Kedudukan Surat Al-Ma’tsurat

Al-Ma’tsurat adalah serangkaian bacaan ayat Alquran Alkariem, zikir dan doa yang disusun sedemikian rupa oleh Haddan Al-Banna sebagai kumpulan bahan untuk zikir pagi dan sore hari. Sumber ayat-ayatAlquran, lafal-lafal yang diambil dari hadis-hadis Rasulullah saw.

 

Selain ayat dan hadis itu, ada juga doa yang digubah oleh beliau sendiri yaitu doa rabithah yang diletakkan dibagian akhir kumpulan zikir Al-Ma’tsurat.

 

Jadi, penyusunan letak ayatdan hadis sedemikian rupa sehingga menjadi seperti urutan dalam ma’tsurat itu, tentu saja bukan dari Rasulullah saw. Melainkan dari penyusunannya.

 

Kalau dipahami bahwa wujud Al-Ma’tsurat dengan pilihan ayat dan susunannya itulah yang dahulu dibaca Rasulullah padi dan petang, tentu pemahaman ini adalah pemahaman yang keliru.

 

Kemudian dilihat dari segi kedudukan hadis, sebagian doa dan zikir dalam Al-Ma’tsuratada yang daif, antara lain doa khusus setelah selesai acara yang popular disebut kafaratul majlis

 

Subhaanaka Alloohumma wabihamdika, asyhadu alla ilaaha illaa anta, asytagfiruka wa atuubu ilaaik

Maha suci Engkau ya Allah dan dengan mamujiMu aku bersaksi tidak ada Tuhan selain Engkau, aku memohon ampunanMu dan bertaubat kepadaMu. H.RAd Darini, II:367, dari Abu Bardah al Aslami; An Nasai, As Sunanul Kubra, VI:113, dari Rafi bin khudaij, dari Abu Al “aliyah Ar Rayaahi; An Nasai, Amalul Yaumi wal Lailah, I:320, dari Rafi bin Khudaij;Al Bazar, Musnad, IX:307, Ahmad, IV:425, Musnad Ar Rauyani, II:335, An Nasai, Amalul Yaumi wal Lailah, I:320, dari Abu Burdah

 

Hadis-hadis tentang kafarut majlis cukup banyak. Namun jumlah inilah yang menyebabkan masalah itu menjadi tidak jelas sunahnya. Hal itu dapat kita lihat aspek matan sebagai berikut :

 

Secara redaksional, hadis tentang kafaratul majlis ini mengandung 4 hal yang tidak dapat dipastikan.

 

Pertama, tidak ada kepastian bagaimana sebenarnya redaksi bacaan yang di ajarkan Jibril kepada Nabi Versi Abu Barzah, Abul Aliyyah, Abdullah bin Amr, Abu Hurairah, dan Abdullah bin Mas’ud :

 

Subhaanaka Alloohumma wabihamdika Asyhadu alla ilaha illa anta astagfiruka wa atubu ilaik.

Versi Abu Hurairah yang lainnya dan Az-Zubair bin Awam :

 

Subhaanaka allohumma wabihamdika laa ilaha illa anta astgfiruka wa atubu ilaik

Versi Jubair bin Muth’im :

 

Subhaanallooh wabihamdihi subhaanaka alloohumma wabihamdika asyhadu alla ilaha illa anta astagfiruka wa atubu ilaik, Subhaanaka allohuma wabihamdika laa ilaha illa anta tub ‘alayya wagfirlii.

Versi Aisyah, Rafi bin Khadij, dan Anas bin Malik :

 

Subhaanaka allohumma wabihamdika astagfiruka wa atubu ilaik,

Versi Aisyah lainnya :

 

Subhaanaka Alloohumma robbi wabihamdika laa ilaha illaa anta astagfiruka wa atubu ilaik.

Kedua, tidak ada kepastian tentang berapa kali bacaan-bacaan tersebut diucapkan. Pada riwayat Abu Daud sebanyak 3 kali dengan redaksi

 

Subhaanaka alloonumma wabihamdika laa ilaha illa anta astagfiruka wa atubu ilaik.

Pada riwayat At-Thabrani sebanyak 3 kali dengan redaksi

 

Subhaanaka alloohumma wabihamdika laa ilaha illaa anta tub ‘alayya wagfirlii.

Sedangkan pada riwayat Ibnu Suni sebanyak 10 sampai 15 kali tanpa disebutkan lafalnya, namun hanya disebut istaghfara

 

Ketiga, tidak ada kepastian tentang waktu pengucapannya. Menurut versi Abu Hurairah, diucapkan apabila pada majlis tersebut banyak ucapan bathil/sia-sia. Menurut Veri Abu Hurairah lainnya pada majlis kebaikan dan zikir. Menurut versi Az-Zubair bin Awam, diucapkan apabila dikhawatirkan  pada majlis itu terdapat ucapan-ucapan jahiliyah. Menurut versi Aisyah dan Jubair bin Muth’im, diucapkan pada majlis apa saja, baik zikir maupun yang banyak ucapan bathil/sia-sia. Yang perlu diperhatikan, apabila diucapkan pada majlis zikir/kebaikan, maka pengertian “kafaratul majlis” menjadi tidak jelas.

 

Keempat, tidak ada kepastian tentang pengucapannya, Menurut versi umumnya, tidak disebutkan tempatnya, hanya disebut kafaratul majlis. Menurut versi Aisyah, diucapkan pada suatu majlis ketika salat. Menurut versi Aisyah lainnya, ketika berdiri hendak meninggalkan majlis, membaca quran dan selsai salat. Menurut versi Abdullah bin Mas’ud, diucapkan setelah berdiri. Menurut versi rafi bin khadij dan Abu Umamah, diucapkan ketika hendak berdiri. Menurut versi Az-Zubair bin Awam. Ketika berdiri.

 

Kenyataan ini menunjukan ada sesuatu yang patut dicurigai dengan pemberitaanya. Hal itu terbukti dengan ditemukannya beberapa rawi yang tidak dapat dipercayai periwayatannya, yaitu :

 

A.  Pada hadis Abu Hurairah riwayat Al-Haitsami A-Thahawi, dan At-Tarmidzi terdapat rawi bernama Suhail bin Abu Salih. Kata Ibnu Hajar, “Shaduq (jujur), hapalannya berubah di akhir hayatnya”. Taqribut Tahdzib, I:234. Ad-Dzahabi berkata, “Dia termasuk hafizh terkemuka, namun dia menderita sakit yang mempengaruhi hapalannya”. Siyaru A’lamin Nubala, V:459. Ali al-Madini berkata, “Saudara Suhail wafat, lalu hal ini mempengaruhinya sehingga ia lupa terhadap banyak hadis” An-Nubala, V:460. Yahya bin Ma’in berkata “Dia tidak kuat dalam Hadis” Mizanul I’tidal, III:339.

 

B.   Sedangkan pada riwayat Abu Daud terdapat rawi Sa’id bin Abu Sa’id al-Maqbury.Syu’bah berkata “Buruk hapalannya setelah ia tua. Ibnu sa’ad berkata “Dia tsiqat tetapi4 tahun sebelum wafat hapalannya berubah (pikun)” Kitabul Mukhtalitin I:39. Al-Waqidi berkata “keadaanya sudah tua hingga pikun pada 4 tahun sebelum wafatnya” Tahqiq Tahdzibul Kamal”. Ya’qub bin syaibah berkata”dia sudah tua japalannya berubah dan sebelum wafatnya ia pikun”Tahqiq Tqhdzibul Kamal, X:470.

 

C.  Pada hadis Anas riwayat At-Thahawi terdapat rawi bernama Usman bin Mathar. Ibnu hajar berkata”dia lemah” Taqribut Tahdzib, I:396. yahya bin Ma’in berkata “dia lemah benar-benar lemah” Abu Zur’ah berkata “hadisnya lemah”, hadisnya munkar, hadisnya serupa dengan hsdis Yusuf bin Athiyah,,Shalih bin Muhammad Albagdadi berkata “hadisnya tidak kan dicatat” Abu Daud dan An Nasai berkata “dia lemah” tahdzibul Kamal, XIX:496-497. Bukhari berkata “hadisnya munkar” Tahqiq Tahdzibul kamal, XIX:497

 

Ini salah satu contoh pada kitab al’ma’tsurat terdapat doa dan zikir yang bersumber dari hadis daif. Karena itu diperlukan kehati-hatian dalam mengamalkan kitab tersebut, dengan cara memilah dan memilih keterangan yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmu. Bagi ikhwan yang tidak dapat melekukan hal itu maka sebaiknya bertanya kepada orang yang ahli.

 

About rendyadamf
assalamu'alaikum wrwb..salam kenal buat teman - teman semuanya..gw rendy TTL : Bandung, 30-06-84. gw kuliah di UNISBA. gw nulis blog ini hanya untuk curahkan semua pemikiran gw..dan gw udah ubah haluan jalan hidup gw..menjadikan jihad sebagai satu-satunya jalan hidup gw!!

4 Responses to Kedudukan Surat Al-Ma’tsurat

  1. kalau ragu, lebih baik ditinggalkan saja kah kang??

  2. rendyadamf says:

    badroe: menurut kaidah ushul : apabila kita ragukan akan suatu kesunnahannya, maka lebih baik ditinggalkan. ^^

  3. rendyadamf says:

    badroe: iya..karena menurut kaidah ushul fiqih “apabila kita ragu akan kesunnahan suatu hal..maka lebih baik kita tinggalkan” (Qawaidul ushlufiqh:al utsaimin)

  4. badroe says:

    betulll…syukron kang…
    keep on Writing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: