Masbuq Berjamaah

Setiap muslim yang melaksanakan salat tentu saja berharap ibadah salatnya diterima Allah. Untuk itu, ia harus berupaya agar pelaksanaan salatnya sesuai dengan kaifiat (tata cara) salat Rasulullah. Hal itu sebagaimana disabdakan Rasul

صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّيْ

Salatlah sebagaimana kalian melihat aku melaksanakan salat. H.r. Al-Baihaqi

Namun dalam beberapa hal terkadang membuat ragu seseorang dalam melaksanakan salatnya, sehingga dirinya terdorong untuk mengajukan pertanyaan. Salah satu masalah yang sering menjadi pertanyaan adalah: beberapa orang tertinggal salat berjama’ah, setelah  imam dan jamaah pertama selesai, kemudian menyempurnakan kekurangannya. Bolehkah salah seorang dari mereka menjadi imam dan yang lainnya jadi makmum?

Untuk menjawab permasalahan di atas, ada tiga hal yang perlu disampaikan;

Pertama tentang keutamaan salat berjama’ah

Keutamaan shalat berjama’ah telah disepakati, karena telah ditetapkan di dalam berbagai hadis, antara lain

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ قَالَ: إِذَا كُنْتُمْ ثَلَاثَةً فَصَلُّوْا جَمِيْعًا فَلْيَؤُمَّكُمْ أَحَدُكُمْ – رواه أحمد ومسلم والنسائي

Dari Abdullah bin Masud, ia berkata, “Apabila kalian bertiga, salatlah secara berjama’ah, hendaklah  salah seorang di antara kalian jadi imam.” H.r. Ahmad, Muslim, An-Nasai.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قال:قَالَ رَسُولُ اللَّهِ r صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلَاةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً. متفق عليه.

Dari Ibnu Umar, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Salat berjama’ah itu mengungguli salat dengan 27  derajat’.” Muttafaq Alaih.

Dalam hadis lain diterangkan

عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ:قال رَسُولُ اللَّهِ r وَإِنَّ صَلَاةَ الرَّجُلِ مَعَ الرَّجُلِ أَزْكَى مِنْ صَلَاتِهِ وَحْدَهُ وَصَلَاتُهُ مَعَ الرَّجُلَيْنِ أَزْكَى مِنْ صَلَاتِهِ مَعَ الرَّجُلِ وَمَا كَثُرَ فَهُوَ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى.رواه أحمدوأبوداود والنسائي وابن ماجه

Dari Ubay bin Ka’ab, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, Salat seseorang dengan seseorang lainnya lebih beruntung (lebih bersih) dari salat sendirian (munfarid). Dan salatnya dengan dua orang lainnya lebih beruntung daripada salatnya berasama seorang lainnya. Dan lebih banyak  (jumlahnya) maka lebih dicintai oleh Allah ta’ala.” H.r. Ahmad, Abu Daud, An-Nasai dan Ibnu Majah.

Berdasarkan hadis di atas, apabila dua orang atau lebih mendirikan salat, lebih utama dilakukan secara berjamaah.

Kedua, bolehkah makmum kemudian menjadi imam?

Tentang makmum menjadi imam, pernah dialami oleh Nabi saw. ketika beliau bermakmum kepada Abu Bakar. Kemudian karena Abu Bakar tidak sanggup mengimami Rasulullah saw. akhirnya beliau menjadi imam sebagaimana diriwayatkan dalam hadis Al-Muslim:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ لَمَّا ثَقُلَ رَسُولُ اللَّهِ r جَاءَ بِلَالٌ يُؤْذِنُهُ بِالصَّلَاةِ فَقَالَ مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ قَالَتْ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَبَا بَكْرٍ رَجُلٌ أَسِيفٌ وَإِنَّهُ مَتَى يَقُمْ مَقَامَكَ لَا يُسْمِعِ النَّاسَ فَلَوْ أَمَرْتَ عُمَرَ فَقَالَ مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ قَالَتْ فَقُلْتُ لِحَفْصَةَ قُولِي لَهُ إِنَّ أَبَا بَكْرٍ رَجُلٌ أَسِيفٌ وَإِنَّهُ مَتَى يَقُمْ مَقَامَكَ لَا يُسْمِعِ النَّاسَ فَلَوْ أَمَرْتَ عُمَرَ فَقَالَتْ لَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ r إِنَّكُنَّ لَأَنْتُنَّ صَوَاحِبُ يُوسُفَ مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ قَالَتْ فَأَمَرُوا أَبَا بَكْرٍ يُصَلِّي بِالنَّاسِ قَالَتْ فَلَمَّا دَخَلَ فِي الصَّلَاةِ وَجَدَ رَسُولُ اللَّهِ r مِنْ نَفْسِهِ خِفَّةً فَقَامَ يُهَادَى بَيْنَ رَجُلَيْنِ وَرِجْلَاهُ تَخُطَّانِ فِي الْأَرْضِ قَالَتْ فَلَمَّا دَخَلَ الْمَسْجِدَ سَمِعَ أَبُو بَكْرٍ حِسَّهُ ذَهَبَ يَتَأَخَّرُ فَأَوْمَأَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ r قُمْ مَكَانَكَ فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ r حَتَّى جَلَسَ عَنْ يَسَارِ أَبِي بَكْرٍ قَالَتْ فَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ r يُصَلِّي بِالنَّاسِ جَالِسًا وَأَبُو بَكْرٍ قَائِمًا يَقْتَدِي أَبُو بَكْرٍ بِصَلَاةِ النَّبِيِّ r وَيَقْتَدِي النَّاسُ بِصَلَاةِ أَبِي بَكْرٍ

Di dalam peristiwa lain, datang seorang laki-laki hendak salat bersama Nabi saw., tetapi ternyata ketika ia datang salat yang diimammi Nabi itu telah slesai. Kejadian tersebut hadits lengkapnya sebagai berikut:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَجُلًا دَخَلَ الْمَسْجِدَ وَقَدْ صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ r  بِأَصْحَابِهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ r مَنْ يَتَصَدَّقُ عَلَى هَذَا فَيُصَلِّيَ مَعَهُ فَقَامَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ فَصَلَّى مَعَهُ – رواه أحمد وأبو داود والترمذي –

Dari Abu Said ia berkata, sesungguhnya seorang laki-laki masuk ke masjid sedangkan Rasulullah saw. telah salat bersama para sahabat, kemudian Rasulullah saw. bersabda, ‘Siapa yang mau bershadaqah kepada orang ini, maka salatlah bersamanya?’ Kemudian seorang laki-laki dari satu kaum berdiri dan salat bersamanya.” H.r. Ahmad, Abu Daud dan At-Tirmidzi.

Maka untuk menunjukan penting dan lebih baiknya salat berjamaah dari salat munfarid, Rasulullah saw. menawarkan kepada orang yang telah salat bersamanya untuk salat lagi agar orang yang baru datang tersebut berjamaah (tidak munfarid).

Ketiga, apakah masbuk berjama’ah seperti yang ditanyakan pernah terjadi di zaman Rasul? Karena ada yang berpendapat bahwa pelaksanaan seperti itu tidak berdasarkan dalil, namun berdasarkan qias(analogi) kepada safar, yaitu mengangkat imam ketika safar. Padahal dasar hukum seperti ini kurang tepat, karena tidak dibenarkan mengkiaskan muamalah (bepergian) dengan ibadah (salat).

Pendapat di atas perlu untuk ditanggapi,  mengingat penetapan  bolehnya  berjamaah bagi yang masbuk bukan dengan jalan qias, melainkan berdasarkan dalil-dalil umum di atas serta dalil khusus, yaitu Rasulullah saw. pernah masbuq bersama al-Mughirah bin Syu’bah sebagaimana diterangkan pada hadis berikut ini

عَنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ قَالَ تَخَلَّفَ رَسُولُ اللَّهِ r وَتَخَلَّفْتُ مَعَهُ … ثُمَّ رَكِبَ وَرَكِبْتُ فَانْتَهَيْنَا إِلَى الْقَوْمِ وَقَدْ قَامُوا فِي الصَّلَاةِ يُصَلِّي بِهِمْ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ وَقَدْ رَكَعَ بِهِمْ رَكْعَةً فَلَمَّا أَحَسَّ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَهَبَ يَتَأَخَّرُ فَأَوْمَأَ إِلَيْهِ فَصَلَّى بِهِمْ فَلَمَّا سَلَّ  مَ قَامَ النَّبِيُّ r وَقُمْتُ فَرَكَعْنَا الرَّكْعَةَ الَّتِي سَبَقَتْنَا – رواه مسلم –

Dari Al-Mughirah bin Syu’bah, ia berkata, “Rasulullah saw. ketinggalan demikian juga aku…kemudian beliau menaiki kendaraannya dan aku pun berkendaraan bersamanya. Maka kami sampai kepada orang-roang, ternyata mereka sedang melaksanakan salat dan Abdurrahman bin Auf yang mengimami mereka, dan telah salat satu rakaat. Maka tatkala Abdurrahman bin Auf merasa bahwa Nabi datang ia bermaksud untuk mundur, tetapi Nabi berisyarat agar Abdurrahman bin Auf tetap mengimami mereka. Tatkala Abdurrahman bin Auf (dengan jama’ah) salam (selesai dari salatnya) Nabi saw. berdiri dan akupun berdiri, lalu kami melaksanakan salat yang ketinggalan itu. “ H.r. Muslim

Dengan keterangan al-Mughirah (Nabi saw. berdiri dan akupun berdiri lalu kami melaksanakan rakaat yang ketinggalan), jelaslah bahwa makmum yang masbuk lebih dari satu orang itu pada waktu menambah kekurangan rakaat yang ketinggalan hendaklah dilakukan secara berjamaah, agar tidak kehilangan keutamaan berjamaah.

Dengan demikian, menyatakan tidak bolehnya mendirikan jamaah bagi yang masbuk setelah salat selesai perlu menunjukkan dalil.

src: http://www.facebook.com/notes/amin-saefullah-muchtar/masbuq-berjamaah/154958361202217

Masbuq Berjamaah Bid’ahkah 1?

Di dalam makalah salah seorang ustadz yang cukup populer di Jawab Barat, dicantumkan sebuah hadis sebagai berikut:

عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ تَخَلَّفَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَتَخَلَّفْتُ مَعَهُ فَلَمَّا قَضَى حَاجَتَهُ قَالَ أَمَعَكَ مَاءٌ فَأَتَيْتُهُ بِمِطْهَرَةٍ فَغَسَلَ كَفَّيْهِ وَوَجْهَهُ ثُمَّ ذَهَبَ يَحْسِرُ عَنْ ذِرَاعَيْهِ فَضَاقَ كُمُّ الْجُبَّةِ فَأَخْرَجَ يَدَهُ مِنْ تَحْتِ الْجُبَّةِ وَأَلْقَى الْجُبَّةَ عَلَى مَنْكِبَيْهِ وَغَسَلَ ذِرَاعَيْهِ وَمَسَحَ بِنَاصِيَتِهِ وَعَلَى الْعِمَامَةِ وَعَلَى خُفَّيْهِ ثُمَّ رَكِبَ وَرَكِبْتُ فَانْتَهَيْنَا إِلَى الْقَوْمِ وَقَدْ قَامُوا فِي الصَّلاَةِ يُصَلِّي بِهِمْ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ وَقَدْ رَكَعَ بِهِمْ رَكْعَةً فَلَمَّا أَحَسَّ بِالنَّبِيِّ  صلى الله عليه وسلم  ذَهَبَ يَتَأَخَّرُ فَأَوْمَأَ إِلَيْهِ فَصَلَّى بِهِمْ فَلَمَّا سَلَّمَ قَامَ النَّبِيُّ  صلى الله عليه وسلم وَقُمْتُ فَرَكَعْنَا الرَّكْعَةَ الَّتِي سَبَقَتْنَا – أخرجه مسلم في صحيحه ج 1 ص 229\ح 274 والبخاري في صحيحه ج 1 ص 143 \356-

Dari Urwah bin al-Mughirah bin Syu’bah, dari ayahny,a ia berkata, “Rasulullah saw. terlambat dan akupun terlampat bersamanya. Selesai beliau memenuhi hajatnya, beliau bersabda, “Apakah kamu punya air?” Maka ku bawakan air wudu, lalu beliau mencuci wajahnya dan kedua telapak tangannya, dan beliau mengalami kesulitan mencuci dua lengannya,  karena sempit lengan jubahnya. Maka beliau melepasnya serta diletakkannya di atas bahunya. Lalu beliau mencuci dua lengannya dan mengusap ubun-ubunnya serta mengusap ke atas sorban dan kedua sepatunya. Kemudian beliau menaiki kendaraan bersamaku hingga tiba pada kaum. Dan kaum tersebut telah berdiri melaksanakan salat dengan Abdurrahman bin Auf sebagai imam. Dia bersama jamaah telah menyelesaikan satu rakaat. Ketika dia merasa kedatangan Nabi saw, maka dia pun berencana mundur, maka beliau memberi isyarat (untuk tetap menjadi imam). Maka dia mengimami mereka. Ketika dia membaca salam Rasul berdiri dan aku pun berdiri. Maka kami ruku’ untuk melengkapi yang tertinggal. “ (H.r. Bukhori dan Muslim)

Beliau mencantumkan tujuh pelajaran dari hadis tersebut, antara lain:

1.        Al-Mughirah pernah terlambat salat bersama Rasulullah saw. karena perjalanan.

2.        Rasulullah bersama seorang sahabatnya tertinggal satu rakaat dalam salat berjamaah dengan masyarakat setempat yang diimami Abdurrahman

5. Rasul bersama al-Mughirah melanjutkan salatnya hingga selesai. Hadis menjelaskan bahwa jika tertinggal satu rakaat atau lebih dalam berjamaah maka sempurnakan sesuai dengan jumlah yang tertinggal. Bagaimana cara menyelesaikannya?

6.   Tidak ditemukan al-Mughirah berjamaah kepada Rasul karena tiada kata yang menunjukkannya. Bahkan kalimat di atas lebih memberi isyarat adanya Rasulullah dan al-Mughirah menyelesaikan salat masing-masing. Sebab kalimat قام رسول الله وقمت dilanjutkan dengan فركعنا memberi isyarat al-Mughirah berdiri bukan karena Rasulullah saw. berdiri, dan al-Mughirah ruku pada waktu yang sama dengan ruku Rasulullah. Sedangkan dalam aturan berjamaah makmum mesti mengikuti imam artinya makmum tidak bergerak bersama-sama dengan imam.

7.   Kalau al-Mughirah berjamaah kepada Rasul tentu dia akan menggunakan kata yang mengandung makna berjamaah seperti:

صلى بي رسول الله صلى الله عليه وسلم

قام رسول الله فقمت

ركع رسول الله فركعت

فاقتديت به صلى الله عليه وسلم

Atau kata lainnya yang memberi arti adanya berjamaah sebagaimana ditemukan pada kalimat sebelumnya.

Tanggapan:

1.    Penerjemahan

Dalam makalah itu kalimat

فَرَكَعْنَا الرَّكْعَةَ

Diartikan: “maka kami ruku”. Sedangkan pada kalimat sebelumnya

رَكَعَ بِهِمْ رَكْعَةً

Diartikan: “telah menyelesaikan satu rakaat”

Hemat kami, terjemahan yang pertama akan menyesatkan pembaca, sebab dengan cara penerjemahan seperti itu menunjukkan bahwa maka Nabi dan al-Mughirah tidak membaca fatihah dan surat ketika berdiri setelah Abdurrahman salam, tetapi langsung ruku. Namun bila tidak demikian maksud penulis, maka terjemah tersebut harus direvisi, karena yang dimaksud dengan kalimat itu adalah melaksanakan rakaat salat yang ketinggalan, bukan posisi ruku. Orang yang paham bahasa Arab tentu sudah maklum bahwa ungkapan semacam ini disebut majaz mursal: ithlaq al-juz-i wa iradah al-kulli, yaitu disebut sebagian (posisi ruku) maksudnya seluruh (salat secara keseluruhan). Karena itu dalam riwayat lain menggunakan redaksi (a) fashallaina ar-rak’ata (H.r. Ibnu Khuzaemah), faqadhaina ar-rak’ata (H.r. Ahmad dan at-Thabrani). Ungkapan ini telah masyhur digunakan oleh Nabi dan para sahabatnya, seperti kalimat sebelumnya pada hadis itu sendiri

رَكَعَ بِهِمْ رَكْعَةً

2.    Pelajaran dari hadis

(a)              Pada point 1 disebutkan: “Al-Mughirah pernah terlambat salat bersama Rasulullah saw. karena perjalanan” Dalam hadis itu tidak ada kata “karena perjalanan”, jadi dari kalimat mana dapat dipahami bahwa terlambat itu karena perjalanan?

(b)              Pada point 2 disebutkan: “salat berjamaah dengan masyarakat setempat” Dalam hadis itu disebut al-qaum, tapi diartikan masyarakat setempat.  Dari kalimat mana dapat dipahami bahwa kaum itu adalah masyarakat setempat? Masyarakat setempat itu di mana? Padahal dalam riwayat an-Nasai (Sunan an-Nasai, I:83, No. 125) dan Abdurrazaq (al-Mushannaf, I:192, No. 749) tampak begitu jelas bahwa kaum itu adalah para sahabat yang menyertai safar Rasul waktu itu (rombongan termasuk Abdurrahman bin Auf), dan mereka diperintah untuk berangkat duluan, sedangkan al-Mughirah disuruh tinggal menemani Rasul untuk melaksanakan hajatnya

تَخَلَّفْ يَا مُغِيرَةُ وَامْضُوا أَيُّهَا النَّاسُ

Hadis tersebut sekaligus menunjukkan bahwa point 1 yang menyatakan “al-Mugirah dan Rasul terlambat karena perjalanan” itu keliru, sebab yang benar: “Beliau tertinggal dari rombongan dalam perjalanan dan terlambat salat berjamaah karena qadha hajat. Sedangkan al-Mughirah ikut tertinggal dan terlambat karena menyertai Rasul”

(c)               Pada point 6 disebutkan: “tidak ditemukan al-Mughirah berjamaah kepada Rasul karena tiada kata yang menunjukkannya” Wajar penulis menyatakan demikian, sebab terjadi kerancuan dalam kalimat yang dibuatnya sendiri, yaitu “berjamaah kepada Rasul”: (1) Kalau kalimat itu di bahasa Arabkan, kira-kira seperti apa? Yang benar adalah “salat berjamaah dengan” atau “bermakmum kepada” Dalam bahasa arabnya shalla/shallainaa bishalla/shallainaa ma’a (dia/kami salat berjamaah dengan) atau i’tamma bi (bermakmum kepada). Karena kerancuan itulah kalimat قام رسول الله وقمت فركعنا  dianggap sebagai isyarat bahwa “al-Mughirah berdiri bukan karena Rasulullah saw. berdiri”. Yang lebih rancu lagi ketika mengatakan bahwa “tidak ada kata yang menunjuki al-Mughirah berjamaah kepada Rasul” karena pada saat yang sama dikatakan: “Kalimat di atas lebih memberi isyarat adanya salat masing-masing” namun tidak menunjukkan qarinah (indikator) sebagai pendukung adanya isyarat itu. Selama tidak ada qarinah maka hal itu hanya perkiraan, sedangkan perkiraan tidak dapat dipakai pijakan dalam mengambil kesimpulan.

(d)              Benarkah kalimat itu “tidak ada kata yang menunjuki al-Mughirah berjamaah dengan Rasul”? Untuk menjawab itu perlu sedikit dibuka wawasan melalui perbandingan dengan peristiwa lain yang menggunakan ungkapan sama sebagai berikut:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَامَ النَّاسُ مَعَهُ فَكَبَّرَ وَكَبَّرُوا مَعَهُ …

Dari Ibnu Abas, ia berkata, “Nabi saw. berdiri dan orang-orang pun berdiri bersamanya, lalu beliau bertakbir dan mereka bertakbir bersamanya…”H.r.al-Bukhari

Apakah dengan kalimat diatas akan dikatakan “orang-orang berdiri bukan karena Rasulullah saw. berdiri”? Kalau bukan karena Rasul berdiri berarti karena apa mereka berdiri? Apakah akan dikatakan “Kalimat di atas lebih memberi isyarat adanya salat masing-masing” Kalau dikatakan masing-masing apa maksud ma’ahu?

عن جابر بن عبد الله قال مرت جنازة فقام لها رسول الله  صلى الله عليه وسلم وقمنا  معه فقلنا يا رسول الله إنها يهودية

Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata, “Jenazah lewat, maka Rasulullah berdiri untuk jenazah itu dan kami pun berdiri bersamanya. Lalu Kami berkata, ‘Wahai Rasul, sesungguhnya itu jenazah wanita Yahudi…” H.r. Muslim

Apakah dengan kalimat diatas akan dikatakan “orang-orang berdiri bukan karena Rasulullah saw. berdiri”? Kalau bukan karena Rasul berdiri berarti karena apa mereka berdiri? Apakah akan dikatakan “Kalimat di atas lebih memberi isyarat mereka berdiri masing-masing” Kalau dikatakan masing-masing apa maksud ma’ahu?

أن أبا هريرة قال قام رسول الله  صلى الله عليه وسلم في صلاة وقمنا معه

Sesungguhnya Abu Huraerah berkata, “Rasulullah saw. berdiri pada satu salat dan kami berdiri bersamanya…”H.r.al-Bukhari

Apakah dengan kalimat diatas akan dikatakan “orang-orang berdiri bukan karena Rasulullah saw. berdiri”? Kalau bukan karena Rasul berdiri berarti karena apa mereka berdiri? Apakah akan dikatakan “Kalimat di atas lebih memberi isyarat mereka salat masing-masing” Kalau dikatakan masing-masing apa maksud ma’ahu?

عن عبد الله بن عمرو قال انكسفت على عهد رسول الله  صلى الله عليه وسلم فقام   وقمنا  معه ثم قال أيها الناس إن الشمس والقمر آيتان من آيات

Dari Abdullah bin Amr, ia berkata, “Telah terjadi gerhana pada zaman Rasul, maka Beliau berdiri dan kami pun berdiri bersamanya, kemudian beliau bersabda, ‘Wahai orang-orang sesungguhnya matahari dan bulan merupakan dua tanda di antara tanda-tanda…’.”H.r.Ibnu Hiban

Apakah dengan kalimat diatas akan dikatakan “orang-orang berdiri bukan karena Rasulullah saw. berdiri”? Kalau bukan karena Rasul berdiri berarti karena apa mereka berdiri? Apakah akan dikatakan “Kalimat di atas lebih memberi isyarat mereka berdiri masing-masing” Kalau dikatakan masing-masing apa maksud ma’ahu?

عن طارق بن شهاب قال كنا عبد الله بن مسعود … فقال قد قامت الصلاة فقام وقمنا معه فدخلنا المسجد …الحاكم 4: 493 –

Dari Thariq bin Syihab, ia berkata, “Kami berada di rumah Abdullah bin Mas’ud…lalu seseorang berkata, ‘Salat telah diqamatkan’ maka beliau berdiri dan kami pun berdiri bersamanya, lalu kami masuk masjid” H.r.al-Hakim

Apakah dengan kalimat diatas akan dikatakan “Kalimat di atas lebih memberi isyarat mereka berdiri masing-masing dan masuk masjid sendiri-sendiri, tidak bersama-sama” Kalau dikatakan masing-masing apa maksud ma’ahu?

Karena itu untuk memahami hadis masbuknya Rasul dan al-Mughirah dengan benar kita jangan terpaku hanya pada teks dan hadis itu saja, tapi harus dibantu oleh kalimat sebelum/sesudah, dan riwayat lainnya, sebagai berikut:

Dalam riwayat tersebut ada beberapa qarinah yang mendukung Rasul berjamaah dengan al-Mughirah

(1)              Dalam riwayat tersebut menggunakan dhomir (kata ganti) nahnu (mutakallim ma’al ghair), yakni kalimat

فَرَكَعْنَا الرَّكْعَةَ الَّتِي سَبَقَتْنَا

lalu kami melaksanakan rakaat salat yang ketinggalan itu.

Penggunaan dhamir nahnu secara makna asal (hakiki) menunjukkan bahwa orang pertama dan ketiga (yang dibicarakan) melakukan suatu perbuatan secara bersama-sama. Berarti melakukan rakaat salat yang ketinggalan itu dengan berjamaah. Apabila tidak diartikan demikian harus menunjukkan qarinah (keterangan pendukung).

Penggunaan dhomir yang sama (nahnu), antara lain: dalam riwayat Ahmad (al-Musnad, XXX:59-60, No. 18.134); at-Thabrani (al-Mu’jamul Kabir, XX:428, No. 1.037); Ibnu Khuzaimah (Shahih Ibnu Khuzaimah, II:135, No. 1.064)menggunakan redaksi

فَصَلَّيْنَا الرَّكْعَةَ الَّتِي أَدْرَكْنَا وَقَضَيْنَا الرَّكْعَةَ الَّتِي سُبِقْنَا

Dalam riwayat Ibnu Abdil Barr (at-Tamhid, XI:160) dengan redaksi

الركعة التي أدركنا وقضينا  الركعة التي  سبقتنا

Dalam riwayat at-Thabrani (al-Mu’jamul Ausath, II:102, No. 1.389) dengan redaksi

فصلينا معه ركعة  وقضينا  الركعة التي فاتتنا

Dalam riwayat Ibnu Hiban (Shahih Ibnu Hiban, IV:178, No. 1.347) dengan redaksi

قام النبي صلى الله عليه وسلم و المغيرة فأكملا ما سبقهما – 4: 178 –

Sebagai perbandingan kita lihat penggunaan dhamir yang sama pada kalimat sebelumnya dalam riwayat Muslim

فَانْتَهَيْنَا إِلَى الْقَوْمِ

Maka kami sampai kepada kaum itu (rombongan)

Atau menggunakan kalimat ma’ahu (bersamanya)

فَأَقْبَلْتُ مَعَهُ حَتَّى نَجِدُ النَّاسَ

Maka aku berangkat bersama beliau, hingga menemui/mendapati orang-orang

 

Kalimat-kalimat tersebut akan akan diartikan apa? Seandainya konsisten dengan “memberi isyaratnya”, maka kalimat tersebut harus diartikan: “kami sampai kepada kaum itu sendiri-sendiri” Cara mengartikan seperti ini jelas menyalahi kaidah, sebab apa fungsi kalimat “kami” bila berangkatnya itu sendiri-sendiri? Karena itu, untuk mengartikan demikian (sendiri-sendiri) harus menunjukkan qarinah, sebagai perbandingan

عن حسن بن عقبة قال كنا مع الضحاك فقال إن كان منكم من يتقدم فليؤذن وليصل قال فأبوا فصلينا وحدانا – مصنف ابن أبي شيبة 1: 358

Dari Hasan bin Uqbah, ia berkata, “Kami bersama ad-Dhahak, maka ia berkata, ‘Jika di antara kamu ada yang maju (jadi imam), hendaklah dikumdangkan adzan dan salatlah. Kata Hasan, “Mereka enggan, maka kami salat sendiri-sendiri” H.r. Ibnu Abu Syaibah

Yang jadi pertanyaan: adakah qarinah yang dapat memalingkan makna bersama-sama kepada sendiri-sendiri seperti kata wuhdanan tersebut? Sangat disayangkan pada makalah tersebut: a. tidak ditunjukkan qarinahnya, b. kalimat sebelumnya tidak menjadi perhatian, padahal dengan kalimat-kalimat tersebut semakin memperkuat dilalah (petunjuk) berjamaahnya Rasul dengan al-Mughirah.

(2)              Dalam riwayat lain disamping menggunakan dhomir (kata ganti) nahnu (mutakallim ma’al ghair) juga kata ma’ahu, antara lain

dalam riwayat  al-Baihaqi (as-Sunanul Kubra, III:92, No. 4.922, as-Sunanus Sughra, I:99, No. 124) sebelum kalimat itu ditegaskan

فلما سلم قام النبي صلى الله عليه وسلم وقمت معه فركعنا الركعة التي سبقنا

فلما سلم قام النبي وقمت معه فركعنا الركعة  التي سبقتنا

 

Kalimat qaman nabiyyu wa qumtu ma’ahu di atas akan akan diartikan apa? Seandainya konsisten dengan “memberi isyaratnya”, maka kalimat tersebut harus diartikan: “Nabi berdiri dan aku pun berdiri bersama beliau sendiri-sendiri” Cara mengartikan seperti ini jelas amat rancu, sebab fungsi kalimat “ma’ahu” itu menunjukkan bersama-sama bukan sendiri-sendiri? Apakah ada qarinah yang dapat memalingkan kalimatma’ahu menjadi bermakna masing-masing? Sangat disayangkan pada makalah tersebut hadis yang menggunakan kalimat ma’ahu sengaja tidak dicantumkan, ataukah belum ditemukan?

Sebagai perbandingan kita lihat penggunaan ungkapan yang sama pada kalimat sebelumnya dalam riwayat Ahmad (al-Musnad, XXX:59-60, No. 18.134) dengan redaksi

وَرَكِبْنَا فَأَدْرَكْنَا النَّاسَ

Dalam riwayat  al-Baihaqi (as-Sunanul Kubra, III:92, No. 4.922, as-Sunanus Sughra, I:99, No. 124) dengan redaksi

ثم ركب وركبت فانتهينا إلى القوم

Dalam riwayat Ibnu Hiban (Shahih Ibnu Hiban, IV:178, No. 1.347) dengan redaksi

<span>ثم ركب وركبت معه  فانتهى إلى الناس

Dalam riwayat Ibnu Asakir (Tarikh Ibnu Asakir, XXVI:229) dengan dua redaksi

ثم أقبل فأقبلت معه حتى نجد الناس

فأقبلنا نسير حتى نجد الناس في الصلاة

Kalimat diatas, baik rakibnaa/rakibtu ma’ahu ataupun aqbala faaqbala ma’ahu akan kita artikan apa?  Kalimat-kalimat inilah yang sebenarnya tidak boleh diabaikan dalam memahami makna hadis-hadis tersebut, karena akan menjadi dilalah (petunjuk) bahwa sejak keberangkatan menuju rombongan Abdurrahman bin Auf, Rasulullah itu tidak sendiri-sendiri, tetapi bersama-sama dengan al-Mughirah, demikian pula ketika melaksanakan rakaat salat yang ketinggalan itu Rasulullah berjama’ah dengan al-Mughirah

(e)              Kalau keterangan al-Mughirah itu dibaca secara syumuli (komprehensif, utuh) tidak sepotong-sepotong,  tentu tidak perlu ada pernyataan: ” Kalau al-Mughirah berjamaah kepada Rasul tentu dia akan menggunakan kata yang mengandung makna berjamaah seperti:

صلى بي رسول الله صلى الله عليه وسلم

قام رسول الله فقمت

ركع رسول الله فركعت

فاقتديت به صلى الله عليه وسلم

Karena itu akan menganggap al-Mugirah tidak paham akan gaya dan struktur bahasa Arab.

Dan hemat kami, munculnya pernyataan dengan contoh-contoh kalimat seperti itu karena penulis terjebak dengan pertanyaannya sendiri pada point 5: Bagaimana cara menyelesaikannya? Sehingga dengan kalimat-kalimat itu, al-Mughirah dipaksa oleh penulis untuk menjawab pertanyaan yang dibuatnya sendiri. Padahal fokus al-Mughirah bukan hendak menerangkan kaifiyat dan format berjamaah, tapi hendak menjelaskan bahwa (a) Rasul pernah menjadi makmum, dan ini peristiwa langka sepanjang kehidupan beliau, (b) Rasul pernah masbuk berjamaah. Adapun kaifiyat dan format berjamaahnya diterangkan oleh para sahabat lainnya dan sudah dimaklumi oleh al-Mughirah berlaku ‘am (umum), baik untuk yang star dari awal maupun yang masbuk.

src: http://www.facebook.com/notes/amin-saefullah-muchtar/masbuq-berjamaah-bidahkah-1/156373231060730

Masbuq Berjamaah Bid’ahkah 2 (Habis)?

Ada yang berpendapat bahwa makmum yang masbuk dalam menyempurnakan kekurangannya tidak boleh dilakukan secara berjamaah, dengan alasan  Nabi saw. tidak mencontohkannya. Adapun dalil yang menunjukkan Rasulullah saw. masbuk bersama al-Mughirah bin Syu’bah, lalu menyelesaikan/menyempurnakan kekurangan rakaatnya dengan cara berjamaah ditolak dengan alasan bahwa salatnya itu sendiri-sendiri, tidak berjamaah. Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir ‘Abdat, di dalam Buku Risalah Bid’ah, hal. 190, menyatakan: Bid’ah ini tegas-tegas telah menyalahi Sunnah: Nabi shallahu’alaihi wa sallambersama Mughirah bin Syu’bah pernah menjadi masbuq di dalam peperangan Tabuk. Ketika Abdurrahman bin ‘Auf yang menjadi imam shalat memberi salam (selesai shalat), kemudian Nabi shallahu’alaihi wa sallam dan Mughirah menyempurnakan satu raka’at yang tertinggal sendiri-sendiri tidak membikin jama’ah. (Hadits riwayat Muslim dan lain-lain.)

Tanggapan Tentang Dalil

Didalam tulisan tersebut ada 3 hal yang harus dikritisi:

1.       Hemat kami dalam penunjukkan dalil tersebut terdapat “ketidakjujuran”, apakah yang dimuat dalam buku itu terjemah hadisnya atau fiqih penulis? Dengan cara penunjukan seperti itu, pembaca akan menyangka bahwa hadis tentang masbuk itu demikian adanya. Mengapa teks Arabnya tidak ditampilkan? Padahal teks Arab itulah yang akan menjadi acuan dalam dua hal: a. analisis tepat dan tidaknya penulis dalam memahami maksud hadis tersebut, b. analisis benar dan tidaknya penulis dalam istibath ahkam (penetapan kesimpulan hukum) bahwa “masbuk berjamaah itu bid’ah”

2.       Dalam terjemah itu ditulis kalimat: sendiri-sendiri tidak membikin jama’ah. Dengan terjemah itu seolah-olah demikian adanya praktek Rasulullah ketika masbuk. Padahal dalam teks Arabnya tidak ada sedikitpun kalimat yang menunjukkan arti seperti itu. Andaikata penulis secara jujur menyatakan bahwa kalimat itu adalah fiqih penulis bukan terjemah dari teks hadis, tentu pembaca akan memaklumi latar belakang mengapa beliau membid’ahkan amal seperti itu, yakni “karena cara memahaminya seperti itu!”

3.       Diakhir terjemah itu disebutkan: “hadis riwayat Muslim dan lain-lain”, tanpa menjelaskan “Riwayat Muslim yang mana?”, “siapa lain-lain yang dimaksud?” dan “berapa orang?”. Hal ini penting dianalisis mengingat: a. Riwayat Muslim dan lain-lain itu menggunakan beberapa redaksi, b. Dengan cara penyebutan mukharij (pencatat hadis) seperti itu akan dipahamkan oleh pembaca seolah-olah kalimat sendiri-sendiri tidak membikin jama’ah tersebut tercatat dalam riwayat Muslim dan lain-lain itu. Benarkah demikian?

Untuk lebih jelasnya mari kita kaji secara cermat masalah ini dengan penuh kejujuran:

Perlu diketahui bahwa peristiwa Nabi masbuk bersama al-Mughirah terjadi pada perak Tabuk tahun 9 H (Lihat, al-Bidayah wan Nihayah, V:2). Selain itu, hadis tentang peristiwa Nabi masbuk bersama al-Mughirah diriwayatkan oleh lebih dari 25 mukharrij, melalui sekitar 60 orang, semuanya menerima dari al-Mughirah bin Syu’bah, dengan bentuk pelaporan sebagai berikut

1. Hanya dilaporkan peristiwa awalnya, antara lain

أَنَّهُ كَانَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ وَأَنَّهُ ذَهَبَ لِحَاجَةٍ لَهُ وَأَنَّ مُغِيرَةَ جَعَلَ يَصُبُّ الْمَاءَ عَلَيْهِ وَهُوَ يَتَوَضَّأُ فَغَسَلَ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ وَمَسَحَ بِرَأْسِهِ وَمَسَحَ عَلَى الْخُفَّيْنِ

Sesungguhnya al-Mughirah bersama Nabi saw. dalam satu perjalanan, dan sesungguhnya beliau pergi untuk qadha hajat (buang air), dan sesungguhnya Mughirah mulai mencucurkan air kepadanya ketika beliau berwudhu, maka Nabi mencuci wajah dan kedua tangannya, mengusap kepalanya, dan mengusap kedua khufnya. H.r. Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, 1997, hal. 44, No. 182, kitabul wudhu, bab ar-Rajulu yuwadhi-u shahibahu

2. Dilaporkan peristiwa akhirnya, antara lain dalam riwayat Ibnu Khuzaimah (Shahih Ibnu Khuzaimah, II:135, No. 1.064)

وقال ثم ركبنا فأدركنا الناس قد تقدم عبد الرحمن بن عوف وقد صلى بهم ركعة وهو في الثانية فذهبت أوذنه فنهاني فصلينا الركعة التي أدركنا وقضينا التي سبقنا – إبن خزيمة 2: 135 –

3. Dilaporkan secara lengkap, antara lain dalam riwayat Muslim dengan redaksi

عَنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ قَالَ تَخَلَّفَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَتَخَلَّفْتُ مَعَهُ فَلَمَّا قَضَى حَاجَتَهُ قَالَ أَمَعَكَ مَاءٌ فَأَتَيْتُهُ بِمِطْهَرَةٍ فَغَسَلَ كَفَّيْهِ وَوَجْهَهُ ثُمَّ ذَهَبَ يَحْسِرُ عَنْ ذِرَاعَيْهِ فَضَاقَ كُمُّ الْجُبَّةِ فَأَخْرَجَ يَدَهُ مِنْ تَحْتِ الْجُبَّةِ وَأَلْقَى الْجُبَّةَ عَلَى مَنْكِبَيْهِ وَغَسَلَ ذِرَاعَيْهِ وَمَسَحَ بِنَاصِيَتِهِ وَعَلَى الْعِمَامَةِ وَعَلَى خُفَّيْهِ ثُمَّ رَكِبَ وَرَكِبْتُ <span>فَانْتَهَيْنَا إِلَى الْقَوْمِ</span> وَقَدْ قَامُوا فِي الصَّلاَةِ يُصَلِّي بِهِمْ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ وَقَدْ رَكَعَ بِهِمْ رَكْعَةً فَلَمَّا أَحَسَّ بِالنَّبِيِّ  صلى الله عليه وسلم  ذَهَبَ يَتَأَخَّرُ فَأَوْمَأَ إِلَيْهِ فَصَلَّى بِهِمْ فَلَمَّا سَلَّمَ قَامَ النَّبِيُّ  صلى الله عليه وسلم وَقُمْتُ <span>فَرَكَعْنَا الرَّكْعَةَ الَّتِي سَبَقَتْنَا</span> – رواه مسلم –

Dari Al-Mughirah bin Syu’bah, ia berkata, “Rasulullah saw. ketinggalan rombongan demikian juga aku bersamanya. Ketika beliau telah menyelasaikan hajatnya, beliau bersabda, “Apakah kamu membawa air?” Maka aku mendatanginya dengan membawa air, lalu beliau mencuci kedua telapak tangannya, dan wajahnya, lalu mulai membuka baju dari kedua lengannya, tetapi sempit…jubahnya, maka beliau mengeluarkan sebelah tangannya dari bawah jubah, dan menempatkan jubahnya di atas kedua pundaknya, lalu beliau mencuci lengannya dan mengusap imamah serta kedua khufnya. Kemudian beliau menaiki kendaraannya dan aku pun berkendaraan bersamanya. Maka kami sampai kepada kaum (rombongan itu), ternyata mereka telah melaksanakan salat dan Abdurrahman bin Auf yang mengimami mereka, mereka telah salat satu rakaat. Tatkala Abdurrahman bin Auf merasa bahwa Nabi datang, ia berusaha untuk mundur, tetapi Nabi berisyarat agar Abdurrahman bin Auf tetap pada tempatnya mengimami mereka. Tatkala Abdurrahman bin Auf (bersama jama’ah) melakukan salam (selesai dari salatnya), Nabi saw. berdiri dan aku pun berdiri, lalu kami melaksanakan rakaat salat yang ketinggalan itu. “ H.r. Muslim I : 230, No. 274, babul mashi ‘alan nashiyah wal ‘imamah

Dalam riwayat Muslim melalui jalur lainnya, menggunakan redaksi

أَنَّهُ غَزَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَبُوكَ …– صحيح مسلم 1: 317 كتاب الصلاة  باب تقديم الجماعة من يصلي بهم إذا تأخر الإمام ولم يخافوا مفسدة بالتقديم

Dalam riwayat Ahmad (al-Musnad, XXX:77, No. 17.145) dengan redaksi

تَخَلَّفْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ …

Dalam riwayat Ibnu Asakir (Tarikh Ibnu Asakir, XXVI:229) dijelaskan

…وأنا معه في غزوة تبوك قبل الفجر …

Beberapa hal yang perlu dikritisi:

1. Seandainya kalimat sendiri-sendiri tidak membikin jama’ah itu benar-benar tercatat dalam riwayat Muslim, dari kalimat mana bisa diterjemahkan demikian? Sebab dalam riwayat tersebut menggunakan dhomir (kata ganti) nahnu (mutakallim ma’al ghair), yakni kalimat

فَرَكَعْنَا الرَّكْعَةَ الَّتِي سَبَقَتْنَا

lalu kami melaksanakan rakaat salat yang ketinggalan itu.

Penggunaan dhamir nahnu secara makna asal (hakiki) menunjukkan bahwa orang pertama dan ketiga (yang dibicarakan) melakukan suatu perbuatan secara bersama-sama. Berarti melakukan rakaat salat yang ketinggalan itu dengan berjamaah. Apabila tidak diartikan demikian harus menunjukkan qarinah (keterangan pendukung). Sebagai perbandingan kita lihat penggunaan dhamir yang sama pada kalimat sebelumnya dalam riwayat Muslim

فَانْتَهَيْنَا إِلَى الْقَوْمِ

Maka kami sampai kepada kaum itu (rombongan)

Atau menggunakan kalimat ma’ahu (bersamanya)

فَأَقْبَلْتُ مَعَهُ حَتَّى نَجِدُ النَّاسَ

Maka aku berangkat bersama beliau, hingga menemui/mendapati orang-orang

Kalimat-kalimat tersebut akan akan diartikan apa? Seandainya konsisten dengan fiqihnya, maka kalimat tersebut harus diartikan: “kami sampai kepada kaum itu sendiri-sendiri” Cara mengartikan seperti ini jelas menyalahi kaidah, sebab apa fungsi kalimat “kami” bila berangkatnya itu sendiri-sendiri? Karena itu, untuk mengartikan demikian (sendiri-sendiri) harus menunjukkan qarinah, sebagai perbandingan

4117 عن حسن بن عقبة قال كنا مع الضحاك فقال إن كان منكم من يتقدم فليؤذن وليصل قال فأبوا فصلينا وحدانا – مصنف ابن أبي شيبة 1: 358 –

Yang jadi pertanyaan: adakah qarinah yang dapat memalingkan makna bersama-sama kepada sendiri-sendiri seperti kata wuhdanan tersebut? Sangat disayangkan pada buku tersebut: a. tidak ditunjukkan qarinahnya, b. kalimat sebelumnya juga tidak dimuat, padahal dengan kalimat-kalimat tersebut semakin memperkuat dilalah (petunjuk) berjamaahnya Rasul dengan al-Mughirah.

2. Demikian pula seandainya kalimat itu benar-benar tercatat dalam riwayat imam lainnya, dari kalimat mana bisa diterjemahkan demikian? Sebab dalam riwayat-riwayat tersebut menggunakan dhomir yang sama (nahnu), antara lain: dalam riwayat Ahmad (al-Musnad, XXX:59-60, No. 18.134); at-Thabrani (al-Mu’jamul Kabir, XX:428, No. 1.037); Ibnu Khuzaimah (Shahih Ibnu Khuzaimah, II:135, No. 1.064)menggunakan redaksi

<span>فَصَلَّيْنَا الرَّكْعَةَ </span>الَّتِي أَ<span>دْرَكْنَا وَقَضَيْنَا الرَّكْعَةَ</span> الَّتِي <span>سُبِقْنَا</span>

Dalam riwayat Ibnu Abdil Barr (at-Tamhid, XI:160) dengan redaksi

فصلينا الركعة التي أدركنا وقضينا الركعة التي سبقتنا

Dalam riwayat at-Thabrani (al-Mu’jamul Ausath, II:102, No. 1.389) dengan redaksi

فصلينا معه ركعة وقضينا الركعة التي فاتتنا

Dalam riwayat Ibnu Hiban (Shahih Ibnu Hiban, IV:178, No. 1.347) dengan redaksi

قام النبي صلى الله عليه وسلم و المغيرة فأكملا ما سبقهما – 4: 178 –

Sedangkan dalam riwayat  al-Baihaqi (as-Sunanul Kubra, III:92, No. 4.922, as-Sunanus Sughra, I:99, No. 124) sebelum kalimat itu ditegaskan

… <span>فلما سلم قام النبي صلى الله عليه وسلم وقمت معه فركعنا الركعة التي سبقنا</span> – البيهقي في الكبرى 3: 92 –

…<span>فلما سلم قام النبي صلى الله عليه وسلم وقمت معه فركعنا الركعة التي سبقتنا</span> – البيهقي في الصغرى 1: 99

 

Kalimat qaman nabiyyu wa qumtu ma’ahu di atas akan akan diartikan apa? Seandainya konsisten dengan fiqihnya, maka kalimat tersebut harus diartikan: “Nabi berdiri dan aku pun berdiri bersama beliau sendiri-sendiri” Cara mengartikan seperti ini jelas amat rancu, sebab fungsi kalimat “ma’ahu” itu menunjukkan bersama-sama bukan sendiri-sendiri? Apakah ada qarinah yang dapat memalingkan kalimat ma’ahumenjadi bermakna masing-masing? Sangat disayangkan pada buku tersebut hadis yang menggunakan kalimat ma’ahu sengaja tidak dicantumkan, ataukah belum ditemukan?

Sebagai perbandingan kita lihat penggunaan dhamir yang sama pada kalimat sebelumnya dalam riwayat Ahmad (al-Musnad, XXX:59-60, No. 18.134) dengan redaksi

وَرَكِبْنَا فَأَدْرَكْنَا النَّاسَ

Dalam riwayat  al-Baihaqi (as-Sunanul Kubra, III:92, No. 4.922, as-Sunanus Sughra, I:99, No. 124) dengan redaksi

ثم ركب وركبت فانتهينا إلى القوم

Dalam riwayat Ibnu Hiban (Shahih Ibnu Hiban, IV:178, No. 1.347) dengan redaksi

1347 … ثم ركب وركبت معه فانتهى إلى الناس

Dalam riwayat Ibnu Asakir (Tarikh Ibnu Asakir, XXVI:229) dengan dua redaksi

ثم أقبل فأقبلت معه حتى نجد الناس

فأقبلنا نسير حتى نجد الناس في الصلاة

قد قدموا عبد الرحمن بن عوف فصلى بهم حين كان وقت الصلاة ووجدنا عبد الرحمن بن عوف قد ركع بهم ركعة من صلاة الفجر

Kalimat diatas, baik rakibnaa ataupun rakibtu ma’ahu akan kita artikan apa?  Kalimat-kalimat inilah yang sebenarnya tidak boleh diabaikan dalam memahami makna hadis-hadis tersebut, karena akan menjadi dilalah (petunjuk) bahwa sejak keberangkatan menuju rombongan Abdurrahman bin Auf, Rasulullah itu tidak sendiri-sendiri, tetapi bersama-sama dengan al-Mughirah, demikian pula ketika melaksanakan rakaat salat yang ketinggalan itu Rasulullah berjama’ah dengan al-Mughirah

 

Dari berbagai keterangan di atas kami berkesimpulan

1.       Masbuk berjamaah itu sesuai dengan sunah Rasul

2.       Penambahan kalimat sendiri-sendiri tidak membikin jama’ah pada hadis tentang masbuknya Rasul dan al-Mugirah merupakan perbuatan bid’ah.

src: http://www.facebook.com/notes/amin-saefullah-muchtar/masbuq-berjamaah-bidahkah-2-habis/156378024393584



 

About rendyadamf
assalamu'alaikum wrwb..salam kenal buat teman - teman semuanya..gw rendy TTL : Bandung, 30-06-84. gw kuliah di UNISBA. gw nulis blog ini hanya untuk curahkan semua pemikiran gw..dan gw udah ubah haluan jalan hidup gw..menjadikan jihad sebagai satu-satunya jalan hidup gw!!

2 Responses to Masbuq Berjamaah

  1. Assalaamu’alaikum wr wb…

    Ya akhi, kata ma’iyyah dlm bahasa Arab digunakan untuk menggabungkan dua hal yg memiliki persamaan walupun dlm satu sisi saja. Seperti ketika seseorang mengatakan: (صليت العيد مع علي وعمر) ini menunjukkan bahwa si mutakallim melakukan shalat ‘ied bersama dengan Ali dan Umar. Tidak ada konsekuensi dari ungkapan ini bahwa si mutakallim bermakmum dengan Ali atau Umar seperti yg terjadi dalam shalat berjama’ah. Perkataan Mughirah di atas juga tidak berkonsekuensi bahwa beliau bermakmum dengan Rasulullah, namun sekedar menunjukkan bahwa beliau dan Rasulullah sama-sama mengqadha’ satu raka’at yg tertinggal tsb. Karena hukum asalnya adalah baik beliau maupun Mughirah sama-sama dlm posisi ma’mum, bukan imam dan ma’mum. Karenanya, hukum asal ini tetap berlaku selama tidak ada nas yg menggesernya. Berangkat dari sini, kita mestinya mencari dalil lain yg lebih sharih, yg menunjukkan bahwa ketika meng-qadha’ satu roka’at tadi Nabi berubah statusnya menjadi Imam, dan Mughirah menjadi ma’mum beliau. Nah, adakah dalil tsb?
    Kalau tidak ada, maka al ashlu baqaa’u maa kaana ‘ala maa kaana. Bukankah demikian? Apalagi mengingat kejadian ini hanya terjadi sekali, dan memiliki ihtimal lain (selain yg antum taqrirkan); maka bagi yg menetapkan sunnahnya berjama’ah antar sesama masbuk harus punya dalil lain yg menafikan adanya ihtimal lain tsb. Sebab kaidahnya ialah: Idza waradal ihtimaal, bathalal istidlaal. Jika ada kemungkinan lain (selain yg disebutkan oleh si pengguna dalil), maka cara berdalil yg digunakannya menjadi batal.
    Kalau memang pemahaman antum itu benar, maka tolong sebutkan ucapan ulama salaf yg mu’tabar yg mendukung kesimpulan tsb. Sebab mustahil rasanya kalau sunnah tsb tidak diamalkan kecuali oleh golongan tertentu di Indonesia (setahu ana) setelah belasan Abad dari terjadinya peristiwa tsb. Ana mensyaratkan agar ulama ybs (kalau memang ada) termasuk as salafus shalih, bukan mutaakhkhirin yg sulit untuk dijadikan pegangan mengingat banyak di antara mereka sendiri tidak selamat dari bid’ah, wallaahul musta’an). Mohon antum nukilkan perkataan tsb, atau dalil lain yg sharih, agar kita bisa menerimanya sebagai masalah ijtihadiyah, bukan bid’ah.

  2. rendyadamf says:

    wa’alaykumussalam..owh iya maaf br bls br lihat komentar🙂

    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَدَخَلَ رَجُلٌ فَصَلَّى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَدَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ السَّلَامَ فَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ فَصَلَّى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ ثَلَاثًا فَقَالَ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ فَمَا أُحْسِنُ غَيْرَهُ فَعَلِّمْنِي قَالَ إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنْ الْقُرْآنِ ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلَاتِكَ كُلِّهَا. رواه البخاري، فتح الباري 2: 277.
    Dari Abu Huraerah sesungguhnya Nabi saw. masuk ke masjid, kemudian seorang laki-laki datang lalu salat, kemudian salam kepada Nabi, dan Nabi pun membalas salamnya. Lalu Nabi bersabda, “Kembalilah salat sesungguhnya kamu tidak salat” (Tiga kali beliau mengulangi demikian). Kemudian dia berkata, “Demi Zat yang mengutusmu dengan hak, aku tidak bisa melakukan yang baik selain itu, maka ajarkanlah kepadaku”. Beliau bersabda, “Apabila kamu salat hendaklah takbir, kemudian bacalah Alquran yang ringan, yang kamu hafal, kemudian rukulah sehingga tumakninah. Kemudian bangkitlah sehingga tegak berdiri. Lalu sujudlah sehingga tumakninah. Kemudian bangkit sehingga dudukmu tumakninah, kemudian sujudlah sehingga tumakninah. Lakukanlah yang demikian itu dalam seluruh salatmu.” H.r. al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, I:263, No. 724; Muslim, Shahih Muslim, I:298, No. 397; Abu Daud, Sunan Abu Daud, I:226, No. 856; at-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi, II:103, No. 303; an-Nasai, Sunan an-Nasai, II:124, No. 884.

    Dalam riwayat Ahmad dan Ibnu Hiban dengan redaksi:
    ثمَّ اصْنَعْ ذَلِكَ فِي كُلِ رَكْعَةٍ
    ‘Lakukanlah yang demikian itu pada setiap rakaat’ Musnad Ahmad, IV:340, No. 19.017; Shahih Ibnu Hiban, V:88, No. 1787

    Hadis ini secara mantuq (makna tersurat) menetapkan bahwa rakaat itu terdiri atas qiyam, baca al-fatihah, ruku, i’tidal ruku, sujud, duduk di antara dua sujud, dan sujud. Sedangkan secara mafhum menetapkan siapa yang terlewat sejak qiyam dan baca al-fatihah, ia tertinggal satu rakaat.

    Berdasarkan dalil-dalil di atas, Abu Huraerah menegaskan:
    إِذَا أَدْرَكْتَ الْقَوْمَ رُكُوْعًا لَمْ تَعْتَدَّ بِتِلْكَ الرَّكْعَةِ
    “Apabila kamu menyusul jama’ah salat sedang ruku, maka janganlah kamu hitung rakaat itu” H.r. al-Bukhari, al-Qiraah Khalf al-Imam, hal. 180, No. 173

    Sehubungan dengan itu, Abu Sa’id dan Aisyah berfatwa:
    لاَ يَرْكَعْ أَحَدُكُم حَتَّى يَقْرَأَ بِأُمِّ الْقُرْآنِ
    “Seseorang di antara kamu jangan ruku sehingga ia membaca al-Fatihah’.” H.r. al-Bukhari, al-Qiraah Khalf al-Imam, hal. 99

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: