Wanted : Justice

Wanted for Justice

Wanted for Justice

Banyak suara menginginkan Israel diajukan ke Mahkamah Internasional Kejahatan Perang. Sekjen PBB Ban Ki-moon pernah mengutarakan rencana itu. Demikian pula puluhan pengacara di beberapa negara. Termasuk para pegiat HAM dan perdamaian di Israel. Tuduhan utamanya, dalam serangan 22 hari ke Gaza itu, Israel telah melakukan genosida. Pembersihan etnis. Tuduhan lainnya, menggunakan amunisi yang mengandung fosfor putih yang terlarang, korban kebanyakan anak-anak, perempuan, dan orang tua yang tak terlibat perang. Kemudian, merusak bangunan pribadi dan fasilitas umum, termasuk rumah sakit, gedung milik PBB, ambulans berisi pasien, dokter, dan wartawan.

Berkat kepiawaian Israel membentuk opini, begitu serangan ke Gaza terhenti, para kepala negara AS, Inggris, Prancis, dan Jerman sepakat memulihkan situasi dan kondisi Timur Tengah dengan mencegah Hamas mengonsolidasikan kekuatan bersenjatanya. Prancis dan Jerman mengirim kapal perang untuk mencegah penyelundupan senjata di perbatasan Rafah. Presiden AS Barack Hussein Obama menyatakan tetap akan melindungi Israel sekuat tenaga. Kata Obama, Hamas telah ribuan kali menembakkan roket yang membunuh warga Israel sehingga Israel patut mempertahankan diri. Soal korban 1.400 jiwa melayang dan 5.000 luka-luka di kalangan warga Gaza Palestina, Obama sama sekali tidak memperhatikan. Presiden terbaru AS itu hanya peduli terhadap 10 tentara Israel dan 3 warga sipil yang tewas oleh Palestina.

Tak satu pun yang punya komitmen untuk melucuti persenjataan Israel atau memboikot dan mengasingkan negara Zionis itu dari pergaulan internasional.

Oleh karena itu, mengadili kejahatan perang Israel amat mustahil saat ini. Mengadili seorang tokoh Israel saja, Ariel Sharon, yang bertanggung jawab atas pembunuhan 3.200 warga Palestina di kamp pengungsi Sabra dan Shatila, Lebanon, Maret 1982, tak pernah kesampaian. Sebaliknya, karier dan reputasi Sharon malah melonjak. Dari posisi menteri pertahanan waktu pembantaian Sabra dan Shatila, menjadi perdana menteri Israel (2001-2005).

Pada masa lalu, tokoh-tokoh yang mencoba mengungkap kejahatan teror Israel terhadap warga sipil Arab, selalu berujung pada kematian. Dalam buku Zionist Terrorism, Targeting The UN and The International Resolution karya Arafat Hijazi (1987), diungkapkan berbagai peristiwa pembunuhan terhadap para tokoh PBB yang mencoba mengungkap kejahatan perang Israel di Palestina.

Pertama-tama, Count Folke Bernadotte, utusan PBB untuk meneliti kejahatan perang Israel, baik sebelum, selama, maupun sesudah perang 1948. Bernadotte tewas diberondong senapan para teroris Stern Gang, 17 September 1948, di salah satu jalan di Kota Jerusalem. Bernadotte telah menemukan fakta dan bukti lapangan mengenai pembantaian di Desa Deir Yassin oleh kelompok Irgun dengan korban 2.800 warga sipil Arab. Kasus pembunuhan Bernadotte sulit diungkap.

Namun, Agustus 1986, seorang warga Israel, Yahosha Cohen (62) mengakui secara terbuka di media massa bahwa ia merupakan salah seorang di antara pelaku pembunuhan Bernadotte, atas perintah PM Israel Ben Gurion. Pengakuan itu tidak ditindaklanjuti sama sekali. Kematian Bernadotte tertutup rapat seiring meningkatnya kekuasaan dan kekuatan Israel.

Juga kematian Sekjen PBB, Dag Hammerskjold, dalam kecelakaan pesawat di Rhodesia, Afrika Tengah, 23 September 1961. Hammerskjold yang menjadi Sekjen PBB mulai tahun 1953, dianggap terlalu pro-Arab. Ia sering turun langsung ke Palestina, pernah mengajak PM India, Jawaharlal Nehru, ke Jalur Gaza, melayat korban-korban kejahatan teroris Zionis.

Hammerskjold sangat bersemangat mempelajari laporan tentang serangan pasukan komando Israel ke Desa Tawfiq, di perbatasan Israel-Suriah, Juni 1957. Ratusan penduduk desa itu terbunuh. Kasus ini memicu suhu politik dan militer di Timur Tengah. Sekjen PBB segera turun tangan untuk mendinginkan suasana. Opini dunia internasional menuding Israel memprovokasi Suriah.

Akan tetapi, belum tuntas masalahnya, Hammerskjold telah tewas lebih dahulu. Berbagai kalangan menduga, pesawat yang ditumpangi Sekjen PBB itu sengaja diledakkan oleh agen-agen intelijen Israel, Mossad.

Sejak saat itu, tak ada lagi Sekjen PBB yang netral. Apalagi berani menekan Israel.

Oleh karena itu, mengadili Israel di Mahkamah Internasional Kejahatan Perang, saat ini mungkin masih wacana mentah. Dan tak akan pernah matang. Pasalnya, para penggagasnya bisa tak berkutik di tengah jalan, baik karena tewas misterius seperti yang sudah-sudah atau tak menemukan kemajuan dalam penyelidikan. Kekuatan dan kekuasaan Israel tampaknya kini berada di atas PBB dan negara-negara adidaya dunia. (H. Usep Romli H.M.)***

author : pikiran-rakyat.com

About rendyadamf
assalamu'alaikum wrwb..salam kenal buat teman - teman semuanya..gw rendy TTL : Bandung, 30-06-84. gw kuliah di UNISBA. gw nulis blog ini hanya untuk curahkan semua pemikiran gw..dan gw udah ubah haluan jalan hidup gw..menjadikan jihad sebagai satu-satunya jalan hidup gw!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: