puasa Kita sebagai Muslim yang berusaha konsisten untuk selalu beribadah kepada Allah SWT harus melaksanakan perintahNya, sebagaimana pedoman hidup kita sebagai manusia yaitu berdasarkan Al-quran dan sunnah yang selalu menjaga kita dari kesesatan. Perintah Allah SWT melalui RasulNya merupakan salah satu kasih sayangNya agar kita berakhir pada tempat yang sudah di sediakan oleh Allah yang berupa Syurga, dan perlu kita ketahui bahwa sabda Rasul itu bukan berdasarkan hawa nafsunya tetapi tidak lain berdasarkan wahyu.

Sabda Rasulullah SAW banyak menyiasati kita agar selalu beribadah sesuai dengan tuntunannya, baik yang wajib ataupun yang sunnah. Salah satu sunnah nabi SAW yang segera kita hadapi adalah ibadah shiyam sunnah Arafah, berdasarkan hadits sebagai berikut :

“Dari Abu Qatadah ia berkata “Rasulullah SAW bersabda ‘ shaum hari arafah akan menghapus (dosa) dua tahun, yaitu tahun yang lalu dan yang akan datang”. (HR Al-Jamaah, kecuali Al-Bukhari dan At-Tirmidzi, Nailul Autharm IV:306 no 1704)

A. Hari Arafah

Hari arafah menurut Syekh Manshur ali nashif adalah :

“Hari arafah adalah hari yang kesembilan bulan Dzulhijjah, dinamai demikian karena orang-orang yang sedang menunaikan ibadah haji sedang wukuf pada hari itu di arafah, yaitu suatu tempat yang telah dikenal dalam ibadah haji”. (At-taaj, II:95)

Maksudnya dapat menghapus dosa disini menurut Imam An-Nawawi yaitu:

“Mereka para ulama berkata “yang dimaksud dengan dosa-dosa adalah dosa-dosa yang kecil, Jika tidak ada dosa-dosa yang kecil diharapkan mengurangi dosa-dosa yang besar. Kemudian jika tidak ada maka akan diangkat derajatnya”(Tuhfathul Ahwadzi, III:377)

Dan bagaimana kita memahami bahwa shaum arafah ini dapat menghapus dosa yang silam dan yang akan datang. Menurut Muhammad bin Ali Muhammad Asy-Syaukani mengatakan :

”Dan sesungguhnya penghapusan dosa bagi tahun yang akan datang telah dianggap musykil (sulit dipahami), karena menghapus adalah berarti menutupi, dan hal itu tidak akan ada melainkan bagi sesuatu yang telah terjadi (silam).Akan tetapi hal tersebut telah dijawab yaitu, bahwa yang dimaksud adalah akan menghapusnya setelah terjadi dosa, atau Allah akan menjaganya sehingga ia tidak melakukan dosa padanya” (nailul Authar, IV:308)

Hal ini senada dengan pernyataan imam Al-Mubarakfuri, bahwa yang dimaksud dengan hadits diatas adalah Allah akan menjaganya dari dosa pada tahun ini atau ia akan memberikan rahmat dan pahalanya seukuran dengan (dosa) yang tidak dilakukannya. (Tuhfathul Ahwadzi, III:377)

B. Kedudukan Shaum Arafah

Imam Shan’ani menjelaskan dalam kitab Subulussalam Bab II halaman 336 bahwa :

”…Shaum arafah lebih utama dari pada Shaum Asyura”

Shaum Arafah adalah shaum sunat bagi umat muslim, tapi sahabat Rasulullah berbeda pendapat mengenai bagaimana apabila sedang berwukuf pada hari arafah?, seperti dalam hadits :

”Dari Maemunah sesungguhnya orang-orang telah ragu terhadap Rasulullah pada hari (beliau sedang wukuf) di arafah. Kemudian aku mengutus kepadanya dengan membawa bejana (alat untuk memeras susu) sedangkan beliau sedang berdiri di tempat itu, kemudian beliau meminum (susu) dari padanya, sedangkan orang-orang melihatnya”.(HR Bukhari, I:414 no 1989)

Mafhum dari hadits diatas menurut Ibnu Umar yaitu

”Aku menunaikan ibadah haji bersama Rasulullah SAW maka beliau tidak shaum bersama abu Bakar, maka ia pun tidak shaum dan bersama Utsman, maka iapun tidak shaum. Kemudian aku pun tidak melakukannya, aku tidak menyuruhnya dan tidak melarangnya” (Tuhfathul Ahwadzi, III:953)

C. Kesimpulan :

1. Shaum Arafah adalah shaum sunnat bagi yang sedang tidak melakukan ibadah haji.

2. Bagi yang sedang wukuf di arafah (melaksanakan ibadah haji), tidak shaum itu merupakan sunah Rasulullah dan khulafaur ar-rasyidin.

3. Shaum arafah Tahun 2008 masehi sekarang jatuh pada tanggal 08-12-08

Advertisements