Bacaan Doa Qunut Pada Witir

 

Sungguh telah banyak yang pembahasan mengenai qunut ini, pada kesempatan ini ditengahkan tentang disyariatkan atau tidaknya bacaan qunut pada sholat witir. Terutama hal ini bila bulan Ramadhan, tentunya pengamalan qunut pada witir ini butuh dasar yang kuat untuk dijadikan dalil, kalau kenyataannya dalil itu lemah maka kita wajib meninggalkannya. Pembahasannya adalah sebagai berikut:

Sungguh telah banyak pembicaraan tentang kunut, antara lain kunut Nazilah, kunut hanya pada shalat Subuh, dan kunut pada salat witir. Pada kesempatan ini kami hanya membatasi pembahasan hanya tentang kunut pada salat witir. Hali ini kami anggap penting karena pada saat ini banyak pertanyaan-pertanyaan yang diajukan di sekitar itu, yang menurut hemat kami diperlukan pembahasan. Mudah-mudahan artikel ini dapat menjadi jawaban yang diperlukan.

Hadis Kunut pada salat witir

Sepanjang pengetahuan kami, hadis tentang kunut pada salat witir diriwayatkan dari beberapa orang sahabat; Al-Hasan bin Ali, Ibnu Mas’ud, Ubay bin Ka’ab, Abu baker, Usman, dan Ali bin Abi Thalib.
Hadis kunut pada salat witir dari sahabat Al-Hasan bin Ali diriwayatkan melalui beberapa jalan dengan redaksi yang berlainan.

A. Ditirwayatkan oleh At-Tarmidzi, Abu Daud, Al-Baghawi, At-Thabrani, dan Al-Hakim melalui rawi Abu Ishaq As-Sabi’im dari Buraid bin Abu Maryam, dari Abu al-Haura, sebagai berikut.
“bahwasanya Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wasallam qunut dalam shalat witir sebelum ruku’
(Lihat, Sunan At-Tarmidzi II:328, Sunan Abu Daud 329, Syarhus Sunnah III:172, Al-Mu’jamul Kabir, III:73 hadis no 2701, 2702,2703,2706,2707,2713.Al Mustadrak, III:173)

B. Diriwayatkan oleh An-Nasai (Sunan An-Nasai, III:275) melalui rawi-rawi yang sama dengan diatas, dengan lafal sebagai berikut.
Rasulullah saw pernah mengajariku beberapa kalimat (du’a) yang aku ucapkannya pada witir dalam qunut. “Allahumahdini fiman hadait..
Hadis diatas diriwayatkan pula oleh Imasm Ath-Thabrani dengan lafal (fii qunutil witri). (lihat Ibnu Majah II:49-50; Musnad lil imam ahmad I:200; Sunan AdDarimi, I:373; Al Mu’jamul Kabir, III:74 hadis No. 2705, 2712.

C. Diriwayatkan oleh Ibnu Abu Syaibah (Al-Mushannaf, II:207) melalui rawi Al-Hasan bin Umarah, dari Buraid bin Abu Maryam, dari Abu al-Haura.

E. Diriwayatkan oleh Abu Ya’la (Musnad Abu Ya’la, XII:12) melalui rawi Syu’bah dari Ibnu Abu Maryam.

F. Diriwayatkan oleh At-Thabrani (Al- Kabir, III:75 hadis no 2708) melalui rawi Al-Hasan bin Ubaidilah, dari Ibnu Maryam, dari Abu al-Haura.

G. Diriwayatkan oleh Al-Hakim (al-Mustadrak, III:172) melalui rawi Hisyam bin Urwah, dari Aisyah.

Sedangkan hadis Ibnu Maud diriwayatkan oleh Ad-Daruqutni (Sunan Ad-Daruqutni, II:31-32) melalui rawi Alqamah.
Demikian pula diriwayatkan melalui Suwaid bin Gaflah dari sahabat Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali (lihat, Sunan Ad-Daruqutni, II:22)

Hadis yang semakna diriwayatkan pula oleh Ibnu Majah (Sunan Ibnu Majah, II:5) melalui rawi Said bin Abdurrahman bin Abza, dari sahabat Ubay bin Ka’ab.
Berdasarkan riwayat-riwayat diatas, sebagian ulama menetapkan adanya kunut pada salat witir.
Jarah (kritikan) dari pada ulama

1. hadis Al-Hasan bi Ali (A&B) tidak dapat dipakai hujah, karena semua sanadnya melalui seorang rawi yang bernama Amr bin Abdullah bin Ubaid yang dikenal dengan sebutan Abu Ishaq As-Sabi’i. Ibnu Hajar berkata, “tsiqat muktsir” (banyak meriwayatkan hadis) ‘abid(ahli bi’ad), mukhtalith diakhir hayatnya (pikun)” (tahdzibul Kamal, XXII:113). Sebagai bukti bahwa ia rawi yang telah pikun dapat dilihat pada periwayatan Al-Baihaqi, yaitu ketika menyebutkan riwayat Al-Hasan atau Al-Husen. Asy-Syaukani berkata, “barangkali ia telah buruk hafalannya tentang hal itu, sehingga lupa apakah Al-Hasan atau Al-Husen. Nailul Authar, III:52.

2. Hadis Al-hasan (D) juga tidak dapat dipakai hujah karena pada sandnya terdapat sorang rawi bernama Al-Hasan bin Umarah, Abu Hatim, muslim, An-Nasai, dan Ad-Daruqutni mengatakan “dia matrukul hadis” (hadis-hadisnya ditinggalkan) (Tahdzibul Kamal, VI:271)

3. Hadis Ibnu Mas’ud (No.2) yang melalui rawi Alqamah tidak dapat dipakai hujah karena pada sanadnya terapat seorang rawi yang bernama Aban bin Abu Ayasy. Abu hatim berkata “Matrukul Hadis” (Tahdzibul Kamal, II:19).

4. Hadis Abu Bakar, Umar, Usman, dn Ali riwayat Ad-Daruqutni juga tidak dapat dipakai sebagai hujah, karena pada sanadnya terdapat seorang rawi bernama Amr bin Syamr. Al-Bukhari berkata “munkaruk hdis” (Hadis-hadisnya diingkari) (Sunan Ad-Daruqutni, II:32).

5. Hadis Ubay bin Ka’ab riwayat Ibnu Majah tidak dapat dipakai sebagai hujah, karena pada sanadnya terdapat rawi bernama Fithr bin Kalifah. Imam Ahmad berkata “dia syiah ghulath” (syiah ekstrem) (tahdzibul Kamal, XXIII:314).

Berdasarkan keterangan-keterangan di atas, maka kunut pada salat witir tidak disyariatkan.. Keterangan-keterangan di atas menunjukan bahwa hadis-hadis tentang kunut pada salat witir daif. Insya Allah pembahasannya akan kami lanjutkan pada sesi selanjutnya.

Kunut pada salat witir (bagian 2)

Pada sesi yang lalu telah kami kemukakan alasan para ulama yang mendaifkan hadis-hadis tentang kunut pada salat witir. Sehubungan denganitu, perlu kami kemukakan pula tanggapan para ulama yang mensahihkan hadis-hadis tersebut.

Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqhus Sunnah I:165, berpendapat bahwa kunut pada witir itu disyariatkan sepanjang tahun, berdasarkan hadis riwayat Ahmad ahlus sunan, dan lain-lain, dari sahabat al-hasan bin ali, ia mengatakan :
Rasulullah mengajarkan kepadaku beberapa kalimat yang aku ucapkan dalam witir : Artinya) “ya Allah! Pimpinlah aku ke dalam golongan mereka yang telah Engkau pimpin. Dan peliharalah didalam golongan Engkau yang Engkau pelihara. Dan jadikan aku di dalam golongan mereka yang telah Engkau beri kekuasaan. Dan berikanlah berkah kepadakau di dalam apa yang telah Engkau beri, Dan selamatkan aku dari kejahatan yang telah Engkau tentukan. Karena sesungguhnya Engkaulah penghukum dan Engkau tidak dapat dihukum. Dan sesungguhnyatidak akan hina orang yang Engkau tolong. Dan tidak akan jadi mulia orang yang Engkau musuhi. Maha mulia Engkau, hai Tuhan kami! Dan maha tinggi!”

Imam At-Tarmidzi berkata “hadis ini hasan, kami hanya mengetahuinya dari jalan ini, yakni hadis Abul Haura as-Sa’di, dan namanya Rabi’ah bin Syaiban, dan kami tidak mengetahui sedikit pun hadis dari Nabi tentang kunut yang lebih baik dari ini” Tuhfatul Ahwadzi, II:563-564. Al- Mughni wasy syahrul, Kabir I:831
Imam An-Nawawi berkata, “sanadnya sahih, dan Ibnu Hazm tawaquf (tidak memberi keputusan) dalam kesahihannya. Hadis ini walaupun tidak bias dipakai hujah, kami tidak mendapatkan hadis lainnya dari Nabi saw tentang hal ini, dan hadis daif lebih kami sukai daripada pikiran, sebagaimana pikiran, sebagaimana dikatakan oleh Imam Ahmad, dan ini adalah pendapat Ibnu Mas’ud, Abu Musa, Ibnu Abas, al-Bara, Anas, al-Hasan al Bisri, Umar bin Abdul Aziz, ats0tsauri, Abnul Mubarak, Abu Hanifah, dan satu riwayat dari Ahmad “An-Nawawi berkata “Aspek ini menguatkan dalil itu” Fiqhus sunnah, I:165

Syekh Manshur Ali Nashief menyatakan bahwa hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Hiban, Al-Hakim dengan sanad yang Hasan. At-taj al-Jami’ lil Ushul, I:200

Di dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Al-Hakim, Al-Hasan bin Ali Menyatakan :
Az-Zaila’I berkata “penyusun kitab (Al-Hakim) berkesimpulan dengan hadis ini )pada kitab al-fadhail) dan ia tidak membatasi wajibnya kunut pada witir sepanjang tahun, yaitu kata-kata (dalam sabda Nabi) “jadikanlah (kunut)pada witirmu” Nashbur Rayah, III:126

Pada riwayat lain disebutkan :

Dari Abdullah dari Nabi saw bahwa Nabi saw kunut pada witir sebelum ruku” H.R Abdurrazaq, Al-Mushannaf, III:120

Pensyariatan kunut pada witir ditegaskan oleh fatwa dan amaliah sahabat sebagai berikut :

1. Ibnu Sirin berkata “Kunut wajib pada witir.” H.R Ad-Dailami, Firdausul Akbar, III:287

2. Alqamah berkata: “Ibnu Mas’ud dan para sahabat lainnya kunut pada witir sebelum ruku”. H.R Ibnu Abu

Syaibah, Al-Mushanaf, II:207

Syekh Nashruddin Al-Albani berkata “Sanadnya cukup baik, dan hadis ini sesuai dengan syarat muslim”. Irwaul Ghalil, II:166.

3. Al-Aswad berkata “Ibnu Mas’ud hanya kunut pada witir sebelum ruku”. H.R At-Tabrani, Al-Mu’jamul Kabir, XXXIV:2 Nashbur Rayah, III:126

Syekh Nashrudin Al-Albani berkata “sanadnya sahih” Irwaul Ghalil II:166. Dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah, Al-Aswad berkata “Sesungguhnya Ibnu Umar kunut pada witir sebelum ruku”. Al-Mushannaf, II:201.

4, Dari Ibnu Sirin berkata “sesungguhnya Ubay bin Ka’ab kunut pada witir setelah ruku”. H.R Abdurrazaq, Al-Mushannaf, III:120.

5. Dari Abu Abdurrahman berkata “Bahwa Ali kunut pada witir setelah ruku”. Al-Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, II:201.

Demikian pula dengan fatwa dan amaliah tabi’in serta tabiut tabi’in seperti Ibrahim An Nakha’I berkata “Tidak ada witir tanpa kunut”. H.R Ibnu Abi Syaibah, Al-Mushannaf, II:207

Dalam riwayat Abdurrazaq dengan lafal “Kunut pada witir itu pada semua tahun sebelum ruku” Al-Mushannaf, II:120.

Abdurrazaq meriwayatkan melalui rawi Hisyam “Sesungguhnya Al-Hasan dan Ibnu Sirin melaksanakan kunut pada witir sebelum ruku”. Al-Mushanaf, III:120.

Berdasarkan keterangan-keterangan di atas, sebagian ulama berpendapat bahwa hadis-hadis tentang kunut pada witir itu sahih dan kedudukannya sunat. Tanggapan terhadap pendapat ini Insya Allah akan kami kemukakan pada pembahasan selanjutnya.

Kunut Pada Salat witir (bagian akhir)
Setelah memperhatikan argumentasidari kedua belah pihak, baik yang mendaifkan hadis-hadis tentang kunut pada witir walaupun yang mensahihkan, maka kami berpendapat alasan pihak yang mendaifkan hadis-hadis tersebut lebih rajih(kuat). Hal ini dapat dilihat dari tiga aspek :

Pertama, kaidah Al-jarh wat ta’dil
“Al-jarh (pencelaan) didahulukan daripada ta’dil (pernyatan adalat) apabila sebabnya dijelaskan.”
Berdasarkan kaidah ini, maka yang mesti diterima itu adalah penilaian daif dari para ulama, karena sebab-sebab daifnya dijelaskan

Kedua, Aspek sanad
Berlandaskan pendapat Imam At-Tarmidzi dan An-Nawawi, maka dalil yang menjadi sandaran pokok disyariatkannya kunut pada witir adalah hadis Al-Hasan bin Ali.
Dilihat dari segi, hadis ini daif dengan alasan sebagai berikut :

A. Riwayat At-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi, II:328; Abu Daud, Sunan Abu Daud I:329; Al-Baghawi, Syarhus Sunnah III:172; At-Thabrani, Al- Mu’jamul Kabir III:73, hadis No 2702,2703,2706, 2707, 2713, III:74 hadis No. 2705, 2712; Al-Hakim, Al-Mustadrak, III:173; Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, II:49-50; Imam Ahmad, Al-Musnad, III:1719, hadis No. 1718,1721,1735; Abu Ya’la Musnad Abu Ya’la, XII:127-136; Al-Baihaqi, As-Sunanul Kubra, II:209-210; Ibnu Abi Syaibah, Al-Mushannaf, II:200; Al-Bazzar, Musnad Al-Bazzar, IV:176-177lA-Darimi, Sunan Ad-Darimi, III:373; Al-Baghawi, Syarhus sunnH, III:128; Abu Nuaim, Hilyatul Auliya IX:321; Ibnu Khuzaimah, II:151-152; Abdurrazaq, Al-Mushannaf, III:18; Ibnu Abi Asmhim, As-Sunnah libni Abi AshimI:164-165, dan Hibatullah bin Al-Hasan, I’tikad Al-Maktabah al-Alfiyah lissunatin Nabawiyah, Ver. 1.5 th. 1999, Turath, semuanya melalui rawi bernama Amr bin Abdullah bin Ubaid yang dikenal dengan sebutan Abu Ishaq as-Sabi’i. SDia meriwayatkan dari buraid atau yazid bin Abu Maryam dengan menggunakan siyagul ada (bentuk periwayatan) ‘ana. Sedangkan Abu Ishaq rawi mudallis (suka menyamarkan rawi) Ibnu Khuzaimah berkata “dan Abi Ishaq tidak diketahui apakah mendengan khabar ini dari Buraid atau menyamarkannya” Abu Ishaq yudallisu (menyamarkan rawi)” siyaru a’lamin nubala, V:398.

B. Haids Al-hasan bin Ali riwayat Ibnul jarud, Al-Muntaqa : 78; Ahmad, Al-Musnad, III:1719, hadis no. 1718;Ibnu Khuzaimah, sahih Ibnu Khuzaimah, II:151, semuanya melalui rawi bernama Yunus bin Abu Ishaq
Abu Hatim berkata “hadisnya tidak bisa dijadikan hujah”. Ibnu Hazm mengatakan “yahya al-Qathan dan Ahmad binHanbal sengat mendaifkannya” Al-Mughni fid Duafa II:766.
Imam Ahmad berkata “hadisnya Mudhtarib (tidak menentu)”. Ibnu Hajar berkata, “shaduq, sedikit waham (ragu-ragu0” Tahdzibul Kamal, XXXII:492-493

C. Hadis Al-Hasan bin Ali yang diriwayatkan melalui Syu’bah bin Al-Hajjaj mudhtarib (sanadnya tidak menentu), yaitu ada dua rawi dengan beberapa nama dan tidak bisa ditentukan mana yang sebenarnya :

1. Pada riwayat Ahmad dan Ibnu Khuzaimah disebutkan Syu’bah menerima dari Buraid bin Abu Maryam, dan dari Abul haura As-Sa’di (lihat Al-Musnad, III:1224, hadis No. 1723, sahih Ibnu Khuzaimah, II:152)

2. Pada riwayat Ad-Darimi disebutkan Syu’bah menerima dari Yazid bin Abu Maryam dari Abu al-Jauza As-Sa’di (lihat Sunan Ad-Darimi, I:373)

3. Pada riwayat Abu Daud At-Thayalisi disebutkan Syu’bah menerima dari Yazid bin Abu Maryam, dari Abul Haura As-Sa’di (lihat Musnad Abu Daud At-Tayalisi :163, hadis no.1179).

4. Pada riwayat Abu Ya’la disebutkan Syu’bah menerima dari Ibnu Abu Maryam, tanpa menyebut Buraid atau Yazid, dari As-Sa’di tanpa menyebut Abul Haura atau Abul Jauza (lihat Musbad Abu Ya’la, XXII:27)
Ibnu Rajab kitab Jami’ul ulum wal Hikum, I:109 berkata, “hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad, At-Tarmidzi, An-Nasai, Ibnu Hiban dalam sahihnya, dan Al-hakim dari hadis Yazid bin Abu Maryam, dari Abul Jauza, dari Al-Hasan bin Ali, dan dinyatakan sahih oleh Imam At-Tarmidzi. Mayoritas ulama menyebutkan bahwa Abul Jauza namanya Rabi’ah bin Syaiban. “Pada kitab Al-Kuna walAsma karya Imam Muslim, I:273 disebutkan “Rabi’ah bin Syaiban kunyahnya Abul Haura, ia mendengar dari Al-Hasan bin Ali, dan diriwayatkan daripadanya oleh Yazid bin Abu Maryam dab Tsabit bin Amarah”. Pada kitab Al-Kuna karya Adz-Dzahabi, I:206 disebutkan “Rabi’ah bin Syaiban kunyahnya Abil Haura, diriwayatkan ddaripadanya oleh Buraid bin Abu Maryam dan Tsabit bin Amarah”. Pada kitab Masyahir Ulamail Amshar karya Ibnu Hibban : (% disebutkan “Rabi’ah bin Syaiban kunyahnya Abul Haura. Ia orang saleh dari Basrah. Ia hanya memiliki seorang rawi yang tsiqat (dipercaya) yaitu Yazid bin Abu Maryam”. Sedangkan pada kitab karya Ibnu Hibban lainnya, yaitu Ats-Tsiqat, IV:229 disebutkan “Rabi’ah bin Syaiban kunyahnya Abu Haura, ia mendengar dari Al-hasan bin Ali, dan diriwayatkan daripadanya oleh Yazid bin Abu Maryam”. Lihat, CD hadis Al-Maktabah Al-Afiyah lissunati Nabawiyyah, ver. 1.5, th 1999, Turath.

D. Hadis Al-Hasan bin Ali diriwayatkan pula melalui Hisyam bin Urwah, dari Urwah, dari Aisyah (Al-Mustadrak, III:172 dan As-Sunnah libni Abi Ashim, I:165/CD hadis Al-Maktabah Al-Alfiyah lissunatin Nabawiyah, ver. 1.5, Th. 1999, Turath), namun hadis ini pun daif, karena pada sanad Ibnu Abi Ashim terdapat seorang rawi bernama Abdullah bin Syabib, Abi Ahmad Al-Hakim berkata “Dzahibul Hadits” Thabaqatul Huffaz:275. Sedangkan pada sanad Al-Hakim terdapat seorang rawi bernama Abdurrahman bin Abdul Malik bin Syaibah. Ibnu Hajar berkata “shaduq, suka keliru” Taqribut Tahdzib:345/Tahqiq Tahdzibul kamal, XVII:262

E. Hadis-hadis yang menjadi syahid (penguat) bagi hadis Al-Hasan bin Ali, semuanya daif dengan alasan sebagai berikut :

1. Pada hadis Ibnu Abbas dan Muhammad bin Ali riwayat Al-Baihaqi, As-Sunanul Kubra, II:310 tertulis Ibnu Juraij, dari Abdurrahman bin Hurmuz Al-A’raj, dari Buraid bin Abu Maryam, Dari Ibnu Abbas. Abdurrahman yang meriwayatkan dari Yazid bin Abu Maryam, dari Ibnu Abba situ bukan bin Hurmuz Al-A’raj, tetapi Abdurrahman Al-Makki. karena Al-A’raj tidak menerima dari Buraid atau Yazid bin Abu Maryam. Sedangkan Abdurrahman Al-Makki rawi yang majhul (tidak dikenal) Lihat Tahdzibut Tahdzib, VI:261.

2. Pada hadis Ibnu Mas’ud riwayat Ad-Dharuqutni , Sunan Ad-Daraquthni II:31-32 terdapat rawi bernama Aban bin Abu Ayasy. Abu Hatim berkata, “Matrukul Hadits” Tahzibul kamal, II:19

3. Hadis Abu Bakarm Umar, Usman, dan Ali riwayat Ad-Daraqutni juga tidak bias dipakai sebagai hujah, karena pada sanadnya terdapat seorang rawi bernama Amr bin Syamr. Al-Bukhari berkata, “Munkarul Hadits” (hadis-hadisnya diingkari). Sunan Ad-Daruqutni, II:32

4. Hadis Ubay bin Ka’ab riwayat Ibnu Majah tidak dapat dipakai sebagai hujah, karena pada sanadnya terdapat seorang rawi bernama Fithr bin Khalifah. Imam Ahmad berkata “Dia Syiah Gulath”. (Syiah Ekstrem) Yahdziut Tahdzib, XXIII:314

Ketiga, Aspek matan.
Dilihat dari aspek matan, hadis-hadis pada kunut tidak jelas;
Dilihat dari segi waktu, menurut sebagian riwayat kunut ini dilaksanakan pada setiap waktu. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh sahabat Ibnu Mas’ud, Umar, dan Ali. Kemudian menurut riwayat lainnya kunut hanya dilaksanakan pada setengah akhir dari bulan Ramadhan. Hal ini sebagaimana dilakukan Ubay bin Ka’ab. Sedangkan menurut riwayat lainnya kunut hanya dilaksanakan pada setengah awal dari bulan Ramadhan. Hal ini sebagaimana dilakukan Al-Hasan bin Ali.

Dengan memperhatikan ketiga aspek tersebut diatas, tidak berlebihan kiranya kami menarik kesimpulan bahwa :

1. Hadis-hadis tentang kunut pada witir ini berada pada posisi yang lemah, sehingga tidak dapat dijadikan hujah.

2. Melaksanakan kunut pada dalat witir tidak dicontohkan oleh Rasulullah. Wallahu A’lam.

 

About rendyadamf
assalamu'alaikum wrwb..salam kenal buat teman - teman semuanya..gw rendy TTL : Bandung, 30-06-84. gw kuliah di UNISBA. gw nulis blog ini hanya untuk curahkan semua pemikiran gw..dan gw udah ubah haluan jalan hidup gw..menjadikan jihad sebagai satu-satunya jalan hidup gw!!

One Response to Bacaan Doa Qunut Pada Witir

  1. Pingback: Hukum Qunut Khusus Shalat Shubuh « cahaya di atas cahaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: