Hukum Menyentuh Lawan Jenis Setelah Wudhu

Menyentuh Perempuan sesudah berwudhu
Soal : Bagaimana hukum laki-laki, sesudah berwudu lalu menyentuh perempuannya sendiri, disengaja atau tidak disengaja?
Jawab :
Laki-laki yang sudah berwudu lalu bersentuhan dengan istrinya sendiri atau perempuan lain, sengaja atau tidak disengaja, tidak membatalkan wudunya, karena tidak terdapat satupun dalil Agama yang mengatakan batal. Orang yang mengatakan persentuhan itu membatalkan wudu menujukan beberapa keterangan yang dianggapnya sebagai dalil.
Berikut ini saya bawakan alasan-alasan mereka beserta bantahannya :
Alasan Pertama:
Ada satu riwayat panjang dari Mu’adz bin Jabal. Disini diceritakan bahwa seorang bertanya kepada Nabi saw hukum orang bersentuh dengan perempuan (selain bersetubuh). Ketika itu turun ayat Alquran surah Hud:114, kemudian Rasulullah memerintahkan orang tiu berwudu dan salat.
Kata golongan ini : Ini menunjukan bahwa bersentuhan dengan perempuan itu membatalkan wudu, sebab kalau tidak, tentu Nabi saw tidak memerintahkannya berwudu.
Bantahannya :
Hadis Mu’adz ini diriwayatkan oleh Imam-imam “ Ahmad, Daruquthni, dan lain-lain, tetapi tidak sah, karena di antara yang menceritakannya itu ada yang terputus, yaitu Abdurrahmanbin abi Laila yang meriwayatkannya tidak mendengar dari Mu’adz tersebut. Maka tidak dapat dijadikan alasan
Alasan kedua :
Mereka bawakan firman Allah, (lihat) An-Nisa 43 :
Dan mereka artikan : Dan jika kamu sakit atau dalam pelayaran atau seorang dari kamu habis buang air atau kamu sentuh perempuan, sedang kamu tidak mendapatkan air, maka hendaklah kamu bertayamum dengan debu yang bersih (An-Nisa :43)
Dalam ayat ini ada kata-kata (lamastum) mereka artikan “sentuh”, jadi sentuh perempuan membatalkan wudu.
Bantahannya :
Pendapat tersebut tidak data diterima karena :
a. Kalau betul lamastum itu maknanya “bersentuhan biasa”, tentu bersentuhan dengan ibu, bersentuhan dengan saudara perempuan, bersentuh dengan anak perempuan, juga mesti membatalkan wudu, sebab ayat ini itu hanya menyentuh “perempuan” dengan tidak terkecuali dan tidak ada keterangan lain yang mengecualikan ibu, saudara dan anak itu.
Tetapi anehnya golongan yang mengatakan batal itu, menetapkan bahwa bersentuhan dengan ibu, saudara, dan anak tidak membatalkan wudu.
Kalau ditanya apa dalilnya ibu dan sebagainya itu dikecualikan, mereka menjawab bahwa bersentuh dengan ibu dan sebagainya itu tidak menimbulkan syahwat. Dasar mereka ialah urusan “timbulnya syahwat”
Kalau ini dasarnya maka bilamana seorang melihat seorang perempuan dapat menimbulkan syahwat, walaupun tidak keluar madzi tentu membatalkan wudunya. Tetapi mereka tidak berkata demikian. Heran kita kepada faham yang tidak seimbang ini.
Mereka akan berkata pula : oleh karena ibu, saudara perempuan dan anak anak haram kita kawin, jaid boleh disentuhi dan tidak membatalkan wudu.
Terhadap ini kita menuntut kepada mereka : Mana dalil Agama yang menetapkan demikian? Cobalah tunjukan!!
b. Lamastum itu tidak dapat kita maknakan “bersentuhan biasa”, sebab Nabi saw pernah mencium salah satu isrtinya sesudah berwudu, sebagaimana diriwayatkan :
Dari Aisyah bahwa nabi saw mengecup (mencium) salah seorang istrinya, kemudian beliau salat dengan tidak berwudu (lagi). (Abu Dawud)
Kalau “bersentuhan dengan perempuan” membatalkan wudu, tentu Nabi saw tidak langsung salat dengan tidak berwudu lagi
Alasan ini akan ditolak oleh golongan yang mengatakan batal itu, dengan perkataan bahwa riwayat ini lemah.
Kita menjawab : Riwayat ini telah menjadi sah dengan beberapa jalan (sanad) dari Nasai, Abu Daud, Turmudzi, Ibnu Majah, Baihaqi dan Al-Bazzar.
c. Lagi ada riwayat :
Aisyah berkata : Pada suatu malam saya kehilangan Rasulullah saw dari tempat tidur, lalu saya meraba-raba beliau, maka terletaklah kedua tangan saya pada tapak kaki beliau yang tercacak(tegak), sedang beliau dalam bersujud…(Muslim)
Kalau betul menyentuh perempuan membatalkan wudu, tentu sedudah kaki Nabi saw disentuh beliau batalkan salatny, tetapi dalam riwayatnya itu Rasulullah saw terus salat. Maka nyata persentuhan dengan perempuan itu tidak membatalkan wudu
Mungkin golongan yang menetapkan batal itu, akan berkata : Nabi saw mancium istrinya, dan Aisyah menyentuh kaki Nabi saw dalam salat itu boleh jadi dengan berlapik (beralas kain atau sebagainyam sehingga tidak mengenai pipi atau kaki) “boleh jadi” itu semua hal yang belum tentu, tak dapat digunakan. Yang sudah pasti Nabi saw mencium istrinya dan Aisyah menyentuh kaki Nabi aw dengan mutlak.
Lagi mereka akan berkata : Mencium dan menyentuh yang tersebut itu adalah tertentu (khususiah) untuk Nabi saw saja, ummatnya tidak boleh berbuat demikian.
Kita menjawab : Untuk menetapkan itu khususiah bagi Nabi saw, perlu ada keterangan dari Allah atau dari Nabi saw sendiri yang mengatakan demikian, sedang dlam hal tersebut tidak terdapat sarupun keterangannya.
Oleh karena Rasulullah saw sebagai contoh bagi kita, maka boleh kita menurut kepadanya dalam semua perbuatan yang tidak terbatas untuk beliau sendiri.
Dari bantahan-bantahan pada (a), (b), dan (c) tersebut, nyata bahwa kata-kata lamastum itu bukan berarti “sentuhan biasa” tetapi nermakna sentuhan persetubuhan yakni bercampur laki-istri.
Menurut ini, ayat An-nisa 43 tadi mesti diartikan : …atau kamu sudah bersetubuh dengan perempuan-perempuan…
Selain dari alasan-alasan diatas ada lagi satu dua riwayat yang dibawakan ornag untuk menetapkan bahwa persentuhan dengan perempuan itu membatalakn wudu.
Oleh karena riwayat-riwayatnya lemah, tidak sah, rasanya tidak perlu kita perbincangkan, sebab riwayat yang lemah tidak menjadi dalil agama.
Ringkasan :
a. Alasan-alasan dan keterangan-keterangan golongan yang membatalkan itu tidak ada yang boleh dijadikan dalil sebagaimana tertera diatas.
b. Oleh karena itu, kita kembali kepada pokok ketetapan, yaitu “tidak ada dalil yang membatalkan wudu karena persentuhan antara laki-laki dan perempuan yang mana saja.
Dari buku : KATA BERJAWAB (solusi untuk berbagai permasalahan syariah) by : A.Qadir Hassan. Penerbit : Pustaka Progresif 2004

About rendyadamf
assalamu'alaikum wrwb..salam kenal buat teman - teman semuanya..gw rendy TTL : Bandung, 30-06-84. gw kuliah di UNISBA. gw nulis blog ini hanya untuk curahkan semua pemikiran gw..dan gw udah ubah haluan jalan hidup gw..menjadikan jihad sebagai satu-satunya jalan hidup gw!!

2 Responses to Hukum Menyentuh Lawan Jenis Setelah Wudhu

  1. Fawwaz RiFaSya says:

    Terimakasih atas info nya ,,, moga bermanfaat bagi ana dan bagi anta

  2. MANTAAAB bro…!!! Saya setuju dengan antum. Lanjutkan!🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: