Kedudukan Takbir 7 dan 5 pada shalat ied

Hadis-hadis tentang takbir 7 & 5 pada shalat ied yang mudah kita dapati adalah bersumber dari tujuh orang sahabat yaitu Aisyah, Abdullah bin Amr bin Al-Ash, Amr bin Auf, Ibnu Abas, Ibnu Umar, Amr bin Al-Ash, Ammar bin Saad. Namun yang paling menarik perhatian untuk dikaji secara mendalam adalah dari sahabat Aisyah dan Abdullah bin Amr bin Al-Ash, karena kedua riwayat inilah yang menjadi sumber perdebatan di kalangan para ulama tentang kedudukan takbir 7 & 5 itu.

Riwayat Aisyah

Dari Aisyah sesungguhnya Nabi saw bertakbir pada salat idul fitri dan adha adalah 7 takbir pada rakaat pertama dan 5 takbir pada rakaat kedua “ HR Abu Daud, Sunan abu daud, I:256.

Hadis ini diriwayatkan pula para imam lainnya dengan yang berbeda redaksi yang berbeda antara lain Ad-Daruquthni (sunan Ad-daruquthni II:46), Ahmad (musnad Al-Imam Ahmad VI:65 dan 70), Al-Baihaqi (as-sunanul kubra III:287), Al hakim (al-mustadrak I:297), At-Tahawi (syarhu ,a’anil atsar III:343), At Thabrani (AL-mu’jamul ausath, III:270). Semua sanadnya melalui seorang rawi bernama Abdullah bin Lahi’ah

Sebagian ulama menyatakan bahwa hadis-hadis di atas daif, karena Abdullah bin Lahi’ah telah dinyatakan daif oleh para ulama hadis yang sebagaimana dinyatakan oleh At-Tirmidzi “Ibnu Lahi’ah daif menurut ahli hadis, ia dinyatakan daif oleh Yahya bin Sa’id al-qathan dan ulama lainnya dari segi hafalan” (lihat sunan at-tirmidzi, I:15)

Pendapat kami

Abdullah bin Lahi’ah lahir tahun 96/97 H dan wafat tahun 174 H (tahdzibul kamal XV:499-500) ia menrima hadis dari 65 orang dan memiliki 45 orang (tahdzibul kamal XV:488-490) ia termasuk salah seorang rijal Al-bukhari dan Muslim yang dikelompokan pada kelompok kedua, yaitu rawi-rawi yang tsiqah (kredibel) tapi hafalannya pernah terganggu, sehingga perlu syahid atau tabi’ (rawi lain yang memperkuat) agar riwayatnya dapat dipakai hujjah.

Empat tahun sebelum meninggal (170 H) rumah dan kitab-kitabnya terbakar, kemudian terjadi ikhtilat pada hafalannya. Hal itu sebagaimana dinyatakan oleh Yahya bin bukaer dan Ibnu hajar (tahdzibul kamal XV:496, I:309)

Dengan demikian, pada asalnya periwayatan Ibnu Lahi’ah itu shahih dan untuk mengetahui apakah suatu hadis yang diriwayatkan oleh nya sebelum mukhtalith atau sesudahnya, maka dapat digunakan salat satu di antara 2 aspek :

1. Murid yang menerimanya

Periwayatan Ibnu lahi’ah dapat diterima apabila diriwayatkan oleh empat Abdullah :

a. Abdullah bin Wahab.

b. Abdullah bin al mubarak

c. Abdullah Yazid al muqri

d. Abdullah bin Maslamah.

Karena mereka mendengar hadis darinya sebelum kitab-kitabnya terbakar (lihat al-jarhu wat ta’dil, V:147, taqribut Tahdzib, I319, siyaru a’lamin nubala, VIII:23) yaitu adanya periwayatan rawi-rawi lain yang tsiqat yang mendukung periwayatanya.

Dan inilah yang dijadikan landasan oleh iamam Al-Bukhari dan Muslim, mengapa keduanya meriwayatkan hadis Ibnu Lahi’ah dalam kitab shahihnya, karena menurut penelitian mereka kehafidzan dan kemutqinan syarik dapat dibuktikan dengan adanya periwayatan rawi yang lainnya. kriteria itulah yang harus dijadikan landasan ketika kita akan menilai kedudukan riwayat-riwayat Ibnu lahi’ah.

Dengan demikian hadis tentang takbir 7 dan 5 pada salat ied yang diriwayatkan melalui Ibnu Lahi’ah dpaat dijadikan hujjah karena diterima oleh salah satu dari empat Abdullah di atas, yaitu Abdullah bin Wahab sebagaimana tercata pada riwayat At-Thahawi, syarhu ma’anil atsar III:343 dan Abu Daud, sunan abdu daud, I:256

Adapun penilaian Tadlis dari Ibnu Hiban tidak dapat dijadikan alasan untuk pendaifan hadis takbir 7 dan 5 riwayat Ibnu Lahi’ah. Karena pada riwayat Ad-Daruquthni ditegaskan dengan shigatul ada (bentuk periwayatan) haddatsana (sunan ad-daruquthni, II:46.)

Adapun penilaian idhtirab dari Ad-daruqithni trhadap Ibnu lahi’ah tidak tepat, karena periwyatan Ibnu Lahi’ah dari Yazid bin Abu Habib dari Az-Zuhri, atau dari Uqail dari Az-Zuhri, atau dari Abu Al Aswad dari Urwah, semua matannya menegaskan bahwa takbir pada salat ied tujuh pada rakaat pertama dan 5 pada rakaat ke 2. Demikian pula halnya periwayatan Ibnu Lahi’ah dengan dua matan yang berbeda melalui jalan yang sama yaitu dari khalid bin Yazid, dari Az-Zuhri dari Urwah dari Aisyah.

Tidak dapat dijadikan alasan mudhtarribnya ibnu lahi’ah karena mahfizh yang diakui adalah matan yang kedua, yaitu diriwayatkan oleh murid Ibnu lahi’ah bernama Abdullah bin Wahab, Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhli berkata:

“matan inilah yang mahfidz karena Ibnu Wahab menerima dari Ibnu Lahi’ah lebih dahulu (sebelim mukhtalith) Irwaul Ghalil, III:108.

Riwayat Abdullah bin Amr Al-Ash

“Dari Abdullah bin Amr bin al-ash ia berkata “nabi saw bersabda “takbir pada shalat ied fitri itu tujuh kali pada rakaat pertama dan lima kali pada rakaat kedua”

Hadis dalam bentuk qauli (sabda Nabi ini diriwayatkan oleh Al-Baihaqi as-sunanul kubra III:285-286; Abu Daud, suann Abu Daud I:299; dan Ad-daruquthni, sunan ad-daruquthni II:48 . sedangkan Ibnu Abu Syaebah, al mushanaf I:493; Ahmad, musnad al imam Ahmad, II:180’ al baihaqi, as-sunanul kubra, III:285-286; Ibnu Majah, sunan Ibnu Majah, At-Thahawi, syarah ma’anilatsar, III:343 dan Ibnul jarud, al-muntaqa, I:76 meriwayatkannya dalam bentuk fi’li (amaliah Nabi saw).

Hadis di atas, baik qauli maupun fi’li, semuanya diriwayatkan melalui Abdullah bin Abdurrahman At-Thaifi dari Amr bin Syu’aib, dari ayahnya dari kakeknya (Abdullah bin Amr bin Al-Ash)

At-thaifi dinyatakan daif oleh sebagian ulama, diantaranya Ibnu hatim berkata “da’ifun”. Abu Hatim berkata “laesa bil qawwi, laylanus hadis” (tahdzibit tahdzib, V:299) an-nasai berkata “laisa bil qawli” (ad’duafa wal matrukin:145) imam bukhari berkata “fihi nazharun”

Sedangkan ulama lainnya menyatakan bahwa Athaifi itu tsiqat (kredibel). Ibnu Main berkata “shalaihun, shuwailih” Ibnu Adi berkata “adapun seluruh hadisnya ia riwayatkan dari Amr in Syuaib mustaqimatun, Ad-daraquthni berkata “yu’tabaru bihi” imam bukhari bukan ditujukan kepada Abdullah bin Abdurrahman at-Thaifi tetapi ditujukan kepada Abdullah bin Abdurrahman tanpa pakai At-Thaifi.

Dalam kitab Miozanul ‘itidal II:452 tercatat bahwa Abdullah bin Abdurrahman itu ada dua 1. Abdullah bin bdurrahman bin Ya’la at-Thaifi. (no Rawi 4411) dan Abdullah bin Abdurrahman Tanpa pakai At-Thaifi (no rawi 4412) dan rawi inilah yang dinyatakan oleh bukhari fihi nazharun.

Adapun perkataan wa fihi nazharun dari imam bukhari yang tercatat dalam kitab tahdzibut tahdzib V:299, bukan sebagai celaan terhadap at-thaifi, karena katika imam at-tirmidzi bertanya pada imam bukhari tentang thaifi, bukhari berkata (hua shahihain (dia shahih)

Dengan demikian yang dimaksud fihi nazharun oleh imam bukhari ialah beliau hendak menerangkan rawi yang ditinggalkan oleh para ulama, bukan oleh bukhari. Bahkan dapat dipahami bahwa prkataan imam bukhari tersebut merupakan celaan terhadap ulama yang meninggalkan At-Thaifi.

Berdasarkan keterangan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa imam bukhari tidak pernah mencela atau mendaifkan at-thaifi, bahkan sebaliknya menyatakan dan beliau merasa salut padanya, Perlu diketahui bahwa at-thaifi termasuk rijal(rawi) Muslim. Dalam shaihain muslim riwayat at-thaifi ditempatkan pada satu tempat yaitu pada kitabus syi’ri (shaihain muslim II:385)

Dengan demikian hadis-hadis yang diriwayatkan melaui Abdullah bin Abdurrahman At-Thaifi itu shahih, demikian pula hadis tentang takbir 7 dan 5 pada salat ied

About rendyadamf
assalamu'alaikum wrwb..salam kenal buat teman - teman semuanya..gw rendy TTL : Bandung, 30-06-84. gw kuliah di UNISBA. gw nulis blog ini hanya untuk curahkan semua pemikiran gw..dan gw udah ubah haluan jalan hidup gw..menjadikan jihad sebagai satu-satunya jalan hidup gw!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: