15. Posisi I’tidal

Hey look at da wall!!

Hey look at da wall!!

I’tidal setelah ruku dan posisi tangan

Tentang posisi tangan ketika berdiri I’tidal setelah ruku tidak terdapat keterangan yang khusus. Hal ini berbeda dengan pada posisi-posisi yang lainnya dalam salat, yaitu ketika takbiratul ihram tangan diangkat sehingga sejajar dengan kedua bahu, pada qiyam ketika qiraah (membaca alfatihah dengan surah atau alfatihah saja) tangan digenggamkan pada pergelangan tangan kiri pada ulu hati, ketika sujud tangan ditempatkan di tempat sujud sejajar dengan bahu. Ketika duduk antara dua sujud bahkan sampai pada duduk tahiyyah dan ketika bersalam kesebelah kanan dan kiri diterangkan ditempatkan di atas bahu atau mengenai lututnya. Adapun ketika I’tidal ba’da ruku bergerak hendak ruku bangkit dari ruku bergerak hendak sujud bangkit dari sujud dan bangkit dari rakaat kedua diterangkan posisi tangannya. Karena itu keadaan tangan atau posisi tangan ketika I’tidal setelah ruku tidak ditentukan, tetapi dibiarkan bergantung tangan, bergantung ketika I’tidal setelah ruku ini tak ubahnya ketika berdiri hendak melakukan salat. Selanjutnya mari kita perhatikan uraian di bawah ini

Dalil-dalil berdiri I’tidal setelah ruku

Dari Abdullah bin Umar r.a ia mengatakan ‘Saya melihat Rasulullah saw memulai salatnya dengan takbir, beliau mengangkat kedua tangannya ketika takbir, sehingga menempatkannya sejajar dengan kedua bahunya. Dan apabila takbir untuk ruku beliau melakukannya seperti itu, dan apabila mengucapkan samiallahuliman hamidah, beliau melakukan seperti itu lagi dan mengucapkan rabbana walakal hamdu. Dan beliau tidak melakukan seperti itu ketika hendak sujud dan bangun dari sujud” H.R Bukhari

Dari Abu Humaid as-Saidi r.a ia mengatakan “Rasulullah saw itu apabila berdiri mengerjakan salat, beliau berdiri dengan tegak dan mengangkat kedua tangannya sehingga kedua bertepatan dengan kedua bahunya…kemudian mengucapkan’ samiliman hamidah’ dan mengangkat kedua tangannya, dan beliau berdiri tegak sehingga seluruh tulang kembali kepada posisi dengan tegak” H.R Al-Khamsah kecuali An-Nasai

Penjelasan

Pada hadis pertama diterangkan bahwa posisi tangan Nabi saw ketika bangkit dari ruku dan mengucapkan samiallahu liman hamidah, sama dengan ketika takbiratul ihram. Tetapi ketika I’tidal danmengucapkan rabbana lakal hamdu posisi tangan tidak diterangkan secara eksplisit.

Demikian pula pada hadis kedua, bahkan padanya tedapat keterangan bahwa ketika hendak salat dan menghadap kiblat dengan ketika berdiri I’tidal (berdiri tegak) maka dapat diartikan bahwa posisi menghadap kiblat hendak salat, yaitu semua tulang kembali ke posisinya sehingga badan tegak lurus. Hal ini lebih jelas diterangkan oleh hadis-hadis sahih sebagai berikut

Kemudian beliau berdiri cukup lama sehingga setiap tulang menempati tempatnya. Maka apabila kamu bengkit dari ruku, tegakannlah punggungmu sehingga setiap tulang kembali ke posisinya H.R Abu Daud

Dan rasulullah saw apabila bangkit dari rukunya beliau berdiri tegak sehingga setiap tulang kembali ke posisi semula

dalil-dalil ini menjelaskan posisi badan secara keseluruhan ketika berdiri dan tidak secara khusus menyebut posisi tangan.

Adapun beberapa hadis yang dianggap sebagai dalil untuk memperkuat pemahaman menempatkan tangan kanan di atas tangan kiri pada ulu hati ketika I’tidal setelah bangkit dari ruku antara lain Hadis Riwayat Ahmad sebagai berikut

dari Wail bin Hujr ia mengatakan “saya melihat Nabi saw katika takbir mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua telinga kemudian ketika ruku lalu ketika mengucapkan samiallahu liman hamidah mengangkat kedua tangannya. Dan saya melihat beliau menggenggamkan tangan kanan pada tangankiri beliau didalam salat…” H.R Ahmad, Al musnad, VI:478, no :18893

Hadis ini sesungguhnya tidak sahih, ia itu lemah karena pada sanadnya terdapat seorang rawi bernama Abdullah bin Al-walid bin Maemun. Insyaallahu akan kita tukil sanadnya secara lengkap sejak dari Nabi sampai Abdullah bin Ahmad bin Hanbal.

Point 2

Telah dikedepankan pula suatu riwayat yang diartikan oleh sementara orang bahwa Wail bin Hujr melihat Rasulullah saw memegangkan tangan kanan pada tangan kirinya ketika I’tidal. Hadis tersebut daif, tetapi agar tidak kehilangan jejak. baiklah akan kita kedepankan sekali lagi hadisnya dan sekaligus disertakan untaian sanadnya dengan lengkap .

Dari Wail bin Hujr ia mengatakan “saya melihat Nabi saw ketika takbir mengangkat kedua tangannya sejajar dengan dua telinganya kemudian ketika ruku lalu ketika mengucapkan samiallahuliman hamidah mengangkat kedua tangannya. Dan saya melihat beliau menggenggamkan tangan kanan pada tangan kiri beliau di dalam salat…”H.R Ahmad, Al Musnad, VI:478, no. 18893

Nabi

Wail bin Hujr

Abi (Kulaib)

‘Asim bin Kulaib

Sufyan

Abdullah bin Walid

Abi (Ahmad bin Hanbal)

Abdullah bin Ahmad bin Hanbal

Ibnu hajar berkata “ia itu shaduq tetapi sering salah”

Abu Hatim berkata “ia dicatat hadisnya tetapi tidak dijadikan Hujjah” Tahdzibul Kamal, XVI:273

Dengan demikian hadis ini nyata daifnya dan tidak dapat dijadikan Hujjah

Seandainya hadis ini dijadikan dalil sedekap pada I’tidal dna wau yang terdapat pada kalimat waraaetuhu dianggap wau lil hal, akan tampaklah bahwa hadis ini tidak menempatkan tangan kanan di atas tangan kiri ketika I’tidal, tetapi ketika bangkit dan mengucapkan samiallahu liman hamidah. Dan sebenarnya wau itu adalah wau isti’naf. Dan karena terdapat kata fish shalati (di dalam salat) dna waunya wau isti’naf maka maksudnya adalah ketika berdiri melakukan qiraah

Pertanyaan

Jika memang ketika I’tidal setelah ruku tidak terdapat keterangan yang eksplisit tentang posisi tangan, berbeda dengan pada posisi di dalam salat, dapatkah memberlakukan dalil-dalil umum sebagai berikut?

Dari Sahl bin Sa’ad ia mengatakan “manusia diperintahkan untuk menempatkan tangan kanannya di atas kirinya di dalam salat” H.R Bukhari

Dari Ibnu Aba r.a ia berkata “saya mendengar Nabi Allah saw bersabda ‘ Sesungguhnya kami para nabi diperintahkan supaya menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur kami, dan supaya menempatkan tangan-tangan kanan kami di atas tangan-tangan kiri kami pada salat” H.R At-Thabrani

Dari Wail bin Hujr r.a ia berkata ‘saya melihat Rasulullah saw jika berdiri ketika salat beliau menggenggamkan tangan kanan di atas tangan kirinya” H.R An-Nasai

Bukankah kata fish shalati (dalam salat) itu umum. Jadi, jika ada keterangan yang khusus tentang posisi tangan ketika berdiri I’tial setelah ruku, kembalikan saja kepada dalil umum ini yaitu, menempatkan tangan kanan di atas tangan kiri karena ketika I’tidal steelah ruku itu tercakup oleh kata fish shalati

Jawaban

Kata-kata fis-shalati pada ketiga hadis ini tidak umum melainkan khusus yaitu pada qiyam ketika membaca al-qiraah (alfatihah dan surat atau alfatihah saja). Sebab bila dianggap umum, bagaimana ketika seperti kita menjunam untuk sujud. Karena hal ini pun tercakup oleh fish-shalati

Adapun mengenai hadis

Dan dari Abdullah bin Umar ia mengatakan ‘sesungguhnya Nabi saw beliau mengangkat kedua tangannya ketika takbir untuk ruku dan ketika turun untuk sujud” H.R At-Thabrani, Al-Mu’jamul Ausath, I:39

Hadis ini sangat lemah karena pada sanadnya terdapat seorang rawi bernama Al-Jarah bin Falih (Malih)

Ad-Daruquthni berkata “laisa bin syaiin wa huwa kabirul wahm” Siyaru A’lamin nubala, IX:109

Dan silahkan diperhatikan sanadnya secara lengkap berikut ini

Nabi

Ibnu Umar

Nafi’

Arthah ibnu Mundzir

Al-Jarah bin falih

Abi (Abdulwahab)

At-Thabarani

Dengan demikian hadis ini tidak dapat dipakai hujjah, apalagi matannya bertentangan dengan hadis sahih riwayat Bukhari berikut ini

Dari Abdullah bin Umar r.a ia mengatakan “saya melihat Rasulullah saw memulai salatnya dengan takbir, beliau mengangkat kedua tangannya ketika takbir sehingga menempatkannya sejajar dengan kedua bahunya. Dan melakukan seperti itu, dan apabila mengucapkan samiallahu liman hamidah, beliau melakukan seperti itu lagi dan mengucapkan rabbana lakal hamdu. dan beliau tidak melakukan sepeti itu ketika hendak sujud dan ketika bangkit dan sujud” H.R Bukhari

Maka hal ini sebagai bukti ke wahm-man Al-Jarah bin Falih

Kesimpulan

Ketika berdiri I’tidal setelah ruku kedua tangan tidak sedekap

About rendyadamf
assalamu'alaikum wrwb..salam kenal buat teman - teman semuanya..gw rendy TTL : Bandung, 30-06-84. gw kuliah di UNISBA. gw nulis blog ini hanya untuk curahkan semua pemikiran gw..dan gw udah ubah haluan jalan hidup gw..menjadikan jihad sebagai satu-satunya jalan hidup gw!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: