Hukum Merapatkan Tumit Waktu Sujud

Merapatkan kedua tumit waktu sujud

 

Pada kesempata ini akan dibahas mengenai posisi tumit apakah diregangkan mengikuti kerenggangan lutut yang direnggangkan ataukah secara khusus dirapatkan.Menurut kami hal ini perlu dibahas lebih panjang lebar karena telah terjadi perbedaan pendapat yang melahirkan polemic

 

Pada waktu sujud Rasulullah saw merenggangkan kedua paha dan lutut.Diterangkan oleh Abu Humaid tentang sifat Rasulullah saw

 

Dari Humaid sifat (salat) Rasulullah saw ia mengatakan “dan apabila (nabi) sujud, beliau merenggangkan kedua pahanya tanpa membebankan perutnya pada kedua pahanya sedikitpun” HR Abu Daud

 

Imam Asy-syaukani mengatakan “maksudnya ialah merenggangkan kedua paha, kedua lutut dan kedua tumit. Dan Kawan-kawan Imam Asy-syaukani menerngkan bahwa renggangnya kurang lebih satu jengkal” Nailul Authar, II:271

 

Untuk selanjutnya marilah kita perhatikan pendapat sementara orang yang menyatakan bahwa ketika sujud meskipun kedua paha, lutut dan betis direnggangkan, secara khusus kedua tumit ini dirapatkan.

 

Pendapat demikian neralasan dan keterangan sebagai berikut

 

1. Dari Urwah bin Zubair dari Aisyah osteri Nabi Nabi saw berkata padahal saya diatas tempat tidur. Laludapatkan beliau sedang sujud, beliau menghadapkan ujung jari-jari (kaki) kekiblat..” HR Ad-Daruquthni dan al-Baihaqi

Hadis ini sangat jelas dan tegas apa yang dikabarkan oleh aisyah bahwa ketika sujud kedua tumit Rasulullah dirapatkan.

 

2. Hadis lain masih dari Ausyah, beliau menerangkan:

 

Aku kehilangan Rasulullah saw dari tempat tidur pada suatu malam. Lalu aku mencarinya (meraba-raba karena gelap) di mesjid, maka tanganku menyentuh bagian perut (dampal) kedua telapak kaki beliau dalam keadaan tegak berdiri. Dan beliau berdoa “Ya Allah!Aku berlindung kepada ridhaMu dari kemurkaanMu dan kepada ampunanMu dari siksaanMu, dan aku berlindung kepadaMu dariMu, aku tidak dapat menghitung pujian atasMu sebagaimana Engkau memuji atas diriMu” HR Muslim

3. Aku kehilangan Rasulullah saw pada suatu malam. Lalu aku mencarinya di mesjid. Ternyata beliau sedang sujud dan kedua telapak beliau ditegakkan, dan beliau berdoa…”HR Abu Daud

4. Aku kehilangan Rasulullah saw pada suatu malam, mulailah aku mencarinya dengan tanganku m,aka tanganku menyentuh bagian perut (dampal) kedua telapak kaki beliau dalam keadaan tegak berdiri, dan beliau berdoa…HR. Ibnu Khuzaimah.

Jika pada hadis pertama dengan sharih, terang dan jelas menggunakan kata sajidan rashshan aqibaihi (beliau sujud dengan merapatkan kedua tumitnya), maka pada hadis (2) menggunakan kata-kata faltamatsu fa waqa’at yadi ala batni qadamaihi (lalu aku mencarinya dimesjid, maka tanganku menyentuh bagian perut kedua tumit beliau dalam keadaan tegak berdiri) Penjelasan Aisyah ini juga dapat dipaham kedua tumit Rasulullah saw itu rapat. Buktinya kedua tumit dapat teraba oleh Aisyah dengan satiu tangan. Dan apabila direnggangkan, dengan hanya satu tangan tentulah tidak akan teraba kedua-duanya. Demikian pula dua hadis selanjutnya masih keterangan Aisyah yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Ibnu Majah

 

Sanggahan-sanggahan

Tentang hadis yang matannya sharih (terang) riwayat Ad-Daruquthni dapat kami jawab sebagai berikut:

 

Hadis ini dhaif karena pada sanadnyaterdapat seorang rawi bernama Yahya bin Ayyub Al Ghafiqi. Adapun tentang keterangan jarh (kritikan) lengkapnya insyaAllah pada bagian takhrij hadisnya.

 

Adapun hadis riwayat Muslim saja shahih sanadnya tetapi matannya dapat dipahami bahwa Rasulullah saw merapatkan kedua tumitnya bila yang dujadikan alasan bahwa kedua tumit itu dapat teraba oleh Aisyah dengan hanya satu tangan dan dengan saru kali raba. Dan dapat direnggangkan, dengan hanya satudan satu sentuhan tentulah tidak akan teraba kedua-duanya. Tetapi juga dapat dipahami tidak akan merapatkan  kedua tumitnya jika kedua paha dan kedua lutut direnggangkan tentu saja kedua betis akan berenggangan, Akibatnya demikian pula kedua tumit akan saling berenggangan, dan yang disebut iltimas(meraba-raba) untuk mencari sesuatu menunjukan bahwa pada saat itu gelap dengan demikian tidak meustahil rabaan Aisyah itu beberapa kali

 

Karena ihtimalat (beberapa kemungkinan) pemahaman yang terdapat pada hadis itu tentu saja hadis riwayat Muslim Ini tidak dapat dijadikan hujjah tentang rapatnya kedua tumit pada waktu sujud

 

Masih sebatas kemungkinan tidak dapat dijadikan dalil

 

Maka oleh karena hanya merupakan ihtimal dan perlu kepada adanya qarinah atau dalil lain yang menegaskannya. Sedangkan kaa-kata merapatkan kedua tumit bukan merupakan ketrangan Aisyah melainkan idraj (tambahan) dari rwai yang dhaif, yaitu Yahya bin Ayyub AlGhafiqi yangmemang sering salah dalam meriwayatkan hadis bahkan sering sekali idtirab (goyah), artinya ucapannya tidak tetap dan tidak dapat dipegang. Untuk lebih jelasnya perhatikan takhrij hadis dan penjelasan berikut ini :

 

Imam ad-daruquthni telah menyususn suatu bab untuk hadis diatasdegan judul “Dhomul ‘Aqibaini fis sujud” artinya menyatukan dua telapak kaki dalam sujud” beliau berkata “telah mengabarkan kepada Abu Thahir, telah mengabarkan kepada kami abu bkar, telah mengabarkan kepada kami Ahmad al kufi- ia tinggal di fushtah-kaduanya berkata “telah menceritakan kami Ibnu Abi Maryam, telah mengabarkan kepada kami Yahya bin Ayyub, telah menceritakan kepada saya Amarah bin Ghaziyyah, ia berkata “saya mendengar Abu nadir berkata “saya mendengan Urwah bin al-Zubair berkata Aisyah berkata (sebagaimana dalam hadis diatas) (sunan ad-Daruquthni I:328)

 

Hadis tersebut diriwayatkan pulaoleh imam baihaqi dan al hakim. Di dalam kitab sunannya bab “hadis tentang menyatukan kedua telapak kaki dalam sujud” al baihaqi menyatakan Abu Abdillah al-hafidzh telah mengabkan kepada kami. Abu Abbas Muhammad bin Ahmad al-mahbubi telah mengabarkan, Abubakar Muhammad bin Isa ath-thurusi telah menceritaka kepada kami, Said bin Abi Maryam telah menceritakan kepada kami, Yahya bin Ayyub telah mengabarkan, Amarah bin Ghaziyah telah menceritakan kepada saya ia berkata “saya berkata Abu Nadir Berkata “saya mendengar Urwah bin al-Zubair berkata Aisyah berkata (sebagaimana hadis diatas)” As-sunanul kubra II: 116

 

Sanad Imam Daruquthni diatas dipergunakan oleh Imam Ibnu Khuzaimah dalam meiwayatkan hadis tersebut, dan ditempatkan dalam bab yang sama.

 

Sepanjang pengetahuan penulis, hadis dengan redaksi deperti diatas tidak tercatat dalam kitab shaihain, ashabus sunan, dan musna d ahmad. SDengandemikian hadis tersebut tidak dikenal oleh ahli-ahli hadis lainnya. Sedangkan keterngan yang ada sebagaimana diterangkan oleh aisya adalah sebagai berikut:

 

Aku kehilangan Rasulullah saw, Dari tempat tidur pada suatu malam. Lalu aku mencarinya di mesjid, maka tanganku menyentuh bagian perut (dampal) kedua telapak kaki beliau keadaan tegak berdiri, dan beliau bedoa “Ya Allah! Aku berlindung kepada RidhaMu dari kemurkaanMu dan kepada ampunanMu dari siksaMu dan aku berlindung kepadaMu darMu, aku tidak dapat menghitung pujiam atasMu sebagaimana Engkau memuji atas diriMu” HR Muslim

Jelas, hadis shahih ini tidak dengan tambahan merapatkan kedua tumit.

 

Kedua hadis diatas diriwayatkan pula oleh imam Nasai dan Ibnu Khuzaimah dengan redaksi yang berbeda, dan ditempatkan dalam bab yang sama, yaitu “menegakkan kedua telapak kaki dalam sujud” Adapun imam Muslim dan Abu Daud menempatnkannya dalam bab “doa dalam ruku dan sujud.”

 

Bila ditinjau dari segi jumlah periwayatan, maka ahadis tersebut masuk kedalam kategori gharib muthlaq atau fardu muthlaq, karena hadis tersebut hanya diriwayatkan oleh Aisyah, yang meriwayatkan dari Aisyah hanya Urwah bin al-Zubair saja. Dari Urwah pun hanya diriwayatkan oleh Abu Nadir saja. Dari Abu Nadir diriwayatkan oleh Amarah bin Ghaziyyah saja. Dari Amarah hanya diriwayatkan oleh Yahya bin Ayub. Dari Yahya diriwayatkan oleh Sa’ad bin Abu maryam saja. Dari Ibnu Abu Maryam diriwayatkan oleh tiga orang rawi yang seorang dari mereka adalah sanad kedua (dari bawah) imam al-hakimm dan sanad ketiga (dari bawah)imam al-baihaqi, yaitu Muhammad bin Isa ath0thurusi, sedang yang dua ornga lagi, yaitu Ahmad bin Abdullah dan Ismail bin Ishaq adalah sanad yang ketiga (dari bawah imam ad-Daruquthni dan Ibnu Khuzaimah)

 

 

 

 

Kedudukan Hadis

1. Hadis tersebut dhaif, karena di dalam sanadnya ada rawi yang bernama Yahya bin

Ayyub.

2. Yahya bin Ayyub yang ini adalah Yahya bin Ayyub al-ghafiqim Abul Abbas al-

Mishri, orang alim dan mufti penduduk mesir.

 

Yahya telah dijarah oleh para ulama disamping ada yang menta’dilnya

 

a. ulama yang menjarah

1. Ahmad berkata “dia jelek hafalan (Jarah/J. Martabat/M-1)”

2. Ibnul Qaththan berkata “dia di antara orang yang aku ketahui keadaannya dan

sesungguhnya dia tidak bisa dipakai hujjah (J/M-!!)”

3. Abu hatim berkata “dia tidak bisa dipakai hujjah (J/M11)”

4. Nasai berkata “dia tidak kuat (J/M-I”

5. Daruquthni brekata”pada hadisnya ada idhtirab (J/M-II)”

6. Ibnu Saad berkata “dia munkarul hadis (J/M-II)”

7. Al hakim Abu Ahmad berkata, “nila dia menceritakan hadis berdasarkan

hafalannya maka dia salah, sedangkan bila menceritkan dari kitab

(catatannya)maka tidak ada halangan (tidak salah)” Tahdzibut tahdzib, XI:186,

Mizanul I’tidal, IV:362, dan Hadyu sari; 473-474.

 

b. Ulama yang menta’dil

1. Ibnu Adi berkata “menurut saya dia shaduq (ta’dil/t, martabat/m-V)”

2. Ibnu main berkata” Dia shalihul hadis (T/M-VI)

3. As-saji berkata “ dia shaduq, waham (T/M-VI.(ibid)

4. Ulama hadis telah menetapkan: “bila seseorang rawi dijarah dengan jarah martabat

I dan II, maka hadisnya dijadikan I’tibar, yaitu dicari riwayat-riwayat lain yang

menguatkan” manhajun Naqd fi Ulumil Hadis:112.

 

Sekalipun Yahya bin Ayyub hanya dijarah dengan jarah martabat I dan II namun karena tidak ada rawi yang lain yang menguatkankannya, maka dia tidak dapat dipakai hujjah.

 

Oleh karena itu, Yahya bin Ayyub dipakai oleh imam Bukhari didalam kitab shshihnya selama ada syahid atau muttabi.

 

Sampai disini kami rasa cukup tentang pembahasan ini. Telah kami terangkan dalil-dalil kedua kelompok yang berbeda pendapat dengan ulasan-ulasan. Akhirnya sampailah kami pada kesimpulan :

 

-         Merapatkan tumit dalam sujud merupakan Idraj (tambahan) dari rawi yang dhaif.

-         Merapatkan tumit bukan merupakan sunnah atau tatacara Rasulullah saw

-         Merenggangkan kedua paha, kedua lutut, kedua betis dan kedua tumit pada waktu sujud adalah sunah Rasul saw.

 

 

 

 

About these ads

About rendyadamf
assalamu'alaikum wrwb..salam kenal buat teman - teman semuanya..gw rendy TTL : Bandung, 30-06-84. gw kuliah di UNISBA. gw nulis blog ini hanya untuk curahkan semua pemikiran gw..dan gw udah ubah haluan jalan hidup gw..menjadikan jihad sebagai satu-satunya jalan hidup gw!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 59 other followers

%d bloggers like this: