Qunut Shalat Shubuh dan Sunnahnya Qunut Nazilah

Permasalahan tentang doa qunut merupakan masalah klasik yang dialami oleh umat Islam, bahkan hal ini terjadi pada zaman Rasulullah SAW hingga sekarang. Namun, hal yang paling krusial adalah ada tidaknya qunut pada shalat shubuh atau khusus shalat shubuh, mengenai hal ini diperlukan adanya nash-nash yang mendasari suatu amalan agar sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW.

Makna Qunut

Kata (Qunut): Secara bahasa memiliki banyak makna,[1] di antaranya adalah:

[1]. Berdiri lama, berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:“Artinya : Seutama-utama shalat yaitu yang lama berdirinya” [HSR. Ahmad (III/302, 391), Muslim (no. 756), at-Tirmidzi (no. 387), dari Shahabat Jabir, Ibnu Majah (no. 1421) dan al-Baihaqi (III/8)]

[2]. Diam.[2]

[3].Selalu ta’at, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Artinya : Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Rabb-nya?…” [Az-Zumar: 9]

Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Artinya : Dan (ingatlah) Maryam binti ‘Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat Rabb-nya dan Kitab-kitab-Nya, dan dia adalah termasuk orang-orang yang ta’at.” [At-Tahrim: 12]

[4].Tunduk menghinakan diri kepada Allah.

“Artinya : Dan kepunyaan-Nya lah siapa saja yang ada di langit dan di bumi. Semuanya hanya kepada-Nya tunduk.” [Ar- Rum: 26]

[5]. Do’a, sebagaimana yang dikenal saat ini, yaitu do’a qunut.

[6]. Khusyu’.

[7]. Tasbih

Semua makna ini telah dikenal dalam bahasa Arab, sebagaimana tertera dalam kitab-kitab kamus Bahasa Arab, seperti Lisanul ‘Arab XI/313-314, Mu’jamul Wasith hal.761 dan yang lainnya

Doa Qunut Khusus Pada Shalat Shubuh

Berikut ini adalah hadis-hadis serta kajian tentang qunut pada shalat shubuh:

HADITS PERTAMA

Dari Anas bin Malik, ia berkata: “Senantiasa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berqunut pada shalat Shubuh sehingga beliau berpisah dari dunia (wafat).”

Hadits ini telah diriwayatkan oleh: Imam Ahmad[1], ‘Abdurrazzaq[2], Ibnu Abi Syaibah[3], secara ringkas, ath-Thahawi[4], ad-Daruquthni[5], al-Hakim, dalam kitab al-Arba’iin, al-Baihaqi[6], al-Baghawi[7], Ibnul Jauzi[8].

Semuanya telah meriwayatkan hadits ini dari jalan Abu Ja’far ar-Razi (yang telah menerima hadits ini) dari Rubaiyyi’ bin Anas, ia berkata: ‘Aku pernah duduk di sisi Anas bin Malik, lalu ada (seseorang) yang bertanya: ‘Apakah sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, pernah qunut selama sebulan?’ Kemudian Anas bin Malik menjawab: ”…(Seperti lafazh hadits di atas).”

Keterangan:

Walaupun sebagian ulama ada yang meng-hasan-kan hadits di atas. Akan tetapi yang benar adalah bahwa hadits ini derajatnya dha’if (lemah), hadits ini telah dilemahkan oleh ulama para Ahli Hadits:

Imam Ibnu Turkamani yang memberikan ta’liq (ko-mentar) atas Sunan Baihaqi membantah pernyataan al-Baihaqi yang mengatakan hadits itu shahih. Ia berkata: “Bagaimana mungkin sanadnya shahih? Sedang perawi yang meriwayatkan dari Rubaiyyi’, yaitu ABU JA’FAR ‘ISA BIN MAHAN AR-RAZI masih dalam pembicaraan (para Ahli Hadits):

[1]. Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam an-Nasa-i ber-kata: ‘Ia bukan orang yang kuat riwayatnya.’

[2]. Imam Abu Zur’ah berkata: ‘Ia banyak salah.’

[3]. Imam al-Fallas berkata: ‘Ia buruk hafalannya.’

[4]. Imam Ibnu Hibban menyatakan bahwa ia sering mem-bawakan hadits-hadits munkar dari orang-orang yang masyhur.”

[Lihat Sunan al-Baihaqi (I/202) dan periksa Mizaanul I’tidal III/319.] [9]

[5]. Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata: “Abu Ja’far ini telah dilemahkan oleh Imam Ahmad dan imam-imam yang lain… Syaikh kami Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata kepadaku, ‘Sanad hadits ini (hadits qunut Shubuh) sama dengan sanad hadits (yang ada dalam Mustadrak al-Hakim (II/ 323-324): Tentang ma-salah Ruh yang diambil perjanjian dalam surat 7 ayat 172, (yakni firman Allah Subhanahu wa Ta’ala):

“Artinya : Dan (ingatlah), ketika Rabb-mu mengeluarkan (keturunan anak-anak Adam) dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini Rabb-mu?’ Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi.’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (ke-Esaan Allah).’”[Al-A’raaf: 172]

(Yakni) hadits Ubay bin Ka’ab yang panjang yang di-sebutkan di dalamnya: Dan ruh Isa ‘alaihis salam termasuk dari (kumpulan) ruh-ruh yang diambil

kesaksiannya pada zaman Adam, maka (Dia) kirimkan ruh tersebut kepada Maryam ‘alaihas salam ketika ia pergi ke arah Timur, maka Allah kirimkan dengan rupa seorang laki-laki yang tampan, maka dia pun hamil dengan orang yang mengajarkan bi-cara, maka masuklah (ruh tersebut) ke dalam mulutnya. Jadi, yang dimaksud adalah Isa dan yang mengajak bicara ibunya adalah ‘Isa, bukan Malaikat, padahal menurut ayat yang mengajak bicara adalah Malaikat, dalam surat Mar-yam ayat 19, Allah berfirman:

“Artinya : Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Rabb-mu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci.” [Maryam: 19]

Yang mengajak bicara bukan ‘Isa, sebab hal ini mus-tahil dan hal ini merupakan kesalahan yang jelas.

[Periksa: Zaadul Ma’aad (I/276), tahqiq: Syaikh Syu’aib al-Arnauth, cet. Mu-assasah ar-Risalah, th. 1412 H]

Syaikhul Islam Ibnul Qayyim berkata: “Maksud dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ialah: Bahwa Abu Ja’far ‘Isa bin Mahan ar-Razi adalah orang yang sering memba-wakan hadits-hadits munkar. Yang tidak ada seorang pun dari Ahli Hadits yang berhujjah dengannya ketika dia menyendiri (dalam periwayatannya).”

Saya katakan: “Dan di antara hadits-hadits itu ialah hadits qunut Shubuh terus-menerus.”

[6]. Al-Hafizh Ibnu Katsir ad-Damsyqiy asy-Syafi’i dalam kitab tafsirnya juga menyatakan bahwa riwayat Abu Ja’far ar-Razi itu mungkar.

[7]. Al-Hafizh az-Zaila’i dalam kitabnya Nashbur Raayah (II/132) sesudah membawakan hadits Anas di atas, ia berkata: “Hadits ini telah dilemahkan oleh Ibnul Jauzi di dalam kitabnya at-Tahqiq dan al-‘Ilalul Muta-nahiyah, ia berkata: Hadits ini tidak sah, karena se-sungguhnya Abu Ja’far ar-Razi, namanya adalah Isa bin Mahan, dinyatakan oleh Ibnul Madini: ‘Ia sering keliru.’”

[8]. Imam Muhammad Nashiruddin al-Albany rahimahullah, seorang Ahli Hadits zaman ini berkata: “Hadits Anas munkar.” [10]

Kemudian al-Hafizh al-Baihaqi telah membawakan beberapa syawahid (penguat) bagi hadits Anas, sebagai-mana yang dikatakan oleh al-Hafizh al-Baihaqi sendiri dalam kitab Sunanul Kubra dan Imam an-Nawawi dalam kitab Majmu’ Syarah Muhadzdzab. Dan riwayat-riwayatnya adalah sebagai berikut:

HADITS KEDUA

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah qunut, begitu juga Abu bakar, Umar, Utsman sampai meninggal dunia.

Hadits ini telah diriwayatkan oleh: ad-Daruquthni[11], dan al-Baihaqi[12], kemudian ia berkata: “Kami tidak dapat berhujjah dengan Isma’il al-Makki dan ‘Amr bin Ubaid.”

Keduanya telah meriwayatkan hadits yang kedua ini dari jalan Isma’il bin Muslim al-Makki dan Ibnu Ubaid (yang keduanya telah terima hadits ini ) dari al-Hasan al-Bashri (yang telah terima hadits ini) dari Anas (bin Malik).

PENJELASAN PARA AHLIS HADITS TENTANG PARA PERAWI HADITS KEDUA DIATAS

[1]. Isma’il bin Muslim al-Makki, ia adalah seorang yang lemah haditsnya, berikut ini keterangan para ulama jarh wat ta’dil tentangnya:

a. Abu Zur’ah berkata: “Ia adalah seorang perawi yang lemah.”

b. Imam Ahmad dan yang lainnya berkata: “Ia adalah seorang munkarul hadits.”

c. Imam an-Nasa-i dan yang lainnya berkata: “Ia se-orang perawi yang matruk

(seorang perawi yang ditinggalkan atau tidak dipakai, karena tertuduh dusta).”

d. Imam Ibnul Madini berkata: “Tidak boleh ditulis haditsnya …”. [Periksa Mizanul I'tidal I/248 no. 945, Taqribut Tahdzib I/99 no. 485]

[2]. Amr bin Ubaid bin Bab (Abu ‘Utsman al-Bashri), adalah seorang Mu’tazilah yang selalu mengajak manusia untuk berbuat bid’ah.

1. Imam Ibnu Ma’in berkata, “Tidak boleh ditulis haditsnya.”

2. Imam an-Nasa-i berkata: “Ia matrukul hadits.”

[Periksa Miaznul I'tidal III/273 no. 6404, Taqribut Tahdzib I/740 no. 5087]

[3]. Hasan bin Abil Hasan Yasar al-Bashri, namanya yang sudah masyhur adalah Hasan al-Bashri.

1. Al-Hafizh adz-Dzahabi dan al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Ia adalah seorang Tabi’in dan seorang yang mempunyai keutamaan, akan tetapi ia banyak me-mursal-kan hadits dan sering melakukan tadlis. Dan dalam hadits di atas, ia memakai sighat ‘an.”

[Periksa Mizaanul I’tidal (I/527), Tahdziibut Tahdzib (II/ 231), Taqriibut Tahdziib (I/202 no. 1231), cet. Daarul Kutub al-‘Ilmiyyah]

Dari keterangan di atas, dapat kita simpulkan bahwa hadits yang kedua di atas itu derajatnya dha’ifun jiddan (sangat lemah).

Sehingga hadits tersebut tidak dapat dijadikan penguat (syahid) bagi hadits Anas yang pertama di atas. Dan seka-ligus tidak dapat juga untuk dijadikan sebagai hujjah.

Seandainya saja sanad hadits itu sah sampai kepada Hasan al-Bashri, itupun belum bisa dipakai hadits terse-but, apalagi telah meriwayatkan darinya dua orang perawi yang matruk!?

[Disalin dari kitab Ar-Rasaail Jilid-1, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Abdullah, Cetakan Pertama Ramadhan 1425H/Oktober 2004M]

_________

Foote Note

[1]. Dalam kitab al-Musnad (III/162).

[2]. Dalam kitab al-Mushannaf (III/110).

[3]. Dalam kitab al-Mushannaf (II/312).

[4]. Dalam kitab Syarah Ma’anil Atsar (I/244).

[5]. Dalam kitab as-Sunan (II/39).

[6]. Dalam kitab Sunanul Kubra (II/201).

[7]. Dalam kitab Syarhus Sunnah (III/124).

[8]. Dalam kitab al-‘Ilalul Mutanahiyah (I/441) no.753, dengan lafazh se-bagai berikut: “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam qunut pada shalat Shubuh sampai beliau wafat.”

[9]. Lihat juga kitab Tarikh Baghdad XI/146, Tahdzibut Tahdzib XII/57.

[10]. Lihat kitab Silsilah Ahaadits adh-Dha’iifah no. 1238.

[11]. Dalam kitab as-Sunan: II/166-167 no. XIV/1679 cet. Darul Ma’rifah.

[12]. Dalam kitab Sunanul Kubra: II/201

HADITS KETIGA

“Artinya : Aku pernah shalat di belakang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau qunut di belakang ‘Umar dan di belakang ‘Utsman, mereka semuanya qunut.”

Hadits ini diriwayatkan oleh al-Hafizh al-Baihaqi. [1]

Imam Ibnu Turkamani berkata tentang hadits ini: “Kita harus lihat kepada seorang perawi Khulaid bin Da’laj, apakah ia bisa dipakai sebagai penguat hadits atau tidak?’

Karena Imam Ahmad bin Hambal, Ibnu Ma’in dan Daraquthni melemahkannya. Pernah sekali Ibnu Ma’in berkata: ‘Ia tidak ada apa-apanya (ia tidak bisa dipakai hujjah).’

Imam an-Nasa-i berkata: ‘Ia bukan orang yang bisa dipercaya. Dan di dalam Mizaanul I’tidal (I/663) disebut-kan bahwa Imam ad-Daraquthni memasukkannya dalam kelompok para perawi yang matruk.’”

Ada sesuatu hal yang aneh dalam membawakan ini yaitu mengapa riwayat Khulaid dijadikan penguat pada-hal di situ tidak ada sebutan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam qunut terus-menerus pada shalat Shubuh. Dalam riwayat itu hanya disebut qunut. Kalau soal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam qunut banyak haditsnya yang shahih, akan tetapi yang jadi persoalan adalah “Ada tidak hadits yang shahih yang menerangkan beliau terus-me-nerus qunut Shubuh?”[2]

HADITS KEEMPAT

Hadits lain yang dikatakan sebagai ‘syahid’ (penguat) ialah hadits:

“Artinya : Senantiasa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam qunut pada shalat Shubuh hingga beliau wafat.”

Hadits ini telah diriwayatkan oleh Imam al-Khathib al-Baghdadi dalam Kitaab al-Qunut.

Al-Hafizh Abul Faraj Ibnul Jauzi telah mencela al-Khathib (al-Baghdadi), mengapa ia memasukkan hadits ini di dalam kitabnya al-Qunut padahal di dalamnya ada seorang perawi yang bernama Dinar bin ‘Abdillah.

Ibnu Hibban berkata: “Dinar bin ‘Abdillah banyak meriwayatkan Atsar yang maudhu’ (palsu) dengan meng-atasnamakan Anas, maka sudah sewajarnya hadits yang ia riwayatkan tidak halal untuk disebutkan (dimuat) di dalam berbagai kitab, kecuali bila ingin menerangkan cacatnya.”

Ibnu ‘Adiy berkata: “Ia (Dinar) dha’if dzahib (sangat lemah).”

[Periksa: Mizaanul I’tidal (II/30-31).]

Dari sini dapatlah kita ketahui bersama bahwa perka-taan Imam an-Nawawi bahwa hadits Anas mempunyai penguat dari beberapa jalan yang shahih (?) yang diriwa-yatkan oleh al-Hakim, al-Baihaqi dan ad-Daraquthni, ada-lah perkataan yang tidak benar dan sangat keliru sekali, karena semua jalan yang disebutkan oleh Imam an-Nawawi ada cacat dan celanya, sebagaimana yang sudah diterang-kan di atas. Kelemahan hadits-hadits di atas bukanlah kelemahan yang ringan yang dengannya, hadits Anas bisa terangkat menjadi hasan lighairihi, tidaklah demikian. Akan tetapi kelemahan hadits-hadits di atas adalah ke-lemahan yang sangat menyangkut masalah ‘adalatur rawi (keadilan seorang perawi).

Jadi, kesimpulannya hadist-hadits di atas sangat lemah dan tidak boleh dipakai sebagai hujjah.

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalany berkata: “Hadits-hadits Anas terjadi kegoncangan dan perselisihan, maka yang seperti ini tidak boleh dijadikan hujjah. (Yakni hadits Abu Ja’far tidak boleh dijadikan hujjah -pen.).

[Lihat Talkhisul Habir ma’asy Syarhil Muhadzdzab (III/418).]

Bila dilihat dari segi matan-nya (isi hadits), maka matan hadits (kedua dan keempat) bertentangan dengan matan hadits-hadits Anas yang lain dan bertentangan pula dengan hadits-hadits shahih yang menerangkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam qunut pada waktu ada nazilah (musibah).

HADITS KELIMA

Riwayat dari Anas yang membantah adanya qunut Shubuh terus-menerus:

“Artinya : Ashim bin Sulaiman berkata kepada Anas, “Sesungguh-nya orang-orang menyangka bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa qunut dalam shalat Shubuh.” Jawab Anas bin Malik: “Mereka dusta! Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam qunut satu bulan mendo’akan kecelakaan atas satu qabilah dari qabilah-qabilah bangsa ‘Arab.”

[Hadits ini telah diriwayatkan oleh al-Khathib al-Bagh-dadi sebagaimana yang dikatakan oleh al-‘Allamah Ibnul Qayyim dalam kitab Zaadul Ma’aad (I/278)]

Derajat Hadits. Derajat hadits ini tidak sampai kepada shahih, karena dalam sanadnya ada

Qais bin Rabi’, ia dilemahkan oleh Ibnu Ma’in dan ulama lainnya mengatakan ia tsiqah. Qais ini lebih tsiqah dari Abu Ja’far semestinya orang lebih con-dong memakai riwayat Qais ketimbang riwayat Abu Ja’far, dan lagi pula riwayat Qais ada penguatnya dari hadits-hadits yang sah dari Anas sendiri dan dari para Shahabat yang lainnya.

HADITS KEENAM

Dari Anas bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah qunut melainkan apabila beliau mendo’a-kan kecelakaan bagi kaum (kafir).

[Hadits ini telah diriwayatkan oleh Imam Ibnu Khuza-imah dalam kitab

Shahih-nya no. 620]

QUNUT SHUBUH TERUS MENERUS ADALAH BID’AH!!!

Qunut Shubuh yang dilakukan oleh ummat Islam di Indonesia dan di tempat lain secara terus-menerus adalah ibadah yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, para Shahabatnya dan tidak juga dilakukan oleh para tabi’in. Para Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam -mudah-mudahan Allah meridhai mereka-, mereka adalah orang-orang yang selalu shalat berjama’ah bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan

mereka menceritakan apa yang mereka lihat dari tata cara shalat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lima waktu dan lainnya. Mereka jelas-jelas mengatakan bahwa qunut Shubuh terus-menerus tidak ada Sunnahnya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan di antara mereka ada yang berkata : Qunut Shubuh adalah bid’ah, sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat-riwayat yang akan saya paparkan di bawah ini:

HADITS KETUJUH

Dari Abi Malik al-Asyja’i, ia berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku, sesungguhnya engkau pernah shalat di belakang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, di bela-kang Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman dan di belakang ‘Ali di daerah Qufah sini kira-kira selama lima tahun, apakah qunut Shubuh terus-menerus?” Ia jawab: “Wahai anakku qunut Shubuh itu bid’ah!!

[Hadits shahih riwayat at-Tirmidzi (no. 402), Ahmad (III/472, VI/394), Ibnu Majah (no. 1241), an-Nasa-i (II/204), ath-Thahawi (I/146), ath-Thayalisi (no. 1328) dan Baihaqi (II/213), dan ini adalah lafazh hadits Imam Ibnu Majah, dan Imam at-Tirmidzi berkata: “Hadits hasan shahih.” Lihat pula kitab Shahih Sunan an-Nasa-i (I/233 no. 1035) dan Irwaa-ul Ghalil (II/182) keduanya karya Imam al-Albany.] [4]

Bid’ah yang dimaksud oleh Thariq bin Asyyam al-Asyja’i ini adalah bid’ah menurut syari’at, yaitu: Mengadakan suatu ibadah yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan maksud bertaqarrub kepada Allah. Dan semua bid’ah adalah sesat, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Artinya : Tiap-tiap bid’ah adalah sesat dan tiap-tiap kesesatan tempatnya di Neraka.”

Hadits ini telah diriwayatkan oleh Imam an-Nasa-i dalam kitab Sunan-nya (III/188-189) dan al-Baihaqi dalam kitab al-Asma’ wash Shifat, lihat juga kitab Shahih Sunan an-Nasa-i (I/346), karya Imam al-Albany.

[Disalin dari kitab Ar-Rasaail Jilid-1, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas,

Penerbit Pustaka Abdullah, Cetakan Pertama Ramadhan 1425H/Oktober 2004M]

_________

Foote Note

[1]. Di dalam kitab Sunanul Kubra II/202

[2]. Lihat di dalam kitab Sunanul Kubra II/201-202

[3]. Nama lengkap beliau adalah : Ahmad bin Ali bin Muhammad Al-Kannani Al-Asqalani Abul Fadhl, dan beliau terkenal sebagai ulama dari kalangan madzhab Imam As-Syafi’i, lihat biografi lengkapnya di kitab Al-Jawaahir wad Durar Fii Tarjamati Syaikhil Islam Ibni Hajar oleh Syaikh As-Syakhawi dan kitab-kitab yang lainnya.

[4]. Lihat juga di kitab Bulughul Maram no. 289, karya Al-Hafidzh

HADITS KEDELAPAN

Dari Abi Mijlaz, ia berkata: “Aku pernah shalat Shubuh bersama Ibnu ‘Umar, tetapi ia tidak qunut.” Lalu aku ber-tanya kepadanya: ‘Aku tidak lihat engkau qunut Shubuh?’ Ia jawab: ‘Aku tidak dapati seorang Shahabat pun yang melakukan hal itu.’”

Atsar ini telah diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi di dalam kitab Sunanul Kubra (II/213) dengan sanad yang hasan, sebagaimana yang telah dikatakan oleh Syaikh Syuaib al-Arnauth dalam tahqiq beliau atas kitab Zaadul Ma’ad (I/272).

Ibnu ‘Umar seorang Shahabat yang zuhud dan wara’ yang selalu menemani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau (Ibnu ‘Umar) mengatakan: “Tidak satu Shahabat yang melakukan qunut Shubuh terus-menerus. Para Shahabat yang sudah jelas mendapat pujian dari Allah tidak melakukan qunut Shubuh,…”

Namun mengapa ummat Islam yang datang sesudah para Shahabat malah berani

melakukan ibadah yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Seorang Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bernama Thariq bin Asyyam bin Mas’ud al-Asyja’i ayahanda Abu Malik Sa’d al-Asyja’i dengan tegas dan tandas mengatakan: “Qunut Shubuh adalah bid’ah!”

Hadits Kesembilan

Sa’ad bin Thoriq al-Asyjaiy berkata kepada ayahnya,

يَا أَبَتِ إِنَّكَ قَدْ صَلَّيْتَ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ أَفَكَانُوا يَقْنُتُونَ فِي الْفَجْرِ؟ فَقَالَ أَيْ بُنَيَّ مُحْدَثٌ. – رواه الخمسة الاّ ابو داود
“Wahai Bapak, sesungguhnya engkau pernah shalat di belakang Rasulullah Saw, Abu Bakar, Umar, Utsaman, dan Ali. Apakah meraka qunut pada shalat Shubuh? Beliau menjawab, “Wahai anakku, (qunut shubuh) itu amal yang dibuat-buat (bid’ah).” (HR.Ahmad, Tirmidzi, Nasiy, Ibnu Majah).

Hadits Kesepuluh

Sedangkan ‘Ashim bin Sulaiman berkata kepada sahabat Anas ra.

إِنَّ قَوْمًا يَزْعَمُونَ أَنَّ النَّبِيَّ ص. لَمْ يَزَلْ يَقْنُتُ فِي الْفَجْرِ. فَقَالَ كََذَّبُوا. إِنََّمَا قَنَتَ شَهْرًا وَاحِدًا يَدْعُو عَلَى حَيٍّ مِنْ أَحْيَاءِ الْمُشْرِكِيْنَ. – رواه الخطيب
“Sesungguhnya ada satu golongan yang berkata, bahwa Nabi Saw terus-terusan qnut pada shalat Shubuh”. Kata Anas ra. “Mereka itu dusta. Nabi Saw hanya qunut sebulan lamanya, mendo’akan kecelakaan bagi salah satu kaum Musyrikin (HR.Khotib).

PENDAPAT PARA ULAMA TENTANG QUNUT SHUBUH TERUS MENERUS

[1]. Imam Ibnul Mubarak berpendapat tidak ada qunut di shalat Shubuh.

[2]. Imam Abu Hanifah berkata: “Qunut Shubuh (terus-menerus itu) dilarang.”

[Lihat Subulus Salam (I/378).]

[3]. Abul Hasan al-Kurajiy asy-Syafi’i (wafat th. 532 H), beliau tidak mengerjakan qunut Shubuh. Dan ketika ditanya: “Mengapa demikian?” Beliau menjawab: “Tidak ada satu pun hadits yang shah tentang masalah qunut Shubuh!!” [Lihat Silsilatul Ahaadits adh-Dha’iifah wal Maudhu’ah (II/388).]

[4]. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata: “Tidak ada sama sekali petunjuk dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan qunut Shubuh terus-menerus. Jumhur ulama berkata: “Tidaklah qunut Shubuh ini dikerjakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan tidak ada satupun dalil yang sah yang menerangkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan demikian.” [Lihat Zaadul Ma’aad (I/271 & 283), tahqiq: Syu’aib al-Arnauth

dan ‘Abdul Qadir al-Arnauth]

[5]. Syaikh Sayyid Sabiq berkata: “Qunut Shubuh tidak disyari’atkan kecuali bila ada nazilah (musibah) itu pun dilakukan di lima waktu shalat, dan bukan hanya di waktu shalat Shubuh. Imam Abu Hanifah, Ahmad bin Hanbal, Ibnul Mubarak, Sufyan ats-Tsauri dan Ishaq, mereka semua tidak melakukan qunut Shubuh.” [Lihat Fiqhus Sunnah (I/167-168)]

PENJELASAN TENTANG PENDAPAT MEREKA YANG MENYUNNAHKANNYA

Sebagian orang ada yang mengatakan: “Madzhab kami berpendapat sunnah berqunut pada shalat Shubuh, baik ada nazilah ataupun tidak ada nazilah.”

Apabila kita perhatikan, maka kita dapat mengetahui bahwa yang melatarbelakangi pendapat mereka adalah ‘anggapan’ mereka tentang ke-shahih-an hadits tentang qunut Shubuh secara terus-menerus.  Akan tetapi setelah pemeriksaan, kita mengetahui bahwa semua hadits tersebut ternyata dha’if (lemah) semuanya.

Kemungkinan besar, mereka belum mengetahui tentang kelemahan hadits-hadits tersebut. Karena ma-nusia tetaplah manusia, siapapun dia, dan sifat manusia itu bisa benar dan bisa juga salah. Dan Imam asy-Syafi’i sangat memahami hal ini, sehingga beliau berkata:

“Apabila kamu mendapati dalam kitabku pendapat-pen-dapatku yang menyalahi Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka peganglah Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tinggalkanlah pendapatku. Dalam riwayat lain beliau berkata: Ikutilah Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan jangan kamu menoleh kepada pendapat siapapun.”

Diriwayatkan oleh Imam al-Harawi, al-Khathib al-Baghdadi, sebagaimana yang dikatakan oleh Imam an-Nawawi dalam kitab Majmu’ Syarah Muhadzdzab [1]. Lihat kitab Shifat Shalat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karya Imam al-Albany..

“Setiap masalah yang sudah sah haditsnya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menurut para ulama-ulama hadits, akan tetapi pendapatku menyelisihi hadits yang shahih, maka aku akan rujuk dari pendapatku, dan aku akan ikut hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih baik ketika aku masih hidup, maupun setelah aku wafat.”[Diriwayatkan oleh al-Hafizh Abu Nu’aim al-Ashba-hani dan al-Harwi, lihat di kitab Sifat Shalatin Nabi

Shallallahu ‘alaihi wa sallam karya Imam al-Albany]

“Setiap pendapatku yang menyalahi hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Itulah yang wajib diikuti, dan janganlah kamu taqlid kepadaku.” [Diriwayatkan oleh: Imam Ibnu Abi Hatim, al-Hafizh Abu Nu’aim dan al-Hafizh Ibnu ‘Asakir. Lihat kitab Sifat Shalat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karya Imam al-Albani.]

Qunut yang disyariatkan adalah Qunut Nazilah

Kata (an Nazilah)” artinya: Musibah, bencana, malapetaka.

Jadi, qunut Nazilah yaitu qunut untuk mendo’akan kebaikan (kemenangan) bagi kaum Muslimin dan mendo’akan kecelakaan (kebinasaan) bagi kaum Kafir atau Musyrik yang menjadi musuh Islam.

Qunut Nazilah ini hukumnya sunnat dan adanya di lima waktu shalat wajib; Shubuh, Zhuhur, ‘Ashar, Magh-rib dan Isya’. Tempatnya doa qunut ialah waktu berdiri sesudah ruku’ di raka’at yang akhir. Adapun hadits yang menyebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam qunut sebelum ruku’ maksudnya: Lama berdiri dalam membaca ayat, sebagaimana disebutkan dalam hadits:

“Artinya : Seutama-utama shalat yaitu yang lama berdirinya.” [Lihat Zaadul Ma’aad (I/235)]

Qunut Nazilah adalah do’a qunut ketika musibah atau kesulitan menimpa kaum Muslimin, seperti peperangan, terbunuhnya kaum Muslimin atau diserangnya kaum Muslimin oleh orang-orang kafir. Qunut Nazilah, yaitu mendo’akan kebaikan atau kemenangan bagi kaum Muk-minin dan mendo’akan kecelakaan atau kekalahan, ke-hancuran dan kebinasaan bagi orang-orang kafir, Musy-rikin dan selainnya yang memerangi kaum Muslimin. Qunut Nazilah ini hukumnya sunnat, dilakukan sesudah ruku’ di raka’at terakhir pada shalat wajib lima waktu, dan hal ini dilakukan oleh Imam atau Ulil Amri.

Imam at-Tirmidzi berkata: “Ahmad (bin Hanbal) dan Ishaq bin Rahawaih telah berkata: “Tidak ada qunut dalam shalat Fajar (Shubuh) kecuali bila terjadi Nazilah (musibah) yang menimpa kaum Muslimin. Maka, apabila telah ter-jadi sesuatu, hendaklah Imam (yakni Imam kaum Mus-limin atau Ulil Amri) mendo’akan kemenangan bagi ten-tara-tentara kaum Muslimin.” [2]

Berdasarkan hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mela-kukan qunut satu bulan berturut-turut pada shalat Zhuhur, Ashar, Maghrib, ‘Isya dan Shubuh di akhir setiap shalat,yakni apabila beliau telah membaca “Sami’allaahu liman hamidah” dari raka’at terakhir, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendo’akan kecelakaan atas mereka, satu kabilah dari Bani Sulaim, Ri’il, Dzakwan dan Ushayyah sedangkan orang-orang yang di belakang beliau mengaminkannya. [3]

Hadits-hadits tentang qunut Nazilah banyak sekali, dilakukan pada shalat lima waktu sesudah ruku’ di raka’at yang terakhir.

Imam an-Nawawi memberikan bab di dalam Syarah Muslim dari Kitabul Masaajid, bab 54: Istihbaabul Qunut fii Jami’ish Shalawat idzaa Nazalat bil Muslimin Nazilah (bab Disunnahkan Qunut pada Semua Shalat (yang Lima Waktu) apabila ada musibah yang menimpa kaum Muslimin) [4]

[Disalin dari kitab Ar-Rasaail Jilid-1, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Abdullah, Cetakan Pertama Ramadhan 1425H/Oktober 2004M]

_________

Foote Note

[1]. Majmu’ Syarahil Muhadzdzab I/63.

[2]. Tuhfatul Ahwadzi Syarah at-Tirmidzi II/434.

[3]. Abu Dawud no.1443, al-Hakim I/225 dan al-Baihaqi II/200 & 212, lihat

Irwaa-ul ghaliil II/163.

[4]. Lihat juga masalah ini dalam Zaadul Ma’aad I/272-273, Nailul Authar

II/374-375 –muhaqqaq.

HADITS-HADITS SHAHIH TENTANG QUNUT NAZILAH

HADITS PERTAMA

Dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah qunut selama satu bulan secara terus-menerus pada shalat Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya dan Shubuh di akhir setiap shalat, (yaitu) apabila ia mengucap Sami’Allahu liman hamidah di raka’at yang akhir, beliau mendo’akan kebinasaan atas kabilah Ri’lin, Dzakwan dan ‘Ushayyah yang ada pada perkampungan Bani Sulaim, dan orang-orang di belakang beliau mengucapkan amin.

Hadits ini telah diriwayatkan oleh Abu Dawud[1], Ibnul Jarud[2], Ahmad[3], al-Hakim dan al-Baihaqi[4]. Dan Imam al-Hakim menambahkan bahwa Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengutus para da’i agar mereka (kabilah-kabilah itu) masuk Islam, tapi malah mereka membunuh para da’i itu. ‘Ikrimah berkata: Inilah pertama kali qunut diadakan. [Lihat Irwaa-ul Ghalil II/163]

HADITS KEDUA

Dari Anas, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah qunut selama satu bulan setelah bangkit dari ruku’, yakni mendo’a kebinasaan untuk satu kabilah dari kabilah-kabilah Arab, kemudian beliau meninggal-kannya (tidak melakukannya lagi).”

Diriwayatkan oleh Ahmad[5], Bukhari[6], Muslim[7], an-Nasaa-i[8], ath-Thahawi[9].

Dalam hadits Ibnu Abbas dan hadits Anas dan beberapa hadits yang lainnya menunjukkan bahwa pertama kali qunut dilakukan ialah ketika Bani Sulaim yang terdiri dari Kabilah Ri’lin, Hayyan, Dzakwan dan ‘Ushayyah meminta kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar mau mengajarkan mereka tentang Islam.

Maka, kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus kepada mereka tujuh puluh orang qurra’ (para penghafal al-Qur’an), sesampainya mereka di sumur Ma’unah, mereka (para qurra’) itu dibunuh semuanya. Pada saat itu, tidak ada kesedihan yang lebih menyedihkan yang menimpa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam selain kejadian itu. Maka kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam qunut selama satu bulan, yang kemudian beliau tinggalkan.

Di antaranya adalah hadits Ibnu ‘Umar dan Abu Hu-rairah di bawah ini:

Dari Ibnu Umar, “Sesungguhnya ia pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau mengangkat kepalanya dari ruku’ di raka’at yang terakhir ketika shalat Shubuh, ia membaca: “Allahummal ‘an fulanan wa fulanan wa fulanan (Ya Allah laknatlah si fulan dan si fulan dan si fulan) sesudah ia membaca Sami’allaahu liman hamidahu. Kemudian Allah menurunkan ayat (yang artinya): ‘Sama sekali soal (mereka) itu bukan menjadi urusanmu, apakah Allah akan menyiksa mereka atau akan mengampuni mereka. Maka

sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang zhalim.’” [Ali ‘Imraan: 128]

Hadits shahih riwayat Ahmad (II/147)

Dari Abu Hurairah, “Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila hendak mendo’akan kecelakaan atas seseorang atau mendo’akan kebaikan untuk seseorang, beliau mengerjakan qunut sesudah ruku’, dan kemungkinan apabila ia membaca: Sami’allahu liman hamidah, (lalu) beliau membaca, ‘Allahumma… dan seterusnya (yang artinya: Ya Allah, selamatkanlah Walid bin Walid dan Salamah bin Hisyam dan ‘Ayyasy bin Abi Rabi’ah dan orang-orang yang tertindas dari orang-orang Mukmin. Ya Allah, keraskanlah siksa-Mu atas

(kaum) Mudhar, Ya Allah, jadikanlah atas mereka musim kemarau seperti musim

kemarau (yang terjadi pada zaman) Yusuf.’”

Abu Hurairah berkata, “Nabi keraskan bacaannya itu dan ia membaca dalam akhir shalatnya dalam shalat Shu-buh: Allahummal ‘an fulanan… dan seterusnya (Ya Allah, laknatlah si fulan dan si fulan) yaitu (dua orang) dari dua kabilah bangsa Arab, sehingga Allah menurunkan ayat: ‘Sama sekali urusan mereka itu bukan menjadi urusanmu… (dan seterusnya).’”

Hadits shahih riwayat Ahmad ii/255 dan al-Bukhari No 4560

Di dalam hadits shahih riwayat Imam al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya no. 1004 disebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah qunut pada shalat Shubuh dan Maghrib.

Lafazhnya adalah sebagai berikut:

Dari Anas, ia berkata, “Qunut itu ada dalam shalat Maghrib dan Shubuh.”

Dan dalam hadits yang shahih pula disebutkan bahwa Abu Hurairah pernah qunut pada shalat Zhuhur dan ‘Isya sesudah mengucapkan Sami’allahu liman hamidahu (setelah bangkit dari ruku’ (di saat sedang i’tidal).), ia berdo’a untuk kebaikan/kemenangan kaum Mukminin dan melaknat orang-orang kafir. Kemudian Abu Hurairah berkata: “Shalatku ini menyerupai shalatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Lafazh haditsnya secara lengkap adalah sebagai berikut:

Dan dari Abu Hurairah, ia berkata, “Sungguh aku akan mendekatkan kamu dengan shalat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka, Abu Hurairah kemudian qunut dalam raka’at yang akhir dari shalat Zuhur, ‘Isya dan shalat Shubuh, sesudah ia membaca: ‘Sami’allahu liman hamidah.’ Lalu ia mendo’akan kebaikan untuk orang-orang Mukmin dan melaknat orang-orang kafir.”

Hadits shahih riwayat Ahmad (II/255), al-Bukhari (no. 797) dan Muslim (no.676 (296), ad-Daraquthni (II/37 atau II/165) cet. Darul Ma’rifah.

Memang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah qunut pada shalat Shubuh, begitu juga Abu Hurairah, akan tetapi ingat, bahwa hal itu bukan semata-mata dilakukan pada shalat Shubuh saja! Sebab apabila dibatasi pada shalat Shubuh saja, maka hal ini akan berten-tangan dengan riwayat yang sangat banyak sekali yang menyebutkan bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan qunut pada lima waktu shalat yang wajib. Menurut hadits yang keenam bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak qunut melainkan apabila beliau hendak mendo’akan kebaikan atau mendo’akan kebinasaan atas suatu kaum. Maka apabila beliau qunut itu menunjukkan ada musibah yang menimpa ummat Islam dan dilakukan selama satu bulan[10]

[Disalin dari kitab Ar-Rasaail Jilid-1, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Abdullah, Cetakan Pertama Ramadhan 1425H/Oktober 2004M]

_________

Foote Note

[1]. Dalam kitab al-Musnad (I/301-302).

[2]. Dalam kitab Mustadrak-nya (I/225-226).

[3]. Dalam kitab Sunanul Kubra (II/200 & II/212).

[4]. Dalam kitab al-Musnad III/115, 180, 217, 261 & III/191, 249.

[5]. Di dalam kitab Shahih-nya no. 4089.

[6]. Dalam kitab Shahih-nya no.677 (304), tanpa lafazh “ba’dar ruku’.”

[7]. Dalam kitab Sunan-nya II/203-204.

[8]. Dalam kitab Syarah Ma’anil Atsar (I/245).

[9]. Dan hadits ini telah diriwayatkan pula oleh Abu Dawud ath-Thayalisi dalam Musnad-nya no.1989, Abu Dawud no.1445, sebagaimana juga telah disebutkan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam kitab Bulughul Maram no.287, lihat juga kitab Irwaa-ul Ghalil II/163.

[10]. Sebelum ini telah disebutkan hadits-hadits yang menunjukkan adanya qunut pada shalat Shubuh, Zhuhur, ‘Ashar, dan ‘Isya, adapun yang menerangkan adanya qunut pada shalat Maghrib, adalah hadits Bara’ bin ‘Azib:

Dari Baraa’ bin ‘Azib, “Sesungguhnya Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam pernah qunut dalam shalat Shubuh dan Maghrib.”  Hadits shahih riwayat Ahmad IV/285, Muslim no.678 (306), Abu Dawud no.1441, at-Tirmidzi no.401, an-Nasaa-i II/202, ad-Dara-quthni II/36, al-Baihaqi II/198, ath-Thahawi II/242, Abu Dawud ath-Thayalisi dalam Musnad-nya no.737, lafazh ini milik Muslim.

Waktu dibacakannya qunût nâzilah

Qunût nâzilah disyariatkan untuk dibaca di setiap sholat lima waktu selama sebulan. Dalilnya adalah hadits-hadits nabi yang mulia ‘alaihi ash-Sholâtu was Salâm sebagai berikut :

Dari Ibnu ‘Abbâs Radhiyallâhu ‘anhu beliau berkata :

قَنَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَهْرًا مُتَتَابِعًا فِي الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَصَلَاةِ الصُّبْحِ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ إِذَا قَالَ « سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ»  مِنَ الرَّكْعَةِ الْآخِرَةِ يَدْعُو عَلَى أَحْيَاءٍ مِنْ بَنِي سُلَيْمٍ عَلَى رِعْلٍ وَذَكْوَانَ وَعُصَيَّةَ وَيُؤَمِّنُ مَنْ خَلْفَهُ

“Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam melakukan qunût selama sebulan berturut-turut di waktu zhuhur, ashar, maghib, isya’ dan shubuh, di akhir waktu setiap sholat setelah beliau membaca sami’allâhu liman hamidahu pada rakaat terakhir untuk mendoakan keburukan bagi bani Sulaim, Ri’lin, Dzakwân dan ‘Ushoyyah. Lalu makmum di belakang mengaminkannya.” (HR Imam Ahmad dan Abu Dawud, dihasankan oleh al-Albânî di dalam Shahih Sunan Abî Dâwûd 1443)

Dari Anas bin Mâlik Radhiyallâhu ‘anhu beliau berkata :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَنَتَ شَهْرًا يَلْعَنُ رِعْلاً وَذَكْوَانَ وَعُصَيَّةَ عَصَوُا اللَّهَ وَرَسُولَهُ

“Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam melakukan qunût selama sebulan, beliau mengutuk bani Ri’lan, Dzakwân dan ‘Ushoyyah yang telah membangkang terhadap Allôh dan Rasul-Nya” (Muttafaq ‘Alaihi dan lafazh hadits atas adalah lafazh Muslim)

Qunût Nâzilah disyariatkan ketika ada sebab bencana

Abû Hurairoh Radhiyallâhu ‘anhu menceritakan :

ثُمَّ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم تَرَكَ الدُّعَاءَ بَعْدُ فَقُلْتُ أُرَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ تَرَكَ الدُّعَاءَ لَهُمْ قَالَ فَقِيلَ وَمَا تُرَاهُمْ قَدْ قَدِمُوا

“Kemudian aku melihat Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam meninggalkan doa qunût setelah itu (setelah bencana tidak ada lagi). Lantas aku menyampaikan bahwa aku melihat Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam telah meninggalkan do’a bagi kaum muslimin (yang teraniaya), dan ada orang bertanya, apakah Anda melihat bahwa mereka (yaitu al-Walîd dan rombongannya) telah tiba (di Madinah dengan selamat)” (HR Muslim)

Ibnul Qoyyim rahimahullâhu berkata :

إنما قنت عند النوازل للدعاء لقوم، وللدعاء على آخرين، ثم تركه لما قدم من دعا لهم، وتخلصوا من الأسر

“Sesungguhnya qunût dilaksanakan ketika tertimpa bencana untuk mendoakan (keselamatan) bagi kaum muslimin dan mendoakan (kehancuran) bagi musuh-musuh mereka. Kemudian Nabi meninggalkan doa qunût setelah kaum muslimin mendapatkan keselamatan dan terbebas dari keburukan.” (Zâdul Ma’âd : I/272)

Ibnu Taimiyah rahimahullâhu berkata :

القنوت مسنون عند النوازل، وهذا القول هو الذي عليه فقهاء أهل الحديث، وهو المأثور عن الخلفاء الراشدي

“Qunût disunnahkan ketika tertimpa bencana. Dan ini merupakan pendapatnya ahli fikih dari kalangan ahli hadits, dan qunût ini ma’tsûr (ada riwayatnya) dari al-Khulafâ` ar-Râsyidîn” (Majmû’ al-Fatâwâ 23/108).

Qunût tidak hanya dilakukan di waktu Shubuh

Qunut tidak hanya dilakukan pada watu shubuh, namun waktu yang paling sering Rasulullah melakukan qunut di dalamnya adalah di waktu shubuh.

Ibnu Taimiyah rahimahullâhu berkata :

فيشرع أن يقنت عند النوازل يدعو للمؤمنين ويدعو على الكفار في الفجر وغيرها من الصلوات، وهكذا كان عمر يقنت لما حارب النصارى بدعائه الذي فيه ( اللهم العن كفرة أهل الكتاب )

“Disyariatkan melakukan qunût nâzilah di kala tertimpa bencana, mendoakan kebaikan bagi kaum muslimin dan keburukan bagi kaum kuffar, baik di waktu shubuh atau waktu-waktu sholat lainnya. Beginilah ‘Umar tatkala beliau memerangi kaum nasrani, beliau melakukan qunût dan berdoa : “Ya Allôh, laknatlah kaum kafir ahli kitab”. (Majmû’ al-Fatâwâ 22/270).

Ibnu Taimiyah rahimahullâhu berkata :

وأكثر قنوته ـ يعني النبي صلى الله عليه وسلم ـ كان في الفجر

“Waktu qunût yang paling sering dilakukan oleh Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam adalah pada waktu shubuh.” (Majmû’al- Fatâwâ : 22/269)

Ibnul Qoyyim rahimahullâhu berkata :

وكان هديه صلى الله عليه وسلم القنوت في النوازل خاصة، وترْكَه عند عدمها، ولم يكن يخصه بالفجر، بل كان أكثر قنوته فيها

“Petunjuk Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam di dalam melakukan qunût adalah mengamalkannya ketika ditimpa bencana secara khusus dan meninggalkannya ketika bencana sudah tidak ada. Beliau tidak mengkhususkannya hanya di waktu shubuh, namun waktu yang paling sering beliau melakukan qunût adalah di waktu shubuh.” (Zâdul Ma’âd : 1/273)

Kapankah dibacakan qunût nâzilah, sebelum atau setelah ruku’?

Membaca doa qunut dilakukan setelah ruku sebagaimana hadits berikut:

“Telah berkata Abu Hurairah ‘sesungguhnya Nabi SAW apabila hendak mendoakan kecelakaan atas seseorang atau kebaikan bagi seseorang ia qunut sesudah ruku’ (HR. Bukhari)

“Ada seseorang bertanya kepada Anas;’’adakah Nabi SAW qunut di dhalat shubuh?” ia menjawab: “ada”. Kemudian ada orang yang bertanya lagi kepadanya lagi kepadanya;”Adakah Rasulullah Qunut sebelum rukuk?” ia menjawab; “sesudah ruku, sebentar!” (HR. Bukhari)

“Telah berkata Abu Salamah ;”Adalah Abu Hurairah qunut dirakaat yang terakhir…sesudah menyebut Sami’Allahu liman hamidah”

Sedangkan hadits yang menerangkan qunut sebelum ruku adalah dhaif sebagaimana diterangkan disini

Disyariatkannya melakukan Qunût Nâzilah secara ringan dan ringkas

Disunnahkan untuk tidak memperpanjang do’a qunût, dan mencukupkan dengan do’a-do’a yang inti saja, yaitu untuk menolong dan menyelamatkan kaum muslimin dari bencana dan do’a untuk menghancurkan dan menceraiberaikan kaum kuffar. Hal ini sebagaimana di dalam riwayat Anas bin Mâlik Radhiyallâhu ‘anhu ketika beliau ditanya :

هَلْ قَنَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي صَلَاةِ الصُّبْحِ

“Apakah Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam melaksanakan qunût di sholat shubuh?”

Beliau Radhiyallâhu ‘anhu menjawab :

نَعَمْ بَعْدَ الرُّكُوعِ يَسِيرًا

“Iya, setelah ruku dengan bacaan yang ringan.” (HR Muslim)

Hadits di atas menunjukkan bahwa Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam melaksanakan qunût dengan bacaan yang ringkas dan ringan, tidak memperpanjangnya.

Imam disunnahkan mengeraskan bacaan qunût dan makmum mengaminkannya

Sebagaimana di dalam hadits Abû Hurairoh Radhiyallâhu ‘anhu :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَدْعُوَ عَلَى أَحَدٍ أَوْ يَدْعُوَ لأحَدٍ قَنَتَ بَعْدَ الرُّكُوعِ فَرُبَّمَا قَالَ إِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ «اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ اللَّهُمَّ أَنْجِ الْوَلِيدَ بْنَ الْوَلِيدِ وَسَلَمَةَ بْنَ هِشَامٍ وَعَيَّاشَ بْنَ أَبِي رَبِيعَةَ اللَّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى مُضَرَ وَاجْعَلْهَا سِنِينَ كَسِنِي يُوسُفَ» يَجْهَرُ بِذَلِكَ

“Bahwasanya Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam jika hendak berdoa mendoakan keburukan atau kebaikan bagi seseorang setelah rukû’, seringkali beliau mengucapkan setelah ucapan sami’allôhu liman hamidahu : Rabb kami, segala pujian hanyalah milik-Mu. Ya Allôh selamatkanlah al-Walîd bin al-Walîd, Salamah bin Hisyâm dan Ayyâsy bin Abî Rabî’ah. Ya Allôh, keraskanlah adzab-Mu kepada bani Mudhor! Ya Allôh, turunkanlah paceklik kepada mereka sebagaimana paceklik pada zaman Yusuf!” seraya mengeraskan bacaannya. (HR Bukhârî)

An-Nawawî rahimahullâhu berkata :

وحديث قنوت النبي صلى الله عليه وسلم حين قُتل القراء رضي الله عنهم يقتضي أنه كان يجهر به في جميع الصلوات، هذا كلام الرافعي. والصحيح أو الصواب استحباب الجهر

“Hadits tentang qunûtnya Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam ketika terbunuhnya para qurrô` Radhiyallâhu ‘anhum, menunjukkan wajibnya bahwa beliau mengeraskan bacaan doanya di setiap waktu sholatnya, dan ini adalah pendapat ar-Rafi’î. Pendapat yang paling benar dan tepat adalah sunnah hukumnya mengeraskan bacaan.” (al-Majmû’ : 3/482)

Ibnu Hajar rahimahullâhu berkata :

وظهر لي أن الحكمة في جعل قنوت النازلة في الاعتدال دون السجود مع أن السجود مظنة الإجابة كما ثبت (أقرب ما يكون العبد من ربه وهو ساجد) وثبوت الأمر بالدعاء فيه أن المطلوب من قنوت النازلة أن يشارك المأموم الإمام في الدعاء ولو بالتأمين، ومن ثمَّ اتفقوا على أنه يجهر به

“Tampak padaku bahwa hikmah ditetapkannya qunût nâzilah di waktu i’tidâl bukan sujud, padahal sujud adalah saat dikabulkannya doa sebagaimana dalam hadits “keadaan seorang hamba yang paling dekat dengan Rabb-Nya adalah di saat sujudnya”, dan diperintahkan doa di dalamnya adalah, bahwa yang dituju dari dilaksanakannya qunût nâzilah adalah agar makmum dapat menyertai imam di dalam berdoa dan mengaminkannya. Oleh karena itulah, para ulama bersepakat untuk mengeraskan bacaan qunut.” (Fath al-Bârî : 2/570)

Tidak Mengangkat Tangan Ketika Membaca Qunut

“Dari Abu Hurairah, (Nabi SAW) apabila beliau mengangkat kepalanya dan rukuk pada pada rakaat yang kedua waktu shalat shubuh, beliau mengangkat kedua tangannya seraya berdoa,’Allahuma dini fiiman hadait..”

Hadis Abu Hurairah diatas ini tercantum dalam kitab jami’us Saghir As-Suyuthi, I:157, beliau mengatakan “Hadis ini diriwayatkan oleh Al hakim dalam Kitabul Qunuth”.

Hadis ini dhaif sekali, disebabkan kedhaifan rawi bernama Al-Maqbari. Ia adalah Abdullah bin Sa’id Abu Said Al Maqbari yang dinyatakan Matruk oleh Ahmad bin Hanbal, Al-Jarhu wata’dil, V:71.

Tidak mengusap wajah setelah qunût

Tidak ada satupun dalil yang shahih yang menunjukkan disyariatkannya mengusap wajah setelah qunut atau berdoa. Semua hadits yang datang tentang mengusap wajah adalah hadits yang dha’if dan tidak bisa dijadikan hujjah.

Al-Baihaqî Rahimahullâhu berkata :

فأما مسح اليدين بالوجه عند الفراغ من الدعاء فلست أحفظه عن أحد من السلف في دعاء القنوت، وإن كان يروى عن بعضهم في الدعاء خارج الصلاة، وقد روي فيه عن النبي صلى الله عليه وسلم حديث فيه ضعف. وهو مستعمل عند بعضهم خارج الصلاة، وأما في الصلاة فهو عمل لم يثبت بخبر صحيح ولا أثر ثابت، ولا قياس. فالأولى أن لا يفعله ويقتصر على ما فعله السلف رضي الله عنهم من رفع اليدين دون مسحهما بالوجه في الصلاة وبالله التوفيق “

“Adapun mengusap wajah dengan kedua tangan setelah selesai berdoa qunut, maka aku tidak menghapal ada satupun riwayat dari kaum salaf yang mengamalkannya ketika berdoa qunut. Walaupun ada riwayat dari sebagian mereka tentang mengusap wajah ketika berdoa di luar sholat. Juga diriwayatkan dari Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam tentang hal ini namun haditsnya dhaif. Hal ini diamalkan oleh sebagian mereka hanya di luar sholat. Adapun di dalam sholat, maka ini adalah amal yang tidak ada hadits dan atsar yang shahih menetapkannya, dan tidak pula qiyas. Yang lebih utama adalah tidak mengamalkan hal ini (mengusap wajah) dan mencukupkan dengan perbuatan salaf Radhiyallâhu ‘anhum yang mengangkat tangan mereka ketika sholat tanpa mengusap wajah. Wabillahi at-Taufîq.” (Sunan al-Baihaqî 2/212)

Imam Nawawî rahimahullâhu mengomentari :

وله ـ يعني البيهقي ـ رسالة مشهورة كتبها إلى الشيخ أبي محمد الجويني أنكر عليه فيها أشياء من جملتها مسحه وجهه بعد القنوت

“Baihaqî memiliki risalah yang terkenal yang ditulis kepada Syaikh Abu Muhammad al-Juwainî, beliau mengingkarinya dalam banyak hal, diantaranya tentang pendapatnya mengenai mengusap wajah setelah qunut.” (al-Majmû’ 3/480)

Ibnu Taimiyah Rahimahullâhu berkata :

وأما مسح وجهه بيديه فليس عنه فيه إلا حديث أو حديثان لا يقوم بهما حجة

“Adapun mengusap wajah dengan kedua tangan, maka tidak ada dalilnya kecuali satu atau dua hadits yang tidak dapat dijadikan hujjah.” (Majmû’ al-Fatâwâ 22/519)

Bolehkah mengamalkan qunût nâzilah tanpa izin ulil amri?

Tidak patut bagi imam masjid melaksanakan qunût melainkan setelah mendapatkan izin dari ulil amri (penguasa dan ulama). Karena qunûtnya imam masjid tanpa izin ulil amri dapat menimbulkan kekacauan. Apabila pintu ini dibuka, niscaya akan ada orang akan merasa bahwa sekarang sedang terjadi musibah besar dan sebagian lagi tidak. Semuanya menurut keyakinan dan pendapatnya masing-masing. Sehingga dampaknya muncul perselisihan dan pertikaian.

Sepatutnya dalam masalah-masalah besar yang berkaitan dengan umat, hendaknya dibicarakan dengan dengan para ulama, meminta bimbingan dan arahan mereka. Termasuk pula dalam masalah qunût nâzilah.

Mengamalkan qunût pada sholat jamâ’ah atau munfarid?

Para ulama berbeda pendapat tentang hal ini. Al-Qôdhî dan Ibnu Taimiyah berpendapat bolehnya qunût pada sholat munfarid (al-Inshâf 2/175). Pendapat yang râjih dan terpilih dalam hal ini adalah, mengamalkan qunût hanya pada sholât jamâ’ah, bukan munfarid (sholat sendirian). Karena tidak ada dalil shahih yang menunjukkan bahwa qunût nâzilah pernah dilakukan oleh Rasulullah dan sahabatnya pada sholat munfarid.

Bagaimana qunût pada sholat jum’at?

Para ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Bahkan beberapa ulama menjadikan masalah ini sebagai bab di dalam kitab-kitab mereka, seperti ‘Abdur Razzâq di dalam Mushonnaf-nya bab al-Qunût Yaum al-Jum’ah, Ibnu Abî Syaibah di dalam Mushonnaf-nya bab Fî Qunûti Yaum al-Jum’ah, Ibnul Mundzir di dalam al-Awsâth bab Dzikrul Qunût fî al-Jum’ah, dan kesemua ulama ini menyebutkan atsar para sahabat dan tabi’in yang meninggalkan qunût pada sholat Jum’at. Namun, tidak ada dalil yang jelas bahwa qunût yang ditinggalkan pada sholat Jum’at tersebut apakah qunût nâzilah atau bukan, sehingga penunjukan keharamannya tidak jelas.

Al-Mardâwî mengatakan bahwa qunût diamalkan di seluruh sholat wajib kecuali sholat Jum’at, dan ini adalah pendapat yang paling benar dari madzhabnya. Al-Majd di dalam Syarh-nya dan Ibnu ‘Abdûs di dalam Tadzkirah-nya menyatakan tentang pelaksanaan qunût di sholat Jum’at.

Yang râjih adalah tidak diamalkan qunût pada sholât Jum’at, karena tidak ada riwayat yang menunjukkan bahwa Nabi dan sahabat beliau melakukan qunût pada hari Jum’at. Hukum asal di dalam ibadah adalah terlarang, sampai ada dalil yang memalingkan larangannya.

Permasalahan ini, yaitu qunût di sholat munfarid dan sholat Jum’at, lebih memerlukan pembahasan lebih jauh lagi. Wallôhu a’lam.

Tidak ada Qunut pada shalat Tarawih

Dari ‘Amr bin Hasan, bahwasanya ‘Umar radhiyallahu anhu menyuruh Ubay radiyallahu anhu mengimami shalat (Tarawih) pada bulan Ramadhan, dan beliau menyuruh Ubay radhiyallahu ‘anhu untuk melakukan qunut pada pertengahan Ramadhan yang dimulai pada malam 16 Ramadhan.[ Ibnu Abi Syaibah II/205 no.10]

Pada hadits diatas ada yang menganggap lemah seperti Ibnu Hibban, dan Ibnu Khuzaimah (Nailul-Authar 3:52)

Dan belum dianggap sah karena hadits tersebut masih mujmal (gelap/tidak jelas), karena bisa jadi qunut secara bahasa dan arti yang pernah dicontohkan Nabi SAW dan tidak ada keterangan lain yang lebih tegas yang menegaskan bahwa qunut tersebut adalah doa qunut.

Ma’mar berkata: “Sesungguhnya aku melaksanakan qunut Witir sepanjang tahun, kecuali pada awal Ramadhan sampai dengan pertengahan (aku tidak qunut), demikian juga dilakukan oleh al-Hasan al-Bashri, ia menyebutkan dari Qatadah dan lain-lain.[Mushannaf Abdirrazzaq III/120 dengan sanad yang shahih]

Mengenai kedudukan qunut pada witir dapat dilihat disini

Kesimpulan

  1. Qunut Khusus Shalat shubuh itu tidak disyariatkan / bid’ah
  2. Qunut Nazilah disyariatkan
  3. Cara Qunut Nazilah:

a.       Qunut atas izin ulil amri / amir

b.      Dilakukan pada setiap shalat fardu sesudah ruku pada rakaat terakhir

c.       Dibaca secara lantang (jahr) dan diamini oleh makmum

d.      Tidak dengan mengangkat tangan dan diakhiri dengan mengusap muka.

  1. Tidak ada Qunut pada shalat tarawih dan witir
About these ads

About rendyadamf
assalamu'alaikum wrwb..salam kenal buat teman - teman semuanya..gw rendy TTL : Bandung, 30-06-84. gw kuliah di UNISBA. gw nulis blog ini hanya untuk curahkan semua pemikiran gw..dan gw udah ubah haluan jalan hidup gw..menjadikan jihad sebagai satu-satunya jalan hidup gw!!

5 Responses to Qunut Shalat Shubuh dan Sunnahnya Qunut Nazilah

  1. M.Noor says:

    Dalil yang menyunnahkan qunut subuh, yang digunakan oleh kalangan Asy Syafi’iyah dan Malikiyah adalah riwayat dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah Shallallahu ‘AAlaihi wa Sallam senantiasa melakukan qunut shubuh sampai faraqat dunia (meninggalkan dunia/wafat). (HR. Ahmad No. 12196. Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra, 2/201. Abdurrazzaq, Al Mushannaf, No. 4964. Ath Thabarai, Tahdzibul Atsar, No. 2682, 2747, katanya: shahih. Ad Daruquthni No. 1711. Al Haitsami mengatakan: rijal hadits ini mautsuq (bisa dipercaya). Majma’ Az Zawaid, 2/139)

    Sementara Al Hafizh Az Zaila’i menyebutkan riwayat dari Ishaq bin Rahawaih dalam Musnad-nya, lafaznya dari Rabi’ bin Anas: Ada seorang laki-laki datang kepada Anas bin Malik dan bertanya: “Apakah Rasulullah berqunut selama satu bulan saja untuk mendoakan qabilah?” Anas pun memberikan peringatakan padanya, dan berkata: “Rasulullah senantiasa berqunut shubuh sampai beliau meninggalkan dunia.” Ishaq berkata: hadits yang berbunyi: tsumma tarakahu (kemudian beliau meninggalkannya) maknanya adalah beliau meninggalkan penyebutan nama-nama qabilah dalam qunutnya.” (Nashbur Rayyah, 3/183) Jadi, bukan meninggalkan qunutnya, tetapi meninggalkan penyebutan nama-nama qabilah yang beliau doakan dalam qunut nazilah.

    Imam Asy Syaukani, menyebutkan dari Al Hazimi tentang siapa saja yang berpendapat bahwa qunut subuh adalah masyru’ (disyariatkan), yakni kebanyakan manusia dari kalangan sahabat, tabi’in, orang-orang setelah mereka dari kalangan ulama besar, sejumlah sahabat dari khalifah yang empat, hingga sembilan puluh orang sahabat nabi, Abu Raja’ Al ‘Atharidi, Suwaid bin Ghaflah, Abu Utsman Al Hindi, Abu Rafi’ Ash Shaigh, dua belas tabi’in, juga para imam fuqaha seperti Abu Ishaq Al Fazari, Abu Bakar bin Muhammad, Al Hakam bin ‘Utaibah, Hammad, Malik, penduduk Hijaz, dan Al Auza’i. Dan, kebanyakan penduduk Syam, Asy Syafi’i dan sahabatnya, dari Ats Tsauri ada dua riwayat, lalu dia (Al Hazimi) mengatakan: kemudian banyak manusia lainnya. Al ‘Iraqi menambahkan sejumlah nama seperti Abdurraman bin Mahdi, Sa’id bin Abdul ‘Aziz At Tanukhi, Ibnu Abi Laila, Al Hasan bin Shalih, Daud, Muhammad bin Jarir, juga sejumlah ahli hadits seperti Abu Hatim Ar Razi, Abu Zur’ah Ar Razi, Abu Abdullah Al Hakim, Ad Daruquthni, Al Baihaqi, Al Khathabi, dan Abu Mas’ud Ad Dimasyqi. (Nailul Authar, 2/345-346) Itulah nama-nama yang meyetujui qunut subuh pada rakaat kedua.dikutip Imam At Tirmidzi sebagai berikut:

    قَالَ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ إِنْ قَنَتَ فِي الْفَجْرِ فَحَسَنٌ وَإِنْ لَمْ يَقْنُتْ فَحَسَنٌ

    “Berkata Sufyan Ats Tsauri: “Jika berqunut pada shalat shubuh, maka itu bagus, dan jika tidak berqunut itu juga bagus.” (Lihat Sunan At Tirmidzi, keterangan hadits No. 401)

    Imam Asy Syaukani dalam Nailul Authar:

    وقال الثوري وابن حزم : كل من الفعل والترك حسن

    “Berkata Ats Tsauri dan Ibnu Hazm: “Siapa saja yang yang melakukannya dan meninggalkannya, adalah baik.” (Nailul Authar, 2/346)

    Imam Ibnul Qayyim juga memaparkan adanya kelompok yang menolak qunut secara mutlak termasuk qunut nazilah, yakni para penduduk Kufah. Beliau pun tidak menyetujui pendapat ini, hingga akhirnya Beliau menempuh jalan pertengahan, yakni jalannya para ahli hadits. Katanya:

    فأهلُ الحديث متوسطون بين هؤلاء وبين من استحبه عند النوازل وغيرها، وهم أسعدُ بالحديث من الطائفتين، فإنهم يقنُتون حيثُ قنت رسولُ اللّه صلى الله عليه وسلم، ويتركُونه حيث تركه، فيقتدون به في فعله وتركه،ويقولون: فِعله سنة، وتركُه لسنة، ومع هذا فلا يُنكرون على من داوم عليه، ولا يكرهون فعله، ولا يرونه بدعة، ولا فاعِلَه مخالفاً للسنة، كما لا يُنكِرون على من أنكره عند النوازل، ولا يرون تركه بدعة، ولا تارِكه مخالفاً للسنة، بل من قنت، فقد أحسن، ومن تركه

    فقد أحسن

    “Maka, ahli hadits adalah golongan pertengahan di antara mereka (penduduk Kufah yang membid’ahkan) dan golongan yang menyunnahkan qunut baik nazilah atau selainnya, mereka telah dilapangkan oleh hadits dibandingkan dua kelompok ini. Sesungguhnya mereka berqunut karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melakukannya, mereka juga meninggalkannya ketika Rasulullah meninggalkannya, mereka mengikutinya baik dalam melakukan atau meninggalkannya. Mereka (para ahli hadits) mengatakan: melakukannya adalah sunah, meninggalkannya juga sunah, bersamaan dengan itu mereka tidak mengingkari orang-orang yang merutinkannya, dan tidak memakruhkan perbuatannya, tidak memandangnya sebagai bid’ah, dan tidaklah pelakunya dianggap telah berselisih dengan sunnah, sebagaimana mereka juga tidak mengingkari orang-orang yang menolak qunut ketika musibah, mereka juga tidak menganggap meninggalkannya adalah bid’ah, dan tidak pula orang yang meninggalkannya telah berselisih dengan sunnah, bahkan barang siapa yang berqunut dia telah berbuat baik, dan siapa yang meninggalkannya juga baik.” (Ibid, 1/274-275)

    Syaikh ‘Athiyah Shaqr menilai pendapat pertengahan Imam Ibnul Qayyim ini adalah pendapat yang terbaik dalam masalah qunut. (Fatawa Al Azhar, 5/9)

    dari Said bin Jubair, dia berkata aku bersaksi bahwa aku mendengar, dari Abdullah bin Abbas Radhiallahu ‘Anhu, dia berkata, “Qunut yang ada pada shalat subuh adalah bid’ah.” (HR. Ad Daruquthni No. 1723)

    Tetapi riwayat ini dhaif (lemah). (Nashbur Rayyah, 3/183). Imam Al Baihaqi mengatakan: tidak shahih. (Imam Asy Syaukani, Nailul Authar, 2/345. Maktabah Ad Da’wah Al Islamiyah) Karena di dalam sanadnya ada periwayat bernama Abdullah bin Muyassarah dia adalah seorang yang dhaiful hadits (hadits darinya dhaif). (Imam Ibnu Hajar, Tahdzibut Tahdzib, 6/ 44. Lihat juga Imam Al Mizzi, Tahdzibul Kamal, 16/197)

    “Wahai Abu Abdirrahman (yaitu Ibnu Mas’ud) bagaimanakah bisa-bisanya engkau mengerjakan shalat bersama amirul mukminin Utsman tanpa qashar sedangkan Nabi, Abu Bakar dan Umar tidak pernah melakukannya. Beliau mengatakan, “Menyelisihi imam shalat adalah sebuah keburukan” (Diriwayatkan oleh Abu Daud)”

    Maka atas hal ini dua-duanya adalah baik, apabila ketika kita mewajibkan qunut pada shalat shubuh sesungguhnya kita telah menghilangkan salah satu sunnah yaitu shalat tanpa qunut shubuh. begitu pula sebaliknya semoga tulisan yang singkat ini menjadi pelajaran yang sangat berharga untuk orang-orang yang menolak untuk melakukan qunut pada shalat shubuh maupun orang-orang yang mewajibkan qunut untuk shalat shubuh ataupun orang yang menolak mengikuti imam apabila qunut dalam shalat shubuh ataupun bagi orang-orang yang qunut/mengulangi shalat ketika imam tidak qunut ! Wallahu a’lam musta’an….

    http://www.onlineherba.com/blog/archives/10

  2. rendyadamf says:

    terimakasih sdr M.noor atas tambahan ilmunya ^^

    - Tapi Imam syafi’i juga berkata “tidak ada sesuatu pun dari shalat yang wajib, selain shubuh dan jika teradi bencana, maka Nabi melakukan qunut dalam seluruh shalat wajib (al-um, 1:182)

    - riwayat dari anas diatas pada alinea pertama menurutImam Ahmad dan Daruquthni, hadits yang senada juga banyak dari jalan lain, ia menambahkan “Adapun pada waktu shalat shubuh, Nabi senantiasa berqunut sampai beliau wafat (Subulus-salam, 1:185). Tapi hadits itu dhaif karena terdapat rawi bernama Abu Ja’far ar-Raji.
    1. Berkata Abu Jur’ah tentang dirinya (Ja’far) “Tidak kuat”
    2. berkata al-madini “Dia itu mukhtalith (bercampur ingatan)
    3. Berkata Abu Jur’ah “dia telah banyak tertuduh dusta
    4. Berkata ‘Amr bin ‘Ali al-Falas “dia jujur namun hafalannya jelek”
    (Nailul-Authar, 2:386)

    bahkan Anas ra sendiri tidak mengatakan “Dan Nabi senantiasa melkukan qunut setelah ruku sambl mengeraskan suaranya dengan doa ‘Allaahumma Idinii Fii man Hadayta (Zadul-Maad, 1:71)

    Kalaulah hadits itu shaih, maka sama sekali tidak menunjukan atas qunut tertentu (qunut shubuh) (Zaadul-Maad, 1:70)

    - dan berkata Ibnu Qayyim juga dalam Zaadul-Maad, 1:69 “Adalah petunjuk Nabi qunut itu dikala musibah saja, dan Nabi tidak mengkhususkan waktu qunut tersebut pada shalat fajar saja”

    -hadits pada alinea kedua juga dhaif seperti yang dijelaskan sebelumnya yaitu karena ada Rawi Abu Ja’far ar-Razi’ yg dinyatakan dhaif, dan menurut qawaud :Tuduhan jarah (cacat) harus didahulukan daripada dianggap ‘adil (jujur)

    - Menurut syaukani bahwa yang benar ialah pendapat orang yang mengatakan bahwa qunut itu dikhususkan dilakukan manakala terjadi bencana atau malapetaka, dan dalam hal itu selayaknya tidak dikhususkan dalam shalat-shalat tertentu saja (Al Fathul-Rabbani, 3:350)

    - menurut Ibnul Qayyim “andaikata hadits itu shahih (tetap) tidak dapat dijadikan dalil kebenaran qunut tertentu (shubuh) (Zaadul-Maad, 1:70)

    - mengingat ada qaidah “Manakala para ulama ragu-ragu menetapkan antara sunnah dengan bid’ah, maka lebih baik ditinggalkan” dan “Meninggalkan yang diragukan kesunnahannya, lebih baik daripada mengamalkan yang dikhawatirkan terjatuh kepada bid’ah”

  3. Imam Ibnul Qayyim juga memaparkan adanya kelompok yang menolak qunut secara mutlak termasuk qunut nazilah, yakni para penduduk Kufah. Beliau pun tidak menyetujui pendapat ini, hingga akhirnya Beliau menempuh jalan pertengahan, yakni jalannya para ahli hadits. Katanya:

    فأهلُ الحديث متوسطون بين هؤلاء وبين من استحبه عند النوازل وغيرها، وهم أسعدُ بالحديث من الطائفتين، فإنهم يقنُتون حيثُ قنت رسولُ اللّه صلى الله عليه وسلم، ويتركُونه حيث تركه، فيقتدون به في فعله وتركه،ويقولون: فِعله سنة، وتركُه لسنة، ومع هذا فلا يُنكرون على من داوم عليه، ولا يكرهون فعله، ولا يرونه بدعة، ولا فاعِلَه مخالفاً للسنة، كما لا يُنكِرون على من أنكره عند النوازل، ولا يرون تركه بدعة، ولا تارِكه مخالفاً للسنة، بل من قنت، فقد أحسن، ومن تركه

    فقد أحسن

    “Maka, ahli hadits adalah golongan pertengahan di antara mereka (penduduk Kufah yang membid’ahkan) dan golongan yang menyunnahkan qunut baik nazilah atau selainnya, mereka telah dilapangkan oleh hadits dibandingkan dua kelompok ini. Sesungguhnya mereka berqunut karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melakukannya, mereka juga meninggalkannya ketika Rasulullah meninggalkannya, mereka mengikutinya baik dalam melakukan atau meninggalkannya. Mereka (para ahli hadits) mengatakan: melakukannya adalah sunah, meninggalkannya juga sunah, bersamaan dengan itu mereka tidak mengingkari orang-orang yang merutinkannya, dan tidak memakruhkan perbuatannya, tidak memandangnya sebagai bid’ah, dan tidaklah pelakunya dianggap telah berselisih dengan sunnah, sebagaimana mereka juga tidak mengingkari orang-orang yang menolak qunut ketika musibah, mereka juga tidak menganggap meninggalkannya adalah bid’ah, dan tidak pula orang yang meninggalkannya telah berselisih dengan sunnah, bahkan barang siapa yang berqunut dia telah berbuat baik, dan siapa yang meninggalkannya juga baik.” (Ibid, 1/274-275)

    Syaikh ‘Athiyah Shaqr menilai pendapat pertengahan Imam Ibnul Qayyim ini adalah pendapat yang terbaik dalam masalah qunut. (Fatawa Al Azhar, 5/9)

    maka yang ana ambil adalah jalan tengah meskipun masih banyak hadits syahid yang memperkuat akan masalah qunut, tapi ana ngak akan sebutin di sini nanti jadi mujadalah. coba antum belajar menerima perbedaan jangan memperuncing masalah di antara umat islam, sebagaimana Imam Ahmad bin Hambal ketika shalat di Mesjid Imam Asy-Syafi’i.
    Ini adalah masalah Usang… orang bicara dha’if, shahih apakah antum yakin itu benar2 dha’if ?! yang benar-benar mengetahui itu hanyalah Allah swt semata, musthalahul hadits itu adalah perkiraan semata.
    tolong kalau copas artikel yang membuat perdamaian antara sesama Muslim, ana jadi gerah bacanya….

  4. Pingback: Hukum Qunut Khusus Shalat Shubuh « cahaya di atas cahaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 58 other followers

%d bloggers like this: