Hadis Dhoif sekitar Puasa Ramadhan

Pernah tidak kita dengar hadits dari ceramah-ceramah, baca dari buku-buku yang mengatakan bahwa bila kita mengamalkan suatu amalan sunnah akan dihitung sebagai amalan wajib pada bulan Ramadhan, bila kita memberi ta’jil kepada orang lain maka kita akan diberi pahala seperti orang yang kita beri tersebut, dan ramadhan pada  awalnya penuh rahmat, pertengahannya penuh maghfirah dan ahirnya pembebasan dari neraka. Tentunya kita senang dengan pernyataan yang dijanjikan itu, untuk lebih lengkapnya silahkan lihat hadits lengkapnya sebagai berikut:

1.

عَنْ سَلْمَانَ قَالَ خَطَبَنَا رَسُوْلُ الله فيِ آخِرِ يَوْمٍ مِنْ شَعْبَانَ فَقَالَ أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ أَظَلَّكُمْ شَهْرٌ عَظِيْمٌ شَهْرٌ مُبَارَكٌ شَهْرٌ فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ جَعَلَ اللهُ صِيَامَهُ فَرِيْضَةً وَقِيَامَ لَيْلِهِ تَطَوُّعًا مَنْ تَقَرَّبَ فِيْهِ بِخَصْلَةٍ مِنَ الْخَيْرِ كَانَ كَمَنْ أَدَّى فَرِيْضَةً فِيْمَا سِوَاهُ وَمَنْ أَدَّى فِيْهِ فَرِيْضَةً كَانَ كَمَنْ أَدَّى سَبْعِيْنَ فَرِيْضَةً فِيْمَا سِوَاهُ وَهُوَ شَهْرُ الصَّبْرِ وَالصَّبْرُ ثَوَابُهُ الْجَنَّةُ وَشَهْرُ الْمُوَاسَاةِ وَشَهْرٌ يَزْدَادُ فِيْهِ رِزْقُ الْمُؤْمِنِ مَنْ فَطَّرَ فِيْهِ صَائِمًا كَانَ مَغْفِرَةً لِذُنُوْبِهِ وَعِتْقَ رَقَبَتِهِ مِنَ النَّارِ وَكَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُنْتَقَصَ مِنْ أَجْرِهِ شَيْءٌ قَالُوْا لَيْسَ كُلُّنَا نَجِدُ مَا يُفْطِرُ الصَّائِمَ فَقَالَ يُعْطِي اللهُ هَذَا الثَّوَابَ مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا عَلَى تَمْرَةٍ أَوْ شُرْبَةِ مَاءٍ أَوْ مَذِقَةِ لَبَنٍ وَهُوَ شَهْرٌ أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ… – رواه بن خزيمة و البيهقي والهيثمي –


artinya: “Dari Salman, ia berkata, “Pada hari akhir bulan Sya’ban Rasulullah saw. mengkhutbah kepada kami. Beliau bersabda, ’Hai manusia! Telah menaungi kamu bulan yang agung, bulan yang penuh dengan berkah, bulan yang padanya ada satu malam lebih baik dari seribu bulan. Allah tetapkan shaum padanya sebagai satu kewajiban, dan salat pada malamnya sebagai tathawu (sunnat). Siapa yang mendekatkan (melaksanakan) sesuatu kebaikkan (sunnat), maka (pahalanya) seperti (pahala) bagi orang yang menunaikan kewajiban. Dan siapa yang menunaikan kewajiban, (pahalanya) seperti (pahala) yang menunaikan kewajiban sebanyak tujuh puluh kali. Bulan itu adalah bulan (penuh dengan) kesabaran dan bersabar itu pahalanya adalah surga. Bulan yang penuh dengan kebaikan, bulan yang akan bertambah rezeki seorang mukmin. Barang siapa memberi makan orang shaum pada bulan itu, maka hal itu merupakan magfirah bagi dosa-dosanya dan lehernya akan terlepas dari api neraka, dan baginya (orang yang memberi makan) akan mendapat pahala seperti pahala yang shaum tanpa terkurangi sedikitpun dari pahalanya itu. Para sahabat bertanya, ’Kami semua tidak mempunyai sesuatu untuk memberi makan yang shaum, beliau menjawab,’Allah akan memberi pahala seperti ini kepada orang yang memberi makan yang shaum walaupun hanya dengan sebiji kurma, atau seteguk air, atau sesuatu yang dicampur dengan susu. Dan bulan itu adalah bulan yang awalnya penuh rahmat, pertengahannya penuh maghfirah dan ahirnya pembebasan dari neraka…”

[H.r. Ibnu Khuzaimah, al-Baihaqi, dan Al-Haitsami]

2.
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَوَّلُ شَهْرِ رَمَضَانَ رَحْمَةٌ وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ. رواه ابن عدي و العقيلي و الديلمي

Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ’Awal bulan Ramadhan adalah rahmat, pertengahannya adalah magfirah, dan akhirnya adalah pembebasan dari neraka”. H.r. Ibnu Adi, Al-Uqaili, dan Ad-Dailami


Hadis Pertama

Hadis ini bersumber dari dua orang rawi yang dinyatakan daif, yaitu:

1. Ali bin Zaed bin Jud’an. Ia adalah Ali bin Zaed bin Abdullah bin Abu Mulaikah. Namanya Zuhair bin Abdullah bin Jud’an bin Amr bin Ka’ab bin Taim bin Murrah al Qurasyi at Taimi. Dia telah dinyatakan daif oleh para ahli hadis, antara lain: Abu bakar bin Khuzaimah mengatakan,’Aku tidak berhujjah dengannya karena ia buruk hafalan”. Tahdzibul Kamal XX: 434-445.

2. Yusuf bin Ziad an-Nahdi. Dia telah dinyatakan daif oleh para ahli hadis, antara lain: Al Bukhari dan Abu Hatim berkata,’Munkarul Hadits (hadisnya tidak halal diriwayatkan)”. Mizanul ‘Itidal, IV : 465.

Hadis kedua

Hadis ini bersumber dari dua orang rawi yang dinyatakan daif, yaitu:

1. Maslamah bin As Shlt.
Abu Hatim berkata, ’Matrukul Hadits”. Al Jarhu wat Ta’dil, VIII: 269; Ad Du’afau wal Matrukin III : 119.

2. Salam bin Sawwar.
Nama lengkapnya Salam bin Sulaiman bin Sawwar, Abul Abbas, as Tsaqafi, al Madain.
Menurut Abu Hatim,’Ia rawi yang tidak kuat”. Ibnu Adi berkata,’Munkarul Hadits”. Mizanul Itidal, II : 178.

Kesimpulan


Hadits yag dijadikan alasan hujjah bahwa kita mengamalkan suatu amalan sunnah akan dihitung sebagai amalan wajib pada bulan Ramadhan, bila kita memberi ta’jil kepada orang lain maka kita akan diberi pahala seperti orang yang kita beri tersebut, dan ramadhan pada  awalnya penuh rahmat, pertengahannya penuh maghfirah dan ahirnya pembebasan dari neraka itu adalah lemah/dhaif, tidak bisa dijadikan rujukan


About rendyadamf
assalamu'alaikum wrwb..salam kenal buat teman - teman semuanya..gw rendy TTL : Bandung, 30-06-84. gw kuliah di UNISBA. gw nulis blog ini hanya untuk curahkan semua pemikiran gw..dan gw udah ubah haluan jalan hidup gw..menjadikan jihad sebagai satu-satunya jalan hidup gw!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: