25. Isyarat Pada Duduk Tasyahud

Isyarat pada duduk tasyahud

Duduk tasyahud, nama ini diambil dari bacaan yang dibaca ketika melakukan duduk tersebut. Yeitu bacaan asyhadu anlaa ilaaha illallah wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuluhu. Bacaan ini disebut juga sering disebut duduk attahiyyat, demikian pula nama ini diambil dari salah salah satu bacaannya yaitu attahiyyatulillah.

Pada sebuah hadis diterangkan bahwasanya ketika para sahabat belum mengetahui apa yang mesti  dibaca pada duduk tersebut, mereka masing-masing berijtihad dengan bacaan-bacaan atau doa-doa, lalu mereka menanyakan kepada Rasulullah saw dengan keterangan sebagai berikut :

Dari Ibnu Masud ia mengatakan ‘kami pernah mengucapkan bacaan-bacaan sebelum diwajibkan atas kami At-Tasyahud yaitu dengan bacaan As-salamu ‘alallaah, was-salamu ala jibril wa mikail, maka Rasulullah saw bersabda ‘janganlah kalian membaca demikian, tetapi ucapkanlah oleh kalian attahiyyatulillahi, kemudian beliau menerangkannya. H.R Ad0Daraquthni dan beliau mengatakan hadis ini sandnya sahih

Pada hadis ini menggunakan dua kata-kata yang sangat jelas, yang akhirnya dipakai istilah untuk duduk tasyahud atau duduk attahiyyat, yaitu kata-kata, pertama :

Sebelum duwajibkan atas kami at-tasyahud

Kedua :

tetapi bacalah oleh kalian attahiyyatulillahi

Mengenai kedudukan tasyahud yang paling pertama dan utama adalah duduknya, karena kedudukan duduk ini akan menyangkut sah dan tidak sahnya salat. Bahkan dengan sangat terang dijelaskan bahwa tidak sah salkat tanpa tasyahud. Di dalam sebuah atsar sahabat diterangkan

Dari Umar Bin Khattab ia mengatakan ‘suatu salat tidak akan memadai tanpa tasyahud’ H.R Said bin Mansur di dalam sunannya dan Al-Bukhari di dalam tarikhnya.

Hal ini diperkuat dengan keterangan bahwa melewatkan duduk tasyahud hadus dilakukan sujud syahwi, yang tentu saja tanpa sujud syahwi ini salat itu belum sah.

Hal ini diterangkan di dalam hadis sebagai berikut :

dari Abdullah bin buhaenah bahwasanya Nabi saw berdiri pada salat dzuhur dan ia lupa melakukan duudk, ketika beliau menyelesaikan salatnya, beliau melakukan sujud dua kali, bertakbir pada setiap kali sujud dalam keadaan duduk (dilakukannya) sebelum salam. orang-orang (makmum) pun melakukannya mengganti duudk yang terlupakan. H.R al-jamaah

Tentang cara-cara atau sifat duduk ini telah diterangkan pada beberapa edisi sebelumnya, yaitu duduk tasyahud awal dengan duduk iftirasy dan duduk tasyahud akhir dengan duduk tawaruk termasuk duduk iq’a yang diperbolehkan dan dilarang. pada edisi kali ini dibahas mengenai beberapa perbedaan pendapat isyarat pada duduk tasyahud tersebut. Dan untuk itu kami rangkum saja dalam beberapa pendapat yang paling sering ditemukan, yaitu sebagai berikut :

1. Ada al-Isyarah bissababah tetapi tanpa kepalan tangan.

2. Ada isyarat disertai kepalan tangan tetapi tanpa tahrikus sababah.

3. Jawazul amraen (boleh pilih di antara dua perkara karena sama-sama berdalil dan tidak bertentangan.

4. Dengan ahrikus sababah disertai kepalan tangan.

Pendapat kesatu yang menyatakan ada al-isyarah bisababah tetapi tanpa kepalan tangan, berdasarkan hadis-hadis sebagai berikut :

Dai Ibnu Umar ia mengatakan ‘keadaan Rasulullah saw apabila duduk pada salat beliau menyimpan tangannya di atas kedua lututnya, dann beliau mengangkat telunjuknya yang sebelah kanan dekat dengan ibu jari, beliau berdoa dengan itu, dan tangan kirinya diatas lututnya menghamparkannya di atas lutut. H.R Ahmad dan Muslim.

Hadis ini menerangkan Rasulullah saw menempatkan tangan kanannya di atas paha kanan lalu berisyarat tanpa menyebutkan dikepalkannya tangan kanan sama sekali. Hadis-hadis yang semakna dengan hadis ini diriwayatkan pula oleh Muslim dari Abdullah bin Zubaer, lalu Abu Daud dan At-Tirmidzi dari sahabat Abu Humaed. semuanya tanpa ada keterangan menggenggamkan tangan.

Maka dengan tidak adanya keterangan mengepalkan tangan, tenut saja berisyarat telunjuk sambil tangan dalam keadaan terhampar diatas paha. Inilah pendapat kesatu.

Pada edisi berikutnya akan diterangkan pendapat lainnya disertai dengan dalil-dalil serta ulasan dan tanggapan terhadap setiap pendapat Insya Allah.

Isyarat pada duduk tasyahud (bagian 2)

Ulasan

Pendapat pertama yang menyatakan bahwa berisyarat waktu duduk tasyahud itu tanpa dikepalkan dan tanpa tahrikus sababah.

Pendapat ini tentu saja sangat tepat biula tidak ada keterangan-keterangan lain tentang amal yang sama dari sahabat lain. Olah karena itu sangat jelas bahwa pendapat ini hanya berdasarkan potongan hadis atau berdasarkan hadis yang belum lengkap keterangannya. Sebab apabila dilengkapi dengan ketereangan-keterangan lain maka tentu saja pendapat ini akan sengat kurang tepat. Oleh karena itu marilah kita perhatikan alasan pendapat kedua.

Pendapat kedua yang menerangkan adanya isyarat disertai kepalan tangan tetapi tanpa tahrikus sababah adalah berdasarkan keterangan-keterangan sebagai berikut :

Di dalam lafad lain : Rasulullah apabila duduk pada salat, beliau emnempatkan tangan kanannya di atas paha kanannya dan beliau menggenggamkan jari-jari dan berisyarat dengan telunjuknya, dan menempatkan tangan kirinya. H.R Ahmad, Muslim dan An-Nasai

Pada hadis lain dari sahabat Wail bin Hujr :

Dari Wail bin Hujr ‘saya melihat Nabi saw bertakbir maka beliau mengangkat kedua tangannya ketika takbir, yakni memulai salat dan mengangkat kedua tangannya ketika akan takbir dan mengangkat kedua tangannya ketika akan ruku dan mengangkat kedua tangannya ketika membaca sami’allahuliman hamidah dan bersujud  lalu meletakan kedua tangannya sejajar dengan kedua telinganya, lalu duduk dan menghamparkan kaki kirinya dan menempatkan tangan kirinya diatas lutut kirinya dan menempatkan sikut kanannya diatas paha kanan lalu berisyarat dengan telunjuknya dan menempatkan ibu jari di atas jari tengahnya, dan melipatkan seluruh sisi jarinya, lalu sujud dan kedua tangannya sejajar dengan kedua telinganya.

Dari Wail bin Hujr ‘saya menemani Nabi saw maka beliau mengangkat kedua tangannya ketika takbir, kemudian ketika bertakbir, lalu ketika membaca sami’allhu liman hamidah mengangkat kedua tangannya, ia berkata lagi, lalu duduk dan menghamparkan sikut kanannya di atas paha kanan lalu berisyarat dengan telunjuknya dan menempatkan ibu jari di atas jari tengahnya dengan cara mambuat lingkaran, lalu sujud dan kedua tangannya sejajar dengan telinganya’

Selain itu diperkuat dengan dalil-dalil sebagai berikut :

Beliau berisyarat dengan telunjuknya, tidak menggerak-gerakannya dan pendangannya tidak melewatkan isyaratnya itu. H.R Ibnu Hibban

Demikian pula didalam hadis-hadis Muslim yang lain antara lain :

Dari Ibnu Azzubaer ‘bahwasanya Rasulullah saw apabila duduk berdoa beliau menempatkan tangn kanan di atas paha kanan dan tangan kiri di atas paha kiri, beliau berisyarat dengan jari telunjuknya dan menempatkan ibu jarinya diatas jari tengahnya dan menggenggamkan tangan kiri ke lututnya’

Masi ada dalil-dalil lain yang semuanya tanpa keterangan tahrikus sababah, bahkan di dalam sebuah hadis riwayat Abu Daud, An-Nasai, Al-Baehaqi. dan lafal hadis riwayat An-Nasai. lihat Aunul Ma’bud, III:196, As-Sunanul Kubra linnasai, I:376, dan As-Sunanul Kubra, II:132 yang lafalnya sebagai berikut :

Dari Abdullah bin Az-Zubaer behwasanya ia telah menerangkan bahwa Nabi saw berisyarat dengan telunjuknya apabila berdia (attahiyyat) dan tidak menggerak-gerakannya

Adapun hadis Wail bin Hujr riwayat Ahmad yang menerangkan adanya menggerak-gerakan telunjuk tidak dapat dipakai hujjah karena hadisnya lemah.

Dari Wail bin Hujr bahwa ia berkata tentang salat Rasulullah saw ‘kemudian neliau duduk, maka beliau menghamparkan kaki kirinya dan menempatkan tangan kiri diatas paha dan lutut kirinya, dan beliau menjadikan ujung sikutnya. Kemudian beliau menggenggankan dua jari dan membuat lingkaran kemudianmengangkat telunjuknya dan aku melihatnya menggerak-gerakannya beliau berdoa berbarengan dengan isyarat tersebut’ H.R Ahmad, An-Nasai dan Abu Daud

Hadis ini du\inyatakan lemah disebabkan pada sanadnya terdapat seorang rawi bernama Ashimbin Kulaeb yang buruk hafalan, demikian dikatakan oleh Yahya al Qaththan “bahwasanya saya tidak mendapatnkan rawi bernama Ashim kecuali ia jelek hafalannya” Mizanul I’tidal, II:357

Ditambah dengan keterangan Ibnu Al-Madini yang berujar “laa yuhtajju biman farada bihi (tidak dipaaki hujjah bila meriwayatkan sendirian”

Dengan keterangan-keterangan ini jelaslah bahwa isyarat dilakukan tetapi tanpa tahrikus sbabah (menggerak-gerakan telunjuk) dengan kata lain hanya menunjuk.

Demikian pendapat kedua tentang dalil-dalilnya, Insaya Allah pendapat ini akan diberikan ulasan atau bantahan seperlunya pada edisi selanjutnya.

Isyarat pada duduk tasyahud (bagian 3)

Pada edisi yang lalu telah diterangkan pendapat yang menyatakan bahwa tidak ada tahrikus sababah pada isyarat duduk tasyahud dengan alasan-alasannya. Pada edisi ini tentu saja ulasan atau tanggapan terhadap pendapat tersebut.

Pendapat ini sesungguhnya hamper sama dengan pendapat pertama, yaitu berdasarkan hadis yang matannya tidak selengkap riwayat lain. Yang penulis maksud adalah hadis sahih riwayat Muslim yang ada padanya ada kata-kata :

Beliau berisyarat dengan jari telunjuknya, dan menyimpan ibu jarinya di atas jari tengahnya dan menggenggamkan tangan kiri ke lututnya

Demikian pula riwayat Ahmad Abdirrazaq.

hadis-hadis sahih ini bukan mengatakan bahwa Rasul tidak menggerak-gerakkan, melainkan tidak menerangkannya, tidak menerangkannya bukan berarti tidak ada. Hal ini dibuktikan oleh riwayat lain masih riwayat Ahmad bin Hanbal dari sahabat Wail bin Hujr. Hadis dari sahabat Wail bin Hujr akan diterangkan selanjutnya.

Adapun hadis yang menyatakan sebagai riwayat Ibnu Hibban dengan lafal :

Beliau berisyarat dngan telunjuknya, tidak menggerak0gerakannya dan pandangannya tidak melewatkan isyaratnya itu. H.R Ibnu Hibban.

Setelah penyusunan periksa di dalam kitab sahih Ibnu Hibban ternyata yang didapatkan adalah sebagai berikut ;

Beliau berisyarat dengan jari telunjuknya dan pandangannya tidak melewatkan isyaratnya itu. H.R Ibnu Hibban

Tanpa ada kata-kata wa laa yuharrikuha (tidak menggerak-gerakannya). dengan demikian tidak benar di dlaam riwayat Ibnu Hibban ada hadis yang menyatakan tidak menggerak-gerakkan telunjuk waktu isyarat tasyahud.

Adapun tentang hadis riwayat Abu daud, An-Nasai, Al-Baihaqi dengan kata-kata :

Bahwa Nabi saw berisyarat dengan telunjuknya apabila berdoa (attahiyyat) dan tidak menggerak-gerakannya.

Meskipun diriwayatkan oleh tiga mukharrij,yaitu Abu Daud, An-Nasai dan al-baihaqi. hadis ini lemah ditinjau dari segi sanad dan matan

Dari segi sanad hadis ini melalui seorang rawi bernama Hajjad bin Muhammad. Tentang rawi ini Saad bin Muhammad berkata ‘ia ikhtilat di akhir hidupnya kembali ke bagdad’. Ibnrahim Al-Harabi berkata ‘ketika Hajjaj bin Muhammad kembali ke bagdad di akhir umurnya ia ikhtilat (pikun), maka Yahya bin Main memandangnya muktalit. Ia berkata kepada putranya ‘janganlah seorangpun dipertemukan dengan syekh ini (untuk menerima hadis)’ Siyaru a’lamin Nubala, IX:449

Adapun dari segi matan :

Maka tambahan kata-kata “wa laa yuharrikuhaa” mengenai keabsahannya harus ditinjau lagi. Imam Muslim telah menerangkan hadis ini di dalam sahihnya dari Abdullah bin Az-Zubair tanpa kata-kata tersebut. Jadi jelas ini merupakan idraj (tambahan) yang dhaif

Pertanyaan :

Bukankah hadis riwayat Ahmad bin Hanbal yang menerangkan adanya takhrikus sababah juga dhaif disebabkan ada rawi bernam Ashim bin Kulaib?. Tentang kedudukan hadis ini Insya Allah akan dijawab pada kterangan pendapat ketiga dan keempat.

Pendapat ketiga yang mengatakan jawazul amrain (kedua perkara boleh dipilih) yaitu boleh berisyarat dan boleh tidak berisyarat

Tentang pendapat jawazul amrain ini dalilnya tidak lain adalah hadis-hadis sahih yang ada pada pendapat kedua yang keterangannya hanya sampai berisyarat tanpa ada keterangan takhrikus sababah, jika merasa pelu silakan pembaca untuk memperhatikan salil-salil pendapat kedua pada edisi yang lalu.

Selanjutnya berasarkan hadis Waul bin hujr riwyat Ahmad, An-nasai, Abu Daud, Ad-Darimi yang dianggap dhaif oleh kelompok pendapat pertama dan kedua yang akhir matan hadisnya menggunakan kata-kata :

Kemudian beliau menggenggamkan dua jari dan membuat lingkaran, kemudian mengangkat telunjuknya dan aku melihat beliau menggerak-gerakannyabeliau berdoa denganitu’ H.R Ahmad, An-Nasai dan Abu Daud.

Hadis ini tidak dhaif bahkansahih tidak sebagaimana yang dikatakan pendapat kedua, karena pernyataan jelek hafalan terhadap Ashim bin Kulaib yang dinyatakan oleh Yahya Al-Qaththan ditunjukan kepada Ashim bin Kulaib adalah salah alamat, karena Ashim bin Kulaib adalah rawi yang tsiqat, bahkan termasuk rijal Al-Bukhari. Dengan demikian Rasulullah saw pernah melaksanakan kedua cara berisyarat ini, yaiut dengan menggerak-gerkannya dan tidak menggerak-gerakannya. Denmgan demikian kedua belah pihak ini tidak bertentangan dan menunjukan bahwa kedua-duanya diamalkan oleh Rasulullah saw, maka memilih salah satu merupakan hal ynag tepat karena menunjukan jawaizul amrain (kedua amal itu boleh jadi pilihan)

Pembicaraan tentang Ashim bin Kulaib ini akan dibahas secara khusus Insya Allah.

Demiian pendapat akan jawazul amrain, insya Allah akan di ulas dan diterbitkan tanggapan oleh kelompok pendapat keempat yang menyatakan, bahwa berisyarat tanpa takhrikus sababah adalah mengamalkan hadis yang belum lengkap. tunggu saja edisi berikutnya. dan isinya Insya Allah akan diketahui pendapat pilihan penyusun.

Pendapat keempat adalah yang menyatakan dengan kepalan tangan, berisyarat, dan takhrikus sababah.

Pada intinya pendapat ini sama dengan pendapat yang ketiga, yaitu dnegan menyatakan ta’dil (pembelaan) terhadap rawi Ashim bin Kulaib. Akan tetapi sedikit berbeda dengan pendapat yang ketiga, yaitu tidak menyatakan jawazul amrain, tetapi menyatakan takhrikus sababah semata.

Alasannya antara lain bahwa keterangan Wail bin Hujr yang menyatakan takhrikus sababah merupakan ziyadatul ilmi (tambahan pengetahuan yang lebih dari hasil pengamatan yang amat cermat dari Wail bin Hujr sendiri). Terbukti keterangan takhrikus sababah tidak ada pada periwayatan sahabat yang lain.

Dengan demikian hadis-hadis yang lain yang keterangannya hanya sampai berisyarat masih perlu dilengkapi dengan keterangan dari Wail bin Hujr ini. Demikian pula pelaksanaanny. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa berisyarat tanpa takhrikus sababh adalah mengamalkan hadis yang kurang lengkap dari segi matan.

Selain itu adalah merupakan hal yang tidak adil apabila berpendapat jawazul amrain. karena hadis-hadis itu, sebagaimana telah diterangkan sebelumnya tidak hanya berisyarat dan tidak berisyarat bahkan ada yang sama sekali tidak mengepalkan tangan. Jika caranya demikian, tentu ini pun dapat dijadikan pilihan. Tetapi nyata adalah hadis ini belum lengkap keterangannya sebagaimana hadis-hadis sahih dengan tanpa keterangan takhrikus sababah. pendapat penulis adalah pendapat keempat, yaitu dengan dikepalkan, berudyarat dan takhrikus sababah.

Cara mengepalkan tangan

Kedudukan hadis-hadis laa yuharriku

Pada beberapa riwayat terdapat hadis yang padanya terdapat keterangan sahabat bahwa Rasulullah saw ketika berisyarat laa yuharriku (tidak mengerak0gerakkannya) sebagaimana pendapat kdua yang telah lalu. Kami merasa perlu untuk membahasnya secara khusus karena inilah hadis yang nyata-nyata bertentangan dengan keterangan Wail bin Hujr yang menyatakan “saya melihat sendiri Rasulullah saw berisyarat danmenggerak-gerakannya”

Menurut Imam Asy-syaukani bahwa hadis laa yuharrikuha itu diriwayatkan oeh Ahmad, Abu daud, An-nasai dan Ibnu Hibban dari sahabat Abdullah bin Zubair.

Adapun lafalnya sebagai berikut :

Beliau berisyarat dengan telunjuknya, tidak menggerak-gerakannya dan pandangannya tidak melewatkan isyaratnya itu. H.R Ibnu Hibban

Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan ‘pangkal hadis ini terdapat di dalam sahih Muslim tetapi tanpa kata-kata dan pandangannya tidak melewatkan isyaratnya’

Keterangan ini dibantah oleh Imam Asy-Syaukani di dalam kitabnya Nailul Authar dengan kata-kata ‘di dalam sahih Muslim dari hadisnya sahabat Abdullah bin Zubair hanya sampai isyarat tidak sampai kata-kata ‘tidak menggerak-gerakannya dan seterusnya’ Nailul Authar, II:292

Dengan demikian sangat meyakinkan bahwa hadis ini tidak diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam sahihnya dan hanya diriwayatkan oleh Ibnu Hibban. Tetapi setelah kami lakukan pengecekkan ternyata di dalam kitab sahih Ibnu Hibban pun tidak tredapat hadis laa yuharrikuha, melainkan dengan lafal sebagai berikut :

Beliau berisyarat dengan telunjuknya tidak menggerak-gerakannya dan pandangannya tidak melewatkan isyaratnya itu. H.R Ibnu Hibban, Al-Ihsan bi tartibi sahih Ibnu Hibban, II:201

Tanpa yuharrikuha. adapun yangbeliau katakana riwayat Ahmad, Abu Daud dan An-Nasai

Kedudukan (rawi) Ashim bin Kulaib

Waktu berisyarat

1. dilakukan ketika membaca dua kalimat syahadat.

2. Dilakukan ketika membaca illallah.

3. Dilakukan dari awal bacaan

Isyarat pada duduk tasyahud (bagian 4)

Cara mengepalkan tangan

Tentang mengepalkan tangan pada duduk tasyahud terdapat beberpa hadis yang perlu dikedepankan :

1. Jari manis dan kelingking dikepalkan, ibu jari dan jari tengah membentuk lingkaran.

Cara ini, berdasarkan riwayat Imam Ahmad –Al father rabbani, II”148 dalam hadis tersebut diungkapkan dengan kalimat; wa qabado baena asobi’ahi wa halaqa bil wusto wal ibhami

Ahmad Abdurrahman al-Bana menjelaskan dengan perkataan “mengepalkan jari manis dan kelingking, sedangkan jari tengah dan ibu jari berbentuk seperti lingkaran. Al-fathur rabani, I:148.

Keterangan yang semakna dengan riwayat Imam Ahmad tersebut diatas : Abu Daud, I:219, An-Nasai, II:32, Al-Baihaqi, II:132. hadisnya sebagai berikut :

Dari Wail bin Hjr bahwa ia berkata tentang salat Rasululah saw ‘kemudian beliau duduk, maka neliau menghamparkan kaki kirinya dan menyimpan tangan kiri diatas paha dan lutut kirinya, dan beliau menjadikan uung sikutnya yang kanan atas paha kanannya. Kemudian beliau menggenggamkan dua jarinya dan membuat lingkaran, kemudian mengangkat telunjuknya dan aku melihatnya menggerak-gerakannya, beliau berdoa dengan itu. H.R Ahmad, An-Nasai dan Abu Daud

2. Mengepalkan (menggenggam) semua jari kebuali jari telunjuk yang dipakai isyarat, berdasarkan riwayat Muslim, I:235

Dalam riwayat tersebut diungkapkan dengan kata-kata “wa qabada ashabi’ahu kullaha wa asyara bi usbhu;ihil lati talil ibham” dia mengepalkan semua jarinya, beliau berusyarat dengan jari yang mengiringi ibu jarinya.

Keterangan yang sama dengan riwayat Muslim tersebut diantaranya : riwayat Imam Ahmad, Al Fathur rabani, IV:16, Abu Daud, I:226, An-Nasai, III:31

Sebagaimana telah diterangkan di atas, A Hassan memahami kalimat wa aqada salasan wa khamsina, yang ada di riwayat Muslim, I:235 dengan makna “genggaman semua jari kecuali telunjuk yang dipakai isyarat.

Di dalam lafal lain, keadaan Rasulullah saw apabila duduk pada salat beliau menyimpan tangan kanannya di atas paha kanannya dan beliau menggenggankan jari-jari dan berisyarat dengan telunjuk. dan menyimpan tangan kirinya.

Pada hadis lain dari sahabat Wail bin Hujr :

Dari Wail bin Hujr ‘saya melihat nabisaw bertakbit maka beliau mengangkat kedua tangannya ketika takbir yakni memulai salat, dan mengangkat kedua tangannya ketika akan takbir dan mengangkat kedua tangannya ketika akan ruku dan mengangkat dua tangannya ketika membaca sami’allahuliman hamidah dan bersujud lalu meletakkan kedua tangannya sejajar dengan dua telinganya lalu duduk dan menghamparkan kaki kirinya dan menempatkan tangan kirinya di atas lutut kirinya dan menempatkan sikut kanannya di atas paha kanannya, lalu berisyarat dengan telunjuknya dan menyimpan ibu jari di atas jari tengahnya, dan melipat seluruh sisi jarinya, lalu sujud dan kedua tangannya sejajar denga kedua telinganya’

Dari Wail bin Hujr ‘saya menemani Nabi saw maka beliau mengangkat kedua tangannya ketika takbir, lalu ketika membaca samiallahuliman hamidah mengangkat kedua tangannya. ia berkata lagi ‘ lalu duudk dan menghamparkan kaki kirinya dan menempatkan kaki kirinya diatas lutut kirinya dan menempatkan sikut kanannya diatas paha kanan, lalu berisyarat dengan telunjuknya dan menyimpan ibu jari melingkarkan atas jari tengahnya, dan melipatkan seluruh sisinya, lalu sujud dan kedua tangannya sejajar dengan kedua telinganya.

3. Tiga jari dikepalkan, kecuali jari telunjuk yang dijadikan isyarat, sedangkan ibu jari merapat dengan telunjuk yang dipakai isyarat.

Kaifiyat ini berdasarkan riwayat Imam Ahmad, al-fathur rabani, III:49, dalam riwayat tersebut terdapat kalimat: sunna asyara bi sababihi wa da’al ibhama alal wustha wa qabada saira ashabihi’ihi

Pemahaman ini menurut Ahmad Abdurrahman al-Bana.

Berkata Imam As-Shan’ani ‘wa aqada salasatan wa khamsina, menurut Ibnu hajar dalam At-Talkhis menggenggam kari kecuali telunjuk, subulus salam, cetakan dahlan, I:189.

4. Berisyarat dengan telunjuk, tannpa menggenggam jari-jari yang lainnya. Abu Tayyib Abadi, Aunul Ma’bud, III:279.

Di kitab Nailul Authar, II:316, diterangkan bahwa kaifiyat ini berdasarkan riwayat Muslim dari Ibnu Zubair yang berbunyi “wa wada’a yadahul yumna ala fahidihi  yumna wa asyara bi ushbu‘ihi. Muslim, I:234

Karena dalam riwayat tersebut tidak diterangkan menggenggam (mengepalkan) jari, baik dengan kata ‘qabada bi ushbu’ihi, maupun dengankata wa aqada salasatan wa khamsina atau yang lainnya. Sedangkan isyarat disebut setelah menyimpan tangan kanan di atas paha kanan, maka dengan demikian jari-jari yang lainnya tidak digenggam.

Dari Ibnu Umar iamengatakan “keadaan Rasulullah saw apabila duduk pada salat beliau menyimpan tangannya di atas kedua lututnya, dan beliau mengangkat telunjuknya yang sebelah kanan dekat ibu jari, beliau berdoa dengan tiu, dan tangan kirinya diatas lututnya menghamparkannya di atas lutut. H.R Ahmad dan Muslim.

Hadis yang semakna dengan hadis tersebut di antaranya riwayat Imam Ahmad.

Menurut Ahmad Abdurrahman Al-Bana hadis tersebut yang semakan dengannya, merupakan keterangan yang mutlak, tetapi karena banyaknya keterangan yang menerangkan bahwa jari-jari selain yang dipakai isyarat genggam, maka hadis itu menjadi muqayyad, al-fathur Rabani, IV:19

Isyarat pada duduk tasyahud (bagian 5)

Kedudukan hadis laa yuharriku

Ada beberapa riwayat yang padanya terdapat keterangan sahabat bahwa Rasulullah saw ketika berisyarat laa yuharriku (tidak menggerak-gerakkan telunjuk). Sebagaimana pendapat kedua yang telah lalu, kami merasa perlu untuk membahasnya secara khusus karena inilah hadis yang nyata-nyata bertentangan dengan keterangan Wail bin Hujr yang menyatakan :

Kemudian Nabi saw berisyarat dengan telunjuknya, maka saya melihatnya sendiri Rasulullah saw menggerak0gerakkannya berdoa (Bersama dengan gerakan) telunjuknya.

Menurut Imam Asy-Syaukani hadis laa yuharriku adalah riwayat Ahmad, Abu Daud, An-Nasai dan Ibnu Hibban dan sahabat Abdullah bin Zubair .

Adapun lafalnya sebagai berikut :

Beliau berisyarat dengan telunjuknya, tidak menggerak-gerakannya dan pandangannya tidak melewatkan isyarat itu. H.R Ibnu Hibban

Al-HafidzIbnu Hajar Al-Asqalani mengatakan “pangkal hadis ini terdapat didalam sahih Muslim tetapi tanpa kata-kata ‘dan melewatkan iayaratnya (tertuju pada telunjuk)

Keterangan ini dibantah oleh Imam Asy-syaukani di dalam kitabnya Nailul Authar dengankata-kata ‘di dalam sahih Muslim dari hadisnya sahabat Abdullah bin Zubair hanya sampai beriyarat tidak sampai kata-kata ‘tidak menggerak-gerakannya dan seterusnya” Nailul Authar, !!:292

Dengan demikian sangat meyakinkan bahwa hadis dngan lafal seperti diatas tidak diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam sahihnya demikian pula mukharij lainnya yang tersebut di atas. Tetapi hanya diriwayatkan oleh Ibnu Hibban. Setelah kami melakukan pengecekanlangsung terhadap kitab sahih Ibnu Hibban ternyata di dalam kitab itu pun tidak terdapat hadis laa yuharrikuha, melainkan dengan lafal sebagai berikut :

Beliau berisyarat dengan telunjuknya, dan pandangannya tidak melewatkan isyarat itu (tertuju pada telunjuk). H.R Ibnu Hibban, al ihsan bin tartibi sahih Ibnu Hibban, III:201.

Tanpa kata-kata yuharrikuha. adapun yang dikatakan beliau bahwa hadis ini pun diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud, An-Nasai dan Ibnu Hibban sebenarnya adalah riwayat Abu Daud, An-Nasai dan Al-Baihaqi dengan lafal sebagai berikut :

Dari Abdullah bin Az-Zubair bahwasanya ia menerangkan bahwa Nabi saw beriwyarat dengan telunuknya apabila berdoa dan tidak menggerak-gerakannya. H.R Abdu Daud, Sunan Abu Daud, I:227, An-Nasai, sunan An-Nasai, II:32, Al-Baehaqi, Sunan Al Baehaqi, II:132

Hadis ini dikategorikan kepada hadis gharib karena hadis ini bersumber dari seorang tabiin, dan menerima dari seorang sahabat, karena gharibnya menyangkut sanad yang tiitk tekannya pada sifat perawi maka masuk kedalam kategori Gharib Nisbi.

Pada ketiga periwayatan Abu Daud, An-Nasai dan Al-Baihaqi sama-sama melalui seprang rawi, yaitu Hajjaj, bila hajaj pada sanad itu adalah hajaj bin Arthat, maka jelas akan termasuk sanad hadis yang dhaif.

Nashiruddin Al-Albani mengatakn “Hadis yang menerangkan bahwa Rasulullah saw (pada isyarat) tidak menggerak-gerakkannya adalah hadis yang tidak tegas dari segi sanadnya” Sifatu shalatinnabi saw : 170

Tentang rawi yang bernama Hajaj bin Arthat ini para Ulama menjarahnya diantaranya :

Ya’qub bin Asy-Syaibah “Hajaj bin Arthat lemah hadisnya dan banyak idhtirab (tidak konsisten)”

Imam As-Saj berkomentar “ia shaduq tetapi mudallis dan buruk hafalannya, dan dia tidak boleh dujadikan hujjah” lihat tahdzibut tahdzib, II:196-198 dan mizanul I’tidal, I:450-460.

Apabila diperhatikan riwayat Al-baihaqi ternyhata pada sanad itu yang benama Hajaj adalah Hajaj bin Muhammad Al-Mishishi Al-A’war. Rawi ini memang pada asalnya merupakan seorang rawi yang tisqat. Tetapi diakhir umurnya ia mukhlaith atau yang pada umumnya disebut pikun. Oleh karena itu ketika Ibnu Main mengetahui keadaan Hajaj bin Muhammad tersebut beliau berpesan kepada para putra Hajaj agar tidak seoarng pun menemuinya (untuk membicarakan hadis). Tahdzibut Tahdzib, II:205-206.

Lihatlah susunan sanadnya :

Abdullah bin zubair

‘Amr bin Abdullah

Muhammad bin ‘Ajlaan

Ziyad

Ibnu Jurayj

Hajaj (Al-baihaqi : Hajaj bin Muhammad)

Ayyub bin Muhammad Wadzn   Fadl bin Ya’qub                 Abr Haym       Abu Daud

bin Al-Hasan Al-mashsh

An-Nasai                                      Muhammad bin Ishaq As-Shagir

Abu Abbas Muhammad bin Ya’qub

Abu Abdullah Al-Fath

Al- Baihaqi

Dengan ulasan dan takhrij hadis di atas maka jelaslah bahwa hadis yang dengan sharih (terang dan tegas) menyatakan bahwa Nabi ketika berisyarat tidak menggerak-gerakkan telunjuknya adalah hadis dhaif dan tidak dapat dipergunakan sebagai Hujjah. Oleh karena itu, hendaklah itu, hendaklah kembali kepada hadis sahih riwayat Ahmad bin Hanbal, An-Nasai, Al-Baihaqi, dan Ad-Darimi dari (Sahabat) Wail bin Hujr yang dengan sahrih pula mengatakan bahwa Nabi berisyarat dan menggerak-gerkan telunjuknya. Takhrij hadis dan keterangan lebih luas, Insya Allah akan ditulis secara terpisah pada edisi berikutnya

Isyarat pada duduk tasyahud (bagian ke 6)

Kedudukan (rawi) Ashim bin Kulaib

Sebagaimana telah diterangkan pada edisi yang lalu bahwa hadis yang menerangkan tidak digerak-gerakkan telunjuk pada waktu isyarat itu dhaif, dan beberapa di antaranya salah pengutipan. sedangkan hadis yang menerangkan digerak-gerakkannya telunjuk pada waktu isyarat itu dari sahabat Rasulullah saw yang bernama Wail bin Hujr yang diriwayatkan ileh Ahmad bin Hanbal, An-Nasai,Al-Baihaqi dan Ad-Darimi.

Agar lebih jelasnya marilah kita perhatikan skema sanad sebagai berikut :

Wail bin Hujr

Abu Kulaib                     Zuhair bin Muawiyyah

‘Ashim bin Kulaib               Aswad bin ‘Amr

Zaid bin qudamah                                                                      Ahmad

Muawiyyah bin ‘Amr

Ad-Darimi       Muhammad bin Ahmad bin Anshar    Abdullah bin Mubarak

Abu Bakar bin Ishaq                             Suwaid bin Nashr

Abu Abdullah Al-Fath                          An-Nasai

Al-Baihaqi

Dengan demikian kuncinya adalah bagaimana kedudukan rawi Ashim Kulaib, apakah ia itu seorang yang sahih atau dhaif

Ashim bin Kulaib, menurut penelitian para ahli ahadis adalah sebagai berikut :

1. Al-Atsram : Ashim bin Kulaib dari Ahmed ‘la ba’sa bihi’ (tidak mengapa dengannya) (ta’dil/martabat/M-5)

2. Ibnu Main, ‘Tsiqatun’ (orang yang dapat dipercaya). (T/M-4)

3. Nasai ‘tsiqatun’ (T/M-4)

4. Abu Hatim ‘shalihun’ (orang yang salih) (T/M-6)

5. Kata Syarik bin Abdillah an-Nakhai : Ashim bin Kulaib itu Murij-ah (golongan yang menangguhkan keputusan tentang hukum bagi orang yang berdosa besar dan orang yang meninggalkan amalan wajib. tiodak mengkafirkan mereka, juga tidak memastikannya. Murij’ah menyerahkan hukumannya kepada Allah kelak di akhirat)

6. Ibnu Hibban menetapkan Ashim bin Kulaib itu berada di tempat (golongan) tsiqat.

7. Ahmad bin Shalih al- mishri menganggap Ashim bin Kulaib sebagai golongan orang terkemuka di kuffah dan orang terpercaya.

8. Ibnu Sanin menetapkan Ashim bin Kulain pada lain kesempatan berkata, tsiqat. Dilain pihak dinyatakan bahwa Ashim bin Kulaib itu Ma’mum (orang terpercaya, amanah) (T/M-5)

9. Kata Ibnul Madini ‘Ashim tidak diterima untuk hujjah bila ia menyendiri (laa yuhtajju bima infarada bihi)

10. Kata Ibnu Sa’din ‘Ashim itu tsiqatun yuhtajju bihi (dapat dipercaya dan dijadikan hujjah), (T/M-4) lihat tahdzibut Tahdzib 5/54-56, Mizanul I’tidal 2/256

Demikian penilaian para ahli hadis mengenai Ashim bin Kulaib, dan kalau kiat analisis keterangan-keterangan di atas, maka tidak ada seorang imam menjarh (mencela) Ashim bin Kulain. Degan demikian, tidak ada permasalahan dengan Ashim bin Kulaib. Damun sehubungan dengan adanya perkataan Yahya al-qaththan “saya tidak mendapatkan seorang pun rawi yang namanya Ashim kecuali saya mendapatkannya karena jelek hafalannya” (Mizanul I’tidal, 2:357), maka Ashim bin Kulaib pun Ramai dibicarakan.

Karena perkataan Yahya al-qaththan tersebut mencakup rawi yang bernama Ashim, sedangkan rawi yang namanya Ashim itu banyak, di dalam kitab Muzanul I’tidal ada 28 orang dan di dalam Tahdzibut tahdzib ada 32 orang, termasuk Ashim bin Kulaib. Tetapi bila kita kaji dengan cermat, ternyata ada Ashim yang disebut di dalam kitab Mizanul I’tidal disebutkan pula Ashim tersebut di dalam kitab At Tahdzib, serta ada Ashim yang tidak disebutkan di dalam kitab Mizabul I’tidal, tetapi ada dalam kitab at-Tahdzib dan sebaliknya.

Setelah dilakukan studi banding dari kedua kitab tersebut, maka rawi yang bernama Ashim yang ada pada kedua kitab tersebut berjumlah 43 orang diantaranya ;

1. Ashim bin Sulaiman dia rawi Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasai, Ibnu Majah.

2. Ashim bin Ali Bin Ashim, dia rawi Bukhari.

3. Ashim bin Umar bin Qatadah dia rawi Bukhari,

4. Ashim bin Kulaib dia rawi Muslim, Tirmidzi, Abu Daud, Nasai, Ibnu Majah.

5. Ashim bin Muhammad, dia rawi Bukhari dalam hal al-adabul mufrad, Abu Daud

6. Ashim bin Hakim, dia rawi Bukhari, Tirmidzi, Abu Daud, Nasai, Ibnu Majah

7. Ashim bin Laqieth, ia rawi Bukhari dalam al-adabul mufrad.

8. Ashim Yusuf, ia rawi Bukhari dan Muslim.

9. Ashim bin Umar bin Khattab dia rawi Bukhari dan Muslim

Berdasarkan perbandingan di atas, maka tidak semua rawi yang bernama Ashim itu jelek hafalah, diantaranya Ashim rawi Bukhari dan Muslim. Jadi Ashim yang manakan yang jelek hafalan yang dimaksud oleh Yahya al-Qaththan itu?

Yang dimaksud Ashim oleh Yahya al-Qaththan

Seandainya kira berpegang kepada zhahirnya ucapan Yahya al-Qaththan, maka semua rawi yang bernama Ashim termasuk Ashim yang menjadi rawi Bukhari adalah hafalannya, karena ia tidak menerangkan Ashim yang manakah yang jelek hafalan itu. Tetapi setelah mengkaji kitab Mizanul I’tidal, penulis mendapatkan perkataan Yahya Al-Qaththan tersebut dalam pembahasan rawi yang bernama Ashim bin Abu Najud, bukan dalam pembahasan Ashim bin Kulaib, dan tentang Ashim bin Najud memang tidak sedikit para ahli hadis yang menjarahnya antara lain :

1. Kata Ibnu Sa’din “Ashim bin Abu Najud itu tsiqat, tetapi banyak salah dalam meriwayatkan hadis”

2. Abu Hatim berkata “laisa mahalluhu an yuqala tsiqatan” (bukan tempatnya mengatakan ia rwai yang tsiqat). Ashim bin Abu Najud rawi no.4060 (mizanul I’tidal, 2:357), sedangkan Ashim bin Kulaib rawi no. 4064 (mijanul I’tidal, 2:356)

Berdasarkan analisa di atas tidak pada tempatnya bila kita mengatakan bahwa semua rawi yang bernama Ashim itu jelek hafalannya, karena Ashim yang dimaksud Yahya al-Qaththan ialah  Ashim bin Abu Najud.

Oleh karenanya, perkataan Yahya tersebut tidak dapat dipakai hujjah untuk mendaifkan Ashim bin Kulaib, Dengan demikian Ashim bin Kulaib adalah Rawi yang periwayatannya sahih, sebagaimana dinyatakan oleh adz-dzahabi dan ibnu Hajar di dalam kitab mereka, yaitu Mizanul I’tidal dan Tahdzibut Tahdzib.

Kritikan

Orang-orang yang menerima kesahihan Ashim bin Kulaib semata-mata hanya berpegang kepada penilaian ta’dil dari mayoritas ahli hadis, padahal Ibnul Madini telah menjarahnya.

Di dalam kitab Mizanul I’tidal, Ibnul Madini berkata “hadisnya tidak boleh dijadikan hujjah/dalil, apabila ia bersendiri dalam meriwayatkan itu” (lihat Mizanul I’tidal, 2:356) Maksudnya, riwayatnya bari\u bisa dipakai kalau ada sanad lain yang bukan dari jalannya, dan jarh dari Ibnul Madini ini tampaknya kurang diperhatikan.

Karena Ashim bin Kulaib dipuji oleh sebagian ahli hadis yang lain, maka rawi adanya kaidah “al-jarh (celaan) itu didahulukan daripada ta’dil (pujian)

Diterima tidaknya periwyatan seorang rawi terletak pada keadaan rawi tersebut setelah diketahui cacat dan tidaknya, pengetahuan (ilmu) yang membahas tentang cacat (jarh) dan tidak cacat (adil)nya rawi disebut ilmu jarh wa ta’dil

Al Hafidz Ibnu Hajar berpendapat :

1. Bila terjadi bernama pada seorang rawi tuduhan jarh yang dijelaskan sebab/alasannya dengan pembelaan adil, maka tuduhan jarh didahulukan meskipun yang menganggap adli benyak jumlahnya, karena si penjarah tentu mempunyai kelebihan ilmu yang tidak diketahui oleh si penta’dil.

2. bila seseorang di jarh secara mujmal (global), padajal dia telah dinyatakan tsiqat oleh para imam dalam urusan ini (para ahli hadis), maka tuduhan jarh itu tidak dapat diterima dari siapa dan tingkatan tsiqat, maka dia tidak bila ditolak kecuali dengan alasan yang jelas karena para imam dalam urusan ini (ahli hadis) tidak akan menganggap tsiqat kepada seseorang kecuali setelah diteliti terlebih dahulu keadaannya, baik di dalam agamanya maupun dalam urusan hadisnya serta mereka juga akan mengkritiknya sebagaimana mestinya. Mereka adalah orang yang amat sangat cermat dan hati-hati, maka keputusan mereka tidak dapat digugurkan begitu saja kecuali dengan pernyataan yang jelas sekali.

3. Dan jika sepi dari yang menganggap adil, maka bisa diterima jarh yang tidak dijelaskan (sebab jarhnya). Jika bersumber dari yang arif karena sesungguhnya jika tidak dinyatakan adil, maka dia berarti dalam keadaan yang majhul. Sedangkan dengan menggunakan ucapan yang menganggap jarh lebih utama daripada membiarkannya. AlBaitsul hatsis, 1983 : 90-91, al-hidayah, 1988:23

Dengan demikian jarh Ibnu Al-Madini terhadap Ashim bin Kulaib tidak dapat diterima karena tidak disertai dengan penjelasan sebab jarhnya. Karena penta’dilan Ibnu Main, An-Nasai, Abu Hatim dan lain-lain yang layak diterima hujjah. Maka Ashim bni Kulaib adalah rawi yang tsiqat dan hadis yang diriwayatkannya sahih.

Isyarat pada duduk tasyahud

Waktu berisyarat Telunjuk

Tentang waktu berisyarat (menunjukan telunjuk) ini terdapat beberapa pendapat :

1. Dilakukan ketika membaca dua kalimat syahadat.

2. Dilakukan ketika illallah.

3. Dilakukan dari awal bacaan terus dilakukan selama berdoa.

Pendapat yang menyatakan bahwa beriayarat itu dilakukan ketika membaca syahadat, yaitu ketika mulai emmbaca asyhadu. Pendapat ini tidak berlandaskam dalil sama sekali. Tetapi menurut Al Imam Alauddin, bahwa ada yang berpendapat tentang memulai isyarat ini dari bacaan syadahat berdasarkan hadis Wail bin Hujr. Sebelum memberikan tanggapan alangkah baiknya jika kita tukil hadis Wail tersebut :

dari Wail bin Hujr bahwa ia berkata tentang salat Rasulullah saw ‘kemudian beliau duduk, maka beliau menghamparkan kaki krinya dan menyimpan tangan kiri diatas paha dan lutut kirinya, dan beliau menjadikan ujung sikutnya yang kanan di atas paha kanannya. Kemudian beliau menggenggam dua jarinya dan membuat lingkaran, kemudian mengangkat telunjuknya dan aku melihat menggerak-gerakannya, beliau berdoa dengan itu. H.R Ahmad, An-Nasai dan Abu Daud

Setelah berulangkali kami mencermati hadis ini, penulis semakin tidak mengerti mengapa hadis ini dijadikan dalil bahwa awal isyarat itu pada bacaan syahadat. maka suatu keputusan jika Al-Imam Alauddin mengatakan :

Menyebut dia dengan kata-kata baha(dengan itu) pada hadis Wail dalam kitab al-na’rifah dan awal berisyarat (dengan telunjuk itu)ketika syahadat. hal ini merupakan ta’wil yang jauh dan menyimpang tidak berhakekat dan tidak wajar. Al-jauhar An-Naqi, II:129

Pandapat kedua yang mengatakan berisyarat telunjuk itu ketika mengucapkan illallah, pada bacaan asyhadu alla ilaha illallah. hal ini dikemukakan oleh kawan-kawan Imam Asy-Syafi’I :

Kawan-kawan Asy-syafi’I mengatakan ‘keberadaan isyarat telunjuk ketika ucapan illallah dari syahadat. Nailul Authar, II:293

Pendapat kawan-kawan Asy-syafi’I ini jelas tidak dapat diterima sama sekali tidak ditunjukkan dalilnya. Ada juga Ibnu Ruslan yang mengatakan mengenai hikmah berisyarat pada tasyahud itu bahwa sesungguhnya al ma’bud (yang disembah) itu Allah swt, yang maha tunggal agar bergabung dalammenyatakan ke Maha Esaannya dalam perkataan dan perbuatan. Sedangkan menurut salah satu riwayat dari Ibnu Abbas bahwa berisyarat pada tasyahud itu menunjukan keikhlasan, atau menurut Mujahid bahwa hal itu adalah untuk mencemooh setan.

Demikian pula pendapat penulis kitab “I’anatut Thalibin yang mengatakan :

Kalaulah menyimpan tangan di atas selain lutut berisyarat dengan telunjuknya pada waktu itu, yaitu mengucapkan illallah. I’anatut thalibin, I:299

sama sekali tidak menunjukan dasar yang menjadi dalilnya

Dengan keterangan-keterangan ini maka berisyarat telunjuk ketika illallah sama sekali tidak berdasarkan dalil.

Adapun ketiga yang menyatakan bahwa berisyarat itu sejak  awal doa sampai akhir, dengan kata lain berisyarat selama membaca atau berdoa selama berisyarat, dan inilah yang menjadi keyakinan kami. hal itu berdasarkan hadis-hadis sebagai berikut :

Dari Abdullah bin Az-Zubair behwasanya iamenerangkan tentang bahwa Nabi saw berisyarat dengan telunjuknya apabila berdoa (attahiyyat). H.R Abu Daud, Sunan Abu Daud, I:227. An-Nasai, sunan An-Nasai, III:32, Al-Baihaqi, Sunan Al-Baihaqi, II:132

Berisyarat dengan telunjuknya apabila berdoa (attahiyyat)

Menunjukan senantiasa bersma-sama antara gerakan telunjuk dengan bacaan (doa) dari awal sampai akhir.

Demikian pula hadis :

Dari Ibnu Umar ia mengatakan ‘keadaan Rasulullah saw apabila duduk pada salat beliau menyimpan tangannya diatas keuda lututnya, dan beliau mengangkat telunjuknya yang sebelah kanan dekat ibu jari, beliau berdoa dengan itu, dan dengan tangan kirinya di atas lututnya menghamparkannya di atas lutut. H.R Ahmad dan Muslim.

Pada hadis ini jelas sekali menunjukan awal diangkatnya telunjuk untuk digerak-gerakkan sambil memulai membaca attahiyyat dengan kata-kata :

Dan beliau mengangkat telunjuknya yangsebelahkanan dekat ibu jari beliau berdoa bersama (isyarat) itu.

Selanjutnya hadis Wail bin Hujr :

Dari Wail bin Hujr bahwa ia berkata tentang slaat Rasulullah saw ‘kemudian beliau duduk, maka beliau menghamparkan kaki kirinya dan menyimpan tangan kiri di atas paha dan lutut kirinya, dan beliau menjadikan ujung sikutnya yang kanan di atas paha kanannya, kemudian beliau menggenggamkan dua jarinya dan membuat leingkaran, kemudian mengangkat telunjuknya dan aku melihat beliau menggerak-gerakkannya, beliau berdoa dengan itu. H.R Ahmad, An-Nasai dan Abu Daud.

Kemudian Mengangkat telunjuknya dan aku melihatnya menggerak-gerakkannya, beliau bedoa bersama (gerakan telunjuknya) itu.

Dengan keterangan-keterangan dan uraian tersebut di atas, maka jelaslah bahwa awal mengangkat telunjuk itu bersamaan waktunya dengan awal bacaan attahiyyat. Adapun akhirnya  adalah ketika akhir dari doa yang ada pada duduk tasyahud. Insya Allah akan dijelaskan bagian-bagian  bacaan atau doa selama duduk tasyahud.

Pendapat kawan-kawan Imam Asy-Syafi’I yang mengatakan berisyarat itu ketika mengucapkan illallah pada syahadat sama sekali tidak berdalil, demikian pula yang berisyarat mulai bersama bacaan syahadat.

Kesimpulan

Pada dudukk tahiyyat berisyarat itu selama membaca atau berdoa dan berdoa selama berisyarat

Tambahan:

Menggerak-gerakan telunjuk dalam tasyahud dilakukan selama doa berlangsung.

“Kemudian beliau mengangkat jari telunjuknya dan aku melihat beliau menggerak-gerakkanya berdoa dengannya” (HR. Ahmad, Abu dawud, Dan nasai/Nail Authar, 2:315)

“Adalah dengan beliau berisyarat dengan jari telunjuknya dan tidak menggerak-gerakkannya” (HR. Abu Dawud’Aunul Ma’bud, 3:280)

Kedua Hadits diatas tidak bertentangan, melainkan penjelasan boleh kedua-duanya dilakukan, fatwa tersebut menarik untuk ditelaah, sebab selama ini penulis mengira kaifiyyat isyarat telunjuk waktu tasyahud hanya ada stu cara yaitu selama berdoa berlangsung telunju digerak-gerakan. Menurut pegetahuan penuis hadits Riwayat bu daud tersebut tidak layak dijadikan hujjah karena:

Analisis Sanad

Selain Abu Daus, hadits tersebut diriwayatkan pula oleh Nasa’I dan Baihai. Kalau penulis perhatikan sanad Abu daud dan nasai ternyata disitu terdapat rawi Yang Bernama hajjaj, Tapi tidak disebutkan nama ayahnya. Karena tidak disebutkan siapa ayahnya maka sebagian ulama mengra hajjaj yang terdapat pada sanad Abu Daud dan Nasai itu adalah Hajjaj bin Arthaah, sehingga hadits tersebut dinilai sebagai hadits Dhaif. Hal ini sebagaimana yang diterangkan oleh Nashiruddin Al-Albani “Hadits yang menerangkan bahwa Rasulullah SAW tidak menggerak-gerakkannya tidak kuat dari segi sanadnya” (Sifatu shalatinnabiyyi, hal:170)

Penulis bisa menerima peilaian Nashiruddin al-Albani bila Hajjaj yang dimaksud adalah Hajjaj bin Arthaah, karena ia telah dijarah oleh para ahli hdits, diantaranya;

  1. Ibnu adi berkata (Keaiban hajjaj bin Arthaah) orang-orang menilai cacat padanya karena tadlis, dan kadang-kadang ia keliru dalam meriwayatkan sebagian hadits (Tahdzibul kamal, V:428)
  2. Ibnu Hajar berkata “Hajjaj orang yang benar/jujur, banyak salah dalam meriwayatkan hadits, mudallis (Ibid)

Kemudian penulis perhatikan sanad baihaqi ternyata Hajjaj tersebut adalah Hajjaj bin Muhammad al-Mishshishi, bukan hajjaj bin Arthaah. Hajjaj bin Muhammad termasuk rawi yang kuat hafalan, namun sepulangnya dari pengembaraan dan kembali ke Baghdad. Hafalannya berubah karena usia yang telah lanjut. Ketika ibnu Ma’in mengetahui hal itu, beliau berkata kepada anak Hajjaj, ‘Kamu jangan mengijinkan seorangpun masuk menemui kepadanya” (tahdzibul kamal, V:456)

Menurut pemahaman penulis hadits itu mukhtalith, sedangkan hadits mukhtalith tidak bisa dipakai hujjah, minimal ditawaqufkan untuk sementara waktu sampai dapat diketahui kapan dia meriwayatkan hadits tersebut

Analisi Matan

Hadits riwayat Abu Daud, Nasai, dan Baihaqi dari shahabat Abdullah bin Zubair yang menerangkan “sesungguhnya beliau berisyarat dengan jari telunjuknya dan tidak menggerak-gerakkannya (wala yuharrikuha)” perlu diteliti kembali. Hl ini mengingat:

  1. Didalam riwayat tersebut tidak ada keterangan “saya melihat”, seperti yang pernah diungkapkan oleh shahabat Wail bin Hujr
  2. Didalam tasyahud tidak ada keterangan “ketika duduk tasyahud” hanya disebutkan “ketika beliau berdoa”, berdoa yang mana?
  3. Di dalam riwayat yag lain juga bersumber dari shahabat Abdullah bin Zubair diterangkan bahwa “Isyarat telunjuk tersebut dalam tasyahud”, tapi tidak ada tambahan kalimat walaa yuharrikuha

 

Hadits tersebut diriwayatkan pula oleh Ahmad (Al-fathur rabbani, IV:15), nasai (Sunan An-Nasai III:237), dan Abu Daud (Aunul Ma’bud, III:194-195)

 

Oleh karena itu, Ibnul Qayyim pernah mengemukakan “Adapun hadits riwayat Abu daud dari Abdullah bin Zubair yang menerangkan:

 

“Sesungguhnya nabi SAW isyarat dengan jarinya dan beliau tidak menggerak-gerakkannya, tambahan kalimat ini (wala yuharrikuha), mengenai keshahihannya fiihi nazharun (perlu diteliti), sebab dalam riwayat Muslim juga bersumber dari Abdullah bin Zubair tidak ada tambahan itu…” (Zadul Ma’ad, I:60)

 

Berdasarkan data-data diatas, maka kalau penulis perhatikan sanad dan matannya, Hadits Abu daud, nasa’I dan Baihaqi di atas tidak layak dipakai Hujjah

Sanad Hadits Telunjuk Tidak Digerak-gerakkan:

 

 

About rendyadamf
assalamu'alaikum wrwb..salam kenal buat teman - teman semuanya..gw rendy TTL : Bandung, 30-06-84. gw kuliah di UNISBA. gw nulis blog ini hanya untuk curahkan semua pemikiran gw..dan gw udah ubah haluan jalan hidup gw..menjadikan jihad sebagai satu-satunya jalan hidup gw!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: