3. Bersedekap

image2041image205

Memegangkan Tangan Kanan Di Atas Tangan Kiri

Hukum Menyimpan Tangan Kanan di atas Tangan Kiri

عَنْ أَبِيْ حَازِمٍ عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ: كَانَ النَّاسُ يُؤْمَرُوْنَ أَنْ يَضَعَ الرَّجُلُ اليَدَ اليُمْنَى عَلَى ذِرَاعِهِ اليُسْرَى فِي الصَّلاَةِ , قَالَ أَبُوْ حَازِمٍ : وَلاَ أَعْلَمُهُ إِلاَّ يَنْمِي ذَالِكَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى الله ُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. – رواه أحمد والبخاري

Dari Abu Hazim dari Sahl bin Saad, ia berkata,”Keadaan orang-orang diperintah agar menyimpan tangan kanan di atas hasta kirinya. Dan Abu Hazim berkata dan saya tidak mengetahui hal itu selain datang dari Nabi saw. (marfu)”. H.R.Ahmad dan  AlBukhari

Kata “Yu’maruna” (mereka diperintah) menunjukan atas wajibnya menyimpan tangan kanan di atas tangan kiri dan tidak boleh sebaliknya. Suatu ketika Ibnu Mas’ud shalat lalu ia menempatkan tangan kiri di atas tangan kanannya

عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ : أَنَّهُ كَانَ يُصَلِّي فَوَضَعَ يَدَهُ اليُسْرَى عَلَى اليُمْنَى فَرَأهُ النَّبِيُّ صَلَّى الله ُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَضَعَ يَدَهُ اليُمْنَى عَلَى اليُسْرَى. رواه أبو داود والنسائي وإبن ماجة

Dari Ibnu Mas’ud bahwa ia pernah shalat dan menyimpan tangan kiri di atas tangan kanannya, maka hal itu terlihat oleh Rassulullah saw., Maka Rasulullah saw menyimpan tangan kanan di atas tangan kirinya ” H.R. Abu Daud, An-Nasai dan Ibnu Majah


Jika diperhatikan, ternyata banyak cara yang dilakukan, antara lain ada yang memegangkan tangan kanan di atas tangan kiri di tengah-tengah hasta, ada yang memegangkan tangannya pada sikut, ada pula yang memegangkan tangan kanan pada pergelangan tangannya, bahkan ada juga yang sekedar menempelkan bukan memegangkan tangan kanan pada tangan kirinya. Dalam hal ini perlu dicari kejelasan apakah yang dimaksud itu seluruhnya atau bagian tertantu dari hasta itu karena makna hasta adalah dari ujung jari sampai sikut.

Kata-kata wadha’a bermakna menyimpan, tetapi dalam hal ini maknanya adalah memegangkan. Hal ini diterangkan oleh Imam Asy Syaukani bahwa kawan-kawan Imam Asy-Syafi’i menegaskan :

وَيُقْبِضُ بِكَفِّهِ اليُمْنَى كَوْعَ اليُسْرَى وَبَعْضَ رُسْغِهَا وَسَاعِدِهَا

Ia memegangkan tangan kanan kepada tangan kiri, sebagian pergelangan serta saidnya (bagian tangan dekat pergelangan)

عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى الله ُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَفَعَ يَدَيْهِ حِيْنَ دَخَلَ فِي الصَّلاَةِ وَكَبَّرَ ثُمَّ الْتَحَفَ بِثَوْبِهِ ثُمَّ وَضَعَ اليُمْنَى عَلَى اليُسْرَى … – رواه احمد ومسلم –   ( وَفِي رِوَايَةٍ ِلأَحْمَدَ وَأَبِي دَاوْدَ ) ثُمَّ وَضَعَ يَدَهُ اليُمْنَى عَلَى كَفِّهِ اليُسْرَى وَالرُّسْغِ وَالسَّاعِدِ .

Dari Wail bin Hujr, bahwa ia melihat Nabi saw mengangkat kedua tangannya ketika mulai shalat kemudian melipatkan lengan bajunya dan menyimpan tangan kanan di atas tangan kirinya….” -H.R.Ahmad dan Muslim- (di Dalam riwayat lain dari Ahmad dan Abu Daud dikatakan),” Kemudian Ia menyimpan tangan kanan di atas tangan kiri, pergelangan, dan sa’id (bagian lengan dekat pergelangannya)”.

Pada hadis lain masih dari sahabat Wail bin Hujr diterangkan:

وَضَعَ يَدَهُ اليُمْنَى عَلَى ظَهْرِ اليُسْرَى فِي الصَّلاَةِ قَرِيبًا مِنَ الرُّسْغِ . – رواه الطبراني

Ia (Nabi saw.) menyimpan tangan kanan di atas tangan kirinya dekat dari pergelangannya. (H.R.At-Tabrani)

Asy Syaukani menerangkan bahwa yang dimaksud adalah memegangkan tangan kanan pada pergelangan tangan kiri, sebagian punggung tangan kiri serta sebagian sa’id. Dan ”Hadis ini menunjukan disyari’atkannya menyimpan  tangan kanan pada punggung tangan kiri, serta hal ini telah menjadi pegangan para ulama jumhur. Nailur Authar,II : 193

Bersedekap di dada

Tentang meletakkan tangan (bersedekap sesudah takbir dalam shalat itu ada beberapa pendapat ulama, seperti dalam buku ”Kata berjawab jilid 6-10” A. Qadir Hassan mengemukakan bahwa tentang meletakkan tangan sesudah takbir dalam shalat itu, ada beberapa pendapat ulama :

  1. Di bawah pusar.
  2. Dia atas pusar (sebelah atas)
  3. Di atas dada

Alasan di bawah pusar :

Ali bin Abi Thalib berkata : ”menurut sunnah nabi SAW, ialah tapak (tangan kanan) atas tapak (tangan kiri) di bawah pusar dalam shalat. (H.R Abu dawud : 742)

Penolakannya :

  1. Hadits ini tidak shahih, karena dalam sanadnya ada rawi lemah, namanya : Abdurahman bin Ishaaq Al-Kufiy. Imam Ahmad, Bukhari, Nasaa’i dan lain-lain melemahkannya. (Mizaanul I’tidaal)
  2. Hadits itu ada juga diriwayatkan oleh : Abu Dawud H. 742, Ibnu Abi Syaibah, Daraquthni dan Baihaqi, dari jalan Abi Juhaifah, tetapi dalam semua sanad imam-imam tersebut ada Abdurrahman bin Ishaaq yang lemah tersebut. (Tuhfatul Ahwadzi, 2:87)
  3. Ada riwayat dari Abu Hurairah yang semakna dengan riwayat Ali tersebut. Tetapi riwayat in, selain mauquf (omongan Abu Hurairah sendiri), adalah dia lemah juga, karena dalam sanadnya ada rawi lemah Abdurrahman bin Ishaaq itu
  4. Ibnu Hazm (4: 11/113) ada meriwayatkan dari Anas tentang meletakkan tangan dibawah pusar, tetapi riwayatnya tidak bersanad, dan tidak diketahui alasannya.
  5. Ringkasnya : Semua hadits atau riwayat ”meletakkan tangan di bawah pusar” itu tidak ada satupun yang shahih.

Alasan sebelah atas pusar

Dari jabir Adh-Dhabbiy, ia berkata :

”Aku pernah melihat Ali memegang tangan kirinya dengan tangan kanannya atas pergelangan tangan sebelah atas pusar. (HR. Abu Dawud : 743)

Ada juga riwayat dari Sa’ied bin Jubair : ”sebelah atas pusar”

Penolakannya :

A. Riwayat ini menerangkan perbuatan Ali, bukan perbuatan Nabi SAW, sedang perbuatan seorang sahabat semata-mata tidak menjadi dasar agama.

B. Selain itu perkataan ”sebelah atas pusar” itu, dapat dimaknakan di tempat tinggi dari pusar, yaitu atas dada atau dekat dada, sebagaimana kata Al-Mubarakfuri dalam Tufathul Ahwadzi, 2:89

C. Riwayat dari Sa’ied bin ubair itu, dalam sanadnya ada seorang rawi yang menjadi pembicaraan, namanya Yahya bin Abi Thalib. Selain itu riwayat tersebut bukan hadits Nabi SAW

Alasan atas dada

Dari Wa’il bin Hujr ia berkata :

”Aku pernah shalat bersama Rasulullah SAW, ia meletakkan tangan kanannya atas tangan kirinya atas dadanya”. (HR Ibnu Khuzaimah : 479)

Keterangannya :

  1. Dalam sanad hadits ini ada rawi bernama Muammal bin Ismaail, oleh sebagian ulama dia dianggap lemah, karena lemah hafalannya, padahal ia seorang kepercayaan, benar, kuat, berpegang pada sunnah.

Penilaian tentang dirinya :

  1. Ibnu Hibban memasukan dia dalam rawi-rawi kepercayaan berkata :

”Terkadang dia salah dalam meriwayatkan hadits”. (At-Tahdzib)

  1. Kata Muhammad bin Nashr Al-Mariziy :

” Al-Muammal itu, apabila bersendiri (meriwayatkan) satu hadits, harus dihentikan dan tetap di situ, karena ia seorang yang lemah hafalannya dan banyak keliru”. (At-Tahdzib)

  1. tetapi ada riwayat dari sahabat yang bernama Hulb, ia berkata :

”Saya pernah melihat Nabi SAW berpaling ke kanannya dan kekiri dan saya melihat Nabi SAW, Hulb berkata ”Ia meletakan ini (tangan) di atas dadanya”. (HR Ahmad, 5:226; FR. 449, Tuhfatul Ahwadzi, 2:90)

Di bagian (A) di atas, Muhammad bin Nashr Al-Maruziy berkata bahwa riwayat dari Muammal, kalau bersendiri harus berhenti sampai disitu, yakni tidak dipakai, tetapi dengan riwayat dari Hulb ini, Muammal tersebut tidak berdiri sendiri lagi, berarti riwayat Muamal di atas sudah boleh dipakai sebagai hujjah

  1. Selain itu, riwayat Abu Dawud dari seorang tabi’i yang terkemuka dan kepercayaan, bernama Thaawus, ia berkata bahwa Nabi SAW meletakkan tangan atas dadanya, tetapi riwayat ini mursal. (Tuhfathul Ahwadzi). Dalam sanadnya tidak ada rawi yang tercela. Ini, walaupun Mursal, dapat juga dipakai sebagai penguat riwayat Muammal di atas.
  2. Hadits Wa’il bin Hujr di shahihkan oleh :
  1. Ibnu khuzaimah sebagaimana ditegaskan oleh Ibnu Saiyidin-Naas (Tuhfathul Ahwadzi)
  2. Syaikh Muhammad Qaaa’in As-Sindiy.
  3. Ibnu Hajar dalam Fathul bari, 2:152 (Tuhfathul Ahwadzi)

(Kata berjawab 6-10 : 332)

Dan ada hadits lainnya yaitu yang menguatkan bahwa Rasulullah meleakkan tangan di atas dada, yaitu:

”Beliau meletakkan kedua tangannya (bersedekap) di dada”. (H.R Abu dawud, Ibnu khuzaimah, Ahmad, dan Abu Syekh. Tirmidzi menghasankan salah satu sanad hadits ini)

Al-Marwazi berkata : ”Ishak pernah shalat witir bersama kami..ia mengangkat tangannya dalam kunut, dan berqunut sebelum ruku, dan meletakkan kedua tangannya diatas dada atau dibawah dada”. (Al-masail : 222)

Asy-Syaukani berkata ”Dalam bab ini tidak ada yang lebih shahih dari hadits Wail yang telah disebutkan”. (Nailul Authar, I:204)

Al-Albani berkata : ”Meletakkannya diatas dada adalah yang diterangkan dalam sunnah. Selain itu, kalau tidak dhaif, maka tidak ada dasarnya, sunnah ini yang diamalkan oleh Imam Ishaq dan Rawahaih”. (Shifat Shalat Nabi SAW : 46)

Makna  ‘Alas Shadri  (di atas dada)

Tentang hal ini banyak sekali praktek yang telah kita saksikan antara lain meyimpan tangan kanan di atas tangan kiri di bawah pusar atau di atas pusar atau di atas dada dekat lehernya, bahkan di samping seolah-olah menutup bagian lambung kiri.

Tentang ‘alash shadri hadisnya sebagai berikut:

عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ قَالَ : صَلَّيْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى الله ُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَضَعَ يَدَهُ اليُمْنَى عَلَى يَدِهِ اليُسْرَى عَلَى صَدْرِهِ . – اخرجه ابن خزيمة

Dari Wail bin Hujr, ia berkata,”Saya shalat bersama Rasulullah saw. maka saya melihat ia menyimpan tangan kanan di atas tangan kirinya pada dadanya”. H.R.Ibnu Khuzaimah

Kata-kata ash-shadr artinya dada, ada yang mengartikan diatas dada itu dengan leher, entah bagaimana jadinya karena hadis lain riwayat Abu Daud menerangkan:

ثُمَّ يَشُدُّ بِهِمَا

Kemudian ia (Nabi) menekankan kedua tangan itu

Kata-kata ‘alash shadri ‘ belum didapatkan keterangan yang lebih spesipik karena dalam pengertian kita arti dada adalah rongga dada. Oleh karena itu marilah kita perhatikan praktek sahabat yang senantiasa melihat shalat Nabi saw. Pada sebuah riwayat dari shahabat Abu Jarir Ad-Dabbi yang ia terima dari ayahnya ia mengatakan,”

رَأَيْتُ عَلِيًّا يُمْسِكُ شِمَالَهُ بِيَمِيْنِهِ فَوْقَ السُّرَّةِرواه أبو داود

Saya melihat  Ali bin Abi Thalib memegangkan tangan  kiri dengan tangan kanannya di atas pusar. H.R.Abu Daud

Dengan keterangan ini jelaslah bahwa yang di maksud dada ialah dada bagian bawah alias ulu hati. Hal ini sangat mudah diterima karena jika dada bagian atas sudah mempunyai nama tersendiri yaitu tsadyun (susu) dan terlalu bawah pun namanya sudah perut.

Hadis ini berderajat hasan dan benar apabila dijadikan batasan untuk kata-kata ash-shadr. Selain itu di dalam Al-Quran apabila didapatkan kata-kata ash-shadr biasanya artinya adalah hati. Wallahu a’lam.

Jadi, memegangkan tangan kanan di atas tangan kiri adalah dengan memegang pergelangan tangan kiri agar sebagian said dan kaf (tangan) terpegang serta diletakkan pada dada bagian bawah alias ulu hati dengan sedikit tekanan. (www.persis.or.id)

About rendyadamf
assalamu'alaikum wrwb..salam kenal buat teman - teman semuanya..gw rendy TTL : Bandung, 30-06-84. gw kuliah di UNISBA. gw nulis blog ini hanya untuk curahkan semua pemikiran gw..dan gw udah ubah haluan jalan hidup gw..menjadikan jihad sebagai satu-satunya jalan hidup gw!!

4 Responses to 3. Bersedekap

  1. Mar says:

    Asslmualaikm wrwb, wah ren lg2 bnyk tlsn yg keliru tuh..cek lg dh sobt,ok.,eh ada model jg y dsni hehe

  2. rendyadamf says:

    wa’alaikumussalam.wrwb..iya terimakasih koreksinya..nanti tolong copy pastekan mana yang salahnya..selama g merubah makna y tidak mengapa..iya bis rendy teh gpnya gambar,,jd iseng2 aja tampil dsini,,hehe

  3. dedy says:

    rendy : Asslamualaikum ak,aq juga mahasiswa UNISBA Bandung,jurusan apa ak…

  4. rendyadamf says:

    wa’alaykumussalaam,,owh iya..jur IE ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: