Amal Itu ada Niatnya

Seperti yang telah kita ketahui bahwa masalah Niat dalam beramal itu sangatlah penting, tapi ada sebagian orang yang mengartikan bahwa niat disini yaitu dengan cara dilafazkan, contohnya melafazkan niat ketika shalat, puasa atau shaum dan lain-lain. Masalah klasik ini bagi mereka yang beralasan bahwa pelafazan niat itu dengan hujjah hadits “Innamal a’maalu binniyyaat” artinya, sesungguhnya amal-amal itu ada niatnya (HR. Bukhari). Apabila kita perhatikan hadits tersebut sangat singkat, tetapi sebenarnya baru sebagian. Mari kita kaji apakah hadits tersebut adalah benar sebagai dalil hujjah mereka? Berikut pembahasannya.

“Sesungguhnya amal-amal itu ada niatnya. Dan sesungguhnya bagi setiap orang itu apa yang ia niatkan. Maka siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang ia cari atau perempuan yang hendak ia nikahi, maka hijrahnya pada apa yang ia hijrahkan”

Takhrij hadits

  1. Shahih al-Bukhariy kitab Bad’il wahyi bab Kaifa kana Bad-ul-wahyi ila Rasulullah SAW, No:1
  2. Shahih Muslim Kitab al-imarah bab qaulihi saw innamal-a’mal bin-niyyah no.5036
  3. Sunan at-Tirmidzi kitab fadla ‘ilil-jihad bab ma ja’a fiman yaqutilu riya’an wa lid-dunya no.1748
  4. Sunan an-Nasaiy kitb at-thaharah bab an-niyyah fil-wudu’ no.75
  5. Sunan Ibnu Majah kitab az-zuhd bab an-niyyah no.4376.
  6. 7. Musnad Ahmad bab Musnad ‘Umar ibn al-khattab no. 170, 307.

 

Asbabul-wurud

 

Menurut Ibn Hajar, Hadits ini tidak ada kaitannya dengan ‘Muhajir Ummi Qais’. Yakni seorang lelaki yang hijraj karena tunangannya; Ummu Qais, hijrah bersama Nabi SAW. Walaupun hal tersebut benar terjadi. Tetapi tidak ada tashrih (penjelas) yang menyatakan bahwa Nabi SAW mengatakan hadits diatas karena adanya ‘Muhajir Ummi Qais’. Singkatnya hadits ini disabdakan SAW secara spontan tanpa ada kaitannya denganMuhajir Ummi Qais. Hanya ketika ada seorang lelaki yang hijrah seperti yang disebutkan diatas, maka disebutlah laki-laki itu oleh para sahabat sebagai ‘Muhajir Ummi Qais’. (Fathul-Bari 1:2)

Syarah Mufradah

 

  1. Niat

Imam Nawawi menjelaskan “Niat adalah tujuan, yaitu ketetapan hati. )Fathul-Bari 1:2)

 

Syaikh al-Utsaimin mempertegas:

“Niat itu tempatnya hati. Dan tidak ada tempatnya dalam lisan. Oleh karena itu siapa yang mengucapkan niat ketika hendak shalat, shaum, haji, wudlu, atau amal lainnya maka ia berbuat bid’ah. Karena ia mengatakan dalam hal agama Allah sesuatu yang tidak ada padanya (Syarah Riyadush-shalihin, 1:1)

 

  1. Hijrah

Ibn Hajar al-asqalany menjelaskan pengertiannya secara bahasa:

“Hijrah: meninggalkan. Hijrah kepada sesuatu: berpindah kepadanya dari yang lainnya.” (Fathul-Bari, 1:2)

 

Sementara dalam tataran istilah, sebagaimana dikemukakan Syaikh al-‘Utsaimin, hijrah adalah:

 

“Seseorang berpindah dari daerah kafir menuju daerah Islam” (Syarah Riyadus-shalihin, 1:5)

 

Tapi itu hanya berlaku jika kita menjadi mustadlafin, kaum tertindas. Jika masih bisa melawan atau jihad, maka jihad yang harus ditempuh. Sebagaimana diisyaratkan dua dalil berikut ini:

 

¨bÎ) tûïÏ%©!$# ãNßg9©ùuqs? èps3Í´¯»n=yJø9$# þ‘ÏJÏ9$sß öNÍkŦàÿRr& (#qä9$s% zNŠÏù ÷LäêZä. ( (#qä9$s% $¨Zä. tûüÏÿyèôÒtGó¡ãB ’Îû ÇÚö‘F{$# 4 (#þqä9$s% öNs9r& ô`ä3s? ÞÚö‘r& «!$# Zpyèřºur (#rãÅ_$pkçJsù $pkŽÏù 4 y7Í´¯»s9’ré’sù öNßg1urù’tB æL©èygy_ ( ôNuä!$y™ur #·ŽÅÁtB ÇÒÐÈ

 

 

Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?”. Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?”. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS. An-Nisa: 97)

 

Yang dimaksud dengan orang yang menganiaya diri sendiri dalam ayat diatas adalah orang muslimin Makkah yag tidak mau hijrah bersama Nabi SAW sedangkan mereka sanggup. Mereka ditindas dan dipaksa oleh orang-orang kafir ikut bersama mereka pergi keperang Badar, akhirnya diantara mereka ada yang terbunuh dalam peperangan itu

 

Tidak ada hijrah sesudah Fathu Makkah (penaklukan Makkah). Akan tetapi yangada jihad dan niat (hijrah). Dan jika kalian diperintah pergi perang, maka pergilah. (Shahih al0Bukhari kitab al-jihad was a-ir no.2783;Shahih Muslim kitab al-imarah bab mubaya’ah ba’da fathi Makkah ‘alal Islam wal-Jihad no, 4938)

 

Dalam khazanah hadits sendiri, setidaknya ada tiga makna hijrah, yaitu:

 

  1. Hijrah makan (tempat); berpindah tempat. Sebagaimana yang dijelaskan diatas
  2. Hirah amal; menjahui sebuah amal. Tepatnya amal-amal yang dilarang Allah SWT, sebagaimana disabdakan oleh Nabi SAW

 

“Orang muslim itu adalah orang yang muslim-muslim lainnya selamat dari lisan dan tangannya. Sedangkan muhajir itu adalah orang yag menjahui apa yag dilarang Allah SWT. (Shahih al-Bukhariy kitab al-iman bab al-muslim man salimal-muslimun min lisanihi wa yadihi, no. 1)

 

  1. Hijrah ‘amil; menjahui seorang yang beramal. Ini hanya dperbolehkan jika dengan hijrah tersebut seseorang menjadi berpikir ulang tentang kebejatan dirinya. Seperti yang pernah dilakukan oleh para shahabat atas instruksi Nabi SAW kepada Ka’ab Bin Malik, Hilal Ibn Umayah dan Murarah ibn ar-Rabi’ yang tidak ikut perang tabuk (Lihat shahih al-Bukhariy kitab al-Maghazi bab Ka’ab Ibn Malik no.4418). Tujuannya agar meeka bertaubat. Akan tetapi jika ternyata dengan hijrah tersebut keadaan malah lebih gawat, karena tidak dipertimbangkan masak-masak, maka itu terlarang. Sebab ada prinsipnya menjahui orang muslim walaupun ia banyak dosa, asal tidak kafir terlarang.

 

Sabda Nabi SAW:

 

“Tidak halal bagi seorang muslim menghijrah (menjauhi) saudaranya lebih dari tiga malam, yaitu mereka berdua bertemu, lalu orang yang ini berpaling dan orang yang itu berpaling. Sementara yang paing baik dari mereka berdua adalah yang pertama kali menyampaikan salam.” (Shaih al-Bukhariy kitab al-adab no.6077)

 

Syarah Ijmali

 

Dala hadits diatas, Nabi SAW menegaskan bahwa setiap amal itu pasti ada niatnya “Innamal a’maalu binniyyati”. Artinya tidak mungkin ada amal tanpa ada niat. Jadi niat walau tidak diucapkan, secara otomatis ia ada menyertai amal. Karena hanya oang yang mengalami gangguan jiwa saja yang beramal tanpa niat (tujuan atau ketetapan hati)

 

Tapi niat itu jelas berbeda-beda. Sangat mungkin amalnya sama, tapi niatnya beda-beda, oleh karena itu diterima atau tidaknya sebuah amal tergantung pada niatnya. Walaupun yang diamalkannya sama, tapi sangat mungkin kesudahannya dihadapan Allah SWT berbeda-beda.

 

Oleh karena itu, Allah SWT mengarahka kepada hamba-Nya agar dalam setiap amal, niat diikhlaskan hanya kepada Allah SWT, jika tidak, maka amalan tersebut sudah tentu akan tertolak. Jadi, ketika shalat hati kita tidak hanya meniatkan shalat saja tapijuga meniatkan di dalam hati bahwa shalat ini betul-betul ikhlas karena Allah SWT, betul-betul sebagai bentuk pemenuhan kewajiban terhadap Allah SWT, dei mengharap ridla-Nya buka yang lain.

 

Tapi perlu diingat, bahwa persyaratan niat ini  bukan berkaitan dengan aspek baththiniyyah saja. Karena berkaitan dengan zhahiriyyah diterima tidaknya suatu amal juga tergantung pada kebenaran amal itu sendiri berasal dari Rasul-Nya. Jika tidak bersumber dari Rasul. Maka juga akan tertolak, Sabda Nabi SAW:

 

“ Barang siapa beramal suatu amal yang tidak ada padanya perintah kami, maka amal itu tertolak. (Shahih Muslim, kitab al-aqdliyah bab naqdlil-ahkam al bathilah wa raddi mubdatsat al-umur no.4950)

 

Maka dari itu kemudia Nabi SAW memberikan contoh mana yag niat yang akan menjadikan amal diterima, dan mana yang tidak. Berikut firman Allah SWT:

 

`¨B tb%x. ߉ƒÌãƒ s’s#Å_$yèø9$# $uZù=¤ftã ¼çms9 $ygŠÏù $tB âä!$t±nS `yJÏ9 ߉ƒÌœR ¢OèO $oYù=yèy_ ¼çms9 tL©èygy_ $yg8n=óÁtƒ $YBqãBõ‹tB #Y‘qãmô‰¨B ÇÊÑÈ   ô`tBur yŠ#u‘r& notÅzFy$# 4Ótëy™ur $olm; $yguŠ÷èy™ uqèdur Ö`ÏB÷sãB y7Í´¯»s9’ré’sù tb%Ÿ2 Oßgã‹÷èy™ #Y‘qä3ô±¨B ÇÊÒÈ

 

 

Barang siapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahanam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik. (QS al-Isra : 18-19)

 

Perhatikan kalimat ma nasya’u liman nuridu, apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki. Buka yasya’u;apa yang dia kehendaki. Artinya bisa saja seseorang mendapatkan dunia jika dikehendaki Allah SWT. Dan terjadi tidaknya itu juga hanya pada beberapa orang, tidak pada semua orang. Karena Allah mengatakan ‘liman nuridu’

 

About rendyadamf
assalamu'alaikum wrwb..salam kenal buat teman - teman semuanya..gw rendy TTL : Bandung, 30-06-84. gw kuliah di UNISBA. gw nulis blog ini hanya untuk curahkan semua pemikiran gw..dan gw udah ubah haluan jalan hidup gw..menjadikan jihad sebagai satu-satunya jalan hidup gw!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: