kedua itu disebut dalam Al-Baihaqi 2 :86).

 

Riwayat Thabrani :

Dari jalan Abu Malik Al-Asy’ari. Dalam sanadnya ada Syahr bin Hausy ah seperti riwayat Imam Ahmad tersebut di atas. Juga lemah (majma’uz-zawaid 2:128, Tuhfatudz-dzakirin 102)

Kesimpulan :

1.   Hadis-hadis riwayat Abu Dawud Ad-Daraquthni, Ahmad, Baihaqi, dan             Thabrani, semua lemah dan meragukan karena itu tidak dapat dipakai sebagai    alasan.

 

2.   Syaikh Albani berkata bahwa hadis itu sahih. Ada juga ulama yang        menghasankan hadis itu.

 

Cara mereka mengesahkan atau menghasankannya adalah dengan         mengumpulkan hadis-hadis itu dan berkata bahwa hadis-hadis itu antara satu    dengan yang lain kuat-menguatkan.

 

3.   Sebenarnya boleh hadis-hadis lemah dalam satu fasal kuat-manguatkan tetapi    kalau lemahnya itu ringan, umpama kurang kuat hafalan, atau sekali-sekali         salah dalam meriwayatkan sedang rawi-rawinya kepercayaan

 

Sifat ini tidak terdapat dalam hadis-hadis di atas.

 

Hadis Abu Dawud sangat meragukan, sehingga Abu Dawud sendiri ragu-ragu.

 

Riwayat Daraquthni, Ahmad, Baihaqi dan Thabrani yang dijadikan penguat        bagi hadis riwayat Abu Dawud itu, adalah hadis-hadis yang lemah sekali, di      antaranya ada rawi pencuri yang tidak dapat dijadikan penguat.

 

4.   Karena itu semua, maka bacaan tambahan wa bi hamdihi pada ruku dan sujud   adalah tidak ada

 

 

About rendyadamf
assalamu'alaikum wrwb..salam kenal buat teman - teman semuanya..gw rendy TTL : Bandung, 30-06-84. gw kuliah di UNISBA. gw nulis blog ini hanya untuk curahkan semua pemikiran gw..dan gw udah ubah haluan jalan hidup gw..menjadikan jihad sebagai satu-satunya jalan hidup gw!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: