12. Masbuq Mendapatkan Ruku Imam

islambeauty

Menyusul rukuk imam

 

Wawan shafwan shaheluddin

 

Ruku adalah di antara rukun shalat, siapa yang tidak memenuhi rukun-rukun itu, ia tidak menyempurnakan shalatnya. Ada yang berpendapat bahwa apabila seseorang mendatangi jama’ah shalat, ia mendapatkan imam yang sedang rukuk lalu mengikuti ruku itu, ia mendapatkan rakaat itu walaupun ketinggalan qira’ah(bacaan al-fathihah)

 

Pendapat ini berdasarkan beberapa keterangan , antara lain:

 

Pertama

Dari Abu Hurairah ia berkata “barangsiapa menyusul satu rakaat dari salat maka ia telah menyusul rakaat itu sebelum imam meluruskan punggungnya” HR Ibnu Khuzaimah

 

Kedua

Dari Abu hurairah ia berkata “siapa yang menyusul ruku pada rakaat akhir pada hari jumat, maka hendaklah menyatukan rakaat lain kepadanya. HR Ad-Daruquthni melalui jalan Sulaiman bin Abu Daud. Ia tu seorang yang matruk (tertolak)

 

Ketiga

Apabila seseorang di antara kamu bergegas menyusul dua rakaat pada hari jumat, (tidak sengaja mengabaikan khuthbah jumat) maka ia telah mendapatkan jumat itu, dan apabila ia hanya memperoleh satu rakaat, maka salatlah lagi satu rakaat” HR Ad-Daruquthni

Ketiga kata rak’ah pada riwayat-riwayat diatas maknanya adalah rakaat secara keseluruhan yang didalamnya terdapat qiyam (berdiri), qiraah(al-fathihah), ruku, I’tidal (berdiri)setelah ruku dan sujud, bukan makna ruku secara khusus (posisi ruku). Karena mkana rak’ah untuk menunjukan posisi ruku di dalam shalat itu sudah merupakan makna majazi (kiasan ) dan bukan makna sebenarnya. Oleh karena itu untuk mengartikan rak’ah dengan arti posisi ruku memerlukan qarinah (keterangan lain). Seperti hadis riwayat Muslim dari Al-Barra bin Azib berikut ini

 

“Maka aku dapatkan qiyamnya. Rukunya, I’tidalnya serta sujudnya”

Rak’ah pada riwayat ini berarti ruku’ karena disebut secara terperinci tentang posisi-posisi di dalam salat yang ruku salah satu diantaranya.

 

Selain itu hadis-hadis yang dijadikan landasan pendapat tersebut masing-masing mempunyai kedhaifan

 

Terdapat keterangan lain yang menunjukan sebaliknya,bahwa hanya sempat menyusul imam dalam kadaan ruku itu belum termasuk mendapatkan rakaat

 

Dari Abu hurairah ia berkata “siapa yang menyusul kaum yang sedang ruku maka rukuklah bersamanya dan ulangilah rakaat itu” (HR Ibnu Sayyidinnas dari orang yang meriwayatkannya dari Ibnu Khuzaimah

Dari Abu hurairah ia berkata “siapa yang menyusul kaum yang sedang ruku, maka janganlah menghitung rakaat itu HR Al-Bukhari di dalam Al-Qiraah khalfal imam dan inilah yang telah dikenal dari Abu Hurairah secara mauquf sedangkan yang marfu’ maka tida adaasal baginya”

Oleh karena itu, menyusul imam yang sedang ruku adalah ketinggalan rakaat itu

 

Dari Abu Qatadah dan Anu Hurairah “apa yang dapat kalian susul maka lakukanlah dan apa yang tertinggal naka sempurnakanlah” Muttafaqun alaihima

Dari Abu hurairah ia berkata “Apabila kalian mendatangi salat dan kami sedang sujud maka sujudlah dan janganlah kamu anggap jadi sesuatu pun rakaat. Barangsiapa menyusul dari salat itu satu rakaat maka ia te;ah nmenyusul salat itu “ HR Abu Daud dan lainnya.

Berdasarkan keterangan-keterangan diatas dan bahwa qira’ah (al-fathihah) merupakan salah satu syarat sahnya salat, hendaklah kembali kepada pendapat sahabat Ibnu Hajar Al-Asqolany yang menentramkan, beliau menyatakan

 

Dijadikan dalil dengan itu, bahwa siapa yang menyusul imam sedang ruku maka janganlah dihitung rakaat baginya, karena terdapat perintah untuk menyempurnakan apa yang terlewatkan oleh qiyam dan qira’ahnya Nailul Authar, II:229

Maka apabila makmum menyusul imam dalam posisi apa pun dan ia tertinggal al-fathihah sejak awal, wajib ia mengulangi rakat yang ketinggalan al-fathihah itu


Masbuq mendapatkan ruku imam

 

Ustadz Ikin Sodikin

 

Permasalahan yang diangkat seiring dengan munculnya kembali fatwa bahwa masbuq dengan mendapatkan ruku imam terhitung satu rakaat. Dalam artian , bagi orang yang mendapat imam sedang ruku maka rakaatyang ia ruku padanya itu tidak usah diulangi lagi.

 

Fatwa ini bukan didasarkan lagi pada hadis-hadis yang menyatakan jika mendapatkan imam sedang ruku terhitung satu rakaat. Karena memang hadis-hadis yang ada dalam permasalahan itu statusnya dhaif. Akan tetapi dilandaskan pada hadis Abu Bakrah berikut ini:

 

Sesungguhnya Abu Bakrah datang ketika rasul sedang ruku, lalu ia ruku di luar shaf kemudian berjalan (dalam keadaan ruku) menuju shaf. Ketika Nabi selesai shalatnya beliau bresabda “siapa di antara kalian yang ruku di luar shaf kemudian berjalan (dalam keadaan ruku) menuju shaf? Abu Bakrah berkata “Saya”. Nabi saw kemudian bersabda “Semoga Allah menambah semangatmu, dan janganlah kamu mengulangi (amal seperti itu) (HR al-Jama’ah dan redaksi ini riwayat abu dawudI:239)

Menurut fatwa tersebut, pernyataan Rasul saw. Wa la ta’ud; dan jangan kamu mengulangi adalah tidak perlu mengulangi raka’at yang dimaksud. Dalam artian tidak perlu rakaat yang Abu Bakrah hanya mendapatkan ruku pada rakaat tersebut diulang.

 

Dewab hishbah dengan dipandu oleh penyaji Ustadz Ikin Sodikin, kemudian menela’ah ulang hadis-hadis yang berkaitan dengan masbuq mendapatkan ruku iamam, termasuk hadis diatas. Dan setelah ditelusuri, ternyata riwayat yang shahih yang dijadikan landasan oleh mereka hanya satu, yakni hadist Abu bakrah di atas.

 

Permasalahan kemudian terletak pada memahami apa yang dimaksud denga wa la ta’ud di atas. Setelah merujuk pada pendapat ulama yang ada dan di tunjang dengan penelusuran pada sejumlah riwayat yang berkaitan, Dewan Hisbah memahami pernyataan wa la ta’ud di atas, jangan sekali-kali lagi mengulanginya. Terlebih ditemukan perintah Nabi Saw kepada Abu Bakrah untuk tetap mengulangi apa yang terlewat dari ruku rakaat. Atau dengan kata lain, karena Abu Bakrah melewatkan qiyam (al-fathihah), maka rakat tersebut harus diulangi

 

Shalatlah apa yang kamu dapati dan sempurnakanlah apa yang terlewat(Al-Bukhariy dlam juz al-qirahaah khalfa al imam. Lihat juga ad-Dirayah fi Takhrij ahadist al-Hidayah 1 : 171 ; Nashbur li ibni Daqiqil ‘id 1:216)

Ibnu al-Munir memberikan perndapat mengenai hadis Abu Bakrah di atas :

 

Nabi saw membenarkan pekerjaan Abu Bakrah dari Arah yang umum, yaitu semangat untuk mendapatkan falilah brjama’ah dan menyalahkan dar iarah yang khusus (fath-al bari 2 : 268)

Sementara al-hafizh al-Asqalaniy menyatakan :

 

Sesungguhnya pekerjaan demikian itu adalah kemudian datang larangan dengan sabdanya, “jangan kau ulangi”maka tidak boleh mengulangi yang dilarang Nabi saw (Fath-al bari 2:269)

Dalam hal rukun rakat sangat banyak sekali hadis yang menyinggungnya. Hadis-hadis tersebut menyebutkan qiyam (baca al-fathihah)slaah satu diantaranya. Belum lagi pernyataan tegas Rasulullah saw yang menyatakan tanpa al-fathihah tidak shah shalat, sehingga otomatis perintah Rasul saw kepada yang masbuq seperti akan terlihat dalam hadis di bawah ini, mencakup pula al-fathihah apabila ia tertinggal.

 

Apabila kalian mendatangi shalat, hendaklah dengan tenang, apa yang kalian susul maka lakukanlah, dan apa yang kalian tertinggal maka sempurnakanlah (Shahih al-Bukhariy 1 : 228)

Hadis ini senada dengan anjuran beliau saw kapada Abu Bakrah agar jangan tergesa-gesa dengan cara ruku sebelum masuk shaf., Tenang saja. Apa yang kesampaian ikutilah, dan apa yang terlewatkan ulangilah. Termasuk tentunya al-fathihah

 

Tanggapan

Fatwa bahwa maksud Rasul “jangan kau ulangi” tersebut adalah sifat terburu-buru masuk dalam shaf tidak masuk dalam konteks karena masalah ini dimasukan oleh imam al-bukhari dalam juz al qira’ah khalfa al imam.

 

Fatwa mendapatkan satu rakaat berdasarkan hadis atsar sahabat shahih dalam HR. Abu Dawud, Ad-Daruqthni, al-hakim, al-baihaqi, Ath-Thabari, At-Thatawi dan Ibnu bi Syaibah.yang adanya keringanan bagi masbuq Bertentangan dengan hadis yang shahih yang marfu’ (seperti almusi-u shalatahu)

 

 

Istinbath

1. Yang dimaksud dengan satu rakaat itu adalah qiyam (al-fathihah), ruku, I’tidal ruku, sujud, duduk di antaradua sujud dan sujud

2. Makmum yang mendapatkan imam sedang ruku berarti telah tertinggal salah satu rukun rakat yaitu qiyam (al-fathihah)

3. Makmum yang mendapatkan imam sedang ruku harus menyempurnakan rakaat itu.

 

Permasalahan 1

Zaid bin Wahb-rahimahullah- berkata,

عَنْ زَيْدِ بْنِ وَهْبٍ قَالَ: خَرَجْتُ مَعَ عَبْدِ اللهِ مِنْ دَارِهِ إِلَى الْمَسْجِدِ , فَلَمَّا تَوَسَّطْنَا الْمَسْجِدَ رَكَعَ اْلإِمَامُ, فَكَبَّرَ عَبْدُ اللهِ ثُمَّ رَكَعَ وَرَكَعْتُ مَعَهُ ثُمَّ مَشَيْنَا رَاكِعَيْنِ حَتَّى انْتَهَيْنَا إِلَى الصَّفِّ حَتَّى رَفَعَ الْقَوْمُ رُؤُوْسَهُمْ, قَالَ: فَلَمَّا قَضَى اْلإِمَامُ الصَّلاَةَ قُمْتُ أَنَا, وَأَنَا أَرَى لَمْ أُدْرِكْ, فَأَخَذَ بِيَدِيْ عَبْدُ اللهِ, فَأَجْلَسَنِيْ وَقَالَ: إِنَّكَ قَدْ أَدْرَكْتَ

“Aku pernah keluar bersama Abdullah (yakni, Ibnu Mas’ud) dari rumahnya menuju ke masjid. Tatkala kami berada di tengah masjid, maka imam ruku’. Abdullah bin Mas’ud pun bertakbir lalu ruku’. Aku juga ruku’ bersamanya, lalu kami berjalan sampai tiba ke shaff saat kaum (jama’ah sholat) mengangkat kepala mereka. Dia (Zaid bin Wahb) berkata, “Tatkala imam menyelesaikan sholatnya, maka aku berdiri –sedang saya memandang bahwa aku tak mendapatkan shalat (secara sempurna)-, maka Andullah bin Mas’ud menarik tanganku, lalu mendudukkan aku, seraya berkata, “Sesungguhnya engkau telah mendapatkan sholat (secara sempurna)”. [HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf (2622), Ath-Thohawiy (1/231-232), Ath-Thobroniy dalam Al-Kabir (9/271/no.9353), dan Al-Baihaqiy dalam Al-Kubro (2/90/no.2418)]

Jawaban:

hadits diatas banyak dijadikan dalil tetapi tidak terlepas dr kedhaifan, karena Kejadian Ibnu Mas’ud masbuq beserta Zaid diriwayatkan oleh Ath-Thabarani melalui banyak periwayatan, namun semuanya tidak terlepas dari kedhaifan yaitu:
1. Dari Muhammad bin an-nadhr, dari Mu’awiyah bin Amr, dari Zaidah bin Qudamah, Dari manshur. Dalam sanad lain, Zaidah, dari Mughirah, dari Ibrahim an-nakha’I tanpa menyebutkan nama orang yang masbuk bersama Ibnu mas’ud, tetapi hanya disebut Shahib Abdullah (Kawan Ibnu Mas’ud). Sanad ini diragukan mutassil (bersambungnya), karena dalam kitab-kitab rijal ada tiga rawi bernama Muhamad bin an-nadhr:

a. Muhammad bi an-nadhr bin Salamah al-‘Amiri al-jarudi
b. Muhammad bin an-nadhr bin Abdul Wahab an-naisaburi
c. Musawir al-Marwuzi, namun tidak ada satupun yang disebut al-Azdi

Yang jelas ketiganya tidak tercatat sebagai guru Ath-Thabarani (Lihat Tahdzibul Kamal, XXVI:553-556, 5.5657, 5, 658)

2. Dari Ishaq bin Ibrahim, dari Abdur Razaq, dari Sufyan Ats-tsauri, dari manshur. Didalam kitab Rijal terdapat 15 orang bernama Ishaq bi Ibrahim, namun yang tercatat sebagai periwayat dari Abdur Razaq hanya 3 orang, yaitu:

a. Ishaq bin Ibrahim bin Rawahaih
b. Ishaq bin Ibrahim an-Nashr
c. Ishq Bin Ibrahim bin Abbad ad-Dabbari
(Lihat Tahdzibul kamal, II:361-396; XVIII:54;al-kamil fi dhu’afair Rijal, I:344)
Pada sanad ini tidak dijelaskan Ishaq yang dimaksud. Tetapi bila digunakan dalam periwayatan At-Thabarani, maka yag termahsyur adalah Ishaq bin Ibrahim bin Abbad ad-Dabari. Sedangkan periwayatan Ishaq ad-dabbari dari Abdur razaq terdapat masalah:
a. Ia tidak pernah menerima hadis secara langsung dari Abdur Razaq, tetapi melalui ayahnya bernama Ibrahim (Liht lisanul Mizan, I:349)
b. Ia menerima beberapa hadis secara langsung dari abdurrazaq, namun Abdurrazaq telah ihtilath (buta matanya). Karena itu, Imam Ahmad berkata “Siapa menerima hadits dari Abdur razaq setelah buta matanya, maka penerimaan itu dhaif” (Lihat Tahdzibul Kamal, XVIII:58)
Menurut Ibnu hajar, “hadis-hadis Ishaq ad-Dabari dari Abdur-Razaq yang tidak dimuat pada kitab-kitabnya, maka hadts ini munkar (tertolak), karena ia menerimanya darinya setelah ikhtilath (Lihat lisanul Mizan, I:350). Karena hadis ini tidak dimuat dalam hadis abdur razaq, maka hadits ini munkar (tertolak) yakni diriwayatkan olehnya setelah Abdur Razaq ikhlilath.
3. Dari Ali bin Abdul Aziz, dari hajjaj bin Minhal, dari Abu Awanah, dari Manshur. Saad inipudiragukan kemutassilannya karena Abu ‘Awanah tidak menyebutkan secara pasti bentuk peerimaan hadits itu dari manshur, ia hanya menyebut ‘an (dari). Menurut para ahli hadits periwayatan Abu “Awanah dapat ditetapkan mutassil (bersambung) bila ia meriwayatkan dari catatannya, namun jika melalui hapalannya, maka hadits itu tidak selamat dari kesalahan (Lihat Tahdzibul Kamal, XXX:447)
4. Riwayat al-baihaqi diterima dari Abu nashr bin Qatadah, dari Abul Fadhl bin Humairuwaih, dari Ahmad bin najdah, dan Sa’id bin manshur, dari abul Ahwash, dari manshur. Sanad ini munqathi (terputus) karena Ahmad bin najdah tidak menerima hadis ini dari Sa’id bin manshur. Dan ia hanya periwayat kitab as-sunan dari Sa’id bin manshur, bukan sebagai periwayat haditsnya. Sedangkan hadis ini tidak tercatat dalam kitab sunan tersebut (Lihat, Tahdzibul kamal, XI:79)
Jadi Hadits diatas tidak bisa dijadikan Hujjah bahwa dapat ruku dapat 1 rakaat karena tidak luput dari kedhaifan

Permasalahan 2

Masbuq Mendapatkan Ruku Imam

Adanya dua pendapat tentang permasalahan masbuq mendapatkan ruku imam telah terjadi dimasyarakat kita, Yang satu menyatakan bahwa apabila masbuq mendapatkan ruku imam sebelum menegakan punggungnya maka ia mendapatkan 1 rakaat, sementara yag lainnya menyatakan bahwa apabila masbuq mendapatkan ruku imam itu tidak mendapatkan satu rakaat melainkan jika mendapatkan bacaan Al-Fathihah Imam. Berikut adalah alasan pendapat yang pertama:

A.      Alasan Pendapat Pertama

1.       “Siapa yang mendapatkan Ruku, berarti ia mendapatkan satu rakaat” (HR. Abu Daud, Fiqih Sulaiman Rasyid: 116)

2.       Abu Hurairah, ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW telah bersabda “apabila kamu datang untuk shalat, padahal kamu sedang sujud, maka bersujudlah, dan jangan kamu hitung sesuatu (satu rakaat) dan siapa yang mendapatkan ruku, berarti ia mendapatkan satu ruku (rakaat) dalam shalatnya) (HR Abu Daud, 1:207)

3.       Menurut jumhur “yang dimaksud ruku disana adalah rakaat, jadi siapa yang mendapatkan imam sedang ruku, berarti ia mendapatkan satu rakaat” (al-Mu’in al-mubin, 1:93)

4.       Juga telah diriwayatkansecara marfu’ dari Abu Hurairah “Siapa yang mendapatkan ruku dari shalat, sebelum imam menegakkan tulang rusuknya, berarti ia mendapatkan satu rakaat”. Dan telah dijadika judul dari hadits tersebut. Bab yang menerangkan ketika – dalam hal mana- imam mendapatkan satu rakaat ialah manakala ma’mum mendpatkan (sempat) ruku bersama imam. (subulussalam, 2:36)

5.       Dalam riwayat Daraquthni yang dishahihkan oleh Ibnu Hibban (diterangkan): “siapa yang mendapatkan ruku dari shalat sebelum imam menegakkan tulang rusuknya (bangkit dari ruku), maka ia berarti mendapatkan satu rakaat” (Masail al-muhimmah:37)

6.       Bahwa sesungguhnya Abu Bakar telah datang untuk shalat bersama Nabi dalam keadaan ruku – sebelum sampai menuju shaf- hal itu dismpaikan kepada Nabi, mka Nabi berkata “Semoga Allah menambah kesungguhanmu, tetapi jangan kau ulangi lagi” (HR. Bukhari)

B.      Alasan Pendapat Kedua

1.       Pada Hadits Abu Daud pendapat pertama point 1 tidak ditemukan dalam kitab sunan Abu Daud, maka bisa disimpulkan adanya kekeliruan dalam pengutipan

2.       Pada hadits kedua pada point 2 pendapat pertama, terdapat rawi yang bernama Yahya bin Abi Sulaiman al-Madani. Munurut Amir al-Mu’minin didalam hadits ialah: Muhammad bin Ismail al-Bukhari dalam kitab “JUZ-U AL-QIRA’AT”, Yahya yang ini munkar al hadits (Mizanul I’tidal, 4:383; Aunul ma’bud, 3:147)

3.       Menurut pernyataan Bukhari “Setiap orang yang kami nyatakan munkarul al-hadits, berarti tidak dapat dijadikan hujjah –bahkan- dalam satu riwayat dinyatakan “tidak halal sesuatu yag diriwayatkan darinya” (Fathul Bari, 1:346)

4.       Menurut riwayat yang lainnya hadits tersebut telah diriwayatkan sendirian oleh Yahya bin Sulaiman, sedang ia tidak kuat hafalannya (aunul ma’bud, 3.147)

5.       Hadits tersebut bukan dalil untuk pendapat mereka, karena anda pasti tahu bahwa rakaat itu mencakup semua aspek: bacaan, rukun-rukunnya secara hakiki, syara maupun urf (kebiasaan). Kedua arti tersebut harus didahulukan dari pada arti menurut bahasa. Demikian ketetapan para ahli ushul fiqh. (nailul Authar, 2:245)

6.       Disini tidak terdapat qarinah (alasan) apapun yang memalingkan arti hakiki rakaat kepada arti lain selain ruku, maka hadits termaksud bukan dalil, bahwa yang mendapatkan imam dalam ruku berarti mendapatkan satu rakaat. (Aunul Ma’bud, 3:148)

7.       Tertulis dalam catatan kaki al-Mughni atas sunan Daruquthni, dalam hadits termaksud ada rawi bernama Yahya bin Humaid. Menurut al-Bukhari tidak terdapat mutabi (jalan lain yang menguatkan haditsnya) dan juga dinyatakan dhaif oleh Daraquthni (Aunul Ma’bud, 3:148)

8.       Ibn Hazm dalam Al-Muhalla telah membahas mengenai hadits Abi Bakrah,menurutnya bahwa hadits tersebut tidak bisa dijadikan hujjah oleh mereka dalam hal termaksud, yaitu termasuk rakaat asal mendapatkan ruku. Karena pada hadits tersebut tidak dinyakatan cukup terhitung rakaat (Aunul Ma’bud, 3:141)

9.       Menurut Asy-syaukani: dalam hadits tersebut tidak ada dalil (bukan dalil) yang menguatkan pendapat mereka, karena sebagaimana dimaklumi tidak ada perintah untuk mengulanginya (rakaat), tapi juga dinyatakan terhitung rakaat, tapi juga tidak menyatakan terhitung rakaat. Adapun Nabi mendoakan kepadanya agar lebih bersungguh-sungguh itu tidak berarti terhitung rakaat. (Nailul authar, 2:246)

Dari keterangan-keterangan diatas dapat kita istinbath bahwa dalil pendapat pertama itu adalah lemah, sedangkan hujjah pendapat kedua itu kuat sehingga bisa dijadikan argument, apalagi jika dikuatkan dengan hadits-hadits berikut:

1.       Dari Abu Hurairah ra bahwasanya ia berkata “Jika engkau mendapatkan kaum sedang ruku, maka tidak terhitung rakaat” (HR. Bukhari; Aunul Ma’bud, 3:146)

2.       Dari Qatadah Bahwa Nabi suka membaca Fathihah kitab pada setiap rakaat (HR Tirmidzi)

3.       Dari Abu Hurairah, Nabi SAW ia bersabda “apabila kamu mendengar iqamat pergilah untuk shalat dan kamu mesti tenang, santai dan tidak terburu-buru, apa yang dapati bersama imam shalatlah, apa yang ketinggalan dari imam maka sempurnakanlah (HR. jamaah)

4.       Menurut Imam hafizh dalam kitab al-Baari: hadits itu dapat dijadikan dalil bahwa orang yang mendapatkan imam sedang ruku tidak dihitung rakaat, karena ada perintah untuk menyempurnakan apa-apa yang keitnggalan, sedangkan dalam hal ini jelas makmum ketinggalan (tidak ikut berdiir dan membaca al-fathihah). (fathul Bari, 2:99)

5.       Dengan ini, jelaslah kelemahan alasan-alasan pendapat jumhur yang menyatakan bahwa siapa yang mendapatkan imam dalam keadaan ruku, termasuk rakaat bersamanya (imam) dan bisa dihitung satu rakaat sekalipun tidak mendapat bacaan (fathihah) sedikitpun. (Aunul Ma’nud, 3:147)

6.       Inilah Muhammad bin Ismail Bukhari, salah seorang mujtahid serta figure tokoh agama,beliau berpendapat bahwa yang mendpatkan ruku bersama-saa dengan imam tidak dihitung mendapatkan rakaat, sampai ia membaca al-fathihah kitab dengan sempurna, maka iamest mengulang lagi rakaat itu (yang tidak sempat membaca fathihah, setelah imam salam. (Aunul ma’bud, 3:152)

Kesimpulan

Masbuq yang mendapatkan ruku imam tidak terhintung mendapatkan satu rakaat, tapi jika mendapatkan bacaan al-fathihah imam maka dapat dihitung satu rakaat. Adanya lagi pendapat yang behujjah mendapatkan ruku imam terhitung satu rakaat maka itu mencakup bacaan alfathihah imam karena bacaan imam adalah bacaan makmum, maka itu adalah termasuk perbuatan mendalili amal, karena lemahnya alasan terhitung satu rakaat jika dapat ruku imam dan dikatakan bacaan imam termasuk bacaan makmum yaitu apabila makmum mendengar dan memperhatikan bacaan imamnya!

Simak pembahasan selanjutya mengenai qaul dan amaliah shahabat menganai masalah ini

About rendyadamf
assalamu'alaikum wrwb..salam kenal buat teman - teman semuanya..gw rendy TTL : Bandung, 30-06-84. gw kuliah di UNISBA. gw nulis blog ini hanya untuk curahkan semua pemikiran gw..dan gw udah ubah haluan jalan hidup gw..menjadikan jihad sebagai satu-satunya jalan hidup gw!!

13 Responses to 12. Masbuq Mendapatkan Ruku Imam

  1. Mar says:

    Asslmualaikm wrwb, duh slh lg tuh tlsnny, cek tlsn hdisny y,mar teh sbnrny bingun+ngantk jg,bsk j dh komen lg hehe,skalian mw nany jg,eh tls ttg dhuha y.jzkllh

  2. Mar says:

    Asslmualaikm wrwb, duh slh lg tuh tlsnny, cek tlsn hdisny y,mar teh sbnrny bingun+ngantk jg,bsk j dh komen lg hehe,skalian mw nany jg,eh tls ttg dhuha y.jzkllh

  3. rendyadamf says:

    Wa’alaikumussalam wrwb..iya insya Allah rnd tulisin ttg shalat dhuha yah,,

  4. Mar says:

    Asslmualaikm hey mar teh g konek nih trlalu kbnykn tlsnny,emm jk mar smpuln tlsn teh bhw qt gbs dktkn msh dpt 1rkaat jk cm dpt ruku doang dr imm tp smentr alfthh qt ktinggln,jd mski ngulng lg,gt friend?

  5. mahbubah says:

    Assalamu’alaikum Ren…Mar juga

    bener tuh tentang dhuha juga yaaaa…tadi malam tu ya lagi ada perdebatan seru tentang waktu dhuha.

  6. rendyadamf says:

    wa’alaikumussalam wrwb semuanya uaaaahhhhh ngantuk haha..iya mar kl dptin ruku imam aja tidak terhitung 1 rakaat, jd ulangi lg rakaatnya,,ada apa dengan waktu dhuha..ok ok..stay tuna aja as soon as possible ok..mahbubah kmana aja lu wah payah neh somse hehe..

  7. muhamad fatoni says:

    Alhamdulillah kawan akhirnya bisa ketemu blog anta. Oke juga tulisan – tulisan pen. Hai coba nulis – nulis tentang pemikiran islam dong! coba kaji fiqh dengan perspektif indonesia.

  8. rendyadamf says:

    ok ok..boleh tuh,,saya pertimbangkan kawandh..makasih dah mampir kesini y hehe..btw dah dpt blum tutor bkn blog?

  9. syuaib says:

    Zaid bin Wahb-rahimahullah- berkata,

    عَنْ زَيْدِ بْنِ وَهْبٍ قَالَ: خَرَجْتُ مَعَ عَبْدِ اللهِ مِنْ دَارِهِ إِلَى الْمَسْجِدِ , فَلَمَّا تَوَسَّطْنَا الْمَسْجِدَ رَكَعَ اْلإِمَامُ, فَكَبَّرَ عَبْدُ اللهِ ثُمَّ رَكَعَ وَرَكَعْتُ مَعَهُ ثُمَّ مَشَيْنَا رَاكِعَيْنِ حَتَّى انْتَهَيْنَا إِلَى الصَّفِّ حَتَّى رَفَعَ الْقَوْمُ رُؤُوْسَهُمْ, قَالَ: فَلَمَّا قَضَى اْلإِمَامُ الصَّلاَةَ قُمْتُ أَنَا, وَأَنَا أَرَى لَمْ أُدْرِكْ, فَأَخَذَ بِيَدِيْ عَبْدُ اللهِ, فَأَجْلَسَنِيْ وَقَالَ: إِنَّكَ قَدْ أَدْرَكْتَ

    “Aku pernah keluar bersama Abdullah (yakni, Ibnu Mas’ud) dari rumahnya menuju ke masjid. Tatkala kami berada di tengah masjid, maka imam ruku’. Abdullah bin Mas’ud pun bertakbir lalu ruku’. Aku juga ruku’ bersamanya, lalu kami berjalan sampai tiba ke shaff saat kaum (jama’ah sholat) mengangkat kepala mereka. Dia (Zaid bin Wahb) berkata, “Tatkala imam menyelesaikan sholatnya, maka aku berdiri –sedang saya memandang bahwa aku tak mendapatkan shalat (secara sempurna)-, maka Andullah bin Mas’ud menarik tanganku, lalu mendudukkan aku, seraya berkata, “Sesungguhnya engkau telah mendapatkan sholat (secara sempurna)”. [HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf (2622), Ath-Thohawiy (1/231-232), Ath-Thobroniy dalam Al-Kabir (9/271/no.9353), dan Al-Baihaqiy dalam Al-Kubro (2/90/no.2418)]

  10. syuaib says:

    tolong jelaskan hadits diatas shahih atau tidak karena katanya kalau dapat rukuk berarti dapat rakaat itu

  11. syuaib says:

    oh iya, aku dapat dari alamt ini : http://almakassari.com/artikel-islam/fiqh/dapat-ruku-dapat-rakaat.html.

    aku tunggu jawabannya. aslkm wr wb

  12. rendyadamf says:

    @ Syuaib: Wa’alaykumussalam wrwb al-akh, hadits diatas banyak dijadikan dalil tetapi tidak terlepas dr kedhaifan, karena Kejadian Ibnu Mas’ud masbuq beserta Zaid diriwayatkan oleh Ath-Thabarani melalui banyak periwayatan, namun semuanya tidak terlepas dari kedhaifan yaitu:
    1. Dari Muhammad bin an-nadhr, dari Mu’awiyah bin Amr, dari Zaidah bin Qudamah, Dari manshur. Dalam sanad lain, Zaidah, dari Mughirah, dari Ibrahim an-nakha’I tanpa menyebutkan nama orang yang masbuk bersama Ibnu mas’ud, tetapi hanya disebut Shahib Abdullah (Kawan Ibnu Mas’ud). Sanad ini diragukan mutassil (bersambungnya), karena dalam kitab-kitab rijal ada tiga rawi bernama Muhamad bin an-nadhr:

    a. Muhammad bi an-nadhr bin Salamah al-‘Amiri al-jarudi
    b. Muhammad bin an-nadhr bin Abdul Wahab an-naisaburi
    c. Musawir al-Marwuzi, namun tidak ada satupun yang disebut al-Azdi

    Yang jelas ketiganya tidak tercatat sebagai guru Ath-Thabarani (Lihat Tahdzibul Kamal, XXVI:553-556, 5.5657, 5, 658)

    2. Dari Ishaq bin Ibrahim, dari Abdur Razaq, dari Sufyan Ats-tsauri, dari manshur. Didalam kitab Rijal terdapat 15 orang bernama Ishaq bi Ibrahim, namun yang tercatat sebagai periwayat dari Abdur Razaq hanya 3 orang, yaitu:

    a. Ishaq bin Ibrahim bin Rawahaih
    b. Ishaq bin Ibrahim an-Nashr
    c. Ishq Bin Ibrahim bin Abbad ad-Dabbari
    (Lihat Tahdzibul kamal, II:361-396; XVIII:54;al-kamil fi dhu’afair Rijal, I:344)
    Pada sanad ini tidak dijelaskan Ishaq yang dimaksud. Tetapi bila digunakan dalam periwayatan At-Thabarani, maka yag termahsyur adalah Ishaq bin Ibrahim bin Abbad ad-Dabari. Sedangkan periwayatan Ishaq ad-dabbari dari Abdur razaq terdapat masalah:
    a. Ia tidak pernah menerima hadis secara langsung dari Abdur Razaq, tetapi melalui ayahnya bernama Ibrahim (Liht lisanul Mizan, I:349)
    b. Ia menerima beberapa hadis secara langsung dari abdurrazaq, namun Abdurrazaq telah ihtilath (buta matanya). Karena itu, Imam Ahmad berkata “Siapa menerima hadits dari Abdur razaq setelah buta matanya, maka penerimaan itu dhaif” (Lihat Tahdzibul Kamal, XVIII:58)
    Menurut Ibnu hajar, “hadis-hadis Ishaq ad-Dabari dari Abdur-Razaq yang tidak dimuat pada kitab-kitabnya, maka hadts ini munkar (tertolak), karena ia menerimanya darinya setelah ikhtilath (Lihat lisanul Mizan, I:350). Karena hadis ini tidak dimuat dalam hadis abdur razaq, maka hadits ini munkar (tertolak) yakni diriwayatkan olehnya setelah Abdur Razaq ikhlilath.
    3. Dari Ali bin Abdul Aziz, dari hajjaj bin Minhal, dari Abu Awanah, dari Manshur. Saad inipudiragukan kemutassilannya karena Abu ‘Awanah tidak menyebutkan secara pasti bentuk peerimaan hadits itu dari manshur, ia hanya menyebut ‘an (dari). Menurut para ahli hadits periwayatan Abu “Awanah dapat ditetapkan mutassil (bersambung) bila ia meriwayatkan dari catatannya, namun jika melalui hapalannya, maka hadits itu tidak selamat dari kesalahan (Lihat Tahdzibul Kamal, XXX:447)
    4. Riwayat al-baihaqi diterima dari Abu nashr bin Qatadah, dari Abul Fadhl bin Humairuwaih, dari Ahmad bin najdah, dan Sa’id bin manshur, dari abul Ahwash, dari manshur. Sanad ini munqathi (terputus) karena Ahmad bin najdah tidak menerima hadis ini dari Sa’id bin manshur. Dan ia hanya periwayat kitab as-sunan dari Sa’id bin manshur, bukan sebagai periwayat haditsnya. Sedangkan hadis ini tidak tercatat dalam kitab sunan tersebut (Lihat, Tahdzibul kamal, XI:79)
    Jadi Hadits diatas tidak bisa dijadikan Hujjah bahwa dapat ruku dapat 1 rakaat karena tidak luput dari kedhaifan

  13. Pingback: Makmum yang Masbuq Menyusul Ruku Imam dapat Satu Rakaat « cahaya di atas cahaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: