27. Bacaan Shalawat dan Masalahnya

Bacaan salawat dan masalahnya

Membaca salawat di dalam salat merupakan masalah yang cukup pelik dan memerlukan pembahasan yang tidak sederhana. Semenjak para ulama ahli telah berdebat dengan dalil-dalil yang masing-masing telah didapatkannya. Dan hal itu meliputi :

1. Hukum membaca salawat pada tasyahud.

2. Macam-macam bacaan / lafal salawat.

3. Tempat membaca salawat.

Tentang hukum membaca slaawat di dalam salat setelah dua kalimat sayahadat terdapat tiga pendapat :

Yang menyatakan wajib, sunat dan sunat muakkadah.

Dalam hal ini terlebih dahulu kami iangin menuturkan siapa-siapa yang berpegang pada pendapat pertama, yaitu yang menyatakan wajib.

Di antara yang berpendapat wajib ini adalah : Umar bin Khattab, ‘Abdullah bin Umar, ibnu Masud, Jabir bin Zaed, Asy-Sya’bi, Muhammad bin Ka’ab Al-Qurdhi, Abu Ja’far Al Baqir, Al-Qasim, Asy0Syafi’I, Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahawaeh dan Ibnu Mawaz. Pendapat ini menjadi pegangan Al-Qadhi Abu Bakar Ibnul Arabi.

Adapun yang berpendapat tidak wajib adalah ulama jumhur yang mencakup didalamnya Imam Malik, Abu Hanifah, beserta kawan-kawan beliau, Ats-Tsauri, Al-Auzai, an-Nashil dari ahli Bait dan lain-lain.

Ath-Thabari dan Ath-Thahawi mengatakan bahwa telah bersepakat ulama mutaqaddimun dan mutaakhirun terhadap tidak wajibnya. Tetapi ada sebagian ulama yang menyatakan bahwasanya hanya Imam Asy-Syafi’I dan akhirnya banyak lagi pernyataan-pernyataan lain yang seolah ingin lebih mengautkan masing-masing. Nailul Authar, II:295-297

Mudah-mudahan kita dapat melihatnya denga jernih terutama dalil-dalil yang dikemukakan oleh ulama-ulama yang berbeda pendapat itu dan mudah-mudahan Allah menuntun kita kepada kesimpulan yang tidak menyalahi sunnah RasulNya.

Dalil-dalil yang menyatakan wajib :

Dari Abu Masud mengatakan “Rasulullah saw mendatangi kami dan kami berad di majlis Sa’ad bin Ubadah, Basyir bin Sa’ad bertanya kepadanya, Allah swt telah memerintahkan kami untuk slaawat kepada mu bagaimana salawat kepadamu itu? Maka beliau diam sehingga kami merasa bahwa beliau tidak ditanya, Kemudian Rasulullah saw bersabda’ ucapkanlah oleh kalian’ Allahumma shalli ‘ala muhammadin wa ‘ala aali muhammadin kamaa shallayta ‘ala aali ibrahiima wabarik ‘ala muhammadin wa ‘ala aali muhammdin kamaa baarakta ‘ala aali ibrahiima innaka hamiidummajiid, wassalaamu kamaa qad ‘alimtum(Ya Allah berikanlah slawat atas Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau berikan salawat kepada keluarga Ibrahim, dan berkahilah Muhammad serta keluarga Muhammad sebagaimana Engkau memberkahi keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji Maha Mulya. H.R Ahmad, Muslim, An-Nasai dan At-Tirmidzi dan beliau mensahihkannya

Dari Ka’ab bin Ujrah ia mengatakan ‘Wahai Rasulullah saw kami telah mengetahui slam kepadamu dan bagaimanakah salwat atasmu? Ucapkanlah oleh kalian “Allahumma shali ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad kamaa shalayta ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad kamaa shalaita ‘ala aali ibrhaim innaka hamidummajiid. Allahumma barik ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad kamaa barakta ‘ala aali ibrahim innaka hamidummajiid (Ya Allah berikanlah salawat atas Muhammad dan atas keluarga Muhammad sebagaimana Engkau berikan slawat atas keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji Maha Mulya dan berkahilah Muhammad serta keluarga Muhammad sebagaimana Engkau memberkahi keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji Maha Mulya. H.R Al-Jamaah.

Did lam hadits lain diterangkan ;

Dari Fudalah bin Ubaid ia mengatakan “Nabi saw mendengar seorang laki-laki sedang bedoa dalam salatnya dan tidak berslawat atasnya. Maka Nabi saw bersabda “tergesa-gesa sekali, kemudian ia memanggilnya dan berkata kepadanya atau kepada yang lainnya.’bila salah seorang diantara kalian shalat, maka mulailah dengan memuji Allah, kemudian salawatlah atas Nabi kemudian berdoalah sesukamu” H.R At-Tirmidzi dan beliau mensahihkannya

Dengan sabda Rasulullah saw ‘ajila hadza dan memanggil orang yang tidak membaca salawat di dalam duudk tasyahudnya, lalu beliau bersabda kepada orang itu atau kepada yang lainnya dengan kata-kata : apabila kalian shalat (membaca pada duduk tasyhud maka mulailah dengan tahmid kemudian slaawatlah atas Nabi saw, kemudian bari bedoa sekehendak hati.

Keterangan ini menegaskan tegran Rasulullah saw kepda yang melewatkan salawat di dalam duduk tahiyyatnya. Maka jelas bahwa kedudukannya wajib, karena Rasulullah saw tidak akan menegur bila bukan pekerjaan wajib.

Adapun yang mengatakan sunat/sunah adalah sebagaimana yang dinyatakan Imam Ath-Thabrani dan Ath-Thahawi bahwasanya ulama mutaqadim dan mutaakhirun yang berpendapat tidak wajib atau sunah, laasan mereka adalah bahwa ketika Rasulullah saw membetulkan orang yang buruk shalatnya beliau memberi petunjuk dan disebut satu persatu tentang hal-hal yang akan menyempurnakan shalat, baik cara-caranya maupun bacaannya, maka ketika selesai beliau bersabda

Jika engkau telah melakukan ini sungguh telah sempurna shalatmu

sedangkan bacaan salawat tidak ada pada petunjuk Rasulullah saw diatas

Adapun pendapat ketiga pada dasarnya hamper sama denga endapat kedua hanya saja menyatakan sunah muakkadah, Dalil yang digunakan pun sama hanya tampaknya menggunakan dalil di atas bahwa memang benar Rasulullah saw tidak memasukan bacaan salaat pada petunjuk beliau ketika membetulkan orang yang buruk shalatnya akan tetapi teguran Rasulullah saw kepada orang yang tidak membaca salawat didalam shalatnya itu hadus diperhatikan dan dijadika bahan pertimbangan. Oleh karena itu wajar bila ditetapkan sunah muakkadah.

Penulis lbih cenderung kepada yang menyatakan wajib karena tidak jelas mana kejadian yang lebih dahulu antara petunjuk Rasulullah saw kepada yang salah dalammelakukan shalat dan teguran beliau kepada orang yang tidak membaca salawat di dalam shalatnya. Yang jelas bahwa tidak membaca salawat akan mendapat teguran yang cukup keras, yaitu ‘ajila hadza (tergesa-gesa benar orang ini)

Insya Allah pembahasan akan dilanjutkan kepada macam-macam bacaan shalawat, waktu/tempat membaca salawat, dan tambahan sayyidina pada setiap kata Muhammad

Bacaan salawat dan masalahnya 2

Macam-macam bacaan salawat

Kita disini membicarakan macam-macam bacaan salawat di dalam salat dan mudah-mudahan dapat terungkap bacaan-bacaan yang sahih yang menjadi pilihan, dan yang dhaif selayaknya ditinggalkan. Mengenai macam bacaan salawat cukup banyak, tetapi hanya berkisar diseputar perbedaan lafal dan tentu saja dengan substansu yang sama, yaitu pada pokoknya memohon kepada Allah agar salawat, berkah, dan salam dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad saw

Pertama-tama kita mulai dengan bacaan salawat yang diterima dan diajarkan oleh Ibnu Mas’ud,lalu dari sini kita melihat dan memperhatikan riwayat-riwayat lain dan letak perbedaan lafalnya. Dan perbedaan lafal itu akan kami beri tanda, dengan dicetak tebal demikian pula terjemahnya agar terlihat jelas

Allahumma shali ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad kamaa shalayta ‘ala aali ibrahiim wa baarik ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad kamaa baarakta ‘ala aali ibrahiim innaka hamiidummajiid

(Ya Allah limpahkanlah salawat atas Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau berikan salawat kepada keluarga Ibrahim, dan berkahilah Muhammad serta keluarga Muhammad sebagaimana Engkau memberkahi keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji Maha Mulia) H.R Ahmad, Muslim, An-Nasai dan At-Tirmidzi dan beliau mensahihkannya.

Lafal dari Kaab bin Ujrah :

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad kamaa shalayta ‘ala aali ibrahiim innaka hamiidummajiid Allahumma baarik ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad kamaa baarakta ‘ala aali ibrahiim innaka hamiidummajiid

(Ya Allah berikanlah salawat atas Muhammad dan atas keluarga Muhammad sebagaimana Engkau berikan salawat atas keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha terpuji dan Maha Mulia dan berkahilah Muhammad sebagaimana Engkau memberkahi keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji maha Mulia). H.R Al-Jamaah

Lafal Thalhah bin Ubaidilah :

Allahumma shali ‘ala Muhammad kamaa shallayta ‘ala ibrahiim wa aali ibrahim innaka hamidummajiid. wa baarik ‘ala Muhammad wa aali Muhammad kamaa barakta ‘ala ibraahiim wa aali ibraahiim innaka hamidummajiid

(Ya Allah berikanlah salawat atas Muhammad sebagaimana Engkau berikan salawat atas Ibrahim dan keluarga ibrahim, Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji Maha Mulia dan berkahilah Muhammad serta keluarga Muhammad sebagaimana Engkau memberkahi Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji Maha Mulia. H.R An-Nasai.

Lafal Abu Said

Allahumma shalli ‘ala Muhammad ‘abdika warasulika kamaa shallayta ‘ala ibrahiim wa baa rik ‘ala Muhammad wa aali Muhammad kamaa baarakta ‘ala ibrahiim wa aali ibraahiim innaka hamiidummajiid.

(Ya Allah berikanlah salawat atas Muhammad, hambaMu dan RasulMu sebagaimana Engkau berikan slawat kepada Ibrahim, dan berkahilah Muhammad serta keluarga Muhammad sebagaimana Engkau memberkahi Ibrahim dan keliuarga Ibrahim sesungguhnya Engkau Maha Terpuji Maha Mulia) H.R Al-Bukhari, An-Nasai dan Ibnu Majah.

Lafal Buraedah riwayat Ahmad bin Hanbal :

Allahummaj’al shalawaatika warahmataka wa barakaatika ‘ala Muhammad wa aali Muhammad kamaa ja’altahaa ‘ala aali ibrahim innaka hamidummajiid

(Ya Allah jadikanlah salawatMu rahmatMu serta berkah-berkahMu terlimpah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana telah Engkau limpahkan kepada keluarga Ibrahim. Sedungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia)

Akan tetapi perlu diketahui bahwa hadis-hadis ini lemah sekali karena pada sanadnya terdapat seorang rawi yang bernama Abu daud al-A’ma yang nama aslinya Nafi’ yang terbukti membuat hadis palsu. Denga keterangan hadis-hadis sahih di atas menunjukan bolehnya dipilih di antara bacaan-bacaan salawat diatas dan kami tidak dapat menentukan bacaan salawat dari sahabat siapa yang lebih utama. sebenarnya terdpaat pendapat yang dikemukakan oleh Imam An-Nawawi yang dikutip dari Syarah Al-Muhadzdz, beliau mengatakan.

Layak sekali bila anda merangkum seluruh lafal yang terdapat pada hadis-hadis sahih, maka selayaknya anda mengucapkan “Allahumma shalli ‘ala muhammadinnabiyyil umiyyi wa ‘ala aali Muhammad wa azwaajihi wadzurriyyatihi kamaa shalayta ‘ala ibrahim wa ‘ala aali ibrahim. wa baarik ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad wa azwajihi wadzurriyyatihi kamaa baarakta ‘ala ibrahim wa ‘ala aali ibrahim fil ‘aalimiina innaka hamiidummajiid”

(Ya Allah berikanlah salawat atas Muhammad Nabi yang Ummi dan atas keliarga istri serta keturunan beliau sebagaimana Engkau berikan salawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Dan berkahilah Muhammad serta keluarga Muhammad, istri-istri serta keturunan beliau Ibrahim beliau sebagaimana Engkau memberkahi Ibrahim serta keluarga Ibrahim di seluruh ala mini. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji Maha Mulia).

Adapun Al-Iraqi, beliau merangkumnya dengan suusnan sebagai berikut :

Allahumma shalli ‘ala Muhammad ‘abdika wa rasuulikannabiuuil ummiyyi wa ‘ala aali Muhammad wa azwajihi ummahatil mu-miniina wa dzurriyatihi wa ahli baytihi kamaa shallayta ‘ala ibrahiim wa ‘ala aali ibraahiim innaka hamiidummajiid. wa barik ‘ala muhammadinnabiyyil umiyyi wa ‘ala aali Muhammad wa azwaajihi wa dzurriyyatihi kamaa baarakta ‘ala ibraahiim wa ‘ala aali ibrahiim fil ‘alamiina innaka hamiidummajiid

(Ya Allah berikanlah salawat atas Muhammad hambaMudan utusanMu Nabi yang Ummi dan atas keluarga Muhammad, istri-istrinya umahatul mukminin serta keturunan dan ahlulbait beliau, sebagaimana Engkau berikan salawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Tepuji Maha Mulia, dan Berkahilah Muhammad Nabi yang Ummi serta keluarga Muhammad, istri0istri serta keturunan beliau sebagaimana Engkau memberkahi Ibrahim serta keluarga Ibrahim di seluruh ala mini. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji Maha Mulia)

Inilah rangkuman yang disusun oleh Imam An-Nawawi dan Al-Iraqi yang tentu saja kita tidak dapat menolaknya karena semua lafalnya berdasarkan hadis-hadis sahih, Tetapi kita juga boleh membacanya tanpa merangkumnya terlebih dahulu. sesuai dengan kecenderungan kita.

Tambahan fil alamina dan sayyidina

Sebagaimana kita tahu tambahan fil alamina ini sahih karena diriwayatkan oleh semua mukharij kecuali Al-Imam Al-Bukhari, sedangkan kata tambahan sayyidina sebelum kata-kata Muhammad, kami belum menemukan riwayatnya walaupun hanya sekedar hadis dhaif. Oleh karena itu, tambahan sayyidina sebelum kata Muhammad wajib ditolak. Pernah terdengar alasan orang yang menambahkan kata-kata tersebut dengan tujuan untuk menghormati dan memuliakan Nabi Muhammad saw tetapi sesungguhnya cara itu menunjukan rasa tidak hormat kepada hadis-hadis dan atau sabda Nabi sendiri

Bacaan salawat dan masalahnya 3

Pada edisi yang lalu telah diterangkan mengenai hukum membaca salawat, telah diterangkan pula bahwa tidak terdpaat perbedaan pendapat di antara para ulama tentang bahwa membaca salawat di dalam salat merupakan salah stau cara taqarubnya seorang hamba kepada Allah swt, akan tetapi sebagaimana telah diterangkan terjadi perbedaan pendapat itu dalam hal penetapan hukum wajib dan sunatnya membaca salawat. Selanjutnya masih terdapat permasalahan, apakah membaca salawat pada tasyahud awal sama hukumnya pada tasyahud akhir

Membaca salawat pada tasyahud awal

Ada yang berpendapat bahwa membaca salawat pada tasyahud awal tidak dicontohkan oleh Nabi saw berdasarkan hadis sebagai berikut :

Sesungguhnya Nabi saw susuk pada tasyahud ausat (awal) sebagaimana beliau duudk di atas bara api. H.R Abu daud, At-Tirmidzi, An-Nasai

Bagi yang berpendapat bahwa Nabi saw tidak membaca salawat pada tasyahud awal, mengartikan sangat sebentarnya duduk sampai dikatakan kama yajlisu ‘alar rodhfi (bagaikan duduk di atas bara api) denhan hal itu, yaitu tidak mungkin Nabi dapat duduk demikian sebentarnya apabila membaca tahiyat ditambah dengan membaca salawat

Sanggahan

Sebenarnya tidak ada satu hadis pun yang sahih yang menunjukan bahwa nabi tidak membaca salawat pada tasyahud awalnya, bahkan yang dhaif pun tidak ada. Akan tetapi pemasalahannya dalam memahaimi hadis di atas tentang sebentarnya duduk tasyahud awal Nabi saw yang bagaikan duudk di atas bara api itu.

Pendapat ini tentu saja tidak dapat diterima, karena pada hadis di atas hanya menunjukan perbandingan lebih lamanya duduk tasyahud akhir Nabi dari pada awalnya. Hal ii karena sudah jelas permasalahannya, bahwa pada duduk tasyahud akhir ada bacaan atau doa yang tidak dibaca pada tasyahud awal, seperti berlindung dari empat perkara :

Allahumma inni a’udzubika…

Dan doa-doa lainnya yang Insya Allah ke depan akan diterangkan. Dan jelas bahwa Nabi saw  ketika membaca attahiyyat serta salawat pada tasyahud awal lebih cepat, sehingga menjadi terasa sangat sebentar oleh para sahabat dibending ketika duduk pada duduk tasyahud akhir. Oleh karena itu dalil-dalil tentang membaca salawat sifatnya tetap muthlaq tidak muqayyad (tidak dibatasi) pada duduk tasyahud akhir saja.

Makna Ali Muhammad (keluarga Muhammad)

Ketika seorang sahabat bertanya tentang bagaimana bersalawat kepada anda Rasulullah saw menjawab dengan jawaban yang lebih dari pertanyaan, ayitu berdasarkan hadis sebagai berikut :

dari Abu humaid As-Saidi. Bahwasanya mereka bertanya “wahai Rasulullah saw bagaimana kami bersalawat atas tuan? beliau menjawab “Allahummashalli ‘ala Muhammad wa ‘a;a azwajajihi wa dzirriyyatihi kamaa shalayta ‘ala aali ibraahiim wabaarik ‘ala Muhammad wa azwajihi wa dzurriyyatihi kamaa baarakta ‘ala aali ibrahiim innaka hamiidummajid. Muttafaq alaih

Pada hadis ini setelah Rasulullah saw menerangkan salawat atas Muhammad dilanjutkan dengan dia bagi istri-istri keturunan beliau. menurut sebagian ulama, kata-kata istri-istri serta keturunan beliau adalah penjelasan dan maksud dari keluarga Muhammad. Dan tentang istri-istri beliau termasuk kepada Ali Muhammad (keluarga Muhammad) juga dijelaskan oleh ayat sebagai berikut :

tbös%ur ’Îû £`ä3Ï?qã‹ç/ Ÿwur šÆô_§Žy9s? yl•Žy9s? Ïp¨ŠÎ=Îg»yfø9$# 4’n<rW{$# ( z`ôJÏ%r&ur no4qn=¢Á9$# šúüÏ?#uäur no4qŸ2¨“9$# z`÷èÏÛr&ur ©!$# ÿ¼ã&s!qߙu‘ur 4 $yJ¯RÎ) ߉ƒÌãƒ ª!$# |=Ïdõ‹ã‹Ï9 ãNà6Ztã }§ô_Íh9$# Ÿ@÷dr& ÏMøt7ø9$# ö/ä.tÎdgsÜãƒur #ZŽÎgôÜs? ÇÌÌÈ

33.  Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu[1215] dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu[1216] dan Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait[1217] dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.

[1215]  Maksudnya: isteri-isteri Rasul agar tetap di rumah dan ke luar rumah bila ada keperluan yang dibenarkan oleh syara’. perintah Ini juga meliputi segenap mukminat.

[1216]  yang dimaksud Jahiliyah yang dahulu ialah Jahiliah kekafiran yang terdapat sebelum nabi Muhammad s.a.w. dan yang dimaksud Jahiliyah sekarang ialah Jahiliyah kemaksiatan, yang terjadi sesudah datangnya Islam.

[1217]  Ahlul bait di sini, yaitu keluarga rumah tangga Rasulullah s.a.w.

Dan perlu diperhatikan bahwa ayat-ayat sebelum dan sesudah ayat ini, jelas sekali menerangkan tentang istri-istri Nabi Muhhammad saw akan tetapi dhamir pada kata yuthohirokum (muddakar) menunjukan bahwa ahlul bait bukan hanya mereka.

Berdasarkan hadis riwayat Muslim, diterangkan padanya bahwa setelah turun ayat diatas beliau menuju kepada Ali bin Abi Thalib, fatimah, Hasan, Husen dan berdoa. “Ya Allah mereka adalah ahlul baitku” sabda beliau ini sambil menutup mereka dengan kain diartikan hanya mereka ahlul bait itu. Tentu saja makna seperti itu wajib ditolak, karena Nabi saw tidak mengatakan hanya ini ahlul baitku, tetapi mereka termasuk ahlul baitku.

Ada pendapat lain bahwa ahlul bait apabila keluarga Nabi yang dinyatakan haram menerima zakat, Bila demikian maka akan berarti keluarga atau keturunan banu Hasyim, yang mencakup keluarga Abu Ja’far bin Abdul Muthalib, keluarga Uqael, dan keluarga Al-Abas. hal ini diterangkan di dalam shahih Muslim.

Imam Asy-Syafii berpendapat bahwa yang dimaksud dengan keluarga Muhammad itu adalah banu Hasyim dan Banu Muthalib.

Dengan melihat dan memperhatikan hadis-hadis salawat yang didalamnya menyebut juga istri-istri Nabi saw , Banu Hasyim itu termasuk ahlul bait, dan keturunan Nabi jelas merupakan putra-putra Fatimah. Setelah beberapa keterangan tentang ahlul bait dan makna ali (keluarga) yang ternyata lebih luas dari sekedar diartikan keluarga keterkaitan Nasab. Bahkan kata-kata ali (keluarga) dalam doa slaawat Nabi itu dapat juga mencakup umat beliau yang senantiasa berpegang teguh terhadap Al-quran dan sunnah. Dan inilah hasil tahqiq dari para muhaqqiq, sebagaimana makna ali ibrahim yang diberkahi, bukan hanya keluarga nasab beliau melainkan semua umat beliau yang mengikuti Milah beliau. Wallahu a’lam bishawab.

About these ads

About rendyadamf
assalamu'alaikum wrwb..salam kenal buat teman - teman semuanya..gw rendy TTL : Bandung, 30-06-84. gw kuliah di UNISBA. gw nulis blog ini hanya untuk curahkan semua pemikiran gw..dan gw udah ubah haluan jalan hidup gw..menjadikan jihad sebagai satu-satunya jalan hidup gw!!

2 Responses to 27. Bacaan Shalawat dan Masalahnya

  1. Slamet Saiful Muslimin says:

    menurut sejarahnya, sejak kapan muncul kata tambahan sayyidinaa dalam shalawat? Menurut rasa bahasa Jawa, memang tidak enak meneyebut nama seseorang yang dihormati dengan NJANGKAR saja. Kalau rasa bahasa Arab bagaimana ya?

  2. Edy Aja says:

    keren.. akusuka gaya hidupmu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 63 other followers

%d bloggers like this: