Kedudukan al-Barjanzi

Al-Barjanzi adalah sebuah karya tulis (kitab) seni sastra yang mamuat kehidupan Nabi Muammad. Judul kitab itu sendiri sebenarnya “Iqdul Jawahir (kalung permata), ditulis oleh syekhja’far al-barjanzi bin husin bun Abdul Karim yang lahir di Madinah tahin 1690 dan wafat disana tahun 1766. Nama albarjazi dinisbahkan(dihubungkan) kepada bangsa/turunan penulisnya, yang sebenarnya juga diambil dari tempat asal keturunannya, yakni daerah Barzinj(Kurdistan)

 

Pada asalnya kitab ini ditulis dengan tujuan untuk meningkatkan kecintaan Nabi Muhammad saw. Dan agar umat Islam meneladani kepribadiannya. Namun dalam perkembangan selanjtnya menjadi “buku wajib” yang dibaca dalam berbagai upacara keagamaan, antara lain peringatan hari lahir, upacara cukuran rambut bayi, khitanan, pernikahan, dan lainnya sebagainya yang dianggap dapat meningkatkan keimanan dan membawa banyak manfaat. Dalam acara-acara tersebut al-Barjanzi dalam bahasa aslinya (arab) dilagukan dengan berbagai macam lagu.

Kebanyakan anggota masyarakat melakukan hal itu sebagai suatu yang mereka warisi dari orang- orang tua mereka tanpa pernah tahu mengapa mereka melakukan itu. Bahkan tidak mustahil mereka pun kurang memahami lafaz-lafaz yang dibacanya karena lafaznya itu berbahasa Arab.

 

Dengan demikian  kegiatan seperti ini tidak ada perintahnya dari Rasulullah saw, bahkan juga tidak dari para sahabat dan generasi sesudahnya. Karena ketika beliau nasih hidup, proses dan puisi ini belum lagi disusun oleh al-Barjanzi.

 

Kemusyrikan dalam syair-syair Barjanzi

Berikut adalah beberapa kalimat kufur dan syirik yang terdapat dalam kitab Barjanzi sekaligus  komentar dari sebagian para ulama

 

Hambamu yang miskin mengharapkan # “karuniamu (wahai rasul) yang sangat banyak” Padamu aku telah berbaik sangka# “wahai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan” maka tolonglah Aku, Selamatkan Aku# Wahai penyelamat dari sa’iir (neraka)” Wahai penolongku dan tempat berlindungku # Dalam perkara-perkara besar dan berat yang menimpaku”

Penjelasan :

Misi dan tujuan kedatangan Rasulullah yang utama adalah untuk membebaskan manusia dari penghambaan diri kepada selain Allah. Aementara penyair dalam petikan syair Barjanzi di atas menyatakan penghambaan dirinya kepada Rasulullah (bukan kepada Allah) dan mengharapkan pemberian yang banyak dari beliau. Pada bait yang ke-2 dia telah berbaik sangka kepada Rasulullah (untuk menyelamatkan dirinya). Padahal Nabi sendiri menyuruh untuk berbaik sangka hanya kepada Allah bilaman akan menghadap Allah (akan mati). Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Jabir bin Abdullah bahwasanya ia pernah mendengar Rasulullah bersabda (3 hari sebelum wafat) ;

 

“janganlah mati salah seorang dari kamu melainkan ia berbaik sangka kepada Allah ‘azza wa Jalla”

 

Berbaik sengka dalam hadis tersebut maksudnya adalah mengharap rahmat dan ampunan

 

Pada bait yang ke-3 penyair meminta pertolongan kepada Rasulullah dan minta p[erlundungan dari beliau supaya diselamatkan dari api neraka, padahal Nabi sendiri melarang umatnya memohon untuk menghikangkan kesusahan dan kesulitan yang menimpa (beristigatsah) kecuali hanya kepada Allah. Bahkan beliau sendiri meminta perlindungan hanya kepada Allah dan memerintahkan ummatnya untuk berlindung serta memohon perlindungan kepada Allah semata. Rasulullah bersabda :

 

“tidaklah boleh memohon untuk menghilangkan kesusahan dan kesulitan yang menimpa (beristigitsah) kepadaku (karena Nabi tidak mampu melakukanny), beristigitsah itu hanya boleh kepada Allah semata” H.R Thabrani

 

Pada bait yang ke-4 penyair menjadi Nabi sebagai penolong dan tempat berlindung dalam perkara-perkara besar dan berat yangmenimpanya dengan melupakan Allah ‘Azza wa Jalla sebagai penolong dan tempat berlindung  yang Nabi sendiri meminta pertolongan dan perlindungan kepada-Nya.

 

Keempat bait syair ini didalamnya terdapat kalimat-kalimat yang mengandung kesesatan dan kesyirikan yang sangat berat. Hal ini tidak diketahui oleh orang-orang yang berdiri mendendangkan syair-syair barjanzi tersebut. Berdirinya mereka (pembaca Barjanzi) pada acara Maulid dab “cukuran” (potong rambut bayi) dan acara ziarahan di rumah calon jamaah haji. Dikatakan oleh Ulama bahwa hal itu didasarkan kepada I’tiqad (keyakinan) sesat bahwasanya Nabi menghadiri ajelis yang didalamnya di baca kisah mauled tersebut. Setelah mendapat kritikan ulama mereka pindah kepada I’tokad (keyakinan) lain yang sama uga sesatnya yaitu anggapan bahwa Ruh nabi hadir menyertai mereka. Sehingga terdengar dari mereka ungkapan “jasadnya tidak menyertai kita akan tetapi rohaniahnya selalu bersama kita”.

 

 

About rendyadamf
assalamu'alaikum wrwb..salam kenal buat teman - teman semuanya..gw rendy TTL : Bandung, 30-06-84. gw kuliah di UNISBA. gw nulis blog ini hanya untuk curahkan semua pemikiran gw..dan gw udah ubah haluan jalan hidup gw..menjadikan jihad sebagai satu-satunya jalan hidup gw!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: