Kedudukan Shaum Syawal

Hadis-hadis saum Syawwal yang mudah kita dapati adalah melalui delapan orang sahabat, yaitu Abu Ayub al-Anshari, Jabir, Abu Hurairah, Tsauban, Ibnu Abbas, Aisyah, al-Bara bin Azib, dan Ibnu Umar.

Adapun yang paling banyak tercatat pada kitab-kitab hadis adalah hadis dari sahabat Abu Ayub al-Anshari, dengan beberapa redaksi, antara lain:

1)   مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

2)   مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَأَتْبَعَهُ  بِسِتٍّ مِنْ شَوَّالٍ فَكَأَنَّمَا صَامَ الدَّهْرَ

3)   مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ فَذلِكَ صِيَامُ الدَّهْرِ

4)   مَنْ صَامَ شَهْرَ رَمَضَانَ  وَأَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ  كُتِبَ لَهُ صِيَامُ السَّنَةِ

Hadis dari Abu Ayyub itu sampai kepada para mukharrij (pencatat hadis) melalui thariq(jalan) yang berbeda-beda, sehingga kami merasa perlu menjelaskan satu demi satu, sebagai berikut:

a.      Yang sampai kepada Imam Muslim dan tercatat dalam kitab Shahih-nya[1]. Ia menerima dari:

1.         Yahya bin Ayub, Qutaibah bin Sa’id, dan Ali bin Hujr. Ketiga orang ini menerima dari Ismail bin Ja’far, dari Sa’ad bin Sa’id bin Qais, dari Umar bin Tsabit , dari Abu Ayub Al-Anshari.

2.         Ibnu Numair (Muhamad bin Abdullah bin Numair), dari ayahnya (Abdullah bin Numair), dari Sa’ad bin Sa’id bin Qais, dari Umar bin Tsabit, dari Abu Ayub Al-Anshari

3.        Abu Bakar bin Abu Syaibah, dari Abdullah bin Mubarak, dari Sa’ad bin Sa’id bin Qais, dari Umar bin Tsabit, dari Abu Ayub Al-Anshari

b. Yang sampai kepada Imam Ahmad dan tercatat dalam kitab Musnad-nya.  Ia menerima dari:

1.         Abu Muawiyah, dari Saad bin Said, dari Umar bin Tsabit, dari Abu Ayyub Al-Anshari. [2]

2.         Muhammad bin Ja’far, dari Syu’bah, dari Warqa, dari Sa’ad bin Sa’id bin Qais, dari Umar bin Tsabit, dari Abu Ayub Al-Anshari. [3]

3.        Ibnu Numair (Abdullah), dari dari Sa’ad bin Sa’id bin Qais, dari Umar bin Tsabit, dari Abu Ayub Al-Anshari. [4]

c.       Yang sampai kepada Imam An-Nasai dan tercatat dalam kitabnya as-Sunanul Kubra. Ia menerima dari

1.       Ahmad bin Yahya, dari Ishaq, dari Hasan Ibnu Shayih, dari Muhammad bin Amr al-Laitsi, dari Sa’ad bin Sa’id bin Qais, dari Umar bin Tsabit, dari Abu Ayub Al-Anshari. [5]

2.       Ahmad bin Abdullah bin Al-Hakam, dari Muhamad, dari Syu’bah, dari Warqa, dari Sa’ad bin Sa’id bin Qais, dari Umar bin Tsabit, dari Abu Ayub Al-Anshari. [6]

d.      Yang sampai kepada Imam at-Tirmidzi dan tercatat dalam kitab Sunan-nya. [7] Ia menerima dari Ahmad bin Mani’, dari Abu Mua’wiyah, dari Sa’ad bin Sa’id bin Qais, dari Umar bin Tsabit, dari Abu Ayub Al-Anshari

e.      Yang sampai kepada Ibnu Majah dan tercatat dalam kitab Sunan-nya. [8] Ia menerima dari Ali bin Muhamad, dari Abdullah bin Numair, dari Sa’ad bin Sa’id bin Qais, dari Umar bin Tsabit, dari Abu Ayub Al-Anshari

f.        Yang sampai kepada At-Thabrani dan tercatat dalam kitabnya al-Mu’jamul Kabir. Ia menerima dari:

1.         Ishaq bin Ibrahim, dari Abdur Razaq, Ibnu Juraij, Daud bin Qais, dan Abu Bakar bin Sabrah. Keempat orang ini menerima dari Sa’ad bin Sa’id bin Qais, dari Umar bin Tsabit, dari Abu Ayub. [9]

2.         Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, dari Imam Ahmad, dari Muhamad bin Ja’far, dari Syu’bah, dari Warqa, dari Saad bin Said, dari Umar bin Tsabit, dari Abu Ayyub. [10]

3.        A) dari Ali bin Abdul Aziz, dari Hajaj bin Al-Minhal,

B) dari Ibrahim bin Nailah, dari Abdul A’la bin Hammad

C) dari Abu Yusuf Al-Qadhi, dari Abdul Wahid

Hajaj, Abdul A’la, dan Abdul Wahid semuanya menerima dari Hammad bin Salamah, dari Muhammad bin Amr Al-laitsi, dari Sa’ad bin Sa’id bin Qais, dari Umar bin Tsabit, dari Abu Ayub Al-Anshari. [11]

4.        A) dari Abdullah bin Ahmad, dari Ahmad bin Hanbal, dari Waki’

B) dari Ahmad bin Zuhair, dari Muhamad bin Usman bin Karamah, dari Ubaidulah bin Musa.

Waki’ dan Ubaidullah menerima dari Al-Hasan bin Shalih, dari Muhamad bin ‘Amr, dari Sa’ad bin Sa’id bin Qais, dari Umar bin Tsabit, dari Abu Ayub Al-Anshari. [12]

5.        A) dari Ubaid bin Ghanam, dari Abu Bakar bin Abu Syaibah

B)    dari Abu Hushain, dari Yahya Al-Hammani

Abu Bakar dan Yahya menerima Abdullah bin al-Mubarak, dari Sa’ad bin Sa’id bin Qais, dari Umar bin Tsabit, dari Abu Ayub Al-Anshari. [13]

Masih ada beberapa jalan yang sampai kepada At-Thabrani ini, namun kami anggap cukup dengan jalan yang tercatat di atas.

g.      Yang sampai kepada Imam al-Baihaqi dan tercatat dalam kitabnya as-Sunanul Kubra.[14] Ia menerima dari Abu Abdullah al-Hafizh, dari Muhammad bin Ya’qub, dari Muhammad bin Ishaq as-Shagani, dari Muhadzir bin al-Muwarri’, dari Sa’ad bin Sa’id bin Qais, dari Umar bin Tsabit, dari Abu Ayub Al-Anshari

h.      Yang sampai kepada Abdur Razaq dalam kitabnya al-Mushannaf [15]. Ia menerima dari

1.    Daud bin Qais, dari Sa’ad bin Sa’id bin Qais, dari Umar bin Tsabit, dari Abu Ayub Al-Anshari.

2.    Abu Bakar bin Abu Sabrah, dari Sa’ad bin Sa’id bin Qais, dari Umar bin Tsabit, dari Abu Ayub Al-Anshari

Hadis Abu Ayyub di atas diriwayatkan pula oleh Ibnu Abu Syaibah[16], al-Humaidi[17], al-Haitsam bin Kulaib as-Syasyi[18], Abu Daud at-Thayalisi[19], at-Thahawi[20], dan al-Baghawi. [21]

Meskipun ke-14 mukharrij di atas meriwayatkan hadis Abu Ayyub tersebut denganthariq (jalan) yang berbeda-beda, tetapi semuanya bersumber dari Saad bin Sa’id al-Anshari, dari Umar bin Tsabit, dari Abu Ayub al-Anshari.

Sedangkan pada riwayat

1. Al-Humaidi [al-Musnad I:188], as-Syasyi [al-Musnad III:86], ad-Darimi [Sunan ad-Darimi, juz II, hal. 21], an-Nasai [as-Sunanul Kubra II:163], Abu Daud [Sunan Abu Daud II:544], Ibnu Khuzaimah [Shahih Ibnu Khuzaimah III:297], Ibnu Hibban [al-Ihsan Bitartibi Shahihibni Hiban, V:257-258], at-Thabrani [al-Mu’jamul Kabir IV:161], dan at-Thahawi [Syarah Musykilil Atsar VI:122 dan 123], periwayatan Saad bin Saidmaqrunan (disertai) Shafwan bin Sulaim. Keduanya menerima dari Umar bin Tsabit, dari Abu Ayub al-Anshari.

2. Al-Humaidi [al-Musnad I:189], at-Thahawi [Syarah Musykilil Atsar VI:124], at-Thabrani, [al-Mu’jamul Kabir IV:162], periwayatan Saad bin Said diperkuat olehYahya bin Said (saudara Saad bin Said), dari Umar bin Tsabit, dari Abu Ayub al-Anshari.

3. An-Nasai [as-Sunanul Kubra II:163-164] dan at-Thahawi [Syarah Musykilil AtsarVI:124], periwayatan Saad bin Said diperkuat oleh Abdur Rabbih bin Said(saudara Saad bin Said), dari Umar bin Tsabit, dari Abu Ayub al-Anshari

Dengan demikian, ketika meriwayatkan hadis tentang saum syawal ini Saad bin Saidtidak tafarrud (sendirian) atau memiliki mutabi’ (penguat), yaitu Shafwan bin Sulaim,Yahya bin Said, dan Abdu Rabbih bin Sa’id, sehingga hadisnya dapat dipakai hujjah atau landasan. Itulah sebabnya Imam Muslim memuat hadis tentang saum Syawal dalam kitab Shahih-nya, dan hadis semacam ini memenuhi salah satu syarat sahih Muslim.

Sebagaimana yang telah kami sebutkan di atas bahwa hadis saum Syawal itu diriwayatkan pula oleh sahabat-sahabat yang lain. Bila yang diterima Abu Ayub dengan sanad-sanad yang  demikian banyak dan dimuat oleh para mukharij serta semuanya melalui Umar bin Tsabit, maka periwayatan sahabat-sahabat lainnya melalui beberapa sanad dengan rawi-rawi yang berbeda, antara lain:

1.       Jabir diriwayatkan oleh at-Thabrani, Ahmad, al-Bazzar, dan al-Baihaqi

2.       Abu Hurairah diriwayatkan oleh al-Bazar dan Ath-Thabrani

3.      Tsauban diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Majah, an-Nasai, Ibnu Khuzaimah, dan Ibnu Hibban

4.      Ibnu Abbas diriwayatkan oleh Ahmad, at-Thabrani, al-Bazzar, dan al-Baihaqi

5.      Aisyah diriwayatkan oleh at-Thabrani

6.      Al-Barra bin Azib diriwayatkan oleh Ad-Daraquthni

7.      Ibnu Umar diriwayatkan oleh at-Thabrani

Kesimpulan

Hadis saum enam hari di bulan Syawwal derajatnya sahih

Syarah Hadis

عَنْ أَبِيْ أَيُّوْبَ الأَنْصَارِيِّ رضه أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ  صلى الله عليه وسلم  قَالَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

Dari Abu Ayyub Al-Anshari, sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang saum Ramadhan lalu diikuti dengan saum enam hari di bulan Syawal, ia seperti saum selama satu tahun”

A.Kaifiyat Pelaksanaan Shaum enam hari

Pelaksanaan shaum enam hari di bulan syawal dilaksanakan mulai dari tanggal dua sampai akhir syawal, karena pada tanggal 1 syawal diharamkan saum. Dari Abu Hurairah sesungguhnya Rasulallah saw. telah melarang saum dua hari, (yaitu) Hari Adha dan Hari Fitri.”- H.R.Muslim, I:507 No hadis 1138-

Imam An-Nawawi berkata, “Kawan-kawan kami mengatakan: Yang paling utama adalah saum  enam hari itu dilakukan dengan berturut-turut setelah harti Idul Fitri. Jika memisahkannya (tidak berturut-turut) atau menangguhkannya dari awal-awal syawal sampai akhir, maka tetap mendapatkan keutamaan mutaba’ah (berturut-turut) karena sesuai pada kalimat “atba’ahu Sittan Min Syawal” (mengikutkannya enam hari pada bulan syawal). – Syarah Muslim An-Nawawi, Juz VIII:56 –

Keterangan di atas menunjukkan bahwa pelaksanaan enam hari di bulan Syawal dapat dilakukan berturut-turut (6 hari sekaligus) atau dengan cara cicilan, yang penting selama bulan syawal shaum itu ditunaikan sebanyak 6 hari.

Selain itu, tidak ada persyaratan khusus bagi orang yang akan melaksanakannya. Adapun yang diterangkan dalam kitab As Sunan Wal Mubtada’at, halaman 162 yang menyatakan bahwa saum itu tidak boleh dilakukan, kecuali oleh orang-orang yang memiliki keturunan, maka itu tidak ada dalilnya. Demikian pula yang menyatakan bahwa siapa yang mensauminya lalu tidak menamatkannya (enam hari), maka akan matilah keluarganya. Semua itu adalah pendapat yang sesat dan menyesatkan, termasuk pendapat yang menyatakan adanya hari raya lagi setelah melaksanakan saum enam hari tersebut, mereka menamainya Idul Abrar.

B.Fadhilah (keutamaan) Shaum enam hari

Rasulullah saw. memberi kabar gembira bagi siapa yang melaksanakannya yaitu “seperti saum satu tahun”. Maksud perkataan itu adalah besarnya pahala yang akan diraih jika melaksanakannya.

Adapun maksud perbandingan seperti saum satu tahun meneurut para ulama ialah ”Sesungguhnya saum enam hari itu seperti saum satu tahun, karena satu kebaikan itu berbanding sepuluh. Maka satu bulan Ramadhan itu berbanding sepuluh bulan, dan enam hari itu berbanding dua bulan. Lihat, Syarah Muslim An Nawawi, VIII:56

[1] Lihat, Shahih Muslim, Dar el-Fikr, Beirut, 1992, I:522, Kitabus Shiyam, Bab Istihbabi Shaumi Sittati Ayyam min Syawwal Ittiba’an li Ramadhan, No. hadis 204/1164.

[2] Lihat, al-Musnad bit tahqiq Abdullah Muhmad ad-Darwisyi, Dar el-Fikr, Beirut, 1991, IX:138, No. hadis 23.592; Musnad al-Imam Ahmad bit tahqiq Dr. Syu’aib al-Arnauth, Muassasah ar-Risalah, Beirut, 2001, XXXVIII:514-515, No. hadis 23.533.

[3] Ibid., IX:142, No. hadis 23.615; XXXVIII:537, No. hadis 23.556

[4] Ibid., IX:143, No. hadis 23.620; XXXVIII:540, No. hadis 23.561

[5] Lihat, As-Sunanul Kubra, Dar el-Kutub al-‘Ilmiyyah, Beirut, 1991, II:163, No. hadis 2.862.

[6] Ibid, hal. 163, No. hadis 2.864.

[7] Lihat, Sunan at-Tirmidzi, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Beirut, 1987, III:132, No. hadis 759

[8] Lihat, Sunan Ibnu Majah, Dar el-Ma’rifah, Beirut, 1996, II:333, No. hadis 1.715

[9] Lihat, Al-Mu’jamul Kabir, Dar al-‘Arabiyyah lit Thiba’ah, Baghdad, 1979, IV:159, No. hadis 3.902

[10] Ibid., IV:159, No. hadis 3.903

[11] Ibid., IV:159-160, No. hadis 3.904

[12] Ibid., IV:160, No. hadis 3.905.

[13] Ibid., IV:160, No. hadis 3.906.

[14] Lihat, as-Sunanul Kubra, Dar el-Fikr, t.t. IV:292.

[15] Lihat, al-Mushannaf, al-Majlis al-‘Ilmiyyi, IV:315, No. hadis 7.918 dan 7.919.

[16] Lihat, al-Mushannaf, Dar el-Fikr, 1989, II:509, Bab No. 104, No. hadis 1.

[17] Lihat, al-Musnad, al-Maktabah as-Salafiyah, Madinah, t.t. I:188, No. 380

[18] Lihat, al-Musnad, al-Maktabah al-’Ulum wal Hikam, Madinah, 1993, III:84, No. 1.142; hal. 87, No. 1.144, 1.145.

[19] Lihat, al-Musnad, al-Maktabah as-Salafiyah, Madinah, t.t. I:188, No. 380

[20] Lihat, Syarh Musykil Atsar, Muassasah ar-Risalah, Beirut, 1994, VI:119, No. 2.337; hal. 120, No. 2.338 dan 2.340; hal. 121, No. 2.341; hal. 122, No. 2.342.

[21] Lihat, Syarhus Sunnah, al-Maktab al-Islami, Beirut, 1983,. VI:331, No. 1.780

Src: http://www.facebook.com/notes/amin-saefullah-muchtar/kedudukan-hadis-shaum-enam-hari-bulan-syawal/151649491533104

About rendyadamf
assalamu'alaikum wrwb..salam kenal buat teman - teman semuanya..gw rendy TTL : Bandung, 30-06-84. gw kuliah di UNISBA. gw nulis blog ini hanya untuk curahkan semua pemikiran gw..dan gw udah ubah haluan jalan hidup gw..menjadikan jihad sebagai satu-satunya jalan hidup gw!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: