22. Berdiri untuk rakaat kedua

Syahadat

Syahadat

Qiyam rakaat kedua

Setelah edisi sebelumnya dengan panjang lebar diterangkan tentang 1. Jalsatul istiharah 2. Al-I’timad ‘alal ard (bertekan kebumi untuk memudahkan ketika berdiri), serta 3. berdiri di atas tumit seraya menekankan kedua tangan pada paha untuk keperluan bangkit dari rakaat pertama menuju ke rakaat kedua. Dari seluruh dalil-dalil, keterangan para ulama serta ulasan-ulasannya menghasilkan keputusan bahwasanya baik jalsatul istiharah maupun ali’timad ‘alal ard bukan dari syariat salat melainkan merupakan amaliyah yang dibolehkan bagi yang sudah memerlukan disebabkan uzur, baik karena badan yang berat, ketuaan atau uzur lainnya. Adapun syariat salatnya adalah dengan menekankan kedua tangandi atas kedua paha.

Pada kesempatan ini akan dijelaskan mengenai beberapa masalah yang muncul di sekitar awal qiyam (berdiri) pada rakaat kedua. Antara lain : Adakah saktah (diam) pada awal rakaat kedua? Apakah doa iftitah dibaca lagi? dan apakah ta’awudz di baca lagi?

Ada yang berpendapat bahwa ketika bangkit dari rakaat pertama dan telah benar-benar berdiri, pada waktu itu ada saktah (diam) sebentar sebagaimana pada rakaat pertama, Pendapat seperti di atas antara lain berdasarkan hadis sebagai berikut :

dari Abu Hurairah ia berkata Rasulullah saw itu apabila setelah bertakbir (ihram) untuk salat ia berdiam sejenak sebelum membaca Al-fathihah . Maka saya bertanya “Wahai Rasulullah saw derangan tentang diamnya tuan antara takbir dan al-fathihah, dan apa gerangan yang dibaca? ia menjawab ‘saya mengucapkan doa “Allahumma baa’id bayni wa bayna khathaa yaa ya kamaa baa ‘adta baynal masyriqi wal maghribi allahummanaqqinii min khathaa yaa ya kamaa yunaqqattawbal abyadu minaddanasi allahummaghsilnii man khathaa yaa ya bitstsalji wal maai walbarad” Ya Allah Tuhan kami, jauhkanlah antara ku dan kesalahanku sebagaimana telah Engkau jauhkan antara timur dan Barat (tidak terulang), Ya Allah bersihkanlah aku dari dosaku sebagaimana telah dibersihkannya baju putih dari noda. Ya Allah Cucilah aku dari dosa-dosaku dengan salju, air, dan embun” H.R Al-Jamah kecuali At-Tirmidzi

Pada hadis ini oleh Abu Huraerah diterangkan dengan kata-kata :

Rasulullah saw itu apabila setelah bertakbir pada salaat ia berdiam sejenak sebelum membaca alfatihah

Dan ketika ditanyakan oleh Abu Hurairah tentang diamnya beliau setelah takbir, beliau menjawab “ saya mengucapkan doa “ Ya Allah Tuhan Kmi, jauhkanlah antaraku dan kesalahan-kesalahnku sebagaimana telah Engkau jauhkan antara timur dan barat (tidak terulang), Ya Allah Bersihkanlah aku dari dosaku sebagaimana telah dibersihkan baju putih dari noda. Ya Allah cucilah aku dari dosa-dosaku dengan salju, air dan embun

Pada hadis ini lafadz takbir disebut dengan umum dan tidak disebut takbir rakaat tertentu atau takbiratul ihram saja. dengan demikian (saktah) itu ada pada rakaat kedua sebagaimana pada rakaat pertama. Hanya saja bedanya adalah ketika takbir mulai rakaat kedua antara lai untuk memberikan kesempatan kepada makmum agar membaca alfatihah, supaya ketika imam membaca (alfatihah dengan surat) lainnya dan bacaannya terdengar oleh makmum, makmum dapat benar-benar melaksanakan fastami’u lahu wa anshitu (simaklah dengan sungguh-sungguh dan diamlah).

Selain itu apabila menggunakan ayat ;

#sŒÎ*sù |Nù&ts% tb#uäöà)ø9$# õ‹ÏètGó™$$sù «!$$Î/ z`ÏB Ç`»sÜø‹¤±9$# ÉOŠÅ_§9$# ÇÒÑÈ

98. Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.

Maka jelas sekali padarakaat kedua ini dibaca alfatihah dan surat, dengan demikian, Taawudz pun dibaca sebagaimana pada rakaat kedua. Dan Imam Asy-Syaukani sendiri menerangkan Dan hadis ini menunjukan disyariatkannya dia antara takbir dan qiraah (bacaan fatihah). Nailul Athar, II:27

Ulasan dan jawaban

Benar hadis yang diterangkan oleh Abu Hurairah menerangkan adanya saktah (diam) antara takbir dan qiraah (bacaan al fatihah), tetapi takbir tersebut maksudnya adalah takbir pertama atau takbiratul ihram. Berdasarkan hadis sebegai berikut :

Dari Abu Said al Khudri dari Nabi saw bahwasanya beliau apabila berdiri salat melam (bada takbiratul ihram) beriftitah (subhanaka allaumma..) dan menguapkan audzubillah..aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar Maha Mengetahui dari syetan yang terkutuk dari godaannya, bisikannya dan reayuannya H.R Ahmad dan At-Tirmidzi

Selanjutnya riwayat Ad-daruqutni, tentang amaliyah Umar bin Khatab

Al-Aswad mengatakan saya melihat Umar bin Khatab ketika (melakukan iftitah) memulai salat, ia membaca subhaanaka Allahumma wa bihamdika wa tabaarakasmuka wa taala jadduka wa laa ilaaha ghayruka kemudian beliau bertaawudz

Dengan keterangan-keterangan ini jelas sekali bahwa membaca taawudz dan membaca doa iftitah itu hanya setelah takbiratul ihram, dan maksud ayat diatas adalah sesuai dengan hadis ini. Yaitu apabila kamu hendak membaca alfatihah pada rakaat pertama setelah takbiratul ihram petama setelah takbiratul ihram hendaklah bertaawudz

Adapun tentang adanya saktah iamm untuk memberikan kesempatan kepada makmum untuk membaca alfatihah, jelas sekali merupakan alaan yang sangat mengada-ada, karena kalaupun dikatakan ada saktah lain selain saktah bada takbiratul ihram ini makdsudnya saktah setelah membaca alfatihah dan amin. Hal ini di antara lain dikatakan oleh Al-Khathabi sebagai berikut :

Hanyalah imam melakukan saktah (diam tanpa bacaan) pada dua (setelah takbiratul ihram dan setelah alfatihah agar makmum dapat membaca alfatihah karena itu janganlah bacaan imam dilawan dengan bacaan makmum.

Al-Yamari memberi ulasan terhadap pendapat Al-Khattabi ini sebagai berikut :

Keterangan al-khattabi ini mengenai saktah (imam) setelah alfatihah. Nailul Authar, II:264

Keterangan kedua ulama ini antara lain berdasarkan hadis-hadis sebagai berikut :

dari Al-Hasan dari Samurah (bin Jundab) dari Nabi saw bahwasanya beliau mempunyai dua saktah (diam tanpa bacaan) yaitu saktah ketika memulai salat (setelah takbiratul ihram) dan saktah apabila selesai membaca alfatihah.

Dan hadis lainnya masih dari hassan dari Samurah dengan lafadz :

satu saktah setelah takburatul ihram dan satu saktah lagi setelah membaca ghairil maghdubi alaihim waladh dhalin

Kedua hadis nii diriwayatkan oleh Abu Daud, Ahmad bin Hanbal dan serta At-Tirmidzi meriwayatkannya dengan makna yang sama tetapi sedikit berbeda lafadz

Imam Nawawi menerangkan dari kawan-kawan Asy-Syafii

(Imam) melakukan saktah kira-kira selama makmum membaca al-fatihah

Ulasan

Pendapat ini meskipun bedasarkan beberapa hadis tetap tidak dapat diterima karena berdasarkan hadis-hadis dengan sanad yang mursal tabiI karena melalui sanad Al-Hasan Al Bisri dari Samurah bin Jundab. Para ulama menerangkan bahwa Al-Hasan tidak menerima hadis apapun dari Samurah.

About rendyadamf
assalamu'alaikum wrwb..salam kenal buat teman - teman semuanya..gw rendy TTL : Bandung, 30-06-84. gw kuliah di UNISBA. gw nulis blog ini hanya untuk curahkan semua pemikiran gw..dan gw udah ubah haluan jalan hidup gw..menjadikan jihad sebagai satu-satunya jalan hidup gw!!

2 Responses to 22. Berdiri untuk rakaat kedua

  1. ahmadmisbah says:

    Jazakallah, semoga Allah bermanfaat. Mas, tentang doa dibersihkan dosa, aku juga ada artikel nich, fokusnya ke mukjizat ilmiah. Ini alamatnya, http://maqamatcinta.wordpress.com/2009/02/08/ya-allah-hampuskan-dosa-dosaku-dengan-air-salu-dan-salju/

  2. ahmadmisbah says:

    Jazakallah, semoga bermanfaat. Mas, tentang doa dibersihkan dosa, aku juga ada artikel nich, fokusnya ke mukjizat ilmiah. Ini alamatnya, http://maqamatcinta.wordpress.com/2009/02/08/ya-allah-hampuskan-dosa-dosaku-dengan-air-salu-dan-salju/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: