Tanggapan Balik Atas Bantahan Keterangan Tidak Adanya Imam Mahdi

Majalah Al Furqon edisi 1, Tahun V/Sya’ban 1426 H terbitan Lajnah Da’wah Ma’had Al Furqon, Srowo Sidayu Gresik, Jawa Timur, hal. 4-6 telah memuat bantahan terhadap artikel tentang Imam mahdi yang dimuat dalam majalah Al-Qudwah edisi 53 Jumadis Tsaniah 1425 H/2004 M, hal. 24-39.

Secara Global ada masalah yang termuat pada bantahan tersebut:

1. “Tidak benar bahwa hadis-hadis tentang Mahdi itu seluruhnya hadis palsu dan penipu, bahkan banyak sekali dari hadis-hadis tentang mahdi yang shahih bahkan banyak para ulama ahli hadis yang menyatakan tentang Imam Mahdi adalah Mutawatir” (Hal 4 kolom 2 alinea 2)

2. Kesimpulan akhir Kami Majelis Muthala’ah (Al-Qudwah) adalah kesimpulan keliru yang tidak boleh diyakini oleh setiap muslim sebagaimana setiap muslim tidak boleh mempercayai takhayul, karena keyakinna yang benar yang wajibdiyakini oleh setiap muslim bahwa hadits-hadits tentang Imam Mahdi shahih bahkan muttawatir (hal 6 kolom 3 alinea terakhir)

Itulah pokok dari bantahan tersebut.

Tanggapan kami

A. Dari pernyataan diatas (point 1) kami berhusnuzhan bahwa redaksi Al Furqon mengakui adanya hadis-hadis palsu tentang Imam Mahdi, meskipun menggunakan standar relatif, yakni seluruhnya dan banyak sekali. kami tidak mendapatkan keterangan yang dimaksud seluruhnya itu berapa sanad, thariq (jalur periwayatan), atau matan. Demikian pula dengan ungkapan banyak sekali. Sehingga terkesan bahwa Redaksi Al Furqan belum tuntas melakukan penelitian terhadap hadis-hadis itu, bahkan hanya mengutip hasil penelitian orang lain.  Karena itu, delapan Hadis tentang imam Mahdi yang didhaifkan oleh kami hanya dua hadis saja yang dibantah oleh redaksi AL Furqan.

B. Dalam menganalisis hadis-hadis itu selain menggunakan standar relatis, redaksi juga menggunakan standar ganda, yaitu ketika melakukan pembelaan terhadap Ziyad Bin Bayan (Rawi Hadis Ke satu) redaksi menyatakan: Ziyad bin Bayan adalah perawi yang shaduq, yaitu derajat hadisnya hasan (hal 5 kolom 1 alinea 4 ) tetapi dimuka dan akhir pembahasan dinyatakan shahih. Bukankah hasan dan shahih itu menunjukan derajat yang tidak sama? Kami belum berkesimpulan bahwa redaksi Al Furqan baru belajar kaidah mustalah hadits tingkat dasar.

C. Berbagai komentar para ulama yang dinukil dalam majalah tentang Ziyad bin bayan semakin menegaskan bahwa redaksi Al-Furqan telah terkecoh oleh metodologi ilmiahnya, karena tidak ada seorang pundi antara ulama itu yang mentsiqatkan Ziyad. Tapi mengapa dikatakan bahwa hadis ini shahih? Kami tidak mengakatan bahwa redaksi Al-Furqan wajib membenahi keteledoran mereka.

D. Berbagai komentar dari para ulama yang dinukil dalam majalah itu tentang Ali Bin Nufail semakin menegaskan bahwa redaksi Al Firqan tidak menyadari siapa sebenarnya yang sedang melakukan pengkhianatan ilmiah. Karena tidak ada seorang pun di antara ulama itu yang mentsiqatkan Ali bin Nufail. Tapi mengapa dikatakan bahwa hadis ini shahih? Kami tidak mengatakan bahwa redaksi Al Furqan wajib memelihara amanah ilmiah.

E. Dalam menundukan status Ashim bin Abun Najud redaksi Al-Furqan lago-lagi terkecoh oleh metodologi ilmiahnya karena terlanjur bernafsu dalam mendiskreditkan pihak lain, sehingga tidak cermat dalam kerangka metodologis. hal itu berkaitan dengan:

1. Menurut redaksi Al Furqan, Ashim bin bahdalah Abu Nujud dikatakan tsiqat oleh…(hal 5 kolom 3 alinea 3  baris 14 dari bawah)

Cara pembacaan nama diatas menunjukan bahwa redaksi Al- Furqan tidak mengenal rawi tersebut denganbaik. Sejak kapan Bahdalah (ayah Ashim) disebut Abu Nujud? Padahal yang mahsyur dikalangan ahli adalah Abu najud. dari sini dapat kita pahami mengapa para pentahqiq kitab rijal berkepentingan untuk mensyakali (memberi harakat) pada nama-nama rawi tertentu, agar tidak terjadi kesalahan mendasar seperti yang dilakukan oleh redaksi Al-Furqan. Ternyata nama itu disyakali sebagai berikut

“Ashim bin Bahdalah yaitu Ibnu Abun Najud (Lihat Tahdzibul kamal XIII:473, No 3002 Muassasah Ar risalah Beirut, 1994, Bit tahqiq Dr Basyyar Awwad ma’ruf; Taqribut Tahdzib, I:266, No.3037, Dar Al-Fikr, Beirut, 1995, bit tahqiq Shidqi Jamil al’Athar

b. Penilaian Para Ulama

Redaksi Al Furqan berusaha tidak melakukan penghianatan ilmiah dengan menukil komentar berbagai ulama (memuji) maupun yang menjarh (mencela) Ashim bin Abun Najud. Namun karena tidak memiliki kerangka metotodologis yang jelas maka kesimpulan redaksi bahwa hadis Ashim bin bahdalah derajatnya minimal hasan  merupakan bukti penghianatan ilmiah. Hal itu dapat kita lihat dari beberapa aspek sebagai berikut:

1. Istilah Tsiqat menunjukan bahwa rawi itu adil dan tammud dhabth (sempurna hapalan), dan riwayat/hadisnya dapat dikategorikan shahih. Sedanghkan hasan adalah predikat hadis yang diriwayatkan oleh rawi adil dan khafifud dhabth (kurang sempurna hapalan0. mengapa dari penilaian tsiqat para ulama disimpulkan hadisnya hasan, bukankah seharusnya shahih?

2. Istilah katsirul khata (banyak salah) menunjukan bahwa rawi itu radiul hifzi atau syyiul hifzhi (buruk hapalan), dan hadisnya dapat dikategorikan daif. mengapa dari penilaian katsirul khata dan radiul hifzi para ulama disimpulkan hadisnya hasan, bukankah seharusnya daif?

3. Perkataan Ibnu hajar “Shaduq lahu auham” disimpulkan oleh redaksi bahwa hal itu merupakan kesimpulan Ibnu Hajar dari perkataan para Ulama, baik yang menta’dil maupun menjarah. Padahal orang yang baru belajar ilmu jarh danta’dil pun tahu bahwa istilah lahu auham tidak sama dengan katsirul auham tidak sama dengan katsirul khata.

4. Redaksi berkesimpulan bahwa hadisnya minimal hasan, lalu berkata “Adapun cela pada hapalannya berpengaruh pada hadisnya jika ia sendirian dalam meriwayatkan. Sedangkan dalam riwayat Imam Mahdi ini dia tidak sendirian” (hal 6 kolom 1 alinea 4 baris 23-28 dari atas). Sedangkan di akhir kolom 1 itu redaksi menyatakan “Diantara dalil lain yang menunjukan keshahihan riwayat Ashim di atas adanya dua syahid..

Hemat kami argumentasi ini merupakan terburuk dari yang buruk, karena pernyataan itu menunjukan inkonsistensi redaksi dalam menilai seorang rawi. Bagaimana tidak? Di satu sisi menyatakan hasan. Lalu mengakui ada cela pada hapalannya namun karena ada mutaba’ah (penguat). Pada sisi yang lain menyatakan shahih karena ada syahid. Padahal orang yang baru belajar ulumul hadits pun tahu bahwa rawi dinilai hasan itu bukan karena ada atau tidak adanya mutabi’. demikian pula dinilai shahih itu bukan karena ada atau tidak adanya syahid. lagi pula hasan dan shahih itu tidak sama.

Dari berbagai tanggapan di atas kiranya cukup jelas bahwa dalam menanggapi hasil penelitian pihak lain itu diperlukan kerangka metodologi ilmiah dan keikhlasan mana (hati).

Majelis Muthala’ah Dewan Asatidzah Tahdzibul Washiyyah

About rendyadamf
assalamu'alaikum wrwb..salam kenal buat teman - teman semuanya..gw rendy TTL : Bandung, 30-06-84. gw kuliah di UNISBA. gw nulis blog ini hanya untuk curahkan semua pemikiran gw..dan gw udah ubah haluan jalan hidup gw..menjadikan jihad sebagai satu-satunya jalan hidup gw!!

2 Responses to Tanggapan Balik Atas Bantahan Keterangan Tidak Adanya Imam Mahdi

  1. deni says:

    Assalamu’alaykum, untuk tambahan pengetahuan dalam masalah datangnya imam mahdi silahkan baca juga :
    http://abiubaidah.com/kontroversi-kedatangan-imam-mahdi.html

  2. rendyadamf says:

    iya hemat kami tidak ada argument baru pada tulisan tersebut, silahkan baca dengan teliti ini tanggapan dari tulisan tersebut diatas lagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: