Puasa Muharam Ada Gitu..

Help Me I'm Hungry

Help Me I'm Hungry

Fadilah saum muharam

Oleh : Teteng S, Iyus K, Syahidin, Usman A

Hari Asyura adalah hari kesepuluh bulan muharam. Di zaman jahiliyah orang-orang quraisy senantiasa melaksanakan saumpada hari itu, begitu pun dengan Rasulullah saw..Setelah beliau hijrah ke Madinah beliau masih mensauminya dan memerintahkan kepada kaum muslimin agar melaksanakan saum pada hari itu.

Setelah difardukannya saum bulan Ramadhan, Rasulullah saw memerintahkan “siapa yang ingin saum (asyura) saumlahm siapa yang tidak mau tinggalkanlah” Disamping itu Rasulullah saw bersabda “jika tahun yang akan dating aku masih hidup insya Allah aku aakan saum pada hari yang kesembilan”

Dalam beberapa hadis diterangkan , bahwa pelaksanaan saum bulam muharam itu bukan hanya tanggal 10 saja, melainkan mulai dari akhir bulan Dzulhijjah sampai tanggal sembilan muharam. Adapun hadis-hadisnya sebagai berikut :

Muhammad bin Nasr telah mengabarkan kepada kami (ia berkata) Abu Ali Al Hasan bin Ahmad telah mengabarkan kepada kami (ia berkata) Ibnu Abu Al Fawaris telah menceritakan kepada kami (ia berkata) Umar bin Ahmad Syahin telah menceritakan kepada kami, (ia berkata) Ahmad bin Syadan telah menceritakan kepada kami (ua berkata) Ahmad bin Abdullah Al Harawi,(ia berkata) qhatb bin Wahab telah menceritakan kepada kami dari Ibnu Juraij dariAtha dari Ibnu Abbas, ia mengatakan “Rasulullah saw bersabda “Barang siapa saum pada hari terakhir bulan dzulhijah dan hari pertama bulan Muharam, maka ia telah menutup tahun yang telah lalu dengan saum dan membuka tahun yang akan dating dengan saum. Maka Allah telah menjadikan kifarat dosa selama lima puluh tahun baginya”

Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnul Jauzi dalam kitabnya Al Maudhuat, II:198, As Suyuti, Al Laaliul mashnuah fil ahadisil maudu, II:108, As Syaukani, Al fawaidul Majmuah, 96, dan Al Kanani, Tanzihus Syariah, II:148.

Hadis ini daif karena pada sanadnya terdapat dua ornag yang daif :

1. Wahab bun Wahab bun Katsir bin Abdullah bin Zamah bin al-Aswad bin al-MUthalib bin Asad bin Abdul bin Qasi al-Qadhi abul Bakhtari al-Qurasyi al-Madani wafat tahun 200 H.

Imam Ahmad mengatakan “menyryt pandangan kami ia benar-benar pemalsu hadis. Al-Bikhari mengatakan “Sakatuu anhu (para ahli hadis tidak pernah mriwayatkan hadisnya). Mizanul I’tiodal, IV :354.

Muhammad bin Aup al Himsha berkata “Aku bertanya kepada Ahmad bin Hanbal tentang Abul Bakhtari, Ia menjawab “Mathruhul hadis” Muhammad bin Hamaweh bin al Hasan berkata “aku mendengar Abu Thalib Ahmad bin Humaid bertanya kepada Ahmad bin Hanbal,”apakah ia(Abil Bakhtari) salah seorang pemalsu hadis? Ia menjawab “benar!” Abul Bakhtari adalah seorang qadu pendusta, pemalsu hadis, ia meriwayatkan hadis-hadis yang tidak pernah diriwayatkan oleh seorangpun (para ahli hadis). Dan Ibnu Ma’in mengatakan “ia seorang pendusta” Al Jarhu Wat Ta’dil, IX:25.

2. Ahmad bin Abdullah al-Hawari, namanya Ahmad bin Abdullah bin Khalid bin Musa bin Faris bin Mirdas bin Nuhaik At-Taimi al-Abasi Abu Ali al-Jawaibari dari ahli Harat.

Ibnu Hiban mengatakan “ia mengatasnamakan hadis dengan rawi yang tsiqat yang mereka tidak pernah menceritakannya. Dan sungguh ia telah meriwayatkan beberapa ribu hadis dari ulama-ulama hadis yang tsiqat yang sedikit pun mereka tidak pernah meriwayatkannya. Ia memalsukan atas nama mereka” Al Majruhin, I:142.

Imam An Nasai dan Ad Daruquthni mengatakan. Ia seorang pendusta. Mizanul I’tidal, I:106.

Dari Anas bin Malik. Ia berkata “Rasulullah saw bersabda “barang siapa saum sembilan hari pada awal bulan muharam, Allah akan membangun Qubah dai Al Hawa (nama tempat) dari masa ke masa yang memiliki empat pintu” H.R Ibnu Jauzi, Al Maudhuat, II:198, Al Laaliul mahnuah fil ahadisil maudu’, II:108, Al Fawaidul Majmuah, :96, dan Tanzihus Syariah, II:148.

Hadis ini pun daif . Dalam sanadnya terdapat rawi bernama Musa At Thawil namanya ialah Abdul Malik bin Musa At Thawil, ia meriwayatkan dari Anas bin Malik Al Azdi mengatakan “Munkarul Hadis” Adhuafau wal matrukin Ibnul jauzi, II:152, Mizanul I’tidal, IV:414.

Keutamaan saum satu hari di bulan Muharam

Dari Ibnu Abas ia berkata “Rasulullah saw bersabda “barangsiapa saum dua hari pada bulan muharam baginya setiap hari (memiliki) tiga puluh kebaikkan. H.R At-Thabrani, Al Mu’jamul Kabur, XI:72

Hadis ini termaktub dalam kitab At-Taghrib wat Tarhib, II:114 Silsilatul Ahadisid Da’ifah wal Maudu’ah, I:412

Sedangkan dalam Ath0Thabrani/Mu’jamus Shaghir, II:164, Majma’uz Zawaid, III:190 dan Silsilatul Ahadisid Da’ifah wal Maudu’ah, I:410 terdapat perbedaan lafadz dengan redaksi “falahu bikulli yawmin tsalaatsuna yawman”.

Semua periwayatan di atas baik yang memakai lafadz hasanatan maupun yauman melalui tiga rawi yang bernama Sallam At Thawil, Laits bin Abu Sulaim dan Al Haitsam bin Habib yang dinyatakan daif oleh para ahli hadis.

A. Sallam At Thawil, nama lengkapnya ,Sallam bin salm At Thawil,As Sa’di , At Tamimi, AlMadain.

Ahmad bin Sa’ad bin Abu Maryam mengatakan daru Yahya bin Ma’in “ia rawi yang daif dan hadisnya tidak dicatat” Al-Bukhari mengatakan “para ahli hadis memperbincangkannya dan pada tempat yang lain ia mengatakan “para ahli hadis tidak meriwayatkannya” An-Nasai berkata “matruk” Pada kesempatan lain ia mengatakan ia rawi yang tidak tsiqat serta hadisnya tidak dicatat” Abdurrahman bin Yusuf bin Khirasyi berkata “Matruk”, dan pada tempat yang lain mengatakan “ia rawi pendusta” Tahdzibul kamal,XII:277-281. Al Jarhu wat ta’dil, IV:260. MIzanul I’tidal, II:175.

B. Laits bin Abu Sulaim.

Ibnu Sa’ad berkata “Laits bin Abu Sulaim seorang rawi yang salih, taat beribadah akan tetapi dalam urusan hadis ia daif. Ibnu Hiban mengatakan dalam kitabnya Al Majruhin, II:231. Laits bin Abu Sulaim termasuk rawi yang taat beribadah, tetapi di akhir ia mengalami kepikunan sehingga ia tidak mengetahui apa yang diriwayatkannya, ia menukar sanad-sanad, memarfukan hadis yang mursal, dan meriwayatkan hadis dari rawi yang tsiqat yang sebenarnya hadis tersebut tidak ada pada mereka. Itulah yang menjadi cirri kepikunannya sehungga Yahya alQathan, Ibnu Mahdi, Ahmad bin Hanbal, dan Yahya bin main tidak meriwayatkannya hadisnya.

As-Saji mengatakan “ia seorang rawi yang jujur tetapi ia lemah dalam urusan hadis, buruk hapalan, dan banyak salah. Ibnu Main mengatakan “Munkarul Hadis” Tahdzibul Kamal (tahqiq), XXIV:288.

C. Al Haitsam bin Habib

Muhammad Nashiruddin Albani mengatakan, dan AdDahabi menyatakan bahwa al Haisam merupakan seorang rawi yang tertuduh sering membuat Khabar (hadis) yang batil. Silsilatul ahadisil dhaifah wal maudu’ah, I:311 Mizanul I’tidal ,IV:320.

Dengan demikian, disyariatkannya saum sunnat pada bulam muharam itu hanya pada tanggal sembilan dan sepuluh saja. Adapun me;laksanakan saum akhir bulan Dzulhijjah sampai tanggal sepuluh bulan muharam dengan mengharap fadilah seperti diterangkan pada ketiga hadis di atas adalah bid’ah.

About rendyadamf
assalamu'alaikum wrwb..salam kenal buat teman - teman semuanya..gw rendy TTL : Bandung, 30-06-84. gw kuliah di UNISBA. gw nulis blog ini hanya untuk curahkan semua pemikiran gw..dan gw udah ubah haluan jalan hidup gw..menjadikan jihad sebagai satu-satunya jalan hidup gw!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: