Mengangkat Tangan Ketika Berdoa

MENGANGKAT TANGAN KETIKA BERDOA

Oleh: Ibnu Muchtar

Al-du’a adalah permohonan dari yang lebih rendah kepada yang lebih tinggi kedudukannya. Allah swt. berada pada kedudukan yang paling tinggi (pengabul do’a), sedangkan manusia berada pada kedudukan yang paling rendah (pemohon do’a). diantara sifat-sifat Allah swt. adalah sifat Rahman dan Rahiem. Mengenai hal ini, Ibnu al-Mubarak mengatakan, ‘ar-Rahman (pengasih) adalah apabila Ia diminta, niscaya Ia akan mengabulkan permintaan itu, sedang ar-Rahiem (penyayang) adalah apabila Ia tidak diminta, tentu Ia murka, sebagaimana Rasulullah saw. bersabda, ‘siapa orang yang tidak meminta kepada Allah swt. tentu Ia murka kepada orang itu”. Hr. al-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari  Abu Hurairah’. (Lihat, Umdatut Tafsir, 1 : 72)

Orang yang tidak pernah berdo’a  menunjukan sifat  takabur, padahal ia mempunyai banyak keperluan yang tidak hanya dapat dipenuhi oleh usahanya sendiri, melainkan harus melalui bantuan dan pertolongan Allah Swt. Apabila Allah memberi seorang hamba sesuatu dari dunia ini, akan tetapi ia tetap maksiyat kepada-Nya, maka hal itu adalah istidraj. Adapun orang yang banyak berdo’a, tentu akan lebih berhati-hati dalam bertindak, tidak akan berani melanggar aturan Allah swt. karena ia senantiasa ingin do’anya cepat terkabulkan.

Agar do’anya dapat dikabulkan, tentu saja berdo’a itu harus memenuhi aturan pengabul do’a (Allah swt), karena berdo’a disamping berfungsi sebagai permohonan hamba kepada Allah, berdo’a juga adalah ibadah (berbakti) kepada-Nya. Diantara adabud du’a adalah hendaklah tawadlu, penuh rasa rendah, lemah lembut, penuh harapan bahwa do’a itu akan dikabulkan serta tidak boleh berteriak-teriak, Rasulullah saw. bersabda :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِرْبََعُوْا  عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَإِنَّكُمْ لَا تَدْعُوْنَ أَصَم وَلَا غَائِبًا إِنَّهُ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ تَبَارَكَ اسْمُهُ وَتَعَالَى جَدُّهُ . –رواه البخارى-

“hai manusia ! peliharalah dirimu, sesungguhnya kamu tidak berdo’a kepada yang tuli, dan yang gaib, sesungguhnya ia bersamamu, ia maha mendengar dan maha dekat, maha berkah nama-Nya, dan maha tinggi keagungan-Nya”. Hr. al-Bukhari,  Shahih Al Bukhari ,II:168

Adapun mengenai mengangkat tangan ketika berdo’a, penulis kemukakan keterangan-keterangan sebagai berikut,

Pertama, mengangkat tangan ketika berdoa itu benar adanya dan dicontohkan oleh Rasulullah Saw., tetapi tidak pada semua doa. Secara umum dapat dibagi menjadi dua bagian

  1. A. Ketika Mendoakan Perseorangan dan umat
  2. Mendoakan Umat Agar Cacian Beliau Saat Marah Jadi Kebaikan Mereka.
  3. Mendoakan Muhajir Yang Bunuh Diri.
  4. Mendoakan Keselamatan Umat.
  5. Mendoakan Khalid bin Al Walid.
  6. Mendo’akan kaum Daus
  1. 1. Mendoakan Umat Agar Cacian Beliau Saat Marah Jadi Kebaikan Mereka

Dari Aisyah, ia berkata:

دَخَلَ عَلَيَّ النَّبِيُّ  r بِأَسِيرٍ فَلَهَوْتُ عَنْهُ فَذَهَبَ فَجَاءَ النَّبِيُّ  r فَقَالَ مَا فَعَلَ الأَسِيرُ قَالَتْ لَهَوْتُ عَنْهُ مَعَ النِّسْوَةِ فَخَرَجَ فَقَالَ مَا لَكِ قَطَعَ اللهُ يَدَكِ أَوْ يَدَيْكِ فَخَرَجَ فَآذَنَ بِهِ النَّاسَ فَطَلَبُوهُ فَجَاءُوا بِهِ فَدَخَلَ عَلَيَّ وَأَنَا أُقَلِّبُ يَدَيَّ فَقَالَ مَا لَكِ أَجُنِنْتِ قُلْتُ دَعَوْتَ عَلَيَّ فَأَنَا أُقَلِّبُ يَدَيَّ أَنْظُرُ أَيُّهُمَا يُقْطَعَانِ فَحَمِدَ اللهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ وَرَفَعَ يَدَيْهِ مَدًّا وَقَالَ اللَّهُمَّ إِنِّي بَشَرٌ أَغْضَبُ كَمَا يَغْضَبُ الْبَشَرُ فَأَيُّمَا مُؤْمِنٍ أَوْ مُؤْمِنَةٍ دَعَوْتُ عَلَيْهِ فَاجْعَلْهُ لَهُ زَكَاةً وَطُهُورًا.رواه احمد و إسحاق بن راهويه، و البيهقي

Nabi saw. menemuiku bersama seorang tawanan, lalu aku memalingkan perhatian darinya kemudian ia pergi. Maka datanglah Nabi saw. seraya berkata,’Apa yang dilakukan oleh tawanan itu? Aisyah berkata,’Aku bersama sekelomok perempuan memalingkan perhatian darinya lalu ia keluar. Nabi saw. berkata,’Kenapa dengan kamu! Apakah Allah akan memotong tanganmu atau kedua tanganmu? Lantas beliau keluar dan memberitahukan kepada orang-orang (agara mencari tawanan itu). Kemudian mereka mencarinya dan mereka datang bersama tawanan itu. Maka Nabi saw. mendatangiku pada saat itu aku membalikkan (mengebelakangkan) tanganku. Beliau berkata,’Kenapa denganmu, apakah kamu menutupinya? Aku berkata,’Engkau telah mendoakanku, maka aku mengebelakangkan tanganku, aku ingin melihat apakah keduanya terputus. Maka beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya serta mengangkat kedua tangannya tingi-tinggi seraya berdoa,’Ya Allah! Sesungguhnya aku ini manusia biasa, aku marah seperti manusia pun suka marah, maka mukmin atau mukminat mana saja yang aku pernah mendoakan (kejelekan), jadikanlah baginya sebagai pembersih dan penyuci (terhadap dosanya)”. H.r. Ahmad, Musnad al-Imam Ahmad, XXXX : 303, Ishaq bin Rahawaeh, al-Musnad, II : 543, Al Baehaqi, as Sunanul Kubra, IX : 98.

Syu’aeb Al Arnauth mengatakan, ’Sanad hadis ini shahih sesuai dengan syarat al-Bukhari & Muslim” Musnad al-Imam Ahmad, XXXX : 304.

  1. 2. Mendoakan Muhajir Yang Bunuh Diri

عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَدِمَ الطُّفَيْلُ بْنُ عَمْرٍو الدَّوْسِي عَلَى رَسُولِ اللهِ  r  بِمَكَّةَ …فَقَصَ الطُّفَيْلُ رُؤْيَاهُ عَلَى رَسُولِ اللهِ  r  فَرَفَعَ رَسُولُ اللهِ  r  يَدَيْهِ فَقَالَ اَللَّهُمَّ وَلِيْدَيْهِ فَاغْفِرْ اَللَّهُمَّ وَلِيَدَيْهِ  فَاغْفِرْ اَللَّهُمَّ وَلِيَدَيْهِ فَاغْفِرْ.رواه ابن حبان و الحاكم و ابو يعلى و البخاري،في الادب و الرفع و الطبراني في الأوسط

Dari Abu Az Zubair dari Jabir, ia mengatakan,’Thufail bin Amr ad Duwasi menjumpai Nabi Saw. di Makkah…Kemudian At Thufail menceritakan kisah (mimpinya) itu kepada Rasulullah Saw. lalu Rasulullah Saw. mengangkat kedua tanganya dan berdoa,’Ya Allah! Dan untuk kedua tanganya, ampunilah ia, ’Ya Allah! Dan untuk kedua tanganya, ampunilah ia, ’Ya Allah! Dan untuk kedua tanganya, ampunilah ia”. H.r. Ibnu Hiban, Shahih Ibnu Hiban, V : 9; Al Hakim, al Mustadrak, IV : 86; Abu Ya’la, Musnad Abu Ya’la, IV : 126; Al Bukhari, al Adabul Mufrad, hal. 215, Raf’ul Yadaeni Fis Shalah, hal. 140; At Thabrani,  al Mu’jamul Ausath, III : 204.

  1. 3. Mendoakan Keselamatan Umat

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّ النَّبِيَّ  r تَلاَ قَوْلَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي إِبْرَاهِيمَ ( رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي ) الآيَةَ. وَقَالَ عِيسَى عَلَيْهِ السَّلاَم ( إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ ) فَرَفَعَ يَدَيْهِ وَقَالَ اللَّهُمَّ أُمَّتِي أُمَّتِي وَبَكَى…رواه مسلم و ابو عوانة و النسائي والبيهقي وابن مندة

Dari Abdullah bin Amr bin al ‘Ash, sesungguhnya Nabi saw. membaca firman Allah azza wa jalla mengenai Ibrahim, ‘Ya Allah! Sesungguhnya mereka (berhala-berhala) telah banyak menyesatkan manusia, siapa yang mengikutiku sesungguhnya ia dari golonganku”. Dan Nabi Isa berkata,’Jika Engkau menyiksa mereka, sesungguhnya mereka itu adalah hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkau Mahaperkasa lagi Mahabijaksana”. Lalu Nabi saw. mengangkat kedua tanganya dan berdoa,’Ya Allah! Umatku-umatku! Sambil menangis”. H.r. Muslim, Shahih Muslim, I : 191, Abu ‘Awanah, al-Musnad, I : 137, An Nasai, as Sunanul Kubra, VI : 373, Al Baehaqi, Syu’abul Iman, I : 283, Ibnu Mundah, al Iman, II : 868.

  1. 4. Mendoakan Khalid bin AlWalid

عَنْ سَالِمٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ بَعَثَ النَّبِيُّ  r خَالِدَ بْنَ الْوَلِيدِ إِلَى بَنِي جَذِيمَةَ فَدَعَاهُمْ إِلَى الإِسْلاَمِ فَلَمْ يُحْسِنُوا أَنْ يَقُولُوا أَسْلَمْنَا فَجَعَلُوا يَقُولُونَ صَبَأْنَا صَبَأْنَا فَجَعَلَ خَالِدٌ يَقْتُلُ مِنْهُمْ … فَذَكَرْنَاهُ فَرَفَعَ النَّبِيُّ r يَدَهُ فَقَالَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَبْرَأُ إِلَيْكَ مِمَّا صَنَعَ خَالِدٌ مَرَّتَيْنِ .رواه البخاري و ابن حبان و البيهقي و النسائي و عبد الرزاق و احمد و عبد بن حميد

Dari Salim, dari bapaknya ia mengatakan,’Nabi Saw. mengutus Khalid bin Al Walid ke bani Jadzimah. Ia mengajak mereka untuk memeluk Islam, akan tetapi mereka tidak mengetahui (mengerti dengan baik) untuk mengatakan kami berserah diri. Bahkan mereka mengatakan,’Kami berpindah agama, kami berpindah agama. Maka mulailah Khalid membunuh salah seorang dari mereka…lalu kami terangkan hal itu kepada beliau, maka Nabi Saw. mengangkat tanga seraya berdoa,’Ya Allah! Sesungguhnya aku melepas diri dari apa yang telah diperbuat oleh Khalid (diucapkan dua kali).” H.r. Al Bukhari, Shahih al-Bukhari, III : 70, Ibnu Hiban, Shahih Ibnu Hiban, VII : 120, Al Baihaqi, as Sunanul Kubra, IX : 115, An Nasai, as Sunanul Kubra, III : 474, Abdurrazaq, al-Mushannaf, V : 222, X : 174, Ahmad, Musnad al Imam Ahmad, X : 444, Abd bin Humaid, al-Musnad, I : 239.

  1. 5. Ketika Mendoakan Kaum Daus

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ جَاءَ الطُّفَيْلُ بْنُ عَمْرٍو الدَّوْسِيُ إِلَى رَسُولِ اللهِ  r  فَقَالَ يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ دَوْسًا قَدْ عَصَتْ وَأَبَتْ فَادْعُ اللهَ عَلَيْهَا فَاسْتَقْبَلَ رَسُولُ اللهِ  r اَلْقِبْلَةَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ فَقَالَ النَّاسُ هَلَكَتْ دَوْسٌ فَقَالَ اَللّهُمَّ أهْدِ دَوْسًا وَأْتِ بِهِمْ.

Dari Abu Hurairah, r.a. telah datang At Thufail bin Amr Ad Duasi kepada Rasulullah Saw., ia mengatakan,’Wahai Rasulullah! Sesungguhnya Daus berpaling serta menolak (ajaran Islam), mohonlah (kecelakaan) kepada Allah untuknya. Kemudian Rasulullah Saw. mengadap kiblat sambil mengangkat kedua tanganya, lalu orang-orang berkata,’Celakalah”. Beliau bersabda,’Ya Allah! Tunjukkanlah (kebenaran) kepada Daus serta berilah (hidayah) kepada mereka”. H.r. As Syafii, Musnad as Syafi,i, II : 199, as Sunanul Ma’tsurah, I : 352, al Umm, I : 162, Ahmad, Musnad al Imam Ahmad, II : 266; Fadlailus Shahabah, II : 884, Al Humaidi, al Musnad, II : 453, At Thabrani, al Mu’jamul Kabir, VIII : 391, Abul Hasan Abdul Baqi bin Qani’, Mu’jamus Shahabah, II : 51, Al Bukhari, Raf’ul Yadaini Fis Sholah, hal. 140, al Adabul Mufrad, hal. 185, Al Baihaqi, ad Da’awat al Kubra, hal. 274, Al Bagawi, Syarhus Sunnah, V : 150.

Hadis di atas diriwayatkan pula oleh Al Bukhari (Shahih al Bukhari, III : 1073), Muslim (Shahih Muslim, IV : 1957) dan At Thabrani (al Mu’jamul Kabir, VIII : 390), tanpa keterangan Fastaqbalal qiblati wa rafa’a yadaihi

Sedangkan dalam periwayatan Ibnu Hiban (Shahih Ibnu Hiban, II : 162), dan Ishaq bin Rahawaih (al Musnad, I : 186), dengan lafal:

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللهِ  r فَذَكَرَ دَوْسًا فَقَالَ إِنَّهُمْ فَذَكَرَ رِجَالَهُمْ وَنِسَاءَهُمْ فَرَفَعَ النَّبِيُ r يَدَيْهِ فَقَالَ الرَّجُلُ إِنَّا للهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ   هَلَكَتْ دَوْسٌ وَرَّبُ الْكَعْبَةِ فَرَفَعَ النَّبِيُ   rيَدَيْهِ وَقَالَ اَللَّهُمَّ اهْدِ دَوْسًا

Seseorang datang kepada Rasulullah Saw. lalu ia menerangkau Daus. Ia berkata,’Sesungguhnya mereka – ia menerangkan tentang laki-laki juga perempuan mereka – kemudian Nabi Saw. mengangkat kedua tanganya. Maka berkatalah laki-laki itu,’Inna lillahi wa inna ilaihi raji’uun”, celaka Daus dan demi Yang mengurus Ka’bah. Nabi Saw. mengangkat kedua tanganya seraya berdoa,’Ya Allah! Tunjukkanlah (kebenaran) kepada Daus.

Hadis di atas sanadnya shahih sesuai dengan syarat al Bukhari Muslim (Lihat, Ta’liq ‘ala Musnad al Imam Ahmad, XII : 266)

Adapun mengangkat tangan ketika mendoakan

  1. Saad Bin Ubadah.
  2. Ahlul Bait.
  3. Usman bin Afan.
  4. Ali bin Abu Thalib.
  5. Usamah bin Zaid.
  6. Ketika Ber-Isti’adzah dari Fitnah Dajal.
  7. Al Walid bin Uqbah.

Hadis-hadisnya daif (keterangan terlampir)

  1. B. Ketika berdoa pada Ibadah Tertentu
  2. Berdoa di  Bukit Shofa dan Marwah.
  3. Berdoa di Jamratain (Jumrah Sugra dan Wustha).
  4. Berdoa dan Berzikir Wukuf di Arafah.
  5. Berdoa dan Berzikir Ketika Terjadi Gerhana.
  6. Berdoa pada Istisqa.
  7. Berdoa Setelah Wudhu.
  8. Ketika Istigatsah Di Perang Badar.
  9. Doa Nabi Saw. di Kuburan Baqi.
  10. Berdoa Pada Qunut.
  1. 1. Berdoa di Bukit Shofa dan Marwah

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ… فَلَمَّا فَرَغَ مِنْ طَوَافِهِ أَتَى الصَّفَا فَعَلاَ عَلَيْهِ حَتَّى نَظَرَ إِلَى الْبَيْتِ وَرَفَعَ يَدَيْهِ فَجَعَلَ يَحْمَدُ اللهَ وَيَدْعُو بِمَا شَاءَ أَنْ يَدْعُوَ. رواه مسلم و ابن خزيمة و ابو عوانة و البيهقي و ابن أبي شيبة

Dari Abu Hurairah, ia mengatakan,’…Ketika Rasulullah Saw. selesai dari thawafnya, beliau datang ke Shafa, lalu naik sampai beliau melihat Al Bait (Ka’bah), kemudian beliau mengangkat kedua tanganya, lalu mulailah membaca tahmid (memuji kepada Allah) dan berdoa apa yang ia kehendaki”. H.r. Muslim, Shahih Muslim, III : 1406, Ibnu Khuzaimah, Shahih Ibnu Khuzaimah, IV : 230, Abu ‘Awanah, al-Musnad, IV : 290, Al Baihaqi, as Sunanul Kubra, IX : 117, Ibnu Abu Syaibah, al-Mushannaf, VII : 397.

  1. 2. Ketika Berdoa di Jamratain (jumrah sugra dan wustha)

عَنِ الزُّهْرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللهِ  r كَانَ إِذَا رَمَى الْجَمْرَةَ الَّتِي تَلِي مَسْجِدَ مِنًى يَرْمِيهَا بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ يُكَبِّرُ كُلَّمَا رَمَى بِحَصَاةٍ ثُمَّ تَقَدَّمَ أَمَامَهَا فَوَقَفَ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ رَافِعًا يَدَيْهِ يَدْعُو وَكَانَ يُطِيلُ الْوُقُوفَ ثُمَّ يَأْتِي الْجَمْرَةَ الثَّانِيَةَ فَيَرْمِيهَا بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ يُكَبِّرُ كُلَّمَا رَمَى بِحَصَاةٍ ثُمَّ يَنْحَدِرُ ذَاتَ الْيَسَارِ مِمَّا يَلِي الْوَادِيَ فَيَقِفُ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ رَافِعًا يَدَيْهِ يَدْعُو ثُمَّ يَأْتِي الْجَمْرَةَ الَّتِي عِنْدَ الْعَقَبَةِ فَيَرْمِيهَا بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ يُكَبِّرُ عِنْدَ كُلِّ حَصَاةٍ ثُمَّ يَنْصَرِفُ وَلاَ يَقِفُ عِنْدَهَا قَالَ الزُّهْرِيُّ سَمِعْتُ سَالِمَ بْنَ عَبْدِاللهِ يُحَدِّثُ مِثْلَ هَذَا عَنْ أَبِيهِ عَنِ النَّبِيِّ  r وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَفْعَلُهُ . رواه البخاري و ابن خزيمة و الحاكم و الدارمي و النسائي والبيهقي و الدارقطني

Dari Az Zuhri, sesungguhnya Rasulullah Saw. melontar al Jumrah yang berdekatan dengan mesjid di mina, beliau melemparinya dengan tujuh batu kecil. Beliau bertakbir pada setiap kali lemparan lalu berdiri di depanya menghadap kiblat, berdoa dengan mengangkat kedua tanganya dan berdiri di situ lama sekali. Kemudian beliau mendatangi al Jamrah yang kedua lalu melamparinya dengan tujuh batu kecil. Beliau bertakbir pada setiap kali lemparan, lalu menepi kesebelah kiri al Wadi berdiri mengahadap kiblat berdoa dengan mengangkat kedua tangannya. Kemudian mendatangi al Jamrah Aqabah, lalu beliau melemparinya dengan tujuh batu kecil, beliau bertakbir pada setiap kali lemparan, lalu pergi dan tidak berhenti dahulu di situ”. Az Zuhri mengatakan,’Saya mendengar Salim bin Abdullah menceritakan seperti itu dari ayahnya dari Nabi Saw. dan Ibnu Umar pun mengamalkannya. H.r. Al Bukhari, Shahih al Bukhari, I : 368, Ibnu Khuzaimah, Shahih Ibnu Khuzaimah, IV : 317, Al Hakim, al-Mustadrak, I : 478, Ad Darimi, Sunan ad Darimi, II : 63, An Nasai, Sunan an Nasai (as-Shugra), V : 276; as Sunanul Kubra,’II : 441, Al Baihaqi, as Sunanul Kubra, V: 148, Ad Daraquthni, Sunan Ad Daraquthni, II : 275.

3.  Berdoa dan Berzikir Ketika Wuquf di Arafah

عَنْ عَطَاءٍ قَالَ قَالَ أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ كُنْتُ رَدِيفَ النَّبِيِّ   r بِعَرَفَاتٍ فَرَفَعَ يَدَيْهِ يَدْعُو.

Dari Atha, ia mengatakan,’Usamah bin Zaid mengatakan,’Saya membonceng Nabi Saw. di Arafah, lalu beliau mengangkat kedua tanganya sambil berdoa” H.r. Ibnu Khuzaemah, Shahih Ibnu Khuzaemah, IV : 258, An Nasai, Sunan an Nasai, V : 254; as Sunanul Kubra, II : 423, Ahmad, Musnad al Imam Ahmad, XXXVI : 146, Al Baihaqi, as Sunanul Kubra, V : 112, Abu Abdullah al Hanbali al Maqdisi, al Ahaditsil Mukhtarah, IV ; 123-124.

Dalam hadis lain diterangkan:

عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيٍّ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ دَخَلْنَا عَلَى جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ فَقُلْتُ أَخْبِرْنِي عَنْ حَجَّةِ النَّبِيِّ  r فَقَالَ رَكِبَ حَتَّى أَتَى الْمَوْقِفَ فَجَعَلَ بَطْنَ ناَقَتِهِ الْقَصْوَاءِ إِلَى الصَّخْرَاتِ وَجَعَلَ جَبَلَ الْمَشَّاةِ بَيْنَ يَدَيْهِ وَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ فَلَمْ يَزَلْ وَاقِفًا حَتَّى غَرَبَتِ الشَّمْسُ وَذَهَبَتِ الصَّفْرَةُ قَلِيْلاً حِيْنَ غَابَ الْقَرْصُ رَفَعَ الْيَدَيْنِ بِالدُّعَاءِ بِعَرَفَةَ. رواه النسائي، السنن الكبرى 2: 423.

Dari Ja’far bin Muhamad bin Ali dari bapaknya, ia mengatakan,’Kami menemui Jabir bin Abdullah, aku berkata,’Kabarilah aku tentang haji Nabi Saw.! Maka ia menerangkan,’Beliau (berangkat) menunggangi kendaraan sehingga sampai di tempat wuquf, beliau menjadikan perut untanya al Qaswa mengahadap As Shakhra serta menjadikan bukit Al Masyat di depannya, dan beliau menghadap kiblat terus-menerus wuquf sampai matahari terbenam dan mega kuning sedikit menghilang ketika waktu sore telah habis (masuk waktu Magrib), beliau mengangkat kedua tangan sambil berdoa di Arafah. H.r. An Nasai, as Sunanul Kubra, II : 423.

Dalam periwayatan At Thabrani, dari Jurairi diterangkan bahwa Rasulullah Saw. mengangkat kedua tangan ketika berdoa di Arafah tidak melebihi dari kepalanya. (al Mu’jamul Kabir, II:332)

4. Berdoa dan Berzikir Ketika Terjadi Gerhana

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ بَيْنَمَا أَنَا أَرْمِي بِأَسْهُمِي فِي حَيَاةِ رَسُولِ اللهِ   r إِذِ انْكَسَفَتِ الشَّمْسُ فَنَبَذْتُهُنَّ وَقُلْتُ لأَنْظُرَنَّ إِلَى مَا يَحْدُثُ لِرَسُولِ اللهِ  r فِي انْكِسَافِ الشَّمْسِ الْيَوْمَ فَانْتَهَيْتُ إِلَيْهِ وَهُوَ رَافِعٌ يَدَيْهِ يَدْعُو وَيُكَبِّرُ وَيَحْمَدُ وَيُهَلِّلُ حَتَّى جُلِّيَ عَنِ الشَّمْسِ فَقَرَأَ سُورَتَيْنِ وَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ.رواه مسلم و البيهقي و أبو داود

Dari Abdurrahman bin Samurah, ia mengatakan,’Ketika saya sedang main lempar panah pada masa Rasulullah Saw. tiba-tiba terjadi gerhana matahari, lalu saya meninggalkanya dan saya berkata,’Saya akan melihat apa yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. ketika terjadi gerhana pada hari itu. Kemudian saya menjumpai beliau, pada saat itu Rasulullah Saw. sedang mengangkat kedua tanganya berdoa, bertakbir, bertahmid, dan bertahlil sampai terang kembali. Maka beliau membaca dua surat dan salat dua rakaat”. H.r. Muslim, Shahih Muslim, II : 269, Al Baihaqi, as Sunanul Kubra, III : 332, Abu Daud, Sunan Abu Daud, I : 264.

5. Berdoa Pada Istisqa

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ   r لاَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ فِي شَيْءٍ مِنْ دُعَائِهِ إِلاَّ فِي الاسْتِسْقَاءِ وَإِنَّهُ يَرْفَعُ حَتَّى يُرَى بَيَاضُ إِبْطَيْهِ. رواه البخاري و مسلم و البيهقي و ابو داود و النسائي و ابن ماجه و احمد و ابو يعلى

Dari Anas bin Malik, bahwasanya Nabi Saw. tidak pernah mengangkat kedua tanganya ketika berdoa melainkan pada salat istisqa sampai terlihat putihnya kedua ketiaknya”. H.r. Al Bukhari, Shahih al Bukhari, I : 226, Muslim, Shahih Muslim, II : 216, , Al Baihaqi, as Sunanul Kubra, III : 357, Abu Daud, Sunan Abu Daud, I : 216, An Nasai, as Sunanul Kubra, I : 450, 559, Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, I : 373, Ahmad, Musnad al Imam Amad, XX : 231, Abu Ya’la, al-Musnad, V : 339, 346, 399.

  1. 6. Berdoa Setelah Wudhu

عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ لَمَّا فَرَغَ النَّبِيُّ  r مِنْ حُنَيْنٍ بَعَثَ أَبَا عَامِرٍ عَلَى جَيْشٍ إِلَى أَوْطَاسٍ … فَدَعَا بِمَاءٍ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ فَقَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعُبَيْدٍ أَبِي عَامِرٍ وَرَأَيْتُ بَيَاضَ إِبْطَيْهِ ثُمَّ قَالَ اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَوْقَ كَثِيرٍ مِنْ خَلْقِكَ مِنَ النَّاسِ فَقُلْتُ وَلِي فَاسْتَغْفِرْ فَقَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعَبْدِاللهِ بْنِ قَيْسٍ ذَنْبَهُ وَأَدْخِلْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مُدْخَلاً كَرِيمًا. رواه البخاري

Dari Abu Musa r.a. ia mengatakan,’Ketika Nabi Saw. selesai dari perang hunain, beliau mengutus Abu Amir untuk memimpin pasukan ke Authas…maka Nabi Saw. meminta air lalu beliau berwudlu, kemudian beliau mengangkat kedua tanganya berdoa,’Ya Allah! Ampunilah ‘Ubaid Abu Amir, aku melihat putihnya kedua ketiak beliau. Kemudian beliau berdoa lagi, ‘Ya Allah! Tempatkanlah ia di atas dari pada kebanyakkan manusia dari ciptaanMu. Kemudian aku (Abdullah bin Qais) berkata,’Ya Rasulullah! Mohonkanlah ampunan bagiku! Beliau bersabda,’Ya Allah! Ampunilah dosa-dosa Abdullah bin Qais, masukkanlah ia pada hari kiamat ke tempat yang sangat mulia”. H.r. Al Bukhari, Shahih al Bukhari, III : 67.

  1. 7. Ketika Istigotsah di Perang Badar

عَنْ عُمَرَ ابْنِ الْخَطَّابِ قَالَ لَمَّا كَانَ يَوْمُ بَدْرٍ نَظَرَ رَسُولُ اللهِ  r إِلَى الْمُشْرِكِينَ وَهُمْ أَلْفٌ وَأَصْحَابُهُ ثَلاَثُ مِائَةٍ وَتِسْعَةَ عَشَرَ رَجُلاً فَاسْتَقْبَلَ نَبِيُّ اللهِ  r الْقِبْلَةَ ثُمَّ مَدَّ يَدَيْهِ فَجَعَلَ يَهْتِفُ بِرَبِّهِ اللَّهُمَّ أَنْجِزْ لِي مَا وَعَدْتَنِي اللَّهُمَّ آتِ مَا وَعَدْتَنِي اللَّهُمَّ إِنْ تُهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةَ مِنْ أَهْلِ الإِسْلاَمِ لاَ تُعْبَدْ فِي الأَرْضِ فَمَا زَالَ يَهْتِفُ بِرَبِّهِ مَادًّا يَدَيْهِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ حَتَّى سَقَطَ رِدَاؤُهُ عَنْ مَنْكِبَيْهِ… فَأَنْزَلَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ ( إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ

Dari Umar bin Al Khathab, ia mengatakan,’Ketika perang Badar, Rasulullah Saw. melihat orang-orang musyrik itu beribu-ribu. Sedangkan para shahabatnya berjumlah sekitar tiga ratus sembilan belas orang. Lalu Nabi Saw. mengadap kiblat menadahlan tangan dan mulailah beliau menyeru Tuhanya,’Ya Allah! Penuhilah bagiku apa yang Engkau janjikan kepadaku, ya Allah! Berikanlah kepadaku apa yang Engkau janjikan terhadapku, ya Allah! Seandainya sekelompok dari ahli Islam ini binasa, tidak akan ada di muka bumi ini ada yang menyembah. Maka tidak henti-hentinya beliau menyeru Tuhannya dengan membentangan tanganya menghadap kiblat sehingga selendangnya jatuh dari pundaknya…Kemudian Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat “Idz tastagiitsuuna rabbakum…(Ingatlah ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berbondong-bondong)…H.r. Muslim, Shahih Muslim, II : 146, Ibnu Hiban, Shahih Ibnu Hiban, VII : 141, Abu ‘Awanah, al Musnad, IV : 255, At Tirmidzi, Sunan at Tirmidzi, V : 251, Ibnu Abu Syaibah, al Mushannaf, VI : 75, Al Asbahani, Dalailun Nubuwwah, I : 119, Ahmad, Musnad al Imam Ahmad, I : 334.

  1. 8. Doa Nabi Saw. di Kuburan Baqi

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ كَثِيرِ بْنِ الْمُطَّلِبِ أَنَّهُ سَمِعَ مُحَمَّدَ بْنَ قَيْسٍ يَقُولُ سَمِعْتُ عَائِشَةَ تُحَدِّثُ فَقَالَتْ أَلاَ أُحَدِّثُكُمْ عَنِ النَّبِيِّ  r … جَاءَ الْبَقِيعَ فَقَامَ فَأَطَالَ الْقِيَامَ ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ …

Dari Abdullah bin Katsir bin al Muthalib, bahwasanya ia mendengar Muhamad bin Qais mengatakan,’Saya mendengar Aisyah berkata,’Maukah saya ceritakan kepadamu dari Nabi saw…hingga beliau sampai di Baqi, lalu beliau lama berdiri kemudian beliau mengangkat kedua tanganya tiga kali…H.r. Muslim, Shahih Muslim, II : 670, Abu Nuiam, al Mustakhraj ‘alas shahihil Muslim, III : 54, An Nasai, as Sunanul Kubra, I : 655, V: 288, al Mujtaba, IV : 92, VII : 72 & 74, Abdurrazaq, al Mushannaf, III : 571.

  1. 9. Berdoa pada Qunut

عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ فِي قِصَّةِ الْقُرَّاءِ وَقَتْلِهِمْ قَالَ : فَقَالَ لِيْ أَنَسٌ لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ  r كُلَّمَا صَلَّى الغَدَاةِ رَفَعَ يَدَيْهِ يَدْعُو عَلَيْهِمْ يَعْنِي عَلَى الَّذِيْنَ قَتَلُوهُمْ.

Dari Tsabit dari Anas bin Malik, tentang kisah Ahli Qura’ (pengajar Alquran) dan pembunuhan terhadap mereka. Ia (Tsabit) berkata,’Anas mengatakan kepadaku,’Sungguh aku menyaksikan Rasulullah Saw. menadahkan kedua tangan beliau setiap kali salat Gadzat (Subuh) mengangkat kedua tanganya mendoakan terhadap mereka yaitu terhadap orang-orang yang membunuh (ahli Qura’). H.r. Al Baihaqi, as Sunanul Kubra, II : 211, Abu ‘Awanah, al Musnad, IV : 462, At Thabrani, al Mu’jamul Ausath, IV : 475, al Mu’jamus Shagir, I : 194, al Mu’jamul Kabir, IV : 59, Ahmad, Musnad al Imam Ahmad, XIX : 393, Abu Nu’aim, Hilyatul Auliya, I : 124, Al Khathib Al Bagdadi, at Tarikhul Kabir, XI : 440, Abd bin Humaid, al Musnad, No 1276, An Nasai, as Sunanul Kubra, No. 8297.

Adapun mengangkat tangan pada waktu berdoa ketika

  1. Melihat Ka’bah.
  2. Selesai Menguburkan Jenazah.
  3. Menerima Wahyu.
  4. Setelah Shalat.
  5. Bertaubat.

Hadis-hadisnya daif (keterangan terlampir)

Kedua, tentang kedudukan hadis yang dianggap sebagai dalil umum

  1. A. dilihat dari sifat teks

Hadis yang dianggap sebagai dalil umum terbagi kepada dua bagian

  1. berbentuk khabariyah, meliputi qauliyah dan fi’liyah

(a) Khabar qauliyyah

إِنَّ اللَّهَ حَيِيٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي إِذَا رَفَعَ الرَّجُلُ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا خَائِبَتَيْنِ

(b) Khabar fi’liyyah

رَأَيْتُ رَسُولَ الله r يَدْعُو هَكَذَا بِبَاطِنِ كَفَّيْهِ وَظَاهِرِهِمَا

  1. berbentuk insyaiah, meliputi a. disertai mengusap wajah, b. tanpa mengusap wajah

(a) disertai mengusap wajah

إِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ بِبُطُونِ أَكُفِّكُمْ وَلَا تَسْأَلُوهُ بِظُهُورِهَا وَامْسَحُوْا بِهَا وُجُوْهَكُمْ

(b) Tanpa mengusap wajah

إِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ بِبُطُونِ أَكُفِّكُمْ وَلَا تَسْأَلُوهُ بِظُهُورِهَا

  1. B. dilihat dari aspek kekuatan dalil

Hadis yang dianggap sebagai dalil umum dapat dikategorikan zhanniyul wurud atau hadis ahad, karena

  1. yang berbentuk khabariyah hanya diterangkan oleh 8 orang pada thabaqat sahabat, meliputi 4 orang khabar qauliyah dan 4 orang khabar fi’liyah
  2. yang berbentuk insyaiyyah hanya diterangkan oleh 5 orang pada thabaqat sahabat, meliputi 2 orang dengan mengusap wajah dan 3 orang tanpa mengusap wajah

Di samping katergori ahad, hadis-hadis tersebut daif dan kedhaifan masing-masing hadis itu tidak dapat menguatkan satu sama lainnya, bahkan dalam ke-dhaif-annya itu beberapa hadis isinya saling bertentangan (keterangan daif terlampir)

Karena itu hadis-hadis tersebut tidak dapat dijadikan sebagai landasan umum disyariatkannya mengangkat tangan ketika berdoa.

Adapun hadis riwayat Muslim yang berbunyi sebagai berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ  r أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ ( يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ ) وَقَالَ ( يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ ) ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ.

Dari Abu Hurairah, ia mengatakan,’Rasulullah Saw. bersabda,’Hai manusia! Sesungguhnya Allah itu Mahabaik, Ia tidak akan menerima melainkan yang baik-baik. Dan sesungguhnya Allah memerintah mukminin seperti  yang Ia perintahkan kepada para rasul-Nya. Kemudian beliau membacakan ayat,’Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. Dan beliau membaca lagi,’Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu”. Kemudian beliau menerangkan seseorang yang berada dalam perjalanan yang sangat jauh, kusut rambutnya, berdebu, ia mengangkat kedua tangannya ke langit seraya berkata,’Hai Tuhanku! Hai tuhanku. Padahal yang dimakananya dari yang haram, yang diminumnnya dari yang haram, yang dipakainya dari yang haram, dan diberi gizi dengan yang haram, bagaimana akan  akan diijabah?.” H.r. Muslim, Shahih Muslim, II : 703.

Hadis ini tidak bisa dijadikan landasan umum tentang adanya mengangkat tangan waktu berdoa. Sebab di dalamnya tidak terkandung pesan dari Rasulullah saw. untuk mengangkat tangan pada berdoa. Pesan yang terkandung justru ketegasan Rasulullah tentang tidak akan diijabahnya doa-doa yang dipanjatkan oleh orang yang makanan, minuman, dan pakaian, serta gizi dirinya haram, meskipun berdoa itu dilakukan sambil mengangkat tangan.

Dengan demikian, perintah secara umum dari Rasulullah saw. mengenai berdo’a dengan mengangkat tangan tidak ada yang sahih, tidak ada yang dapat dijadikan hujjah. Sehubungan dengan itu dalam hal ini tidak tepat menggunakan qaidah “Menyebut sebagian afrad yang umum, tidak mengkhususkannya”. Semakin rinci perbuatan Nabi berdo’a dengan mengangkat tangan, semakin jelas, bahwa hal itu terikat pada situasi, kondisi dan tempat-tempat tertentu.

Andaikata mau mengambil jalan ‘Am dan Khas, yaitu bahwa setiap berdo’a dianjurkan mengangakat kedua tangan, kecuali pada situasi dan kondisi tertentu, hal ini tidaklah tepat, karena pertama, dalil umumnya tidak ada (hadisnya lemah) dan yang kedua yang dikhususkan atau yang dikecualikannya pun terlalu banyak. Di antara kondisi dan tempat yang Rasulullah saw. contohkan padanya untuk berdo’a serta redaksi do’anyapun beliau tetapkan, akan tetapi tidak diterangkan mengangkat kedua tangannya, antara lain mendo’akan sahabat Anas bin Malik (H.r. Al Bukhari), Abu Aufa (H.r. Al Bukhari), Sa’ad (H.r. Muslim), Ibnu Abas (H.r. Al Bukhari)

Adapun situasi dan kondisi tertentu serta tempat tertentu yang Nabi tetapkan do’anya, akan tetapi tidak mengangkat kedua tangannya antara lain : Berdo’a hendak tidur, bangun tidur, berdoa hendak makan, sesudah makan, berdoa memakai baju, berdo’a pada saat bersin dan jawabannya, berdoa masuk dan keluar masjid, berdoa apabila ada petir dan angin besar, Nabi pernah mendo’akan Ibunya agar diampuni segala dosanya dikuburannya, berdoa waktu berbuka puasa, berdoa sesudah adzan, mendo’akan pengantin, berdoa ketika masuk WC, keluar WC, dan lain sebagainya.

Yang lebih substansial lagi, bagaimanakah kaifiyyat Rasulullah saw. berdoa’a pada saat thawaf? Sedangkan berdo’a waktu thawaf disaksikan ribuan sahabat, akan tetapi tidak dapat keterangan bahwa pada saat thawaf, Rasulullah saw. mengangkat kedua tangannya. Demikian juga berdo’a pada waktu selesai salat fardlu. Sedangkan berdo’a pada ujung salat fardlu itu dianjurkan, hal itu dilakukan secara berulang-ulang, dan dengan menghadap para sahabatnya (sebagian makmum) tentu hal ini tidak diperintahkkan mengangkat kedua tangan, walaupun berdo’anya dianjurkan. Mustahil keterangan mengangkat kedua tangan berdo’a pada kedua situasi ini tidak didapatkan, karena jangankan mengangkat tangan dengan sepuluh jari dan kedua batangnya, mengangkat satu jari telunjuk saja di antara sahabat ada yang menerangkan, karena setiap gerak, langkah dan ucapan Rasulullah saw. tidak luput dari perhatian para sahabatnya. Hushain bin Abdurrahman menerangkan :

عَنْ عُمَارَةَ بْنِ رُؤَيْبَةَ قَالَ رَأَى بِشْرَ بْنَ مَرْوَانَ عَلَى الْمِنْبَرِ رَافِعًا يَدَيْهِ فَقَالَ قَبَّحَ اللهُ هَاتَيْنِ الْيَدَيْنِ لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ  r مَا يَزِيدُ عَلَى أَنْ يَقُولَ بِيَدِهِ هَكَذَا وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ الْمُسَبِّحَةِ.

Dari Amarah bin Ruaibah, ia berkata,’Saya melihat Bisyr bin Marwan mengangkat kedua tangannya di atas mimbar (berdoa pada waktu jum’at), ia mengatakan,’Somoga Allah menjauhkan (kebaikkan) dari kedua tangan itu, sungguh saya pernah melihat Rasulullah Saw. tidak menambah ketika berdoa dengan tanganya begini, dan ia mengisyaratkan dengan jari telunjuknya”. Hr. Muslim, Shahih Muslim, II : 295, Ibnu Khuzaemah, Shahih Ibnu Khuzaemah, II : 352, Ibnu Hiban, Shahih Ibnu Hiban, II : 121.

Umarah bin Ruaibah itu seorang sahabat. Ia secara langsung menegur Bisyrin bin Marwan mengangkat kedua tangannya dalam berdoa’a ketika khutbah, karena yang pernah ia lihat Rasulullah saw. berdo’a pada saat khutbah tidak mengangkat kedua tangannya.

Peristiwa diatas menunjukan bahwa mengangkat kedua tangan waktu berdo’a tidak dapat dilakukan sekehendak kita, melainkan harus sesuai dengan contoh Rasulullah saw. karena mengangkat tangan pada waktu berdo’a itu adalah Ibadah, bahkan Imam asy-Syaukani berkomentar dalam kitab Nailul Autharnya, “Hadis ini menunjukan karahah (tidak disukai) mengangkat kedua tangan diatas mimbar dikala berdo’a dan sesungguhnya hal itu adalah bid’ah”. (Nailul Authar,Ibid)

Dengan demikian berdo’a merupakan suatu upacara agama dimana tata cara dan ditempat mana saja dianjurkan mengangkat tangan dalam berdo’a telah ditetapkan aturannya, karena berdo’a adalah Ibadah, sebagaimana Rasulullah saw. bersabda:

إِنَّ الدُّعَاءَ هُوَ الْعِبَادَةُ .رواه الأربعة

“sesungguhnya berdo’a itu adalah Ibadah”. (Hr. Imam yang empat)

Kesimpulan

  • Mengangkat kedua tangan ketika berdo’a adalah ta’abudi
  • Mengangkat  kedua tangan waktu berdo’a pada kondisi tertentu, pada tempat tertentu dan atau orang tertentu pernah dilakukan oleh Rasulullah saw.
  • Mengangkat kedua tangan ketika berdoa yang tidak ada keterangan yang sahih adalah bid’ah. Wallahu a’lam.

Lampiran: Penjelasan Kedaifan Hadis-hadis

  1. 1. Ketika Mendoakan Perseorangan
  2. Saad Bin Ubadah
  3. Ahlul Bait
  4. Usman bin Afan
  5. Ali bin Abu Thalib.
  6. Usamah bin Zaid.
  7. Ketika Ber-Isti’adzah dari Fitnah Dajal.
  8. Al Walid bin Uqbah.

Hadis-hadisnya daif dengan alasan sebagai berikut:

  1. 1. Mendoakan Saad bin Ubadah

عَنْ قَيْسِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ زَارَنَا رَسُولُ اللهِ  r فِي مَنْزِلِنَا فَقَالَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ فَرَدَّ سَعْدٌ رَدًّا خَفِيًّا قَالَ قَيْسٌ فَقُلْتُ أَلاَ تَأْذَنُ لِرَسُولِ اللهِ  r  فَقَالَ ذَرْهُ يُكْثِرُ عَلَيْنَا مِنَ السَّلاَمِ… قَالَ فَانْصَرَفَ مَعَهُ رَسُولُ اللهِ  r فَأَمَرَ لَهُ سَعْدٌ بِغُسْلٍ فَاغْتَسَلَ ثُمَّ نَاوَلَهُ مِلْحَفَةً مَصْبُوغَةً بِزَعْفَرَانٍ أَوْ وَرْسٍ فَاشْتَمَلَ بِهَا ثُمَّ رَفَعَ رَسُولُ اللهِ  r يَدَيْهِ وَهُوَ يَقُولُ اللَّهُمَّ اجْعَلْ صَلَوَاتِكَ وَرَحْمَتَكَ عَلَى آلِ سَعْدِ بْنِ عُبَادَةَ …رواه ابو داود و النسائى و احمد و الطبراني و البيهقي

Dari Qais bin Saad, mengatakan, ’Rasulullah Saw. mengunjungi tempat tinggal kami, beliau mengucapkan, ’As Salamu ‘alaikum warahmatullah, lalu Saad menjawabnya dengan jawaban yang rendah. Qais mengatakan, ’Tidakkah engkau mengijinkan Rasulullah Saw.? ia menjawab,’Biarkanlah agar beliau banyak mengucapkan salam kepada kami. Ia (Qais) mengatakan,’Kemudian kami pergi bersamanya dan beliau memerintah Saad untuk mandi. Lalu ia mandi kemudian beliau memberikan mantel kepadanya  yang dicelup dengan za’faran atau wars dan ia memakainya. Kemudian Rasulullah Saw. mengangkat kedua tangannya dan berdoa ‘Ya Allah tetapkanlah salawat dan rahmatMu kepada keluarga Saad bin Ubadah”. H.r. Abu Daud, Sunan Abu Daud, IV : 347, An Nasai, as Sunanul Kubra, VI : 89; ‘Amalul Yaumi wal Lailah, I : 284, Ahmad, Musnad al Imam Ahmad,  XXIV : 222, At Thabrani, al Mu’jamul Kabir, XVIII : 353, Al Baihaqi, Syu’abul Iman, VI : 439.

Sanad hadis di atas dhaif karena terjadi inqitha (keterputusan mata rantai sanad). Muhamad bin Abdurahman bin As’ad bin Zurarah yang menjadi periwayat hadis di atas tidak tsubut (tidak pasti) mendengar atau menerima hadis dari Qais bin Ubadah.[1]

Dengan demikian doa Nabi Saw. kepada Saad bin Ubadah tidak diperhitungkan adanya.

  1. 2. Mendoakan Ahlul Bait

عَنْ شَهْرِ بْنِ حَوْشَبٍ قَالَ أَتَيْتُ أُمَّ سَلَمَةَ أُعَرِّفُهَا عَلَى الْحُسَيْنِ فَقَالَتْ لِي فِيْمَا حَدَّثَتْنِي إِنَّ رَسُولَ اللهِ  r كَانَ فِي بَيْتِي يَوْمًا وَإِنَّ فَاطِمَةَ جَائَتْهُ  بِسَخِيَّةٍ فَقَالَ اِنْطَلِقِيْ فَجِيئِي بِزَوْجِكِ أَوِ بْنِ عَمِّكِ وَابْنَيْكِ فَانْطَلَقَتْ فَجَائَتْ بِعَلِيٍّ وَحَسَنٍ وَحُسَيْنٍ فَأَكَلُوا مِنْ ذلِكَ الطَّعَامِ وَرَسُولُ اللهِ r عَلَى مَنَامَةٍ لَنَا وَتَحْتَهُ كَسَاءٌ خَيْبَرِيٌّ فَأَخَذَ الْكَسَاءَ فَجَلَّلَهُمْ إِيَّاهُ ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ ثُمَّ قَالَ اَللّهُمَّ هَؤُلاَءِ عُتْرَتِي وَأَهْلِي  فَأذْهَبْ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهِّرْهُمْ تَطْهِيْرًا فَقَالَتْ أُمُّ سَلَمَةَ يَا رَسُولَ اللهِ وَأَنَا مِنْ أَهْلِ بَيْتِكَ فَقَالَ وَأَنْتِ إِلَيَّ خَيْرٌ. رواه الطبراني

Dari Syahr bin Hausyab, ia mengatakan,’Saya menjumpai Ummu Salamah, saya minta keterangan kepadanya tentang Husain, ia berkata kepadaku, sesungguhnya Rasulullah Saw. berada di rumahku pada suatu hari dan Fatimah datang membawa mekanan, maka beliau bersabda,’Pergilah dan panggillah suamimu atau sepupumu dan kedua anakmu. Maka ia pergi kemudian datang bersama Ali serta Hasan dan Husain. Lalu mereka menikmati makanan tersebut dan Rasulullah Saw. berada di tempat tidur kami yang di bawahnya terdapat kain khaibar, maka beliau mengambilnya lalu mereka memakaikanya kepada beliau, kemudian beliau mengangkat kedua tanganya ke langit seraya berdoa: “Ya Allah, mereka adalah keturunan dan keluargaku, maka bersihkanlah mereka dari kotoran dosa dan sucikanlah mereka dengan sesuci-sucinya. Maka Ummu Salamah berkata,’Wahai Rasulullah, aku juga keluargamu?’ Beliau bersabda,’Engkau terhadapku kebaikkan. H.r. At Thabrani,  al Mu’jamul Kabir, XXIII : 396

Sanad hadis ini dhaif , karena terdapat dua rawi yang diperselisihkan tentang ke-tsiqat-anya. 1. Syahr bin Hausab al ‘Asy’ari. 2. Ismail bin Nasyith al ‘Amiri.[2]

Demikian pula dikatakan bahwa Nabi Saw. pernah mendoakan ahlu bait beliau sambil mengangkat tangan. Tidak ada yang shahih. Sebenarnya ada beberapa riwayat Nabi Saw. mendoakan ahlul bait beliau, tetapi tanpa keterangan menadahkan tangan.

  1. 3. Mendoakan Usman Bin Afan

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللهِ  r  فَرَأَى لَحْمًا فَقَالَ مَنْ بَعَثَ بِهَذَا قُلْتُ عُثْمَانَ قَالَتْ فَرَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ  r رَافِعًا يَدَيْهِ يَدْعُو لِعُثْمَانَ – رواه البزار –

Dari Aisyah, ia mengatakan,’Rasulullah Saw. menemui kami, lalu beliau melihat daging dan menanyakan,’Siapa yang telah mengantarkan daging ini? Aku (Aisyah) menjawab,’Usman. Ia berkata,’Saya melihat Rasulullah Saw. mengangkat kedua tanganya mendoakan Usman”. H.r. Al-Bazzar, Majmauz Zawaid, IX : 88.

Imam Al Bukhari meriwayatkan di dalam kitabnya Raf’ul Yadaeni Fis Shalah, dengan lafal:

رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ  r  رَافِعًا يَدَيْهِ حَتَّى بَدَاَ ضَبْعَيْهِ يَدْعُوْ بِهِنَّ لِعُثْمَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ

Saya melihat Rasulullah Saw. mengangkat kedua tangannya mendoakan Usman r.a. sehingga kelihatan ketiaknya. Raful Yadaeni Fis Shalah, hal. 143

Al Haitsami mengatakan,’Hadis yang diriwayatkan oleh Al Bazzar, sanadnya hasan”. Majmauz Zawaid, IX : 85,86. Adapun tentang riwayat Al Bukhari, menurut Badi’uddin Ar Rasyidi,’Rawi-rawinya dinyatakan tsiqat.” Raf’ul Yadaeni Fis Shalah, hal. 143.

Penilaian hasan dari Al Haitsami terhadap hadis di atas ternyata tidak sepenuhnya benar, karena beliau sedikit pun tidak menyinggung keberadaan rawi yang berada pada sanad itu, yakni Ismail bin Abdul malik.

Ismail bin Abdul Malik yang tercantum pada sanad riwayat al Bazar itu, nama lengkapnya adalah Ismail bin Abdul Malik bin Abu Ashufair al Asadi Abu Abdul Malik al Maki. Yahya bin ma’in menilai positif terhadapnya dengan penilaian “laisa bihi ba’sun”, tetapi penilaian negatif pun disampaikan oleh beliau dengan penilaian ”Ia rawi yang tidak kuat”. Hal ini disampaikan oleh Abas Ad-Duwari. Penilaian Ibnu ma’in di atas sama dengan penilaian An-Nasai, yaitu ia rawi yang tidak kuat dalam urusan hadis. Pernyataan Ibnu Hiban sangat gamblang bahwa ia rawi yang suka menukar-nukar riwayatnya sendiri, bahkan di dalam kitab almajruhin ia menegaskan, ditambah buruk hapalan, jelek pemahaman, dan menukar-nukar riwayat-riwayatnya sendiri. Lengkap sudah keterangan-keterangan jarh atau kelemahan rawi yang bernama Ismail ini. Jadi, nyatalah bahwa hadis ini dhaif dan pernyataan hasan dari Al Haitsami tidak dapat diterima.

Adapun hadis riwayat Al Bukhari di dalam kitabnya Raf’ul Yadaini fish Shalah, yang dinyatakan rawi-rawinya tsiqat. Hal inipun tidak sepenuhnya benar, karena beliau pun tidak menyinggung rawi yang bernama Abdul Hamid bin Abdurahman AlHimani Abu Yahya al Kufi. Tentang rawi ini Ibnu Ma’in memberikan dua penilaian, yaitu tsiqat dan dhaif laisa bi syaiin. Tentang dua macam penilaian yang kontradiksi dari Ibnu Ma’in ini tidak dapat diambil kesimpulan karena tidak diketahui mana yang diucapkan lebih dulu oleh beliau. Adapun Ibnu Hiban menyatakan tsiqat berdasarkan penilaian Ibnu Ma’in yang pertama. Selanjutnya Imam Ahmad beserta putranya menyatakan ke-dhaif-annya.

Dalam pada itu Ibnu Hajar al Asqalani memberikan penilaian dengan dasar atau sebabnya. Ia mengatakan,”Abdul Hamid seorang rawi yang jujur tetapi melakukan kesalahan”. Setelah  ta’dil yang hanya dari Ibnu ma’in yang kontradiksi dengan penilaian beliau sendiri yang lainnya. Lalu didukung oleh penilaian Ahmad bin Hanbal dan  putranya, selanjutnya penilaian dari Ibnu Hajar al Asqalani yang menerangkan sebab kedhaifannya, cukup sudah kiranya data yang diperlukan untuk menyimpulkan bahwa hadis ini dhaif.

  1. 4. Mendoakan Ali bin Abu Thalib

عَنْ أُمِّ شَرَحِيْلَ عَنْ أُمِّ عَطِيَةَ اَنَّ رَسُولَ اللهِ   r بَعَثَ عَلِيًا فِي سَرِيَةٍ فَرَأَيْتُهُ رَافِعًا يَدَيْهِ وَهُوَ يَقُولُ اَللّهُمَّ لاَ تُمِتْنِي حَتَّى تُرِيَنِي عَلِيًا.رواه الطبراني و الترمذي

Dari Ummu Syarahil, dari Ummu ‘Athiyah, sesungguhnya Rasulullah Saw. mengutus Ali dalam satu pasukan perang, lalu aku melihat beliau mengangkat kedua tangan seraya berdoa,’Ya Allah! Janganlah Engkau mewapatkan aku sebelum Ali diperlihatkan lagi kepadaku”. H.r. At Thabrani, al Mu’jamul Kabir, XXV : 68, al Mu’jamul Ausath, III : 216, At Tirmidzi, Sunan at Tirmidzi, V : 643.

Sanad hadis ini amat dhaif, sebabnya adalah terdapatnya dua rawi yang tidak dikenal sama sekali, yakni Abu Al Jarah al Mahri dan Ummu Syarahil.[3]

  1. 5. Mendoakan Usamah bin Zaid

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ عَنْ أَبِيهِ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ قَالَ لَمَّا ثَقُلَ رَسُولُ اللهِ   r هَبَطْتُ وَهَبَطَ النَّاسُ مَعِي إِلَى الْمَدِينَةِ فَدَخَلْتُ عَلَى رَسُولِ اللهِ  r وَقَدْ أَصْمَتَ فَلاَ يَتَكَلَّمُ فَجَعَلَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ ثُمَّ يَصُبُّهَا عَلَيَّ أَعْرِفُ أَنَّهُ يَدْعُو لِي. رواه الترمذي والبزار و احمد و أبو القسم البغوي، مسند أسامة و الطبراني و ابن جرير الطبري و أبو عبد الله المقدسي

Dari Muhamad bin Usamah bin Zaid, dari ayahnya Usamah bin Zaid, ia mengatakan,’Ketika kondisi Rasulullah Saw. lemah (karena sakit), aku pergi ke Madinah begitu pula dengan orang-orang pergi bersamaku. lalu aku menjumpai Rasulullah Saw. sungguh beliau telah terdiam tidak berkata sepatah kata pun. Kemudian mulailah beliau mengangkat kedua tangannya  ke langit lantas menumpahkan tangannya itu kepadaku, sungguh aku tahu bahwasanya beliau sedang mendoakan aku. H.r. At Tirmidzi, Sunan at Tirmidzi, V : 653, Al Bazzar, Musnad al Bazzar, VII : 29, Ahmad, Musnad al Imam Ahmad,  V : 201, Fadlailus Shahabah, II : 834, Abul Qasim al Bagawi, Musnad Usamah, I : 45, At Thabrani, al Mu’jamul Kabir, I : 123, Ibnu Jarir At Thabari, Tarikh At Thabari, II : 230, Abu Abdullah al Maqdisi, al Ahaditsil Mukhtarah, IV : 146-147.

Sanad hadis ini dhaif, seluruh jalur periwayatannya melalui seorang rawi bernama Muhamad bin Ishaq bin Yasar yang diperselisihkan tentang ke-tsiqat-annya.[4]

  1. 6. Ketika Ber-isti’adzah dari Fitnah Dajal

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ جَائَتْ يَهُودِيَّةٌ فَاسْتَطْعَمَتْ عَلَى بَابِي فَقَالَتْ أَطْعِمُونِي أَعَاذَكُمُ اللَّهُ مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ وَمِنْ فِتْنَةِ عَذَابِ الْقَبْرِ … قَالَتْ عَائِشَةُ فَقَامَ رَسُولُ اللهِ   r فَرَفَعَ يَدَيْهِ مَدًّا يَسْتَعِيذُ بِاللهِ مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ وَمِنْ فِتْنَةِ عَذَابِ الْقَبْرِ …رواه احمد وابن راهويه

Dari Aisyah, ia mengatakan,’Seorang perempuan yahudi datang dan meminta makan di balik pintu rumahku, ia mengatakan,’Semoga Allah memberikan perlindungan kepada kamu dari fitnah Ad Dajal dan dari fitnah kubur… Aisyah mengatakan,’Lalu Rasulullah Saw. berdiri kemudian mengangkat kedua tangan seraya memohon perlindungan kepada Allah dari fitnah dajal dan dari azab kubur…H.r. Ahmad, Musnad al Imam Ahmad, XXXXII : 12 dan Ibnu Rahawaeh, al Musnad, No. 1170.

Syu’aib Al Arnauth mengatakan, ’Hadis ini sanadnya shahih sesuai dengan syarat periwayatan Al Bukhari dan Muslim. Hadis ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Rahawaih, Al Baihaqi, Ibnul Mundzir, dan Al Haitsami. Lihat Ta’liq ‘ala Musnad Al Imam Ahmad, XXXXII:12-14.

  1. 7. Mendoakan Al Walid bin Uqbah

عَنْ عَلِيٍّ قَالَ : رَأَيْتُ اِمْرَأَةَ الْوَلِيْدِ جَائَتْ إِلَى النَّبِيِ r تَشْكُو إِلَيْهِ زَوْجَهَا أَنَّهُ يَضْرِبُهَا، فَقَالَ لَهَا: اِذْهَبِي فَقُوْلِي كَيْتَ وَكَيْتَ، فَذَهَبَتْ ثُمَّ رَجَعَتْ فَقَالَتْ: إِنَّهُ عَادَ يَضْرِبُنِيْ، فَقَالَ لَهَا: اِذْهَبِيْ فَقُوْلِي لَهُ: إِنَّ النَّبِيَ   r يَقُوْلُ لَكَ، فَذَهَبَتْ ثُمَّ عَادَتْ فَقَالَتْ: إِنَّهُ يَضْرِبُنِيْ، فَقَالَ: اِذْهَبِيْ فَقُوْلِي لَهُ: كَيْتَ وَكَيْتَ، فَقَالَتْ: إِنَّهُ يَضْرِبُنِي. فَرَفَعَ النَّبِيُ r يَدَهُ وَقَالَ : اَللَّهُمَّ عَلَيْكَ بِالْوَلِيْدِ. رواه البخاري

Dari Ali r.a. ia mengatakatan,’Aku melihat isteri Al Walid datang kepada Nabi Saw. mengadukan tentang suaminya yang memukulnya. Nabi Saw. berkata kepadanya,’Pergilah dan katakanlah olehmu begini dan begitu. Lalu ia pergi tapi kemudian kembali lagi seraya berkata,’Sesungguhnya ia mengulangi memukulku. Nabi Saw. berkata kepadanya,’Pergilah dan katakanlah olehmu sesungguhnya Nabi Saw. mengatakan untukmu, lalu ia pergi kemudian ia kembali lagi seraya berkata,’Sesungguhnya ia memukulku lagi. Nabi Saw. berkata,’Pergilah dan katakan olehmu kepadanya,’Begini dan begitu. Ia mengatakan,’Sesungguhnya ia memukulku lagi. Lalu Nabi Saw. mengangkat kedua tangannya seraya berdoa,’Ya Allah, aku serahkan Al Walid kepada-Mu. H.r. Al Bukhari, Raf’ul Yadaeni Fis Salah, hal. 144.

Hadis di atas diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad, Musnad al Imam Ahmad, II : 431, Abu Abdullah, Amaliyul Mahamili, I : 151, Abu Ya’la, al-Musnad, I : 289, 353, Al Bazzar, al-Musnad, III : 21, dengan sedikit perbedaan redaksi.

Sanad hadis ini dhaif, karena terdapat dua rawi, yakni Abu Maryam At Tsaqafi dan Nuaim bin Hakim al Madain. [5]

B. Ketika berdoa pada Ibadah Tertentu

Adapun mengangkat tangan pada waktu berdoa ketika

  1. Melihat Ka’bah
  2. Selesai Menguburkan Jenazah
  3. Menerima Wahyu
  4. Setelah Shalat
  5. Bertaubat

Hadis-hadisnya daif dengan alasan sebagai berikut:

  1. 1. Ketika Melihat Ka’bah

Melihat Ka’bah di sini maksudnya pada pelaksanaan Umrah ketika masuk mesjid hendak Tawaf ketika pertama kali melihat Ka’bah. Apakah ketika Umrah secara terpisah atau umrah yang merupakan paket dari dari ibadah haji. Berkaiatan dengan masalah ini terdapat beberapa hadis yang menunjukkan bahwa Nabi Saw. apabila beliau melihat Al Bait (Ka’bah) mengangkat kedua tangannya seraya berdoa. Di antara hadis-hadisnya sebagaimana di bawah ini:

عَنِ بْنِ جُرَيْجٍ أَنَّ النَّبِيَ r كَانَ إِذَا رَأَى الْبَيْتَ رَفَعَ يَدَيْهِ وَقاَلَ اَللّهُمَّ زِدْ هَذاَ الْبَيْتَ تَشْرِيْفًا وَتَعْظِيْمًا وَتَكْرِيْمًا وَمَهَابَةً وَزِدْ مَنْ شَرَّفَهُ وَكَرَمَهُ وَعَظَمَهُ مِمَنْ حَجَّهُ أَوِ اعْتَمَرَهُ تَشْرِيْفًا وَتَكْرِيْمًا وَتَعْظِيْمَا وَبِرًّا

Dari Ibnu Juraij, sesungguhnya Nabi Saw. apabila melihat Al Bait (Ka’bah), beliau mengangkat kedua tangannya berdoa,’Ya Allah! Tambahilah Rumah ini kehormatan, keagungan, kemuliaan, dan kewibawaan. Dan tambahilah orang yang menghormatinya dan memuliakannya dari orang yang mendatanginya untuk berhaji dan umrah kehormatan, keagungan, kemuliaan, dan kebajikan. H.r. Al Baihaqi, as Sunanul Kubra, V : 73, As Syafii’, Musnad as Syafi’i, I : 339, al Umm, II : 169.

عَنْ مَكْحُوْلٍ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ  r  إِذَا دَخَلَ مَكَّةَ فَرَأَى الْبَيْتَ رَفَعَ يَدَيْهِ وَكَبَّرَ وَقَالَ اَللّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ فَحَيِّنَا رَبَّنَا بِالسَّلاَمِ اَللّهُمَّ زِدْ هَذَا الْبَيْتَ تَشْرِيْفًا وَتَعْظِيْمًا وَمَهَابَةً وَزِدْ مَنْ حَجَّهُ أَوِ اعْتَمَرَهُ تَكْرِيْمًا وَتَشْرِيْفًا وَتَعْظِيْمًا وَبِرًّا

Dari Makhul, ia mengatakan,’Ketika Nabi Saw. masuk Makkah, beliau melihat Al Bait, lalu mengangkat tangan dan bertakbir seraya berdoa,’Ya Allah, Engkaulah As-Salam (keselamatan hakiki), dan hanya dari Engkaulah keselamatan hakiki. Maka hidupilah kami, wahai Tuhan kami, dengan keselamatan. Ya Allah! Tambahilah Bait ini kehormatan, keagungan, kemuliaan, dan kewibawaan. Dan tambahilah orang yang menghormatinya dan memuliakannya dari  orang yang mendatanginya untuk berhaji dan umrah kehormatan, keagungan, kemuliaan, dan kebajikan H.r. Al Baihaqi, as Sunanul Kubra, V: 73, Ibnu Abu Syaibah, al Mushanaf, VII : 102

عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ أُسَيْدٍ أَبِي سُرَيْحَةَ اَلْغِفَارِيِّ أَنَّ النَّبِيَ  r  كَانَ إِذَا نَظَرَ إِلَى الْبَيْتِ قَالَ اَللّهُمَّ زِدْ بَيْتَكَ هَذَا تَشْرِيْفًا وَتَعْظِيْمًا وَتَكْرِيْمًا وَبِرًّا وَمَهَابَةً وَزِدْ مَنْ شَرَّفَهُ وَعَظَمَهُ مِمَنْ حَجَّهُ أَوِ اعْتَمَرَهُ تَعْظِيْمًا وَتَشْرِيْفًا وَتَكْرِيْمًا وَبِرًّا وَمَهَابَةً.

Dari Khudzaifah bin Usaid Abu Suraihah al Gifari, sesungguhnya Nabi Saw. ketika beliau melihat Al Bait, beliau berdoa,’Ya Allah! Tambahilah Bait Mu ini kehormatan, keagungan, kemuliaan, kebajikan, dan kewibawaan. Dan tambahilah orang yang menghormatinya dan mengagungkannya, dari orang yang mendatanginya untuk berhaji dan umrah keagungan, kehormatan, kemuliaan, kebajikan, dan kewibawaan. H.r. At Thabrani, al Mu’jamul Ausath, VII : 81, al Mu’jamul Kabir, III : 201.

Ketiga hadis di atas dhaif. Selain pada mata rantai sanadnya ada yang tidak bersambung (munqathi’), juga terdapat rawi yang bernama Ashim bin Sulaiman al Kauzi yang dinyatakan ‘Matrukul Hadis’. [6]

Adapun mengenai doanya sendiri, diamalkan oleh shahabat seperti Umar tanpa mengangkat tangan sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Syaibah.

أَنَّ عُمَرَ كَانَ إِذَا دَخَلَ الْبَيْتَ قَالَ اَللّهُمَّ اَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ فَحَيِّنَا رَبَّنَا  بِالسَّلاَمِ.

Bahwasanya Umar apabila beliau masuk ke Al Bait, beliau berdoa,’Ya Allah! Engkaulah As-Salam dan dariMulah keselamatan. Maka hidupilah kami, wahai Tuhan kami dengan keselamatan. H.r. Ibnu Abu Syibah, al Mushannaf, VI : 81.

Kesimpulan :

Berdoa ketika melihat ka’bah pada ibadah umrah merupakan sunah Rasulullah Saw. dengan tanpa mengangkat tangan.

  1. 2. Ketika Selesai Menguburkan Jenazah

عَنْ عَبْدِاللهِ قَالَ : وَاللهِ لَكَأَنِّي أَرَى رَسُولَ اللهِ  r فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ وَهُوَ فِي قَبْرِ عَبْدِاللهِ ذِي الْبَجَادَيْنِ وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرَ رضي الله تعالى عَنْهُمْ يَقُولُ : أَدُلِّيَا مِنِّي أَخَاكُمَا وَأَخَذَهُ مِنْ قِبَلِ الْقِبْلَةِ حَتَّى أَسْنَدَهُ فِي لَحْدِهِ ثُمَّ خَرَجَ النَّبِيُ اللهِ  r وَوَلاَّهُمَا الْعَمَلَ فَلَّمَا فَرَغَ مِنْ دَفْنِهِ اِسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ رَافِعًا يَدَيْهِ يَقُولُ اَللّهُمَّ إِنِّي أَمْسَيْتُ عَنْهُ رَاضِيًا فاَرْضِ عَنْهُ وَكَانَ ذلِكَ لَيْلاً.

Dari Abdullah, ia mengatakan,’Demi Allah, sesungguhnya aku melihat Rasulullah Saw. pada perang Tabuk, beliau berada di pekuburan Abdullah Dzil Bajadain, Abu Bakar, dan Umar, semoga Allah meridai mereka. Beliau berkata,’Maukah kalian berdua membantuku terhadap saudarahmu? Mulailah beliau memasukkan (jenazah Abdulah) dari arah kiblat sampai Beliau menyandarkannya di liang lahat. Kemudian Nabi Saw. keluar dan meyerahkan pekerjaan itu kepada keduanya. Ketika selesai dari penguburan, Beliau mengadap ke kiblat mengangkat kedua tangannya seraya berdoa,’Ya Allah! Sesungguhnya aku sare hari ini sangat rida  kepadanya, ridailah ia”. Sedangkan waktu itu pada malam hari. H.r. Abu Nuaim, Hilyatul Auliya, I : 122, Abu Al Farj, Shafwatus Shafwah, I : 679, Al Bazzar, Musnad al Bazzar, V : 123, dan Al Haitsami mencantumkannya dalam Majama’uz Zawaid, IX : 369.

Hadis ini sangat dhaif disebabkan beberapa ke-dhaif-an:

Pertama, rawi Sa’ad bin As Shalt, dikatergorikan sebagai rawi yang majhul

Kedua, ketidakjelasan ke-mutashil-an Saad bin As Shalt.

Ketiga, rawi bernama ‘Abad bin Ahmad Al ‘Aruzi yang dinyatakan matruk.[7]

  1. 3. Berdoa Ketika Menerima Wahyu

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدٍ الْقَارِيِّ قَال سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ يَقُولُ كَانَ النَّبِيُّ   r إِذَا أُنْزِلَ عَلَيْهِ الْوَحْيُ سُمِعَ عِنْدَ وَجْهِهِ كَدَوِيِّ النَّحْلِ فَأُنْزِلَ عَلَيْهِ يَوْمًا فَمَكَثْنَا سَاعَةً فَسُرِّيَ عَنْهُ فَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ وَقَالَ اللَّهُمَّ زِدْنَا وَلاَ تَنْقُصْنَا وَأَكْرِمْنَا وَلاَ تُهِنَّا وَأَعْطِنَا وَلاَ تَحْرِمْنَا وَآثِرْنَا وَلاَ تُؤْثِرْ عَلَيْنَا وَارْضِنَا وَارْضَ عَنَّا ثُمَّ قَالَ  r أُنْزِلَ عَلَيَّ عَشْرُ آيَاتٍ مَنْ أَقَامَهُنَّ دَخَلَ الْجَنَّةَ ثُمَّ قَرَأَ ( قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ) حَتَّى خَتَمَ عَشْرَ آيَاتٍ.

Dari Abdurrahman bin Abdul Qari, ia berkata,’Saya mendengar Umar bin Al Khathab r.a. mengatakan,’Nabi Saw. apabila diturunkan wahyu kepada beliau, didengarnya seakan suara gemuruh lebah. Lalu pada suatu hari diturunkan wahyu kepada beliau, kami hanya terdiam sesaat, kemudian diungkapkan (makna) wahyu itu kepada beliau, lalu beliau menghadap ke kiblat, dan mengangkat kedua tangan sambil berdoa,’Ya Allah! Tambahkanlah (kebaikan) bagi kami, janganlah Engkau menguanginya dari kami, muliakanlah kami dan janganlah Engkau menghinakan kami, berikanlah kepada kami janganlah haramkan bagi kami, perhatikanlah kami dan janganlah Engkau mengabaikan kami , relakanlah hati kami dan ridailah kami”. Kemudian Nabi Saw. bersabda,’Telah diturunkan kepada kami sepuluh ayat, siapa yang berpegang teguh dan mengamalkan ayat itu, niscaya ia akan masuk surga. Kemudian Nabi Saw. membaca “Qad aflahal mu’minun” sampai tamat sepuluh ayat”. H.r. At Tirmidzi, Sunan at Tirmidzi, V : 305, Ahmad, Musnad al Imam Ahmad, I : 351, Al Hakim, al Mustadrak, II : 392, Abu Abdullah Al Hanbali Al Maqdisi, al Ahaditsil Mukhtarah, I : 342, An Nasai, as Sunanul Kubra, I : 450, Abdurrazaq, al Mushannaf, III : 383,  Al Bazzar, al Musnad, I : 427, Abd bin Humaid, al Musnad, I : 34,

Sanad hadis ini dhaif disebabkan ke-majhul-an seorang rawi yang bernama Yunus bin Sulaim. Dalam hal ini hanya Abdur razaq yang meriwayatkan darinya. Selain itu rawi ini diperbincangkan (dikritik) tentang periwayatannya sehingga tidak memiliki kelayakan untuk dijadikan sebagai pegangan.[8]

  1. 4. Mengangkat Tangan pada Berdoa Setelah Salat

Dalam hal mengangkat tangan di saat berdoa setelah selesai dari salat, dikalangan para ulama telah bersilang pendapat. Ada yang membolehkannya adapula yang tidak. Sebagian ulama menyatakan,’Berdoa setelah selesai dari salat yang wajib sangat dianjurkan. Doa-doa setelah selesai dari salat telah tsubut (tetap adanya) dari Rasulullah Saw. serta mengangkat tangan di saat berdoa termasuk adab-adabnya. Dan telah stubut pula dari Rasulullah Saw. tentang mengangkat tangan dalam berbagai macam doa. Disamping itu dengan tidak terdapatnya larangan dari Rasulullah Saw. tentang mengangkat tangan di saat berdoa setelah selesai dari salat, maka tidaklah mengapa bagi yang mengerjakannya.

Maka untuk mensikapinya, kami kemukakan dalil-dalil yang dijadikan sebagai landasanya serta akan dikemukakan pula tentang kedudukan hadis-hadisnya. Disamping itu kami akan berikan tanggapan terhadap pendapat yang memperbolehkannya.

Di antara dalil-dalil yang dijadikan sebagai landasan adanya mengangkat tangan saat berdoa setelah selesai dari salat:

Pertama

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ r رَفَعَ يَدَهُ بَعْدَ مَا سَلَّمَ وَهُوَ مُسْتَقْبِلُ الْقِبْلَةِ فَقَالَ اَللَّهُمَّ خَلِّصِ الْوَلِيْدَ بْنَ الْوَلِيْدِ وَعَيَّاشَ بْنَ أَبِي رَبِيْعَةَ وَسَلَمَةَ بْنَ هِشَامٍ وَضَعَفَةَ الْمُسْلِمِيْنَ الَّذِيْنَ لاَ يَسْتَطِيْعُونَ حِيْلَةً وَلاَ يَهْتَدُوْنَ سَبِيْلاً مِنْ أَيْدِي الْكُفَّارِ.

Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah Saw. mengangkat tanganya setelah beliau salam sambil menghadap kiblat seraya berdoa,’Ya Allah! Selamatkanlah Al Walid bin Al Walid, ‘Ayyasy bin Abu Rabi’ah, Salamah bin Hisyam, dan kelemahan Muslimin yang mereka tidak kuat dalam siasat perang, serta memperoleh petunjuk dari kekuasan orang-orang kafir. H.r. Ibnu Abu Hatim, Tafsir Ibnu Katsir, I : 543, Al ‘Uqaili, ad Du’afa, III : 99.

Hadis ini diriwayatkan pula oleh imam Ahmad, Musnad al Imam Ahmad, II : 407, serta At Thabari dalam tafsirnya (V: 237), tanpa kalimat ‘Rafa’ yadahu ba’da ma salama wa huwa mustaqbilul qibalati”. Keterangan yang tercantum hanya “Rasulullah Saw. berdoa seperti itu pada akhir salat Dzuhur”. Sedangkan Al Haitsami mencantumkan hadis ini dalam kitabnya Majma’uz Zawaid, X : 152, bahwa Rasulullah Saw. mengangkatkan kepalanya setelah salam sambil menghadap kiblat.

Sanad hadis di atas dhaif disebabkan kedhaifan rawi bernama Ali bin Zaid bin Jud’an. Wafat Th 127 H. yang dinyatakan buruk hafalan oleh Yahya bin Ma’in.[9]

Kedua

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي يَحْيَى قَالَ رَأَيْتُ عَبْدَ اللهِ بْنَ الزُّبَيْرِ وَرَأَى رَجُلاً رَافِعًا يَدَيْهِ قَبْلَ أَنْ يَفْرُغَ مِنْ صَلاَتِهِ فَلَمَّا فَرَغَ مِنْهَا قَالَ اِنَّ رَسُولَ اللهِ  r  لَمْ يَكُنْ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَتَّى يَفْرُغَ مِنْ صَلاَتِهِ.

Dari Muhamad bin Abu Yahya, ia mengatakan,’Saya melihat Abdullah bin az Zubair sedang melihat seseorang mengangkat tangannya sebelum selesai dari salatnya. Ketika telah selesai dari salatnya, ia (Abdullah bin az Zubair) mengatakan,’Sesungguhnya Rasulullah Saw. tidak pernah mengangkat tanganya sebelum selesai dari salatnya”. H.r. Abu Abdullah al Hanbali, al Ahaditsil Mukhtarah, IX : 336. Dan Al Haitsami mencantumkanya dalam Majmauz Zawaid, X : 169.

Sanad hadis ini pun dhaif sebab terdapat inqitha (putus sanadnya). Yakni rawi bernama Muhamad bin Abu Yahya al Aslami, Abu Abdullah al Madani, tidak melihat atau mendengar dari Abdullah bin Az Zubair. [10]

Ketiga

عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِيِ r أَنَّهُ قَالَ مَا مِنْ عَبْدِ بَسَطَ كَفَّيْهِ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ ثُمَّ يَقُولُ اَللّهُمَّ إِلهِي وَإِلهَ إِبْرَاهِيْمَ … إِلاَّ كَانَ حَقًّا عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ لاَ يَرُدَّ يَدَيْهِ خَائِبَتَيْنِ رواه ابن السني

Dari Anas, dari Nabi Saw. beliau bersabda,’Tidaklah seorang hamba menadahkan kedua tanganya pada setiap akhir salat, lalu berdoa,’Ya Allah! Tuhanku dan Tuhan Ibrahim…melainkan hak bagi Allah ‘Azza wa Jalla tidak mengembalikan kedua tangannya dalam keadaan hampa. H.r. Ibnu As Sunni, (Lihat, Tuhfatul Ahwadzi, II : 199)

Hadis ini dhaif disebabkan ke-dhaif-an rawi bernama Abdul ‘Aziz bin Abdurrahman al Qurasyi.[11]

Keempat

عَنِ الأَسْوَدِ اَلْعَامِرِيِّ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ صَلَيْتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ  r اَلْفَجْرَ فَلَمَّا سَلَمَ اِنْحَرَفَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ وَدَعَا.

Dari Al Aswad Al Amiri, dari bapaknya, ia mengatakan,’Kami salat Fajar (Subuh) beserta Rasulullah Saw., ketika beliau salam, beliau bergeser (dari tempat duduknya) serta mengangkat kedua tangannya seraya berdoa.

Al Mubarakafuri mengatakan dalam kitabnya Tuhfatul Ahwadzi, ’Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Abu Syaibah dalam Mushanafnya, sebagian ulama terkemuka menerangkan hadis ini tanpa sanad serta menyandarkanya kepada pengarangnya (Ibnu Abu Syaibah). Dan aku tidak dapat menentukan sanadnya apakah shahih atau dhaif, hanya Allahlah yang lebih mengetahui.

Setelah kami telusuri dalam al Mushanaf sebagaimana yang ditunjukkan oleh Al Mubarakafuri, kami tidak mendapatinya. Yang kami dapati hadis itu hanya sampai kalimat ‘Falamma salama inharafa” tanpa kalimat ‘Wa rafa’a yadaihi wa da’a”. (Lihat, Al Mushanaf Ibnu Abu Syaibah, I : 269)

Dengan demikian, periwayatan Ibnu Abu Syaibah yang ditunjukkan oleh Al Mubarakafuri, tidak dapat dipastikan atau laa asla lahu, yang tentu saja tertolak.

Kelima

عَنِ الْفَضْلِ بْنِ عَبَّاسٍ عَنْ رَسُولِ اللهِ  r قَالَ الصَّلاَةُ مَثْنَى مَثْنَى تَشَهَّدُ فِي كُلِّ رَكْعَتَيْنِ وَتَضَرَّعُ وَتَخَشَّعُ وَتَسَاكَنُ ثُمَّ تُقْنِعُ يَدَيْكَ يَقُولُ تَرْفَعُهُمَا إِلَى رَبِّكَ عَزَّ وَجَلَّ مُسْتَقْبِلاً بِبُطُونِهِمَا وَجْهَكَ وَتَقُولُ يَا رَبِّ يَا رَبِّ ثَلاَثًا فَمَنْ لَمْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَهِيَ خِدَاجٌ.

Dari Al Fadl bin Abbas, dari Rasulullah Saw. bersabda,’Salat itu dua rakaat-dua rakaat, bertasyahud pada setiap dua rakaat. Merendah diri, khusuk, dan patuh. kemudian tadahkan kedua tanganmu kepada Tuhanmu Azza wa Jalla sambil mengadapap kiblat dengan dua telapak tangan (bagian dalam) mengahadap wajahmu, serta berdoalah,’Ya rabbi, ya rabbi 3x. Siapa yang tidak melakukannya hal itu merupakan rusak atau hampa. H.r. At Thabrani, al Mu’jamul Ausath, VIII : 278, al Mu’jamul Kabir, XVIII : 295, Ahmad, Musnad al Imam Ahmad, III : 315, Abu Ya’la, al Musnad, XII : 102, Ibnu Mubarak, az Zuhdu, I : 404, Ibnu Khuzaimah, Shahih Ibnu Khuzaimah, II : 220, At Tirmidzi, Sunan at Tirmidzi, II : 225, Al Baihaqi, as Sunanul Kubra, II : 487, An Nasai, as Sunanul Kubra, I : 212, I : 450, Al Bazzar, Musnad al Bazzar, VI : 110.

Hadis di atas, diriwayatkan pula oleh Ahmad, Musnad al Imam Ahmad, IV : 167, Ibnu Khuzaimah, Shahih Ibnu Khuzaimah, II : 220, Al Baihaqi, as Sunanul Kubra, II : 488, Ad Daraquthni, Sunan Ad Daraquthni, I : 418, Abu Daud, Sunan Abu Daud, II : 29, An Nasai, as Sunanul Kubra, I : 212, I : 451, At Thayalisi, Musnad At Thayalisi, I : 195, Abu Bakar As Syaibani, al Ahad wal Matsani, I : 357, Ibnul Ja’di, al Musnad, I : 234, dari Al Muthalib.

Sanad hadis di atas dhaif, seluruh jalur periwayatannya baik yang malalui Al Fadl bin Abas maupun Al Muthalib melalui seorang rawi bernama Abdullah bin Nafi bin Al ‘Amya yang dinyatakan majhul oleh Ali Al Madini.[12]

Keenam

عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ مَرْثَدٍ وَإِسْمَاعِيْلَ بْنِ اُمَيَّةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ  r كَانَ إِذَا فَرَغَ مِنْ صَلاَتِهِ رَفَعَ يَدَيْهِ وَضَمَّهُمَا وَقَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِيْ مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا اَسْرَرْتُ وَمَا اَعْلَنْتُ وَمَا اَسْرَفْتُ وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ لَكَ الْمَلَكُ وَلَكَ الْحَمْدُ. الزهد لابن المبارك 1: 405.

Dari ‘Alqamah bin Martsad dan Ismail bin Umayah, Rasulullah Saw. apabila beliau selesai dari salatnya, beliau mengangkat kedua tanganya serta beliau menyatukan keduanya seraya berdoa,’ Wahai Tuhanku! Ampunilah aku apa  yang telah lalu dari diriku dan apa yang belum terjadi atas diriku, apa yang tersembunyi dan yang terlihat, dan apa yang aku lebihkan. Dan tidaklah Engkau lebih mengetahui dariku. Engkau Yang Maha terdahulu dan Yang Maha terakhir, tidak ada Tuhan selain Engkau, bagi-Mu milik kerajaan serta bagi-Mu segala puji. H.r. Ibnul Mubarak, az Zuhdu, I : 405.

Hadis ini termasuk hadis Maqthu. Kalimat di atas semata-mata dari Ismail bin Umayah serta ‘Alqamah bin Martsad. Kedua orang ini termasuk thabaqat tabiin. Ismail wafat Th. 139 H. sedangkan ‘Alqamah, wafat Th. 120 H. Lihat Biografi Ismail bin Umayah dalam Tahdzibul Kamal, III : 45-48. Adapun biografi ‘Alqamah dapat dilihat pada Siyaru ‘Alamin Nubala, V : 206.

Sedangkan hadis Maqthu, tidak dapat dijadikan hujjah.

Kesimpulan

Karena hadis-hadis di atas tidak ada satu pun yang shahih, bahkan ke-dhaif-anya bermacam-macam dan tidak yuqawi ba’suha ba’dhan (menguatkan satu sama lainnya), maka secara khusus mengangkat tangan saat berdoa setelah salat terutama setelah salat wajib merupakan satu kebid’ahan.

Mengenai pendapat yang menyatakan bolehnya berdoa sambil mengangkat tangan setelah selesai salat dengan alasan tidak ada hadis yang melarangnya sungguh sebuah perkataan yang janggal bagi seoang ulama, bukankan ibadah itu dikerjakan setelah dicontohkan, bukan dilaksanakan dan baru akan berhenti jika ada larangan.

Adapun hadis-hadis yang memerintahnya daif bahkan dengan kedaifan yang satu sama lainnya saling melemahkan. Maka jelas sekali, mengangkat tangan ketika berdoa setelah salat merupakan amal yang dipaksakan dan menyalahi sunah Nabi Saw.

  1. 5. Mengangkat Tangan Ketika Bertaubat

عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ عَنِ النَّبِي  r قَالَ: كُلُّ شَيْءٍ يَتَكَلَّمُ بِهِ بْنُ آدَمَ فَإِنَّهُ مَكْتُوبٌ عَلَيْهِ فَإِذَا أَخْطَأَ خَطِيْئَةً فَأَحَبُّ أَنْ يَتُوْبَ إِلَى اللهِ فَلْيَأتِ رَفِيْعَهُ فَلْيَمُدَّ يَدَيْهِ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ ثُمَّ يَقُولُ اَللَّهُمَّ إِنِّي أَتُوبُ إِلَيْكَ مِنْهَا لاَ أَرْجِعُ إِلَيْهَا أَبَدًا فَإِنَّهُ يَغْفِرُ لَهُ مَا لَمْ يَرْجِعْ فِي عَمَلِهِ ذَلِكَ.

Dari Abu ad Darda, r.a. dari Nabi Saw., beliau bersabda,’Segala sesuatu yang diucapkan oleh Ibnu Adam akan dicatat. Apabila berbuat satu kesalahan, sangatlah disukai apabila bertaubat kepada Allah. Bersegeralah memulyakan-Nya lalu tadahkanlah kedua tanganya kepada Allah yang Mahagagah dan Mahamulia kemudian ucapkanlah,’Ya Allah! Sesungguhnya aku bertaubat dari kesalahan itu dan aku tidak akan mengulanginya untuk selamanya”. Sesunguhnya Allah akan mengampuninya selama ia tidak kembali untuk mengulangi kesalahanya itu” H.r. Al Hakim, al Mustadrak, I : 679, Al Baihaqi, as Sunanul Kubra, X : 154, dan Syu’abul Iman, V : 402.

Imam Al Hakim mengatakan dalam kitabnya Al Mustadrak, I : 697, ’Hadis ini shahih sesuai dengan syarat periwayatan As Syaikhain (Bukhari dan Muslim), tetapi keduanya tidak meriwayatkannya (dalam kitab shahihnya)

Rupanya pernyataan Al-Hakim itu tidak dapat di terima begitu saja, karena ternyata sanad hadis ini  dhaif  di sebabkan ke-dhaif-an seorang rawi bernama Fudhail bin Sulaiman an Numair. Sangat disayangkan Al-Hakim sama sekali tidak menyinggung keberadaan rawi yang dhaif ini.[13]

c. hadis yang dianggap sebagai dalil umum

  1. 1. Dalam Bentuk Khobariyyah

Pertama

عَنْ سَلْمَانَ الْفَارِسِيِّ عَنِ النَّبِيِّ  r قَالَ إِنَّ اللهَ حَيِيٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي إِذَا رَفَعَ الرَّجُلُ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا خَائِبَتَيْنِ. رَوَاهُ التِّرْمِذِيُ

Dari Salman al Farisiy dari Nabi Saw. bahwa beliau bersabda,’Sesungguhnya Allah memiliki sifat Maha Pemalu Mahamulia, Ia akan teramat merasa malu apabila seseorang (berdoa) dengan mengangkat kedua tanganya lalu dikembalikan keduanya dalam keadaan hampa”.

H.r. At Tirmidzi, Sunan at Tirmidzi, V : 520, Al Hakim, al Mustadrak, I : 497,  Al Bazar, Musnad al Bazar, VI : 478, Ibnu Hiban, Shahih Ibnu Hiban, II : 119 & 120, Al Baihaqi, as Sunanul Kubra, II : 211, Abu Daud, Sunan Abu Daud, I : 334, As Syihab, Musnad as Syihab, II : 165, Al Haitsami, Mawariduzh Zhamaan, I : 596, Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, IV : 282, Ahmad, Musnad al Imam Ahmad, XXXIX : 120, At Thabrani, al Mu’jamul Kabir, VI : 314, Al Bagowi, Syarhus Sunnah, V : 185, Al Khatib, Tarikhul Bagdad, VIII : 317.

Sanad hadis ini dhaif. Seluruh jalur periwayatannya bertumpu kepada tiga orang rawi yang dhaif, yaitu Ja’far bin Maimun, Sulaiman At Taimi, dan Abu al Mu’alla. Ketiga rawi ini sama-sama menerima dari Abu Usman an Nahdi dari Salman al Farisi dari Nabi Saw. [14]

Di sisi lain, hadis ini pun  diriwayatkan secara mauquf oleh Ibnu Abu Syaibah, Mushanaf, VII : 122, Al Hakim, al Mustadrak, I : 497, Hanad bin as Sarriy, Az Zuhdu, II : 629, Ahmad, al Mausuatul Haditsiyah, Musnad al Imam Ahmad, XXXIX : 120, At Thabrani, al Mu’jamul Kabir, VI : 309, dengan lafal demikian  berikut :

إِنَّ اللهَ يَسْتَحْيِ أَنْ يَبْسُطَ إِلَيْهِ عَبْدٌ يَدَيْهِ يَسْأَلُهُ بِهِمَا خَيْرًا فَيَرُدَّهُمَا خَائِبَتَيْنِ.

Sesungguhnya Allah Merasa teramat malu apabila seorang hamba menadahkan kedua tanganya, memohon kepadaNya kebaikkan kemudian Ia mengembalikan keduanya dalam keadaan hampa”.[15]

Dalam hadis lainnya diterangkan masih dari shahabat Salman dengan lafal:

عَنْ سَلْمَانَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ  r  مَا رَفَعَ قَوْمٌ  أُكَفَّهُمْ  إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ يَسْأَلُوْنَهُ شَيْئًا إِلاَّ كَانَ حَقًّا عَلَى اللهِ أَنْ يَضَعَ فِي أَيْدِيْهِمُ الَّذِي سَأَلُوهُ. رواه الطبراني، المعجم الكبير 6: 312. الهيثمي، مجمع الزوائد 10: 172.

Dari Salman, ia berkata,’Rasulullah Saw. bersabda,’Tidaklah satu kaum mengangkat telapak-telapak tangan mereka,  memohon sesuatu kepada Allah Azza wa Jalla melainkan berhak bagi Allah untuk menyimpan pada telapak-telapak tangan itu apa yang dimohonkan oleh mereka kepada-Nya” H.r. At Thabrani, al Mu’jamul Kabir, VI : 312, Al Haitsami, Majmauz Zawaid, X : 172

Sedangkan dalam riwayat Ad Dailami pada kitabnya al Firdaus Bima’tsuril Khithab, IV : 358, dengan lafal :

مَا رَفَعَ قَوْمٌ أُكَفَّهُمْ يَمِيْناً وَشِمَالاً إِلاَّ كَانَ حَقًّا عَلَى اللهِ أَنْ يَضَعَ فِي أَيْدِيْهِمُ الَّذِي سَأَلُوا

Tidaklah suatu kaum mengangkat tangan mereka (berdoa) yang kanan dan yang kiri melainkan hak bagi Allah untuk meletakkan pada tangan-tangan iyu apa yang dimohonkan oleh mereka. H.r. Ad Dailami, al Firdaus Bima’tsuril Khithab, IV : 358. Kedua hadis ini pun dhaif, karena pada sanadnya terdapat seorang rawi bernama Sa’id bin Iyas Al Jariri yang dijarh ke-tsiqat-annya.[16].

Kedua

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ   r إِنَّ اللهَ رَحِيْمٌ حَيٌّ كَرِيْمٌ يَسْتَحْيِي مِنْ عَبْدِهِ أَنْ يَرْفَعَ إِلَيْهِ يَدَيْهِ ثُمَّ لاَ يَضَعُ فِيْهِمَا خَيْرًا.رواه الحاكم 1: 497. الجامع لمعمر بن راشد 10: 443. عبد الرزاق 2: 251. ابو يعلى 7: 142، ابو نعيم، حلية الأولياء 8: 131.

Dari Anas bin Malik r.a. ia berkata,’Rasulullah Saw. bersabda,’Sesungguhnya Allah Mahapenyayang, Memiliki sifat malu, Mahamulia, Ia merasa malu dari hambaNya apabila hamba itu mengangkat tangannya (berdoa) kepadaNya lalu Ia tidak menyimpan kebaikkan pada keduanya”. Al Hakim, al Mustadrak, I : 497, Ma’mar bin Rasyid, al Jami’, X : 443, Abdurrazaq, Mushanaf, II : 251, Abu Ya’la, Musnad Abu Ya’la, VII : 142.[17]

Dalam lafal lainnya diterangkan:

عَنْ رَبِيْعَةَ بْنِ أَبِي عَبْدِالرَّحْمَنِ قَالَ سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ الله   r إِنَّ اللهَ جَوَّادٌ كَرِيْمٌ يَسْتَحْيِ مِنَ الْعَبْدِ الْمُسْلِمِ إِذَا دَعَاهُ أَنْ يَرُدَّ يَدَيْهِ صِفْرًا لَيْسَ فِيْهِمَا شَيْءٌ وَإِذَا دَعَا الْعَبْدُ فَأَشَارَ بِأُصْبُعِهِ قَالَ الرَّبُ أَخْلَصَ عَبْدِي وَإِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ قَالَ اللهُ إِنِّي أَسْتَحْيِ مِنْ عَبْدِي أَنْ أَرُدَّهُ. رواه  ابو نعيم، حلية الأولياء 3: 263.

Dari Rabiah bin Abu Abdurrahman, ia mengatakan,’Saya mendengar Anas bin Malik berkata,’Rasulullah Saw. bersabda,’Sesungguhnya Allah Mahabaik, Mahamulia, Ia merasa teramat malu dari seorang hamba muslim apabila ia berdoa kepada-Nya lalu dikembalikan kedua tangan itu dalam keadaan hampa tidak ada sedikit pun (kebaikan) pada keduanya. Dan Apabila seorang hamba itu berdoa, ia mengisyaratkan dengan telunjuknya, Tuhanku berfirman,’Hamba-Ku telah iklash. Dan apabila ia mengangkat kedua tanganya, Allah berfirman,’Sesungguhnya Aku teramat malu terhadap hamba-Ku untuk menolaknya. H.r. Abu Nuaim, Hilyatul Auliya, III : 263.

Dan hadis ini dhaif[18]

Ketiga

عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ  r أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ حَيِّيٌ كَرِيْمٌ يَسْتَحْيِي مِنْ عَبْدِهِ أَنْ يَرْفَعَ إِلَيْهِ يَدَيْهِ فَيَرُدُّهُمَا صَفْرًا لَيْسَ فِيْهِمَا شَىْءٌ.رواه الطبراني، المعجم الاوسط 5: 298. ابو يعلى 3: 391.

Dari Jabir, ia mengatakan, Rasulullah Saw. bersabda,’Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memiliki sifat Pemalu dan Mahamulia, Ia merasa teramat malu dari hambaNya apabila hamba itu mengangkat kedua tanganya (berdoa) kepadaNya lalu dikembalikan keduanya dalam keadaan hampa yang tidak ada sesuatu pun (kebaikan) pada keduanya”. H.r. At Thabrani, al Mu’jamul Ausath, V : 298, Abu Ya’la, Musnad Abu Ya’la, III : 391.[19]

Dalam Bentuk Insyaiyyah

Pertama

عَنِ ابْنِ مُحَيْرِيْزٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ  r  إِذَا سَأَلْتُمُ اللهَ فَاسْأَلُوهُ بِبُطُونِ أُكَفِّكُمْ  وَلاَ تَسْأَلُوهُ بِظُهُورِهَا رواه ابن أبي شيبة

Dari Ibnu Muhairiz mengatakan,’Rasulullah saw. bersabda,’Apabila kalian memohon kepada Allah, mohonlah kepada-Nya dengan membuka telapak tangan mu dan janganlah kamu memohon kepada-Nya dengan menutupkanya. H.r. Ibnu Abi Syaibah, AL-Mushanaf, VII : 64.

Hadis ini daif karena mursal.[20]

Kedua

عَنْ مَالِكِ بْنِ يَسَارٍ السَّكُونِيِّ ثُمَّ الْعَوْفِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللهِ  r قَالَ إِذَا سَأَلْتُمُ اللهَ فَاسْأَلُوهُ بِبُطُونِ أَكُفِّكُمْ وَلاَ تَسْأَلُوهُ بِظُهُورِهَا رواه ابو داود و الطبراني و أبو بكر الشيباني

Dari Malik bin Yasar as Sakuni, al ‘Aufi, bahwa Rasulullah saw. bersabda,’ ’Apabila kalian memohon kepada Allah, mohonlah kepada-Nya dengan membuka telapak tangan mu dan janganlah kamu memohon kepada-Nya dengan menutupkanya. H.r. Abu Daud, Sunan Abu Daud, I : 334, At Thabrani, Musnad as Syamiyyin, II : 432, Abu Bakar As Syaibani, Al Ahad wal Matsani, IV : 410.

Sanad hadis ini daif, disebabkan ke-daif-an dua orang rawi yang bernama Dhamdham dan Ismail bin ‘Ayyas.[21]

Ketiga

وَعَنْ أَبِي بَكْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ r قَالَ سَلُوا اللهَ بِبُطُونِ أُكَفِّكُمْ  وَلاَ تَسَلُوهُ بِظُهُوْرِهَا.

Dari Abu Bakrah, sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda,’mohonlah kamu kepada Allah dengan membuka telapak tangan mu dan janganlah kamu memohon kepada-Nya dengan menutupkanya.

hadis ini daif disebabkan kesalahan periwayatan rawi bernama Khalid al Hadzai’.[22]

Keempat

عَنْ خَالِدِ بْنِ الْوَلِيْدِ أَنَّهُ شَكَا إِلَى رَسُولِ اللهِ  r اَلضَيِّقَ فِي مَسْكَنِهِ  فَقَالَ اِرْفَعْ إِلَى السَّمَاءَِ وَسَلِ اللهَ السَّعَةَ.رواه الطبراني

Dari Khalid bin Al Walid, bahwasanya ia mengadu kepada Rasulullah saw. tentang kesulitan yang menimpa keluarganya, Nabi saw. bersabda,’Angkatlah (kedua tanganmu) kelangit dan mintalah kelapangan”. H. r. At Thabrani, al Mu’jamul Kabir, IV : 137

Al Haetsami mengatakan,’Hadis di atas diriwayatkan oleh At Thabrani dengan dua sanad, salah satu dari keduanya itu hasan. Majma’uz Zawaid, X : 169.[23]

Kelima

عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ الْمَسْأَلَةُ أَنْ تَرْفَعَ يَدَيْكَ حَذْوَ مَنْكِبَيْكَ أَوْ نَحْوَهُمَا وَالاسْتِغْفَارُ أَنْ تُشِيرَ بِأُصْبُعٍ وَاحِدَةٍ وَالابْتِهَالُ أَنْ تَمُدَّ يَدَيْكَ جَمِيعًا. رواه أبو داود

Dari ‘Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia mengatakan,’Dalam memohon (berdoa) hendaklah kamu mengangkat kedua tanganmu sejajar dengan kedua bahumu atau berbatasan dengan keduanya. Dalam beristighfar, hendahlak berisyarat dengan satu jari, dan dalam beribtihal, hendaklah mengulurkan (membentangkan) kedua tanganmu seluruhnya. H.r. Abu Daud, Sunan Abu Daud, I : 334.

Abu Daud dalam meriwayatkan hadis di atas menggunakan dua bentuk

  1. Secara mauquf (hanya sampai kepada sahabat / ucapan seorang sahabat)
  2. Secara marfu’ (sampai kepada Nabi / sabda Nabi)

Berdasarkan penelitian kami, maka periwayatan yang marfu’ itu daif.[24]


[1] Al Mizi mengatakan dalam kitabnya Tahdzibul Kamal, XXIV : 42, ‘Yang Shahih (benar) adalah bahwa di antara keduanya terdapat seseorang yang menjadi perantara periwayatanya (tidaklangsung). Disamping ke-munqathi-an sanad hadis di atas, diperselisihkan pula tentang periwayatan Al Auzai’ pada sanad hadis di atas. Imam An Nasai meriwayatkan dalam kitabnya as Sunanul Kubra, No. hadis 10158 & 10159, dan Amalul Yaumi wal Lailah, No. Hadis 326 & 327, melalui Al Auzai, dari Yahya bin Abu Katsir, dari Muhamad bin Abdurrahman bin Asad bin Zurarah dan Muhamad bin Tsauban secara mursal. Lihat, Ta’liq ’ala Musnad Imam Ahmad, XXIV : 222.

[2] Syahr bin Hausab al ‘Asy’ari Abu Sa’id maula Asma binti Yazid bin as Sakan al Anshari. Yahya bin Ma’in menyatakan,’Syahr bin Husaib seorang rawi yang tsiqat”. Berkata Ahmad bin Abdullah al ‘Ijli,’Ia seorang tabi’in yang tsiqat”. Menurut Al Bukhri,’Hasanul hadis”. Sedangkan menurut Musa bih Harun,’Ia seorang rawi yang dhaif”. An Nasai menyatakan,’Ia seorang rawi yang tidak kuat”.  Dr. ‘Awad Ma’ruf menerangkan bahwa Ibnu Adi mengatakan,’Ia seorang rawi yang tidak kuat dalam urusan hadis dan ia termasuk rawi yang tidak dapat dipakai hujah”. Dalam kesempatan lain beliau menyatakan,’Ia sangat dhaif sekali”. Ad Daraquthni menyatakan,’Ia tidak kuat”. Ibnu Hajm menyatakan,’Saqith”. Dan menurut Ibnu Hajar,’Ia rawi yang shaduq (jujur) tetapi bayak memursalkan hadis serta banyak kesamaran dalam urusan hadis”. Ta’liq ’ala Tahdzibil Kamal, XII : 578-589.

Karena yang men-jarh itu menjelaskan sebabnya, maka periwayatan Syahr bin Hausab al ‘Asy’ari Abu Sa’id tertolak. Adapun tentang Ismail bin Nasyith al ‘Amiri, Abu Zur’ah menyatakan,’Ia seorang rawi yang shaduq”. Abu Hatim mengatakan,’Ia rawi yang tidak kuat, seorang Syaikh yang tidak dikenal”. Ar Razi dan an Nasai mengatakan,’Ia tidak kuat”, al Azdi menyatakan,’Ia rawi yang dhaif”. Dalam Mizanul ‘Itidal Ad Dzahabi menerangkan bahwa menurut Abu Hatim,’Ia rawi yang tidak kuat, Al Azdi men-dhaif-kannya, dan al Bukhari mengatakan pada sanadnya mesti ada penelitian kembali”. Ibnu Adi mengatakan,’Ismail bin Nasyith, ‘Azizul Hadis Jiddan” (Hadis yang ia riwayatkan sangat jarang sekali) dan tidak bisa ditetapkan hukum (shahih atau dhaif) terhadap hadis yang ia riwayatkan serta tidaklah ia meriwayatkan dari hadis selain hanya sedikit saja. Lihat, Al Jarhu wat Ta’dil, II : 201. Ad Du’afau wal Matrukin lin Nasai, I : 17, ad Dua’fau wal Matrukin libnil Jauzi, I : 122, Mizanul ‘Itidal, I : 414, Lisanul Mizan, I : 440, al Kamil Fid Du’afair Rijal, I : 320.

[3] Abu Al Jarah. Ia adalah Abu Al Jarah al Mahri. Ad Dzahabi dalam kitabnya Mizanul ‘Itidal, VII : 349, mengatakan,’Ia tidak dikenal”. Ibnu Hajar menerangkan,’Majhul” Lisanul Mizan, VII : 456, Tahdzibul Kamal, XXXIII : 186. Adapun tentang Ummu Syarahil, Ad Dzahabi mengatakan,’Ia tidak dikenal”. Begitu pula yang dinyatakan oleh Ibnu Hajar dalam kitabnya Lisanul Mizan. Tahdzibut Tahdzib, XXXV : 168.

[4] Meskipun ada yang menyatakan tsiqah, tetapi yang men-jarh-nya lebih banyak dengan jarh yang berat. Di antaranya:  An-Nasai mengatakan,”Ia rawi yang tidak kuat” Ad Daraqutni sendiri menyatakan,”Laa yuhtajju bihi”(tidak dapat dijadikan hujjah). Sulaiman Attaimi menyatakan,”Kadzdzab” (ia seorang pendusta). Ibnu Hisyam menyatakan,”Kadzdzab”. Tahdzibul Kamal, XXIV : 405-429. Mizanul I’tidal, II : 468. Dengan jarah-jarah ini, jelaslah bahwa hadis di atas dhaif

[5] Abu Maryam At Tsaqafi. Ia adalah Qaes Abu Maryam At Tsaqafi Al Madaini. Ada juga yang mengatakan Al Hanafi. An Nasai mengatakan,’Abu Maryam Qaes Al Hanafi, seorang rawi yang tsiqat. Ad Dzahabi dalam kitabnya Al Kasyif, mengatakan,’Tsiqat. Dan Ibnu Hiban memasukan kedalam kitabnya at Tsiqat. Al Mizi dalam kitabnya Tahdzibul Kamal menerangkan bawa Ali bin Al Madini mengatakan,’Abu Maryam Al Hanafi itu namanya Iyas bin Dlubaeh (bukan Qais). Begitu juga yang dikatakan oleh Abu Nasr bin Makul,’Abu Maryam Al Hanafi namanya Iyas bin Dlubaeh sebagai hakim pada masa Umar bin Al Khathab. Berkata Abu Hatim,’Abu Maryam At Tsaqafi Al Madani, namanya Qais. Dan ada juga yang mengatakan,’keduanya (Al At Tsaqafi dan Al Hanafi) itu dua orang (bukan dua nama untuk satu orang). menurut Ibnu Hajar dalam kitabnya at Taqrib,’Abu Maryam At Tsaqafi nama Qaes Al Madaini, majhul. Lihat at Tarikhul Kabir, Al Bukhari, VII : 151, al Mugni Fid Duafa, II : 807, Mizanul Itidal, VII : 426, Lisanul Mizan, VII : 482, Taqribut Tahdzib, I : 672, al Kasyif, II : 459, Tahdzibul Kamal, XXXIV : 282-283. Adapun Nuaim bin Hakim al Madain saudaranya Abdul Malik bin Hakim. Ia seorang rawi yang dinyatakan tsiqah oleh Ibnu Ma’in juga Ad Dzahabi dalam kitabnya al Kayif. Ibnu Hiban memasukannya kedalam kitabnya at Tsiqat tanpa memberi komentar apa-apa. Dr. Awad Ma’ruf menerangkan bahwa Ibnu Hajar mengatakan dalam kitabnya Tahdzibut Tahdzib,’Dan telah menukil As Saji dari Ibnu Ma’in bahwasanya ia mendhaifkannya (mendhaifkan Nuaem bin Hakim). Muhamad bin Sa’ad mengatakan,’Lam yakun bi dzaka’. Menurut An Nasai,’Ia seorang rawi yang tidak kuat”. Ibnu Khirasy menyatakan,’Shaduq la basa bih”. Al Azdi menyatakan,’Hadis-hadisnya diingkari. Dan Ibnu Hajar menyatakan dalam kitabnya at Taqrib,’Ia seorang rawi yang shaduq tetapi terdapat kesamaran dalam periwayatannya. Lihat ad Duafau wal Matrukin libnil Jauzi, III : 164, Mizanul Itidal, VII : 41, Lisanul Mizan, VII : 421, at Taqrib, I : 564, al Kayif, II : 323, Tarikh Bagdad, XIII : 302, Tahdzibul Kamal, XXIX : 464-465.

[6] Dalam periwayatan Al Baihaqi, as Sunanul Kubra, V : 73, As Syafii’, Musnad as Syafii’, I : 125, al Um, II : 169, dari Ibnu Juraij, hadisnya munqathi (putus sanad). Karena Ibnu Juraij adalah seorang Tabiut Tabi’in. Wafat Th. 149 H. Tahdzibul Kamal, XVIII : 338. Dalam periwayatan  Al Baihaqi, as Sunanul Kubra, V: 73, Ibnu Abu Syaibah, III : 437, VI : 81, dari Makhul, hadisnya mursal. Karena Makhul adalah seorang Tabii’. Dalam periwayatan  At Thabrani, al Mu’jamul Ausath, VI : 183, al Mu’jamul Kabir, III : 181, dari Khudzaifah bin Usaid Abu Suraihah al Gifari, pada sanadnya terdapat rawi bernama ‘Ashim bin Sulaiman al Kauzi yang dinyatakan ‘Matrukul Hadis’. Ad Du’afau’ wal Matrukin lin Nasai, I : 78. Al Mubarakafuri menerangkan dalam kitabnya Tuhfatul Ahwadzi, III : 501, bahwa As Syaukani menyatakan,’Tidak ada dalam bab ini, dalil-dalil yang menunjukkan atas disyari’atkannya berdoa sambil mengangkat kedua tangan ketika melihat Al Bait (Ka’bah). Karena hal itu merupakan hukum Syari’ yang tidak bisa ditetapkan melainkan harus dengan dalil (yang shahih).

[7] Dalam periwayatan Abu Nuaim dan Abu Al Farj,  pada sanadnya terdapat dua rawi yang tidak dikenal. 1. Sa’ad bin As Shalt. Ia adalah Ibnu As Shalt bin Bard bin Aslam maula Jarir bin Abdullah. al Jarhu wat Ta’dil, IV : 68.Tentang kedudukan rawi ini, kami tidak mendapat keterangan dari seorang ulama pun yang memberikan penilaian terhadapnya baik penilaian jarh maupun ta’dil. 2. Ishaq bin Ibrahim. Ia adalah Ishaq bin Ibrahim yang dikenal dengan Syadzan al Farisi sebagai hakim di Faris. Rawi ini pun tidak didapat keteranganya dalam kitab rijal-rigal hadis. Dengan demikian kedua rawi ini dikategorikan rawi yang majhul. Tidak dapat diyakini ke-mutashil-annya. Sebab Sa’ad bin As Shalt dari Al ‘Amasy dalam biografi Al ‘Amasy kami tidak mendapat keterangan tentang Sa’ad bin As Shalt dicantumkan sebagai murid atau yang menerima hadis dari Al ‘Amasy. Lihat Tahdzibul Kamal, XII : 76-91. Dalam periwayatan Al Bazar, tidak diterangakan bahwa Nabi saw. mengangkat tangan. Selain itu pada sanadnya terdapat rawi bernama ‘Abad bin Ahmad Al ‘Aruzi yang dinyatakan matruk sebagaimana yang dikatakan oleh Al Haitsam dalam kitanya Majma’uz Zawaid, IX : 369.

[8] An Nasai mengatakan,’Hadis di atas ‘Munkar’, kami tidak mengetahui seorang pun yang meriwayatkan hadis ini selain Yunus bin Sulaim. Sedangkan dia sendiri kami tidak mengenalnya. Al Mausuatul Haditsiah Musnad al Imam Ahmad, I : 351, Tahdzibul Kamal, XXXII : 508-510.

[9] Imam Al Bukhari meriwayatkan (hadisnya) dalam kitabnya ‘al Adabul Mufrad. Sedangkan Imam Muslim memakai rawi ini dalam periwayatannya digandeng atau disertai dengan rawi lain bernama Tsabit Al Bunani.

Ya’qub bin Syaibah mengatakan,’Tsiqat, Shalihul hadis, wa ila layyin ma huwa”. Ibnu Sa’ad mengelompokkan rawi ini ke dalam thabaqat ke empat dari orang Bashrah, ia seorang rawi yang banyak hadisnya tetapi terdapat ke-dhaif-an yang tidak bisa dijadikan hujjah”. Shalih bin Ahmad bin Hanbal mengatakan dari bapaknya,’Ia tidak kuat, tetapi orang-orang meriwayatkan hadis darinya”. Dalam kesempatan lain beliau menyatakan,’Dhaiful hadis”. Yahya bin Ma’in menyatakan,’Ia rawi yang dhaif”. dalam hal lainnya beliau menyatakan,’Tidak bisa dijadikan hujjah”. Abu Bakar bin Khuzaimah mengatakan,’Aku tidak akan berhujjah dengannya karena ia buruk hapalan”.  Tahdzibul Kamal, XX : 434-445.

[10] Muhamad bin Abu Yahya al Aslami, Abu Abdullah al Madani beliau wafat Th. 144 H Tahdzibul Kamal XXVII : 11. Sedangkan Abdullah bin Az Zubair, adalah seorang shahabat yang dilahirkan setelah dua puluh bulan dari hijrah. Ada yang mengatakan beliau dilahirkan pada Th pertama hijrah, dan beliau wafat terbunuh pada Th 73 H. Tahdzibul Kamal, XIV : 509-511. Dengan demikian pernyataan bahwa Muhamad bin Abu Yahya al Aslami melihat Abdullah bin az Zubair dan mendengar hadis darinya tidak dapat dipastikan kebenaranya. Seandainya dapat dibuktikan, maka Muhamad bin Abu Yahya pada saat itu masih sangat kecil belum mengetahui apa-apa”.

[11] Imam Ahmad mengatakan,’Aku tinggalkan hadis-hadisnya sebab hadis-hadisnya itu palsu. An Nasai menyatakan,’Ia rawi yang tidak tsiqat”. Ad Daraquthni berkata,’Munkarul hadis”.  Ad Du’afau wal Matrukin Libnil Jauzi, serta Ibnu Hiban menyatakan,’Tidak halal untuk dijadikan hujjah. II : 110,  al Jarhu Wat Ta’dil, V : 388, Mizanul ‘Itidal, IV : 376.

[12] Imam Al Bukhari mengatakan dalam kitab tarikhnnya,’Hadisnya tidak shahih”. at Tarikhul Kabir, V : 213.  Ali Al Madini menyatakan,’Majhul”. Begitu pula yang dikatakan oleh Ibnu Hajar dalam kitabnya at Taqrib, I : 327. Tahdzibul Kamal, XVI : 206-207. Disamping ke-dhaif-an rawi Abdullah bin Nafi bin Al ‘Amya, Ibnu Abdul Bar mengatakan dalam kitabnya at Tamhid XIII : 186, setelah beliau meriwayatkan melalui Al Laits,’Sanad hadis ini Mudhtharib, dhaif, tidak bisa dijadikan hujjah”. al Mausuatul Haditsiyah, Musnad al Imam Amad, III : 315, 316.

[13] Tentang Fudhail bin Sulaiman An Numair disampaikan oleh Abbas Ad Duawari yang menyempaikan komentar  dari Yahya bin Ma’in,’Ia rawi yang tidak tsiqah”. Abu Zur’ah menyatakan,’Layyinul Hadis”. Menurut Abu Hatim,’Hadisnya dicatat, ia rawi yang tidak tsiqah”. An Nasai mengatakan,’Ia tidak tsiqah”. Ibnu ‘Adi, Ibnul Jauzi, dan Ad Dzahabi, mengelompokkanya kedalam rawi yang dhaif”. Ibnu Hajar menerangkan dalam kitabnya at Tahdzib,’Shalih bin Muhamad Jazarah mengatakan,’Munkarul Hadis, bila meriwayatkan dari Musa bin ‘Uqbah”. Sedangkan dalam kitabnya at Taqrib, beliau mengatakan,’Ia rawi yang shuduq tetapi kesalahanya  teramat banyak”. Tahdzibul Kamal, XXIII : 271-275.

[14] a. Ja’far bin Maimun. Ia adalah Ja’far bin Maimun at Tamimi Abu Ali. Ada yang mengatakan juga Abu al ‘Awam al Anmathi. Abdullah bin Ahmad mengatakan dari Ayahnya,’Ia tidak kuat dalam urusan hadis”. Abbas ad Duwari mengatakan dari Yahya bin Ma’in,’Laisa bidzaka. Dalam kesempatan lain ia mengatakan,’Shalihul Hadis, dan kesempatan lain pula ia mengatakan,’Ia tidak kuat”. Menurut Abu Hatim,’Shalih” An Nasai mengatakan,’Ia rawi yang tidak kuat”. Ad Daraquthni mengatakan,’Yu’tabaru bihi”. Al Bukhari mengatakan,’Laisa bis syaiin”. Dan Ibnu Hajar mengatakan,’Ia rawi yang jujur tetapi banyak salah”. Tahdzibul Kamal, V : 114-115.

b. Sulaiman At Taimi. Ia adalah Sulaiman bin Tharkhan at Taimiy, Abu al Mu’tamir al Bashri. Wafat Th. 143 H.

Ia seorang ahli hadis sebagaimana dikatakan oleh Ali bin Al Madini. Al Bukhari mengatakan dari Ali bin Al Madini, ‘Ia memiliki dua ratus hadis”. Abdullah bin Ahmad mengatakan dari ayahnya,’Ia rawi yang tsiqat dan periwayatannya yang diterima dari Abu Usman lebih aku sukai dari pada periwayatan Ashim al Ahwal. Dan menurut Al Mizi, ia rawi Jama’ah (Al Bukhari, Muslim, Abu Daud, At Tirmidzi, An Nasai, Ibnu Majah, dan Ahmad). Tahdzibul Kamal XII : 5-12.

Dalam Thabaqatul Mudallisin, I : 33 dan Tahdzibut Tahdzib, Ibnu Ma’in dan An Nasai menyatakan bahwa Sulaiman At Taimi mudallis. Kaidah ulumul hadis menyatakan bahwa seorang rawi mudallis apabila meriwayatkan dengan bentuk ‘an (dari), maka periwayatannya itu munqathi (terputus) dan tertolak. Lihat Manhajun Naqd, : 384.

Dengan demikian, periwayatan Sulaiman At Taimi dari Abu Usman dalam masalah ini tertolak karena dalam periwayatannya menggunakan lafal atau bentuk ‘an.

c. Abu Al Mu’alla.

Dalam kitab rijal-rijal hadis, kami dapati rawi bernama Abu Al Mu’alla yang menerima dari Abu Usman An Nahdi itu ada dua orang. 1. Ja’far bin Maimun. Al Mugni fid Du’afa, I : 135. 2. Yahya bin Maimun ad Dlabbayyu. Tahdzibul Kamal, XXXII : 15-17. Seandainya yang dimaksud dalam periwayatan Abu Abdullah al Mahamili, dalam kitabnya Amaliyul Mahamiliy, 1: 380, dan Al Bagowi, Syarhus Sunnah, V : 185, itu Ja’far bin Maimun, rawi ini dhaif. Tetapi jika yang dimaksud Yahya bin Maimun, ia seorang rawi yang tsiqat tetapi mudalis. Lihat Tahdzibul Kamal, XXXII : 15-17.

Dengan tidak adanya kejelasan siapa yang dimaksud, maka periwayatan Al Mahamili dan Al Bagawi tidak dapat dijadikan hujjah sama sekali. Sebab dalam periwayatan keduannya hanya di sebut Abu Al Mu’alla.

[15] Menurut Syu’aib Al Arna’uth, sanad hadis mauquf ini shahih. Al Mausuatul Haditsiah, Musnad al Imam Ahmad, XXXIX : 120

[16] Al Haetsami mengatakan dalam kitabnya Maj’mauz Zawaid, ‘Rawi-rawi hadis riwayat At Thabrani di atas adalah rawi-rawi yang shahih. Tetapi setelah diteliti lebih jauh ternyata terdapat seorang rawi bernama Sa’id bin Iyas Al Jariri yang diperbincangkan. Dalam kitab Ma’rifatus Tsiqat, I : 394, diterangkan,’ Sa’id bin Iyas Al Jariri, ia seorang rawi yang tsiqat, tetapi mukhtalit pada ahir hayatna. Di antara orang yang meriwayatkan setelah beliau mukhtalith: 1. Yazid bin Harun. 2. Ibnu Mubarak. 3. Ibnu Adi.  Maka siapa saja yang meriwayatkan dari Sa’id, sethobaqah dengan mereka, periwayatannya itu setelah Sa’id mukhtalith. Sedangkan oarang yang meriwayatkan sebelum beliau muhktalith: 1. Hamad bin Salamah 2. Ismail bin Ulayah. 3. Abdul ‘Ala. Dan yang paling shahih dari antara mereka tentang pen-sima-an dari Sa’id sebelum muhktalith ialah Sufyan Tsauri dan Syu’bah.

Karena yang meriwayatkan dari Sa’id bin Iyas Al Jariri pada sanad hadis di atas itu, adalah rawi bernama Syadad bin Sa’id Abu Thalhah Ar Rasibi, maka hemat kami ia meriwayatkan setelah Sa’id muhktalith. Disamping itu ia seorang rawi shuduq tetapi banyak salah sebagaimana yang dinyatakan oleh Ibnu Hajar dalam kitabnya Taqribut Tahdzib, I : 264.

[17] Dalam riwayat Al Hakim, terdapat rawi bernama Amir bin Yasaf. Ia adalah Amir bin Abdullah bin Yasaf. Ia termasuk rawi yang diperbincangkan. Abu Hatim mengatakan,’Ia rawi yang shalih’. Al Jarhu wat Ta’dil, VI : 329.

Berkata Ad Duwari dan Ibnu Al Barqani dari Yahya bin Ma’in,’Ia rawi yang tsiqah. Ibnu Hiban mencantumkannya dalam kitabnya at Tsiqah”. Ibnu Hajar mengatakan dalam kitabnya Ta’jilul Manfaah, bahwa pernyataan tsiqat Yahya bin Ma’in terhadap Amir bin Yasaf itu diperselisihkan. Ibnu Adi mengatakan,’Munkarul Hadits ‘Anis Tsiqaathi (hadisnya diingkari dari rawi yang tsiqah). Kemudian beliau mengatakan,’Bersamaan dengan ke-dhaif-an rawi ini, hadisnya dicatat”. Menurut Abu Daud,’Laisa bihi ba’sun, ia seorang yang shalih”. Al ‘Ijli mengatakan,’Hadisnya dicatat, dan padanya terdapat ke-dhaif-an. Sedangkan Abbas ad Duwari mengatakan dari Yahya,’Laisa bis Syai’in”. Lisanul Mizan, III : 224. Ta’jilul Manfaah , I : 206 CD,

Dalam Riwayat Abu Ya’la, terdapat rawi bernama Shalih. Ia adalah Shalih bin Basyir bin Wada’ bin Ubay bin Abu al ‘Aq’as al Qari, Abu Bisyr al Bashri yang dikenal dengan sebutan Al Murrayi. Abdullah bin Ali bin Al Madini mengatakan,’Saya bertanya kepada ayahku tentang rawi bernama Shalih Al Murrayi, beliau sangat mendhaifkannya”. An Nasai mengatakan,’Hadisnya dhaif, baginya memiliki hadis-hadis yang munkar. Dalam kesempatan lain beliau mengatakan,’Matrukul hadits”. Dan Al Bukhari mengatakan,’Munkarul hadits”. Tahdzibul Kamal, XIII : 16-23.

Dalam riwayat Ma’mar bin Rasyid, Abdurrazaq, dan Abu Nuaim, terdapat rawi bernama Aban. Ia adalah Aban bin Abu ‘Ayasy, namanya adalah Fairuz, Abu Ismail Al Bashri. Muawiyah bin Shalih mengatakan dari Yahya bin Ma’in,’Ia rawi yang dhaif”. Abu Hatim Ar Razi dan An Nasai menyatakan,’Matrukul hadis”. Tahdzibul Kamal, II : 19- 23.

[18] Pada sanad hadis ini terdapat rawi bernama Habib. Ia adalah Habib bin Abu Habib, nama aslinya ialah Ibrahim, disebut juga dengan nama Ruzeq, seorang katib (sekretaris atau juru tulis) Anas bin Malik. Abu Daud mengatakan,’Ia termasuk rawi yang sangat pendusta”. An Nasai dan Abul Fath al Azadzi menyatakan,’Matrukul hadits”. Ibnu Adi dalam kitabnya al Kamil mengatakan,’Seluruh hadisyang diriwayatkannya palsu”. Tahdzibul Kamal, V : 366- 370.

[19] Sanad sanad hadis ini dhaif, disebabkan kedhaifan rawi bernama Yusuf bin Muhamad bin Al Munkadir. Abu Zur’ah mengatakan,’Shalih, ia seorang rawi yang paling sedikit meriwayatkan hadis dari saudaranya Al Munkadir Ibnu Ahmad”. Menurut Abu Hatim,’Ia rawi yang tidak kuat, hadisnya dicatat”. Abu ‘Ubaid al Ajari mengatakan dari Abu Daud,’Ia rawi dhaif”. An Nasai menyatakan,’Ia rawi yang tidak tsiqah”, dalam kitabnya ad Dua’fa beliau menyatakan,’Matrukul hadits”. Dan ke-dhaif-an rawi ini disepakati pula oleh Al ‘Uqaili, Ibnul Jauzi, Ad Dzahabi dan Ibnu Hajar. Tahdzibul Kamal, XXXII : 456-457.

[20] Ibnu Muhairiz sebagai periwayat hadis di  atas adalah seorang Tabi’in. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Abdil Barr dalam kitabnya At Tamhid, XXIII : 289.

[21] -Nama lengkapnya Dhamdham bin Zur’ah bin Tsub al Hadrami al Himshi. Menurut Ad Dzahabi dalam kitabnya al Kasyif, I : 510, bahwa rawi ini diperselisihkan tentang ke-tsiqat-anya. Usman bin Sa’id ad Darimi mengatakan dari Yahya bin Ma’in,’Ia rawi yang tsiqat”. Abu Hatim menyatakan,’Daif”. Ibnu Hiban memasukan rawi ini dalam kitabnya at Tsiqat”. Tahdzibul Kamal XIII : 327-328. Ibnu Hajar menerangkan dalam kitabnya Tahdzibut Tahdzib, IV : 405, bahwa Ahmad bin Isa mengatakan ‘La ba’sa bihi. Sedangkan dalam kitabnya at Taqrib, I : 280, beliau mengatakan,’Shaduqun Yahimu” (jujur tetapi waham (mengira-ngira, menduga-duga) dalam periwayatan)

Adapun tentang Ismail bin ‘Ayyas, Imam At-Tirmidzi dan Ad-Daraquthni mengatakan, “Ia seorang rawi yang mudalis.” Ta’liq ‘ala Sunan Ibnu Majah, I : 437. Al-Bukhari mengatakan, “Apabila ia menyampaikan hadis dari rawi yang satu daerah dengannya,  hadisnya itu sahih. Tetapi apabila menyampaikan hadis bukan dari rawi yang sedaerah dengannya, maka tidaklah ia teranggap.” Tahdzibul Kamal, III : 177. Menurut Dr Qasim Ali Sa’ad dalam kitabnya ‘Manhaj al Imam an Nasai fil Jarhi wat Ta’dil, IV : 1901, para tokoh ahli jarh wat ta’dil telah sepakat  bahwasa hadis Ismail bin ‘Ayyasy itu bisa dijadikan sebagai hujjah apabila ia menerima hadis dari seorang ahli (hadis) atau seorang rawi yang bisa dijadikan sebagai hujjah (tsiqat). Adapun hadis yang ia riwayatkan dari orang-orang Hijaj dan Irak, maka hadisnya tidak bisa dijadikan hujjah. Dan inilah kesimpulan dari pendapat ulama Jumhur.  Dengan keterangan para ulama di atas, jelaslah bahwa periwayatan Ismail itu tidak dapat diterima, karena ia meriwayatkan hadis tersebut dari seorang rawi yang tidak dapat dijadikan sebagai hujjah, yakni rawi bernama Dhamdham.

[22] Al Haetsami menerangkan dalam kitabnya Majma’uz Zawaid X : 169, bahwa lafal hadis ini diriwayatkan oleh At Thabrani. Menurut beliau bahwa rawi-rawi hadis ini adalah rawi yang shahih. Namun kami tidak mendapatkan lafal hadis ini dalam periwayatan At Thabrani sebagaimana yang dikatakan oleh Al Haetsami. Kami temukan lafal hadis itu dalam kitab ‘Ilal ad Daraquthni, VII : 175, ketika beliau (Ad Daraquthni) di tanya tentang hadis Abdurrahman bin Abu Bakrah dari ayahnya (Abu Bakrah), beliau menjawab,’Al Qashim bin Malik al Muzani telah meriwayatkanya dari Khalid al Hadzai’ dari Abdurrahman bin Abu Bakrah dari ayahnya, di situ terjadi kesalahan atas periwayatan Khalid. Yang benar, Al Qashim menerima hadis itu dari Khalid, ia (Khalid) terima dari Abu Qilabah dari Muhairiz secara mursal dari Nabi saw.

[23] Hemat kami, periwayatan At Thabrani itu sebenarnya satu sanad. Kerena At Thabrani meriwayatkan hadis itu melalui rawi yang bernama Ya’qub bin Humaeid. Ia menerima dari dua orang yaitu 1. Dari Abdullah bin Abdullah Al Amawi. 2. Dari Abdullah bin Sa’id. Keduanya menerima dari Al Yasa’ bin Al Mughirah, dari bapaknya, dari Khalid bin Al Walid. Sedangkan yang melalui Abdullah bin Sa’id Al Yasa’ itu menerima secara langsung dari Khalid bin Al Walid tanpa menyebut bapaknya.  Sanad hadis ini daif karena rawi bernama Al Yasa’ bin Al Mughirah, tidak terlapas dari kritikan para ulama. Menurut Abu Hatim,’Ia rawi yang tidak tsiqat”, Ibnu Hiban mencantumkannya dalam kitabnya ‘at Tsiqat”. Ad Dzahabi menerangkannya dalam kitabnya al Mizan,’Ia seorang rawi yang shoduq”, Ibnu Hajar menilainya,’Layyinul hadits”. Tahdzibul Kamal, XXXII : 301-302. Dalam kitab al Mughni fid Duafa, II : 756, Mizanul ‘Itidal, VII : 271, diterangkan bahwa Ibnu Sirin menyatakan shaduq, berkata Abu Hatim,’Ia tidak kuat’.

[24] Periwayatan Abu Daud yang marfu sanadnya daif karena terdapat inqitha (putus) pada sanadnya. Yakni antara Ibrahim bin Abdullah bin Ma’bad dengan Ibnu Abbas. Disamping itu kami tidak mendapatkan keterangan dari seorang pun tentang ke-tsiqat-annya selain Ibnu Ibnu Hajar dengan kata-kata ‘Shaduq”. Lihat Tahdzibul Kamal,II : 130, at Tarikhul Kabir, I : 302, al Jarhu wat Ta’dil, II : 108, Masyahiru ‘Ulamail Amshar, I : 143, at Tsiqat, VI : 6, Taqribut Tahdzib, I : 91, al Kasyif, I : 216.

About rendyadamf
assalamu'alaikum wrwb..salam kenal buat teman - teman semuanya..gw rendy TTL : Bandung, 30-06-84. gw kuliah di UNISBA. gw nulis blog ini hanya untuk curahkan semua pemikiran gw..dan gw udah ubah haluan jalan hidup gw..menjadikan jihad sebagai satu-satunya jalan hidup gw!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: