Hukum Gambar dan Patung Dalam Islam

Hukum Seni Rupa Dalam Syariat Islam

Pengertian Seni Rupa

Seni rupa adalah cabang seni yang membentuk karya seni dengan media yang bisa ditangkap mata dan dirasakan dengan rabaan. Kesan ini diciptakan dengan mengolah konsep garis, bidang, bentuk, volume, warna, tekstur, dan pencahayaan dengan acuan estetika.

Seni rupa dibedakan ke dalam tiga kategori, yaitu seni rupa murni atau seni murni, kriya, dan desain.

Seni Rupa murni adalah seni yang dikembangkan untuk dinikmati keindahannya. Seni rupa murni mengutamakan sifat estetikanya dibandingkan kegunaannya dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh adalah lukisan, kaligrafi, dan patung. Berbeda dengan seni terapan, seni murni tidak untuk dimanfaatkan sebagai alat bantu lain. Yang dimanfaatkan pada seni ini adalah nilai keindahannya. Seni rupa murni meliputi Seni lukis, Seni grafis, Seni patung, Seni instalasi, Seni pertunjukan, Seni keramik, Seni film, Seni koreografi, Seni fotografi.

Desain

Desain biasa diterjemahkan sebagai seni terapan, arsitektur, dan berbagai pencapaian kreatif lainnya. Desain meliputi Arsitektur, Desain grafis, Desain interior, Desain busana, Desain produk.

Kriya

Kriya adalah kegiatan seni yang menitik-beratkan kepada keterampilan tangan dan fungsi untuk mengolah bahan baku yang sering ditemukan di lingkungan menjadi benda-benda yang tidak hanya bernilai pakai, tetapi juga bernilai estetis. Kriya meliputi Kriya tekstil, Kriya kayu, Kriya keramik, Kriya rotan

Jadi, Seni rupa murni mengacu kepada karya-karya yang hanya untuk tujuan pemuasan ekspresi pribadi, sementara kriya dan desain lebih menitikberatkan fungsi dan kemudahan produksi.

 

Tahrir al-Mushthalahat

 

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa wilayah kajian seni rupa cukup luas. Karena fokus kajian dalam makalah ini dibatasi hanya pada seni lukis (sebagai induk seni rupa) dan seni pahat/patung. Namun sebelum kita mengkaji masalah hukum lukis & pahat, kita harus melakukan tahrir al-musthalahat (menegaskan makna istilah) yang sering digunakan dalam membahas masalah ini, yaitu shurah,tashwiermushawwirmushawwar, dan timtsal.

Secara bahasa kata shurah

الصُّورَةُ ، بالضَّمّ : الشَّكْلُ ، والهَيْئَةُ ، والحقيقةُ ، والصِّفة ، ( ج : صُوَرٌ )

As-Shurah (berbaris dhammah) artinya: as-syaklu (bentuk), al-haiah (rupa), al-haqiqah (hakikat), dan as-Shifah (sifat). Bentuk jamaknya Shuwarun. Tajul Arus min Jawahiril Qamus, XII:357

1. صُوْرَةٌ شَمْسِيَّةٌ  2. صُوْرَةٌ مُلَوَّنَةٌ 3. صُوْرَةٌ وَصْفِيَّةٌ 4. صُوْرَةٌ مُجَسِّمَةٌ : التِّمْثَالُ ج التَّمَاثِيْلُ

Artinya: 1. poto, 2. lukisan, 3. ilustrasi, 4. at-Timtsal jamaknya at-tamatsil (patung)

Secara istilah, Imam az-Zabidi menjelaskan:

الصُّورَةُ مَا يَنْتَقِشُ بِهِ الإِنْسَانُ ، وَيَتَمَيَّزُ بِهَا عَنْ غَيْرِهِ ، وَذَالِكَ ضَرْبانِ : ضَرْبٌ مَحْسُوْسٌ يُدرِكُهُ الْخَاصَّةُ وَالْعَامَّةُ ، بَلْ يُدْرِكُهَا الإِنْسَانُ وَكَثِيْرٌ مِنَ الْحَيَوَانَاتِ، كصُورَةِ الإِنْسَانِ والفَرَسِ والحِمَارِ. والثَّاني: معقُولٌ يُدرِكُهُ الخَاصَّةُ دُوْنَ العَامَّةِ ، كَالصُّورَةِ الَّتِي اخْتُصَّ الإِنْسَانُ بِهَا مِنَ الْعَقْلِ والرَّوِيَّةِ وَالْمَعَانِي التي مُيِّزَ بِهَا

As-Shurah adalah unsur pembentuk rupa manusia dan pembeda dari yang lain. Dan shurah itu ada 2 macam: pertama, mahsus, yaitu dapat diketahui oleh kalangan khusus dan umum, bahkan dapat diketahui oleh manusia dan kebanyakan binatang, seperti shurah manusia, kuda, dan keledai. Kedua, ma’qul, yaitu dapat diketahui oleh kalangan khusus, tidak oleh kalangan umum, seperti shurah yang menjadi kekhususan manusia, yaitu berupa akal, pemikiran/pertimbangan, dan makna-makna yang menjadi pembeda manusia (dari makhluk lain). Tajul Arus min Jawahiril Qamus, XII:357-358

التَّصْوِيْرُ : نَقْشُ صُوْرَةِ الأَشْيَاءِ أَوِ الأَشْخَاصِ عَلَى لَوْحٍ أَوْ حَائِطٍ أَوْ نَحْوِهِمَا بِالْقَلَمِ أَوْ بِالْفِرْجَوْنِ أَوْ بِآلَةِ التَّصْوِيْرِ

At-Tashwir adalah memberi warna serta menghias gambar sesuatu atau seseorang di atas papan atau dinding atau yang semisalnya dengan pena, sikat/koas, atau alat gambar. Al-Mu’jamul Washith, II:473

1. التَّصْوِيْرُ الشَّمْسِيُّ 2. التَّصْوِيْرَةُ 3. فَنُّ التَّصْوِيْرِ

Artinya: 1. photography/kamera, 2. as-shurah (Gambar) atau at-timtsal (arca), 3. seni lukis

1. الْمُصَوِّرُ 2. الْمُصَوَّرُ

Artinya: 1. al-mushawwir (pelukis), 2. al-mushawwar/al-marsum (objek lukisan/gambar)

 

Kata timtsal jamaknya tamatsil, artinya:

مَا يُنْحَتُ عَلَى مِثَالِ إِنْسَانٍ أَوْ حَيَوَانٍ أَوْ شَيْئٍ

“Sesuatu yang dipahat menyerupai manusia, hewan atau sesuatu”. Al-Munjid fil Lughah, hal.1319. Istilah lainnya “shurah mujassimah (patung)” Kamus al-Munawwir, hal. 1310

Shurah dan Timtsal dalam Alquran

Dalam Alquran, kata shurah dengan segala bentuk perubahannya, muncul 6 kali. 4 kali dalam bentuk fi’il (kata kerja: shawwarayushawwiru) dan 2 kali dalam bentuk isim (shurahal-mushwwir). Kata itu terdapat pada 6 surat sebagai berikut:

هُوَ الَّذِي يُصَوِّرُكُمْ فِي الأَرْحَامِ كَيْفَ يَشَاءُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ.

Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Q.s. Ali Imran:6

وَلَقَدْ خَلَقْنَاكُمْ ثُمَّ صَوَّرْنَاكُمْ ثُمَّ قُلْنَا لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُوا ِلآدَمَ فَسَجَدُوا إِلاَّ إِبْلِيسَ لَمْ يَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ.

Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: “Bersujudlah kamu kepada Adam”, maka merekapun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud. Q.s. Al-A’raf:11

اللهُ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأَرْضَ قَرَارًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَصَوَّرَكُمْ فَأَحْسَنَ صُوَرَكُمْ وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ ذَلِكُمُ اللهُ رَبُّكُمْ فَتَبَارَكَ اللهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ.

Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kamu tempat menetap dan langit sebagai atap, dan membentuk kamu lalu membaguskan rupamu serta memberi kamu rezki dengan sebahagian yang baik-baik. Yang demikian itu adalah Allah Tuhanmu, Maha Agung Allah, Tuhan semesta alam. Q.s. Ghafir:64

خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ بِالْحَقِّ وَصَوَّرَكُمْ فَأَحْسَنَ صُوَرَكُمْ وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ.

Dia menciptakan langit dan bumi dengan haq. Dia membentuk rupamu dan dibaguskanNya rupamu itu dan hanya kepada Allah-lah kembali(mu). Q.s. At-Thaghabun:3

 

Ibrahim Mushthafa dan kawan-kawan menjelaskan bahwa kata shawwara atau yushawwiru pada ayat-ayat itu bermakna “menjadikan baginya bentuk berjisim (jasad)” Lihat, al-Mu’jamul Washith, II:473

فِي أَيِّ صُورَةٍ مَا شَاءَ رَكَّبَكَ

dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu. Q.s. Al-Infithar:8

هُوَ اللهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الأَسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ.

Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Asmaaul Husna. Bertasbih kepadaNya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Q.s. Al-Hasyr:24

Kata shurah dengan segala bentuk perubahannya yang tercantum pada ayat-ayat itu semuanya dinisbahkan kepada Allah sebagai mushawwir, dan semuanya menunjukkan shurah manusia. Sehubungan dengan shurah manusia, Nabi saw. bersabda sebagaimana diterangkan Abu Hurairah

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: (خَلَقَ اللهُ تَعَالَى آدَمَ عَلَى صُوْرَتِهِ، طُوْلُهُ سِتُّوْنَ ذِرَاعًا… )

Dari Abu Huraerah, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Allah telah menciptakan Adam atas shurah-Nya. Tingginya 60 hasta…” H.r. al-Bukhari,Shahih al-Bukhari, VI:362, Kitabul Anbiya, bab Khalq Adam

فَالصُّوْرَةُ أَرَادَ بِهَا مَا خَصَّ الإِنْسَانَ بِهَا مِنَ الْهَيْئَةِ الْمُدْرَكَةِ بِالْبَصَرِ وَالْبَصِيْرَةِ، وَبِهَا فَضَّلَهُ عَلَى كَثِيْرٍ مِنْ خَلْقِهِ، وَإِضَافَتُهُ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ عَلَى سَبِيْلِ الْمِلْكِ، لاَ عَلَى سَبِيْلِ الْبَعْضِيَّةِ وَالتَّشْبِيْهِ تَعَالَى عَنْ ذالِكَ وَذلِكَ عَلَى سَبِيْلِ التَّشْرِيْفِ لَهُ كَقَوْلِهِ: بَيْتُ اللهِ،

“Maka shurah yang dimaksud adalah sesuatu yang mengkhususkan manusia, yaitu rupa yang diketahui dengan mata dan akal. Dengannya Allah mengutamakan manusia atas kebanyakan makhluk-Nya. Disandarkan kata shurah kepada Allah secara milk  (menunjukkan kepemilikan), bukan secara ba’dhi dan tasybih (bukan menunjukkan bagian Allah dan serupa dengan Allah), Dia Maha Tinggi dari hal itu. Dan itu secara tasyrif lahu (menunjukkan pemuliaan), seperti ucapan rumah Allah”Mufradat fi Gharibil Quran, II:47

Adapun kata timtsal (patung) hanya muncul 2 kali, dalam bentuk jamak (tamatsil), sebagai berikut:

إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ مَا هَذِهِ التَّمَاثِيلُ الَّتِي أَنْتُمْ لَهَا عَاكِفُونَ

(Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?” Q.s. Al-Anbiya:52

يَعْمَلُونَ لَهُ مَا يَشَاءُ مِنْ مَحَارِيبَ وَتَمَاثِيلَ وَجِفَانٍ كَالْجَوَابِ وَقُدُورٍ رَاسِيَاتٍ اعْمَلُوا آَلَ دَاوُودَ شُكْرًا وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih. Q.s. Saba:13

 

Dari berbagai keterangan bahasa dan istilah di atas dapat diambil kesimpulan

1.         Shurah berdasarkan objeknya terbagi menjadi dua bagian:

  • Shurah sesuatu yang tidak bernyawa, seperti gunung, sungai, matahari, bulan dan pepohonan atau benda mati yang lain.
  • Shurah sesuatu yang bernyawa, yaitu manusia & binatang

2.        Kata shurah ketika disebut secara mutlaq mencakup timtsal (patung), tapi ketika disebut kata timtsal bermakna shurah khas (patung)

3.        Tashwir berdasarkan cara kerjanya terbagi menjadi dua bentuk:

  • Tashwir dengan tangan (melukis), yaitu seseorang dengan keahlian tangan dan inspirasinya menggambar atau melukis dengan memakai alat-alat lukis, baik yang dilukisnya itu dalam bentuk makhluk hidup yang bernyawa ataupun selainnya.
  • Tashwir dengan alat (fotografi/kamera), yaitu seseorang dengan memakai kecanggihan teknologi (kamera) memindahkan media yang dinginkan menjadi sebuah gambar, baik media tersebut dalam bentuk makhluk hidup bernyawa atau selainnya.
    • Pendapat Para Ulama
    • Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum melukis dan membuat patung menurut Islam. Dalam hal ini terbagi menjadi lima kelompok. Tulisan ini akan menyajikan dalil-dalil & argumentasi dari berbagai kelompok itu, untuk selanjutnya dianalisa dan dipilih yang arjah (lebih kuat).
    • Kelompok Pertama: berpendapat bahwa segala macam shurah hukumnya haram, baik dalam bentuk arca, patung maupun gambar, meskipun sudah dipotong badan atau kepalanya. Kelompok ini berhujjah dengan hadis-hadis sebagai berikut:
    • لَا تَدْخُلُ الْمَلَائِكَةُ بَيْتًا فِيهِ كَلْبٌ وَلَا تَصَاوِيرُ.
    • 1.1. Artinya: Malaikat tidak akan masuk pada satu rumah yang terdapat anjing atau shurah-shurah. H.r. al-Bukhari.
    • إِنَّ الْبَيْتَ الَّذِي فِيهِ الصُّوَرُ لَا تَدْخُلُهُ الْمَلَائِكَةُ.
    • 1.2. Artinya: Sesungguhnya rumah yang ada padanya shurah, tidak dimasuki oleh malaikat. H.r. al-Bukhari
    • قَالَتْ عَائِشَةُ‏:‏ “‏أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم لَمْ يَكُنْ يَتْرُكُ فِي بَيْتِهِ شَيْئًا فِيْهِ تَصَالِيْبُ إِلاَّ نَقَضَهُ‏” ‏‏. رواه البخاري.
    • 1.3. Artinya: Aisyah berkata, “Sesungguhnya Nabi saw. tidak pernah rnembiarkan di rumahnya ada suatu barang yang ada padanya palang-palang salib, melainkan ia hapuskan dia. H.r. al-Bukhari
    • أَيُّكُمْ يَنْطَلِقُ إِلَى المَدِيْنَةِ فَلاَ يَدَعُ بِهَا وَثَنًا إِلاَّ كَسَرَهُ وَلاَ صُوْرَةً إِلاَّ لَطَخَهَا… مَنْ عَادَ اِلَى صَنْعَةِ شَيْئٍ مِنْ هَذَا فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ. رواه أحمد.
    • 1.4. Artinya: Siapakah di antara kamu yang mau pergi ke Madinah, dan hancurkan setiap berhala dan hapuskan setiap shurah? Barangsiapa kembali membuat sesuatu dari itu, se sungguhnya kufurlah ia kepada (perintah) yang diturunkan atas Muhammad. H.r. Ahmad
    • ‏قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ‏: قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذَهَبَ يَخْلُقُ كَخَلْقِي فَلْيَخْلُقُوا حَبَّةً وَلْيَخْلُقُوا ذَرَّةً. رواه البخاري.
    • 1.5. Artinya: Rasulullah saw. Bersabda, “Allah ta’ala berfirman: Bukankah tidak ada orang yang lebih zhalim daripada orang yang hendak membuat (sesuatu) seperti ciptaanKu ! Cobalah mereka buat sebiji (gandum) ! Cobalah mereka buat seekor semut ! H.r. al-Bukhari
    • اَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا عِنْدَ اللهِ المُصَوِّرُونَ . رواه البخاري.
    • 1.6. Artinya : Orang yang paling berat siksanya di sisi Allah ialah para pembuat shurah. H.r. al-Bukhari
    • إِنَّ الَّذِينَ يَصْنَعُونَ هَذِهِ الصُّوَرَ يُعَذَّبُوْنَ يَوْمَ القِيَامَةِ يُقَالُ لَهُمْ أَحْيُوا مَا خَلَقْتُمْ‏” ‏‏. رواه البخاري.
    • 1.7. Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang membuat shurah ini akan diadzab pada hari Qiamat. Dikatakan kepada mereka: ‘Hidupkanlah apa yang kamu buat’.H.r. al-Bukhari
    • قَالَ أَنَسٌ ‏:‏ “‏كَانَ قِرَامٌ لِعَائِشَةَ قَدْ سَتَرَتْ بِهِ جَانِبَ بَيْتِهَا فَقَالَ لَهَا النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ‏:‏ أَمِيْطِي عَنِّي فَإِنَّهُ لاَ تَزَالُ تَصَاوِيْرُهُ تَعْرِضُ لِي فِي صَلاَتِي. رواه البخاري.
    • 1.8. Artinya: Anas berkata, “Aisyah mempunyai tabir yang digunakan sebagai penutup sebagian rumahnya, maka Rasul bersabda, ‘Singkirkanlah ia dariku, karena gambar-gambarnya itu terus mengganggu aku dalam salatku’.” H.r. al-Bukhari
    • Kelompok kedua berpendapat bahwa semua jenis shurah itu haram kecuali gambar di atas kain dan sejenisnya. Kelompok ini berhujjah dengan hadis sebagai berikut:
    • رَوَى بُسْرُ بْنُ سَعِيْدٍ عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ عَنْ أَبِي طَلْحَةَ صَاحِبِ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: إِنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : إِنَّ المَلاَئِكَةَ لاَ تَدْخُلُ بَيْتًا فِيْهِ صُوْرَةٌ. قَالَ بُسْرٌ: ثُمَّ اشْتَكَى زَيْدٌ فَعُدْنَاهُ فَإِذَا عَلَى بَابِهِ سِتْرٌ فِيْهِ صُوْرَةٌ فَقُلْتُ لِعُبَيْدِ اللهِ الخَوْلاَنِي رَبِيْبِ مَيْمُونَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم: أَلَمْ يُخْبِرْنَا زَيْدٌ عَنِ الصُّوَرِ يَوْمَ الأَوَّلِ؟ فَقَالَ عُبَيْدُ اللهِ اَلَمْ تَسْمَعْهُ حِيْنَ قَالَ: إِلاَّ رَقْمًا فِي ثَوْبٍ. رواه البخاري.
    • Artinya: Telah diriwayatkan oleh Busr bin Sa’id dari Zaid bin Khalid, dari Abu Thalhah, seorang shahabat Rasul s.a.w. ia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah saw. Bersabda, ‘Sesungguhnya malaikat tidak akan masuk pada satu rumah yang ada padanya shurah’. Kata Busr, “Sesudah itu Zaid sakit, maka kami pergi melawatnya. Ternyata di pintu rumahnya ada satu tabir yang bergambar, maka saya berkata kepada Ubaidillah Al Khaulani, anak angkatnya Maimunah isteri Nabi saw., “Kemarin, bukankah Zaid mengaabarkan kepada kita tentang shurah?’ kata Ubaidillah, “Tidakkah anda mendengar ia berkata: “Kecuali tulisan di kain?” H.r. al-Bukhari.
    • Kelompok ketiga berpendapat bahwa gambar dan patung yang dijadikan hiasan hukumnya haram. Adapun dan yang tidak dijadikan hiasan, ya’ni yang di­injak, diduduki atau disandari hukumnya tidak haram. Kelompok ini berhujjah dengan hadis-hadis sebagai berikut:
    • قَالَتْ عَائِشَةُ‏:‏ كَانَ لِي ثَوْبٌ فِيْهِ تَصَاوِيْرُ مَمْدُودٌ اِلَى سَهْوَةٍ فَكَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّى اِلَيْهِ فَقَالَ : اَخِّرِيْهِ عَنِّي. فَأَخَّرْتُهُ فَجَعَلْتُهُ وَسَائِدَ . رواه مسلم.
    • 3.1. Artinya: Aisyah berkata, “Saya mempunyai kain bergambar yang tersangkut di satu rak, padahal Nabi saw, salat menghadapnya. Maka Nabi bersabda, ‘Jauhkanlah ia dari hadapanku’. Lalu saya menjauhkannya dan saya jadikan beberapa bantal. H.r. Muslim
    • قَالَتْ عَائِشَةُ‏:‏ دَخَلَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم عَلَيَّ وَقَدْ سَتَرْتُ نَمَطًا فِيْهِ تَصَاوِيْرُ فَنَحَّاهُ فَاتَّخَذْتُ مِنْهُ وِسَادَتَيْنِ. رواه مسلم.
    • 3.2. Artinya: Aisyah berkata, “Rasulullah saw. datang kepada saya, ketika saya memakai satu tabir yang bergambar, lalu beliau menyingkirkannya, maka saya jadikan dua bantal. H.r. Muslim
    • قَالَتْ عَائِشَةُ‏:‏  “‏إِنِّي نَصَبْتُ سِتْرًا فِيْهِ تَصَاوِيْرُ فَدَخَلَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَنَزَعَهُ فَقَطَعْتُهُ وِسَادَتَيْنِ فَكَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَرْتَفِقُ عَلَيْهِمَا‏”. رواه مسلم.
    • 3.3. Artinya: Aisyah berkata, “Sesungguhnya saya pernah menggunakan satu tabir bergambar, lalu Rasulullah saw. masuk dan menurunkannya, maka saya jadikan dua bantal, yang biasa digunakan oleh Rasulullah untuk bersandar”. H.r. Muslim
    • قَالَتْ عَائِشَةُ:‏ ‏قَدِمَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم مِنْ سَفَرٍ وَقَدْ سَتَرْتُ بِقِرَامٍ لِي عَلَى سَهْوَةٍ فِيْهَا تَمَاثِيْلُ فَلَمَّا رَآهُ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم. هَتَكَهُ وَقَالَ : أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ القِيَامَةِ اَلَّذِيْنَ يُضَاهُوْنَ بِخَلْقِ اللهِ‏. قَالَتْ عَائِشَةُ فَجَعَلْنَاهُ وِسَادَةً اَوْ وِسَادَتَيْنِ. رواه البخاري.
    • 3.4. Artinya: Aisyah berkata, “Rasulullah pernah kembali dari satu perjalanan, ketika saya menggunakan tutup rak dengan kain bergambar. Rasulullah saw. mencabutnya seraya berkata, ‘Orang yang paling pedih diadzab pada hari Qiamat itu adalah orang yang menyerupai ciptaan Allah’. Maka kata Aisyah, “Lalu kami jadikan satu bantal atau dua bantal.” H.r. al-Bukhari
    • قَالَتْ عَائِشَةُ: اِشْتَرَيْتُ نَمْرُقَةً فِيْهَا تَصَاوِيْرُ فَقَامَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بِالْبَابِ فَلَمْ يَدْخُلْ فَقُلْتُ: اَتُوبُ اِلَى اللهِ مِمَّا اَذْنَبْتُ. فَقَالَ: مَاهَذِهِ النَّمْرُقَةُ؟ لِنَجْلِسَ عَلَيْهَا وَنَتَوَسَّدَهَا. قَالَ: اِنِّ اَصْحَابَ هَذِهِ الصُّوَرِ يُعَذََّبُوْنَ يَوْمَ القِيَامَةِ يُقَالُ لَهُمْ اَحْيُوا مَاخَلَقْتُمْ. رواه البخاري.
    • 3.5. Artinya: Aisyah berkata, “Saya pernah membeli satu bantal bergambar, maka Rasulullah saw. tidak mau masuk, hanya berdiri di pintu. Maka saya berkata kepadanya, ‘Saya bertobat kepada Allah dari dosa yang telah saya kerjakan’. Sabda Rasul, ‘Buat apa bantal ini?’ Saya jawab, “Buat duduk dan bersandar Rasulullah”. Maka Rasulullah bersabda, ‘Sesungguhnya orang-orang yang membuat gambar ini akan disiksa pada hari Qiamat, dikatakan kepada mereka: Hidupkanlah apa yang kamu telah buat”. H.r. al-Bukhari
    • قَالَتْ عَائِشَةُ:‏ خَرَجَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِى غَزَاةٍ فَأَخَذْتُ نَمَطًا فَسَتَرْتُهُ عَلَى الْبَابِ فَلَمَّا قَدِمَ فَرَاَى النَّمَطَ عُرِفَتِ الكَرَاهِيَةُ فِي وَجْهِهِ فَجَذَبَهُ حَتَّى هَتَكَهُ وَقَالَ : إِنَّ اللهَ لَمْ يَأْمُرْنَا اَنْ نَكْسُوَ الحِجَارَةَ وَالطِّيْنَ. فَقَطَعْنَا مِنْهُ الوِسَادَتَيْنِ وَخَشَوْتُهُمَا لِيْفًا فَلَمْ يَعِبْ ذَلِكَ عَلَيَّ. رواه مسلم.
    • 3.6. Artinya: Aisyah berkata, “Rasulullah saw. pergi menghadapi suatu peperangan. Maka saya ambil satu hamparan (bergambar), lalu saya gantungkan pada pintu. Setelah Rasulullah kembali dan melihat hamparan itu, kelihatan di wajahnya tanda tidak suka, lalu beliau menariknya hingga lepas, lalu beliau bersabda, ‘Sesungguhnya Allah tidak memerintah kami untuk memakaikan pakaian bagi batu dan tanah’. Lalu kami jadikan dua bantal dan saya penuhi dengan sabut kurma. Rasulullah tidak mencela perbuatan saya itu. H.r. Muslim
    • Kelompok keempat berpendapat bahwa gambar dan patung yang memadai/sempurna sifatnya adalah haram, sedangkan yang tidak sempurna sifatnya tidak haram, seperti gambar sepotong dan gambar pohon, rumah, gunung dan sebagainya. Kelompok ini berhujjah dengan hadis sebagai berikut:
    • مَنْ صَوَّرَ صُوْرَةً فِى الدُّنْيَا كُلِّفَ يَوْمَ القِيَامَةِ اَنْ يَنْفُخَ فِيْهَا الرُّوْحَ وَلَيْسَ بِنَافِخٍ. رواه البخاري.
    • 4.1. Artinya: “Barangsiapa membuat satu shurah di dunia, dia akan dipaksa memberi ruh kepadanya pada hari Qiamat, padahal ia tidak dapat melakukan itu”.H.r. al-Bukhari
    • ‏قَالَ سَعِيْدُ بْنُ أَبِى الحَسَنِ :جَاءَ رَجُلٌ إِلَى ابْنِ عَبَّاسٍ فَقَالَ : إِنِّي رَجُلٌ أُصَوِّرُ هَذِهِ الصُّوَرَ فَأَفْتِنِي فِيْهَا فَقَالَ‏:‏ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ‏:‏ كُلُّ مُصَوِّرٍ فِي النَّارِ يُجْعَلُ لَهُ بِكُلِّ صُوْرَةٍ صَوَّرَهَا نَفْسًا فَتُعَذِّبُهُ فِي جَهَنَّمَ وَقَالَ: إِنْ كُنْتَ لاَ بُدَّ فَاعِلاً فَاصْنَعِ الشَّجَرَ وَمَا لاَ نَفْسَ لَهُ‏” ‏‏. رواه مسلم.
    • 4.2. Artinya: Sa’ied bin Abi Hasan berkata, “Seseorang datang kepada Ibnu Abbaslalu berkata, ‘Saya pembuat shurah. Saya berharap mendapatkan fatwa tentang itu’. Maka Ibnu Abbas berkata, ‘Saya mendengar Rasulullah bersabda, “Setiap pembuat shurah (tempatnya) di neraka. Bagi setiap shurah yang dibuatnya itu, Allah membuat satu tubuh yang menyiksanya di jahannam”. Dan kata Ibnu ‘Abbas, “Kalau engkau terpaksa melakukannya, buatlah shurah pohon dan benda-benda tidak bernyawa”. H.r. Muslim
    • Dari hadis-hadis itu mereka beristibath bahwa jika seseorang membuat satu gambar yang tidak sempurna sifatnya atau gambar benda tidak bernyawa, maka ia tidak akan dipaksa untuk memberinya ruh di hari Qiamat. Tidak akan dipaksa itu bermakna ia tidak akan disiksa.  Sedangkan orang yang tidak akan disiksa menunjukkan ia tidak berdosa.
    • Kelompok kelima berpendapat bahwa yang haram itu hanya gambar dan patung yang dikhawatirkan jadi sesembahan/pemujaan atau mendorong kepada kemaksiatan. Kelompok ini berhujjah dengan hadis sebagai berikut:
    • قَالَتْ عَائِشَةُُ: إِنَّ اُمَّ حَبِيْبَةَ وَأُمَّ سَلَمَةَ ذَكَرَتَا لِرَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم كَنِيْسَةً رَأَتَاهَا بِالحَبَشَةِ فِيْهَا تَصَاوِيْرُ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِنَّ اُولَئِيكَ إِذَا كَانَ فِيْهِمُ الرَّجُلُ الصَّالِحُ فَمَاتَ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا وَصَوَّرُوا فِيْهِ تِلْكَ الصُّوَرَ اُولئكَ شِرَارُ الخَلْقِ عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ يَوْمَ القِيَامَةِ. رواه مسلم.
    • 5.1. Artinya: Aisyah berkata, “Sesungguhnya Ummu Habiebah dan Ummu Salamah menceritakan kepada Rasulullah s.a.w. satu gereja yang mereka lihat di negeri Habasyah, di dalamnya terdapat shurah-shurah. Maka Rasulullah s.a.w. bersabda, “Sesungguhnya apabila ada orang shaleh di kalangan mereka meninggal, maka mereka membuat tempat sembahyang di atas kuburannya, dan mereka membuat shurah di atasnya. Mereka itu adalah orang-orang yang jahat dalam pandangan Allah di hari Qiamat”. H.r. Muslim
    • قَالَتْ عَائِشَةُ: كُنْتُ أَلْعَبُ بِالبَنَاتِ عِنْدَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم. رواه البخاري.
    • 5.2. Artinya: Aisyah berkata, ”Saya biasa memainkan boneka di hadapan Nabi saw. H.r. al-Bukhari
    • Analisa Tentang Seni Rupa
    • Al-Quran secara tegas dan  dengan  bahasa  yang  sangat  jelas berbicara tentang patung pada tiga surat Al-Quran.
    • 1. Dalam  surat  Al-Anbiya  (21):  51-58 diuraikan  tentang patung-patung  yang  disembah  oleh  ayah  Nabi  Ibrahim   dan kaumnya.  Sikap  Al-Quran  terhadap  patung-patung  itu, bukan sekadar menolaknya, tetapi merestui penghancurannya. Maka Ibrahim menjadikan berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain, agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya (QS Al-Anbiya [21]: 58).
    • Ada satu catatan kecil yang dapat memberikan arti  dari  sikap Nabi  Ibrahim  di atas, yaitu bahwa beliau menghancurkan semua berhala  kecuali  satu  yang  terbesar.  Membiarkan satu di antaranya  dibenarkan,  karena  ketika  itu  berhala  tersebut diharapkan dapat berperan sesuai dengan ajaran tauhid. Melalui berhala  itulah  Nabi  Ibrahim membuktikan kepada mereka bahwa berhala –betapapun besar dan  indahhya–  tidak  wajar  untuk disembah. Sebenarnya patung yang besar inilah yang melakukannya (penghancuran berhala-berhala itu). Maka tanyakanlah kepada mereka jika mereka dapat berbicara. Maka mereka kembali kepada kesadaran diri mereka, lalu mereka berkata, Sesungguhnya kami sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri) (QS Al-Anbiya [21]: 63-64)
    • Sekali lagi Nabi Ibrahim a.s. tidak menghancurkan berhala yang terbesar  pada  saat berhala itu difungsikan untuk satu tujuan yang  benar.   Jika   demikian,   yang   dipersoalkan   bukan berhalanya,  tetapi sikap terhadap berhala, serta peranan yang diharapkan darinya.
    • 2. Dalam surat Saba (34): 12-13 diuraikan tentang nikmat  yang dianugerahkan  Allah  kepada  Nabi  Sulaiman, yang antara lain adalah, (Para jin) membuat untuknya (Sulaiman) apa yang dikehendakinya seperti gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung … (QS Saba [34]: 13).
    • Dalam Tafsir Al-Qurthubi disebutkan  bahwa  patung-patung  itu terbuat  dari kaca, marmer, dan tembaga, dan konon menampilkan para ulama dan nabi-nabi terdahulu. (Baca Tafsirnya menyangkut ayat tersebut).
    • Di  sini,  patung-patung tersebut –karena tidak disembah atau diduga akan  disembah–  maka  keterampilan  membuatnya  serta pemilikannya dinilai sebagai bagian dari anugerah Ilahi.
    • 3.  Dalam  Al-Quran  surat  Ali Imran (3): 48-49 dan Al-Maidah (5): 110 diuraikan mukjizat Nabi Isa a.s. antara  lain  adalah menciptakan  patung  berbentuk  burung  dari  tanah  liat  dan setelah  ditiupnya,  kreasinya   itu   menjadi   burung   yang sebenarnya atas izin Allah. Aku membuat untuk kamu dari tanah (sesuatu) berbentuk seperti burung kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung seizin Allah (QS Ali Imran [3): 49).
    • Di sini, karena kekhawatiran kepada penyembahan  berhala  atau karena   faktor   syirik   tidak  ditemukan,  maka  Allah  swt. membenarkan pembuatan patung burung oleh Nabi Isa as. Dengan demikian, penolakan Alquran bukan disebabkan oleh patungnya, melainkan karena kemusyrikan dan penyembahannya.
    • Adapun tentang seni pahat dapat kita baca pada kisah kaum Nabi Shaleh yang terkenal  dengan  keahlian  memahat. Hal itu digambarkan oleh Allah dalam firman-Nya:
    • وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِنْ بَعْدِ عَادٍ وَبَوَّأَكُمْ فِي الأَرْضِ تَتَّخِذُونَ مِنْ سُهُولِهَا قُصُورًا وَتَنْحِتُونَ الْجِبَالَ بُيُوتًا فَاذْكُرُوا آَلاَءَ اللهِ وَلاَ تَعْثَوْا فِي الأَرْضِ مُفْسِدِينَ. الأعراف : 74.
    • Ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum Ad, dan memberikan tempat bagimu di bumi, Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanah yang datar, dan kamu pahat gunung-gunung untuk dijadikan rumah, maka ingatlah nikmat-nikmat Allah, dan janganlah kamu merajalela di bumi membuat kerusakan (QS Al-Araf [7]: 74).
    • Kaum Tsamud amat gandrung melukis dan memahat, serta amat ahli dalam  bidang ini sampai-sampai relief-relief yang mereka buat demikian  indah  bagaikan  sesuatu   yang   hidup,   menghiasi gunung-gunung  tempat tinggal mereka. Kaum ini enggan beriman, maka kepada mereka  disodorkan  mukjizat  yang  sesuai  dengan keahliannya  itu, yakni keluarnya seekor unta yang benar-benar hidup dari sebuah batu karang. Mereka melihat unta  itu  makan dan minum (QS Al-Araf [7]: 73 dan QS Al-Syuara [26]: 155-156),  bahkan mereka meminum susunya. Ketika itu  relief-relief  yang mereka  lukis  tidak berarti sama sekali dibanding dengan unta yang menjadi mukjizat itu. Sayang mereka begitu  keras  kepala dan  kesal  sampai  mereka  tidak  mendapat jalan lain kecuali menyembelih unta itu,  sehingga  Tuhan  pun  menjatuhkan  palu godam terhadap mereka (Baca QS Al-Syams [91]: 13-15) .
    • Yang digarisbawahi di sini adalah bahwa pahat-memahat yang mereka tekuni itu  merupakan nikmat Allah Swt. Yang harus disyukuri, dan harus mengantar kepada pengakuan dan kesadaran akan kebesaran dan keesaan Allah Swt.

 

  • Allah sendiri yang menantang kaum Tsamud dalam bidang keahlian mereka itu, pada  hakikatnya merupakan “Seniman Agung” kalau istilah ini dapat diterima.

 

  • Berdasarkan analisa di atas maka persoalan seni lukis, pahat  atau patung  harus  dipahami dalam kerangka spirit Alquran di atas. Dalam konteks inilah Syaikh  Muhammad  Ath-Thahir  bin Asyur ketika menafsirkan ayat-ayat yang berbicara tentang patung-patung Nabi Sulaiman menegaskan, bahwa Islam mengharamkan patung karena  agama  ini sangat  tegas dalam memberantas segala bentuk kemusyrikan yang demikian mendarah daging dalam  jiwa  orang-orang Arab serta orang-orang selain mereka ketika itu. Sebagian besar berhala adalah patung-patung, maka Islam mengharamkannya karena alasan tersebut; bukan karena dalam patung terdapat keburukan, tetapi karena patung itu dijadikan sarana bagi kemusyrikan. Pernyataan serupa disampaikan pula oleh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili (Lihat, at-Tafsirul Munir, XXII:166

 

Atas  dasar  inilah  kami  memahami   hadis-hadis   yang melarang  menggambar  atau melukis dan memahat patung makhluk hidup. Karena itu kami cenderung mengikuti kelompok kelima dengan beberapa catatan tambahan sebagai berikut:

Pengharaman Timtsal (Patung)

Islam mengharamkan ada patung dalam rumah. Sebab adanya patung dalam suatu rumah, menyebabkan Malaikat akan jauh dari rumah itu, padahal Malaikat akan membawa rahmat dan keridhaan Allah untuk isi rumah tersebut. Dalam hal ini Rasulullah s.a.w. pernah bersabda:

إِنَّ المَلاَئِكَةَ لاَتَدْخُلُ بَيْتًا فِيْهِ صُورَةٌ

“Sesungguhnya Malaikat tidak akan masuk suatu rumah yang di dalamnya ada patung.” H.r. Al-Bukhari dan Muslim

Kata shurah dalam hadis ini bukan dalam makna umum (gambar) melainkan shurah khas (timtsal/patung). Hal itu sebagaimana disebutkan dalam hadis Abu Thalhah al-Anshari riwayat al-Bukhari, Muslim, Abu Daud, at-Tirmidzi, dan an-Nasai dengan redaksi:

‏لاَ تَدْخُلُ المَلاَئِكَةُ بَيْتًا فِيْهِ كَلْبٌ وَلاَ تَمَاثِيْلُ‏

“Sesungguhnya Malaikat tidak akan masuk suatu rumah yang di dalamnya ada anjing dan patung-patung.” H.r. Al-Bukhari dan Muslim

Adapun sebabnya diterangkan oleh Imam al-Qurthubi, “Malaikat tidak mau masuk rumah yang ada patungnya, karena pemiliknya itu menyerupai orang kafir, dimana mereka biasa meletakkan patung dalam rumah-rumah mereka untuk diagungkan. Untuk itulah Malaikat tidak suka dan mereka tidak mau masuk bahkan menjauh dari rumah tersebut” Lihat, Fathul Bari, X:405-406

Sehubungan dengan itu, Islam melarang keras seorang muslim bekerja sebagai tukang pemahat patung, sekalipun dia membuat patung itu untuk orang lain. Sabda Rasulullah saw:

أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ القِيَامَةِ الَّذِيْنَ يُضَاهُوْنَ بِخَلْقِ اللهِ.‏

“Sesungguhnya orang yang paling berat siksaannya nanti di hari kiamat, yaitu orang-orang yang menandingi ciptaan Allah.” H.r.Al-Bukhari dan Muslim

Dan Rasulullah s.a.w. memberitahukan juga dengan sabdanya:

مَنْ صَوَّرَ صُوْرَةً فِى الدُّنْيَا كُلِّفَ يَوْمَ القِيَامَةِ اَنْ يَنْفُخَ فِيْهَا الرُّوْحَ وَلَيْسَ بِنَافِخٍ.

“Barangsiapa membuat gambar (patung) nanti di hari kiamat dia akan disiksa, hingga (dipaksa untuk) meniupkan roh padanya; padahal dia selamanya tidak akan bisa meniupkan roh itu.” H.r. Al-Bukhari

Maksud hadis ini bahwa dia akan dituntut untuk menghidupkan patung tersebut. Perintah ini sebenarnya hanya suatu penghinaan dan mematahkan, sebab dia tidak mungkin dapat melakukannya.

Hikmah Diharamkannya Patung

1) Di antara rahasia diharamkannya patung ini, walaupun dia itu bukan satu-satunya sebab, seperti anggapan sementara orang yaitu untuk membela kemurnian Tauhid, dan supaya jauh dari menyamai orang-orang musyrik yang menyembah berhala-berhala mereka yang dibuatnya oleh tangan-tangan mereka sendiri, kemudian dikuduskan dan mereka berdiri di hadapannya dengan penuh khusyu’.

Kesungguhan Islam untuk melindungi Tauhid dari setiap macam penyerupaan syirik telah mencapai puncaknya. Islam dalam ikhtiarnya ini dan kesungguhannya itu senantiasa berada di jalan yang benar. Sebab sudah pernah terjadi di kalangan umat-umat terdahulu, dimana mereka itu membuat patung orang-orang yang saleh mereka yang telah meninggal dunia kemudian disebut-sebutnya nama mereka itu. Lama-kelamaan dan dengan sedikit demi sedikit orang-orang saleh yang telah dilukiskan dalam bentuk patung itu dikuduskan, sehingga akhirnya dijadikan sebagai Tuhan yang disembah selain Allah; diharapkan, dan ditakuti serta diminta barakahnya. Hal ini pernah terjadi pada kaum Wud, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr.

Tidak heran kalau dalam suatu agama yang dasar-dasar syariatnya itu selalu menutup pintu kerusakan, bahwa akan ditutup seluruh lubang yang mungkin akan dimasuki oleh syirik yang sudah terang maupun yang masih samar untuk menyusup ke dalam otak dan hati, atau jalan-jalan yang akan dilalui oleh penyerupaan kaum penyembah berhala dan pengikut-pengikut agama yang suka berlebih-lebihan. Lebih-lebih Islam itu sendiri bukan undang-undang manusia yang ditujukan untuk satu generasi atau dua generasi, tetapi suatu undang-undang untuk seluruh umat manusia di seantero dunia ini sampai hari kiamat nanti. Sebab sesuatu yang kini masih belum diterima oleh suatu lingkungan, tetapi kadang-kadang dapat diterima oleh lingkungan lain; dan sesuatu yang kini dianggap ganjil dan mustahil, tetapi di satu saat akan menjadi suatu kenyataan, entah kapan waktunya, dekat atau jauh.

2) Rahasia diharamkannya patung bagi pemahatnya, sebab seorang pelukis yang sedang memahat patung itu akan diliputi perasaan sok, sehingga seolah-olah dia dapat menciptakan suatu makhluk yang tadinya belum ada atau dia dapat membuat jenis baru yang bisa hidup yang terbuat dari tanah.

Sudah sering terjadi seorang pemahat patung dalam waktu yang relatif lama, maka setelah patung itu dapat dirampungkan lantas dia berdiri di hadapan patung tersebut dengan mengaguminya, sehingga seolah-olah dia berbicara dengan patung tersebut dengan penuh kesombongan: Hai patung! Bicaralah!

Untuk itulah maka Rasulullah s.a.w. bersabda:

الَّذِينَ يَصْنَعُونَ هَذِهِ الصُّوَرَ يُعَذَّبُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُقَالُ لَهُمْ : أَحْيُوا مَا خَلَقْتُمْ

“Sesungguhnya orang-orang yang membuat patung-patung ini nanti di hari kiamat akan disiksa dan dikatakan kepada mereka: Hidupkanlah patung yang kamu buat itu.” H.r. Al-Bukhari dan Muslim

Dan dalam hadis Qudsi, Allah s.w.t. berfirman pula:

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذَهَبَ يَخْلُقُ كَخَلْقِي فَلْيَخْلُقُوا حَبَّةً وَلْيَخْلُقُوا ذَرَّةً

“Siapakah orang yang lebih menganiaya selain orang yang bekerja untuk membuat sesuatu seperti pembuatanku? Oleh karena itu cobalah mereka membuat zarrah (benda yang kecil), cobalah mereka membuat sebutir beras.” H.r. Al-Bukhari dan Muslim

3) Orang-orang yang berbicara dalam persoalan seni ini tidak berhenti dalam suatu batas tertentu saja, tetapi mereka malah melukis (memahat) wanita-wanita telanjang atau setengah telanjang. Mereka juga melukis (dan juga memahat) lambang-lambang kemusyrikandan syiar-syiar agama lainnya, seperti salib, berhala dan lain-lain yang pada prinsipnya tidak dapat diterima oleh Islam.

4) Lebih dari itu semua, bahwa patung-patung itu selalu menjadi kemegahan orang-orang yang berlebihan, mereka penuhi istana-istana mereka dengan patung-patung, kamar-kamar mereka dihias dengan patung dan, mereka buatnya seni-seni pahat (patung) dari berbagai lambang.

Kalau agama Islam dengan gigih memberantas seluruh bentuk kemewahan dengan segala kemegahan dan macamnya, yang terdiri dari emas dan perak, maka tidak terlalu jauh kalau agama ini mengharamkan patung-patung itu, sebagai lambang kemegahan, dalam rumah-rumah orang Islam.

Berbagai keterangan di atas menunjukkan bahwa pengharaman patung bukan karena dalam patung terdapat keburukan, tetapi karena patung itu dijadikan sarana bagi kemusyrikan & kemegahan/kesombongan.

Apabila pembuatan/memiliki patung itu tidak dimaksudkan untuk diagung-agungkan dan tidak berlebih-lebihan serta tidak ada suatu unsur larangan di atas, maka diperbolehkan. Misalnya permainan anak-anak berupa pengantin-pengantinan, kucing-kucingan, dan binatang-binatang lainnya. Patung-patung ini semua hanya sekedar pelukisan untuk permainan dan menghibur anak-anak.

Sehubungan dengan itu Aisyah berkata:

كُنْتُ أَلْعَبُ بِالْبَنَاتِ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ لِي صَوَاحِبُ يَلْعَبْنَ مَعِي فَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ يَتَقَمَّعْنَ مِنْهُ فَيُسَرِّبُهُنَّ إِلَيَّ فَيَلْعَبْنَ مَعِي

“Aku biasa bermain-main dengan anak-anak perempuan (boneka perempuan) di sisi Rasulullah saw. dan aku punya kawan-kawan yang sama-sama bermain denganku. Kemudian mereka menyembunyikan boneka-boneka tersebut (karena takut kepada Rasulullah saw.) bila Rasul masuk ke rumah, tetapi Rasulullah s.a.w. malah senang dengan kedatangan kawan-kawanku itu, kemudian mereka bermain-main bersama aku.” H.r. Al-Bukhari dan Muslim

Dan dalam salah satu riwayat diterangkan: “Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. pada suatu hari bertanya kepada Aisyah, ‘Apa ini? Jawab Aisyah, ‘Ini anak-anak perempuanku (boneka perempuanku); kemudian Rasulullah bertanya lagi, ‘Apa yang di tengahnya itu?’ Jawab Aisyah, ‘Kuda’. Rasulullah bertanya lagi, ‘Apa yang di atasnya itu?’ Jawab Aisyah, ‘Itu dua sayapnya’. Kata Rasulullah, ‘Apa ada kuda yang bersayap?’ Jawab Aisyah, ‘Tidakkah engkau mendengar bahwa Sulaiman bin Daud a.s. mempunyai kuda yang mempunyai beberapa sayap?’ Kemudian Rasulullah tertawa sehingga nampak gigi gerahamnya.” H.r. Abu Daud

Yang dimaksud anak-anak perempuan di sini ialah boneka pengantin yang biasa dipakai permainan oleh anak-anak kecil. Sedang Aisyah waktu itu masih sangat muda.

Imam Syaukani mengatakan: hadis ini menunjukkan, bahwa anak-anak kecil boleh bermain-main dengan boneka (patung).

Termasuk sama dengan permainan anak-anak, yaitu patung-patung yang terbuat dari kue-kue dan dijual pada hari besar (hari raya) dan sebagainya kemudian tidak lama kue-kue tersebut dimakannya.

Patung yang Tidak Sempurna dan Cacat

Di dalam hadis disebutkan, bahwa Jibril a.s. tidak mau masuk rumah Rasulullah s.a.w. karena di pintu rumahnya ada sebuah patung. Hari berikutnya pun tidak mau masuk, sehingga ia mengatakan kepada Nabi Muhammad:

فَمُرْ بِرَأْسِ التِّمْثَالِ الَّذِي فِي بَابِ الْبَيْتِ يُقْطَعْ يُصَيَّرُ كَهَيْئَةِ الشَّجَرَةِ

“Perintahkanlah supaya memotong kepala patung yang ada pada pintu rumah itu. Maka dipotonglah dia sehingga menjadi seperti keadaan pohon.” H.r. Ahmad, Abu Daud, an-Nasai, at-Tirmizi dan Ibnu Hibban

Dari hadis ini segolongan ulama ada yang berpendapat diharamkannya gambar itu apabila dalam keadaan sempurna, tetapi kalau salah satu anggotanya itu tidak ada yang kiranya tanpa anggota tersebut tidak mungkin dapat hidup, maka membuat patung seperti itu hukumnya mubah,

Tetapi menurut tinjauan yang benar berdasar permintaan Jibril untuk memotong kepala patung sehingga menjadi seperti keadaan pohon, bahwa yang mu’tabar (diakui) di sini bukan karena tidak berpengaruhnya sesuatu anggota yang kurang itu terhadap hidupnya patung tersebut, atau patung itu pasti akan mati jika tanpa anggota tersebut. Namun yang jelas, patung tersebut harus dicacat supaya tidak terjadi suatu kemungkinan untuk diagungkannya setelah anggotanya tidak ada.

Cuma suatu hal yang tidak diragukan lagi, jika direnungkan dan kita insafi, bahwa patung separuh badan yang dibangun di kota guna mengabadikan para raja dan orang-orang besar, haramnya lebih tegas daripada patung kecil satu badan penuh yang hanya sekedar untuk hiasan rumah.

Hukum Lukisan dan Ukiran

Demikianlah pendirian Islam terhadap gambar yang bertubuh, yakni yang sekarang dikenal dengan patung atau monumen. Tetapi bagaimanakah hukumnya gambar-gambar dan lukisan-lukisan seni yang dilukis di lembaran-lembaran, seperti kertas, pakaian, dinding, lantai, uang dan sebagainya itu?

Jawabnya: Bahwa hukumnya tidak jelas, kecuali kita harus melihat gambar itu sendiri untuk tujuan apa? Di mana dia itu diletakkan? Bagaimana diperbuatnya? Dan apa tujuan pelukisnya itu?

Kalau lukisan seni itu berbentuk sesuatu yang disembah selain Allah, seperti gambar al-Masih bagi orang-orang Kristen atau sapi bagi orang-orang Hindu dan sebagainya, maka bagi si pelukisnya untuk tujuan-tujuan di atas, tidak lain dia adalah menyiarkan kekufuran dan kesesatan. Dalam hal ini berlakulah baginya ancaman Nabi yang begitu keras:

إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُصَوِّرُونَ.

“Sesungguhnya orang yang paling berat siksaannya nanti di hari kiamat ialah orang-orang yang menggambar.” H.r. Muslim

Imam at-Thabari berkata: “Yang dimaksud dalam hadis ini, yaitu orang-orang yang menggambar sesuatu yang disembah selain Allah, sedangkan dia mengetahui dan sengaja. Orang yang berbuat demikian adalah kufur. Tetapi kalau tidak ada maksud seperti di atas, maka dia tergolong orang yang berdosa sebab menggambar saja.”

Yang seperti ini ialah orang yang menggantungkan gambar-gambar tersebut untuk dikuduskan. Perbuatan seperti ini tidak pantas dilakukan oleh seorang muslim.

Dan yang lebih mendekati persoalan ini ialah orang yang melukis sesuatu yang tidak biasa disembah, tetapi dengan maksud untuk menandingi ciptaan Allah. Yakni dia beranggapan, bahwa dia dapat membuat dan menciptakan jenis terbaru seperti ciptaan Allah. Orang yang melukis dengan tujuan seperti itu jelas telah keluar dari agama Tauhid. Terhadap orang ini berlakulah hadis Nabi yang mengatakan:

أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الَّذِينَ يُضَاهُونَ بِخَلْقِ اللَّهِ.

“Sesungguhnya orang yang paling berat siksaannya ialah orang-orang yang menandingi ciptaan Allah.” H.r. Muslim

Persoalan ini tergantung pada niat si pelukisnya itu sendiri. Hadis ini dapat diperkuat dengan hadis yang mengatakan:

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذَهَبَ يَخْلُقُ كَخَلْقِي فَلْيَخْلُقُوا حَبَّةً وَلْيَخْلُقُوا ذَرَّةً

“Siapakah orang yang lebih berbuat zalim selain orang yang bekerja membuat seperti pembuatanku? Oleh karena itu cobalah mereka membuat biji atau zarrah.” H.r. Al-Bukhari dan Muslim

Allah mengungkapkan firmanNya di sini dengan kata-kata “dzahaba yakhluqu kakhalqi” (dia bekerja untuk membuat seperti pembuatanku), ini menunjukkan adanya suatu kesengajaan untuk menandingi dan menentang kekhususan Allah dalam ciptaannya dan keindahannya. Oleh karena itu Allah menentang mereka supaya membuat sebutir zarrah. Ia memberikan isyarat, bahwa mereka itu benar-benar bersengaja untuk maksud tersebut. Justru itu Allah akan membalas mereka itu nanti dan mengatakan kepada mereka: “Hidupkan apa yang kamu cipta itu!” Mereka dipaksa untuk meniupkan roh ke dalam lukisannya itu, padahal dia tidak akan mampu.

Termasuk gambar/lukisan yang diharamkan, yaitu gambar/lukisan yang dikuduskan (disucikan) oleh pemiliknya secara keagamaan atau diagung-agungkan secara keduniaan.

Untuk yang pertama: Seperti gambar-gambar Malaikat dan para Nabi, misalnya Nabi Ibrahim, Ishak, Musa dan sebagainya. Gambar-gambar ini biasa dikuduskan oleh orang-orang Nasrani, dan kemudian sementara orang-orang Islam ada yang menirunya, yaitu dengan melukiskan Ali, Fatimah dan lain-lain.

Sedang untuk yang kedua: Seperti gambar raja-raja, pemimpin-pemimpin dan seniman-seniman. Ini dosanya tidak seberapa kalau dibandingkan dengan yang pertama tadi. Tetapi akan meningkat dosanya, apabila yang dilukis itu orang-orang kafir, orang-orang yang zalim atau orang-orang yang fasik. Misalnya para hakim yang menghukum dengan selain hukum Allah, para pemimpin yang mengajak umat untuk berpegang kepada selain agama Allah atau seniman-seniman yang mengagung-agungkan kebatilan dan menyiarnyiarkan kecabulan di kalangan umat.

Kebanyakan gambar-gambar/lukisan-lukisan di zaman Nabi dan sesudahnya, adalah lukisan-lukisan yang disucikan dan diagung-agungkan. Sebab pada umumnya lukisan-lukisan itu adalah buatan Rum dan Parsi (Nasrani dan Majusi). Oleh karena itu tidak dapat melepaskan pengaruhnya terhadap pengkultusan kepada pemimpin-pemimpin agama dan negara.

قَالَ كُنْتُ مَعَ مَسْرُوقٍ فِي بَيْتٍ فِيهِ تَمَاثِيلُ مَرْيَمَ فَقَالَ مَسْرُوقٌ هَذَا تَمَاثِيلُ كِسْرَى فَقُلْتُ لَا هَذَا تَمَاثِيلُ مَرْيَمَ فَقَالَ مَسْرُوقٌ أَمَا إِنِّي سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ يَقُولُا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُصَوِّرُونَ

Imam Muslim meriwayatkan, bahwa Abu Dhuha pernah berkata sebagai berikut: “Saya dan Masruq berada di sebuah rumah yang di situ ada beberapa patung. Kemudian Masruq berkata kepadaku, ‘Apakah ini patung Kaisar?’ Saya jawab, ‘Tidak! Ini adalah patung Maryam’. Masruq bertanya demikian, karena menurut anggapannya, bahwa lukisan itu buatan Majusi dimana mereka biasa melukis raja-raja mereka di bejana-bejana. Tetapi akhirnya ketahuan, bahwa patung tersebut adalah buatan orang Nasrani. Dalam kisah ini Masruq kemudian berkata, ‘Saya pernah mendengar Ibnu Mas’ud menceriterakan apa yang ia dengar dari Nabi saw., bahwa beliau bersabda, ‘Sesungguhnya orang yang paling berat siksaannya di sisi Allah, ialah para pelukis’.”

Selain gambar-gambar di atas, yaitu misalnya dia menggambar/melukis makhluk-makhluk yang tidak bernyawa seperti tumbuh-tumbuhan, pohon-pohonan, laut, gunung, matahari, bulan, bintang dan sebagainya. Maka hal ini sedikitpun tidak berdosa dan tidak ada pertentangan samasekali di kalangan para ulama.

Tetapi gambar-gambar yang bernyawa kalau tidak ada unsur-unsur larangan seperti tersebut di atas, yaitu bukan untuk disucikan dan diagung-agungkan dan bukan pula untuk maksud menyaingi ciptaan Allah, maka menurut hemat kami tidak haram. Dasar dari pendapat ini adalah hadis sahih, antara lain:

عَنْ بُسْرِ بْنِ سَعِيدٍ عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ عَنْ أَبِي طَلْحَةَ صَاحِبِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَا تَدْخُلُ بَيْتًا فِيهِ صُورَةٌ قَالَ بُسْرٌ ثُمَّ اشْتَكَى زَيْدٌ بَعْدُ فَعُدْنَاهُ فَإِذَا عَلَى بَابِهِ سِتْرٌ فِيهِ صُورَةٌ قَالَ فَقُلْتُ لِعُبَيْدِ اللَّهِ الْخَوْلَانِيِّ رَبِيبِ مَيْمُونَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَمْ يُخْبِرْنَا زَيْدٌ عَنْ الصُّوَرِ يَوْمَ الْأَوَّلِ فَقَالَ عُبَيْدُ اللَّهِ أَلَمْ تَسْمَعْهُ حِينَ قَالَ إِلَّا رَقْمًا فِي ثَوْبٍ

Dari Busr bin Said dari Zaid bin Khalid dari Abu Talhah sahabat Nabi, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Malaikat tidak akan masuk rumah yang di dalamnya ada gambar.” Bisir berkata: Sesudah itu Zaid mengadukan. Kemudian kami jenguk dia, tiba-tiba di pintu rumah Zaid ada gambarnya. Lantas aku bertanya kepada Ubaidillah al-Khaulani anak tiri Maimunah isteri Nabi: Apakah Zaid belum pernah memberitahumu tentang gambar pada hari pertama? Kemudian Ubaidillah berkata: Apakah kamu tidak pernah mendengar dia ketika ia berkata: “Kecuali gambar di pakaian.” H.r. Muslim

At-Tirmidzi meriwayatkan dengan sanadnya dari Utbah, bahwa dia pernah masuk di rumah Abu Thalhah al-Anshari untuk menjenguknya, tiba-tiba di situ ada Sahl bin Hanif. Kemudian Abu Thalhah menyuruh orang supaya mencabut seprei yang di bawahnya (karena ada gambarnya). Sahl lantas bertanya kepada Abu Thalhah: Mengapa kau cabut dia? Abu Thalhah menjawab: Karena ada gambarnya, dimana hal tersebut telah dikatakan oleh Nabi yang barangkali engkau telah mengetahuinya. Sahl kemudian bertanya lagi: Apakah beliau (Nabi) tidak pernah berkata: “Kecuali gambar yang ada di pakaian?” Abu Thalhah kemudian menjawab: Betul! Tetapi itu lebih menyenangkan hatiku.” (Kata At-Tirmidzi: hadis ini hasan sahih)

Tidakkah dua hadis di atas sudah cukup untuk menunjukkan, bahwa gambar yang dilarang itu ialah yang berjasad atau yang biasa kita istilahkan dengan patung? Adapun gambar-gambar ataupun lukisan-lukisan di papan, pakaian, lantai, tembok dan sebagainya tidak ada satupun nas sahih yang melarangnya.

Betul di situ ada beberapa hadis sahih yang menerangkan bahwa Nabi menampakkan ketidak-sukaannya, tetapi itu sekedar makruh saja. Karena di situ ada unsur-unsur menyerupai orang-orang yang bermewah-mewah dan penggemar barang-barang rendahan.

Imam Muslim meriwayatkan dari jalan Zaid bin Khalid al-Juhani dari Abu Thalhah al-Anshari, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:

لَا تَدْخُلُ الْمَلَائِكَةُ بَيْتًا فِيهِ كَلْبٌ وَلَا تَمَاثِيلُ قَالَ فَأَتَيْتُ عَائِشَةَ فَقُلْتُ إِنَّ هَذَا يُخْبِرُنِي أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَدْخُلُ الْمَلَائِكَةُ بَيْتًا فِيهِ كَلْبٌ وَلَا تَمَاثِيلُ فَهَلْ سَمِعْتِ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ ذَلِكَ فَقَالَتْ لَا وَلَكِنْ سَأُحَدِّثُكُمْ مَا رَأَيْتُهُ فَعَلَ رَأَيْتُهُ خَرَجَ فِي غَزَاتِهِ فَأَخَذْتُ نَمَطًا فَسَتَرْتُهُ عَلَى الْبَابِ فَلَمَّا قَدِمَ فَرَأَى النَّمَطَ عَرَفْتُ الْكَرَاهِيَةَ فِي وَجْهِهِ فَجَذَبَهُ حَتَّى هَتَكَهُ أَوْ قَطَعَهُ وَقَالَ إِنَّ اللَّهَ لَمْ يَأْمُرْنَا أَنْ نَكْسُوَ الْحِجَارَةَ وَالطِّينَ قَالَتْ فَقَطَعْنَا مِنْهُ وِسَادَتَيْنِ وَحَشَوْتُهُمَا لِيفًا فَلَمْ يَعِبْ ذَلِكَ عَلَيَّ

“Malaikat tidak akan masuk rumah yang di dalamnya ada anjing dan patung. Saya (Zaid) kemudian bertanya kepada Aisyah: Sesungguhnya ini (Abu Thalhah) memberitahuku, bahwa Rasulullah s.a.w. telah bersabda. Malaikat tidak akan masuk rumah yang di dalamnya ada anjing dan patung. Apakah engkau juga demikian? Maka kata Aisyah: Tidak! Tetapi saya akan menceriterakan kepadamu apa yang pernah saya lihat Nabi kerjakan, yaitu: Saya lihat Nabi keluar dalam salah satu peperangan, kemudian saya membuat seprei korden (yang ada gambarnya) untuk saya pakai menutup pintu. Setelah Nabi datang, ia melihat korden tersebut. Saya lihat tanda marah pada wajahnya, lantas dicabutnya korden tersebut sehingga disobek atau dipotong sambil ia berkata: Sesungguhnya Allah tidak menyuruh kita untuk memberi pakaian kepada batu dan tanah. Kata Aisyah selanjutnya: Kemudian kain itu saya potong daripadanya untuk dua bantal dan saya penuhi dengan kulit buah-buahan, tetapi Rasulullah sama sekali tidak mencela saya terhadap yang demikian itu.” H.r. Muslim

Hadis tersebut tidak lebih hanya menunjukkan makruh tanzih karena memberikan pakaian kepada dinding dengan korden yang bergambar.

Imam Nawawi berkata: hadis tersebut tidak menunjukkan haram, karena hakikat perkataan sesungguhnya Allah tidak menyuruh kita itu tidak dapat dipakai untuk menunjukkan wajib, sunnat atau haram.

Yang semakna dengan ini diriwayatkan juga oleh Imam Muslim dari jalan Aisyah pula, ia berkata: “Saya mempunyai tabir padanya ada gambar burung, sedang setiap orang yang masuk akan menghadapnya (akan melihatnya), kemudian Nabi berkata kepadaku: Pindahkanlah ini, karena setiap saya masuk dan melihatnya maka saya ingat dunia.” H.r. Muslim

Dalam hadis ini Rasulullah s.a.w. tidak menyuruh Aisyah supaya memotongnya, tetapi beliau hanya menyuruh memindahkan ke tempat lain. Ini menunjukkan ketidaksukaan Nabi melihat, bahwa di hadapannya ada gambar tersebut yang dapat mengingatkan kebiasaan dunia dengan seluruh aneka keindahannya itu; lebih-lebih beliau selalu sembahyang sunnat di rumah. Sebab seprai-seprai dan korden-korden yang bergambar sering memalingkan hati daripada kekhusyu’an dan pemusatan menghadap untuk bermunajat kepada Allah. Ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari jalan Anas, ia mengatakan: Bahwa korden Aisyah dipakai untuk menutupi samping rumahnya, kemudian Nabi menyuruh dia dengan sabdanya:

أَمِيطِي عَنَّا قِرَامَكِ هَذَا فَإِنَّهُ لَا تَزَالُ تَصَاوِيرُهُ تَعْرِضُ فِي صَلَاتِي

“Singkirkanlah korden itu dariku, karena gambar-gambarnya selalu tampak dalam sembahyangku.” H.r al-Bukhari

Dengan demikian jelas bahwa Nabi sendiri membenarkan di rumahnya ada tabir/korden yang bergambar burung dan sebagainya.

Dari hadis-hadis itu pula, sementara ulama salaf berpendapat: “Bahwa gambar yang dilarang itu hanyalah yang ada bayangannya, adapun yang tidak ada bayangannya tidak mengapa.”

Pendapat ini diperkuat oleh hadis Qudsi:

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذَهَبَ يَخْلُقُ كَخَلْقِي فَلْيَخْلُقُوا حَبَّةً وَلْيَخْلُقُوا ذَرَّةً

“Siapakah yang terlebih menganiaya selain orang yang bekerja untuk membuat seperti ciptaanKu? Oleh karena itu cobalah mereka membuat zarrah, cobalah mereka membuat beras!” H.r. al-Bukhari

Ciptaan Allah sebagaimana kita lihat, bukan terlukis di atas dataran tetapi berbentuk dan berjisim, sebagaimana Dia katakan:

هُوَ الَّذِي يُصَوِّرُكُمْ فِي الْأَرْحَامِ كَيْفَ يَشَاءُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ. آل عمران : 6.

“Dialah Zat yang membentuk kamu di dalam rahim bagaimanapun Ia suka.” (Q.s. Ali-Imran: 6)

Tidak ada yang menentang pendapat ini selain hadis yang diriwayatkan Aisyah, dalam salah satu riwayat al-Bukhari dan Muslim, yang berbunyi sebagai berikut:

أَنَّهَا اشْتَرَتْ نُمْرُقَةً فِيهَا تَصَاوِيرُ فَلَمَّا رَآهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ عَلَى الْبَابِ فَلَمْ يَدْخُلْ فَعَرَفْتُ أَوْ فَعُرِفَتْ فِي وَجْهِهِ الْكَرَاهِيَةُ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتُوبُ إِلَى اللَّهِ وَإِلَى رَسُولِهِ فَمَاذَا أَذْنَبْتُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا بَالُ هَذِهِ النُّمْرُقَةِ فَقَالَتْ اشْتَرَيْتُهَا لَكَ تَقْعُدُ عَلَيْهَا وَتَوَسَّدُهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَصْحَابَ هَذِهِ الصُّوَرِ يُعَذَّبُونَ وَيُقَالُ لَهُمْ أَحْيُوا مَا خَلَقْتُمْ ثُمَّ قَالَ إِنَّ الْبَيْتَ الَّذِي فِيهِ الصُّوَرُ لَا تَدْخُلُهُ الْمَلَائِكَةُ. فَأَخَذْتُهُ فَجَعَلْتُهُ مِرْفَقَتَيْنِ فَكَانَ يَرْتَفِقُ بِهِمَا فِي الْبَيْتِ.

“Sesungguhnya Aisyah membeli bantal yang ada gambar-gambarnya, maka setelah Nabi melihatnya ia berdiri di depan pintu, tidak mau masuk. Setelah Aisyah melihat ada tanda kemarahan di wajah Nabi, maka Aisyah bertanya: Apakah saya harus bertobat kepada Allah dan RasulNya, apa salah saya? Jawab Nabi: Mengapa bantal itu begitu macam? Jawab Aisyah: Saya beli bantal ini untuk engkau pakai duduk dan dipakai bantal. Maka jawab Rasulullah pula: Yang membuat gambar-gambar ini nanti akan disiksa, dan akan dikatakan kepada mereka: Hidupkanlah apa yang kamu buat itu. Lantas Nabi melanjutkan pembicaraannya: Sesungguhnya rumah yang ada gambarnya tidak akan dimasuki Malaikat. Dan Imam Muslim menambah dalam salah satu riwayat Aisyah, ia (Aisyah) mengatakan: Kemudian bantal itu saya jadikan dua buah untuk bersandar, dimana Nabi biasa bersandar dengan dua sandaran tersebut di rumah. Yakni Aisyah membelah bantal tersebut digunakan untuk dua sandaran.” H.r. Muslim

Akan tetapi hadis ini, nampaknya, bertentangan dengan sejumlah hal-hal sebagai berikut:

1) Dalam riwayat yang berbeda-beda nampak bertentangan. Sebagian menunjukkan bahwa Nabi saw. menggunakan tabir/korden yang bergambar yang kemudian dipotong-potong dan dipakai bantal. Sedang sebagian lagi menunjukkan bahwa beliau samasekali tidak menggunakannya.

2) Sebagian riwayat-riwayat itu hanya sekedar menunjukkan makruh. Sedang kemakruhannya itu karena korden tembok itu bergambar yang dapat menggambarkan semacam berlebih-lebihan yang ia (Rasulullah) tidak senang. Oleh karena itu dalam Riwayat Muslim, beliau bersabda: ”Sesungguhnya Allah tidak menyuruh kita supaya memberi pakaian pada batu dan tanah.”

3) Hadis Muslim yang diriwayatkan oleh Aisyah itu sendiri menggambarkan di rumahnya ada tabir/korden yang bergambar burung. Kemudian Nabi menyuruh dipindahkan, dengan kata-katanya: “Pindahkanlah, karena saya kalau melihatnya selalu ingat dunia!” Ini tidak menunjukkan kepada haram secara mutlak.

4) Bertentangan dengar: hadis qiram (tabir) yang ada di rumah Aisyah juga, kemudian oleh Nabi disuruhnya menyingkirkan, sebab gambar-gambarnya itu selalu tampak dalam shalat. Sehingga kata al-Hafizh Ibnu Hjara: “Hadis ini dengan hadis di atas sukar sekali dikompromikan (jama’), sebab hadis ini menunjukkan Nabi membenarkannya, dan beliau shalat sedang tabir tersebut tetap terpampang, sehingga beliau perintahkan Aisyah untuk menyingkirkannya, karena melihat gambar-gambar tersebut dalam shalat dan dapat mengingatkan yang bukan-bukan, bukan semata-mata karena gambarnya itu an sich.

Akhirnya al-Hafizh berusaha untuk menjama’ hadis-hadis tersebut sebagai berikut: hadis pertama, karena terdapat gambar binatang bernyawa sedang hadis kedua gambar selain binatang … Akan tetapi inipun bertentangan pula dengan hadis qiram yang jelas di situ bergambar burung.

5) Bertentangan dengan hadis Abu Thalhah al-Anshari yang mengecualikan gambar dalam pakaian. Karena itu Imam Qurthubi berpendapat, “Dua hadis itu dapat dijama’ sebagai berikut: hadis Aisyah dapat diartikan makruh, sedang hadis Abu Talhah menunjukkan mubah secara mutlak yang sama sekali tidak menafikan makruh di atas.” Pendapat ini dibenarkan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar.

6) Pada hadis namruqah (bantal) ada seorang rawi bernama al-Qasim bin Muhammad bin Abubakar, keponakan Aisyah sendiri, ia membolehkan gambar yang tidak ada bayangannya, yaitu seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Aun, ia berkata: “Saya masuk di rumah al-Qasim di Makkah sebelah atas, saya lihat di rumahnya itu ada korden yang ada gambar trenggiling dan burung garuda.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata; “Barangkali al-Qasim berpegang pada keumuman hadis Nabi yang mengatakan kecuali gambar dalam pakaian dan seolah-olah dia memahami keingkaran Nabi terhadap Aisyah yang menggantungkan korden yang bergambar dan menutupi dinding. Faham ini diperkuat dengan hadisnya yang mengatakan: “Sesungguhnya Allah tidak menyuruh kita supaya memberi pakaian batu dan tanah.” Sedang al-Qasim adalah salah seorang ahli fiqih Madinah yang tujuh, dia juga termasuk orang pilihan pada zaman itu, dia pula rawi hadis namruqah itu. Maka jika dia tidak memaham rukhsakh terhadap korden yang dia pasang itu, niscaya dia tidak akan menggunakannya”

Tetapi di samping itu tampaknya ada kemungkinan yang tampak pada hadis-hadis yang berkenaan dengan masalah gambar dan pelukisnya, yaitu bahwa Rasulullah saw. memperkeras persoalan ini pada periode pertama dari kerasulannya, dimana waktu itu kaum muslimin baru saja meninggalkan syirik dan menyembah berhala serta mengagung-agungkan patung. Tetapi setelah aqidah tauhid itu mendalam kedalam jiwa dan akar-akarnya telah menghunjam kedalam hati dan pikiran, maka beliau memberi perkenan (rukhshah) dalam hal gambar yang tidak berjasad, yang hanya sekedar ukiran dan lukisan. Kalau tidak begitu, niscaya beliau tidak suka adanya tabir/korden yang bergambar di dalam rumahnya; dan ia pun tidak akan memberikan perkecualian tentang lukisan dalam pakaian, termasuk juga dalam kertas dan dinding.

Ath-Thahawi, salah seorang dari ulama madzhab Hanafi berpendapat: Syara’ melarang semua gambar pada permulaan waktu, termasuk lukisan pada pakaian, karena mereka baru saja meninggalkan menyembah patung. Oleh karena itu secara keseluruhan gambar dilarang. Tetapi setelah larangan itu berlangsung lama, kemudian dibolehkan gambar yang ada pada pakaian karena suatu darurat. Syara’ pun kemudian membolehkan gambar yang tidak berjasad karena sudah dianggap orang-orang bodoh tidak lagi mengagungkannya, sedang yang berjasad tetap dilarang.

 

Gambar yang Terhina adalah Halal

Setiap perubahan dalam masalah gambar yang tidak mungkin diagung-agungkan sampai kepada yang paling hina, dapat pindah dari lingkungan makruh kepada lingkungan halal. Hal ini berdasarkan hadis tentang Jibril a.s. pernah minta izin kepada Nabi untuk masuk rumahnya, kemudian kata Nabi kepada Jibril: “Masuklah! Tetapi Jibril menjawab: Bagaimana saya masuk, sedang di dalam rumahmu itu ada korden yang penuh gambar! Tetapi kalau kamu tetap akan memakainya, maka putuskanlah kepalanya atau potonglah untuk dibuat bantal atau buatlah tikar.” H.r. An-Nasa’i dan Ibnu Hibban

Oleh karena itulah ketika Aisyah melihat ada tanda kemarahan dalam wajah Nabi karena ada korden yang banyak gambarnya itu, maka korden tersebut dipotong dan dipakai dua sandaran, karena gambar tersebut sudah terhina dan jauh daripada menyamai gambar-gambar yang diagung-agungkan.

Beberapa ulama salaf pun ada yang memakai gambar yang terhina itu, dan mereka menganggap bukan suatu dosa. Misalnya Urwah, dia bersandar pada sandaran yang ada gambarnya, di antaranya gambar burung dan orang laki-laki. Kemudian Ikrimah berkata: Mereka itu memakruhkan gambar yang didirikan (patung), sedang yang diinjak kaki, misalnya di lantai, bantal dan sebagainya, mereka menganggap tidak apa-apa.

Photografi

Satu hal yang tidak diragukan lagi, bahwa semua persoalan gambar dan menggambar, yang dimaksud ialah gambar-gambar yang dipahat atau dilukis, seperti yang telah kami sebutkan di atas.

Adapun masalah gambar yang diambil dengan menggunakan sinar matahari atau yang kini dikenal dengan nama fotografi, maka ini adalah masalah baru yang belum pernah terjadi di zaman Rasulullah s.a.w. dan ulama-ulama salaf. Oleh karena itu apakah hal ini dapat dipersamakan dangan hadis-hadis yang membicarakan masalah melukis dan pelukisnya seperti tersebut di atas?

Orang-orang yang berpendirian, bahwa haramnya gambar itu terbatas pada yang berjasad (patung), maka foto bagi mereka bukan apa-apa, lebih-lebih kalau tidak sebadan penuh. Tetapi bagi orang yang berpendapat lain, apakah foto semacam ini dapat dikiaskan dengan gambar yang dilukis dengan menggunakan kuas? Atau apakah barangkali illat (alasan) yang telah ditegaskan dalam hadis masalah pelukis, yaitu diharamkannya melukis lantaran menandingi ciptaan Allah –tidak dapat diterapkan pada fotografi ini? Sedang menurut ahli-ahli usul-fiqih kalau illatnya itu tidak ada, yang dihukum pun (ma’lulnya) tidak ada.

Jelasnya persoalan ini adalah seperti apa yang pernah difatwakan oleh Syekh Muhammad Bakhit, Mufti Mesir: “Bahwa fotografi itu adalah merupakan penahanan bayangan dengan suatu alat yang telah dikenal oleh ahli-ahli teknik (tustel). Cara semacam ini sedikitpun tidak ada larangannya.

Karena larangan menggambar, yaitu mengadakan gambar yang semula tidak ada dan belum dibuat sebelumnya yang bisa menandingi (makhluk) ciptaan Allah. Sedang pengertian semacam ini tidak terdapat pada gambar yang diambil dengan alat (tustel).”

Sekalipun ada sementara orang yang ketat sekali dalam persoalan gambar dengan segala macam bentuknya, dan menganggap makruh sampai pun terhadap fotografi, tetapi satu hal yang tidak diragukan lagi, bahwa mereka pun akan memberikan rukhshah terhadap hal-hal yang bersifat darurat karena sangat dibutuhkannya, atau karena suatu maslahat yang mengharuskan, misalnya kartu pendliduk, paspor, foto-foto yang dipakai alat penerangan yang di situ sedikitpun tidak ada tanda-tanda pengagungan. atau hal yang bersifat merusak aqidah. Foto dalam persoalan ini lebih dibutuhkan daripada melukis dalam pakaian-pakaian yang oleh Rasulullah sendiri sudah dikecualikannya.

Subjek Gambar

Yang sudah pasti bahwa subjek gambar mempunyai pengaruh soal haram dan halalnya. Misalnya gambar yang subjeknya itu menyalahi aqidah dan syariat serta tata kesopanan agama, maka Islam mengharamkannya.

Oleh karena itu gambar-gambar perempuan telanjang, setengah telanjang, ditampakkannya bagian-bagian anggota khas wanita dan tempat-tempat yang membawa fitnah, dan digambar dalam tempat-tempat yang cukup membangkitkan syahwat dan menggairahkan kehidupan duniawi sebagaimana yang kita lihat di majalah-majalah, surat-surat khabar dan bioskop, semuanya itu tidak diragukan lagi tentang haramnya baik yang menggambar, yang menyiarkan ataupun yang memasangnya di rumah-rumah, kantor-kantor, toko-toko dan digantung di dinding-dinding. Termasuk juga haramnya kesengajaan untuk memperhatikan gambar-gambar tersebut.

Termasuk yang sama dengan ini ialah gambar-gambar orang kafir, orang zalim dan orang-orang fasik yang oleh orang Islam harus diberantas dan dibenci dengan semata-mata mencari keridhaan Allah. Setiap muslim tidak halal melukis atau menggambar pemimpin-pemimpin yang anti Tuhan, atau pemimpin yang menyekutukan Allah dengan sapi, api atau lainnya, misalnya orang-orang Yahudi, Nasrani yang ingkar akan kenabian Muhammad, atau pemimpin yang beragama Islam tetapi tidak mau berhukum dengan hukum Allah; atau orang-orang yang gemar menyiarkan kecabulan dan kerusakan dalam masyarakat seperti bintang-bintang film dan biduan-biduan.

Termasuk haram juga ialah gambar-gambar yang dapat dinilai sebagai menyekutukan Allah atau lambang-lambang sementara agama yang samasekali tidak diterima oleh Islam, gambar berhala, salib dan sebagainya.

Barangkali seperai dan bantal-bantal di zaman Nabi banyak yang memuat gambar-gambar semacam ini. Oleh karena itu dalam riwayat Bukhari diterangkan; bahwa Nabi tidak membiarkan salib di rumahnya, kecuali dipatahkan.

Ibnu Abbas meriwayatkan: “Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. pada waktu tahun penaklukan Makkah melihat patung-patung di dalam Baitullah, maka ia tidak mau masuk sehingga ia menyuruh dihancurkan, kemudian dihancurkan.” H.r. al-Bukhari

Tidak diragukan lagi, bahwa patung-patung yang dimaksud adalah patung yang dapat dinilai sebagai berhala orang-orang musyrik Makkah dan lambang kesesatan mereka di zaman-zaman dahulu.

Ali bin Abu Talib juga berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي جَنَازَةٍ فَقَالَ أَيُّكُمْ يَنْطَلِقُ إِلَى الْمَدِينَةِ فَلَا يَدَعُ بِهَا وَثَنًا إِلَّا كَسَرَهُ وَلَا قَبْرًا إِلَّا سَوَّاهُ وَلَا صُورَةً إِلَّا لَطَّخَهَا فَقَالَ رَجُلٌ أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ فَانْطَلَقَ فَهَابَ أَهْلَ الْمَدِينَةِ فَرَجَعَ فَقَالَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَا أَنْطَلِقُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَانْطَلِقْ فَانْطَلَقَ ثُمَّ رَجَعَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَمْ أَدَعْ بِهَا وَثَنًا إِلَّا كَسَرْتُهُ وَلَا قَبْرًا إِلَّا سَوَّيْتُهُ وَلَا صُورَةً إِلَّا لَطَّخْتُهَا ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ عَادَ لِصَنْعَةِ شَيْءٍ مِنْ هَذَا فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Rasulullah s.a.w. dalam (melawat) suatu jenazah ia bersabda: Siapakah di kalangan kamu yang akan pergi ke Madinah, maka jangan biarkan di sana satupun berhala kecuali harus kamu hancurkan, dan jangan ada satupun kubur (yang bercungkup) melainkan harus kamu ratakan dia, dan jangan ada satupun gambar kecuali harus kamu hapus dia? Kemudian ada seorang laki-laki berkata: Saya! Ya, Rasulullah! Lantas ia memanggil penduduk Madinah, dan pergilah si laki-laki tersebut. Kemudian ia kembali dan berkata: Saya tidak akan membiarkan satupun berhala kecuali saya hancurkan dia, dan tidak akan ada satupun kuburan (yang bercungkup) kecuali saya ratakan dia dan tidak ada satupun gambar kecuali saya hapus dia. Kemudian Rasulullah bersabda: Barangsiapa kembali kepada salah satu dari yang tersebut maka sungguh ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad s.a.w.” H.r Ahmad

Barangkali tidak lain gambar-gambar/patung-patung yang diperintahkan Rasulullah saw. untuk dihancurkan itu, melainkan karena patung-patung tersebut adalah lambang kemusyrikan jahiliah yang oleh Rasulullah sangat dihajatkan kota Madinah supaya bersih dari pengaruh-pengaruhnya. Justru itulah, kembali kepada hal-hal di atas berarti dinyatakan kufur terhadap ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad.

Kesimpulan Hukum Gambar dan Yang Menggambar

Dapat kami simpulkan hukum masalah gambar dan yang menggambar sebagai berikut:

Macam-macam gambar yang sangat diharamkan ialah gambar-gambar yang disembah selain Allah, seperti Isa al-Masih dalam agama Kristen. Gambar seperti ini dapat membawa pelukisnya menjadi kufur, kalau dia lakukan hal itu dengan pengetahuan dan kesengajaan. Begitu juga pemahat-pemahat patung, dosanya akan sangat besar apabila dimaksudkan untuk diagung-agungkan dengan cara apapun. Termasuk juga terlibat dalam dosa, orang-orang yang bersekutu dalam hal tersebut.

Termasuk dosa juga, orang-orang yang melukis sesuatu yang tidak disembah, tetapi bertujuan untuk menandingi ciptaan Allah. Yakni dia beranggapan, bahwa dia dapat mencipta jenis baru dan membuat seperti pembuatan Allah. Kalau begitu keadaannya dia bisa menjadi kufur. Dan ini tergantung kepada niat si pelukisnya itu sendiri.

Di bawah lagi patung-patung yang tidak disembah, tetapi termasuk yang diagung-agungkan, seperti patung raja-raja, kepala negara, para pemimpin dan sebagainya yang dianggap keabadian mereka itu dengan didirikan monumen-monumen yang dibangun di lapangan-lapangan dan sebagainya. Dosanya sama saja, baik patung itu satu badan penuh atau setengah badan.

Di bawahnya lagi ialah patung-patung binatang dengan tidak ada maksud untuk disucikan atau diagung-agungkan, dikecualikan patung mainan anak-anak dan yang tersebut dari bahan makanan seperti manisan dan sebagainya.

Selanjutnya ialah gambar-gambar yang oleh pelukisnya atau pemiliknya sengaja diagung-agungkan seperti gambar para penguasa dan pemimpin, lebih-lebih kalau gambar-gambar itu dipancangkan dan digantung. Lebih kuat lagi haramnya apabila yang digambar itu orang-orang zalim, ahli-ahli fasik dan golongan anti Tuhan. Mengagungkan mereka ini berarti telah meruntuhkan Islam.

Di bawah itu ialah gambar binatang-binatang dengan tidak ada maksud diagung-agungkan, tetapi dianggap suatu manifestasi pemborosan. Misalnya gambar gambar di dinding dan sebagainya. Ini hanya masuk yang dimakruhkan.

Adapun gambar-gambar pemandangan, misalnya pohon-pohonan, korma, lautan, perahu, gunung dan sebagainya, maka ini tidak dosa samasekali baik si pelukisnya ataupun yang menyimpannya, selama gambar-gambar tersebut tidak melupakan ibadah dan tidak sampai kepada pemborosan. Kalau sampai demikian, hukumnya makruh.

Adapun fotografi, pada prinsipnya mubah, selama tidak mengandung objek yang diharamkan, seperti disucikan oleh pemiliknya secara keagamaan atau disanjung-sanjung secara keduniaan. Lebih-lebih kalau yang disanjung-sanjung itu justru orang-orang kafir dan ahli-ahli fasik, misalnya golongan penyembah berhala, komunis dan seniman-seniman yang telah menyimpang.

src: http://www.facebook.com/notes/amin-saefullah-muchtar/hukum-seni-rupa-dalam-syariat-islam-bag-akhir/162092963822090

About rendyadamf
assalamu'alaikum wrwb..salam kenal buat teman - teman semuanya..gw rendy TTL : Bandung, 30-06-84. gw kuliah di UNISBA. gw nulis blog ini hanya untuk curahkan semua pemikiran gw..dan gw udah ubah haluan jalan hidup gw..menjadikan jihad sebagai satu-satunya jalan hidup gw!!

3 Responses to Hukum Gambar dan Patung Dalam Islam

  1. Dana says:

    Trims Mas. Nice artikel🙂

  2. teddsetiadi says:

    assalamualaikum terima kasih info nya semoga dapat balasan berupa pahala dr allah swt.
    saya mohon ijin copy artikel nya untuk pembelajaran karena saya berprofesi sebagai designer grafis,dan ilustrator saya khawatir apa yang saya kerjakan ini haram dan sangat di benci allah swt dan rasul

  3. rahmatya says:

    thanks atas semua informasinay semoga Allah memberikan balasan yang baik dan setimpal atas ilmu yang telah anda sebarkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: