Koq muhasabah kaya gini sich..

Trap My Soul In Deep Regret

Trap My Soul In Deep Regret

Kesalah kaprahan muhasabah

Oleh : Ibnu Muchtar, teteng Sopian, Syahidin

Bulan Muharam bagi sebagian orang menganggap momentum yang tepat untuk melakukan muhasabah, yaitu “menghitung masa hidup dan penggunaannya serta mengingat perjalanan hidup yang telah lalu, guna mengetahui kekurangan dan kealpaan yang akan menjerumuskan diri ke jurang kerugian dan kehancuran yang abadi”.

Secara praktik, acara muhasabah diisi dengan rangkaian kegiatan mabit (bermalam dimasjid), ceramah, mendengarkan bacaan alquran, tahajjud berjamaah, berdoa bersama-sama, renungan malam, dan lain-lain.

Acara tersebut mendapatkan sorotan dari beberapa pihak. Keadaan ini mendorong sebagian kaum muslimin untuk mengajukan pertanyaan diseputar itu. Mudah-mudahan pembahasan ini dapat menjadi jawaban yang diperlukan.

Pengertian Muhasabah.

Dalam Kamus besar bahasa Indonesia (1995:385 & 669), kata muhasabah diartikan introspeksi, yakni peninjauan atau koreksi terhadap perbuatan, sikap, dan kelemahan diri sendiri. Kata muhasabah walaupun terambil dari bahasa Arab, namun kata seperti itu tidak ditemukan dalam alquran, yang ditemukan adalah akar katanya, yaitu hisab dan husband yang pada mulanya berarti isti’malul ‘adad (menggunakan/menghitung bilangan). Lihat, al-Mufradat fi gharibil quran : 116, serta bentuk fi’ilnya (kata kerja) yaitu hasaba dan yuhasibu/yuhaasabu, yang pada mulanya berarti aqamal hisab (membuat penghitungan). Lihat al-munjid fil lughah wal a’lam 1986:132.

Alquran menggunakan kata hisab sebanyak 34 kanli dengan rincian sebagai berikut ;

v 2 kali menunjukan perhitungan waktu (…’adadassiniinalhisaab)

v 12 kali menunjukan sifat perhitungan pada hari kiamat ( hisaaban syadiidan)

v 6 kali menunjukan hari kiamat (yaumul hisab)

v 7 kali menunjukan jumlah yang tak terhingga (yaujuqumayyasyaa u bighaerihisaab)

v 5 kali menunjukan tanggung jawab menghitung amal (‘alaina hisaabuhum)

v 1 kali menunjukan perhitungan amal pada hari kiamat (laa yarjuuna hisaaban)

v 1 kali menunjukan balasan yang banyak (‘atha a hisaaban)

Adapun kata husband dipergunakan sebanyak 3 kali, 2 kali menunjukan perhitungan waktu (syamsa wal qomaro husbana).1 kali menunjukan petir (husbaana minassamaa i).

Sedangkan dalam bentuk fi’il dipergunakan sebanyak 3 kali (2kali bentuk mudhari/ yuhaasabuh 1 kali bentuk madhu/ haa sabnaa. Ketiganya menunjukan perhitungan amal pada hari kiamat.

Demikian pula dalam hadis nabi, kata muhasabah tidak ditemukan. Yang ditemukan hanya bentuk fi’ilnya, sebagaimana terlihat pada riwayat berikut ini :

Dari Ausyah ia berkata “saya mendengar Rasulullah saw berdoa pada sebagian salat ya Allah hisablah aku dengan hisaban yang ringan “ H.R Ibnu Khuzaimah.

Hisab pada hadis ini pun mengandung pengertian perhitungan amal pada hari kiamat.

Keterangan-keterangandi atas menunjukan bahwa kata muhasabah (isim) tidak dikenal dalam alquran dan hadis Rasul. Yang dikenal hanya bentuk fi’ilnya dengan pengertian perhitungan Allah terhadap amal manusia pada hari kiamat. Karena itu, mempergunakan kata muhasabah dan bentuk fi’ilnya sebagai acara “menghtiung masa hidup dan penggunaannya” tidak sesuai dengan makna Alquran, sunnah, dan bahasa Arab.

Sebagian orang berpendapat, walaupun kata muahasabah tidak disebutkan secara lafzhi (tejs), namun secara makna hal itu diterangkan oleh Alquran.

hai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allahm dam hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Q.S Al-Hasyr : 18

Menurut mereka, ayat ini mendorong setiap muslim agar sering membuka lembaran catatan amal dan memperhatikan titik-titik kelemahan dan kekurangannya, Walaupun banyak usaha yang telah dicurahkan seorang muslim untuk berbuat baik dan bemar tetapi penilaian hakiki tidak akan dia ketahui kecuali pada saat menghadap kepadaNya..Lihat Muahasabah menurut Alquran dan sunnah Ma’had Alquran bendung, 1999:8.

Menurut mereka, selain diungkap dalam Alquran, muhasabah dijelaskan pula dalam hadis-hadis, diantaranya :

Dari Abu Barzah al-Islami ra ia berkata “Rasulullah saw bersabda “tidak melangkan dua kaki seorang hamba hingga dia ditanya tentang umurnya dalam hal apa dia kerjakan, dan tentang hartanya dari mana dia dapatkan dan dalam hal apa dia keluarkan, dan tentang jasadnya dalam hal apa dia (gunakan sampai) hancur. H.R At-Tirmidzi.

Dari Syadad bin Aus ia bekata “rasulullah saw bersabda “al-kayyis(yang memahami akibat) adalah orang yang menghisab dirinya dan beramal bagi sesuatu setelah mati, dan al-ajiz (yang lemah) adalah orang yang menjadikan dirinya pengikut hawa nafsunya, dan ia berangan-angan mendapatkan ampunan dari Allah” H.R At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad.

Demikian sebagian alasan yang dijadikan dasar dalam penetapan istilah dan acara muhasabah.

Tanggapan

Sebenarnya ayat-ayat Alquran dan hadis rasul yang dijadikan alasan oleh penyelenggara acara muhasabah sangat beragam, bahkan terkesan dipaksakan, yaitu hadis-hadis yang tidak ada hubungannya dengan muhasabah pun dijadikan dalil. Namun yang perlu ditanggapi di sini hanya ayat dan hadis-hadis di atas, karena dijadikan acuan pokok oleh mereka.

Mempergunakan ayat 18 surat al-Hasyr sebagai dalil muahasabah dalam istilah mereka sendiri. Sebab ayat tersebut bukan mendorong setiap muslim agar sering membuka lembaran catatan amal dan memperhatikan titik-titik kelemahan” melainkan mendorong agar banyak beramal” hai tiu sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah saw kepada para sahabatnya :

Dari Jarir ia berkata “…lalu beliau berdiri, kemudian masuk rumahnya, dan pergi ke masjid melaksanakan salat dzuhur. Kemudian naik mimbar, lalu bertahmaid dan mamujiNya, kemudian bersabda “”ama ba’du, sesungguhnya Allah telah menurunkan ayat pada kitabNya (ya ayyuhalladzina amanu..)bersedekahlah sebelum kamu tidak dapat bersedekah, bersedekahlah sebelum terhalang antara kamu dan sadaqah. Seseorang bersedekah dengan dinar, dirham, gandum, dan kurma, sedekah itu tidak akan dianggap enteng sekecil apapun meski hanya sebiji kurma. Seorang laki-laki dari kaum Anshar berdiri membawa bungkusan pada tangannya, kemudian diserahkannya pada Rasulullah saw. Ketika beliau diatas mimbar. Maka melihat kegembiraan pada wajanya, kemudian beliau bersabda” siapa yang melakukan sunnah hasanah dalam Islam, lalu diamalkan oleh orang lain, maka ia mendapat ganjaran seperti yang didapat oleh orang yang mengamalkannya, tanpa saling mengurangi pihak masing-masing, dan siapa yang melakukan sunah sayyiah, lalu diamalkan oleh orang lain, maka ia memikul dosa seperti yang didapat oleh orang yang mengamalkannya, tanpa saling mengurangi dosa-dosa masing-masing” kemudian mereka berpencar dan kembali membawa sedekah menurut apa yang mereka miliki, lalu terkumpul kemudian membagikan kepada fakir miskin yang ada diantara mereka” H.R Muslim, Ahmad, An-Nasai, Ibnu Majah, Ibnu Abu Syaibah, dan Ibnu Mardawaih.

Berdasarkan hadis ini, ayat di atas tidak ada hubungannya dengan muhasabah. Karena itu, menggunakan ayat ini sebagai dalil acara muhasabah sebenarnya bukan mengamalkan dalil, melainkan mendalili amal. Kemudian hadis Abu Barzah di atas tidak dapat dijadikan dalil muhasabah. Karena diriwayatkan melalui hadis yang daif (lihat Tuhfatul Ahwadzi, VII:100) Menurut Imam Ahmad dan An-Nasai “dia matrukul hadis”. Menurut Iamm Al-Bukhari “hadis-hadisnya sangat munkar dan tidak teranggap” (Tahdzibul Kamal, VI:466-467). Sedangkan pada riwayat Ad-Darimi terdapat rawi Abu Bakr bin Ayas bin Salim. Menurut At-Tarmizi dan Ibnu Sa’ad, ia katsirul galath (banyak salah dalam periwayatan). Tahdzibul kamal. XXXIII:135.

Hadis tersebut diriwayatkan pula oleh At-Thabrani pada kitab al-Mu’jamul kabir, hadis no 7141, dan al-mu’jamul shagir, hadis No 863 melalui rawi bernama Amr bin Bakr as-saksaki. Menurut Ad-dzahabi hadis-hadisnya menyerupai maudhu (palsu) ) (tahdzibul Kamal, XXI:551) Ibnu Hajar berkata “ia matruk” (Taqribut Tahdzib, I:436). Syu’aib al-Arnauth dkk, menyatakan ia matruk (Tahqiq musnad Ahmad, XXVII:350)

Demikian pula hadis Syadad bin Aus, karena diriwayatkan melalui rawi Abu Bakar bin Abu Maryam. Menurut Abu Zur’ah, ia munkarul hadis. Menurut Ad-Daruquthni, ia matruk. (Tahdzibul Kamal, XXXII:109-110).

Selain daif, kedua hadis tersebut tidak ada hubungan dengan acara muhasabah, karena muhasabah, karena Imam At-Tirmidzi menmpatkannya pada(beberapa bab tentang kiamat) bukan muhasabah.

Di samping itu, ada beberapa riwayat yang sering dijadikan dalil muhasabah, salah satunya yang paling popular adalah perkataan yang dihubungkan kepada Umar bin Khatab, sebagai berikut m:

Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab

H.R Ibnu Abu Syaibah, al Mushanaf, V:96; Ibnul Mubarak, Al-Zuhdu, I:103; Abu Nu’aim, Hilyatul Auliya, I:52

Perkataan di atas dihubungkan kepada Umar bin Khatab tidak benar, sebab riwayat tersebut daif. Pada riwayat Ibnu Abu Syaibah terdapat rawi yang mubham (tidak jelas namanya, apalagi identitasnya) hanya disebut (seseorang). Sedangkan riwayat Ibnul Mubarak sanadnya(terputus), karena Malik bin Migwal tidak tercatat pernah menerima dari Umar bin Khatab (lihat, Tahdzibul kamal, XXVII:159-160). Demikian pula dengan riwayat Abu Nu’aim, karena Tsabit bin al-Hajjaj tidak tercatat pernah menerima dari Umar bin Khatab. (lihat, tahdzibul Kamal, IV:351-352)

Disamping itu, oleh Ibnu Abu Syaibah perkataan Umar ini ditempatkan pada bab “maa dzukira ‘annabiyyinaa fizzuhdi”

Demikian pula oleh Ibnul Mubarak pada kitabnya yang berjudul Az-Zuhud.

Adapun rangkaian kegiatan pada acara muhasabah, seperti ceramah, tahajud berjamaah, berdoa bersama dan lain-lain, tidak dicontohkan Rasul dan para sahabatnya.

Marilah kita perhatikan fatwa Imam Asy-syafi’I kalaulah acara dan upacara itu suatu yang baik, tentu Nabi dan para sahabat beliau labih dahulu melakukannya.

About rendyadamf
assalamu'alaikum wrwb..salam kenal buat teman - teman semuanya..gw rendy TTL : Bandung, 30-06-84. gw kuliah di UNISBA. gw nulis blog ini hanya untuk curahkan semua pemikiran gw..dan gw udah ubah haluan jalan hidup gw..menjadikan jihad sebagai satu-satunya jalan hidup gw!!

One Response to Koq muhasabah kaya gini sich..

  1. muhammad hanafiah says:

    ya ALLAH terimalah kami ini sebagai hambamu,tiada yang lain selain ENGKAU ya ALLAH yang menerima kami sebagai hamba-MU.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: