26. Bacaan dan Doa-doa Pada Duduk Tasyahud

Bacaan dan doa-doa pada duduk tasyahud

Penulis memilah tema di atas, tiada lain hanya salah satu usaha dalam membedakan bacaan dan doa-doa yan menggunakan kalimat-kalimat yang masyru’ (dicontohkanoleh Nabi) sehingga tidak dapat diubah, ditambah ataupun dikurangi dari contoh Nabi saw, oleh karena itu dapat dikatakan membaca doa. satu lagi doa yang kalimat-kalimatnya dibuat oleh kita sesuai dengan keperluan, dengan kata lain dengan doa-doa bebas. Mudahan-mudahan dengan ini dapat lebih memudahkan dalam pemaparan.

Bacaan-bacaan Attahiyyat

Disebut bacaan attahiyyat karena rangkaian kaimat-kalimatnya dimulai dengan Attahiyyat dan tidak didapatkan riwayat hadis yang menerangkan dimulai dengan kata lainnya. Disebut juga bacaan tasyahud karena pada untaian kalimat-kalimat bacaan tersebut terdapat bacaan syahadat.

Mengenai bacaab tahiyyat terdapat beberapa contoh dari Nabi saw yang dapat menjadi pilihan yaitu :

Dari Ibnu Mas’ud ia mengatakan ‘Rasululah saw mengajariku tasyahud sedang telapak tanganku di antara kedua telapak beliau sebagaimana beliaumengajari kami surat al-quran : Attahiyyatulillah wash sholawatu wathoyyibaatu assalaamu alaika ayyuhan nabiyyu warahmatullahi wabarakaatuh, assalamu’alaina wa ‘ala ‘ibadillahishsholihin, Asyhadu allailaaha illallah wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluh (segala penghormatan, segala salawat dan segala yang baik-baik adalah milik Allah, salam sejahtera atasmu wahai Nabi dan Rahmat Allah serta berkah-bekahNya. Salam sejahtera pula atas kami dan semua hamba Allah yang saleh, Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad hambaNya dan utusanNya. H.R Al-Jamaah

Selanjutnya bacaab attahiyyat ini di kalangan para ulama dikenal dengan tasyahud Ibnu Mas’ud. Karena sebagaimana keterangan di atas bahwa bacaan ini diajarkan secara langsung oleh Rasulullah saw kepada Ibnu Mas’ud dalam menjawab pertanyaannya.

Bacaan attahiyyat ini adalah bacaan yang paling masyhur di kalangan ulama sahabat bahkan ulama tabiin.

Imam Asy-Syaukani mengatakan :

Dan menurut riwayat Ahmad dari hadisnya Abu Ubaidah dari sahabat Ibnu Mas’ud Rasulullah saw mengajarinya tasyahud, dan menyuruhnya untuk mengajarkannya kepada orang-orang. At-Tirmidzi mengatakan “ Hadis Ibnu Mas’ud ini adalah hadis paling sahih, tentang bab tasyahud dan menjadi pegangan para ahli ilmu dari kalangan sahabat dan tabiin” did lama keterangan riwayat Ahmad bin Hanbal ditambah dengan kata-kata dan (Nabi saw) menyuruhnya agar mengajarkannya kepada orang-orang.

Adapun bacaan yang lainnya yang cukup termasyhur adalah tasyahud Ibnu abbas berdasarkan hadis sebagai berikut :

Dan dari Ibnu Abbas ia mengatakan “Rasulullah saw mengajarkan kami tasyahud sebagaimana ia mengajarkan kami surat dari al-quran, beliau mengucapkan “ attahiyyatul mubarakatush sholawatut thayyibatulillah, Assalamu’alaika ayyuhannabiyyu warahmatullahi wabarakatuh, Assalamu’alaina wa ‘alaa ibadilahishalihin, Asyhadu alla ilaaha illalllah wa asyhadu anna muhammadan rasulullah. (segala penghormatan yang diberkahi dan segala salawat yang baik adalah milik Allah, salam sejahtera atasmu wahai Nabi  dan Rahmat Allah serta berkah-berkahNya, salam sejahtera pula atas kami dan semua hamba Allah yang saleh, aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusanNya) H.R Muslim dan Abu Daud.

Kalimat-kalimat tasyahud diriwayatkan oleh banyak sahabat, sebagaimana diperinci oleh Imam Asy-Syaukani di dalm kitabnya Nailul Authar, II:288. Yaitu selain Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas di ata yang turut meriwayatkan yaitu :

1. Jabir bin Abdullah yang diriwayatkan oleh An-Nasai, Ibnu Majahdan At Tirmidzi di dalam al’ilal dan al-hakim dengan rawi-rawi yang tsiqat.

2. Umar bin Khattab di dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Malik, Asy-Syafii, Al-Hakim, dan Al-Baihaqi yang diriwayatkan secara marfu (sabda Nabi). Ad-Daraquthni menyatakan ‘mereka (para ahli) tidak berbeda pendapat bahwa semua itu merupakan hadis mauquf (perkataan Umar sendiri)

3. Ibnu Umar, dalam hadis yang dorowayatkan oleh Abu Daud, Ath-Thabarani dan Ad-Daraquthni.

4. Ali bin Abi Thalib dalam haids yang diriwayatkan oleh At-Thabrani dengan sanad yang dhaif.

5. Abu Musa Al-As’ari dalam hadis yang diriwayatkan oleh Muslim, Abu Daud, An-Nasai dan Ath-thabrani.

6. Aisyah Ummul Mukminin dalam hadis yang diriwayatkan oleh Husain bin Sufyan dalam Musnadnya serta Al-Baihaqi yang dinyatakan mauquf oleh ad-daraquthni.

7. Samurah bin Jundab dlam hadis yang diriwayatkan oleh Abu daud dengan sanad yang dhaif

8. Abdullah bin Az-Zubair dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ath-Thabarani ia mengatakan ‘Ibnu Lahi’ah meruwayatkan seorang diri.

9. Muawiyah bin Abu Sufyan dalam hadis yang diriwayatkan Ath-Thabrani dan al bazaar dengan sanadnya dinyatakan hasan oleh Ibnu Hajar Al-Asqolani

10. Salman al farisidalam hadis yang diriwayatkan oleh Ath-Tyhabrani dan al bazaar dengan sanad yang dhaif.

11. Abu Haumaed dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani.

12. Abu Bakar Ash-shidiq dalam hadis yang diriwayatkan oleh al-bazar dengan sanad yang hasan. dan siriwayatkan oleh Ibnu Abu Syaibah secara Mauquf

13. Husain bin Ali dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani

14. Tholhah bin Ubaidillah, Al-hafizh Ibnu hajar Al-Asqolani mengatakan bahwa sanadnya hasan

15. Anas bin Malik dengan sanad yang sahih

16. Abu Hurairah dengan sanad yang sahih

17. Abu Said Al-Khudri dengan sanad yang sahih.

18. Al-Fadhl bin Abas, Khudzaefah Ummu Salamah, Al-Mutholib bin Rabi’ah, Ibnu Abu Aula tetapi tetap pada sanad-sanadnya terdapat masalah

Bacaan dan doa-doa pada duduk tasyahud

Bacaan paling utama

Dalam menentukan bacaan mana yang paling utama untuk dibaca, para ulama berbeda pendapat. diantaranya :

1. Imam asy-Syafii dan sebagian kawan-kawan Imam malik berpendapat bahwa tasyahud Ibnu Anas paling utama dengan alasan ada tambahan lafad almubarakat sedangkan tasyahud Ibnu Masud tidak ada.

2. Abu Hanifah, Ahmad dan Jumhur Fuqaha serta Jumhur ahli hadis menyatakan bahwa tasyahud Ibnu Masud lebih utama. Dengan alasan-alasan sebagai berikut :

a. Diriwayatkan oleh muttafaq alaih (Ahmad, al-Bukhari dan Muslim). Sehingga hadis ini hadis yang paling shahih.

b. Semua rawinya meriwayatkan lafal yang sama persis dan tidak berbeda satu huruf pun.

c. Oleh Rasulullah saw dalam riwayat Ahmad diperintahkan untuk diajarkan kepada yang lain.

d. Menjadi pilihan kebanyakan ulama pada kalangan sahabat dan tabiin.

3. Imam Malik berpendapat Tasyahud Umar bin Khattab lebih utama dengan alasan Umar berkhotbah dengan itu dan tidak seorang pun yang membantahnya dengan lafal Attahiyaatu lillah waz-zaakiyaatu thoyibatu shalawatu lillah. tetapi hadis ini diyakini secara mauquf.

4. Al-Hadawiyah berpendapat bahwa bacaan Ali-bni Abu Thalib lebih utama yaitu dengan lafal :  Bismillah wal billah walhamdulillah wal asamaaul husna kulluhu lillah, Asyhadu allaa illaaha illallah wahdahu laa syarikalah wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluuhu. dengan nama Allah, dan hanya karena Allah segala puji hanya kepunyaan Allah dan Al-Asmaul husna hanya milik Allah, Aku bersaksi…

Adapun Abu Tjalin menggambungkan lafal : Attahiyyatulillah wash shalawatu wathayyibatu setelah lafal : wal asmaaul husna kulluhu lillah.

Imamm An-Nawawi mengatakan bahwa para ulama bersepakat akan bolehnya memilih salah satu selama hadisnya shahih dari Nabi saw.

Kesimpulan : Bacaan tasyahud Ibnu Mas’ud yang menggunakan kata-lata attahiyyati lillah…adalah lebih utama..

Sababu wurudil hadits

Menurut keterangan Ibnu Mas’ud dalam sebuah hadisnya bahwa bacaan tasyahud yang beliau terima dan telah diajarkannya kepada yang lain sesuai dengan perintah Rasulullah saw adalah jawaban dari pernyataannya kepada Rasulullah saw dalam hadits berikut diterangkan :

Dari Ibnu Mas’ud ia mengatakan ‘kami sebelum diwajibkan atas kamu tasyahud mengucapkan “assalamu ‘alallah, assalaamu alaa jibril wa mikaiil (salam sejahtera kepada jibril dan mikail)’, Rasulullah saw bersabda “janganlah kalian membaca itu, tetapi bacalah oleh kalian ‘attahiyaatu lillah..dan selanjutnya” H.R Ad-Daraquthni dan ia mengatakan sanadnya shahih

Hukum membaca Tasyahud

Mengenai hukum mambaca tasyahud di dalam shalat, ada ulama yang menyatakan tidak wajib.

1. Ketika Rasulullah saw membetulkan orang yang buruk salatnya, beliau meluruskan dan mengajarinya cara-cara dan bacaan-bacaan salat. Ternyata beliau tidak menyebutkan bacaan tasyahud iin. Dan beliau mengakhiri pelajarannya dengan sabdanya :

Jika kamu mengerjakan (semua yang aku ajarkan ini), maka telah sempurna salatmu

2. Hadis-hadis yang berisi perintah Rasulullah saw kepada Ibnu Mas’ud seperti :

Dan beliau menyuruh Ibnu Mas’ud untuk mengerjakannya kepada orang-orang

Ini bukan perintah akan wajibnya membaca tasyahud tetapi perintah beliau kepada Ibnu Mas’ud untuk mengerjakannya. Alasan ini yang kami kemukakan karena dianggap paling kuat disbanding alasan-alasan lainnya.

Bantahan

Alasan mereka yang berpendapat tidak wajib karena tidak masuk kepada ajaran Rasulullaj saw kepada almusi’u shalatuhu (yang buruk salatnya), tidak dapat diterima karena belum jelas mana kejadian yang lenih dulu antara keterangan Ibnu Mas’ud yang mengatakan diwajibkan atas kami dengan kejadian ajaran Nabi kepada yang buruk salatnya.

Dengan hadis Ibnu Mas’ud dengan jelas mengatakan

Sebelum diwajibkannya tasyahud kepada kami

jelas ini menunjukan wajib, Ibnu Taimiyah didalam kitabnya al-Muntaqaal Akhbar mni Ahadisi sayyidil akhyar menetapakan terjemah atau judul sebagai berikut : bab bahwa Tasyahud di dalam salat itu fardu

Lalu dibawahnya beliau mencantummkan hadis Ibnu Mas’ud tentang sababul wurud bacaan tasyahud.

Imam asysyaukani menjelaskan maksud al-Iamm Ibnu Taimiyah ini sebagai berikut : ini adalah diantara dalil yang digunakan oleh yang berpendapat tasyahud itu wajib…Penulis An-Nihayah menerangkan  bahwa yang dimaksud dengan kata-kata fardun adalah wajib. Oleh karena itu apa yang dikatakan oleh  Ibnu Mas’ud dengan kata-kata yifrodo alaina adalah diwajibkan atas kami, beliau mengabarkan tentang hukum Allah dan menyampaikannya kepada umat. Nailul Authar, II:291

Didalam urusan hukum kata-kata fardu jika tidak diartikan wajib mau diartikan apa?

Hikmah bacaan tasyahud

Hikmah dari bacaan tasyahud sebenarnya banyak sekali, apalagi dengan cara mengurai utnaian kalimat bacaan tasyahud secara satu persatu. Tetapi dalam hal ini penulis hanya akan menyampaikan hikmah yang secara langsung disabdakan oleh Rasulullah saw tentang kalimat :

assalamu ‘alaikum wa ‘alaa ‘ibadillahishalihin

Dan didalam sebuah riwayat : padanya kata-kata atas hamba-hambanya yang saleh, sesungguhnya apabila kalian mengucapkan demikian, maka kalian telah salam (mendoakan) kepada seluruh hamba Allah yang saleh dilangit dan dibumi, dan diahkiri ada kata-kata kemudian memilih permohonan yang dikehendakinya. Muttafaqun alaih

Dengan hikmah yang diterangkan oleh Rasulullah saw ini maka sesungguhnya bahagialah kaum mukminin yang saleh, kaum mukminin yang sekarang ada, yang telah tiada karena telah medahului kita dengan keshalehan, dan orang-orang yang shaleh yang akan lahir kemudian. Mereka sebabtiasa mendoakan dan mudah-mudahan kita termasuk hamba-hamba Allah yang shaleh yang senantiasa saling mendoakan di dalam setiap shalat kita

About rendyadamf
assalamu'alaikum wrwb..salam kenal buat teman - teman semuanya..gw rendy TTL : Bandung, 30-06-84. gw kuliah di UNISBA. gw nulis blog ini hanya untuk curahkan semua pemikiran gw..dan gw udah ubah haluan jalan hidup gw..menjadikan jihad sebagai satu-satunya jalan hidup gw!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: