Bacaan Surat Pada Shalat Witir

Kontroversi bacaan surat dalam witir

Oleh : Ibnu Muchtar

Pada asalnya Qiraatus surah pada setiap rakaat dalam salat itu tidak ada ketentuan harus membaca surat tertentu dan dengan satu atau dua surat bahkan lebih. Melainkan silahkan membaca maa tayassara ma’aka minal quran (ayat Alquran yang kamu hapal).

Akan tetapi dalam beberapa riwayat diteranglan bahwa Nabi saw. Pernah diterangkan bahwa Nabi saw. Pernah melakukan salat witir sebanyak tiga rakaat dengan membaca bacaan tertentu, antara lain surat yang beliau baca adalah surat Sabbihis (al-a’la), Al-kafirun, dan al-ikhlas. Pada riwayat yang lain dengan ada tambahan surat Mu’awidzataen (al-falak dan surat an-Nas)pada rakaat ketiga.

Bertolak dari hadis ini maka para ulama berbeda pendapat menjadi tiga golongan tentang disyariatkan dan tidaknya membaca lebih dari satu surat pada rakaat akhir salat witir.

Pendapat pertama

 

Bacaan witir dalam rakaat ketiga itu disunatkan dengan tiga surat tertentu secara sekaligus. Pendapat seperti ini bersumberkan hadis-hadis sebagai berikut :

Hadis pertama melalui Aisyah

Dari Abdul Aziz bin juraej, ia mengatakan “aku bertanya kepada Aisyah Ummul Mukminin, dengan surat apa Rasulullah saw melakukan salat witir? Ia menjawab, “beliau membaca Sabbihisma Rabbikal a’la (al-A’la) padarakaat pertama, qul yaa ayuhal kafirun (al-Kafirun) pada rakaat kedua, dan qul huwallahu ahad (al-Ikhlas) juga mu’awidzaten (al-Falaq dan an-Nas). H.R Ahmad/musnad Imam Ahmad, VI:227, Abu Daud/Sunan Abu Daud, I:451, Ibnu Majah/Sunan Ibnu Majah, I:370, At-Tirmidzi/Sunan At-Tirmidzi, II:326, dan Ishaq bin Rahawaeh/Musnad Ishaq bin Rahawaeh, II:962

 

Selain itu pada jalur periwayatan yang selainnya masih melalui Aisyah diterangkan sebagai berikut :

Dari Amrah binti Abdurrahman, Dari Aisyah ia mengatakan “bahwasanya Rasulullah saw pernah membacaSabbihisma Rabbikal A’la dan Qul Ya Ayyuhal kafirun pada dua rakaat yang beliau witir aetelahnya. Beliau membaca Qul Huwallahu Ahad, Qul A’udzu bi Rabbil Falaq, dan Qul A’udzu bi Rabbin Nas pada witirnya (rakaat ketiga). H.R Ibnu Hibban/sahih Ibnu Hiban, VI:188, Al-Hakim/Al-Mustadrak, I:447 dan II:566, ad-Daruqutni, II:24, Al-Baehaqi/Syu’abul Iman. II:523 dan as-Sunanul Kubra, III:37, as-Sunanul sughra, I:469, Mawariduzh Zham’an I:175-176, Mizanul I’tidal, IV:361 dan Tarikhul Islam I:1269

 

Akan tetapi pada riwayat Al-Hakim terdapat jalur lain yang tidak melalui Yahya bin Ayub dengan redaksi matan yang sama.

 

Hadis kedua melalui Abu Huraerah :

Daru Abu Huraerah, dari Nabi saw, bahwasanya beliau pernah membaca Sabbihisma Rabbikal A’la pada rakaat pertama dari salat witir, Qul Ya Ayuhal kafirun pada rakaat kedua, dan Qulhuwallahu Ahad serta Mu’awidzataen pada rakaat ketiga. H.R Ath-Thabrani/Mu’jamul Ausath, VIII:349

 

Tanggapan

 

Pendapat di atas tidak bias diterima karena hadis-hadis yang menjadi dalilnya terdapat kedaifan

Pertama hadis Aisyah adalah daif berdasarkan dua alasan :

a.   Pada sanadnya terdapat rawi bernama Khushaef Al-Jazari

Khushaef bin Abdurrahman Al-Jazari Abu “aun adalah Shaduq (terpercaya), jelek hapalan, pikun pada masa tuanya, dan rumia bil irja. Taqribut Tahdzib, I:193

Abu Thalib berkata dari Ahmad bin Hanbal, “Ia daiful hadis” Utsman bin Sa’I Ad-Darimi berkata dari Yahya bin Main, “ia itu laesa bihi batsun” Abu Hatim mengatakan “ia itu salih, pikun, dan diperbincangkan tentang jelek hapalannya “Tahdzibul Kamal, VIII:258-259

b.   Pada sanadnya terdapat inqitha, yaitu antara Abdul Aziz bin Juraez menerima dari Aisyah.

Sedangkan Abdul Aziz itu adalah putranya Ibnu Juraez. Ia tidak pernah bertemu dengan Aisyah. Sebagaimana Ibnu Abu Hatim mengatakan “Ahmad berpendapat behwasanya Ia (Abdul Aziz tidak pernah beetemu dengan Aisyah” Al-Bukhari mengatakan “Hadisnya tidak boleh dijadikan muttabi’ Al-Barqani berkata dari Ad-Daruqutni “ia itu Majhul” Tahdzibul Kamal XVII:118.

Adapun pada jalan yang kedua terdapat rawi daif bernama Yahya bin Ayub. Nama lengkapnya adalah Yahya bin Ayub Al-Ghafiqi Abul “Abbas Al-Mishri.

Abdullah bin Ahmad bin Hanbal mengatakan, dari bapaknya “ia itu jelek hapalan dalam hadis, tetapi derajatnya di bawah Haewah dan sa’id bin Abu Ayub” Abdurrahman bin Abu Hatim berkata “bapaku pernah ditanya “mana yang lebih enkau sukai dari pada Yahya bin Ayub atau Ibnu Abu Mawal?’ Bapaku menjawab “Yahya bin Ayub lebih aku sukai (oleh karena itu) hadisnya dicatat dan tidak boleh dijadikan hujah” An-Nasai mengatakan “ia itu bukan rawi yang kuat” Tahdzibul Kamal, XXXI:236

Sedangkan riwayat Al-Hakim yang lainnya pun daif karena terdapat inqitha (terputus sanad) antara Abi Ismail Muhammad bin Ismail As-Sulami menerima dari Yahya bin Sa’id.

Di dalam biografi Abi Ismail tidak tercatat ia mempunyai guru bernama Yahya bin Sa’id (lihat Tahdzibul Kamal, XXIV:485)

Sedangkan pada biografi Yahya pun tidak tercatat ia mempunyai murid bernama Abu Ismail (lihat Tahdzibul Kamal, XXXI:343,346)

Kedua hadis abu Huraerah pun daif karena pada sandnya terdapat seorang rawi bernama Miqdam bin Daud.

Imam As-Saukani mengatakan, “dari Abu Huraerah riwayat At-Thabrani dengan terdapat tambahan Mu’awidzataen pada rakaat ketoga ini, pada sanadnya terdapat rawi bernama Al-Miqdam bin Daud, ia itu daif” Naelul Authar, III:42

Pendapat Kedua

 

Bacaan Nabi saw pada salat witir dengan tiga rakaat itu disunatkan dengan surat al-A’la pada rakaat pertama, al-Kafirun pada rakaat kedua, dan al-Ikhlas pada rakaat ketiga. Pendapat seperti ini berhujah dengan hadis-hadis berikut :

Pertama. Melalui Ubay bin Ka’ab

Dari Ubay bin Ka’ab ia mengatakan “Rasulullah saw pernah membaca pada salat witirnya Sabbihisma Rabbikal A’la (A’la), Qul Huwallahu Ahad (al-Ikhlas)”

 

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad/Musnad Imam Ahmad, V:123, Abu Daud/Sunan Abu Daud, I:451, An-Nasai/Sunan an-Nasai, III:235, Ibnu Majah/Sunan Ibnu Majah, I:370, dan Ibnu Hibban/Sahih Ibnu Hiban, VI:202.

Kedua, melalui Ibnu Abbas

Dari Ibnu Abbas ia berkata “Nabi saw pernah membaca pada salat witirnya Sabbihisma Rabbikal A’la(al-a’la), Qul yaa ayuhal kafirun (al-Kafirun), dan Qulhuwallahu Ahad (al-Ikhlas). Pada setiap satu rakaat (dengan satu surat)”

 

Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad/Musnad Imam Ahmad, I:299, At-Tarmidzi/Sunan At-Tarmidzi, II:325, An-Nasai/Sunan An-Nasai, III:236, Ibnu majah/ Sunan Ibnu Majah, I:370, At-Tabrani/ Al-Mu’jamul Kabir, XII:27

Ketiga, melalui Ibnu Mas’ud

Dari Abdullah (iIbnu Mas’ud). Ia mengatakan “bahwasanya Nabi saw pernah melakukan witir dengan surat Sabbihisma Rabbikal A’la (al-A’la), Qul yaa ayuhal kaafirun (al-Kafirun), dan Qul Huwallahu Ahad(al-Ikhlas).

 

Hadis ini diriwayatkan oleh Al Bazar/Musnad Al-Bazar, V:143

Serta masih banyak lagi jalur periwayatan lainnya yang semakna dengan hadis bagi pendapat kedua ini.

Tanggapan :

 

Adapun argumentasi kedua menurut penelitian kami hamper semua jalur periwayatan haids-hadisnya tidak lepas dari kedaifan. Adapun yang paling ringan kedaifannya riwayat Ubay bin ka’ab.

Andaikan hadis ini sahih, tetap bukan merupakan ta’yin (ketentuan) melainkan takhyir(pilihan)yaitu di antara surat-surat ayng pernah dibaca olah Nabi saw. Oleh karena itu maka kembali kepada dalil umum bahwa pada salat apa saja dan rakaat yang mana saja tidak terdapat ketentuan surat.

Pendapat Ketiga

 

Bacaan pada salat witir itu tidak ditntukan surat dan rakaatnyam dengan alasan bahwa secara umum, qiraatus surah dalam salat itu tidak ada ketentuan dengan surat tertentu, sebagaimana Nabi saw menyatakan

Abu Sa’id Al-khudri “nabi saw memerintah kami membaca Al-fatihah dan surat-surat yang mudah (hapal). H.R Amad

Setelah memperhatikan ketiga pendapat di atas kami menyatakan pada pendapat ketiga lebih dapat diterima dengan alasan bahwa surat yang dibaca dalam salat witir itu tidak ada ketetapan baik surat ataupun rakaatnya.

Kesimpulan :

 

Menentukan surat-surat tertentu pada salat witir tidak ada dalilnya apalagi menetukan pada rakaat ketiga dengan tiga surat.

Catatan:

Ada golongan yang tetap mengamalkan doa diatas pada solat witir dengan beralasan bahwa adanya keumuman hadits “bacalah menurut yang kamu hapal”

Kita jawab bahwa bukankah masih ada surat yang lain selain bacaan surat diatas, khawatir bahwa penentuan bacaan surat pada witir diatas itu dianggap sunnah.

About rendyadamf
assalamu'alaikum wrwb..salam kenal buat teman - teman semuanya..gw rendy TTL : Bandung, 30-06-84. gw kuliah di UNISBA. gw nulis blog ini hanya untuk curahkan semua pemikiran gw..dan gw udah ubah haluan jalan hidup gw..menjadikan jihad sebagai satu-satunya jalan hidup gw!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: