17. Turun menuju Sujud

Burukul Bair

Burukul Bair

BURUKUL BAIR

Wawan shafwan shalehuddin dan Ibnu Muchtar

Burukul bair adalah turunnya unta ketika handak berderum, telah sejak dahulu terdapat pebedaan pendapatdi antara para ulama mengenai apakah yang mesti didahulukan ketika menyetuh tempat sujud, apakah lutut atau tangan. Kedua kelompok sama-sama berdasarkan hadis nabi saw. Bahkan didukung dengan argument-argumen yang lainnya, secara takkhrij hadis, bahas, bahkan kenyataan bagaimana ketika unta menjunam untuk menderum

Kami rasa perlu mencantumkan di sini kedua hadis pokok yang dijadikan landasan dalil, yaitu yang mendahulukan lutut daripada tangan dan sebaliknya. Karena sedalam apa pun pembahasan tentang hal ini, tentulah tidak boleh lepas dari dalil pokoknya. Namun sebelum itu, alangkah baiknya agar terlebih dahulu memperhatikan penmdapat-pandapat para ulama walaupun tentu saja tidak semuanya. Hal ini karena ingin kami katakana sekali lagi ini merupakan pembahasan yang cukup rumit dan pelik. Tetapi dengan disajikan pendapat sebagian ulama disini mudah-mudahan dapat memberikan gambaran tentang betapa sengitnya perbedaan pendapat mereka.

Ibnul Qayyim Al-jauziyyah telah menyatakan bahwa mendahulukan lutut menyentuh tempat sujud adalah yang sesuai dengan sunah rasul, lalu ketika bangkit dari sujud sebaliknya, yaiut tangan lebih dahulu diangkat dari tempat sujud baru kemudian lutut. Imam Asu-Syaukani menyatakan, bahwa itulah pegangan ulama jumhur dan dihikayatkan oleh al Qodhi Abu Thalib dari seluruh fuqaha. Bahkan Ibnul Mundzir menghikayatkan hal tersebut dari Umar Bin Khattab, An-Nakhai, Muslim bin Yasar, Sufyan Ats-tsauri, Ahmad bin hanbal, Ishaq bin Rahawaeh, bahkan Ibnul Mundzir menyatakan itulah pendapatku”

Ada yang berpendapat bahwa hadis yang memerintahkan menempatkan tangan ketempat sujud itu lebih dahulu daripada lutut itu mansukh (telah dihapus) oleh hadis riwayat Ibnu Khuzaimah didalam kitab shahihnya dari Mus’ab bin saad bin abu waqas dari bapaknya bahwasanya ia mengatakan;

Kamu pernah meletakan kedua tangan sebelum kedua lutut, tetapi kami diperintah untuk meletakkan kedua lutut sebelum kedua tangan.

Tetapi hadis ini dinyatakan oleh al hazimi sebagai hadis yang tidak luput daqri kelemahan. Bahkan Ibnu Hajar Al-Asqolaniy berkata “hadis ini di antara afra (meriwayatkan seorang dir) Ibnrahim bin Ismail bin Salamah bin Kuhael dari bapaknya. Keduanya merupakan rawi yang dhaif. Bahkan Ibnu Hazm telah menyatakan bahwa yang mendahulukan lututlah yang mansukh (dihapus)

Tetapi Ibnul Qayyim bersiteguh bahwa hadis yang memerintah kan meletakan tangan sebelum lutut meruopakan hadis yang maqlub (terbalik isinya). Dan terdapat yang menyatakan bahwa unta itu ketika turun utuk brederum pertama menyentuh tanah adalah kedua tangannya (bagian depannya) dan ininlahcara yang dilarang diikuti.

Pendapat ini ditentang dan dijawab : Tidak demikian, karena lutu unta itu terletak pada tangannya bukan pada kakinya, yaitu apabila berderum ia akan meletakan kedua lutunya terlebih dahulu. Tetapi alasan ini jelas terlalu dipaksakan karena perktaan lutut unta terletak pada tangannyatidak dikenal oleh ahli bahasa, apalagi oleh ahli unta lihat Nailul Authar, II;261-264. Dan perlu diketahui unta telah ada dan telah berderum sejak dahulu sebelum kaifiyat ruku disyariatkan.

Memperhatikan argument-argumen yang dikemukakan, kami cenderung untuk lebih membahasnya secara takhrij hadis. Mudah-mudahan dapat sampai kepada hadis yang lebih rajih (kuat) terutama melalui syahid-syahid atau mutabi’-mutabi’nya. Karena tentang bagaimana sebenarnya unta ketika berderum, para pembaca dapat memperhatikan sendiri dan mempraktikannya sendiri-sendiri.

Hadis mendahulukan lutut

Dari wail bin hujr ia berkata “ aku melihat rasulullah saw bila hendak sujud beliau meletakkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya dan bila bangkit beliau mengangkat kedua tangannya sebelum kedua lututnya” HR.At-Tirmidzi, Tuhfatul Ahwadzi II: 134; An-Nasai, Sunan An-nasai II:222; Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, I:287; Abu Daud, Aunul ma’bud, III:48

a. Mutabi:

1. Abu daud berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ma’mar, hajaj bin Minhal telah mengabarkan telah mengabarkan kepada kami, hamam telah mengabarkan kepada kami, Muhammad bin jahadah telah mengabnarkan kepada kami, dari Abdul Jabbar bin Wail, dari ayahnya (Wail); sesungguhnya Nabi saw …-maka Wail menerangkan hadis salat- ia berkata “maka ketika beliau handak sujud kedua lututnya kena pada tanah sebelum kedua telapak tangannya” HR Abu Daud, ‘Aunul Ma’bud III:48

2. (Abu Daud berkata) Muhammad bin Ma’mar telah menceritakan kepada kami, hajaj bin minhal telah mengabarkan kepada kami Hammam telah mengabarkan kepada kami dan berkata “Syaqiq telah mengabarkan kepada kami Ashim bin Kulaib telah menceritakan kepadaku, dari ayahnya (Kulaib bin Syihab)dari Nabu saw…(seperti hadis diatas)” (ibid)

b. Syahid:

1. dari Anas bin Malik, ia berkata “aku melihat Rasulullah saw bertakbir…kamudian beliau turun (sujud) sambil bertakbir sehingga kedua lututnya mendahului kedua tangannya” HR Al-Baihaqi, as Sunanul Kubra, II:99; Ad-daruquthni, sunan Ad-Daruquthni, I:345; Al hakim, al mustadrak, I:226, lafadz hadis di atas adalah lafadz Baihaqi.

2. dari Abu hurairah, dari nabi saw beliau bersabda “apabila seorang di antara kamu sujud, mulailah dengan kedua tangan dan janganlah menderumnya unta” HR Al-Baihaqi, As-Sunanul qubra, II : 100 dan Ibnu Abi Syaibah, al mushanaf Ibnu Abi Syaibah. I:295)

Al jarh (penilaian)dari para ulama terhadap hadis-hadis mendahulukan lutut InsyaAllah akan kami kemukakan pada al-qudwah edisi berikutnya.

Amaliyah sahabat

1. Dari Ibrahim, bahwasanya Umar menempatkan kedua lututnya sebelum kedua lututnya sebelum kedua tangannya”HR Ibnu Abi Syaibah, Al mushanaf Ibnu Abi Syaibah, I:295 dan abdur razak,al-mushanaf Abdur Razak, II:177

2. Dari Nafi, sesungguhnya Ibnu Umar bila hendak sujud menempatkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya dan bila bengkit mengangkat kedua lututnya” HR Ibnu Abi Syaibah, Al-mushanaf, I:295

Al-jarh dari para ulama :

1. hadis Wail bin Hujr tidak dapat dipakai sebagai hujjah karena semua sanadnya melalui seorang rawi yang bernama Syarik bin Abdullah An-Nakhai, ia itu shaduq, banyak salah, hafalannya berubah ketika menjadi qadhi di Kufah, Tuhfatul ahwadzi, II:134

2. Sanad yang melalui rawi hamam bin yahya dari Muhammad bin jahada adalah munqathi, karena Abdul Jabar tidak mendengar hadis itu dari ayahnya (Wail) (ibid) sedangkan sanad yang melalui syaqiq dari ashim bin Kulaib dari ayahnya(Kulaib) dari Nabi Saw adalah mursal. Karena Kulaib bin Syihab (ayahnya ashim) tidak sejaman dengan Nabi (bukan sahabat). (Nailul Authar, II:281) di samping itu syaqiq adalah rawi yang majhul (tuhfatul ahwadzi, II:135)

3. Syahid dari sahabat Anas hadisnya dhaif juga karena sanadnya terdapat rawi bernama Al ala bin Ismail, ia itu seorang majhul (Nailul authar, II:282)

4. Syahid dari sahabat Abu Hurairah juga dhaif sebab ada sanadnya ada rawi bernama Abdullah bin Said al Maqburi, ia telah dinyatakan dhaif oleh Yahya Al Qathan dan yang lainnya. Bahkan Al-Hakim mengatakan “Dzahibul hadist (nailul authar, II:283)

Analisis penulis

Sanad Hamam bin Yahya dari Muhammad bin jahadah riwayat Abu Daud tersebut memang munqathi, karena Abdul Jabar tidak mendengar hadis tersebut dari ayahnya (wail). Namun bila kita perhatikan sanad al-baihaqi dibawah ini ternyata Abdul Jabar menerima hadis tersebut dari ayahnya dari ibunya (istri Wail/ummu yahya), ia menerima dari Wail bin hujr(suaminya). Dengan demikian sanadhadis tersebut sebenarnya mutashil (bersambung) karena Abul jabar menerima dari ayahnya kita dapat tahu bahwa ia menerimadari ayahnya melalui ibunya

Oleh sebab itu, hadis Wail yang sanadnya terdapat rawi bernama syarik bin Abdullah bisa diamalkan karena adanya mutabi sehingga menjadi hasan lighairihi. Demikian pula kedudukan hadis Anas bin Malik dan Abu Hurairah. Disamping itu juga hadis-hadis tersebut diperkuat oleh amaliyah sahabat.

Hadis mendahulukan tangan :

Dari Abu Hurairah ia berkata “rasulullah saw besabda apabila salah seorang di antara kamu sujud, maka letakanlah kedua tangannya sebelum kedua lututnya dan tidak boleh menderum seperti menderumnya unta” HR An Nasai, as sunanul kubra ,I:99 dan Ahmad, al-fathul rabbani ,III:276. lafadz diatas adalah riwayat an-nasai

Mutabi :

Dari Abu Hurairah bahawasanya Nabi saw bersabda “seseorang di antara kamu bersandar kemudian ia menderum dalam salatnya sebagaimana menderumnya unta” HR At Tirmidzi, tuhfatul ahwadzi, II: 136 dab Abu Daud, aunul ma’bud, III:51

Syahid:

Nafi berkata “bahwasanya Ibnu Umar, beliau menempatkan kedua lututnya”Shahih al bukhari I:294

Penilaian para ulama atas sanad

1. Sanad hadis Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh an-nasai, ad daruquthni, al baihaqi dan Ahmad semuanya melalui seorang rawi bernama Abdul Aziz bin Muhammad Ad darawardi. Tidak ada masalah dalam tafarrud ad-darawardim sebab ia dipakai hujjah oleh imam muslim dalam kitab shahihnya, Demikian pila imam al bukhari memakainya maqrunan (disertai) oleh Abdul Aziz bin Abu Hazim (Nailul Authar, II:284)

Riwayat ad darawardi dalam shahih muslim, lihat kitabul iman (shahih Muslim, I:138) dalam riwayat al bukhari, bab qishas Abu Thalib (shahih al Bukhari, IV:138)

2, Sanad Ad Darawardi siperkuatpula oleh Abdullah bin Nafi riwayat Abu Daud dan At-Tirmidzi (Tuhfatuh ahwadzi, II:139)

3. Hadis Abu Hurairah diperkuat oleh hadis Ibnu Umar dan amal Ibnu Umar.

Analisis penulis

Hadis mendahulukan tangan sebelum lutut yang diriwayatkan melalui sahabat Abu Huraerah tidak dapat diamalkan karena dalam sanadnya terdapat seorang rawi bernama Abdul Aziz bin Muahammad Ad Darawardi, dia Sayyiul hifzhi (buruk hafalan) siyaru a’lamin Nubala VIII:367. Karena itu Imam Al Bukhari di dalam kitabshahihnya menggunaka rawi ad darawardy itu secara maqrunan (didampingi)oleh rawi lainnya yang tsiqah (kuat) seperti Abdul aziz bin Abi Hazim (Shahih al bukhari, IV:138 bab kisah Abu thalib)

Adapun Imam Muslim menggunakan rawi ad daraardi ini hadisnya bukan mendahului tangan tiodak berarti ia tsiqah (tidak sayyiul hifzhi) melainkan karena dikuatkan oleh rawi lain bernama Al-Lats dalam riwayat At-Tirmidzi (tuhfathul ahwadzi, VII:373) Sedangkan hadis semacam ini (yang terdapat dalam riwayat Muslim)termasuk salah satu syarat Shahih Muslim. Itulah sebabnya Imam Muslim menggunakan rawi ad daraardi di dalam kitab shaihnya (lihat muqaddimah shahih Muslim hal 5)

Berdasarkan ketrangan-keterangan di atas, maka rawi yang bernaqma ad darawardi ini tidak dapat dipakai hujjah kalau taffarud (sendirian)dalam periwayatannya

Demikan pula mutabi’nya yang melalui rawi Abdulah bin nafi’ riwayat Abu Daud dan At tirmidzi dia juga sayyiul hifzhi Tahdzibul kamal, XVI:211

Selanjutnya, hadis yang menjadi syahid riwayat Ibnu Umar baik yang marfu’ maupun yang mauquf (amaliyah sahabat) keduanya dhaif karena pada kedua sanadnya sama-sama melalui rawi yang bernama ad darawardi yang dhaif di atas

Dengan demikian kami berkesimpulan bahwa:

1. Mendahulukan lutut kemudian tangan ketika sujud adalah sesuai dengan sunah Rasul saw dan hadisnya lebih rajih, karena hadis Wail bin Hujr berdrajat hasan li ghairihi dan cara seperti itu sebaliknya dari prileku unta.

2. Haids yang mendahulukan tangan ketika hendak sujud adalah dhaif sanadnya, maqlub (terbalik) matannya. Dan tidak ada yang syahid maupun mutabi’ yang dapat mengangkat derajat kedaifannya.

3. Mendahulukan tangan ketika hendak sujud menyerupai burukul bair (berderumnya unta) paling tidak dalam menunggingnya. Cara inilah yang dilarang oleh Rasulullah saw

*perbandingan bahwa tangan unta adalah sebelah depan, kita bandingkan dengan hadis Nabi saw dari Anas ia berkata “Rasulullah saw bersabda “tegaklah kamu dalam sujud dan janganlah salah seorang dari antara kamu menghamparkan dua hastanya seperti terhampar kedua tangan anjing ketika berderum” HR Muslim. Dapat kita pahami bahwa yang didepan itu adalah tangan bukan kaki.

About rendyadamf
assalamu'alaikum wrwb..salam kenal buat teman - teman semuanya..gw rendy TTL : Bandung, 30-06-84. gw kuliah di UNISBA. gw nulis blog ini hanya untuk curahkan semua pemikiran gw..dan gw udah ubah haluan jalan hidup gw..menjadikan jihad sebagai satu-satunya jalan hidup gw!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: