18. Sujud

Cara sujud

Cara sujud

Posisi tumit saat sujud

Posisi tumit saat sujud

Sujud dan permasalahannya

Sujud berasal dari kata sajada yasjudu yang artinya merendah dan tunduk. Hal ini secara umum berlaku bagi semua makhluk Allah swt, yaitu manusia, malaikat, jin, binatang dan makhluk-makhluk jamadat (benda-benda hidup dan mati) di seluruh langit dan bumi. Oleh karena itu banyak sekali ayat-ayat yang menerangkan hal itu, antara lain :

15. Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari.

Q,S. Ar Rad : 15

5. Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan.

6. Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan kedua-duanya tunduk kepada nya.

Q.S Ar Rahman : 5-6.

49. Dan kepada Allah sajalah bersujud segala apa yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan (juga) para ma]aikat, sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri.

Q.S An Nahl : 49.

Dan sujud yang dimaksud ini adalah sujud taskhir, yaitu tunduk patuh tanpa penolakan. Maka apabila kita menyaksikan gunung yang meletus, burung yang terbang, angin yang bertiup dan kejadian-kejadian alam lainnya yang menguntungkan maupun yang merugikan manusia adalah merupakan wujud akan bentuk-bentuk kepatuhan dan ketaatan alam itu kepada Allah yang telah menciptakannya.

Adapun sujud khususnya bagi manusia berkaitan dengan pahala, maka sujudnya disebut sujud bittakhsyir diberi kemampuan memilih antara menaati dan menolaknya. Maka dari sujud secara umum dalam arti tunduk dan patuh terhadap semua perintah Allah swt serta menjauhi laranagn-larangannya dan sujud dalam arti posisi tertentu di dalam shalat yang harus dilaksanakan dengan benar dan sungguh-sungguh.

Allah berfirman :

62. Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia). Q.S An Najm : 62.

Sujud adalah posisi paling rendah dan paling merendah di dalam salat, sehingga sujud mempunyai keistimewaan dalam hal amat terperinci dan jelas dalam penggambaran bentuk dan posisinya, dari mulai kening sampai tumit dan jari-jari kaki. Sehingga bagi yang melakukan salat tetapi belum menyempurnakan sujudnya maka salatnya tidak sempurna. Hal ini dinyatakan oleh Rasulullah saw di dalam hadis sebagai berikut :

dari Abu Masud al-Anshari ia berkata Rasulullah saw telah bersabda salat belum sempurna sebelum yang salat itu menegakkan punggungnya ketika ruku dan sujud H.R Al-Khamsah

Anggota-anggota sujud

Anggota-anggota badan yang disunahkan untuk menyentuh tempat sujud adalah kening, hidung, kedua telapak tangan, kedua lutut dan ujung kaki. Terdapat beberapa hadis yang menerangkan hal tersebut, yeitu :

Dari Al-Abas bin Abdul Muthalib bahwasanya ia mendengar rasulullah saw bersabda Apabila seorang hamba sujud maka turut serta sujud bersamanya tujuh anggota : wajah, kedua telapak tangan, kedua lutut dan kedua kakinya H.R Al-Jamaah kecuali Al-Bukhari

Hadis-hadis ini sangat jelas sekali merinci anggota-anggota sujud, yang artinya anggota badan yang disunahkan menyentuh tempat sujud. Pada hadis ini pun diterangkan oleh Al Abas bin Abdul Muthalib menggunakan kata-kata wajah, sedangkan menurut bahasa wajah adalah muka yang selain kening dan hidung tentu saja pipi, bibir, mata adalah termasuk bagiannya. Tetapi tentu saja tidak mungkin semua itu secara bersamaan dapat menyentuh tempat sujud.

Di dalam hadis yang disampaikan oleh Ibnu Abas berikut dijelaskan bahwa yang dimaksud wajah itu ternyata kening dan hidung.

dari Ibnu Abas ia mengatakan Nabi saw diperintah agar sujud di atas tujuh anggota sujudnya serta tidak terhalang oleh rambut maupun pakaian, yaitu kening, kedua tangan, kedua lutut dan kedua kakinya H.R Al-Bukhari dan Muslim

Tetapi dalam riwayat masih melalui sahabat Ibnu Abas Rasulullah saw menjelaskannya dengan terang :

Nabi saw telah bersabda saya diperintah untuk sujud di atas tujuh anggota sujud atas kening lalu beliau berisyarat pada wajahnya, yaitu hidungnya, dua tangannya, dua lututnya serta dua kakinya. Muttafaq alaih

Maka berdasarkan ketiga riwayat di atas jelaslah bahwa bersujud di dalam salat itu hendaklah menyentuh kening, hidung, kedua telapak tangan, kedua lutut, dan kedua ujung kaki ketempat sujud.

Tuma’ninah di dalam sujud

Tuma’ninah dalam sujud merupakan hal yang sangat penting dan tidak boleh diabaikan sedikitpun. Pada edisi sebelumnya telah diterangkan anggota-anggota sujud, yaitu anggota badan yang wajib menyentuh tempat sujud apabila melakukan sujud. Hal ini mesti benar-benar diperhatikan dengan seksama karena menyangkut pernyataan Rasulullah saw yang menyatakan “tidak sempurna suatu salat apabila seseorang (yang melakukannya) tidak menegakkan punggungnya didalam ruku dan sujud. Di dalam hadis lain dari sahabat Anas r.a Rasulullah saw memerintahkan :

Dari Anas ia mengatakan “Rasulullah saw telah bersabda tegakanlah kalian didalam sujud..” H.R Muslim

Di dalam hadis lain riwayat Ahmad and bukhari diterangkan sebagai berikut :

dari Hudzaifah bahwasanya ia melihat seseorang yang tidak menyempurnakan ruku dan sujudnya. Maka ketika orang itu telah selesai salatnya ia memanggilnya seraya berkata kepadanya “Engkau belum salat, dan jika engkau mati, tidak pada fitrah manusia yang Allah tetapkan kepada Muhammad saw “ H.R Ahmad dan Al-Bukhari

Bahkan di dalam hadis lain Rasululah saw menyebut orang yang tidak menyempurnakan sujudnya atau tidak tuma’ninah itu dengan celaan yang cukup menghinakan, yaitu pencuri yang paling jahat

dari Abu Qatadah ia berkata “Rasulullah saw telah bersabda ‘seburuk-buruk manusia dalam cara mencuri adalah yang menduri dari salatnya; Mereka bertanya, wahai rasulullah, bagaimana mencuri dari salatnya it? Beliau menjawab ‘yaitu yang tidak menyempurnakan ruku dan sujudnya” H.R Ahmad

Berdasarkan keterangan-keterangan ini jelas sekali bahwa di dalam salat tegak atau I’tidal itu bukan hanya ketika duduk atau berdiri saja melainkan di dalam ruku dan sujud pun tetap musali (orang yang sedang melakukan salat) itu dituntut I’tidal. Selanjutnya marilah kita lihat apa yang dimaksud dengan I’tidal dalam sujud.

Di dalam hadis-hadis lain Rasulullah saw menjelaskan dengan menggunakan kata-kata tuma’ninah antara lain hadis riwayat Muttafaqalaih yang bersumber dari sahabat Abu hurairah tentang Almusi’u salatuhu (yang masih buruk salatnya)

Dari Abu Hurairah bahwa sesungguhnya Rasulullah saw masuk ke mesjid, lalu masuk pula seorang laki-laki lalu salat. setelah itu ia mendatangi rasulullah saw dan bersalam kepada beliau. “Rasulullah saw bersabda ‘kembalilah dan ulangi salatnya, karena sesungguhnya engkau belum benar-benar salat”…Demi Allah yang telah mangutusmu dengan kebenaran, aku belum dapat melakukan salat lebih baik dari ini, ajarilah aku. Mka Rasulullah saw bersabda “apabila engkau berdiri untuk salat…kemudian t\ruku lah sampai tuma’ninah rukumu kemudian berdirilah sampai benar-benar tegak, kemudian sujudlah sampai benar-benar tuma’ninah sujud, kemudian bangkitlah sampai benar-benar tuma’ninah duduk, lalu sujudlah sampai benar-benar tuma’ninah..”H.R Muttafaqalaih

Alusi’u salatuhu (orang yang buruk salatnya) oleh Rasulullah saw diperintahkan mengulangi lagi salatnya sampai tiga kali bahkan sampai orang itu merasa putus asa dan mengakui sementara ini itulah salat yang terbaik yang dapat dilakukannya. Hal ini dapat diketahui dari perkataannya “saya belum dapat melakukan salat yang lebih baik dari ini” maka akhirnya oleh Rasulullah saw ditunjukkan bahwa wajib memperhatikan antara lain ruku dan sujud, dan hendaklah dilakukan dengan tuma’ninah. Untuk dapat tuma’ninah dalam sujud hendaklah diperhatikan beberapa perkara sebagai berikut :

1. Berangkat dari tujuh anggota sujud ketika menyentuh tempat sujud mulailah dengan kedua lutut lalu kedua tangan dan selanjutnya muka (kening dan hidung). Adapun yang dimaksud kaki sebagai anggota sujud ialah ujung kaki dan jari-jarinya duhadapkan kekiblat

Aku kehilangan Rasulullah saw dari tempat tidur pada suatu malam, lalu aku mencarinya di mesjid, maka tanganku menyentuh bagian perutkedua telapak kaki beliau dalam keadaan berdiri, dan beliau berdoa “Ya Allah! aku berlindung kepada RidhaMu dari kemurkaanMu dan kepada ampunanMu dari siksaanMu, dan aku berlindung kepadaMu aku tidak dapat menghitung pujian atasMu sebagaimana Engkau memuji diriMu” H.R Muslim

2. Posisi tangan sejajar dengan bahu. Posisi tangan, tangan disini maksudnya telapak tangan karena merupakan bagian anggota sujud. Ketika sujud ditempatkan sama dengan ketika takbiratul ihram, yaitu bersejajar dengan bahu.

Abu Humaid berkata “bahwasanya Rasulullah saw apabila sujud beliau menempatkan hidung dan dahinya di bumi (di tempat sujud) dan meregangkan dua tangannya dari dua rusuknya dan beliau menyimpan dua telapak tangannya sejajar dengan dua bahu-bahunya” H.R Tirmidzi

Setelah kedua tangan ditempatkan bersejajaran dengan dua bahu, selain kadua sikut direnggangkan dari kedua belah rusuk, sikut itu diangkat dari tempat sujud agar tidak menyerupai anjing atau serigala yang sedang berderum, yaitu menghamparkan kedua hasta mulai dari sikut sampai ujung-ujung jari tangannya dan merapatkan kedua sikutnya pada dua belah rusuknya. Dengan demikian hal ini sejalan dengan keterangan-keterangan yang tidak menyebut sikut sebagai anggota sujud yang menyentuh tempat sujud.

Dari Anas ia berkata “Rasulullah saw bersabda ‘tegakanlah kamu dalam sujud dan janganlah seorang di antara kamu menghamparkan dua hastanya seperti terhamparnya kedua tangan anjing sedang berderum” H.R Muslim

Di dalam keterangan lain disebutkan :

Dari Al-Barra ia berkata “Rasulullah saw bersabda ‘apabila engkau sujud tempatkanlah dua telapak tanganmua dan angkatlah dua sikutmu” H.R Muslim

Merapatkan kedua tumit waktu sujud

Pada waktu sujud Rasulullah saw merenggangkan kedua paha dan lutut.Diterangkan oleh Abu Humaid tentang sifat Rasulullah saw

Dari Humaid sifat (salat) Rasulullah saw ia mengatakan “dan apabila (nabi) sujud, beliau merenggangkan kedua pahanya tanpa membebankan perutnya pada kedua pahanya sedikitpun” HR Abu Daud

Imam Asy-syaukani mengatakan “maksudnya ialah merenggangkan kedua paha, kedua lutut dan kedua tumit. Dan Kawan-kawan Imam Asy-syaukani menerangkan bahwa renggangnya kurang lebih satu jengkal” Nailul Authar, II:271

Untuk selanjutnya marilah kita perhatikan pendapat sementara orang yang menyatakan bahwa ketika sujud meskipun kedua paha, lutut dan betis direnggangkan, secara khusus kedua tumit ini dirapatkan.

Pendapat demikian beralasan dan keterangan sebagai berikut

1. Dari Urwah bin Zubair dari Aisyah osteri Nabi Nabi saw berkata padahal saya diatas tempat tidur. Laludapatkan beliau sedang sujud, beliau menghadapkan ujung jari-jari (kaki) kekiblat..” HR Ad-Daruquthni dan al-Baihaqi

Hadis ini sangat jelas dan tegas apa yang dikabarkan oleh aisyah bahwa ketika sujud kedua tumit Rasulullah dirapatkan.

2. Hadis lain masih dari Aisyah, beliau menerangkan:

Aku kehilangan Rasulullah saw dari tempat tidur pada suatu malam. Lalu aku mencarinya (meraba-raba karena gelap) di mesjid, maka tanganku menyentuh bagian perut (dampal) kedua telapak kaki beliau dalam keadaan tegak berdiri. Dan beliau berdoa “Ya Allah!Aku berlindung kepada ridhaMu dari kemurkaanMu dan kepada ampunanMu dari siksaanMu, dan aku berlindung kepadaMu dariMu, aku tidak dapat menghitung pujian atasMu sebagaimana Engkau memuji atas diriMu” HR Muslim

3. Aku kehilangan Rasulullah saw pada suatu malam. Lalu aku mencarinya di mesjid. Ternyata beliau sedang sujud dan kedua telapak beliau ditegakkan, dan beliau berdoa…”HR Abu Daud

4. Aku kehilangan Rasulullah saw pada suatu malam, mulailah aku mencarinya dengan tanganku m,aka tanganku menyentuh bagian perut (dampal) kedua telapak kaki beliau dalam keadaan tegak berdiri, dan beliau berdoa…HR. Ibnu Khuzaimah.

Jika pada hadis pertama dengan sharih, terang dan jelas menggunakan kata sajidan rashshan aqibaihi (beliau sujud dengan merapatkan kedua tumitnya), maka pada hadis (2) menggunakan kata-kata faltamatsu fa waqa’at yadi ala batni qadamaihi (lalu aku mencarinya dimesjid, maka tanganku menyentuh bagian perut kedua tumit beliau dalam keadaan tegak berdiri) Penjelasan Aisyah ini juga dapat dipaham kedua tumit Rasulullah saw itu rapat. Buktinya kedua tumit dapat teraba oleh Aisyah dengan satiu tangan. Dan apabila direnggangkan, dengan hanya satu tangan tentulah tidak akan teraba kedua-duanya. Demikian pula dua hadis selanjutnya masih keterangan Aisyah yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Ibnu Majah

Sanggahan-sanggahan

Tentang hadis yang matannya sharih (terang) riwayat Ad-Daruquthni dapat kami jawab sebagai berikut:

Hadis ini dhaif karena pada sanadnyaterdapat seorang rawi bernama Yahya bin Ayyub Al Ghafiqi. Adapun tentang keterangan jarh (kritikan) lengkapnya insyaAllah pada bagian takhrij hadisnya.

Adapun hadis riwayat Muslim saja shahih sanadnya tetapi matannya dapat dipahami bahwa Rasulullah saw merapatkan kedua tumitnya bila yang dujadikan alasan bahwa kedua tumit itu dapat teraba oleh Aisyah dengan hanya satu tangan dan dengan saru kali raba. Dan dapat direnggangkan, dengan hanya satudan satu sentuhan tentulah tidak akan teraba kedua-duanya. Tetapi juga dapat dipahami tidak akan merapatkan kedua tumitnya jika kedua paha dan kedua lutut direnggangkan tentu saja kedua betis akan berenggangan, Akibatnya demikian pula kedua tumit akan saling berenggangan, dan yang disebut iltimas(meraba-raba) untuk mencari sesuatu menunjukan bahwa pada saat itu gelap dengan demikian tidak meustahil rabaan Aisyah itu beberapa kali

Karena ihtimalat (beberapa kemungkinan) pemahaman yang terdapat pada hadis itu tentu saja hadis riwayat Muslim Ini tidak dapat dijadikan hujjah tentang rapatnya kedua tumit pada waktu sujud

Masih sebatas kemungkinan tidak dapat dijadikan dalil

Maka oleh karena hanya merupakan ihtimal dan perlu kepada adanya qarinah atau dalil lain yang menegaskannya. Sedangkan kaa-kata merapatkan kedua tumit bukan merupakan keterangan Aisyah melainkan idraj (tambahan) dari rwai yang dhaif, yaitu Yahya bin Ayyub AlGhafiqi yangmemang sering salah dalam meriwayatkan hadis bahkan sering sekali idtirab (goyah), artinya ucapannya tidak tetap dan tidak dapat dipegang. Untuk lebih jelasnya perhatikan takhrij hadis dan penjelasan berikut ini :

Imam ad-daruquthni telah menyususn suatu bab untuk hadis diatas dengan judul “Dhomul ‘Aqibaini fis sujud” artinya menyatukan dua telapak kaki dalam sujud” beliau berkata “telah mengabarkan kepada Abu Thahir, telah mengabarkan kepada kami abu bkar, telah mengabarkan kepada kami Ahmad al kufi- ia tinggal di fushtah-kaduanya berkata “telah menceritakan kami Ibnu Abi Maryam, telah mengabarkan kepada kami Yahya bin Ayyub, telah menceritakan kepada saya Amarah bin Ghaziyyah, ia berkata “saya mendengar Abu nadir berkata “saya mendengar Urwah bin al-Zubair berkata Aisyah berkata (sebagaimana dalam hadis diatas) (sunan ad-Daruquthni I:328)

Hadis tersebut diriwayatkan pula oleh imam baihaqi dan al hakim. Di dalam kitab sunannya bab “hadis tentang menyatukan kedua telapak kaki dalam sujud” al baihaqi menyatakan Abu Abdillah al-hafidzh telah mengabkan kepada kami. Abu Abbas Muhammad bin Ahmad al-mahbubi telah mengabarkan, Abubakar Muhammad bin Isa ath-thurusi telah menceritakan kepada kami, Said bin Abi Maryam telah menceritakan kepada kami, Yahya bin Ayyub telah mengabarkan, Amarah bin Ghaziyah telah menceritakan kepada saya ia berkata “saya berkata Abu Nadir Berkata “saya mendengar Urwah bin al-Zubair berkata Aisyah berkata (sebagaimana hadis diatas)” As-sunanul kubra II: 116

Sanad Imam Daruquthni diatas dipergunakan oleh Imam Ibnu Khuzaimah dalam meiwayatkan hadis tersebut, dan ditempatkan dalam bab yang sama.

Sepanjang pengetahuan penulis, hadis dengan redaksi deperti diatas tidak tercatat dalam kitab shaihain, ashabus sunan, dan musna d ahmad. Dengandemikian hadis tersebut tidak dikenal oleh ahli-ahli hadis lainnya. Sedangkan keterngan yang ada sebagaimana diterangkan oleh aisyah adalah sebagai berikut:

Aku kehilangan Rasulullah saw, Dari tempat tidur pada suatu malam. Lalu aku mencarinya di mesjid, maka tanganku menyentuh bagian perut (dampal) kedua telapak kaki beliau keadaan tegak berdiri, dan beliau bedoa “Ya Allah! Aku berlindung kepada RidhaMu dari kemurkaanMu dan kepada ampunanMu dari siksaMu dan aku berlindung kepadaMu darMu, aku tidak dapat menghitung pujiam atasMu sebagaimana Engkau memuji atas diriMu” HR Muslim

Jelas, hadis shahih ini tidak dengan tambahan merapatkan kedua tumit.

Kedua hadis diatas diriwayatkan pula oleh imam Nasai dan Ibnu Khuzaimah dengan redaksi yang berbeda, dan ditempatkan dalam bab yang sama, yaitu “menegakkan kedua telapak kaki dalam sujud” Adapun imam Muslim dan Abu Daud menempatnkannya dalam bab “doa dalam ruku dan sujud.”

Bila ditinjau dari segi jumlah periwayatan, maka hadis tersebut masuk kedalam kategori gharib muthlaq atau fardu muthlaq, karena hadis tersebut hanya diriwayatkan oleh Aisyah, yang meriwayatkan dari Aisyah hanya Urwah bin al-Zubair saja. Dari Urwah pun hanya diriwayatkan oleh Abu Nadir saja. Dari Abu Nadir diriwayatkan oleh Amarah bin Ghaziyyah saja. Dari Amarah hanya diriwayatkan oleh Yahya bin Ayub. Dari Yahya diriwayatkan oleh Sa’ad bin Abu maryam saja. Dari Ibnu Abu Maryam diriwayatkan oleh tiga orang rawi yang seorang dari mereka adalah sanad kedua (dari bawah) imam al-hakimm dan sanad ketiga (dari bawah)imam al-baihaqi, yaitu Muhammad bin Isa ath0thurusi, sedang yang dua ornga lagi, yaitu Ahmad bin Abdullah dan Ismail bin Ishaq adalah sanad yang ketiga (dari bawah imam ad-Daruquthni dan Ibnu Khuzaimah)

Kedudukan Hadis

1. Hadis tersebut dhaif, karena di dalam sanadnya ada rawi yang bernama Yahya bin

Ayyub.

2. Yahya bin Ayyub yang ini adalah Yahya bin Ayyub al-ghafiqim Abul Abbas al-

Mishri, orang alim dan mufti penduduk mesir.

Yahya telah dijarah oleh para ulama disamping ada yang menta’dilnya

a. ulama yang menjarah

1. Ahmad berkata “dia jelek hafalan (Jarah/J. Martabat/M-1)”

2. Ibnul Qaththan berkata “dia di antara orang yang aku ketahui keadaannya dan

sesungguhnya dia tidak bisa dipakai hujjah (J/M-!!)”

3. Abu hatim berkata “dia tidak bisa dipakai hujjah (J/M11)”

4. Nasai berkata “dia tidak kuat (J/M-I”

5. Daruquthni brekata”pada hadisnya ada idhtirab (J/M-II)”

6. Ibnu Saad berkata “dia munkarul hadis (J/M-II)”

7. Al hakim Abu Ahmad berkata, “nila dia menceritakan hadis berdasarkan

hafalannya maka dia salah, sedangkan bila menceritkan dari kitab

(catatannya)maka tidak ada halangan (tidak salah)” Tahdzibut tahdzib, XI:186,

Mizanul I’tidal, IV:362, dan Hadyu sari; 473-474.

b. Ulama yang menta’dil

1. Ibnu Adi berkata “menurut saya dia shaduq (ta’dil/t, martabat/m-V)”

2. Ibnu main berkata” Dia shalihul hadis (T/M-VI)

3. As-saji berkata “ dia shaduq, waham (T/M-VI.(ibid)

4. Ulama hadis telah menetapkan: “bila seseorang rawi dijarah dengan jarah martabat

I dan II, maka hadisnya dijadikan I’tibar, yaitu dicari riwayat-riwayat lain yang

menguatkan” manhajun Naqd fi Ulumil Hadis:112.

Sekalipun Yahya bin Ayyub hanya dijarah dengan jarah martabat I dan II namun karena tidak ada rawi yang lain yang menguatkankannya, maka dia tidak dapat dipakai hujjah.

Oleh karena itu, Yahya bin Ayyub dipakai oleh imam Bukhari didalam kitab shahihnya selama ada syahid atau muttabi.

Sampai disini kami rasa cukup tentang pembahasan ini. Telah kami terangkan dalil-dalil kedua kelompok yang berbeda pendapat dengan ulasan-ulasan. Akhirnya sampailah kami pada kesimpulan :

Merapatkan tumit dalam sujud merupakan Idraj (tambahan) dari rawi yang dhaif.

Merapatkan tumit bukan merupakan sunnah atau tatacara Rasulullah saw

Merenggangkan kedua paha, kedua lutut, kedua betis dan kedua tumit pada waktu sujud adalah sunah Rasul saw.

Wawan Shafwan Shaheluddin

About rendyadamf
assalamu'alaikum wrwb..salam kenal buat teman - teman semuanya..gw rendy TTL : Bandung, 30-06-84. gw kuliah di UNISBA. gw nulis blog ini hanya untuk curahkan semua pemikiran gw..dan gw udah ubah haluan jalan hidup gw..menjadikan jihad sebagai satu-satunya jalan hidup gw!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: