Kedudukan Shalat Tasbih

Kedudukan shalat tasbih (bagian ke-1)

Oleh : Ibnu Muchtar, Muhammad Eno, dan Agus Nurjaman

Perlu diketahui bahwa hadis-hadis tentang salat tasbih tidak terdapat pada kitab shahih Al- Bukhari dan Shahih Muslim yang telah kita maklumi akan keshahihannya. Oleh sebab itu merupakan suatu hal yang wajar apabila mensikapi masalah ini para ulama terbagi kedalam kedua kelompok; yang menyatakan maqbul (shahih atau hassan) dan yang menyatakan mardud (dhaif sampai maudhu’).

Ulama yang menyatakan hasan antara lain Zaenuddin ubnu abdil Aziz dalam kitabnya Fathul mu’min, bahkan beliau mengutip pernyataan sebagian ahli tahqiq bahwa tidak akan mencela keutamaannya yang agung dan meninggalkannya selain orang yang menyepelekan agama (fathul Mu’in, I:249)

Ulama yang menyatakan shahih antara lain Abu Bakar Al-Ajiri, Abdur Rahim Al-Mashiri, dan Abul Hasan Maqdisi (Tuhfatul Ahwadzi, II:598). Ibnul Mubarak berpendapat bahwa salat tasbih itu sunat, serta dianjurkan untuk membiasakannya pada setiap waktu dan tidak boleh dilalaikan (Fiqhus Sunnah, I:213).

Ulama yang menyatakan dhaif antara lain Imam At-Tarmidzi dan Abu Bakar Al-Uqaili yang berpendapat bahwa hadis tersebut tidak benar datangnya dari Nabi SAW. Bahkan oleh Ibnul Jauzi (Al-Maudhud\’at, II143-146) hadis-hadis tentang salat tasbih itu dikategorikan sebagai hadis maudhu’ (palsu), meskipun pendapat beliau ini banyak yang membantah.

Perbedaan pendapat diatas menunjukan bahwa:

Para ulama itu tidak mendapatkan hadis tentang salat tasbih secara merata.

hadis tersebut diukur dengan criteria masing-masing. Itu sebabnya dalil yang dijadikan sandaran untuk ketetapan adanya salat tasbih tidak sama, baik sanad maupun matan.

Di antara hadis tentang salat tasbih ada yang hanya hasil rekayasa untuk merangsang umat Islam agar gemar membaca tasbih, paling tidak di dalam salat itu.

Dengan demikian perlu kita bahas secara lebih seksama, dengan harapan akan melahirkan akan kesimpulan yang kuat dan menentramkan.

Takhrij Hadis tentang salat tasbih

Hadis tentang salat tasbih berdasarkan kitab mu’jam Al-Mufahras li Alfazh Al-Hadits Al-Nabawi. Karya Dr. A.J Wensinck (1943, II:392), terdapat di dalam kitab Sunan Abu Daud, Sunan T-Tarmidzi, Dan Sunan ibnu Majah. Namun berdasarkan penelitian kami, hadis-hadis tentang salat tasbih itu dimuat kurang lebih dalam 13 kitab hadis dengan sanad dan matan yang bermaca,-macam, yang disampaikan oleh lima orang sahabat:

1.                  Ibnu Abas

Diriwayatkan oleh Al-Hakim, Al-Mustadrak, I:463; Ibnu Khuzaimah, Shaih Ibnu Khuzaimah, II:223; Al-Baihaqi, As-Sunanus Shagir; I:391 dan As-Sunanul Kubra, III:51; Abu Daud, Sunan Abu Daud, II; Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, I:443; At-Thabrani, Al-Mu’jamul Kabir; XI:161 dan 243, Al-Mu’jamul Ausath, III:14-15, pada umumnya menggunakan redaksi sebagai berikut:

“Sesungguhnya Rasulullah SAW. Bersabda kepada Al-Abas bin Abdul Muthalllib, ‘Wahai Abas, wahai pamanku, maukah engkau saya beri? Maukah engkau saya anugerahi?maukah engkau saya hadiahi? Maukah engkau saya praktikan sepuluh perkara, yang jika engkau melakukannya, niscaya Allah akan mengampuni dosamu baik yang pertama dan yang terakhir, yang lama dan yang baru, sengaja dan tidak, kecil dan besar, maupun sembunyi dan terang-terangan. Sepuluh perkara itu adalah engkau salat sebanyak empat rakaat, pada setiap rakaat engkau ucapkan Al-fatihah dan surah, bila engkau selesai membaca pada awal rakaat, dalam keadaan berdiri engkau ucapkan subhanallah, alhamdulillah, lailaaha illallah, dan Allahu Akbar 15x. Kemudian engkau ruku, maka dalam ruku engkau ucapkan kalimay-kalimat itu 10x, kemudian engkau bangkit dari ruku, maka ucapkanlah kalimat-kalimat itu 10x, kemudian engkau turun sujud, maka dalam keadaan sujud engkau ucapkan kalimat-kalimat itu 10x.kenudain engkau bangkit dari sujud maka ucapkan kalimat-kalimat itu 10x, kemudian engkau sujud lagi, maka ucapkanlah kalimat-kalimat itu 10x. kemudian engkau bangkit dari sujud, maka ucapkanlah kalimat-kalimat itu 10x. maka kalimat-kalimat itu sebanyak 75x pada setiap rakaat, yang demikian itu engkau lakukan dalam 4 rakaat. Jika engkau sanggup melaksanakannya setiap 1 hari 1 kali, maka lakukanlah. Jika tidak sanggup, maka setiap sati minggu 1x. jika tidak sanggup, maka setiap 1 bulan 1x, jika tidak sanggup setiap tahun 1x, jika tidak sanggup maka seumur hidupmu 1x.”

2.                  Abu Rafi’

Diriwayatkan oleh A-Tarmidzi, Sunan At-Tarmidzi, II:350; Al-Baihaqi, As-Sunanus Shagir, I:490; Syu’abul Iman, I:427; Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, I:442; Ath-thabrani. Al-Mu’jamul kabir; I:329, pada umunya menggunakan redaksi sebagai berikut:

“Rasulullah SAW. Bersabda kepada Abbas, ‘wahai pamanku, maukah aku menghadiahimu? Maukah aku memberi manfaat padamu?maukah aku memberimu?’ Ia menjawab ‘ya rasulullah.’ Beliau bersabda ‘salatlah kamu empat rakaat kamu membaca pada setiap rakaat Al-Fatihah dan surah, bila engkau selesai membaca, ucapkanlah subhanallah, alhamdulillah, lailaaha illallah, dan Allahu akbar 15x sebelum kamu ruku’, kemudian kamu ruku maka engkau ucapkan kalimat-kalimat itu 10x, kemudian engkau bangkit dari ruku, maka ucapkanlah kalimat-kalimat itu 10x. kemudaian kamu turun engkau turun sujud, maka dalam keadaan sujud engkau ucapkan kalimat-kalimat itu 10x. kemudain engkau bangkit dari sujud, maka ucapkanlah kalimat-kalimat itu 10x. kemudian engkau sujud lagi, maka ucapkanlah kalimat-kalimat itu 10x. kemudian engkau bangkit dari sujud, maka ucapkanlah kalimat-kalimat itu 10x sebelum engkau berdiri. Maka kalimat-kalimat itu sebanyak 75x pada setiap rakaat, dan jumlahnya 300 setiap 4 rakaat. Maka kalaulah dosa-dosamu seperti pasit yng bertumpuk pasti Allah mengampuni mu, ia bertanyalagi. ‘Wahai Rasulullah siapa yang tidak mampu mengucapkannya setiap hari?’ beliau menjawab, ucapkanlah setiap jum’at, maka ucapkanlah setiap bulan 1x. sehingga beliau bersabda, maka ucapkanlah setiap tahun 1x.”

3. Abdullah bin Amr banal-Ash

Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi, As-Sunanus Shagir, I:391; Abu Daud, Sunan Abu Daud, I:292, dengan redaksi sebagai berikut:

“Dari Abu Al-Jauza, ia berkata, “Telah menceritakan kepada kami seorang laki-laki yang memiliki persahabatan (dengan Rasul) yang mereka anggap dia itu Abdullah ibn Amr, ia berkata, ‘Nabi SAW bersabda, ‘Datanglah kamu kepadakubesik, aku akan menghadiahimu, aku akan menganugerahimu, dan aku akan memberimu, sehingga aku menyangkabeliaua akan memberikan suatu pemberian kepadaku. Beliau bersabda. Bila telah tergelincir siang, maka berdirilahkamu dan shalatlah 4 rakaat, lalu beliau berkata seperti diatas, beliau bersabda, angkat kepalamu yaitu dari sujud kedua- maka tegaklah dalam keadaan duduk dan janganlah berdirisampai engkau bertasbih 10x, bertahmid 10x, bertakbir 10x, dan bertahlil 10x, kemudian kamu lakukan hal itu pada 4 rakaat. Beliau bersabda, ‘jika kamu adalah penduduk bumi yang paling besar dosanya, pasti Allah akan mengampunimu dengan itu’, Aku bertanya. ‘juka aku tidak sanggup melakukannya seperti itu? Beliaumenjawab, “Salatlah pada waktu malam dan siang hari”

4. Anas bin Malik

Diriwayatkan oleh Ahmad, MUsnad Ahmad, III:120; Ibnu Hiban, Al-Ihsan bi Tartibi Shahihibni Hiban, V:535; At-Tarmidzi, Sunan At-Tarmidzi, II:349; Al-Hakim, Al-Mustadrak, I:462; Ibnu Khuzaimah, Shahih Ibnu Khuzaimah, !!:231, padsa umumnya menggunakan redaksi sebagai berikut:

“Dari Anas ibn malik: ‘ Sesungguhnya Ummu Sulaim dating kepada Nabi SAW, maka dia berkata:’ajarkanlah kepadaku beberapa kalimat yang akan aku ucapkanlah dalam salatku, maka Nabi menjawab, ‘bertakbirlah 10x, bertasbihlah 10x, bertahmidlah 10x, kemudian apa yang kamu kehendaki, Dia (Allah) akan mengiyakan dengan na’am, na’am.”

Penggunaan hadis diatas sebagai dalil disyariatkan salat tasbih tidak disepakati oleh para ulama. Imam An-Nasai membuat judul bagi hadis diatas dengan “Babud Dzikri ba’dat Tasyahud”. Sunan An-Nasai, III:51. Ibnu Hiban menjelaskan bahwa tasbih, tahmid, dan takbit itu diperintahkan untuk di amalkan setelah salat, bukan didalam salat. Al-Ihsan bi Tartibi Shahihhibni Hiban, V:535. Ibnu Khuzaimah (Shahih Ibnu Khuzaimah, II:31)menempatkan hadis tersebut pada bab, Imam Al-Hakim menempatkan hadis tersebut pada bab  salat tathawu’ (Al-Mustadrak, I:462) Sedangkan oleh Imam At-Tarmidzi (Sunan At-Tarmidzi, II:349) dan Ukasyah Abdul Mannan (Fiqhul Imamil Bukhari, 1999:518) hadis tersebut dijadikan dalil salat tasbih.

5. Al-Anshari tanpa disebutkan namanya

Hadisnya hanya diriwayatkan oleh Abu Daud, Sunan Abu Daud I:293

“Abu Taubah Al-Rabi’ ibn Nafi’ telah menceritakan kami, Muhammad ibn Muhajir telah menceritakan kepada kami, dari ‘Urwah bin Ruwaim, Al-Anshari telah menceritakan kepada saya, sesungguhnya Rasulullah SAW, bersabda kepada Ja’far dengan hadis ini ‘(sama serrperti hadisAbdullah bin Amr).

Menurut Al-Mizzi ada yang mengatakan bahwa Al-Anshari disini adalah Jabir bin Abdullah, denganpertimbangan bahwa ibnu asakir meriwayatkan pada tarjamah Urwah bin Ruwaim beberapa hadis dari Jabir Al-Anshari. Maka bias jadi Al-Anshari pada hadis inipun adalah Jabir, Akan tetapi hadis-hadis itu diriwayatkan melalui jalan lain selain Muhammad bin Muhajir dari Urwah bin Ruwaim, yaitu dua riwayat At-Thabrani melalui Abu Taubah (di atas) pada kedua riwayat itu Urwah berkata, telah mebceritakan kepadaku Abu Kabsyah Al-Anmari, barangkali huruf mim (Al-Anmari) terasa sedikit berat sehingga menyerupai shad, jika demikian maka sahabat pada hadis ini adalah Abu Kabsyah. (lihat, Aumul Ma’bud, IV:128)

Demikian takhrij hadis tentang salat tasbih yang dapat kami lakukan. Adapun penilaian para ulama terhadap kedudukan hadis-hadis tersebut, insyaAllah akan kami kemukakan sesi berikutnya.

KEDUDUKAN SALAT TASBIH (BAGIAN KE-2)

Untuk mengetahui sejauh mana kedudukan hadis tentang salat tasbih yang telah ditulis pada sebelumnya, maka kami perlu mengemukakan argumentasi para ulama dari kedua belah pihak, kemudian mencari mana yang lebiuh rajih (kuat), dengan harapan menjadi bahan kajian para ulama untuk diteliti kembali.

Alasan Pendaifan Hadis Salat Tasbih

Ulama yang menyatakan behwa salat tasbih itu tidak disyariatkan berpendapat bahwa hadis-hadis tentang itu tidak dapat dijadikan hujjah, karena daif, bahkan maudhu.

A.  Ali bin Abu Bakar Al-Haitsami berpendapat bahwa hadis-hadis salat tasbih itu daif dengan alas an: Hadis Ibnu Abas riwayat At-Thabrani yang menceritakan kedatangan Al-Abas kepada Nabi, pada sanadnya terdapat rawi Rafi bin Hurmuz, dia daif. Hadis Ibnu Abas juga riwayat At-Thabrani yang menceritakan perkataan Rasul kepadanya, pada sanadnya terdapat rawi Abdul Quddus bin Habib, dia matruk. Hadis Ibnu Abas yang diriwayatkan oleh At-Thabrani melalui Abul Jauza, pada sanadnya terdapat rawi yahya bin Uqbah, dia daif. (lihat Majma’uz Zawa’id wa Manba’ul Fawaid, 1986, juz II:285)

B.   Syamsul Haq berkata, “Dan pada kitab At-Talkhis : yang benar semua sanadnya daif, walaupun hadis Ibnu Abas mendekati syarat hasan, tetapi hadis itu syadz, karena begitu tafarud (meriwayatkan seorang diri) padanya, tidak ada mutabi’ dan syahid dari jalan yang diakui, dan meskipun Musa bin Abdul Aziz itu shaduq, saleh tapi tafarrud ini tidak akan menyelamatkannya, dan sanad-sanad itu telah dinyatakan daif olehIbnu Taimiyyah dan Al-Mizzi” Aunul Ma’bud, juz IV:29.

C.  Abdurrahman Al-Mubarakafuri berkata, “Pada hadis Abu Rafi terdapat Musa bin Ubaidah, ia daif terutama pada Abdullah bin Dinar. Kemudian gurunya Sa’id bin Abu Sa’id, kata Ibnu Hajar pada At-Taqrib, ‘Dia Majhul.” Tuhfatul Ahwadzi, II:595.

D.  Abu Bakar bin Al-Arabi berkata,”Pada salat tasbih tidak ada hadis yang sahih, dan tidak juga hasan” As-sunan wal Mutada’at,1995:85.

E.   Hadis salat tasbih telah diriwayatkan oleh At-Tarmidzi dari Ibnul Mubarak, dari Ikrimah bin Amr, dia daif. Aku mendengar syekh Abul Hasan bin Ayyub berkata, “Aku mendengar Al-Barqani berkata, ‘Aku mendengar Al-Ismaili berkata, ‘Ikrimah bin Amar daif kecuali Iyas bin Salamah.” Al-Imam berkata, “Al-Bukhari tidak meriwayatkan hadis Ikrimah bin Amar satu huruf pun, adapun Muslim meriwayatkan hadisnya dari Iyas bin Salamah. Dan pernilaian adalah dari Abdullah bin Mubarak terhadap hadis salat tasbih, pembagian, dan penafsirannya hanya dari dirinya probadi, maka tidak bias dijadikan hujjah. Kemudian hadis Abu Rafi’ tentang kepurusan Al-Abbas adalah daif tidak ada sumber dalam penshahihannya, demikian pula penilaian hasan, jika hadis itu gharib sanadnya, maka gharib (asing) pula kaifiyatnya.” Fiqhul Imamil Bukhari, 1999:519.

F.   Ad-Dzahabi berkata, “Hadisnya termasuk kelompok hadis-hadis munkar, terutama Al-Hakam bin Aban, ia tidak kuat” Mizanul I’tidal, IV:213.

G.  Menurut Ibnul Jauzi (Al-Maudhu’at, 1983 : 145-146) sanad-sanad hadis tersebut, yaitu dari sahabat Al-Abas, Ibnu Abas, Abu Rafi’, semuanya tidak tsabit (tidak benar datangnya dari Nabi SAW.). pada sanad hadis pertama (dari Al-Abas), terdapat rawi bernama Sadaqah bin Yazid Al-Khurasani.

“Ahmad berkata, “hadisnya daif”, Al-Bukhari berkata, ‘Munkaraul hadis (tidak halal meriwayatkan darinya)”. Ibnu Hiban berkata, “Dia menyampaikan dari orang-orang tsiqat sesuatu yang mudhilat (mendatangkan bencana, tidak boleh sibuk dengan hadisnya (tidak perlu diperhatikan hadisnya) ketika berhujjah.”

Pada sanad hadis kedu (dari Ibnu Abad), terdapat rawi bernama Musabin Abdul Aziz, ia majhul (tidak dikenal)di kalangan kami. Adapun pada sanad hadis yang ke-3 (Abu Rafi’), terdapat rawi yang bernama Musa bin Ubaidah. “Ahmad berkata. “Menurut saya tidak halal meriwayatkan darinya”. Yahya Berkata, “ tidak ada apa-apanya”.

Salat ini diriwayatkan pula oleh Abul Jauza dari Ibnu Abas…, yaitu hadis riwayat Abi Junab Yahya bin Abu Hayyah. Yahya Al-Qatthan berkata, “Aku menganggap tidak halal meriwayatkan darinya (Abu Junab)” Al –Falas berkata, “Dia matrukul hadis”. Kami meriwayatkan pula salat tasbih dari hadis Yahya bin Amr bin Malik, dari ayanhnya, dari Ibnu Abas secara mauquf (perkataan ibnu Abas), dan Hamad bin Zaid menyatakan bahwa Yahya tertuduh dusta, dan ia dunyatakan daif oleh Ibnu Ma’in, Abu Zur’ah, An-Nasai. Mereka juga mendaifkan ayahnya, yaitu Amr. Ibnu Adi berkata, “Amr bin Malik munkarul hadis dari orang-orang tsiqat, dan ia mencuri hadis, dan ia mencuri hadis, serta dinyatakan daif oleh Abu Ya’la Al-Mushili.

Dan kami meriwayatkan pula datangnya hadis Rauh bin Al-Musayyab, dari Amr bin MalikAl-Bakri, dari Abul Jauza, dari Ibnu Abas secara mauquf. Celaan terhadap Amr telah kami terangkan. Adapun Rauh, kata Ibnu Hiban, “Dia meriwayatkan hadis-hadis maudhu dari orang-orang tsiqat dan memarfu’kan hadis-hadis mauquf (perkataan/perbuatan sahabat diatasnamakan Nabi), tidak halal meriwayatkan darinya”.

Diriwayatkan pula hadis tentang salat tasbih itu bahwa Nabi tekah mengajarkannya kepada Ibnu Amr bin Al-Ash, tetapi hadis itu melalui Abdul Aziz bin Aban, dari Sufyan At-Tsauri, dari Aban bin Abu Ayasy. Adapun tentang Abdul Aziz, Yahya berkata, “laisa bisyain, pendusta, memalsukan hadis” Ahmad berkata, “ Aku meninggalkannya”, sedangkan Aban bin Abu Ayyas, kata Syu’bah, “berzinah lebih aku sukai daripada menyampaikan hadis darinya.”

Hadis tentang salat tasbih diriwayatkan oleh Ibnu Tsauban, namanya Abdurrahman bin Tsabit, dan oleh Ibnu Sam’an, namanya Abdullah Ibnu Ziyad, bahwa Rasulullah SAW. Mengajarkannya kepada Ja’far bin Abu Thalib. Ibnu Tsauban dinyatakan daif oleh Yahya, sedangkan Ibnu Sam’an dinyatakan pendusta oleh Malik.

Dan diriwayatkan pula melalui Ishaq bin Ibrahim bin Qisthas, dari Umar maula Ghufrah, bahwa Nabi SAW, mengajarkannya kepada Ja’far bin Abu Thalib…Ulama hadis telah sepakat atas kedaifan Ishaq dan Umar. Disamping itu hadisnya mauquf (amal Tabi’in). Al-Uqaili berkata, “dalam salat tasbih itu tidak ada satupun hadis yang tsabit( tidak benar datangnya dari Nabi SAW)

Memperhatikan kelemahan-kelemahan yang begitu parah, kiranya tidak berlebihan apabila Ibnula Jauzi menempatkan hadis-hadis tentang salat tasbih itu pada kelompok maudhu’(palsu).

Alasan Pensahihan Hadis Salat Tasbih

Ulama yang menyatakan bahwa salat tasbihitu disyariatkan berpendapat bahwa hadis-hadis tentang salat tasbih itu sahih, atau paling tidak derajatnya hasan.

A.  A-Suyuti berkata dalam kitab Qutul Mugtadza, “Ibnul Jauzi terlalu berlebihan dengan memasukan hadis ini pada kelompok hadis maudhu’, dan penilaiannya terhadap hadis itu karena terdapat rawi Musa bin Ubaidah Az-Zubaidi, padahal keadaanya tidaklah seperti yang dikatakannya. Meskipun hadis itu daif tidak akan sampai kepada derajat maudhu” Tuhfatul Ahwadzi II:596.

B.   Abdurrahman Al-Mubarakafuri barkata, “Penilaian Ibnu hajar terhadap hadis salat tasbih kontradiktif. Pada kitabnya At-Takhlis, ia mendaifkannya. Sedangkan pada kitab Al-Khishasul Mufakkirah, ia cenderung menyatakan hasan. Beliau berkata, ‘Rawi-rawi pada sanadnya tidak apa-apa, Ikrimah dipakai hujjah olah Al-Bukhari, AL-Hakam Shaduq, dan Musa bijn Abdul Aziz dunyatakan tidak apa-apa oleh Ibnu MA’in dan An-Nasai. Ibnul Madini berkata, ‘Maka sanad ini memenuhi sanad syarat hasan, karena diperkuat oleh periwayatan lainnya. Dan sungguh Ibnul Jauzi telah berbuat kesalahan dengan menyebutnya pada kelompok hadis-hadis maudhu’, dan penilaiannya bahwa Musa itu majhul tidaklah benar, karena dinyatak tsiqat oleh Ibnu Main dan An-nasai, maka tidak akan berpengaruh penilaian majhul kepadanya dari orang yang dating setelah kedua imam itu. Hadis itu diperkuat oleh rieayat D-Daruquthni dari sahabat Al-Abas, At-Tarmidzi dari sahabat Abu Rafi’, eiwayat Abu Daud dari sahabat Ibnu Amr dengan sanad Anu Rafi’, riwayat Abu Daud dari sahabat Ibnu Amr dengan sanad labasa bih, Al-Hakimmeriwayatkannya melalui Ibnu Amr, dan hadis tiu memiliki beberapa sanad yang lain.” Ibid.,II:599.

C.  Al-Hafiz Al-Munzhiri berkata setelah menyebutkan hadis-hadis Ikrimah dari Ibnu Abas, “Hadis ini diriwayatkan melalui beberapa jalan dan dari beberapa orang sahabat, dan yang terbaik adalah hadis Ikrimah dari Ibnu Abas ini. Hadis itu tekah dinyatakan sahih oleh kelpompok ulama, seperti Abu Bakar Al-Ajiri, Abdur-Rahim Al-Mishri, dan Abdul Hasan Al-Maqdisi. Abu Bakar bin Abu Daud berkata, ‘Saya mendengar bapakkua berkata, ‘Pada salat tasbih itu tidak ada hadis yang sahih selain ini. Dan Muslim bin Al-Hajjaj berkata, ‘Tidak diriwayatkan pada hadis ini sanad yang paling baik dari ini, yaitu sanad hadis Ikrimah dari Ibnu Abas.” Ibid.,II:598

D.  Imam An-Nawawi berkata pada kitab Tahdzibul Lughah wal Asma, “Pada salat tasbih terdapat hadis yang hasan di dalam kitab At-Tarmidzi dan lain-lain, dan Al-Mahamili beserta sahabat-sahabat kami lainnya menerangkan bahwa salat tasbih itu sunnah hasanah.” Ibid.,II:599

E.   Al_Ghazali berkata di dalam kitab Al-Ihya, “salat tasbih ini diriwayatkan sesuai dengan ketentuannya, tidak dikhususkan oleh waktu, tidak pula oleh sebab, dan hadisnya hasan karena banyak jalannya.’Fiqhul Imamil Bukhari, 1999:519.

F.   As-Subki berkata, “Para hafizh telah mempertimbangkan hadis ini, dan yang benar bahwa hadis itu benar adanya, layak diamalkan. Hadis itu dinyatakan sahih oleh Abu Khuzaimah, Al-Hakim, dan dinyatakan hasan oleh sekelompok ulama. Al-Asqalani berkata, ‘Hadis ini hasan, sungguh Ibnul Jauzi telah berbuat kesalahan dengan menyebutnya pada kelompok hadis-hadis maudhu’, Dan Ad-Daruquthni berkata, ‘Hadis yang paling sahih tentang fadhilah salat adalah fadhilah salat tasbih’.” Al-Manhalul Adzbul Maurud Syarah Sunan Abi Daud, VII:210.

G.  Ibnu Hajar berkata, “Tidak apa-apa sanad hadis Ibnu Abas, hadis itu memenuhi syarat hasan, karena mempunyai syahid yang memperkuatnya, dan diantara ulama yang menyatakan sahih dan hasan adalah Ibnu Mandah, Al-Mundziri, Ibnu Shalah, An-Nawawi, As-Subki, dan lain-lain.” Fiqhul Imamil Bukhari, 1999:521.

Demikianlah di antara alasan-alasan dari kedua belah pihak tentang kedudukan hadis salat tasbih yang perlu diketahui. Adapun sikap kami terhadap perbedaan pendapat ini, insya Allah akan dikemukakan pada sesi berikutnya, mudah-mudahan objektif, argumentative, dan kesimpulan yang komprehensif

KEDUDUKAN SALAT TASBIH (BAGIAN AKHIR)

Setelah mengamati secara seksama argumentasi dari kedua belah pihak, kami cenderung kepada pihak yang mendaifkan hadis-hadis tentang salat tasbih, dengan tambahan catatan sebagai berikut:

A.        Kualitas sanad hadis

Setelah melakukan penelitian terhadap seluruh sanad hadis-hadis tersebut, kami melihat bahwa yang di jadikan dalil pokok oleh para ulama yang menyatakan disyariatkannya sa;at tasbih adalah hadis yang disampaikan oleh Ibnu Abas melalui Ikrimah Maula Ibnu Abas, riwayat Abu Daud, Ibnu Majah, Al-Hakim, Al-Baihaqi, Ath-Thabrani, dan Ibnu Khuzaimah. Oleh sebab itu, Muslim bin Hajjaj berkata, “Tidak diriwayatkan pada hadis sanad ini yang ahsan (paling baik) dari ini, yaitu sanad hadis Ikrimah dari Ibnu Abas. “ Tuhfatul Ahwadzi, II:598

Pernyataan ahsan dari Imam Muslim ini tidak berarti derajat hadis tersebut hasan apalagi sahih, tapi menunjukan yang terbaik diantara yang jelek, karena ternyata hadis ini pun tidak terlepas dari kedaifan, yaitu semua sanadnya melalui dua orang rawi yang daif, yaitu Musa bin Abdul Aziz (w, 154H)

– Penilaian para ulama terhadap Musa bin Abdul Aziz:

1.         Adz-Dzahabi berkata, “hadisnya termasuk kelompok hadis munkar” Mizanul     I’tidal, IV:213

2.         Ibnu Hajar berkata, “Shaduq, buruk hafalan” Taqribut Tahdzib, II:611

3.         Ibn Hiban berkata, “Ia kerap kali keliru” Tahdzibul Kamal, XXIX:103

4.         Ibn Al-Madini berkata, “Ia rawi yang daif” Tahdzibut Tahdzib, X:356

5.         Abu Faadhl Al-Sulaimani berkata, “Ia rawi yang munkarul hadis” Tahdzibut       Tahdzib, X:356

– Penilaian para ulama tentang Al-Hakam bin Aban (W.154):

1.         Ibnu Hiban berkata, “Ia kerap kali keliru” Tahdzibut Kamal, VII:88

Demikian pula hadis Ibnu Abas yang diriwayatkan melalui jalan lain sebagai       mutabi’ berkualitas daif, karena

a.         Pada sanad At-Thabrani (Al-Mu’jamul Ausath, III:128-129) terdapat rawi        bernama Abdul Qudus bin Habib, dia matruk. Majma’uz Zawaid, 1998, juz2,       hal. 285.

b.         Pada sanad At-Thabrani (Al-Mu’jamul Kabir, XI:161) terdapat rawi bernama   Nafi bin Hurmuz, Abu Hurmuz, ia dinyatakan pendusta oleh Ibnu Ma’in, dan         Abu Hatim berkata, “Matruk, dzahibul hadits/pemalsu hadis). Mizanul I’tidal, IV:244

B.        Kualitas Matan Hadis

B.1      Apek Redaksional

Secara redaksional matan hadis tentang salat tasbih ini ada tiga macam. Pertama, matan hadis Ibnu Abas yang menerangkan bahwa salat tasbih itu sebanyak empat rakaat, setiap rakaat mengucapkan subhanallah, alhamdulillah, la ilaha ilallah, dan Allahu Akbar sebanyak 75x. jadi jumlahnya 300x dalam 4 rakaat.

Kedua, hadis Abdullah ibn ‘Amr dan Jabir ibn Abdullah yang menerangkan salat tasbih sebanyak 4 rakaat mengucap Subhanallah, Alhamdulillah, La ilaha illallah dan Allahu Akbar sebanyak 75x sama dengan hadis Ibn Abas diatas. Namun dalam hadis ini terdapat tambahan mabgucap tasbih 10x, tahmid 10x, takbir 10x, dan tahlil 10x pada setiap jilsatul istirahah pada rakaat pertama sebelum bangkit kepada rakaat kedua, pada rakaat kedua sebelum bangkit kepada rakaat ketiga, pada rakaat ketiga sebelum rakaat ke empat. Dengan demikian dalam empat rakaat berjumlah 420x mengucapkan lafal-lafal diatas (300 + 120 pada Jilsatul Istirahah).

Ketiga, hadis Ummu Sulaim riwayat At-Tarmidzi yang menerangkan takbir 10x, tasbih 10x, tahmid 10x.didalam hadis ini tidak ada tahlil, demikian pula tidak disebutkan jumlah rakaatnya serta tidak ada keterangan tempat-tempat penyebutannya, serta jumlah seluruh bacaan-bacaan tersebut.

Berdasarkan perbedaan redaksi diatas, hadis tentang salat tasbih ini mengandung dua hal yang tidak dapat dipastikan. Pertama, tidak ada kepastian tentang berapa jumlah bacaan-bacaan tersebut, apakah perlafazh 10x ataukah seluruh lafaz 10x. Dengan demikian, kandungan matan hadis-hadis diatas antara satu sama lain tidak dapat dicocokkan, dan tidak dapat ditetapkan mana yang bisa dipakai.

B.2      Aspek Kandungan/Isi

Kandungan matan hadis-hadis tersebut tidak menunjukan ciri-ciri sabda Nabi, karena disamping adanya ketidak jelasandari segi jumlah bacaan takbir, tahmid,yahlil dan tasbih serta cara membacanya, juga berada diluar kewajaran diukur dari petunjuk umu ajaran Islam, yaitu

Pertama. Khasiat dari salat tasbih tersebut yaitu perbuatan sederhana tetapi dapat menghapus sepuluh macam dosa termasik dosa besar seperti zina. Di samping itu, dapat menghapus dosa yang terdahulu dan yangakan datang, ayng lama dan baru, yang disengaja maupun tidak, yang kecil atau yang besar serta dosa yang tampak maupun yang tersembunyi. Sedangkan ciri kepalsuan dalam matan dapat dilihat dari segi ganjaran yang besar bagi perbuatan yang enteng atau sebaliknya (lihat, Manhajum Naqd, 1997:312)

Kedua, salat tersebut dapat dilakukan setiap hari, seminggu sekali, sebulan sekali, setahun sekali, bahkan kalau tidak sempat cukup seumur hidup satu kali. Pelaksanaan seperti ini menunjukan ketidak jelasan status hukum dari salat tersebut.

Berdasarkan penelitian sanad dan matan hadis diatas, kami berkesimpulan         bahwa:

–         Hadis-hadis tentang salat tasbih mardud (tertolak) dan tidak dapat diamalkan.

–         Salat tasbih tidak disyariatkan.

SHALAT-SHALAT BID’AH

Meskipun telah banyak jenis shalat dari Nabi, ada yang wajib, sunnah dan yang lainnya dan terdapat keterangan tentang keutamaan shalat-shalat tersebut. Akan tetapi, masih saja ada orang yang membuat-buat berbagai jenis sahalat yang diada-adakan, diantaranya: Shalat Usbu’ (shalat mingguan); tidak ada sama sekali keterangan yang shahih tentang sahat usbu’. Begitu pula shalat malam jum’at dua belas rakaat dengan membaca surat al-Ikhlas sebanyak sepuluh rakaat, batal tidak ada dasarnya. Shalat sepuluh rakaat dengan membaca surat al-Ikhlas dan Ma’uzatain (an-Nas dan al-Falaq) sama sekali, batal. Demikian juga shalat dua rakaat dengan membaca (Idza Zulzilat…) lima belas kalui, atau lima puluh kali, semuanya munkar dan batal. Shalat, dua, empat, delapan dan dua belas rakaat pada hari jum’at, tidak ada dasarnya. Demikian juga shalat qabla jum’at empat rakaat dengan membaca al-Ikhlas lima puluh kali, tidak ada dasarnya.

Demikian juga shalat ‘Asyura, shalat raghaib: Maudhu’ (palsu) menurut kesepakatan ulama.

Demikian juga shalat malam-malam bulan rajab, malam dua puluh tujuh bulan rajab, malam nisfu sya’ban seratus rakaat, pada tiap rakaat membaca surat al-Ikhlas sepuluh kali.

Demikian juga menghidupkan dua hari raya dengan shalat, shalat hifdzu al-Qur’an, shalat dua rakaat setelah sa’i di marwah, membaca semua ayat do’a pada akhir rakaat shalat tarawih, dan shalat dengan jumlah rakaat tertentu antara maghrib dan isya.

Sumber Buku:

1.         Al-qudwah edisi 25-27

2.         Kesalahan Umum Dalam Pelaksanaan Ibadah Shalat

Muhammad Shiddiq Al-Minsyawy

Editor: A. Zakaria

Yayasan Ibnu Azka Garut

About rendyadamf
assalamu'alaikum wrwb..salam kenal buat teman - teman semuanya..gw rendy TTL : Bandung, 30-06-84. gw kuliah di UNISBA. gw nulis blog ini hanya untuk curahkan semua pemikiran gw..dan gw udah ubah haluan jalan hidup gw..menjadikan jihad sebagai satu-satunya jalan hidup gw!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: