Met Natal Yach…

Pa saya mau tanya

Pa saya mau tanya

NATAL MENURUT PANDANGAN SYARIAH ISLAM

http://www.syariahonline.com/konsultasi/?act=view&id=1061

Natal Menurut Pandangan Islam

Assalaamu‘alaikum Wr Wb

Pertanyaan Hampir tiap tahun kita selalu diberikan persoalan-persoalan yang menurut saya belum tuntas, karena setiap tahun pertanyaan itu selalu timbul” Bolehkah kita memberikan ucapan selamat Natal pada umat Nasrani” yang merayakannya pada tiap tanggal 25 Desember?, walupun fatwa dari MUI sudah ada namun sekarang ada buku karangan Dr.Quraisj Shihab ( SELAMAT NATAL MENURUT AL QURAN )yang membahas mengenai timbul pro dan kontranya tentang hal tersebut. Jadi menurut hukum Islam yang mana yang benar, agar umat tidak ragu-ragu dalam menjalankan syariat dan kerukunan beragama. Terima kasih atas jawabannya, atau solusi yang benar-benar bisa membuat hati kita benar-benar plong menerimanya/melakukannya.Wassalam

M. Kahar Aidil. RD

2002-11-14 16:40:00

Jawaban:

Mengucapkan selamat natal itu sebenarnya punya makna yang mendalam dari sekedar basa-basi antar agama. Karena tiap upacara dan perayaan tiap agama memiliki nilai sakral dan berkaitan dengan kepercayaan dan akidah masing-masing.

Karena itu masalah mengucapkan selamat kepada penganut agama lain tidak sesedarhana yang dibayangkan. Sama tidak sederhananya bila seorang mengucapkan dua kalimat syahadat. Syahadatian itu punya makna yang sangat mendalam dan konsekuensi hukum yang tidak sederhana. Termasuk hingga masalah warisan, hubungan suami istri, status anak dan seterusnya. Padahal cuma dua penggal kalimat yang siapa pun mudah mengucapkannya.

Nah, dalam hal ini pengucapan tahni‘ah (ucapan selamat) natal kepada nashrani juga memiliki implikasi hukum yang tidak sederhana. Benar bahwa muslimin menghormati dan menghargai kepercayaan agama lain bahkan melindungi bila mereka zimmi. Namun perlu diberi garis tengah yang jelas. Manakah batasan hormat dan ridha disini. Hormat adalah suatu hal dan ridha adalah yang lain. Kita hormati nasrani karena memang itu kewajiban. Hak-hak mereka kita penuhi karena itu kewajiban. Tapi memberi ucapan selamat, ini mempunyai makna ridha, artinya kita rela dan mengakui apa yang mereka yakini. Ini sudah jelas masuk masalah akidah. Dan inilah yang menjadi batas tegas disini.

Jangan sampai ada perasaan takut di hati para tokoh agama kita bila belum mengucapkan selamat natal, maka kita kurang toleran, kurang ramah dan kurang menghargai agama lain. Ini penyakit kejiwaan yang hingga dalam lubuk sanubari kebanyakan kita. Sehingga terkadang menjelma menjadi sikap yang kurang tepat.

Bila kita tidak mengucapkan selamat natal bukan berarti kita tidak ingin adanya persaudaraan dan perdamaian antar penganut agama. Bahkan sebenarnya tidak perlu lagi umat Islam ini diajari tentang toleransi dan kerukunan. Adanya orang nasrani di Republik ini dan bisa beribadah dengan tenang selama ratusan tahun adalah bukti kongkrit bahwa umat Islam menghormati mereka. Toh mereka bisa hidup tenang tanpa kesulitan. Bandingkan dengan negeri dimana umat Islam minoritas, bagaimana mereka diteror, dipaksa, dipersulit, dibuat tidak betah, diganggu dan dianiyaya. Dan fakta-fakta itu bukan isapan jempol. Hal itu terjadi dimana pun dimana ada umat Islam yang minoritas baik eropa, amerika, australia dan sebagainya.

Jadi tidak mengucapkan selamat natal itu justru toleransi dan saling menghormati akidah masing-masing. Dan sebaliknya, saling memberi ucapan selamat justru menginjak-injak akidah masing-masing karena secara sadar kita melecehkan akidah yang kita anut.

Wallahu a‘lam bis-shawab.

———————————————————–

http://www.syariahonline.com/konsultasi/?act=view&id=828

Memanfaatkan Momen Natal?

As salaamu‘alaykum

Ustadz yang saya hormati, di Jerman ini banyak ditawarkan barang dengan harga murah (diskon) karena menyambut Natal. Juga ada uang rutin (entah karena Natal atau Tahun Baru Masehi) yang diterima di luar gaji (gaji ke-13?) dan jumlahnya hampir sama dengan gaji tiap bulan. Apakah kita boleh memanfaatkan diskon dan uang rutin tersebut? Bagaimana hukum zakatnya untuk uang rutin tersebut? Terima kasih atas bantuannya. Wassalaam

Ummu Abdurrahmaan

Jerman

2002-12-12 15:19:00

Jawaban:

Diskon harga-harga barang menjelang hari raya pada hakekatnya bukanlah bentuk hadiah keagamaan. Memang kemudian sering diistilahkan dengan hadiah, tetapi pada dasrnya itu adalah strategi dagang saja dalam rangka menangguk untung lebih besar.

Barangkali dengan memberi diskon diharapkan margin penjualan bisa didongkrak berkali lipat. Hsilnya meski harga penjualan turun, namun secara umum keuntungan pedagang justru berlipat. Jadi ini adalah strategi dagang dengan memanfaatkan momentum hari besar. Buat pedagang, tidak peduli hari besar agama apa saja, bisa islam bisa kristen dan lainnya.

Bonus natal dari kantor anda bekerja pun sebenarnya sudah dianggarkan jauh hari sebagai salah satu pengeluaran perusahaan.Hanya pengeluarannya menunggu momentum natal. Tidak ada kaitannya secara langsung dengan aqidah dan prinsip Islam. Jadi secara umum tidak ada larangan bila ada fasilitas tersebut. Sedangkan zakat uang bonus itu sesuai dengan zakat penghasilan.

Dikeuarkan saat menerima dengan besar 2,5%. Lebih detailnya silahkan lihat pembahasan zakat profesi pada bidang zakat.

Wallahu a‘lam bishshowab.

———————————————————–

http://www.syariahonline.com/konsultasi/?act=view&id=835

Ikut Menghadiri Perayaan Natal

Assalaamu‘alaikum wr wb

Ustadz yang saya hormati, bagaimana hukumnya seorang muslim yang ikut menghadiri perayaan atau undangan yang diselenggarakan dalam rangka Natal atau tahun baru Masehi?

Terima kasih banyak sebelum dan sesudahnya.

Wassalaam

Nisa

Jerman

2002-12-16 11:59:00

Jawaban:

Fatwa tentang haramnya umat Islam ikut natalan atau seremoni sejenisnya sudah jelas dan tetap hukumnya, tidak berubah.Karena biar bagaimanapun acara natal adalah acara keagamaan yang bersifat ritual. Islam sejak dini telah membatasi masalah toleransi pada saling menghormati dan menghargai bahkan saling tolong dan saling bela dalam masalah sosial masyarakat. Tapi tidak bila harus saling bertukar ibadah dan bertukar upacara keagamaan. Prinsip lakum dinukum waliya din tidak pernah berubah. Dan menghormati pemeluk agama lain tidak harus dengan memberi ucapan selamat atau menghadiri perayaan agama. Meski mereka memberi selamat dan menghadiri perayaan agama kita, bukan berarti harus saling berbalas.

Wallahu a‘lam bishshowab.

———————————————————–

http://www.syariahonline.com/konsultasi/?act=view&id=840

Mendengarkan Lagu Natal

Assalamuallaikum Wr.Wb,

Pada saat menjelang Akhir bulan Desember setiap tahunnya, kita akan melewati suasana Natal yang bagi umat muslim tidak berpengaruh apapun, kecuali di beberapa tempat kita akan mendengar berkumandangnya lagu rohani bagi umat Nasrani, yang kita kenal sebagai lagu Natal. Pada kesempatan ini saya ingin menanyakan hukumnya bagi umat muslim bila mendengarkan “lagu-lagu Natal” tersebut. Perlu diketahui bahwa terlepas dari syair lagunya, ternyata banyak lagu Natal yang enak untuk didengar. Dan apakah boleh seorang umat muslim mengkoleksi album lagu Natal, dengan tujuan hanya sebagai alat penghibur, sama halnya seperti koleksi lagu umum lainnya?. Saya seorang muslim yang masih menjalankan hampir semua ibadah yang Disyaratkan dalam agama kita, tetapi karena saya seorang yang menyenangi musik dan saya seorang kolektor lagu dengan beragam jenis irama dan lagu, saya juga mempunyai koleksi beberapa lagu Natal, sama seperti lagu Qasidah, Dang Dut, Keroncong dan lain sebagainya. Bahkan saya juga mempunyai koleksi lagu klasik cukup banyak, yang setahu saya penciptanya bukan orang muslim sehingga lagu tersebut tidak sedikitpun mengandung nafas Islami. Bagi saya syair lagu Natal tidak menjadi penting karena tujuan saya hanya mendengarkan iramanya yang ada beberapa diantaranya cukup enak untuk didengar. Demikian pertanyaan saya dan terimakasih. Wassalamuallaikum Wr.Wb.

Yulius Nasrul

Yulius

Jakarta

2002-12-25 13:01:00

Jawaban:

Kita pisahkan dahulu masalah anda mejadi dua hal. Pertama, hukum mendengarkan lagu rohani yang sengaja diciptakan untuk ibadah dan menyemarakkan hari raya agama tertentu. Kedua, hukum musik itu sendiri. Pertama, lagu dan musik memang sering dijadikan sarana untuk ibadah ritual sUatu agama tertentu. Meski alat musiknya sebenarnya netral dan lebih menentukan adalah syairnya, namun biar bagaimana pun lonceng natal adalah khas umat kristiani dan bedug sering dikonotasikan dengan budaya Islam.

Sehingga agak sulit juga memisahkan begitu saja antara bunyi musik khas untuk ritual agama tertentu (apalagi dengan melodi dan jinggle tertentu) dengan ritual agama itu sendiri. Paling tidak, di telinga awam, musik dan ritual itu menjadi satu. Dan perlu diingat pula bahwa musik gerejani dan rohani itu memang sengaja diciptakan untuk mendekatkan orang siapapun- tak peduli non-kristiani, untuk ikut merasakan hidmatnya ritual agama itu. Sampai batas ini, agak sulit memisahkan begitu saja antara musik dan nilai-nilai ritual kristiani.

Untuk itu kita wajib menjaga hal ini dengan cermat agar tidak termasuk orang yang ikut merayakan natal meski hanya dengan mendengarkan musiknya saja.

Rasulullah SAW bersabda, Siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia bahian dari mereka . Menyerupai disini tentu saja dalam masalah yang khas milik mereka. Dalam hal ini misalnya kita termasuk ikut mereka bila menggunakan pakaian ibadah ritual khas mereka. Tetapi tidak demikian halnya dengan pakai dasi karena dasi bukan khas orang kristen. Meski demkian, di zaman dahulu para orangtua kita mengharamkan pakai dasi karena identik dengan baju orang belanda yang kafir.

Kedua, hukum musik sendiri. Anda perlu ketahui pula bahwa hukum musik ini secara umum kurang diterima oleh para ulama muslim. Paling tidak pendapat yang mengharamkannya perlu pula diperhatikan, selain kenyataaan di dalam dunia Islam bahwa ilmu seni musik pun tidak berkembang sebagaimana cabang ilmu lainnya. Dalam banyak buku fiqih disebutkan bahwa temasuk jual beli yang dilarang adalah memperjualbelikan alat musik. Itu di satu sisi.

Di sisi lain memang ada pula sementara kalangan ulama yang tidak mengharamkannya secara total, tetapi memakruhkan atau membolehkan dengan beberapa syarat. Latar belakang mengapa mereka tidak mengharamkan secara total adalah tidak didapatnya nash/teks dalil yang secara eksplisit yang mengharamkannya, menurut mereka semuanya merupakan teks yang implisit dan merupakan penafsiran dari suatu makna dari dalil-dalil yang ada pada Al-Quran dan Hadits.

Jadi hukum mendengarkan musik dalam Islam itu paling tidak ada beragam pendapat. Ini patut anda ketahui karena anda mengatakan bahwa anda seorang yang sangat mencintai musik. Maka sebagai muslim, anda perlu mengerti juga bagaimana pandangan Islam terhadap musik, paling tidak adanya ikhtilaf dalam hukumnya.

Wallahu a‘lam bis-shawab.

———————————————————–

http://www.syariahonline.com/konsultasi/?act=view&id=712

Selamat Natal

Ustadz, banyak pertanyaan kepada saya mengenai ucapan selamat natal. Sya ingin mempublikasikannya di newsletter renungan islam yang saya kelola. Mengingat audience-nya yang ammah & mgkn banyak interaksi dengan umat Kristen, bisakah ustadz memberikan artikel tentang ini, namun yang “enak dibaca” semua kalangan? Sebagian mereka mereferensikan ke tulisan Dr. Quraish Shihab yang tendensi-nya membolehkan ucapan selamat natal. Saya sendiri kurang sependapat. Mohon dijawab secepatnya. Jazakallohu khairun

katsiron

Otto

Jakarta

2002-12-25 13:11:00

Jawaban:

Islam mengakui keberadaan agama nasrani dan yahudi. Juga mengakui kenabian Musa dan Isa sebagai utusan Allah. Bahkan Islam meyakini bahwa kitab suci Taurat dan Inji adalah kitab suci yang Allah turunkan. Semua itu merupakan bagian dari ruun iman dalam ajaran Islam. Syariat kedua agama itu pun diakui Islam sebagai syariat dri Allah kepada manusia dan sebagiannya menjadi bagian dari syariat Islam pula.

Namun sebaliknya, kedua agama itu tidak mengakui Islam sebagai agama. Nabi Muhammmad SAW tidak diakui sebagai nabi utusan Allah. Al-Quran juga tidak diakui sebagai kitab suci yang Allah turunkan. Dan syariat Islam tidak diakui kedua pemeluk agama ini sebagai syariat yang Allah turunkan.

Dalam masalah toleransi beragama, Islam adalah pelopor kerukunan antar agama. Madinah sebagai kota percontohan negara Islam justru dihuni oelh penduduk yang beragam yahudi dan juga nasrani. Bahkan Rasulullah SAW hidup bercampur baur dengan mereka dan berdagang serta bertransaksi bisnis juga.

Dalam masalah sosial, orang yahudi dan nasrani di Madinah mendapatkan hak perlindungan sepenuhnya dari negara. Dan dalam sejarah Islam kita bisa saksikan bagaimana para pelarian yahudi justru ditampung oleh khilafah Bani Ustmani ketika para raja nasrani spanyol membantai habis umat Islam dan Yahudi di semenanjung Iberia itu. Bahkan ketika Islam mencapai puncak kejayaannya di masa abad pertengahan, orang-orang nasrani mendapatkan kebebasan hidup di negeri Islam, mereka bebas belajar, bekerja, mencari nakah dan mendapatkan produk terbaru peradaban Islam. Oleh prajurit perang salib, aliran peradaban itu mereka bawa ke bumi eropa. Sabun, lensa, ilmu kimia, ilmu kedokteran, ilmu biologi, ilmu bumi dan beragam kekayaan peradaban Islam dengan mudah dibawa ke eropa. Sehingga para sejarawan mengatakan bahwa Eropa berhutang budi pada dunia Islam yang telah menjadi jembatan kebudayaan peradaban mereka.

Dalam kondisi seperti itu, perlu dipahami bahwa Islam memiliki keaslian ajaran yang paling terjaga, baik dari bid‘ah, kemusyrikan ataupun penyelewengan lainnya. Ketika para pemuka agama yahudi dan nasrani sibuk berbeda pendapat tentang inti ajaran mereka, Umat Islam dengan tenang menjalankan agamanya. Hal itu terjadi karena Islam memiliki Al- Quran dan Sunnah yang bersifat abadi serta syariat Islam yang sangat lengkap. Tidak ada kemungkinan umat Islam kehilangan identitas dan jejak ajaran rasul-Nya.

Berbeda dengan kedua agama samawi sebelumnya yang dilanda krisis kemurnian ajaran hingga pada masalah yang paling prinsipil. Seperti yang dialami nasrani tentang ketuhanan Nabi Isa as. Bahkan para sejarawan pun sepakat bahwa kelahirannya bukan tanggal 25 Desember. Ensiklopedi besar dunia macam British atau American pun tidak mencantumkan tanggal itu sebagai hari kelahiran Nabi Isa. Sejak dari abad ke-4, umat Kristen telah mengambil gagasan yang ada pada kepercayaan orang-orang kafir (penyembah berhala). Barangkali yang paling penting dari ini semua adalah kepercayaan bahwa ada 3 Tuhan: Bapa, Putra dan Roh Kudus (yang disebut Trinitas). Kepercayaan ini

adalah sama dengan kepercayaan yang ada pada kepercayaan-kepercayaan sebelumnya seperti antara lain:

1. Hindu (Trinitas dalam Hindu): Brahma (Tuhan Pencipta), Wishnu (Pemelihara), Shiwa (Perusak). Hindu modern mengambil Krishna, anak Divachi, dara suci, sebagai reinkarnasi dari Wishnu. Krisna adalah juru selamat, yang mati untuk menebus dosa-dosa dan harus menderita. Dia disalib, mati dan kemudian dibangkitkan kemudian naik ke langit. Waktu lahir, Krisna akan dibunuh oleh Kansa. Yesus akan dibunuh oleh raja Herodes (Note: menurut penyelidikan akhir-akhir ini, Herodes itu matinya 4 tahun sebelum Yesus lahir. Jadi kesamaan itu bukan bersifat kebetulan, melainkan disengaja oleh penulis Injil).

2. Di Mesir: Ra (Dewa matahari), Osiris (Dewa kematian), Isis (Istri Orisis, Dewa alam dan bunda Tuhan) dan Horus (anak Osiris dan Dewa Cahaya). Di Mesir ada patung Horus dalam pelukan bunda Isis. Dalam Gereja Katholik juga terdapat patung Yesus dalam pelukan Maria.=20

3. Babylonia: Baal (Dewa matahari), Samiramis (bunda suci) dan Nimrod (anak Tuhan). Sebelum dibunuh, Baal dihina dan disiksa. Yesus juga demikian Matius 27: 26;30-31).

4. Buddha: Gautama (Roh kudus), Maya (bunda suci) dan Buddha, anak (yang ditiupkan ke Maya yang di isi dengan Roh kudus) dan juru selamat yang mati dan dibangkitkan kembali.

5. Yunani/Romawi: Zeus/Jupiter (Raja Dewa), Artis/Diana (Dewa kelahiran) dan Mithra (Dewa cahaya). Sarjana-sarjana theology Kristen percaya bahwa penyembahan Isis dan Diana melebur kepada Maria a.s. Dewa-dewa adalah penebus dosa. Yesus juga (I Timotius 2: 5-6). Dewadewa tersebut inkarnasi dari Tuhan. Yesus juga demikian (Philipi 2: 6-7).

Dewa-dewa penebus dosa mati dibunuh/disalib. Yesus juga demikian (Matius, 27: 35-37).

Pada abad ke-4, kapel-kapel dan gereja-gereja mulai dibangun di atas Makam para syuhada dan gereja mengatakan bahwa mereka memiliki kedudukan khusus untuk mendengar doa dan menyampaikannya pada Tuhan. Setiap hari disepanjang tahun doa-doa ditujukan pada orang-orang suci mereka (santa) atau para syuhada tersebut. Ajaran ini adalah bertentangan langsung dengan Galatians 3: 20, yang berbunyi: “Tidaklah diperlukan perantara apabila hanya satu yang terlibat; dan Tuhan adalah Esa.” Dan Exodus 20: 5, yang berbunyi: “Janganlah tunduk (ruku‘) pada berhala ataupun menyembahnya, karena Aku adalah Tuhan dan Tuhanmu tidaklah memiliki sekutu. Dan kita semua mengetahui bahwa kepercayaan seperti ini adalah merupakan syirk besar (menyekutukan Allah) dan kufr pada derajat yang paling tinggi.

Allah berfirman: “Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa…” (QS 5: 73)

“Al Masih putra Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya Telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu).” (QS 5: 75)

“Katakanlah: ‘Mengapa kamu menyembah selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudharat kepadamu dan tidak (pula) memberi Manfa‘at?‘ Dan Allah-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS 5: 76)

“Katakanlah: ‘Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.” (QS 5: 77)

Sebagian besar syiar yang digunakan dalam natal seperti sinterklas, lilin, hari minggu, salju dan sejenisnya lebih merupakan rekaan sepanjang zaman, termasuk patung Nabi Isa yang ditiaop negeri berbeda bentuk mukanya.

Semua itu alhamdulillah tidak terjadi pada umat Islam. Meski ada perbedaan mazhab fiqih, namun tidak sampai pada masalah yang berkaitan dengan aqidah.

Jadi bila umat Islam tidak ikut merayakan natal bukan berarti tidak hormat kepada pemeluk agama lain. Tapi silahkan selesaikan terlebih dahulu perbedaan pendapat diantara pemeluk nasrani tentang hari lahirnya dan tentang apa benar Nabi Isa itu tuhan, atau anak tuhan atau siapakah dia?

Yang jelas Islam tidak menjadikannya Tuhan, tapi dia adalah Nabi yang sangat dihormati dan dimuliakan oleh Al-Quran dan umat Islam. Ajaran yang dibawanya (selama masih asli dan tidak terkena tangan-tangan kotor) merupakan ajaran dari allah yang wajib kita hormati). Dan juga kitab sucinya, selama tidak dikotori oleh para pemalsunya, kita imani sebagai kitab suci.

Namun sayang, umat nasrani sendiri yang telah berpecah belah dan merusak kesucian agama mereka sendiri sera mengganti ajaran tauhid itu dengan polytiesm dimana tuhan itu mnjadi tiga tetapi satu. Sebuah logika yang mungin buat para filsouf mudah dipahami tapi tidak mudah bagi masyarakat awam. Apakah ini berarti agama ini hanya buat para filsuf, Wallahu a‘lam.

Jadi tidak mengucapkan selamat natal tidak berarti tidak hormat. Justru umat kristiani harus mengucapkan terima kasih telah diingatkan oleh uamt Islam tentang kenyataan yang ada pada ajaran mereka diman telah

terjadi ketidak-jelasan sejarah dan kemungkinan pengkaburan ajaran Nabi Isa dari aslinya.

Yang kedua, karena tanggal 25 Desember pun bukan hari lahirnya Nabi Isa, paling tidak menurut pada sejarawan. Dalam Al-Quran pun disebutkan bahwa saat itu pohon kurma sedang berbuah. Dan pohon kurma tidak pernah berbuah di musim dingin seperti bulan Desember.

Wallahu a‘lam bis-shawab.

———————————————————–

http://www.syariahonline.com/konsultasi/?act=view&id=3401

Boleh Mengucapkan Selamat Natal?

Assalamualaikum wr.wb.

Pada bukunya yang berjudul “Membumikan Al Quran” Prof. Quraish Shihab menggunakan ayat berikut yang menjadi landasan pembenaran bolehnya mengucapkan selamat natal kepada kaum nasrani. Bagaimana sebenarnya tafsir dari ayat berikut ini?

“Hai Maryam, engkau melakukan yang amat buruk. Ayahmu bukan penjahat, ibumu pun bukan penzina,” demikian kecaman kaumnya, ketika melihat bayi di gendongannya. Tetapi Maryam terdiam. Beliau hanya menunjuk bayinya. Dan ketika itu bercakaplah sang bayi menjelaskan jati dirinya sebagai hamba Allah yang diberi Al-Kitab, shalat, berzakat serta mengabdi kepada ibunya. Kemudian sang bayi berdoa: “Salam sejahtera (semoga) dilimpahkan kepadaku pada hari kelahiranku, hari wafatku, dan pada hari ketika aku dibangkitkan hidup kembali.” Atas jawabannya saya ucapkan Jazakumullah Khaironkatsirah.

Wassalamu’alaikum wr.wb.

Dwi

Jepang

2003-11-03 11:27:43

Jawaban:

Assalamu `alaikum Wr. Wb.

Al-Hamdulillahi Rabbil `Alamin, Washshalatu Wassalamu `Alaa Sayyidil Mursalin, Wa `Alaa `Aalihi Waashabihi Ajma`in, Wa Ba`d Lengkapnya ayat itu adalah ayat yang ada di surat Maryam dan disebutkan dua kali. Allah SWT berfirman yang artinya :

Hai Yahya, ambillah Al Kitab itu dengan sungguh-sungguh. Dan kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak, dan rasa belas kasihan yang mendalam dari sisi Kami dan kesucian . Dan ia adalah seorang yang bertakwa, dan seorang yang berbakti kepada kedua orang tuanya, dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka. Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali. (QS. Maryam : 12-15)

Di ayat selanjutnya dalam surat yang sama disebutkan :

Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab dan Dia menjadikan aku seorang nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku shalat dan zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali”.Itulah Isa putera Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya. (QS. Maryam : 30-36)

Untuk menjawab syuhbat atas kebolehan memberi ucapan selamat natal dengan hujjah ayat ini, ada beberapa hal yang perlu kita cermati dengan baik. Agar kita tidak terlalu terburu-buru mengambil kesimpulan hanya berdasarkan sebuah ayat yang makna dan konteksnya tidak tepat.

1. Ucapan salam sejahtera yang ada di dalam ayat itu merupakan ucapan bayi Nabi Isa as untuk menjawab cemoohan dan ejekan orang-orang yang memusuhi Maryam, ibunda Nabi Isa. Sama sekali tidak mengandung hukum tentang sunnah atau masyru iyah untuk mengucapkan selamat sejahtera pada tiap ulang tahun kelahiran nabi Isa. Bahkan murid-murid nabi Isa (al-Hawariyyun) juga tidak pernah mengucapkan selamat ulang tahun atau selamat hari lahir kepada nabi mereka saat nabi Isa masih hidup. Apalagi setelah beliau diangkat ke langit.

2. Sehingga kalaulah mengucapkan selamat itu menjadi dibolehkan, maka seharusnya para shahabat terdekat nabi Isa yang melakukannya. Tapi kita sama sekali tidak mendapat keterangan tentang itu. Bahkan Nabi Isa sendiri tidak pernah memintanya atau mensyariatkannya.

3. Selain itu sebagaimana yang tertera dalam ayat itu, kalimat itu menunjukkan bahwa salam sejahtera pada kepada nabi Isa. Bukan pada hari kelahirannya dan bukan juga pada setiap ulang tahun kelahirannya. Ini

dua hal yang sangat jauh berbeda. Bolehlah kita mengucapkan selamat natal bila bunyi ayatnya seperti ini : Wahai umat Islam, bila pemeluk kristen merayakan natal, maka ucapkanlah : selamat natal .

Tapi demi Allah SWT yang Maha Agung dan Maha Benar, tidak ada sama sekali ayat itu dalam Al-Quran Al-Karim, tidak juga dalam Injil, Taurat ataupun Zabur. Ayat Al-Quran Al-Karim itu hanya mengatakan bahwa pada hari lahirnya, meninggal dan dibangkitkan semoga dirinya selamat dan sejahtera. Bunyinya adalah Salamun Alayya Semoga aku selamat atau semoga Allah mensejahterakan atau menyelamatkan diriku. Bukan harinya yang sejahtera atau selamat.

4. Dalam tafsir yang lurus disebutkan bahwa kalimat Selamat atasku yang dimaksud pada ayat itu adalah selamat dari gangguan syetan, yaitu pada tiga momentum : pada hari kelahiran, kematian dan kebangkitan kembali. Maksudnya bahwa syetan tidak bisa mengganggu nabi Isa as dan tidak bisa mencelakakannya terutama pada tiga momentum itu.

5. Kalaulah salam itu ditafsirkan sebagai ungkapan atau ucapan salam maka mengirim salam, maka salam itu adalah salam kepada nabi Isa alaihis salam. Dan mengucapkan kepada para nabi dan rasul memang dibenarkan dan disyariatkan dalam syariah islam. Dan sebagai muslim, kita mengakui kenabian Isa as serta posisinya sebagai nabi dan rasul. Untuk itu kita juga disunnahkan untuk mengucapkan salam kepada diri beliau.

Namun hal itu jelas jauh berbeda dengan memberi ucapan selamat natal kepada orang kafir. Karena kalangan nasrani itu melakukan kemusyirikan dengan menjadikan nabi Isa sebagai tuhan selain dari Allah SWT. Dan kemusyrikannya itu dirayakan dalam bentuk perayaan natal.

Mereka dengan segala keyakinannya mengatakan bahwa pada tanggal 25 Desember itu TUHAN telah lahir. Ini adalah kemusyrikan yang nyata dan terang sekali. Dan mengucapkan selamat natal kepada mereka yang sedang merayakan kemusyrikan berarti ikut meredhai dan mendukung kemusyrikan itu sendiri.

6. Karena itu sudah terlalu jelas perbedaannya antara bersalawat kepada nabi Isa sebagai nabi dengan menyembah nabi Isa atau menjadikannya sebagai tuhan. Sehingga hanya mereka yang agak rancu pikirannya saja yang memahami ayat ini sebagai ayat yang memerintahkan kita untuk mengucapkan selamat natal kepada orang kafir.

7. Selain itu yang jelas tidak bisa diterima adalah penetuan hari lahir nabi Isa sendiri yang tidak didukung fakta ilmiyah atau pun dalil yang benar. Tidak ada data akurat pada tanggal berapakah beliau itu lahir. Yang jelas 25 Desember itu bukanlah hari lahirnya karena itu adalah hari kelahiran anak Dewa Matahari di cerita mitos Eropa kuno. Mitos itu pada sekian ratus tahun setelah wafatnya nabi Isa masuk begitu saja ke dalam ajaran kristen lalu diyakini sebagai hari lahir beliau. Padahal tidak ada satu pun ahli sejarah yang membernarkannya. Bahkan Britihs Encylopedia dan American Ensylcopedia sepakat bahwa 25 bukanlah hari lahirnya Isa as.

8. Apalagi di tengah kancah tarik menarik antar muslim dengan nasrani dimana mereka telah menjadikan bangsa ini sebagai sasaran kristenisasi secara tegas dan terang-terangan. Maka segala upaya untuk memurtadkan umat Islam pastilah dilakukan. Dan salah satu caranya dengan mengadakan natal bersama atau mencari tokoh Islam yang membolehkan ucapan selamat natal. Dengan demikian, terbukalah pintu untuk pemurtadan bangsa yang sejak dahulu telah menjadi pemeluk Islam. Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,

Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

———————————————————–

http://www.syariahonline.com/konsultasi/?act=view&id=3829

Mengucapkan Selamat Natal Karena Tanggung Jawab

Jabatannya

Assalamualaikum Wr. Wb.

Saya mau bertanya, bagaimana hukumnya seorang muslim mengucapkan selamat natal tapi bukan atas nama pribadinya, melainkan karena suatu posisi atau jabatan yang bersangkutan, misalnya seorang pejabat yang mempunyai bawahan muslim dan kristen sehingga yang bersangkutan terpaksa mengucapkan selamat natal atas nama jabatannya bukan atas nama pribadinya, atau karena suatu jabatannya yang bersangkutan mempunyai relasi dengan beberapa rekan kerja diluar maupun didalam kantornya yang beragama non muslim, bagaiman hukumnya jika yang bersangkutan mengucapkan selamat natal. Dalam hal ini saya mengambil contoh menteri agama yang beragama Islam setiap tahunnya selalu mengucapkan selamat natal bagi seluruh warga negara didepan media Televisi, padahal kita tahu jelas bahwa menteri agama adalah beragama Islam. Demikian pertanyaan saya, atas jawabannya saya ucapkan terima kasih.

Wassalam

Trian

Jl. RS. Fatmawati No. 9, Cilandak, Jakarta Selatan

2003-11-20 16:04:58

Jawaban:

Assalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Alhamdulillahi Rabbil Alamin, Washshalatu Wassalamu Ala sayyidil Mursalin

Wa alaa Aalihi Wa Ashabihi ajma ien. Wa Ba du Menteri Agama RI sebagai muslim punya wakil dan juga para pembantu termasuk para Dirjen. Dan diantara mereka pastilah ada yang non muslim. Sehingga beliau bisa saja menugaskan para pembantunya yang beragama kristen itu untuk memberikan sambutan dan selamat natal atas nama Depag. Di sisi lain, sebenarnya perlu juga dipikirkan metode pemberian penghormatan yang tidak mengganggu masalah aqidah. Karena ucapan selamat natal memang akan terus melahirkan perbedaan pandangan antara yang melarangnya dan yang membolehkannya. Para ulama dan sebagain besar umat Islam sebenarnya cenderung mengharamkannya. Bahkan fatwa MUI dengan tegas melarang umat Islam ikut merayakan natal termasuk memberikan ucapan selamat.

Masalahnya adalah bahwa umumnya masyarakat kita ini merasa kurang enak kalau pada saat seorang teman yang beragama Nasrani itu sedang merayakan natal, lalu kita diam saja atau pura-pura lupa sekedar menghindari ucapan selamat natal. Masyarakat kita terbiasa berbasa-basi termasuk dalam masalah memberi selamat, meski mereka mungkin tidak tahu apa dampak dan konsekuensi dari pemberian ucapan selamat itu dari sisi aqidah.

Sehingga perlu dipikirkan ucapan seperti apa yang plaing layak dan pantas untuk diucapkan sekedar berbasa basi tapi tidak menyangkut masalah aqidah Islam. Yang jelas ucapan salam kepada orang non muslim berbeda dengan kepada sesama muslim. Dalam banyak riwayat, Rasulullah SAW biasanya mengucapkan lafaz salam berikut ini Salaamun ala man ittaba al huda . Maknanya adalah Selamat Sejahtera kepada mereka yang mengikuti petunjuk. Kalau ingin yang di luar lafaz itu, barangkali Anda punya ide dan saran, silahka kirimkan kepada kami.

Nabi Isa itu memang nabi kita juga dan kita wajib beriman atas kenabiannya. Tetapi dalam perayaan natal, memang ada masalah mendasar di luar urusan memberi ucapan selamat.

Pertama, masalah ketidak-benaran tanggal atau bulan kelahiran Nabi Isa as itu sendiri. Sehingga kalau toh kita ingin mengucapkan selamat natal pada saat seperti itu, benarkah 25 Desember itu adalah hari lahirnya ? Kedua, kalaulah benar belai lahir pada tanggal itu, apakah bisa dibenarkan mengucapkan selamat atas hari lahir seorang nabi Isa as ?Padahal pada hari lahirnya nabi Muhammad sekalipun kita tidak diajarkan untuk saling mengucapkan selamat hari lahir. Bagaimana mungkin pada hari lahirnya Isa kita memberikan ucapan selamat ?

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,

Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

———————————————————–

generated by hdn 17

http://www.syariahonline.com/konsultasi/?act=view&id=3976

Hukum Mengikuti Acara Natal Dan Mengucapkan

Selamat

apa hukumnya mengikuti acara natalan dan mengucapkan selamat natal ?

Zulkarnain

Hochschulstr. 48/0606, 01069 Dresden, Jerman

2003-11-30 19:25:20

Jawaban:

Assalamu `alaikum Wr. Wb.

Al-Hamdulillahi Rabbil `Alamin, Washshalatu Wassalamu `Alaa Sayyidil Mursalin, Wa `Alaa `Aalihi Waashabihi Ajma`in, Wa Ba`d Mengucapkan selamat natal itu sebenarnya punya makna yang mendalam dari sekedar basa-basi antar agama. Karena tiap upacara dan perayaan tiap agama memiliki nilai sakral dan berkaitan dengan kepercayaan dan akidah masing-masing.

Karena itu masalah mengucapkan selamat kepada penganut agama lain tidak sesedarhana yang dibayangkan. Sama tidak sederhananya bila seorang mengucapkan dua kalimat syahadat. Syahadatian itu punya makna yang sangat mendalam dan konsekuensi hukum yang tidak sederhana. Termasuk hingga masalah warisan, hubungan suami istri, status anak dan seterusnya. Padahal cuma dua penggal kalimat yang siapa pun mudah mengucapkannya.

Nah, dalam hal ini pengucapan tahni`ah (ucapan selamat) natal kepada nashrani juga memiliki implikasi hukum yang tidak sederhana. Benar bahwa muslimin menghormati dan menghargai kepercayaan agama lain bahkan melindungi bila mereka zimmi. Namun perlu diberi garis tengah yang jelas. Manakah batasan hormat dan ridha disini. Hormat adalah suatu hal dan ridha adalah yang lain.

Kita hormati nasrani karena memang itu kewajiban. Hak-hak mereka kita penuhi karena itu kewajiban. Tapi memberi ucapan selamat, ini mempunyai makna ridha, artinya kita rela dan mengakui apa yang mereka yakini. Ini

sudah jelas masuk masalah akidah. Dan inilah yang menjadi batas tegas

disini.

Jangan sampai ada perasaan takut di hati para tokoh agama kita bila belum mengucapkan selamat natal, maka kita kurang toleran, kurang ramah dan kurang menghargai agama lain. Ini penyakit kejiwaan yang hingga dalam lubuk sanubari kebanyakan kita. Sehingga terkadang menjelma menjadi sikap yang kurang tepat.

Bila kita tidak mengucapkan selamat natal bukan berarti kita tidak ingin adanya persaudaraan dan perdamaian antar penganut agama. Bahkan sebenarnya tidak perlu lagi umat Islam ini diajari tentang toleransi dan kerukunan. Adanya orang nasrani di Republik ini dan bisa beribadah dengan tenang selama ratusan tahun adalah bukti kongkrit bahwa umat Islam menghormati mereka. Toh mereka bisa hidup tenang tanpa kesulitan. Bandingkan dengan negeri dimana umat Islam minoritas, bagaimana mereka diteror, dipaksa, dipersulit, dibuat tidak betah, diganggu dan dianiyaya. Dan fakta-fakta itu bukan isapan jempol. Hal itu terjadi dimana pun dimana ada umat Islam yang minoritas baik eropa, amerika, australia dan sebagainya.

Jadi tidak mengucapkan selamat natal itu justru toleransi dan saling menghormati akidah masing-masing. Dan sebaliknya, saling memberi ucapan selamat justru menginjak-injak akidah masing-masing karena secara sadar

kita melecehkan akidah yang kita anut.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,

Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

———————————————————–

http://www.syariahonline.com/konsultasi/?act=view&id=3989

Dasar Hukum Larangan Menghadiri Natal

Apa rujukan hukum (Al Quran dan Hadits) yang mengatur soal larangan menghadiri perayaan natal? Perlukah kita minta maaf kepada non muslim, bagaimana pula bila mereka mengucapkan selamat hari raya idul fitri sekaligus minta maaf kepada kita?

Muhamad Shidiq

Banyumanik Semarang

2003-12-02 13:09:49

Jawaban:

Assalamu `alaikum Wr. Wb.

Al-Hamdulillahi Rabbil `Alamin, Washshalatu Wassalamu `Alaa Sayyidil

Mursalin, Wa `Alaa `Aalihi Waashabihi Ajma`in, Wa Ba`d Sebenarnya sejak awal sejarah hidup berdampingannya umat Islam dengan umat nasrani, tidak pernah muncul masalah tentang hukum ucapan selamat natal. Hal terjadi lantaran sejak dahulu, umat nasrani yang hidup di bawah perlindungan umat Islam selalu melakukan ibadah mereka dengan bebas dan terjamin. Mereka tahu bahwa upacara peribadatan berupa perayaan natal itu hanyalah milik mereka dan bukan milik umat Islam.

Sehingga ketika mereka melakukannya, hanya mereka lakukan di dalam rumah ibadah mereka saja. Jadi hanya mereka saja yang hadir dan merupakan acara yang tertutup buat kalangan agama lain seperti muslimin. Dalam jaminan umat Islam, para pemeluk nasrani itu menghirup udara kebebasan beragama dan menjalankan ibadah mereka sepanjang catatan sejarah. Umat Islam dilarang untuk mengganggu mereka atau ikut campur dalam tata peribadatan mereka. Dan mereka pun tahu diri untuk tidak membawa-bawa upacara ibadah mereka keluar tembok gereja. Itu yang terjadi sepanjang sejarah, sehingga kita memang tidak mendapatkan nash sharih dari Al-Quran Al-Karim dan sunnah yang memberikan tekanan atas pelarangan mengucapkan selamat natal. Begitu juga dalam kitab-kitab fiqih, kita jarang mendapati ada bab yang secara khusus membahas tentang fatwa ucapan natal.

Namun dalam perkembangan berikutnya, terutama masa ekspansi bangsa Eropa setelah terjadinya perang salib dan pembasmian umat Islam di Spanyol, maka hubungan muslimin dan nasrani mengalami gangguan yang serius. Bangsa Eropa yang nasrani itu telah datang menjajah serta menaklukkan negeri-negeri Islam dan merusaknya serta menjadikan izzah umat Islam porak poranda. Persis seperti yang diungkap ratu Balqis. Dia (Balqis) berkata: “Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka merusaknya dan menjadikan izzah penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat.(QS. An- Naml : 34)

Dan sudah bisa dipastikan bahwa salah satu agenda penjajahan itu adalah menyebarkan salib di negeri Islam dan upaya mengkristenkan umat Islam.Sebagian upaya balas dendam atas kekalahan mereka di perang salib. Maka dengan membonceng militer bersenjata, mereka mendirikan gereja di penjuru negeri Islam. Tidak hanya itu, mereka juga mendirikan sekolah,

panti asuhan, lembaga sosial dan misi ke pedalaman. Sehingga negeri yang tadinya milik umat Islam menjadi milik nasrani juga.

Bahkan ketika secara resmi penjajahan itu sudah berakhir, para misionaris masih saja bercokol dan bermimpi untuk mengkristenkan dunia Islam. Bahkan negeri kita tercinta ini malah menjadi sasaran utama dari kristenisasi dunia dengan target dalam waktu 25 tahun sudah bisa 50 % penduduknya dikristenkan.

Beragam trik dan siasat licik mereka lontarkan ke kalangan umat Islam untuk bisa memuluskan mega proyek itu. Salah satunya adalah dengan menggencarkan kegiatan natal bersama dan ucapan selamat natal di kalangan umat Islam. Beragam alasan dan alibi mereka keluarkan demi sekedar mendekatkan jarak antara umat Islam dengan pintu masuk nasrani. Tak terhitung lagi berapa juta bangsa muslim yang telah murtad meninggalkan agama Muhammad SAW lantaran proyek gila-gilaan umat nasrani itu. Berapa banyak keluarga yang hancur berantakan lantaran perkawinan campuran. Berapa banyak orang menjadi tak punya agama atau malah punya agama dua lantaran ulah tokokh kristiani. Bahkan pada era tertentu, pernah kekuatan nasrani begitu merasuk ke sendi-sendi pemerintahan, sampai-sampai hampir semua kebijakan pemerintah lebih

condong kepada kalangan yang sebenarnya minoritas ini.

Maka wajarlah bila kalangan ulama melihat gelagat tidak baik ini lantas memberikan peringatan kepada umat Islam untuk tidak terkecoh dengan siasat akal bulus seperti ini. Maka setelah melihat konteks dan trik licik yang sudah sering kali berhasil mengirim umat Islam menjadi murtad dengan cara seperti itu, para ulama pun sepakat untuk mencegah hal itu menjadi semakin besar. Maka dikeluarkanlah fatwa tentang haramnya natal bersama dan ucapan selamat natal sebagai tindakan pencegahan atas program pemurtadan. Apalagi di dalam ucapan natal itu terselip makna pembenaran atas aqidah yang salah tentang masalah ketuhanan. Dan bila dicermati, memang sangat besar maknanya atas keselamatan aqidah islamiyah.

Namun dengan segala kekuasaannya, mereka berhasil menekan sebuah lembaga ulama milik Umat Islam untuk tidak berfatwa tentang haramnya natal bersama. Saat itu, Prof. Dr. Hamka sampai harus mundur dari Majelis Ulama lantaran ditekan untuk mencabut fatwa haramnya natal bersama.

Namun alhamdulillah, sampai saat ini MUI yang jadi harapan banyak umat Islam tidak goyah, lebaga ini pada tanggal 7 Maret tahun 1981 bertepatan dengan tanggal 1 Jumadil Awwal 1401 H telah mengeluarkan fatwa haramnya natal bersama yang ditanda tangai oleh ketuanya K.H.M.. Syukri Ghazali. Salah satu kutipannya adalah : Perayaan Natal di Indonesia meskipun tujuannya merayakan dan menghormati Nabi Isa A.S, akan tetapi Natal itu tidak dapat dipisahkan dari soal-soal yang diterangkan diatas. Mengikuti upacara Natal bersama bagi ummat islam hukumnya Haram Agar ummat islam tidak terjerumus kepada syubhat dan larangan Allah SWT dianjurkan untuk tidak mengikuti kegitan – kegiatan Natal. Dan secara kajian, kita memahami bahwa larangan melakukan natal bersama itu adalah

1. 1. Haram mencampur aduk aqidah dan ibadha dengan agama lain. Menghadiri perayaan natal bersama meski tidak disertai dengan keyakinan, namun secara ritual adalah termasuk perbuatan mencampuradukkan aqidah dan ibadah dengan aqidah dan ibadah agama lain.

Padahal Allah SWT jelas-jelas mengharamkan hal itu dalam firman-Nya : “Katakanlah hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah pula menjadi penyembahan Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku.” (QS. Al-Kafirun : 106)

“Janganlah kamu campur-adukkan yang hak denga yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedangkan kamu mengetahuinya.” (QS. Al-Baqarah : 42)

2. 2. Menghadiri perayaan natal sama dengan menuhankan Nabi Isa Dan orang yang menjadikan nabi Isa as sebagai tuhan telah ditetapkan sebagai orang kafir. Dan ikut merayakan natal bersama juga tidak bisa dilepaskan dari pengakuan atas ketuhanan nabi Isa as meski hanya secara simbolis. Karena itu tidak halal bagi muslim untuk menghadiri perayaan yang batil itu.

“Sesungguhnya telah kafir orang-orang yang berkata : Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putera maryam. Padahal Al Masih sendiri berkata: Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga dan tempatnya ialah neraka, tidak adalah bagi orang zhalim itu seorang penolong pun. (QS. Al-Maidha : 72)

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,

Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

———————————————————–

http://www.syariahonline.com/konsultasi/?act=view&id=4011

Salaman Tanpa Mengucap Selamat Natal

Assalamu alaikum wr.wb. Bagaimana hukumnya kita bersalaman dengan nonmuslim

pada saat mereka merayakan hari natal sedangkan kita tidak mengucapkan selamat natal pada mereka. terimakasih ustadz

Siswanto

Cengkareng

2003-12-04 11:29:42

Jawaban:

Assalamu `alaikum Wr. Wb.

Al-Hamdulillahi Rabbil `Alamin, Washshalatu Wassalamu `Alaa Sayyidil Mursalin, Wa `Alaa `Aalihi Waashabihi Ajma`in, Wa Ba`d Pada saat orang-orang nasrani merayakana natal, kita diharamkan untuk hadir dan mendekat ke tempat ibadah mereka. Karena kehadiran kita dalam peribadatan itu termasuk mencampur adukkan ibadah. Selain bisa dikenakan anggapan bahwa kita ikut menyukseskan acara tersebut. Jadi hindari saja tempat-tempat ibadah mereka pada saat itu dan juga jangan dekat-dekat dengan acara seperti itu bila dilakukan di luar tempat ibadah mereka.

Bila Anda bertemu mereka di luar konteks peribadatan, tidak ada salahnya Anda bersalaman secara umum dengan mereka. Karena bersalaman tidak menyalagi aturan dan batas aqidah. Yang diharamkan adalah ucapan selamat dan menghadiri perayaan natal itu sendiri. Kalau sekedar bersalaman di luar konteks acara natal, seperti di tempat umum, tempat kerja dan lainnya, tidak bisa dikaitkan dengan keridhaan atas ibadah mereka.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,

Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

———————————————————–

http://www.syariahonline.com/konsultasi/?act=view&id=4136

Dalil Dilarangnya Mengucap Selamat Natal

assalamualaikum, saya ingin tahu dalil apa yang melarang ucapan tersebut. saya mendapat email yang kira2 bunyinya seperti ini: Itu cuplikan kisah Natal dari Al-Quran Surah Maryam ayat 34. Dengan demikian, Al-Quran mengabadikan dan merestui ucapan selamat Natal pertama dari dan untuk Nabi mulia itu, Isa a.s. Terlarangkah mengucapkan salam semacam itu? Bukankah Al-Quran telah memberikan contoh? Bukankah ada juga salam yang tertuju kepada Nuh, Ibrahim, Musa, Harun, keluarga Ilyas, serta para nabi lainnya? Setiap Muslim harus percaya kepada Isa a.s. seperti penjelasan ayat di atas, juga harus percaya kepada Muhammad saw., karena keduanya adalah hamba dan utusan Allah. Kita mohonkan curahan shalawat dan salam untuk. mereka berdua sebagaimana kita mohonkan untuk seluruh nabi dan rasul. Tidak bolehkah kita merayakan hari lahir (natal) Isa a.s.? Bukankah Nabi saw. Juga merayakan hari keselamatan Musa a.s. dari gangguan Fir’aun dengan berpuasa ‘Asyura, seraya bersabda, “Kita lebih wajar merayakannya daripada orang Yahudi pengikut Musa a.s.” Bukankah, “Para Nabi bersaudara hanya ibunya yang berbeda?” seperti disabdakan Nabi Muhammad saw.? Bukankah seluruh umat bersaudara? Apa salahnya kita bergembira dan menyambut kegembiraan saudara kita dalam batas kemampuan kita, atau batas yang digariskan oleh anutan kita? Demikian lebih kurang pandangan satu pendapat. saya ingin mendengar komentar ustad, semoga kita semua mendapatkan manfaatnya

Nadhia

Cibubur

2003-12-09 22:50:54

Jawaban:

Assalamu `alaikum Wr. Wb.

Al-Hamdulillahi Rabbil `Alamin, Washshalatu Wassalamu `Alaa Sayyidil Mursalin, Wa `Alaa `Aalihi Waashabihi Ajma`in, Wa Ba`d Benar bahwa di dalam Al-Quran Al-Karim ada disebutkan salam sejahtera kepada Anbi Isa as. Lengkapnya ayat itu adalah ayat yang ada di surat Maryam dan disebutkan dua kali. Allah SWT berfirman yang artinya : Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab dan Dia menjadikan aku seorang nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku shalat dan zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali”. Itulah Isa putera Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya. (QS. Maryam : 30-36)

Untuk menjawab syuhbat atas kebolehan memberi ucapan selamat natal dengan hujjah ayat ini, ada beberapa hal yang perlu kita cermati dengan baik. Agar kita tidak terlalu terburu-buru mengambil kesimpulan hanya berdasarkan sebuah ayat yang makna dan konteksnya tidak tepat.

1. Di dalam Al-Quran Al-Karim memang terdapat banyak sekali ungkapan salam kepada para nabi. Namun adanya salam di dalam Al-Quran Al-Karim itu tidak bisa begitu saja diartikan bahwa kita boleh mengucapkan selamat natal pada hari yang selah-olah dianggap hari lahirnya Nabi Isa as. Karena salam di dalam Al-Quran Al-Karim itu bermakna ucapan selamat hari kelahiran setiap nabi. Buktinya umat para nabi itu tidak pernah disyariatkan untuk mengucapkan selamat hari lahir kepada masing-masing nabi mereka. Aalagi umat Islam, jangan mengucapkan selamat hari lahir kepada nabi-nabi yang lain, mengucapkan selamat hari lahir kepada nabi Muhammad SAW pun tidak disyariatkan.

Bila kita perhatikan ucapan salam sejahtera yang ada di dalam ayat itu, maka konteksnya adalah ucapan bayi Nabi Isa as untuk menjawab cemoohan dan ejekan orang-orang yang memusuhi Maryam, ibunda Nabi Isa. Sama sekali tidak mengandung hukum tentang sunnah atau masyru iyah untuk mengucapkan selamat sejahtera pada tiap ulang tahun kelahiran nabi Isa. Bahkan murid-murid nabi Isa (al-Hawariyyun) juga tidak pernah mengucapkan selamat ulang tahun atau selamat hari lahir kepada nabi mereka saat nabi Isa masih hidup. Apalagi setelah beliau diangkat ke langit.

2. Sehingga kalaulah mengucapkan selamat itu menjadi dibolehkan, maka seharusnya para shahabat terdekat nabi Isa yang melakukannya. Tapi kita sama sekali tidak mendapat keterangan tentang itu. Bahkan Nabi Isa sendiri tidak pernah memintanya atau mensyariatkannya.

3. Selain itu sebagaimana yang tertera dalam ayat itu, kalimat itu menunjukkan bahwa salam sejahtera pada kepada nabi Isa. Bukan pada hari kelahirannya dan bukan juga pada setiap ulang tahun kelahirannya. Ini dua hal yang sangat jauh berbeda. Bolehlah kita mengucapkan selamat natal bila bunyi ayatnya seperti ini : Wahai umat Islam, bila pemeluk kristen merayakan natal, maka ucapkanlah : selamat natal . Tapi demi Allah SWT yang Maha Agung dan Maha Benar, tidak ada sama sekali ayat itu dalam Al-Quran Al-Karim, tidak juga dalam Injil, Taurat ataupun Zabur. Ayat Al-Quran Al-Karim itu hanya mengatakan bahwa pada hari lahirnya, meninggal dan dibangkitkan semoga dirinya selamat dan sejahtera. Bunyinya adalah Salamun Alayya Semoga aku selamat atau semoga Allah mensejahterakan atau menyelamatkan diriku. Jadi bukan harinya yang sejahtera atau selamat, juga bukan ucapan selamat natal.

4. Dan bila kita buka kitab-kitab tafsir yang muktmad, kita dapati para mufassirin menjelaskan bahwa kalimat Selamat atasku yang dimaksud pada ayat itu adalah selamat dari gangguan syetan, yaitu pada tiga momentum : pada hari kelahiran, kematian dan kebangkitan kembali. Maksudnya bahwa syetan tidak bisa mengganggu nabi Isa as dan tidak bisa mencelakakannya terutama pada tiga momentum itu.

5. Kalaulah salam itu ditafsirkan sebagai ungkapan atau ucapan salam maka mengirim salam itu adalah salam kepada nabi Isa alaihis salam. Dan mengucapkan kepada para nabi dan rasul memang dibenarkan dan disyariatkan dalam syariah Islam. Dan sebagai muslim, kita mengakui kenabian Isa as serta posisinya sebagai nabi dan rasul. Untuk itu kita juga disunnahkan untuk mengucapkan salam kepada diri beliau.

Namun hal itu jelas jauh berbeda dengan memberi ucapan selamat natal kepada orang kafir. Karena kalangan nasrani itu melakukan kemusyirikan dengan menjadikan nabi Isa sebagai tuhan selain dari Allah SWT. Dan kemusyrikannya itu dirayakan dalam bentuk perayaan natal. Mereka dengan segala keyakinannya mengatakan bahwa pada tanggal 25 Desember itu TUHAN telah lahir. Ini adalah kemusyrikan yang nyata dan terang sekali. Dan mengucapkan selamat natal kepada mereka yang sedang merayakan kemusyrikan berarti ikut meredhai dan mendukung kemusyrikan itu sendiri.

6. Karena itu sudah terlalu jelas perbedaannya antara bersalawat kepada nabi Isa sebagai nabi dengan menyembah nabi Isa atau menjadikannya sebagai tuhan. Sehingga hanya mereka yang agak rancu pikirannya saja yang memahami ayat ini sebagai ayat yang memerintahkan kita untuk mengucapkan selamat natal kepada orang kafir.

7. Selain itu yang jelas tidak bisa diterima adalah penetuan hari lahir nabi Isa sendiri yang tidak didukung fakta ilmiyah atau pun dalil yang benar. Tidak ada data akurat pada tanggal berapakah beliau itu lahir. Yang jelas 25 Desember itu bukanlah hari lahirnya karena itu adalah hari kelahiran anak Dewa Matahari di cerita mitos Eropa kuno. Mitos itu pada sekian ratus tahun setelah wafatnya nabi Isa masuk begitu saja ke dalam ajaran kristen lalu diyakini sebagai hari lahir beliau. Padahal tidak ada satu pun ahli sejarah yang membernarkannya. Bahkan British Encylopedia dan American Ensyclopedia sepakat bahwa 25 bukanlah hari lahirnya Isa as.

8. Apalagi di tengah kancah tarik menarik antar muslim dengan nasrani dimana mereka telah menjadikan bangsa ini sebagai sasaran kristenisasi secara tegas dan terang-terangan. Maka segala upaya untuk memurtadkan umat Islam pastilah dilakukan. Dan salah satu caranya dengan mengadakan natal bersama atau mencari tokoh Islam yang membolehkan ucapan selamat natal. Dengan demikian, terbukalah pintu untuk pemurtadan bangsa yang sejak dahulu telah menjadi pemeluk Islam.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,

Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

———————————————————–

http://www.syariahonline.com/konsultasi/?act=view&id=4682

Ucapan Selamat Natal Boleh/nggak

Assalamu’alaikum wr wb

Alhamdulillah, Allahumma sholli ‘alaa Muhammad ama ba’d Ustadz saya mau bertanya apakah isi kandungan surat Al Maidah :82 karena dalam suatu buletin yang bernama CERMIN (Cerdas Militan Independen) di tempat saya disebutkan bahwa ayat tsb menjadi alasan diperbolehkannya mengucapkan selamat natal kepada kaum nasrani yang jika tidak salah diterbitkan oleh lembaga KAJIAN ISLAM SUNAN AMPEL.

Jazakumullah khoiron katsir

Wassalamu’alaikum wr wb

FK

Kediri

2004-01-02 19:12:28

Jawaban:

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh

Alhamdulillahi rabbil `alamin, washshalatu wassalamu `ala sayyidil mursalin, wa ba`du, Ada merupakan ciri dari syariat Islam untuk menghormati pemeluk agama lain serta memberikan mereka kebebasan untuk menjalankan agamanya. Bahkan Islam pun memerintahkan umatnya untuk hidup damai dan rukun dengan non muslim selama mereka memang menginginkan perdamaian (zimmi).

Kedekatan umat Islam dengan pemeluk nasrani memang sejak dahulu sudah terbangun. Dalm sirah nabawiyah bahkan kita menemukan bahwa shalat jenazah ghaib yang dilakukan pertama kali oleh Rasulullah SAW adalah untuk menyolatkan Raja Najasyi yang memerintah di umat nasrani. Semasa hidupnya, raja ini pernah memberikan perlindungan kepada umat Islam yang hijrah ke negerinya menghindari kejaran musyrikin Mekkah. Berikutnya, ketika Rasulullah SAW hijrah ke Thaif dan disambut dengan sambitan oleh penduduknya, yang menolong beliau dan memberikan perlindungan adalah seorang pemeluk nasrani dari Ninawa.

Dan dahulu ketika Rasulullah SAW masih kecil diajak oleh pamannya Abu Thalib berniaga ke Syam, seorang pendeta nasrani bernama Buhaira telah berusaha untuk melindunginya dari kejaran pemuka ahli kitab (yahudi) dan menyarankan kepada sang paman agar keponakannya itu segera dibawa

pulang ke Mekkah.

Dalam goresan pena sejarah berikutnya, kemesraan yang terjalin antara umat Islam dan pemeluk nasrani telah tertulis dengan tinta emas. Kita menyaksikan bagaimana Umar bin Al-Khattab menerima kunci Al-Aqsha dari pendeta nasrani yang secara penuh tsiqah (percaya) menyerahkannya kepada umat Islam. Bahkan agar tidak menyinggung perasan umat nasrani, Umar menolak untuk shalat di dalam Baitul Maqdis agar tidak disangka merubah tempat ibadah mereka menjadi masjid. Maka dibangunlah sebuah masjid baru di sampingnya dan terkenal dengan nama masjid Umar. Juga ada kisah bagaimana Panglima Abu Ubaidah Ibnul Jarrah yang mengembalikan pajak penduduk nasrani ketika beliau merasa tidak mampu memberikan perlindungan kepada mereka. Berikutnya, giliran Shalahuddin Al-Ayyubi yang telah memberikan kesempatan kepada tentara salib yang sedang kepayahan untuk merayakan natal di baitul maqdis. Sejarah kita punya sejuta kisah mesra dengan pemeluk nasrani. Ini lantaran umat Islam tahu dan mengerti betul ayat yang Anda tanyakan.

Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orangorang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya kami ini orang Nasrani”. Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, karena sesungguhnya mereka tidak menymbongkan diri.(QS. Al-Maidah : 82).

Namun tak satu pun dari sejarah itu yang mengisahkan bahwa umat Islam ikut-ikutan dalam perayaan ibadah mereka. Termasuk ikut memberikan selamat (tahni ah). Tak satu pun catatan sejarah itu menceritakannya. Mengapa ?

Karena umat Islam selama ini tahu bahwa ada garis pemisah yang teramat terang yang membedakan antara toleransi beragama dengan mencampuradukkannya.

Ikut merayakan natal dan memberikan ucapan selamat natal adalah bagian dari mencampur urusan aqidah dan ibadah. Lantaran perayaan natal itu merupakan iabdah ritual mereka. Sehingga bukan pada tempatnya untuk memberi selamat atas ibadah ritual mereka dan diharamkan buat umat Islam untuk menghadirinya. Sedangkan ayat yang Anda sebutkan itu sudah dijalankan dengan baik oleh umat Islam. Tentunya sama sekali tidak mengandung makna untuk memerintahkan menghadiri perayaan natal dan memberi ucapannya. Karena

kalau sudah sampai pada titik itu, ada ayat lain yang melarangnya. Ayat itu adalah surat Al-Furqan yang menceritakan tentang sifat ciri-ciri hamba Allah.

Dan orang-orang yang tidak menghadiri Az-Zuur, dan apabila mereka bertemu dengan yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui dengan menjaga kehormatan dirinya.(QS. Al- Furqan : 72).

Oleh sebagian ahli tafsir, makna ayat ini bukanlah bersaksi palsu, namun maknanya adalah menghadiri Az-Zuur. Ketika ditanya makna Az-Zuur, jawabannya adalah perayaan atau ibadah orang-orang musyrik. Natal adalah ibadah ritual dan merupakan shalat-nya pemeluk nasrani. Sehingga kita diharamkan menghadiri ibadah itu termasuk dilarang mengucapkan selamat atas ibadah yang mereka lakukan.

Semua itu lepas dari urusan bahwa mereka menyekutukan Isa as sebagai anak Tuhan, juga lepas dari urusan trinitas, juga lepas dari urusan bahwa mereka berperang atau berdamai dengan kita. Artinya, meski seandainya ada sekelompok sekte nasrani yang tidak menihankan Nabi Isa as dan tidak mentrinitaskan beliau, tetap saja kita diharamkan menghadiri natal itu. Karena masalahnya adalah natal itu merupakan ritual ibadah agama lain. Disinilah titik permasalahannya.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,

Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

———————————————————–

http://www.syariahonline.com/konsultasi/?act=view&id=4614

Tanggapan Ucapan Natal Seorang Tokoh

Assalamu’alaikum wr wb Sebagai awam saya jadi bingung soal ucapan Natal.

MUI mengharamkannya juga beberapa pertanyaan/jawaban di syariah online. Tapi tiba-tiba seorang Amien Rais tokoh Islam, mantan ketua organisasi Islam besar di negeri ini juga pimpinan partai dan pejabat negara mengucapkan selamat natal dan tahun baru di televisi. Masalah jadi mentah lagi, boleh (halal) atau tidak (haram) sih seorang muslim mengucapkan Natal ? Pertanyaan saya “Bagaimana tanggapan team pengasuh terhadap peristiwa ini?” Jazakallah khoron katsiro Wassalamu’alaikum wr wb

Djoko Sudarwo

Citeureup, Bogor

2004-01-02 19:18:49

Jawaban:

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh

Alhamdulillahi rabbil `alamin, washshalatu wassalamu `ala sayyidil mursalin, wa ba`du, Amien Rais adalah tokoh partai politik, sehingga alam pikiran beliau lebih kepada pertimbangan politis dan diplomasi. Beliau bukan tipe ulama yang mendalami urusan detail dari ajaran Islam, terutama masalah aqidah dan sendi-sendinya. Sehingga apa pun yang dilakukan oleh tokoh semacam Amien Rais tidaklah bisa dijadikan patokan dan landasan dalam

urusan beragama, terutama dalam urusan aqidah yang lebih rinci. Kalau yang melakukan hal itu adalah tokoh ulama atau anggota MUI misalnya, barulah Anda berhak merasa urusannya mentah lagi. Tapi kalau yang melakukannya sejenis Amien Rais, sama sekali tidak ada yang mentah lagi. Lantaran Pak Amien itu bukan rujukan untuk masalah Aqidah dan Syariah.

Sebaliknya, kalau Anda ingin mendalami urusan perpolitikan di negeri ini, silahkan Anda merujuk kepada beliau. Beliau adalah salah seorang pemain politik di negeri ini dan tentunya punya analisa politik sendiri. Meski beliau terkenal sebagai mantan ketua ormas Islam, sering ceramah di TV dan lahir dari kalangan Islam, tapi urusan aqidah dan syariah, bukan beliau rujukannya. Silahkan tanya kepada ahlinya. Allah SWT telah berfirman :

Maka bertanyalah kepada ahlaz zikri (orang yang mempunyai pengetahuan) jika kamu tidak mengetahui,(QS. An-Nahl : 43). Dalam urusan mengucapkan selamat natal, pak Amien bukan termasuk kategori ahlazzikri . Dalam hal ini, Majelis Ulama Indonesia adalah rujukan yang tepat. Dan kita tahu persis bahwa tokoh semacam Buya Hamka pun mengharamkan hal itu. Bahkan beliau rela keluar dari MUI ketika lembaga ini ditekan oleh penguasa di zaman Soeharto untuk mencabut fatwa haramnya.

Jadi mengucapkan selamat natal tetap haram hukumnya bagi umat Islam. Hukum ini tidak akan pernah berubah meski banyak tokoh dari kalangan muslim yang melanggarnya. Itu urusan masing-masing kepada Allah SWT dan terserah mereka bagaimana bertangung-jawab nanti di akhirat. Kita hanya berkewajiban untuk mengingatkan mereka agar tidak berlaku sembrono dan dan gegabah terutama ketika menyangkut masalah aqidah dan syariah. Semoga Allah SWT memberi hidayah kepada kita semua dan dijauhkan dari azab yang pedih di neraka. Amien, Ya Rabbal Alamien.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,

Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

———————————————————–

http://www.syariahonline.com/konsultasi/?act=view&id=5799

Hukum Memberi Ucapan Selamat Natal Kepada Orang

Kristen

Apakah hukumnya memberi ucapan selamat Natal kepada orang kristen? Kalau ada ayat Alquran atau hadist sebagai dasarnya mohon dituliskan. Terima kasih atas penjelasannya salam,

Hidayat Nataatmaja

Balikpapan

2004-02-18 10:00:16

Jawaban:

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh

Alhamdulillahi rabbil `alamin, washshalatu wassalamu `ala sayyidi mursalin, wa ba`du, Mengucapkan selamat natal itu sebenarnya punya makna yang mendalam dari sekedar basa-basi antar agama. Karena tiap upacara dan perayaan tiap agama memiliki nilai sakral dan berkaitan dengan kepercayaan dan akidah masing-masing.

Karena itu masalah mengucapkan selamat kepada penganut agama lain tidak sesedarhana yang dibayangkan. Sama tidak sederhananya bila seorang mengucapkan dua kalimat syahadat. Syahadatian itu punya makna yang sangat mendalam dan konsekuensi hukum yang tidak sederhana. Termasuk hingga masalah warisan, hubungan suami istri, status anak dan seterusnya. Padahal cuma dua penggal kalimat yang siapa pun mudah mengucapkannya.

Nah, dalam hal ini pengucapan tahni`ah (ucapan selamat) natal kepada nashrani juga memiliki implikasi hukum yang tidak sederhana. Benar bahwa muslimin menghormati dan menghargai kepercayaan agama lain bahkan melindungi bila mereka zimmi. Namun perlu diberi garis tengah yang

jelas. Manakah batasan hormat dan ridha disini. Hormat adalah suatu hal dan ridha adalah yang lain.

Kita hormati nasrani karena memang itu kewajiban. Hak-hak mereka kita penuhi karena itu kewajiban. Tapi memberi ucapan selamat, ini mempunyai makna ridha, artinya kita rela dan mengakui apa yang mereka yakini. Ini

sudah jelas masuk masalah akidah. Dan inilah yang menjadi batas tegas

disini.

Jangan sampai ada perasaan takut di hati para tokoh agama kita bila belum mengucapkan selamat natal, maka kita kurang toleran, kurang ramah dan kurang menghargai agama lain. Ini penyakit kejiwaan yang hingga dalam lubuk sanubari kebanyakan kita. Sehingga terkadang menjelma menjadi sikap yang kurang tepat. Bila kita tidak mengucapkan selamat natal bukan berarti kita tidak ingin adanya persaudaraan dan perdamaian antar penganut agama. Bahkan sebenarnya tidak perlu lagi umat Islam ini diajari tentang toleransi dan kerukunan.

Adanya orang nasrani di Republik ini dan bisa beribadah dengan tenang selama ratusan tahun adalah bukti kongkrit bahwa umat Islam menghormati mereka. Toh mereka bisa hidup tenang tanpa kesulitan. Bandingkan dengan negeri dimana umat Islam minoritas, bagaimana mereka diteror, dipaksa, dipersulit, dibuat tidak betah, diganggu dan dianiyaya. Dan fakta-fakta itu bukan isapan jempol. Hal itu terjadi dimana pun dimana ada umat Islam yang minoritas baik eropa, amerika, australia dan sebagainya. Jadi tidak mengucapkan selamat natal itu justru toleransi dan saling menghormati akidah masing-masing. Dan sebaliknya, saling memberi ucapan selamat justru menginjak-injak akidah masing-masing karena secara sadar kita melecehkan akidah yang kita anut.

Nabi Isa itu memang nabi kita juga dan kita wajib beriman atas kenabiannya. Tetapi dalam perayaan natal, memang ada masalah mendasar di luar urusan memberi ucapan selamat.

Pertama, masalah ketidak-benaran tanggal atau bulan kelahiran Nabi Isa as itu sendiri. Sehingga kalau toh kita ingin mengucapkan selamat natal pada saat seperti itu, benarkah 25 Desember itu adalah hari lahirnya ?

Kedua, kalaulah benar belai lahir pada tanggal itu, apakah bisa dibenarkan mengucapkan selamat atas hari lahir seorang nabi Isa as ? Padahal pada hari lahirnya nabi Muhammad sekalipun kita tidak diajarkan untuk saling mengucapkan selamat hari lahir. Bagaimana mungkin pada hari lahirnya Isa kita memberikan ucapan selamat ?

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,

Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

About rendyadamf
assalamu'alaikum wrwb..salam kenal buat teman - teman semuanya..gw rendy TTL : Bandung, 30-06-84. gw kuliah di UNISBA. gw nulis blog ini hanya untuk curahkan semua pemikiran gw..dan gw udah ubah haluan jalan hidup gw..menjadikan jihad sebagai satu-satunya jalan hidup gw!!

2 Responses to Met Natal Yach…

  1. Santo says:

    Ikut merayakan Natal, atau mengucapkan Selamat Natal, atau Merry Christmas, pada dasarnya mengakui hari kelahiran Yesus anak Allah. Sehingga kita sudah menduakan Allah. Dan yang demikian ini disebut perbuatan syirik, dan pelakunya biasa disebut musyrik.

    Saudaraku kaum muslimin, hindarilah hal ini, karena begitu kita terjatuh dalam kesyirikan, maka seluruh amal ibadah kita yang lalu akan terhapus. Dan perbuatan syirik ini adalah perbuatan yang tidak diampuni oleh Allah. Dan tempat kembalinya kekal di neraka. Na’udzubillah.

  2. rendyadamf says:

    setuju kawandh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: