Hukum Isbal

Pakaian merupakan salah satu nikmat yang besar di antara nikmat-nikmat Allah. Di samping sebagai penutup aurat, melindungi tubuh, pakaian pun berfungsi sebagai penghias yang menambah keelokan dan kecantikan. Dengan pakaian, Allah mengingatkan manusia agar mengagungkan nikmat-nikmat-Nya serta menjaga diri dari keburukan.

Agar manusia terhindar dari keburukan dalam berpakaian, Allah telah menetapkan aturan yang jelas dan terperinci melalui sunah Rasul-Nya. Salah satu aturan itu menyangkut masalah isbal.

Isbal

Tahrir al-Musthalahat: Kriteria Isbal

Dalam menjelaskan masalah ini Nabi saw. menggunakan beberapa  ungkapan berbeda. Dilihat dari aspek ini dapat diklasifikasikan menjadi 5 bentuk:

1.   ungkapan isbal dengan derivatnya (musbil, isbal, dan asbala)

2.  ungkapan jar dengan derivatnya (yajurru)

3.  ungkapan isbal dan jar sekaligus secara bersamaan

4.  ungkapan wathi-a

5.  Tanpa menggunakan ungkapan khusus. Bentuk ini dibagi lagi menjadi dua macam:

a) Tanpa disertai kalimat sebelum dan sesudah

b) Disertai kalimat sebelum dan sesudah

Sehubungan dengan itu tahrir al-musthalahat (penegasan makna terminologis) tentang isbal cukup penting. Selain menghidupkan kembali model dan tradisi para ulama Islam juga merupakan tuntutat logis agar tidak menciptakan kerancuan atau kebingungan (confusion), yang akhirnya mengaburkan dan bahkan menyesatkan, sebagaimana pengalaman diskusi tentang masalah ini di Jakarta dan Indramayu beberapa waktu yang lalu.

Pengertian Isbal: analisa Lughawi (bahasa)

Isbal adalah bentuk masdar dari asbala-yusbilu. Secara wadh’i (pembentukan lafal), kata asbala diambil dari as-sabal. Kata Majduddin al-Mubarak bin Muhamad (w. 660 H) atau yang lebih populer dengan sebutan Ibnul Atsir:

السَّبَل بالتحريك : الثِّيَابُ المُسْبَلةُ كالرَّسَل والنَشَر فِي المُرْسَلةِ والمَنْشُوْرَةِ . وَقِيْلَ : إِنَّهَا أَغْلَظُ مَا يَكُوْنُ مِنَ الثِّيَابِ تُتَّخَذُ مِنْ مُشاَقَةِ الكَتَّانِ

As-Sabal artinya at-tsiyab al-musbalah (baju yang diturunkan), seperti kata ar-Rasal (bermakna yang dikirim/dilepas) dan kata an-Nasyar (bermakna yang disyiarkan/dipancarkan). Dikatakan bahwa as-sabal adalah jenis baju paling tebal yang dibuat dari kapas rami (nama pohon)” Lihat, an-Nihayah fi Gharib al-Hadits, II:846

Berdasarkan penjelasan ini, maka secara wadh’i kata isbal memiliki makna khusus, yakni “memakai as-sabal atau memakai baju yang diturunkan”.

Pada perkembangan selanjutnya, penggunaan kata isbal secara bahasa dimaknai lebih umum tanpa memperhatikan konteks pembentukannya, artinya menjadi

الإِِْرْخَاءُ وَالإِِْطَالَةُ

“menurunkan dan memanjangkan”

Jamaluddin Muhamad bin Mukarram (W. 711 H) atau yang lebih popular dengan sebutan Ibnu Manzhur mengatakan:

أَسْبَلَ فُلاَنٌ ثِيَابَهُ إِِذَا طَوَّلَهَا وَأَرْسَلَهَا إِلَى الأَرْضِ

Seseorang dikatakan mengisbalkan bajunya apabila ia memanjangkan pakaian dan melabuhkannya ke tanah. Lihat, Lisan al-‘Arab, XI:319

Penjelasan para ahli di atas menunjukkan bahwa suatu perbuatan dikategorikan isbal secara bahasa dan pelakunya disebut musbil apabila memanjangkan pakaian dan melabuhkannya hingga tanah. Apabila pakaian itu semata-mata hanya menutup mata kaki, tanpa berlabuh hingga ke tanah tidak dapat disebut isbal secara bahasa. Selain itu, analisa bahasa tidak menjadikan motif, misalnya karena sombong, sebagai unsur kategori isbal.

Pengertian Isbal: analisa urfi khas (istilah)

Berbeda dengan makna bahasa, secara urf’i khas (istilah) isbal memiliki washfun khas (kriteria khusus). Kalimat isbal al-izar atau isbal ats-tsaub artinya menurunkan/melabuhkan izar (pakaian sejenis jubah) atau baju sampai ke tanah ketika berjalan karena sombong.

“Maksudnya ialah orang yang memanjangkan kainnya dan mengulurkannya sampai ke tanah jika ia berjalan kaki” (an-Nihayah, 2:339)

Syekh Ahmad bin Muhamad bin Ziyad (w. 340 H) atau yang lebih populer dengan sebutan Ibnul ‘Arabi berkata:

المُسْبِلُ الَّذِي يُطَوِّلُ ثَوْبَهُ ويُرْسِلُهُ إِِلَى الأَرْضِ إِذا مَشَى وإِنَّمَا يَفْعَلُ ذلِكَ كِبْراً وَاخْتِيَالاً

al-Musbil itu ialah orang yang memanjangkan baju dan melabuhkannya hingga tanah apabila berjalan, dan ia melakukannya tiada lain karena sombong dan berlaga menonjolkan diri. Lihat, Lisan al-Arab, XI:319; Taj al-Arus Min Jawahir al-Qamus, XXIX:162; an-Nihayah fi Gharib al-Hadits, II:846

Pernyataan Ibnul ‘Arabi ini dikukuhkan kembali oleh para ulama yang hidup pada generasi selanjutnya, antara lain:

A. Ibn al-Atsir (w. 660 H) dalam an-Nihayah fi Gharibil Hadits, II:846

B.  Abu Zakariya Yahya bin Syarf (W.676 H) atau yang lebih populer dengan sebutan Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, II:116

C. Imam Abdurrahman bin Abu Bakar (W. 911 H) atau yang lebih populer dengan sebutan Imam as-Suyuthi dalam Hasyiah ‘ala Sunan Ibnu Majah, I:160

D. Muhamad Ali bin Muhamad al-Bakri as-Shadiqi (W. 1057 H) berkata:

الْمُسْبِلُ بِصِيْغَةِ الْفَاعِلِ مِنَ الإِسْبَالِ الْمُرْخِي لِثَوْبِهِ الْجَارُّ لَهُ خُيَلاَءَ فَهُوَ مَخْصُوْصٌ بِذلِكَ

Al-Musbil dengan sighah fa’il, dari kata al-isbal. Artinya yang menurunkan pakaiannya lagi menarik/menyeretnya karena sombong. Maka musbil dikhususkan dengan makna itu” Lihat, Dalil al-Falihin, VI:78

E.  Muhamad Syams al-Haq Abadi (W. 1310 H), berkata:

الإِسْبَالُ تَطْوِيْلُ الثَّوْبِ وَإِرْسَالُهُ إِلَى الأَرْضِ إِذَا مَشَى كِبْرًا

Al-Isbal itu ialah memanjangkan pakaian dan melabuhkannya ke tanah apabila berjalan karena takabbur. Lihat, ‘Aun al-Ma’bud Syarh Sunan Abu Daud, II:240

F.  Syekh Ibrahim al-Yazini (W. 1847 H) berkata:

وَيُقَالُ : مَرَّ فُلانٌ مُسْبِلاً إِذَا طَوَّلَ ثَوْبَهُ وَأَرْسَلَهُ إِلَى الأَرْضِ وَمَشَى كِبْراً وَاخْتِيَالاً

Dikatakan: Fulan lewat dalam keadaan isbal, (maknanya) apabila memanjangkan pakaian dan melabuhkannya ke tanah dan berjalan dalam keadaan sombong dan berlaga menonjolkan diri. Lihat, Nuz’ah ar-Raid wa Syir’ah al-Warid fi al-Mutaradif wa al-Mutawarid, hal 82

Berdasarkan rumusan para ulama di atas, dapat dipahami bahwa secara urfi khas (istilah) suatu perbuatan dapat dikategorikan Isbal dan pelakunya disebut musbil, apabila memenuhi washfun (sifat) sebagai berikut:

1.     Unsur mode, yaitu memanjangkan pakaian dan melabuhkannya hingga tanah

2.    Unsur motif, yaitu karena sombong

3.    Unsur aksi, yaitu idza masya (berjalan)

Karena itu, tidak dapat dikategorikan Isbal secara istilah:

1.   Apabila melabuhkan pakaian hingga menutup mata kaki/di bawah mata kakil, tanpa berlabuh ke tanah.

2.  Apabila melabuhkan pakaian hingga tanah/lantai ketika berdiri atau tanpa masya (berjalan)

3.  Apabila melabuhkan pakaian hingga tanah/lantai dan berjalan dihadapan orang lain bukan atas dasar kesombongan.

Untuk sifat yang ke-3 ini kami cenderung menyebutnya tidak termasuk isbal, bukan isbal yang boleh.

Dengan demikian, memahami kata isbal atau musbil dengan makna semata-mata melabuhkan pakaian hingga menutup mata kaki/di bawah mata kaki, hemat kami tidak memiliki landasan ilmiah yang jelas, baik secara lughawi maupun ‘urfi khas.

Macam-macam isbal

Isbal tidak terbatas pada celana atau gamis saja, tetapi juga mencakup sorban, selendang atau yang lainnya, hal ini ditegaskan dalam hadis berikut ini:

Dari Salim Ibn Abdillah dari ayahnya dari Nabi saw, ia bersabda “isbal itu dalam sarung, gamis dan sorban. Barangsiapa yang mengulurkan sesuatu diantaranya atas dasar sombong, maka Allah tidak akan melihatnya( memperhatikannya) di hari kiamat” (HR Abu Dawud, Aunul Ma’bud, 11;153)

Ungkapam sesuatu itu mencakup baju, gamis, sorban, sarung, jubah hijau, jubah (biasa), selendang dan pakaian yang lainnya” (yas’alunaka, 2:30. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Abu Dawud 2:381, an-Nasai 8:184 dan Ibnu Majah, 2:1184)

Dalam menilai hadis tersebut para ulama berbeda pendapat, diantaranya:

Al-Mundziri berkata “Hadis itu telah dikeluarkan oleh an-Nasai dan Ibnu Majah dan disanadnya ada rawi bernama Abdul Aziz ibn Abi Rawad dan ia diperbincangkan bukan oleh seorang”

An-Nawawi nerkata dalam Riyadh ash-shalihin “Hadis itu diriwayatkan oleh Abu Dawud dan An-nasai dengansanad yang shahih” (aunul Ma’bud, 11:54)

“hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, An-nasai dan Ibnu Majah dengan sanad yang hasan” (Taudhih al-Ahkam, 7:315)

Mengingat hadis tersebut telah dinilai shahih dan hasan oleh ulama ahli hadits, sementara yang menyatakan dhaif tidak menjelskan sebab dhaifnya, maka penilaian yang kuat dalam hadis ini adalah penilaian ulama yang menganggapnya shahih.

Terhadap hadis diatas, beberapa ulama memberikan penjelasan;

Menurut Ibnu Bathal “isbal dalam sorban yang dimaksudkan disini adalah mengulurkan ujung sorban melebihi kebiasaan”

“memanjangkan lengan gamis dengan ukuran yang melebihi kebiasaan termasuk isbal. Demikian al-qadhi ‘iyadh telah meriwayatkan dar ipara ulama, makruhnya pakaian yang melebihi kebiasaan, baik dalam ukuran panjangnya atau longgarnya demikian ungkapan dalam Nailul authar” (‘Aunul Ma’bud, 11:154)

Keterangan diatas menunjukan bahwa isbal itu tidak hanya dalam sarung, celana dan gamis saja, tetapi juga dalam sorban, selendang dan jubah. Isbal disini dimaksudkan dengan melebihi batas dari kebiasaan yang wajar.

Hadis-hadis yang melarang isbal

Mengenai larangan isbal, terdapat banyak sekali hadis. Dari kesemuanya itu dapat dikelompokan menjadi dua yaitu

1. hadis-hadis yang melarang isbal secara mutlaq

2. hadis-hadis yang melarang isbal dikarenakan sombong (muqayyad).

Hadis-hadis mutlaq

Yang dimaksud hadis-hadis mutlaq disini adalah yang tidak menyebutkan “karena sombong”, yaitu:

1. Dari Abu Dzar dari nabi saw beliau bersabda “ada tiga golongan manusia yang Allah tidak akan mengajak bicara kepada mereka, tidak akan melihat mereka dihari kiamat, tidak akan membersihkan merekadan bagi mereka siksa yang pedih” aku bertanya “siapa mereka wahau Rasulullah? Sungguh merugi mereka!” kemudian ia mengulangnya 3 kali. Aku bertanya “siapa mereka wahai Rasulullah? Sungguh merugi mereka!” ia berkata, Nabi saw menjawab “mereka adalah orang yang mengisbalkan pakaian , orang yang suka mengungkit-ungkit pemberian, dan orang yang melariskan dagangannya dengan sumpah palsu atau dusta” . (HR. Abu Dawud; Aunul Ma’bud, 11:145; An-Nasai, 8:184; HR. Muslim, shahih muslim, I:102: Ibnu Hibban, shahih ibnu hiban, XI:272: Ad-Darimi, sunan ad-darimi, II:346-347: Al-baihaqi, As-sunanul kubra, II:42: An-Nasai, sunan An-Nasai, V:81: Ibnu Majah, Sunan ibnu Majah, !!:744; Ibnu abi Syaibah, AL-Mushanaf, V:165; Al-Bazzar, musnad Al-Bazaar, IX:417; Ahmad, Musnad Ahmad, V:162. redaksi diatas riwayat muslim)

Hadis ini menyatakan dengan keterangan mutlaq al-musbilu (orang yang mengulurkan pakaiannya) dan tidak menyebutkan illat karena sombong. Ini berarti, orang yang mengulurkan pakaiannya(melebihi mata kaki), baik atas dasar sombong atau tidak tetap akan mendapat sanksi sebagaimana dalam hadis tersebut diatas

2. Dari Abu Hurairah ra.dari Nabi saw beliau nersabda “apa-apa (kain) yang berada dibawah dua mata kaki, maka pasti di neraka” (HR. Bukhari; Fathul bari, 10:261)

3. Dari Ibnu Umar ia berkata “Nabi saw melihatku mengulurkan sarungku, lalu Nabi Bersabda “wahai Ibnu Umar setiap sesuatu (pakaian)yang menyentuh bumi (tanah)pasti dineraka” (HR Ath-Thabrani, Fathul bari, 10:362)

4. dari Ibnu Mas’ud sesungguhnya ia melihat seorang arab gunung shalat dengan berpakaian isbal, lalu ia berkata”orang yang isbal dalam shalat tidaklah dalam keadaan yang dihalalkan dan tidak pula diharamkan Allah”.(HR Ath-Thabrani dengan sanad hasan, fathul bari, 10:362)

Maksudnya, orang isbal itu tidak beriman terhadap perkara yang Allah halalkan dan yang Allah haramkan. Dengan kata lain, dia sama sekali tidak berada dalam aturan Allah.

5. Dan menurut Ath-Thabrani dari hadis Ibnu Abbas yang marfu’ “Segala sesuatu (pakaian) yang melebihi dua mata kaki dari sarung, adalah di neraka” (Fathul Bari, 10:363)

6. dar imughirah bin Syu’bah “Aku melihat rasulullah saw memegang selendang Sufyan bin Subail seraya berkata “wahai Sufyan jangan isbal! Karena sesungguhnya Allah tidak menyukai yang Isbal: (Hr An-Nasai dan Ibnu Majah dan dinytakan shahih oleh ibnu Hibban)

7. Dari Abu Umaamah “tatkala kmai bersasma Rasulullah saw tiba-tiba danatang menyusul ‘Amr ibn Zurarah al-Anshari dengan memakai sarung dan selendang yang isbal, kemudian Rasulullah saw memegang ujung pakaiannya dan merendah diri kepada Allah seraya bersabda “Ya Allah hambaMu, putra hamaMu, dan HambaMu (perempuan)! Sehingga terdengar oleh Amr lalu ia berkata “wahai Rasululas saw, sesungguhnya kedua betisku kecil” lalu Nabi saw Bersabda “wahai Amr sesungguhnya Allah telah membaguskan ciptaanNya, wahai Amr!Allah tidak menyukai yang isbal” (HR Ath-Thabrani; fathul bari, 10:372)

8. Dari Syuraid ats-tsaqafi ia berkata Nabi melihat seorang laki-laki yang mengisbalkan sarungnya, lalu Nabu berkata”Angkat sarungmu!” lalu ia menjawab “kedua lututku bengkok” lalu Nabi besabda “angkat sarungmu!maka setiap ciptaan Allah itu baik” (HR ath-thabrani; fathul bari 10;372)

9. Dari Abu Hurairah ra ia berkata ketika seorang laki-laki shalat dengan mengisbalkan sarungnya, rasulullah saw bersabda “pergilah dan berwudulah!”kemudian seorang laki-laki bertanyan kepada Nabi “wahai Rasulullah mengapa engkau perintahkan berwudu lalu ia diam” kemudian Nabi bersabda “sesungguhnya ia shalat dengan mengisbalkan  sarungnya dan Allah tidak akan menerima shalat orang yang isbal” (HR Abu Dawud aunul ma’bud, 11:144)

10. Dari Abu Hurairah, dari Nabi saw. Beliau bersabda “yang dibawah kaki tempatnya dineraka”. HR Al-Bukhari, Fathul bari, XI:428; An-Nasai, sunan An-Nasai, V:489; Ahmad, Musnad imam ahmad, II:410 dan 416. hadis ini diriwayatkan pula oleh ibnu abi syaibah dan imam Ahmad dari sahabat samurah bin jundab (lihat mushanaf, V:167 dan Musnad Imam Ahmad, V:9)

Pada hadis lain, nabi bersabda:

11. Dari al’ala bin Abdurrahman, dari ayahnya, sesungguhnya dia berkata “aku bertanya kepada abu said tentang sarung” maka ia menjawab “aku akan khabarkan kepadamu berdasarkan ilmu, aku mendengar Rasul saw. Bersabda’batas sarung seorang mukmin sampai pertengahan betis, dan dibolehkan antara mata kaki dan tengah betis, dan yang dibawah mata kaki tempatnya dineraka, dan siapa yang menyeretsarungnya karena kesombongan. Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat.HR Malik Al-muwatha, II:914; dan At-thabarani, al-mujamul kabir, II:39, dengan perbedaan redaksi

Menurut ath-thibbi “Bisa jadi rahasia perintah Nabi untuk berwudu padahal ia suci, agar orang itu berfikir, mengapa ia diperintah berwudlu (padahal belum batal), kemudian dia sadar menghentikan perbuatan yang salah, kemudian Allah dengan berkah perintah Rasulullah untuk mensucikan lahir (dapat) mensuciikan batinnya dari rasa angkuh dan sombong, karena penyakit lahir berpengaruh untuk penyucian batin” (aunul ma’bud, 11:144)

Sanksi isbal dalam hadis muthlaq

Sanksi Isbal dalam hadis-hadis uyang muthlaq dapat disimpulkan sebagai berikut

1. Allah tidak akan mengajak bicara kepada mereka.

2. Allah tidak akan memperhatikan mereka.

3. Allah tidak akan menyucikan mereka.

4. Bagi Mereka siksa yang pedih

5. masuk Neraka.

6. Tidak berada dalam aturan Allah tentang halal dan yang haram

7. Allah tidak mencintai orang yang Isbal.

8. Allah tidak akan menerima Shalat orang yang isbal.

Hadis-hadis Muqayyad

Muqayyad artinya terikat atau bersyarat. Yang dimaksud dengan hadis-hadis yang melarang isbal atas dasar sombong. Adapun hadis-hadisnya sebagai berikut:

1. dari Abu Hurairah ra sesungguhnya Rasulullah saw bersabda”Allah tidk akan melihat di hari kiamat kepada orang yang mengulurkan pakaiannya (isbal)karena sombong” (HR Bukhari; fathul bari, 10: 363)

2. Dari Abdullah ibn Umar sesungguhnya Rasulullah saw bersabda “Allah tidak akan melihat di hari kiamat kepada oranh yang mengulurkan pakaiannya karena sombong” (HR. Tirmidzi tuhfatul ahwadzi, 5:403: Muslim, 2:310)

3. Dari Ibnu Umar ia berkata: Rasulullah saw telah bersabda “barangsiapa yang mengulurkan pakaiannya karena sombong, Allah tidak akan melihatnya dihari kiamat

4. Dari Ibnu Umar sesungguhnya ia melihat seorang laki-laki melabuhkan pakaiannya lalu ia bertanya “darimana kamu?” kemudian ia menyebutkan turunannya, ternyata di seorang laki-laki dari laits. Lalu Ibnu Umar memberi tahunya seraya mengatakan “:aku mendengar Rasulullah saw langsung dengan telingaku sendiri beliau bersabda”Barang siapa yang melabuhkan sarungnyadan tidak bermaksud kecuali karena sombong, maka Allah tidak akan melihatnya di hari kiamat”(HR Muslim, 2:311)

5. Dari Ibnu Juray Jabir ibn Sulaim, ia berkata “awas kamu mengisbalkan sarung, karena hal itu termasuk sombong dan Allah tidak menyukai oramng yang sombong”(HR Abu Dawud aunul ma’bud, 11:140)

6. Dari Salim dari ayahnya, dari Nabi saw. Beliau bersabda”isbal itubisa dalam sarung, gamis, dan sorban. Barangsiapa yang mengisbalkansesuatu diantaranyakarena sombong, maka Allahtidak akan melihatnya di hari kiamat”HR Ibnu Majah,2:1184)

7. Dari jabir bin sulaim Al-Hujaimi, ia berkata “aku mendatangi Rasulullah saw..beliau bersabda,’…dan jauhilah olehmu melabuhkan pakaianitu termasuk sombong. Dan sesungguhnya Allah tidak menyukai kesombongan” HR Al-baihaqi, as-sunanul kubra, V:486 dan X:236; Ibnu Abi Syaibah, Al-Mushanaf, V:166; Abu Daud, Sunan Abu Daud, IV:56; Ibnu Hiban, shahih ibnu hiban, II:281

Pada hadis lain Nabi saw bersabda:

8. Barang siapa melabuhkan pakaian dengan maksud sombong, sesungguhnya Allah tidak akan memperhatikannya pada hari kiamat. HR Abu Awanah, Musnad Abu Awanah, V:247; Amad, Musnad Imam Ahmad, II:45

Keterangan ini diperkuat oleh riwayat Ibnu Umar sebagai berikut:

9. Sesungguhnya rasulullah saw berdabda “sesungguhnya orang yang melabuhkan pakaiannya karena sombong, Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat”HR. Muslim, shahih muslim, III: 1652; Al-Baihaqi, as-sunanul kubra, II:233; Ahmad, Musnad Imam Ahmad, II:5; Ibnu majah, sunan Ibnu Majah, II:1181

Hadis-hadis diatas semuanya menunjukan sanksi bagi orang yang mengisbalkan pakaiannya karena sombong

Sanksi isbal dalam hadis muqayyad

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan, bahwa sanksi bagi orang yang isbal karena sombong ialah: Allah tidak akan melihatnya dan Allah tidak menyukai kesombongan.

Dari uraian diatas, dapat kita ketahui bahwa dalil-dalil yang bersifat mutlaq dan muqayyad dalam masalah isbal ini berbeda sebab dan hukumnya. Sebab yang pertama adalah isbal secara mutlaq, seeding yang kedua adalah isbal dengan sombong, disamping itu, hukumnya juga berbeda, yang pertama hukumnya ancaman neraka, yang kedua hukumannya adalah ancaman bahwa Allah SWT tidak akan melihatnya pada hari kiamat, tidak akan berbicara dengannya, tidak akan mensucikannya, dan dia mendapatkan siksaan yang pedih.

Pemahaman Hadis (1): ungkapan isbal dan derivatnya (musbil, isbal, dan asbala)

عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم  قَالَ: ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلاَ يُزَكِّيْهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ قَالَ فَقَرَأَهَا رَسُوْلُ اللهِ ثَلاَثَ مِرَارٍ قَالَ أَبُوْ ذَرٍّ خَابُوْا وَخَسِرُوْا مَنْ هُمْ يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ : أَلْمُسْبِلُ  وَالْمَنَانُ وَالْمُنْفِقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ

Dari Abu Dzar, dari Nabi saw., beliau bersabda, “Tiga orang yang tidak akan diajak bicara, tidak akan diperhatikan, tidak akan disucikan oleh Allah pada hari kiamat, dan mereka mendapat siksa yang pedih” Kata Abu Dzar, “Rasulullah mengucapkannya sebanyak tiga kali” Abu Dzar berkata, “Siapa mereka yang celaka dan merugi itu wahai Rasulullah?” Rasul menjawab, “Orang yang berisbal, yang mengungkit-ungkit pemberian, dan menawarkan dagangannya dengan sumpah palsu”. H.r. Muslim, Shahih Muslim, I:102; Ibnu Hiban. Shahih Ibnu Hiban, XI:272; Ad-Darimi, Sunan Ad-Darimi, II:346-347; Al-Baihaqi, As-Sunanul Kubra, II:42; An-Nasai, Sunan An-Nasai, V:81; Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, II:744; Ibnu Abi Syaibah, Al-Mushannaf, V:165; Al-Bazzar, Musnad Al-Bazzar, IX:417; Ahmad, Musnad Ahmad, V:162. Redaksi di atas riwayat Muslim

Imam Ahmad juga meriwayatkan dengan redaksi:

إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى الْمُسْبِلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Sesungguhnya Allah tidak akan memperhatikan al-musbil pada hari kiamat. H.r. Ahmad, al-Musnad, II:318, No. 8212.

Dalam riwayat al-Baihaqi (Syu’ab al-Iman, V:144, No. 6123) dengan redaksi:

لاَ يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَى الْمُسْبِلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Dalam riwayat an-Nasai dan at-Thabrani dengan redaksi:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَنْظُرُ إِلَى مُسْبِلِ الإِزَارِ

Lihat, as-Sunan al-Kubra, V:488, No. 9699, Sunan an-Nasai, VIII:207, No. 5332, at-Thabrani, al-Mu’jamul Kabir, XII:41, No. 12.414

Dalam riwayat Ibn al-Ja’di dan ad-Dhiya al-Maqdisi dengan redaksi:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى المُسْبِلِ إِزَارَهُ

Lihat, al-Musnad Ibn al-Ja’di, I:328, No. 2249; al-Ahadits al-Mukhtarah, IV:96.

Dalam berbagai riwayat di atas, Nabi menggunakan ungkapan al-Musbil atau musbil al-izar, tanpa menjelaskan maksud al-musbil itu.

Sedangkan dalam riwayat-riwayat lain, maksud al-Musbil itu dijelaskan oleh Nabi sendiri sebagai berikut:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى مَنْ يَجُرُّ إِزَارَهُ بَطَرًا

Sesungguhnya Allah tidak akan memperhatikan orang yang menyeret sarungnya karena sombong. H.r. Muslim Shahih Muslim, III:1653, No. 2087

Dalam riwayat al-Bukhari dengan redaksi:

لَا يَنْظُرُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَى مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا

Allah tidak akan memperhatikan orang yang menyeret sarungnya karena sombong pada hari kiamat. Lihat, Shahih al-Bukhari, V:2182, No. 5451.

Dalam riwayat Malik (al-Muwatha, II:914, No. 1629) dengan redaksi:

لَا يَنْظُرُ اللَّهُ تبارك وتعالى يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَى مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا

Dalam riwayat Abu Daud Thayalisi (al-Musnad, I:326, No. 2487) dengan redaksi:

لَا يَنْظُرُ اللَّهُ عز وجل إِلَى مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا

Dengan riwayat al-Bukhari, Muslim, Malik, dan Abu Daud at-Thayalisi di atas jelaslah bahwa arti al-musbil itu ialah man jarra izarahu bathran (orang yang menyeret kainnya karena sombong).

Selain menegaskan arti isbal, pada hadis itu Nabi juga menegaskan ‘illat at-tahrim (sebab keharamannya), yakni bathran (sombong).

Dengan demikian sungguh tepat para ulama ketika menjelaskan bahwa al-musbil adalah orang yang menurunkan/melabuhkan sarung atau baju sampai ke tanah ketika berjalan karena sombong. Sehubungan dengan itu, Ibn al-Atsir menegaskan:

وَقَدْ تَكَرَّرَ ذِكْرُ الإِسْبَالِ فِي الْحَدِيْثِ وَكُلُّهُ بِهذَا الْمَعْنَى

Dan sungguh kata isbal disebut berulang kali di dalam hadis dan semuanya bermakna demikian. Lihat, An-Nihayah fi Gharib al-Hadits, II:846

Misalnya ketika Nabi bersabda kepada Sufyan bin Sahl

يَا سُفْيَانُ بْنُ سَهْلٍ ، لاَ تُسْبِلْ ، فَإِنَّ اللَّهَ لاَ يُحِبُّ الْمُسْبِلِينَ

Hai Sufyan bin Sahl, janganlah kamu berisbal karena Allah tidak menyukai orang yang isbal. H.r. Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, II:1183, No. 3574; Ibnu Abi Syaibah, al-Mushannaf, V:167, No. 24.835, at-Thabrani, al-Mu’jam al-Kabir, XX:423, No. 1024, Ibnu al-Ja’di, al-Musnad, I:322, No. 2235

Dalam riwayat at-Thabrani (al-Mu’jam al-Kabir, XX:423, No. 1023), an-Nasai (as-Sunan al-Kubra, V:488, No. 9804), dengan redaksi:

لاَ تُسْبِلْ إِزَارَكَ فَإِنَّ اللَّهَ لاَ يُحِبُّ الْمُسْبِلِينَ

Dalam riwayat Ibnu Hiban (Shahih Ibnu Hiban, XII:259, No. 5442) dengan redaksi:

يَا سُفْيَانُ لاَ تُسْبِلْ إِزَارَكَ فَإِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى الْمُسْبِلِينَ

Sejauh pengetahuan kami, di dalam hadis-hadis penggunaan kata isbal al-izar sebanyak 23 kali. Sedangkan musbil sebanyak 34 kali. Yang penting untuk diperhatikan, ketika Nabi menyebut dengan ungkapan isbal atau musbil itu, pada umumnya Nabi tidak menyertakan qayyid (pembatas/pembeda), baik dengan kata khuyala maupun bathran.

Hemat kami, hal ini menunjukkan bahwa ungkapan isbal atau musbil itu menunjukkan washfun li bayani halil ghalib (sifat ghalib sombong), yaitu cara berpakaian seperti ini merupakan perbuatan orang Arab jahiliyyah sebagai syi’ar al-mutakabbirin (simbol keangkuhan) orang takabur dalam berjalan (Lihat, penjelasan Ibnu Abdil Barr  dalam at-Tamhid, III:249 dan Ibnu Taimiyyah dalam Syarh al-Umdah fi al-Fiqh, IV:364).

Sehubungan dengan itu, Ibnu Duraid menegaskan:

والخُيَلاء: التَكَبُّرُ فِي الْمَشْيِ، وَلاَ يَكُوْنُ ذلِكَ إِلاَّ مَعَ سَحْبِ إِزَارٍ

Al-Khuyala adalah takabur dalam berjalan. Dan hal itu tidak akan terjadi kecuali dengan menyeret/menarik izar di atas tanah. Lihat, Jamharah al-Lughah, I:329

Sifat galib ini tampak jelas dengan melihat latarbelakang munculnya larangan isbal sebagai berikut:

Nabi ditanya oleh Abu Jura Jabir bin Sulem tentang isbal izar:

يَا رَسُول اللَّه ذَكَرْتَ إِسْبَالَ الْإِزَار فَقَدْ يَكُون بِالرَّجُلِ الْعَرَجُ , أَوْ الشَّيْءُ فَيَسْتَخْفِي مِنْهُ

“Wahai Rasulullah, Anda menyebut isbal al-Izar, maka terkadang seseorang itu dalam keadaan pincang atau terdapat sesuatu yang disembunyikannya”

Beliau menjawab:

لَا بَأْس إِلَى نِصْف السَّاق أَوْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

“Tidak mengapa sampai tengah betis atau hingga mata kaki”.

Lalu Nabi menjelaskan latar belakang anjuran itu dengan menggambarkan peristiwa masa lalu:

إِنَّ رَجُلاً مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ لَبِسَ بُرْدَيْنِ فَتَبَخْتَرَ فِيْهِمَا فَنَظَرَ إِلَيْهِ الرَّبُّ مِنْ فَوْقِ عَرْشِهِ فَمَقَتَهُ فَأَمَرَ الْأَرْضَ فَأَخَذَهُ فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ فِي الْأَرْض فَاحْذَرُوا وَقَائِعَ اللَّهِ

“Sesungguhnya seorang laki-laki di antara kaum sebelum kamu memakai dua burdah (kain bergaris untuk diselimutkan), maka ia berjalan dengan gaya sombong pada dua burdah itu, maka Rab (Tuhan) melihat kepadanya dari atas singgasananya lalu Ia benci kepadanya. Maka Ia memerintah bumi, lalu bumi membinasakannya, maka ia ia tenggelam ke dalam bumi. Hati-hatilah kamu terhadap batas-batas Allah”.  H.r. Abu Daud at-Thayalisi, Abu Daud, an-Nasai, Ahmad, al-Baghawi, at-Thabrani, dan Ibnu Hiban. Lihat pula, al-’Uluwu li Alil Ghaffar, karya ad-Dzahabi I:41, dan al-Bayan wa at-ta’rif karya Ibrahim bin Muhamad al-Husaini, I:21.

Sedangkan dalam riwayat al-Bukhari dengan redaksi:

بَيْنَمَا رَجَلٌ مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ يَجُرُّ إزَارَهُ مِنْ الْخُيَلَاءِ خُسِفَ بِهِ فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ فِي الْأَرْضِ إلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Tatkala seorang laki-laki di antara kaum sebelum kamu melabuhkan pakaiannya karena sombong, ia ditenggelamkan karenanya, ia tenggelam ke dalam bumi sampai hari kiamat. Shahih al-Bukhari, II:1285, No. 3297

Kata Imam at-Thabari, nama laki-laki itu adalah al-Haizan, dia dari Arab Persia. Ada juga yang menyebut namanya Qarun. Lihat, Fath al-Bari, I:329.

Dari dialog di atas tampak jelas latar belakang anjuran Nabi untuk menurunkan pakaian hingga nishf as-saq (setengah betis) atau al-ka’bain (dua mata kaki) itu tiada lain agar terpelihara dari  sikap takabbur orang-orang terdahulu. Dengan demikian yang menjadi substansi larangan/anjuran itu adalah terpelihara dari sikap takabbur bukan semata-mata melabuhkan pakaiannya.

Dari latar belakang inilah kita dapat memahami mengapa Nabi pernah menganjurkan beberapa orang sahabat untuk menurunkan pakaian hingga nishf as-saq (setengah betis) atau al-ka’bain (mata kaki), dengan sabdanya:

إِزْرَةُ الْمُسْلِمِ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ أَوْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

“Kaifiyyat menggunakan izar bagi seorang muslim adalah hingga setengah betis atau sampai dua mata kaki”.

Namun ketika Nabi melihat bahwa hal itu terasa berat kepada kaum muslimin, beliau bersabda: “ilal ka’bain (hingga kedua mata kaki)”, sebagaimana diterangkan oleh Anas bin Malik

عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْإِزَارُ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ فَلَمَّا رَأَى شِدَّةَ ذَلِكَ عَلَى الْمُسْلِمِينَ قَالَ إِلَى الْكَعْبَيْنِ لَا خَيْرَ فِيمَا أَسْفَلَ مِنْ ذَلِكَ

Dari Anas, ia berkata; Rasulullah Saw. bersabda, “Izar (kain penutup badan) itu sampai pertengahan betis”. Ketika beliau melihat hal itu berat bagi kaum muslimin, beliau bersabda, “Sampai dua mata kaki, tiada kebaikan selebih dari pada itu”. H.r. Ahmad, al-Musnad, III:249

Tapi bagi orang-orang tertentu yang dikenal oleh Nabi terpelihara dari sikap takabbur dan syi’ar al-mutakabbirin, Nabi tidak menganjurkan demikian, bahkan memberi pernyataan yang tegas bahwa larangan itu berkaitan dengan kesombongan, sebagaimana kepada Abu Bakar ketika sarungnya  melorot dan beliau senantiasa menariknya ke atas, Rasulullah saw. bersabda kepadanya:

لَسْتَ مِمَّنْ يَفْعَلُهُ خُيَلَاءَ

“Kamu bukanlah orang yang berbuat itu karena sombong” H.r. al-Jama’ah

Dari pernyataan ini tampak jelas kesalahan orang yang berpendapat: “Abu Bakar dibenarkan isbal, karena dia tidak sengaja isbal”. Padahal yang dinafikan oleh Nabi adalah tidak sombongnya, bukan tidak sengaja isbal.

Demikian pula sikap Nabi kepada Abu Raihanah

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَقُوْلُ : مَنْ سَحَبَ ثِيَابَهُ لَمْ يَنْظُرِ اللهُ إِلَيْهِ  فَقَالَ أَبُوْ رَيْحَانَةَ : وَاللهِ لَقَدْ أَمْرَضَنِي مَا حَدَّثْتَنَا بِهِ فَوَاللهِ إِنِّي لَأُحِبُّ الْجَمَالَ حَتَّى إِنِّي أَجْعَلُهُ فِي شِرَاكِ نَعْلِيْ وَعَلَاقِ سَوْطِيْ أَفَمِنَ الْكِبْرِ ذَاكَ ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : إِنَّ اللهُ جَمِيْلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ وَيُحِبُّ أَنْ يَرَى أَثَرَ نِعْمَتِهَ عَلَى عَبْدِهِ وَلَكِنَّ الْكِبْرَ مَنْ سَفِهَ الْحَقَّ وَغَمِصَ النَّاسَ

Dari Ibnu Umar, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda, ‘Siapa yang menyeret bajunya di atas tanah Allah tidak akan memandang kepadanya pada hari Kiamat’. Lalu Abu Ruhainah berkata, “Demi Allah, sunggguh telah membuatku sakit apa yang Engkau katakan kapada kami. Demi Allah, sesungguhnya aku menyukai keindahan hingga aku membuat keindahan itu pada tali sandal dan sangkutan cambuk, apakah itu termasuk kesombongan?” Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah Maha Indah dan menyukai keindahan dan Ia menyukai agar terlihat “jejak” kenikmatan pada hambanya itu, namun al-kibru adalah orang yang merendahkan al-haq dan mencela/memandah kecil orang lain” H.r. Ibnu Asakir, Tarikh Dimasqa, XXXXIII:84; at-Thabrani, al-Mu’jam al-Ausath, V:60, No. 4668.

At-Thabarni meriwayatkan pula dengan redaksi lain:

عَنْ أَبِيْ رَيْحَانَةَ قَالَ ذَكَرَ قَوْمٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ الْكِبْرَ فَقُلْتُ يَانَبِيَ اللهِ إِنِّي لأُحِبُّ الْجَمَالَ حَتَّى فِي عَلاَقَةِ سَوْطِيْ وَزِمَامِ نَعْلِيْ فَهَلْ تَخْشَى عَلَيَّ فِي ذلِكَ شَيْئًا قَالَ لاَ قُلْنَا فَمَا الْكِبْرُ قَالَ الْكِبْرُ الَّذِي يَبْطَرُ الْحَقَّ وَيَغْمَصُ النَّاسَ

Dari Abu Raihanah, ia berkata, “Suatu kaum menyebut al-kibru dekat Rasulullah saw. Lalu aku berkata, “Wahai Nabi Allah, sesungguhnya aku menyukai keindahan hingga pada sangkutan cambuk dan tali sandalku, apakah Anda khawatir saya termasuk dalam hal itu?” Beliau menjawab, “Tidak” Kami bertanya, “Apa yang dimaksud dengan al-Kibru?” Beliau menjawab, “al-Kibru adalah orang yang merendahkan/meremehkan al-haq dan mencela/memandah kecil orang lain” Lihat, al-Mu’jam al-Ausath, II:239, No. 1854

Dari latar belakang itu pula kita dapat memahami mengapa Ibnu Mas’ud mengisbalkan izarnya:

عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ أَنَّهُ كَانَ يُسْبِلُ إِزَارَهُ فَقِيْلَ لَهُ فِي ذلِكَ فَقَالَ إِنِّيْ رَجُلٌ حَمْشُ السَّاقَيْنِ

Dari Ibnu Mas’ud sesungguhnya ia mengisbalkan sarungnya, lalu ditanyakan kepadanya tentang hal itu. Maka ia menjawab, “Sesungguhnya aku seorang laki-laki yang kecil dua betisnya” H.r.Ibnu Abu Syaibah, al-Mushannaf, V:166

Demikian pula para ulama salaf seperti Abu Hanifah

وَكَانَ يَجُرُّهُ عَلَى الاَرْضِ فَقِيْلَ لَهُ اَوَ لَسْنَا نُهِيْنَا عَنْ هذَا فَقَالَ إِنَّمَا ذلِكَ لَذَوِي الْخُيَلاَءِ وَلَسْنَا مِنْهُمْ

Beliau menyeret bajunya di atas tanah, lalu dikatakan kepada beliau: “Bukankah kita dilarang dari hal demikian?” Maka beliau menjawab, “Yang dilarang itu tiada lain bagi yang sombong dan kita bukan dari mereka” Lihat, al-Adab as-Syar’iyyah, III:492-493

Pemahaman Hadis (2): ungkapan jar, yajurru, atau wathi’a

Berbeda dengan penggunaan ungkapan isbal atau musbil, ketika Nabi menyebut dengan ungkapan jarra atau yajurru atau wathi-a, Nabi selalu menyertakan qayyid, baik khuyala maupun bathran. Sebagaimana dapat dibaca pada hadis-hadis sebagai berikut:

مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ لاَ يُرِيْدُ بِذلِكَ إِلاَّ الْمَخِيْلَةَ  فَإِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

“Barangsiapa menyeret/menarik pakaiannya dengan maksud sombong, sesungguhnya Allah tidak akan memperhatikannya pada hari kiamat” H.r. Abu Awanah, Musnad Abu Awanah, V:247; Ahmad, Musnad Imam Ahmad, II:45.

Dalam riwayat lain dengan redaksi:

إِنَّ الَّذِيْ يَجُرُّ ثِيَابَهُ مِنَ الْخُيَلاَءِ  لاَ يَنْظُرُ اللهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

Sesungguhnya orang yang menyeret pakaiannya karena sombong, Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat. H.r. Muslim, Shahih Muslim, III: 1652; Al-Baihaqi, as-Sunan al-Kubra, II:233; Ahmad, Musnad Imam Ahmad II:5; Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, II:1181; dan pada  riwayat At-Thabrani menggunakan redaksi

مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ مِنَ الْخُيَلاَءِ فِي الدُّنْيَا لَمْ يَنْظُرِ اللهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Siapa yang menyeret pakaiannya karena sombong di dunia, Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat. Lihat, al-Mu’jam al-Kabir, II:130

مَنْ وَطِئَ عَلَى إِزَارِهِ خُيَلاَءَ ، وَطِئَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ

Siapa yang menginjak sarungnya karena sombong, ia akan menginjak di neraka Jahanam. H.r. Ahmad, al-Musnad, III:437 dan IV:162; Abdullah (Anaknya) dalam Zawa’id al-Musnad, III:437 dan IV:237; Al-Bukhari, At-Tarikh al-Kabir, VIII:257 no. Rawi 2907; Abu Ya’la, Musnad Abu Ya’la, III:111-112,  Hadis no. 1542;  At-Thabrani, Al-Mu’jam al-Kabir, XXII:206, hadis No. 543-544; Ibnu Hajar dalam Al-Ishabah fi Tamyiz al-Shahabah, IX:125 dan X:237

Dari berbagai hadis di atas dapat disimpulkan bahwa hadis-hadis dengan ungkapan jarra atau yajurru atau wathi-a, beserta qayyid-nya, baik khuyala maupun bathran, merupakan tafsir (penjelas) hadis-hadis dengan ungkapan isbal atau musbil.

Dengan demikian, apabila kita sepakat untuk ittiba’ (mengikuti) kepada para pakar bahasa dan hadis di atas tentang pemaknaan isbal secara istilahi, maka persoalannya menjadi jelas, yaitu tidak ada hadis tentang isbal yang benar-benar mutlaq (bebas) dari qayyid (batasan), yakni motif sombong sebagai sebab.

Pemahaman hadis (3): Tanpa ungkapan khusus

Bentuk ini terbagi menjadi dua macam:

A. Tanpa disertai kalimat sebelum dan sesudah

مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الإِزَارِ فَفِي النَّارِ

Izar yang dibawah mata kaki (tempatnya) di neraka. H.r.  al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, V:2182, No. 5450, an-Nasai, Sunan an-Nasai, VIII:207, No. 5331, Ahmad, al-Musnad, II:461, No. 9936

Dalam riwayat lain dengan redaksi

مَا تَحْتَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الإِزَارِ فِى النَّارِ

H.r.  an-Nasai, Sunan an-Nasai, VIII:207, No. 5330, Ahmad, al-Musnad, VI:257, No. 26.247, at-Thabrani, al-Mu’jam al-Kabir, VIII:233, No. 6971, Abdur Razaq, al-Mushannaf, V:166, No. 24.819

B. Disertai kalimat sebelum dan sesudahnya

إِزَرَةُ الْمُؤْمِنِ إِلَى أَنْصَافِ سَاقَيْهِ لاَ جُنَاحَ عَلَيْهِ فِيْمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْكَعْبَيْنِ مَا أَسْفَلَ  مِنْ ذلِكَ فَفِي النَّارِ لاَ يَنْظُرُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَى مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا

Batas sarung seorang mukmin sampai pertengahan betis, dan dibolehkan di atas mata kaki, dan yang dibawah mata kaki tempatnya di dalam neraka, dan barangsiapa menyeret sarungnya dengan sombong, Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat. H.r. Malik, al-Muwatha, II:914, Ahmad, al-Musnad, III:44, No. 11.415, Abu Daud, Sunan Abu Daud, IV:60, No. 4093, An-Nasai, as-Sunan al-Kubra, V:491, No. 9718, Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, II:1183

Dalam memahami hadis-hadis ini perlu disepakati kembali: apakah perilaku yang diungkap dalam hadis ini akan dimaknai isbal atau tidak? Dengan perkataan lain, hadis ini sebagai tafsir hadis-hadis dengan ungkapan isbal/musbil atau bukan? Bila disepakati sebagai tafsir isbal, maka hadis-hadis di atas tidak dapat dikategorikan sebagai hadis mutlaq. Namun bila diposisikan bukan sebagai tafsir, maka tidak mengherankan bila dikategorikan sebagai hadis mutlaq.

Hal ini penting ditegaskan karena terjadinya perbedaan sikap dalam masalah ini justru akibat perbedaan dalam memahami dan memposisikan hadis-hadis tersebut.

Analisa qa’idah hamlul-muthlaq ‘alal-muqayyad

Dalam menanggapi hadis yang mutlaq dan muqayyad tentang isbal para ulama berbeda pendapat, yaitu :

Pendapat pertama : isbal baik karena sombong atau tidak tetap saja haram. Menurut syeikh Muhammad ibn shalih al-utsaimin “Isbal bagi laki-laki diharamkan, baik karena sombong maka hukumannya lebih keras dan lebih besar”(Jenggot yes isbal no hal 123). Menurut syeikh abdul aziz ibn Abdullah ibn baz “bahwa isbal termasuk dosa besar meski orang yang melakukannya tidak bermaksud menyombongkan diri” (jenggot yes isbal no hal 121)

Berdasarkan kaidah ushul fiqih :

Maka dalam hal ini kaidah mutlaq tidak dapat dipahami secara muqayyad tidak dapat dipergunakan.

Syekh Muhamad bin Shalih Al-Utsaimin berkata, “sesungguhnya melabuhkan sarung dengah niat sombong hukumnya adalah Allah SWT. Tidak akan melihatnya pada hari kiamat, tidak akan berbicara dengannya, tidak akan mensucikannya dan dia mendapatkan siksaan yang pedih. Adapun apabila tidak diniatkan sombong maka hukumnya adalah yang dibawah mata kaki akan disiksa dengan neraka, karena Nabi saw bersabda:

Tiga orang yang Allah tidak akan mau berbicara dengan mereka dan tidak mau melihat pada hari kiamat kelak dan tidak akan membersihkandiri mereka (dari dosa). Bahkan merkea yang disediakan azab yang pedih, yaitu orang-orang yang melabuhkan pakaian, orang-orang yang mengungkit pemberian, dan orang yang menawarkan dagangannya dengan sumpah palsu

Dan beliau bersabda :

Barangsiapa yang melabuhkan pakaian dengan sombong, Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat

Sementara hukuman bagi orang yang tidak berniat sombong disebutkan didalam shahih bukhari dari abu hurairah bahwa nabi saw bersabda

Yang dibawah mata kaki tempatnya dineraka

Beliau tidak membatasi hal itu dengan kesombongan, dan sangat keliru bila membatasinya dengan kesombongan, beredasarkan hadis terdahulu karena Bu Said Al-Khudri berkata “rasulullah saw, bersabda:

Batas sarung seorang mukmin sampai pertengahan betis dan dibolehkan kedua diatas mata kaki dan yang dibawah mata kaki tempatnya dineraka, dan barang siapa menyeret sarungnya dengan sombong, Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat. HR Malik, Abu Daud, An-Nasai, Ibnu Majah, dan lainnya

Nabi saw menyebutkan dua masalah dalam satu hadis, dan beliau menerangkan perbedaan hukum antara keduanya karena adanya perbedaan sanksi, sehingga kedua masalah itu berbeda bentuk perbuatannya dan berbedastatus hukum dan sanksinya (dinukil dengan bebas dari as-ilah muhimmah, hal 29-30 / majalah as-sunnah, edisi 10/Th.IV/1421-2000, hal 9)

Berdasarkan keterangan-keterangan di atas, pihak pertama berpendapat bahwa isbal termasuk dosa besar apabila disertai dengan kesombongan termasuk perbuatan haram.

pendapat kedua : Urusan pakaian pada asalnya adalah masalah keduniaan, yang hukumnya mubah (boleh). Oleh karena itu, tentang model pakaian diserahkan kepada manusia untuk mengurusnya dengan tidak melanggar batas-batas yang telah ditetapkan oleh Allah dan RasulNya, yaitu menutup aurat dengan tidak berlebihan, baik karena israf maupun takabur.

Untuk menetapkan dilanggar atau tidaknya batasan-batasan tersebut perlu pengkajian secara mendalam terhadap keterangan-keterangan yang rajih (kuat, jelas, dan tepat). Janganlah menolak hadis yang sudah pasti keshahihannya dan jelas pula maksudnya karena tidak sejalan denga pendapat kita yang sudah, sehingga kita tidak menuduh berbuat dosa kepada orang lain yang sesungguhnya tidak berdosa

Isbal yang diharamkan itu jika karena sombong, dan jika tidak Karena sombong maka tentu saja tidak haram. Dibawah ini penulis sajikan alasan-alasan dari kedua belah pihak dan bagaimana jalan istinbath mereka dalam mengambil kesimpulan tentang isbal.

Tetapi sebelum mengkaji alasan dari keduapendapat tersebut, terlebih dahulu harus mengetahui qaidah atau rumusan ushil fiqh tentang muthlaq dan muqayyad, karena pada dasarnya perbedaan istinbath tentang isbal disebabkan perbedaan penerapan rumusan dalam hal muthlaq dan muqayyad

Qa’idah seputar muthlaq dan muqayyad

Muthlaq artinya bebas, tidak terikat atau tidak bersyarat. Seperti kata shalat bisa menunjukan shalat wajib atau shalat sunnat. Kata laki-laki bisa menunjukan yang muslim atau yang kafir. Muqayyad artunya terikat, seperti ungkapan anak saleh, shalat wajib, atau laki-laki muslim. Al-quran atau hadis terkadang diungkapkan dengan lafadz yang muthlaq, terkadang juga diungkapkan dengan lafadz muqayyad.

Dalam hal ini ada beberapa qa’idah ysng dujadikan dasar dalam mengistinbath hukum yaitu (Ungkapan yang muthlaq, tetapkan dalam kemuthlaqannya)

Jika seorang ayah menyuruh anaknya. “tolong ambilkan air the!” maka praktiknya boleh the manis atau boleh the pahit, karena ungkapan air the itu masih umum atau muthlaq.

Contoh lain : anjuran shaum 6 hari syawwal itu muthlaq, berarti praktiknya boleh berturut-turut, boleh juga berselang

(lafadz yang muqayyad tetapkan dalam kemuqayyadannya)

Jika seorang ayah menyuruh anaknya “tolong ambilkan air the manis!” praktiknya tidak boleh mengambil air teh pahit, karena ungkapan air the itu sudah terikat dengan kata manis

Contoh dalam Al-quran, ungkapan Atau darah yang mengalir

Ungkapan darah disini sudah muqayyad dengan kata masfuhan (mengalir). Ini berarti darah yang diharamkan itu ialah darah yang mengalir. Adapun darah yang hanya menempel did aging, tentu saja tidak haram, karena tidak termasuk masfuhan.

(hendaklah ditarik yang muthlaq kepada yang muqayyad apabila keduanya sama sebab dan hukumnya)

Jika seorang ayah menyuruh anaknya “tolong ambilkan air the untuk bapak!” tidak lama kemudian karena anak belum njuga menyiapkannya, lalu bapak menyuruh lagi anaknya dnegan ungkapan “tolong ambilkan air the manis untuk bapak!” maka dlam praktiknya ungkapan yang muthlaq tadi hendaklah ditarik kepada yang muqayyad, yaitu mengambil air teh manis karena dalam hal ini sama kasusnya.

Contoh kifarat shaum; dalam suatu hadist dinyatakan secara muthlaq “shaumlah dua bulan” sementara hadis lain diungkapkan dengan lafadz muqayyad yaitu : “saumlah dua bula berturut-turut”

Maka ketentuan hadis pertama yang muthlaq hendaklah ditarik kepada yangmuqayyad, karena dalam hal ini sama kasus dan hukumnya

(yang muthlaq jangan ditarik kepada muqayyad, pabila keduanya tidak sama dalamsebab dan hukumnya)

Contoh : dalam ayat tayamum diungkapkan lafadz “usaplah wajahmu dan tanganmu dengan tanah itu”

Dalam ayat ini lafazh wa aidikum, diungkapkan secara muthlaq tanpa batas. Semantara dalam ayat lain tentang wudlu diungkapkan dengan lafazh muqayyad yaitu “versihkanlah wajahmu dan tanganmu sampai sikut” Dalam hal ini, lafazh peryama yang muthlaq tidak boleh ditarik kepada yang muqayyad (sampai sikut),  karena kasusnya berbeda. Ayat pertama tentang tayamum sedangkan ayat kedua tentan wudlu.

Berkaitan dengan pembahasan isbal, ternyata hadis yang menyatakan haram isbal diungkapkan dengan muthlaq, ada juga yang mnyatakan haram isbal dengan ungkapan muqayyad yaitu karena sombong. Dalam hal ini, rumus mana yang akan digunakan dari empat rumusan tentang muthlaq dan muqayyad?berikut analisanya.

Dan selanjutnya, jika dianalisa lebih lanjut akan ditemukan :

1. Kasus dalam hadis0hadis muthlaq dan Muqayyad itu sama, yaitu kasus isbal.

2. Sanksi isbal dlaam hadis muthlaq ada tujuh macam, sementara dalam hadis

muqayyad ada dua macam

3. kedua sanksi dalam hadis muqayyad sama dengan sanksi dalam hadis muthlaq

(lihat sanksi no 2 dalam hadis muthlaq dan no 1 dalam hadis muqayyad)

4. Anggapan bahwa isbal yang dilakukan karena sombong maka hukumnya lebih

keras dan lebih besar, ini keliru karena kenyataanya isbal yang muthlaq lebih berat

dan lebih besar sanksinya(muthlaq ada tujuh macam sedangkan muqayyad ada dua

macam) darimana sampai berkesimpulan seperti itu?

5. pendapat yang paling kuat dalam menanggapi hadis-hadis muthlaq dan muqayyad

tentang isbal adalah pendapat yang MENARIK MUTHLAQ KEPADA

MUQAYYAD. Mengingat kasusnya sama, yaitu isbal, sanksinya pun sama tetapi

bervariasi, yaitu terdapat bebeapa ungkapan yang pada intinya sama

Argumentasi Pemahaman Mutlaq

Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin berkata, “Sesungguhnya melabuhkan sarung dengan niat sombong hukumnya adalah Allah swt. tidak akan melihatnya pada hari kiamat, tidak akan berbicara dengannya, tidak akan mensucikannya dan dia mendapatkan siksaan yang pedih. Adapun apabila tidak diniatkan sombong maka hukumnya adalah yang di bawah mata kaki akan disiksa dengan neraka, karena Nabi saw. bersabda:

ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلاَ يُزَكِّيْهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ: أَلْمُسْبِلُ  وَالْمَنَانُ وَالْمُنْفِقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ

Tiga orang yang Allah tidak mau berbicara dengan mereka dan tidak mau melihat pada hari kiamat kelak dan tidak akan membersihkan diri mereka (dari dosa). Bahkan bagi mereka disediakan azab yang pedih. Yaitu orang yang melabuhkan pakaian, orang yang mengungkit-ungkit pemberian, dan orang menawarkan dagangannya dengan sumpah palsu.

Dan beliau bersabda:

مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلاَءَ لَمْ يَنْظُرِ اللهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Barangsiapa melabuhkan pakaian dengan sombong, Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat.

Sementara hukuman bagi orang yang tidak berniat sombong disebutkan di dalam Shahih Bukhari dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw. bersabda:

مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الإِزَارِ فَفِي النَّارِ

Yang dibawah mata kaki (tempatnya) di neraka.

Beliau tidak membatasi hal itu dengan kesombongan, dan sangat keliru bila membatasinya dengan kesombongan, berdasarkan hadis terdahulu, karena Abu Said Al-Khudri berkata, “Rasulullah saw. bersabda:

إِزَرَةُ الْمُؤْمِنِ إِلَى أَنْصَافِ سَاقَيْهِ لاَ جُنَاحَ عَلَيْهِ فِيْمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْكَعْبَيْنِ مَا أَسْفَلَ  مِنْ ذلِكَ فَفِي النَّارِ لاَ يَنْظُرُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَى مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا

Batas sarung seorang mukmin sampai pertengahan betis, dan dibolehkan kedua di atas mata kaki, dan yang dibawah mata kaki tempatnya di dalam neraka, dan barangsiapa menyeret sarungnya dengan sombong, Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat. H.r. Malik, Abu Daud, An-Nasai, Ibnu Majah, dan lainnya.

Nabi saw. menyebutkan dua masalah dalam satu hadis, dan beliau menerangkan perbedaan hukum antara keduanya karena adanya perbedaan sanksi, sehingga kedua masalah itu berbeda bentuk perbuatannya dan berbeda status hukum dan sanksinya. (Dinukil dengan bebas dari As-ilah Muhimmah, hal. 29-30 / Majalah As-Sunnah, edisi 10/Th.IV/1421-2000, hal. 9)

Dengan demikian, dalam masalah ini tidak berlaku kaidah ushul fiqih

حَمْلُ الْمُطْلَقِ عَلَى الْمُقَيَّدِ وَاجِبٌ إِذَا اتَّفَقَ فِي السَّبَبِ وَالْحُكْمِ

“Memahami makna lafal mutalq dengan makna muqayyad adalah wajib apabila sesuai dalam sebab dan hukumnya”

Karena berbeda sebab dan hukumnya. Sebab yang pertama adalah isbal secara mutlaq, sedang yang kedua adalah isbal dengan sombong. Di samping itu, hukumnya juga berbeda, yang pertama hukumnya ancaman neraka, yang kedua hukumannya adalah ancaman bahwa Allah swt. tidak akan melihatnya pada hari kiamat, tidak akan berbicara dengannya, tidak akan mensucikannya, dan dia mendapatkan siksaan yang pedih.

Tanggapan

Hemat kami cara pemahaman seperti di atas tidak tepat dilihat dari berbagai aspek:

Pertama, ungkapan isbal secara mutlaq

1.   Dimuka sudah ditegaskan bahwa isbal secara istilahi maknanya tidak mutlaq. Karena itu untuk menyebut ungkapan isbal secara mutlaq harus menunjukkan bukti referensi, baik secara istilahi maupun secara dalil syar’i.

2.  Apabila perilaku yang diungkap dalam hadis itu dimaknai isbal, konsekuensinya hadis ini harus diterima sebagai tafsir isbal, sehingga harus konsisten bahwa hadis-hadis itu tidak dapat dikategorikan sebagai hadis mutlaq.

3.  Apabila perilaku yang diungkap dalam hadis itu tidak dimaknai isbal, akan dimaknai apa? Sebab bila dimaknai jarr, atau yajurru, atau wathi’a pun dalam hadis-hadis itu terdapat qayyid khuyala atau bathran.

Hemat kami perilaku yang diungkap dalam hadis itu harus dimaknai isbal karena berdasarkan riwayat Imam Malik dan lain-lain seperti dijelaskan di atas dapat diketahui bahwa redaksi ini:

مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الإِزَارِ فَفِي النَّارِ

Tidak mandiri, tapi berkaitan dengan kalimat sebelum dan sesudahnya sebagai berikut:

إِزَرَةُ الْمُؤْمِنِ إِلَى أَنْصَافِ سَاقَيْهِ لاَ جُنَاحَ عَلَيْهِ فِيْمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْكَعْبَيْنِ مَا أَسْفَلَ  مِنْ ذلِكَ فَفِي النَّارِ لاَ يَنْظُرُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَى مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا

Batas sarung seorang mukmin sampai pertengahan betis, dan dibolehkan di atas mata kaki, dan yang dibawah mata kaki tempatnya di dalam neraka, dan barangsiapa menyeret sarungnya dengan sombong, Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat.

Bila dilihat dari kalimat sebelumnya:

إِزَرَةُ الْمُؤْمِنِ إِلَى أَنْصَافِ سَاقَيْهِ لاَ جُنَاحَ عَلَيْهِ فِيْمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْكَعْبَيْنِ

Maka redaksi ini diungkap dalam konteks batasan kebolehan izar dilihat dari alur atas, yaitu sampai pertengahan betis dan boleh di atas mata kaki.

Sedangkan kalimat:

مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الإِزَارِ فَفِي النَّارِ

Diungkap dalam konteks batas awal larangan isbal, yaitu mulai dari bawah mata kaki.

Adapun kalimat sesudahnya:

لاَ يَنْظُرُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَى مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا

Menunjukkan batasan maksimal larangan isbal, yaitu hingga menyeret ke tanah.

Dengan demikian, hadis ini hendak menjelaskan ukuran isbal dilihat dari atas ke bawah, yakni mulai dari bawah mata kaki hingga menyeret tanah.

Sedangkan analisa alur sebaliknya (dari bawah ke atas) dapat dilihat dalam kasus Ibnu Umar. Kata Nabi saw.:

يَا عَبْدَ اللَّهِ ارْفَعْ الْإِزَارَ فَإِنَّ مَا مَسَّتِ الأَرْضُ مِنَ الإِزَارِ إِلَى مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ فِى النَّارِ

Wahai Abdullah, angkatlah izar itu, karena bagian izar yang menyentuh tanah hingga yang sebawah mata kaki di neraka. H.r. Ahmad, al-Musnad, II:96, No. 5713

Dari hadis ini dapat diketahui bahwa dilihat dari bawah ke atas ukuran isbal itu mulai dari kain yang menyeret tanah hingga di bawah mata kaki.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa perilaku yang diungkap dalam hadis itu harus dimaknai isbal karena Nabi saw. menyertakan kalimat:

لاَ يَنْظُرُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَى مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا

Sedangkan kalimat ini sebagai tafsir kata isbal seperti yang dijelaskan sebelumnya, yaitu:

إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى الْمُسْبِلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Sesungguhnya Allah tidak akan memperhatikan al-musbil pada hari kiamat. H.r. Ahmad, al-Musnad, II:318, No. 8212.

Dalam riwayat Muslim (Shahih Muslim, III:1653, No. 2087) dengan redaksi:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى مَنْ يَجُرُّ إِزَارَهُ بَطَرًا

Dalam riwayat al-Bukhari (Shahih al-Bukhari, V:2182, No. 5451) dengan redaksi:

لَا يَنْظُرُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَى مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا

Kedua, benarkah hadis itu mutlaq?

Di atas telah dijelaskan bahwa redaksi ini:

مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الإِزَارِ فَفِي النَّارِ

tidak mandiri, tapi berkaitan dengan kalimat sebelum dan sesudahnya. Bahkan dalam hadis-hadis berikut kalimat ini selalu disertai dengan kalimat sesudahnya

وَمَا أَسْفَلَ مِنْ الْكَعْبَيْنِ فِي النَّارِ يَقُولُ ثَلَاثًا لَا يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَى مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا – رواه إبن ماجة –

مَا كَانَ أَسْفَلَ مِنْ الْكَعْبَيْنِ فَهُوَ فِي النَّارِ مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا لَمْ يَنْظُرْ اللَّهُ إِلَيْهِ – رواه أبو داود –

مَا أَسْفَلَ  مِنْ ذلِكَ فَفِي النَّارِ لاَ يَنْظُرُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَى مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا – رواه أحمد –

Dengan demikian redaksi:

وَمَا أَسْفَلَ مِنْ الْكَعْبَيْنِ فِي النَّارِ

Tidak dapat dikategorikan sebagai kalimat mutlaq.

Apabila redaksi:

وَمَا أَسْفَلَ مِنْ الْكَعْبَيْنِ فِي النَّارِ

Dikategorikan sebagai kalimat mutlaq. Maka redaksi:

لَا يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَى مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا

Akan dikategorikan sebagai kalimat apa? Dan apa kepentingan Nabi menempatkannya setelah kalimat:

وَمَا أَسْفَلَ مِنْ الْكَعْبَيْنِ فِي النَّارِ

Dalam perkataan lain: kedudukan redaksi itu secara struktur kalimat sebagai apa?

Ketiga, kaidah Ushul al-Fiqh

حَمْلُ الْمُطْلَقِ عَلَى الْمُقَيَّدِ وَاجِبٌ إِذَا اتَّفَقَ فِي السَّبَبِ وَالْحُكْمِ

“Memahami makna lafal mutalq dengan makna muqayyad adalah wajib apabila sesuai dalam sebab dan hukumnya”

Menurut mereka, yang jadi sebab dalam masalah ini adalah isbal secara mutlaq dan isbal dengan sombong. Sedang yang jadi hukum adalah pertama: ancaman neraka. Kedua: (a) Allah swt. tidak akan melihatnya pada hari kiamat, (b) tidak akan berbicara dengannya, (c) tidak akan mensucikannya, dan (d) dia mendapatkan siksaan yang pedih.

Karena sebab dan hukumnya berbeda maka kaidah itu tidak dapat digunakan dalam konteks ini.

Cara pemahaman seperti ini hemat kami keliru, disebabkan katidaktepatan dalam memahami maksud as-sabab dan al-hukm.

Pertama, pengertian as-Sabab

السَّبَبُ عِبَارَةٌ عَنْ وَصْفٍ ظَاهِرٍ مُنْضَبِطٍ دَلَّ الدَّلِيلُ الشَّرْعِيُّ عَلَى كَوْنِهِ مُعَرِّفًا لِثُبُوتِ حُكْمٍ شَرْعِيٍّ

As-sabab adalah keterangan tentang sifat (makna) zhahir (jelas) lagi pasti, yang ditunjukkan oleh dalil syara bahwa ia merupakan pemberi informasi (indicator) mengenai keberadaaan hukum syara’. Lihat, at-Tahbir Syarh at-Tharir fi Ushul al-Fiqh, III:1066; Syarh al-Kaukab al-Munir, I:451

Sebagai contoh, melihat bulan pada awal Ramadhan sebagai sebab wajibnya mengerjakan shaum. Tergelincir matahari sebagai sebab wajibnya shalat Zhuhur.

Sekarang kita analisa tentang masalah isbal: Sombong sebagai sebab haramnya isbal, maka ini sesuai dengan kaidah as-sabab di atas. Namun bila isbalnya yang menjadi sebab, maka perbuatan apa yang diharamkannya? Pemahaman ini jelas keliru. Karena keliru, berarti sebabnya sama, yakni sombong.

Kedua, pengertian al-hukm

secara istilah terjadi perbedaan sudut pandang antara ushuliyyun (ahli ushul al-fiqh) dan fuqaha (ahli fiqh) dalam menjelaskan hukum. Hukum menurut istilah ahli Ushul Fiqh adalah

خِطَابُ اللهِ تَعَالَى الْمُتَعَلَّقُ بِأَفْعَالِ الْمُكَلَّفِيْنَ بِالإِقْتِضَاءِ أَوِ التَّخْيِيْرِ أَوِ الْوَضْعِ

khitab (titah) Allah yang berkaitan dengan perbuatan mukallaf (orang yang dikenai hukum), berupa iqtidha (tuntutan), atau takhyir (pilihan), atau al-wadh-i  (hukum berdasarkan sebab, syarat, atau penghalang). Dan hukum terbagi dua: (1) taklifi, (2) wad’i

Definisi di atas menunjukkan bahwa hukum menurut ushuliyyun adalah setiap khitab syar’i mengenai perbuatan manusia yang menuntut agar dilakukan suatu perintah atau ditinggalkan suatu larangan, sebagai contoh firman Allah (Q.s. Al-Ankabut:45):

وَأَقِمْ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنْ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

Firman Allah dalam ayat ini adalah khitab syar’I yang menuntut agar salat itu dilakukan. Dengan demikian firman Allah itu disebut khitab syar’i.

Nash-nash quran dan sunnah, baik yang mengandung tuntutan, pilihan, maupun dijadikan sebagai sebab, syarat, dan penghalang menurut ushuliyyun disebut khitab syar’i.

Sedangkan menurut fuqaha bahwa yang disebut hukum syar’I itu adalah  perbuatan yang dikenai khitab. Dengan perkataan lain, hukum perbuatannya itu sendiri. Sebagai contoh firman Allah dalam suart al-Ankabut di atas. Khitab Allah dalam ayat tersebut mengandung kewajiban melaksanakan salat. Khitab yang menerangkan kewajiban salat itu adalah hukum menurut ushuliyyun. Sedangkan menurut fuqaha kewajiban salat itulah yang disebut hukum.

Dari definisi ushuliyyun di atas tampak jelas bahwa hukum itu terbagi kepada dua macam: taklifi dan wadh’i. Hukum Taklifi adalah khitab (titah) syar’i yang mengandung tuntutan untuk dikerjakan oleh mukallaf atau untuk ditinggalkannya atau yang mengandung pilihan antara dikerjakan dan ditinggalkan.

Ushuliyyun membagi hukum taklif kepada dua macam: a. Dilihat dari khitab, b. dilihat dari mahkum bih (perbuatan subjek hukum). Dilihat dari khitab, hukum terbagi kepada 5 jenis: ijab, nadb, tahrim, karahah, ibahah. Sedangkan dilihat dari mahkum bih, hukum terbagi kepada 5 jenis pula: wajib, mandub, haram, makruh, dan mubah.

Itulah hukum yang dimaksud dalam kaidah Ushul al-Fiqh

حَمْلُ الْمُطْلَقِ عَلَى الْمُقَيَّدِ وَاجِبٌ إِذَا اتَّفَقَ فِي السَّبَبِ وَالْحُكْمِ

Sekarang kita analisa tentang masalah isbal. Menurut mereka hukum dalam masalah isbal juga berbeda. Pertama: hukumnya ancaman neraka. Kedua: (a) Allah swt. tidak akan melihatnya pada hari kiamat, (b) tidak akan berbicara dengannya, (c) tidak akan mensucikannya, dan (d) dia mendapatkan siksaan yang pedih.

Dari penjelasan di atas tampak jelas bahwa mereka keliru memahami hukum yang dimaksud dalam kaidah di atas, sebab hukum-hukum yang disebut oleh mereka hemat kami dikategorikan sebagai ’uqubah (sanksi). Ini berbeda dengan hukum dalam kategori ushuliyyun dan fuqaha di atas.

Dalam hukum kategori  ushuliyyun dan fuqaha, uqubah (a) ancaman neraka, (b) Allah swt. tidak akan melihatnya pada hari kiamat, (c) tidak akan berbicara dengannya, (d) tidak akan mensucikannya, dan (e) dia mendapatkan siksaan yang pedih, disebut sebagai salah satu bentuk dilalah khitab tahrim (petunjuk hukum pengharaman).

Dengan demikian, (a) ancaman neraka, (b) Allah swt. tidak akan melihatnya pada hari kiamat, (c) tidak akan berbicara dengannya, (d) tidak akan mensucikannya, dan (e) dia mendapatkan siksaan yang pedih, semuanya menunjukkan hal yang sama yaitu ”isbal hukumnya haram karena kesombongan” Jadi, kesombongan sebagai sebab diharamkannya isbal.

Bila kategori ushuliyyun dan fuqaha yang dijadikan acuan, tentu saja kita akan sepakat bahwa dalam masalah ini berlaku kaidah ushul fiqih

حَمْلُ الْمُطْلَقِ عَلَى الْمُقَيَّدِ وَاجِبٌ إِذَا اتَّفَقَ فِي السَّبَبِ وَالْحُكْمِ

“Memahami makna lafal mutlaq dengan makna muqayyad adalah wajib apabila sesuai dalam sebab dan hukumnya”

Ibnu Hajar berkata:

وَفِي هَذِهِ الْأَحَادِيث أَنَّ إِسْبَال الْإِزَار لِلْخُيَلَاءِ كَبِيرَة وَأَمَّا الْإِسْبَال لِغَيْرِ الْخُيَلَاء فَظَاهِر الْأَحَادِيث تَحْرِيمه أَيْضًا. لَكِنْ اُسْتُدِلَّ بِالتَّقْيِيدِ فِي هَذِهِ الْأَحَادِيث بِالْخُيَلَاءِ عَلَى أَنَّ الْإِطْلَاق فِي الزَّجْر الْوَارِد فِي ذَمّ الْإِسْبَال مَحْمُول عَلَى الْمُقَيَّد هُنَا, فَلَا يَحْرُم الْجَرّ وَالْإِسْبَال إِذَا سَلِمَ مِنْ الْخُيَلَاء

“Hadis-hadis ini menunjukkan bahwa isbal (menyeret) sarung karena sombong termasuk dosa besar. Adapun isbal yang bukan karena sombong, maka zhahir-nya hadis-hadis itu juga mengharamkannya. Namun taqyid sombong pada hadis-hadis ini dipakai untuk dalil, bahwa hadis-hadis lain tentang larangan isbal yang mutlak (tanpa menyebutkan kata sombong) harus dipahami dengan taqyid sombong ini, sehingga isbal dan menyeret pakaian tidak diharamkan bila selamat dari rasa sombong”. Lihat, Fath al-Bari, X:263. Pembahasan lengkap tentang pendapat Ibn Hajar akan disampaikan pada makalah khusus.

Setelah menganalisa berbagai keterangan tentang masalah ini, kami berkesimpulan bahwa yang menjadi sebab larangan menyeret/melabuhkan pakaian itu adalah khuyala’a (sombong), bukan semata-mata melabuhkan pakaian hingga menutup mata kaki.

qarinah lain isbal tidak haram

Terdapat beberapa qarinah (indikator) lain yang menunjukan isbal tidak haram. Mulai dari ayat al-quran, hadist Nabi saw, sampai pendapat para ulama

Ayat-ayat al-quran

Untuk membantu memahami hadist tentang isbal, disini penulis sajikan beberapa dalil utnuk dujadikan analogi dalam mengistinbath hukum, yaitu:

“janganlah kau berjalan dimuka bumi dengan sombong…” (QS. Al-isra : 37)

Ayat ini melarang berjalan di muka bumi dengan sombong. Mafhumnya (logikanya) kalau tidak kaena sombong tentu saja tidak terlarang.

“jangan kamu memakan harta anak yatim dengan melebihi batas dan terburu-buru (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa..” (QS.4:6)

Ayat ini melarang memakan harta anak yatim dengan cara berlebih-lebihan. Mafhumnya kalau dengan cara yang ma’ruf tentu saja boleh..

“mereka yang menginfaqkan hartanya karena riya (ingin dipuji orang)..” (QS.4:38)

Ayat ini tentu saja bukan melarang infaq, tetapi yang tercela dalam ayat ini ialah mereka yang menginfaqkan hartanya karena riya

Mari kita bandingkan dengan hadis isbal

“Allah tidak akan melihat di hari kiamat kepada orang yang mengisbalkan pakaiannya karena sombong” (HR Tirmidzi)

Itu artinya, kalau tidak karena sombong, tentu saja tidak termasuk yang mendapat ancaman

Kritik:

Ada yang berpendapat bahwa tidak selamanya taqyid itu dapat diamalkan (dijadikan dasar), contoh:

“janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut miskin…”(QS.17:31)

Jika taqyid disini berlaku, berarti boleh membunuh anak asal tidak karena takut miskin.

Jawab :

Memang boleh membunuh anak dngan alasan yang dibenarkan agama, sebagaimana dalam hadis berikut ini:

Rasulullah saw bersabda “tidak halal darah seseorang muslim yang mengaku bahwa tiada tuhan kecuali Allah dan sesungguhnya aku ini Rasulullah, kecuali dengan salah satu tiga alasan :Janda yang berzina, seseorang yang membunuh jiwa seseorang dan orang yang meninggalkan agamanya(murtad) yang meninggalkan jama’ah” (HR Bukhari muslim)

Hadis ini merupakan takhshish (pengecualian) terhadap ayat yang tadi. Berarti boleh membunuh anak jika terdapat salah satu penyebab yang tiga.

Hadis-hadis Nabi saw

Setidaknya ada tiga hadis yang menguatkan pendapat bahwa isabal yang tidak karena sombong itu boleh, yaitu:

1. dari Salim ibn ‘Abdillah dari ayahnya ra dari Nabi saw beliau bersabda: “barangsiapa yang mengisbalkan pakaiannya karena sombong, Allah tidak akan melihatnya di hari kiamat” Abu bakar berkata: “wahai Rasulullah! Sesungguhnya salaha satu bagian dari sarungku suka melorot kebawah kecuali bila aku jaga dengan cermat” maka Nabi bersabda “Engkau tidak termasuk orang yang melakukannya karena sombong” (HR Bukhari fathul bari, 10:359)

Dalam menanggapi hadis abu bakar ini terdapat dua pendapat:

Pertama, hadis Abu bakar tidak bisa dijadikan takhshish (pengecualian) untuk membolehkan isbal tanpa khuyala’a (sombong). Alasannya, sebagaimana yang dituturkan oleh syeikh al-utsaimin berikut ini:

“Sesungguhnya Abu bakar mengatakan: Sesungguhnya salah satu bagian dari kainku melorot,kecuali bila aku menjaganya dengan cermat” maka abu bakar tidak mengulurkannya dengan sengaja, tetapi kain itu melorot dengan sendirinya, disamping itu ia berusaha untuk menjaganya. Sedangkan mereka yang isbal dan menganggap mereka mengulurkannya dengan sengaja. Maka kami katakan kepada mereka “jika kamu bermaksud menurunkan pakaian kamu dibawah dua mata kaki tanpa meksaud sombong, maka kamu disiksa dengan neraka seukuran turunnya pakaian dari daua mata kaki dan jika kamu mengulurkannya dengan maksud dengan kesombongan pastiu kamu disiksa dengan lebih berat dari itu, yaitu Allah tidak akan berbicara dengan kamu dia hari kiamat, Allah tidak akan melihat kamu, tidka akan membersihkan kamu dan bagi kamu siksa yang pedih’’

Sesungguhnya Abu bakar telah dinyatakan bersih oleh Nabi dan dinyatakan tidak termasuk ornag yang berbuat hal itu karena sombong, Apakah ada seseorang (di antara kita) yang telah mendapatkan rekomndasi dan pernyataan seprti itu? Tetapi mmang syetan suka membukakan untuk sebagian orang untuk mengikuti hal-hal yang tidak jelas dari nash-nash al-quran dan sunnah untuk membersihkan diri dari pa yang mereka lakukan. Allah yang menunjukan kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus. Kita memohon hidayah kepada Allah utuk kita dan mereka” (majmu fatawa 12 : 37-38)


Dari keterangan tersebut di atas, syeikh al-utsaimin mengambil kesimpulan bahwa hadis Abu bakar tidak bisa dijadikan hujjah pengecualian untuk bolehnya isbal tanpa sombong, mengingat:

1. Abu bakar tidak dengan sengaja mengulurkan pakaiannya, tetapi pakaian itu sendiri yang kadang melorot.

2. Abi bakar secara khusus telah mendapatkan rekomendasi dari Nabi, bahwa dia tidak termasuk yang sombong.

Kedua, hadis Abu bakar dapat dujadikan pengecualian utk membolehkan isbal yang bukan karena sombong alasannya :

1. Ucapan Nabi terhadap Abu Bakar yaitu : “engkau tidak termasuk orang yang melakukan hal itu karen asombong” ini tidak berarti khusu utnuk Abu Bakar saja mengingat ada kaidah ushul “petunjuk yang khusus untuk salah seorang dari ummat ini tetap menunjukan umum kecuali jika ada dlil yang menunjukan khusus”

Dalam kasus Abu Bakar tidak terdapat dalil yang menujukan khusus untuk Abu bakar saja, seperti halnya Nabi melarang Isbal kepada Ibnu Umar dengan Angkat Sarungmu ketentuan ini juga tidak berarti khusus untuk Ibnu Umar saja.

2. Abu bakar menyatakan “kecuali jika aku menjaganya dengan cermat…” ini menunjukan bahwa Abu bakar bisa kalau untuk tidak isbal (seperti pakai sabuk umpamanya). Maka dengan isbalnya Abu bakar itu menunjukan bahwa isbalnya yang bukan karena sombong itu boleh.

Di antara para ulama hadis yang memahami hadis Abu Bakar seperti itu adalah

“engkau bisa mengetahui maksud hadis dlam urusan ini yaitu ucapan Nabi kepada Abu bakar “sesungguhnya engkau tidak termasuk yang melakukan hal itu karena sombong” hadsi ini dengan tegas menyatakan bahwa kalian ‘illat haram disini  adalah sombong, sedangkan isbal itu kadang dilakukan karena sombong kadang tidak” (Nailu al-Authar, 3:127) tidak isbal kadang dilakukan karena sombong kadang tidak juga.

“sesungguhnya engkau bukan orang yang melakukannya karena sombong) ini adalah dalil bahwa mafhumnya dalam hal ini dapat berlaku” (Subulus-salam, 4 158)

Mafhum itu maksudnya pemahaman dari hadis yang menyatakan “:karena sombong” mafhumnya, kalau tidak karena sombong brarti boleh.

“dan ini adalah nash yang shahih dan jhelas dalam permasalahannya bahwa yang dimaksud haram itu adalah karena sombong bukan banyak atau sedikitnya mengulurkan kain, jika tidak maka akan ditaqyidkan” (taudhih al-ahkam, 7:315)

“taqyid dengan isbal karena sombong dapat mentakshishkan keumuman hadis isbal. Dan ini menunjukan bahwa yang dimaksud dengan sanksi itu ialah bagi orang yang isbal karena sombong. Nabi sendiri telah memberikan rukhsoh (keringanan) kepada Abu bakar bukan karena sombong” (Taudhih al-ahkam, 7:315)

Demikianlah komentar para ahli hadist tentang hadis Abu bakar. Yang pada prinsipnya bisa dujadikan takhsish terhadap keumuman hadis isbal, yaitu isbal yang tidak karena sombong tidak termasuk yang mendapatkan sanksi.

2. Dari Abu Bakrah ra ia berkata telah terjadi gerhana matahari sedangkan kami berada di sisi Nabi, lalu beliau berdiri dengan mengulurkan pakaiannya (isbal) dengan tergesa-gesa sampai datang ke masjid, kenudian orang-orang berkumpul lalu shalat dua raka’at kemudian matahari terang kembali, lalu beliau menghadap kami seraya mengatakan “sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan llah, maka apabila kamu melihat gerhana henndaklah shalat dan berdoalah kepada Allah sampai terang kembali” (bukhari; fathul bari 10;39)

Dalam hal ini dinyatakan bahwa Nabi keluar untuk shalat gerhana dengan mengisbalkan pakaiannya. Sehubungan dengan kasus ini, al-hafizh Ibnu Hajar memberikan komentar sebagai berikut:

“sesungguhnya hadis ini menunjukan bahwa isbal jika karena terburu-buru tidak termasuk yang terlarang. Dan ini mengandung arti bahwa larangan (isbal itu) khusus dengan sebab sombong” (fathul bari 10:360)

Sementara itu Imam Abu Hanifah berpendapat :

Baliau menyeret bajunya di atas tanah lalu dikatakan kepada beliau : “bukankah kita dilarang dari hal demikian?” maka beliau menjawab “Yang dilarang itu tiada lain bagi yang sombong dan kita bukan bagian dari mereka”(al-Adab asy-syariyyah, 3:493)

3. Dari Ibnu Umar ia berkata Rasulullah saw bersabda “berangsiapa yang mengisbalkan pakaiannya karena sombong Allah tidak akan melihat kepadanya “ummu salamah berkata “wahai Rasulullah apa yang harus dilakukan perempuan dengan ujungb pakaiannya? Nabi Menjawab “ulurkan kira-kira sejengkal” Ummu Salamah Berkata “jika demikian telapak kakinya (bagian atas) akan terbuka?” Nabi menjawab “ulurkan kira-kira satu sikut jangan melebihi itu” (HR AN-Nasai 8;184)

Hadis ini menunjukan, bahwa perempuan boleh mengisbalkan pakaiannya. Dan berkaiutan dengan hadis ini, an-Nawawi meberikan komentar sebgaai berikut:

Menurut imam Nawawi Zahir hadis yang mentaqyidkan isbal karena sombong, mengandung arti bahwa haramnya isbal itu khusus dengan niat karena sombong. Adapun alasan memberikan simpulan seperti itu, karena andaikan demikian halnya (bukan karena sombong) tentu saja permohonan penjelasan Ummu Salamah tentang hukum perempuan mengisbalkan pakaiannya tidak ada artinya, karena Ummu Salamah pasti memahami larangan  isbal secara mutlaq, baik karena sombong atau tidak. Maka ummu salamah vertanya tentang hukum perempuan dlam hal itu, karena kebutuhan perempuan untuk isbal, demi menutup auratnya, karena seluruh kakinya itu aurat. Lalu Nabi menjelaskan hukum perempuan dlam hal ini keluar dar ihukum laki-laki. Dan imam ‘iyadh telah menyatakan ijma’ para ulama, bahwa isbal itu untuk laki-laki tidak untuk perempuan” (fathul bari, 10:365)

Pendapat para ulama

“sesungguhnya hadis-hadis mutlaq yang melarang isbal hendaklah ditaqyidkan (terikat) dengan hadis-hadis lain yang menegaskan (sanksi itu) bagi orang-orang yang melakukannya karena sombong” (Ibnu hajar al-Asqolany dalam fathul bari, 10:365)

“kemuthlaqan hadis ini hendaklah ditarik dengan (hadis) yang terdapat qayyid (batasan) sombong, yaitu hadits ayng padanya secara ittifaq (kesepakatan bersama)terdapat ancaman (bagi mereka yang melakukannya dengan sombong)” (Ibnu Hajar al-asqolany dalam fathul bari)

Hadis-hadis ini menunjukan bahwa isbal sarung karena sombong adalah dosa besar. Adapun isbal bukan karena sombong, maka zhahirnya hadis haram juga, akan tetapi denh\gan adanya taqyid dalam hadis itu dengan sombong, maka dapat dijadikan dalil (dasar) bahwa muthlaqnya larangan tentang isbal itu hendaklah ditarik kepda yang muqayyad, Ini brarti tidak haram mengulurkan pkaian atau isbal apabila selamat dari rasa sombong” (ibnu hajar al-asqolany dalam fathul bari, 10:371)

Imam syafi’I brkata “dianjurkan sarung sampai setengah betis dan boleh samapai dua mata kakim dan lebih dari itu telarang dengan larangan haram jikakarena sombong dan jika tidak sombong, maka hanya makruh saja, karena hadis-hadis yang melarang isbal itu muthlaq dan wajib ditaqyidkan dengan isbal karena sombong” (tuhfatul-ahwadzi, 5:405)

Imam nawawi berkata “tidak boleh isbal dibawah mata kaki jika karena sombongn dan jika tidak karena sombong maka itu makruh” (aunul ma’bud, 11:142)

Ibnu ‘abdil-bar brkata “mafhumnya bahwa isbal yang tidak karena sombong akan mendapatkan ancaman (sanksi), hanya saja mengisbalkan gamis dan pakaiannya lainnya tercela dalam keadaan bagaimanapun”: (fathul bri, 10:371)

Menurut Ibnu Ruslan “zahirnya taqyid dengan kata khuyala’a itu menunjukan secara mafhumnya bahwa isbal pakaian yang bukan karena sombong tidak termasuk dalam ancaman ini” (aunul ma’bud, 11:142)

Dan taqyid dengan khuyala’a disni dapat mentakhshishkan keumuman hadis yang mengisbalkan sarungnya, dan hadis itu menunjukan bahwa yang dimaksud dengan snksi itu adalah orang yang mengisbalkannya karen asombong. Dan Nabi telah memberikan rukshoh (keringanan) kepada Abu bakar ash-shidiq dengan mengatakan “engkau tidak termasuk mereka yang sombong karena isbalnya Abu bakar bukan karena sombong” (Taudhih al-ahkam, 7:315)

Hadis dalam bab ini ditqyidkan dengan khuyala’a dan memang menarik yang  muthlaq kepada yang muqayyad itu wajib” (nailul Authar, 2: 128)

Asal dalam berpakaian itu mubah, maka tidak haram darinya kecuali apa yang Allah dan rasulnya haramkan. Agama brmaksud dengan mengharamkan pakaian yang khusus ini dengan maksud sombong dari isbalnya” (Taudhih al-ahkam, 7:314)

“sesungguhnya qaidah ushul yaitu menarik muthlaq kepada yang muqayyad” itu adalah qaidah yang berlaku dalam umumnya nash-nash asyari’ah” (taudhih al-ahkam, 7:314)

“Dan pendapat yang kuat secara fiqih yaitu pendapat mereka yangmenarik nash-nashyang muthlaq kepada muqayyad. Dan Allah jualah yang memberikan taufik dan petunjuk kejalan yang lurus”

Demikianlah pendapat para ulama ahli hadis tentang isbal, yaitu hadis-hadis yang muthlaq tentang isbal hendaklah ditarik kepada yang muqayyad. Ini berarti, isbal yang haram itu adalah isbal yang karena sombong

Untuk perbandingan

Nabi Saw memerintahkan agar makan itu dengan tangan kanan, kemudian ada seorang shabat yang menyatakan “saya tidak bisa Rasulullah!” Rasul menjawab “bukan tidak bisa tetapi kamu itu sombong” dalam hal ini Nabi tidak memberikan kelonggaran karena memang betul-betul haram. Dalam kasus Abu bakar, andai isbal memang betul-betul haram walau tidak sombong maka tentu saja Nabi saw menyuruh Abu Bakar untuk menjaga sarungnya agar tidak isbal walaupun satu sisi. Dan jika mafhumnya mukhalafah kata khuyala’a ini tidak berlaku maka ungkapan sombong ini sia-sia padahal mustahil Nabi mengatakan kata-kata yang sia-sia / lagha.

bahwa sombong itu adalah masalah hati yang hanya bisa diketahui oleh Allah SWT, artinya kita tidak bisa menilai seseorang dari prilaku dan pakaiannya. Dan dinyatakan bahwa isbal bagian dari kesombongan sampai kapanpun. Disini kita tidak mengetahui secara pasti apa alasan seseorang yang menggunakan pakaiannya. Bisa saja tidak isbal tapi sombong, atau isbal tapi  tidak atau desertai sombong

mengenai kebersihan disini diambil Hadis Nabi “antara debu yang satu dengan debu lainnya saling membersihkan”(HR Muslim)

Betul bahwa Nabi bisa tahu apa isi hati seseorang dengan adanya wahyu, disini dapat kita ketahui bahwa Nabi Muhammad saw sebagai utusanNya diberi pengetahuan oleh Allah bahwa selain Abu bakar ada yang melabuhkan pakaian dengan sombong

Isbal bagian dari kesombongan, kita tahu dari hadis ummu salamah tadi bahwa pada zaman itu pakaian sangat sulit didapat dan hadis lainnya yang menunjukan bahwa ada seorang sahabat yang bergantian dengan istrinya memakai sarung. Jika ada yang isbal maka itu lebih dari kebiasaan waktu itu maka isbal dilarang. Berbeda dengan sekarang yang pakaian sudah amat mudah didapat maka isbal (dengan catatan tidak israf) tanpa sombong maka boleh.

Qa’ida ushul “Ada dan tidak adanya hukum, tergantung pada ada dan tidaknya ‘illat (sebab)” itu berarti jika ada sombong maka ada hukum haram, dan jika tidak sombong .maka tidak ada pula hukum haram

Pertanyaan:

bagaimana dengan adanya pendapat bahwa:

1. Dalam hadits riwayat Abu Daud 3442 nabi menegaskan “Isbal termausk kesombongan”, dengan adanya penegasan ini, maka menjadikan kata khuyala atau bathran untuk mentaqyid perbuatan isbal kir…anya mejadi tidak tepat pula, jika dipaksakan masuk kedalam muthlaq-muqayyad, maka mahfum mukhalafahnya menjadi rancu, kira2 bunyinya menjadi begini “Boleh Isbal (yang merupakan bagian dari kesombongan) asal tidak sombong (yang salah satu bentuknya adalah isbal)

dan meninggikan pakaian juga jaminan kbrsihan pkaian sebagaimana hadits:

2. “Tinggikan pakaianmu karena hal itu lebih menunjukan ketakwaan kepada Rabbmu dan lebih bersih untuk pakaianmu” (HR. Bukhari, lihat al-muntaqaa min akbaaril musthafaa, jilid 2/451)?

Jawaban:

Diawal pembahasan ust menjelaskan ttg pentingnya tahrir al-muthalahat, sebagai alat tuk memahami ungkapan Nabi, juga agar persepsinya sama.Untuk itu, kita perlu kembali menyepakati, apakah isbal yang kita bicarakan itu kategori istilah atau bahasa, sebab secara bahasa unsur motif (sombong) tdk dilibatkan. Andaikata, isbal yg diungkap Nabi itu dipahami dlm kategori istilah, sedangkan dlm konteks qaidah ushul dipahami dlm kategori bahasa, tentu tdk rancu kan?

Hadis-hadis Nabi tentang Isbal, termasuk riwayat Abu Daud di atas, itulah yg dijadikan rujukan oleh para ulama ketika mendefinisikan isbal secara istilah

walhasil, bila isbal yang dimaksud adalah istilahi maka tidak perlu ditaqyid. Tapi bila lughawi maka itulah yang perlu kpd taqyid. Jadi mafhum: “Boleh Isbal asal tidak sombong” tidak rancu dalam kategori lughawi. Seperti halnya jarr dan wathi’a, perlu kpd taqyid.

Kemudian hadis:”Tinggikan pakaianmu karena hal itu lebih menunjukan ketakwaan kepada Rabbmu dan lebih bersih untuk pakaianmu” (HR. Bukhari, lihat al-muntaqaa min akbaaril musthafaa, jilid 2/451)? Apakah hadis ini akan dimaknai secara mantuq… (tersurat) atau mafhum (tersirat)? Misalkan begini, apakah dibenarkan bila hadis itu dipahami secara Mafhum mukhalafahnya, sehingga jadi begini: “kalau pakaian itu tdk tinggi maka tdk menunjukkan ketaqwaan?” Kalau ini diterapkan pada kasus Abu Hanifah, Abu Hanifah tdk taqwa krn memanjangkan pakaian?.

Pertanyaan:

Bagaimana dengan hadits yang menyatakan keras dengan isbal dalam shalat seperti hadits sebagai berikut:

“Ketika ada seorang lelaki yang shalat dengan mengenakan pakaian secara Isbal, Rasulullah SAW berkata padanya, “pergilah dan ambillah wudhumu!” lelaki itu pun pergi berwudhu, kemuadian dia kembali datang dan Rasulullah SAW kembali berkata, “pergilah dan ambillah wudhumu!” ada seorang yang bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah mengapa engkau menyuruhnya mengambil wudhu semula?” dia (Rasul) diam, kemudian berkata “sesungguhnya dia tadi melakukan shalat, sedang dia memakai pakaian dengan Isbal. Sesungguhnya Allah tidak menerima shalat lelaki yang memakai pakaian dengan Isbal” ( HR. Abu Dawud dalam kitab As-Sholah no. 639, Ahmad dalam al-Musnad 4/67, Nasa’i dalam kitab Sunan Kubro, Nawawi dalam kitab Riyadus Shalihin no. 795) ?

Jawaban:

redaksinya begini:عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
بَيْنَمَا رَجُلٌ يُصَلِّي مُسْبِلًا إِزَارَهُ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اذْهَبْ فَتَوَضَّأْ فَذَهَبَ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ جَاءَ فَقَالَ اذْهَبْ فَتَوَضَّأْ فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا لَكَ أَمَرْتَهُ أَنْ يَتَوَضَّأَ ثُمَّ سَكَتَّ عَنْهُ قَالَ إِنَّهُ كَانَ يُصَلِّي وَهُوَ مُسْبِلٌ إِزَارَهُ وَإِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبَلُ صَلَاةَ رَجُلٍ مُسْبِلٍ Nashir al-Din albani menandaskan: 761 – [ 8 ] ( ضعيف )
dalam, bukunya yang laindia berkomentar تحقيق الألباني :
ضعيف // ، المشكاة ( 761 ) بلفظ قريب و سيأتي برقم ( 884 / 4086 ) //. Jadi jelas bahwa kualitas hadits itu adalah dla’if, tidak bisa dijadikan dasar hukum, dan Sanad Abu Ja’far kata Awn al-Ma’bud, adalah dla’if
Ulama-ulama ahli hadits mengkomentari rawi bernama Abi Ja’far. Imam At Tirmidzi berkata La yu’rafu Ismuhu (tidak diketahui namanya.

Ulama-ulama lain mengatakan Dia adalah Muhammad bin ali bin Al husain, berkata Ibnu Hajar Al Asqalani dan Abdullah bin Abdurrahman Ad Darimi bahwa Abu Ja’far adalah seorang laki-laki dari kaum Anshar, karena itulah Ibnul Qaththan menetapkan bahwa Abu Ja’far adalah Majhul (tidak dikenal).

Ibnu Hibban yang juga menyebutkan bahwa Abu Ja’far adalah Muhammad bin Ali bin Al husain, dibantah oleh ibnu Hajar bahwa hal itu tidak benar karena Muhammad bin Ali bin Al husain bukan seorang Muadzin (Abu Ja’far Al Anshari adalah seorang Muadin), Abu Ja’far jelas mendengar dari Abu hurairah dalam sejumlah hadits. Sedangkan Muhammad bin Ali Al husain tidak pernah bertemu dengan Abu Hurairah.

Maka hadits semacam ini disebut Mubham karena Abu ja’far tidak diketahui nama Aslinya, hadits Mubham tergolong hadits Dha’if (lemah).

Dari segi Matan hadits ini Janggal, yaitu batalnya wudhu’ karena ISBAL, ini terbukti dari perintah rasulullah kepada orang tersebut untuk mengulang wudhu’nya. Padahal kita telah faham bahwa Nawaqidhul wudhu’ (pembatal Wudhu’) adalah hadats, baik besar maupun kecil.

About these ads

About rendyadamf
assalamu'alaikum wrwb..salam kenal buat teman - teman semuanya..gw rendy TTL : Bandung, 30-06-84. gw kuliah di UNISBA. gw nulis blog ini hanya untuk curahkan semua pemikiran gw..dan gw udah ubah haluan jalan hidup gw..menjadikan jihad sebagai satu-satunya jalan hidup gw!!

4 Responses to Hukum Isbal

  1. abu waqqosh says:

    aSSAlAMU’ALAIKUM
    aNA mau tanya kepada semua muslim,

    Siapa diantara kita yang telah mendapat rekomendasi bahwa kita bebas dari sikap sombong?
    Apa tatkala kita isbal kita katakan bahwa kita tidak sombong?
    Padahal Allah berfirman, “…maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci (An-Najm/53 : 32). Silakan baca artikel berikut

    http://salafitobat.blog.com/2010/11/24/hukum-isbal-kain-dibawah-mata-kaki/

  2. rendyadamf says:

    Wa’alaykumussalaam warrohmatulloohi wa barokaatuh..iya terimakasih, saya juga punya majalahnya ^^ apa tatkala kita tidak isbal kita katakan bahwa kita tidak sombong..silahkan baca artikel diatas arti isbal secara istilahi

  3. Ahmad says:

    Kupasan yang komplit plit…..Berbeda dengan pendapat kelompok salafy yang cuma ngutip pendapat spendapat yaikh mereka saja.

  4. abdullah says:

    Sebagai perbandingan, contoh tulisan yang menjelaskn isbal tanpa sombong hukumnya mubah; http://abuhauramuafa.wordpress.com/2012/04/06/hukum-isbal-dalam-islam/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 59 other followers

%d bloggers like this: