20. Bacaan Pada Duduk Antara Dua Sujud

Allah Maha Besar

Allah Maha Besar

Bacaan-bacaan pada duduk antara dua sujud

Lamanya duduk

Dari Abu Qilabah sesungguhnya Malik bin Al-Huwairits mengatakan kepada para kawannya “..maka beliau (Nabi) berdiri sebentar, lalu sujud, kemudian mengangkat kepalanya (bangkit dan duduk) sebentar..” H.R Al-Bukhari, Fathul Bari, II:444

Dari Al-Bara ia berkata “keadaan (lamanya) sujud Nabi saw rukunya serta duduk sntara dua sujudnya hampir sama” H.R Bukhari , fathul bari, II:445

Dari Anas bin Malik ia berkata “sesungguhnya aku akan memperagakan salat kepada kalian, sebagaimana aku melihat Nabi saw salat dengan kami (mengimami) Tsabit berkata “Anas melakukan sesuatu yang aku belum pernah melihat kalian melakukannya yaitu apabila ia bangkit dari ruku berdiri (lama) sehingga seseorang mengatakan ‘sungguh ia telah lupa’ dan di antara dua sujud sampai-sampai seseorang menyatakan ia telah lupa” H.R Al-Bukhari, Fathul Bari, II:445

Menurut hadis-hadis shahih di atas, duduk Nabi di antara dua sujud adakalanya sebentar, adakalanya sedang-sedang saja. Namun menurut hadis ketiga, duduk yang dipraktikan oleh Anas bin Malik berdasarkan pengamatannya terhadap salat Nabi saw ternyata sangat lama, sehingga orang-orang beranggapan bahwa Anas lupa bangkit. Maka tentu saja sebentar dan lamanya duduk di antara dua sujud tersebut menggambarkan pendek dan panjangnya.

Bacaan-bacaannya

a). Rabbighfirli, sebagaimana diterangkan dalam hadis berikut :

Dari Hudzaifah ia berkata “Nabi saw bangun pada suatu malam untuk melakukan salat malam (tahajud)..kemudian beliau sujud seukuran dengan ketika mengangkat kepalanya, kemudian beliau bangkit dan mengucapkan rabbighfirli” H.R Abni Khuzaimah, Shahih Ibnu Khuzaimah, I:340-341

b). Rabbighfirli – rabbighfirli sebagaimana diterangkan dalam hadis berikut :

Sesungguhnya Nabi saw bersabda kemudian beliau mengangkat kepalanya, dan keadaan duduk di antara dua sujud lamanya seukuran dengan sujud, dan beliau mengucapkan “rabbighfirli, rabbighfirli” H.R Ahmad, Al-Musnad,IX:103

Dari Huzaifah bahwasanya Nabi saw berucap di antara dua sujud ‘rabbighfirli, rabbighfirli” H.R Ibnu majah, Sunan Ibnu Majah, I:289’ An Nasai, Sunan An Nasai, I:580’ Ad-Darimi, Sunan Ad-darimi, I:304

Sedangkan dalam riwayat Abu Daud (Sunan Abu Daud, I:200) hadis ini diriwayatkan pula oleh Al-baihaqi (As.Sunanus Shaghir, I:267) dan Abu Daud at Thayalisi (Musnad at-thayalisi, I:56) denganredaksi sedikit berbeda. Kemudian Al-Baihaqi dalam kitanbnya yang lain yaitu As-Sunanul Kubra, II:121.

Hadis-hadis diatas, baik bacaan rabbighfirli satu kali atau dua kali scara keseluruhan shahih, walaupun pada umumnya diriwayatkan melalui rawi yang mubham (tidak disebut namanya) dan hanya disebut rajulan min bani Absin (seesorang dari bani Absin) namun ke-mubhamannya ini menjadi hilang karena ternyata dalam sanadnya Ibnu Majah disebutkan bahwa yang menerima dari Hudzaifah itu dua orang, yakni thalhah bin yazid dan shilah bin zulfar. Karena itu syu’bah memandang bahwa rajulun min Bani Absin itu adalah Shilah bin Zulfar (As-Sunanul Kubra, II:121).

dengan demikian bacaan rabbighrifli disebut satu kali dalam hadis pertama, dan dua kali pada hadis kedua tidak menunjukan batas berdasarkan dalil-dalil. kadang-kadang Rasulullah saw lama dalam dua sujud itu

Bacaan-bacaan pada duduk antara dua sujud (bagian akhir)

Bacaan lain selain rabbigfirli

Selain bacaan rabbigfirli, masih ada bacaan lain dengan lafal-lafal sebagai berikut :

Dari Ibnu Abbas, bahwasanya Nabi saw mengucapkan diantara dua sujud Allahummagfirli warhamni wa’aafini wahdini warzuqni. H.R Abu Daud

Dari Ibnu Abbas bahwasanya Rasulullah saw mengucapkan ketika duudk antara dua sujud Allahummagfirli warhamni wajburni warfa’ni wahdini warzuqni. H.R Al-Hakim

dari Ibnu Abbas bahwasanya Nabi saw mengucapkan di antara dua sujud Allahummagfirli warhamni wajburni wahdini warzuqni. H.R At-Tirmidzi

Dari Ibnu Abbas ia berkata “adalah raulullah saw mengucapkan (pada waktu) duduk antara dua sujud pada salat malam Rabbigfirli warhamni wajburni warzuqni warfa’ni. H.R Ibnu Majah

Ada yang berpendapat bahwa hadis-hadis tersebut daif dan tidak boleh diamalkan, karena Kamil bin ‘Ala dan habib Abu Tsabit dinyatakan lemah oleh para ulama. Tentang Kamil bin al-‘Ala, Ibnu Hibban berkata di dalam kitab al-Majruhin “ia termasuk orang yang suka membolak-balikkan sanad, dan memarfu’kan hadis mursal” (ta’liq Tahdzibul Kamal, 1992, XXIV:102)

Ibnu Hajar berkata “shaduq” ia keliru (Taqribut Tahdzib, 1995, II:491)

An-Nasai berkata “ia tidak kuat” adapun tentang Habib bin Abu Tsabit, Ibnu hajar berkata “ia banyak memursalkan hadis(meriwayatkan secara langsung dari Nabi) dan banyak tadlis, (Taqribut Tahdzib 1995, I:103) karena itu, mereka berpendapat bahwa yang boleh diamalkan itu hanya rabbigfirli saja.

Untuk itu marilah kita telitii sampai sejauhmana kecermatan yang mengatakan bahwa hadis-hadis tersebut lemah dan tidak dapat diamalkan, benarkah Habib bin Abu tsabit dan Kamil itu termasuk rawi-rawi yang daif.

Habib bin Abu Tsabit

Habib termasuk tabiin muda, nama lengkapnya Qais bin Dinar. Ada yang mengatakan Qais bin Hindun dan ada pula yang mengatakan namanya Hindun bin Dinarm Al-Asadi Abu Yahya Al-Kufi Maula Bani Asad bin Abdul ‘Uza. Dia rawi al-jama’ah, yakni hmad, Al-Bukhari, Muslim, Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasai dan Ibnu Majah (lihat Tahdzibul Kamal, V:358-363; Taqribut Tahdzib, 1995, I:103)

Untuk mengetahui kedudukan riwayat Habib bin Abu Tsabit kita perhatikan sanad Habib dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas tentang bacaan-bacaan diatas.

Pada kitab Al-Musnad dengan tahqiq Abdullah Muhammad Ad-Darwisy Abul Fida An-Naqidi, Imam Ahmad mempergunakan untaian sanad diatas pada bebrapa tempat sebagai berikut :

- Hadis No 3323 tentang menjamak salat di tempat sendiri tanpa khauf dan tanpa hujan (lihat, Al musnad, I:758)

- Hadis ni 2530, 3132, 3199 dan 3147, tentang haji (Ibid, hal 600, 723, 736, dan 775)

- Hadis no 3110 tentang makanan (Ibid, hal 719)

- Hadis no 1881tentang salat malam (Ibid, hal 468)

- Hadis no 2819, tentang Fadhilah Anshar (Ibid hal 662)

- Hadis no 2951 tentang pakaian (Ibid hal 688)

Al-Bukhari menggunakannya pada :

- Bab man intasaba ila abaihi (Sahih al-bukhari, IV:161)

- Bab man yahillu minan nisai wama yahrumu (Ibid, VI:126)

- Bab qauluhu ta’ala waraaitan nasa yadkhuluna fi dinillah afwaja (Ibid, VI:93)

Muslim menggunakannya pada :

- Bab al-Jama’u baina shalatain fil hadhar (sahih Muslim, I:285)

- bab tahrimu shaid lil muhrim (Ibid hal 490)

- Bab intibadut tamri waz zabib makhluthain (Ibid, II:192)

- Bab an-nahyu ‘anil intibad fil muzaffati wad dibai (Ibid hal 195)

Abu Daud menggunakannya pada :

- Bab al-Jama’u bainas shalatain (sunan Abu Daud, I:276)

- Bab ad-du’a baina sajdatain (Ibid hal 195)

At-Tirmidzi menggunakannya pada :

- bab ma ja-a fil jami’ bainas shalatain fil hadhar (sunan at-Tirmidzi, I:354 no 187)

- Bab fadhlul anshar wa quraisy (Ibid V:671 no 3906)

- Bab ma yaqulu bainas sajdatain (Ibid II:76 no 284)

An-nasai menggunakannya pada :

- Bab al-Jama’u bainas shalatain fil hadhar (sunan An-Nasai, I:316 no 601)

- bab khalitul busri wat tamri (Ibid VIII:686 no 5572)

- Bab at-talbiyyah fis siyar (Ibid V:295 no 3056)

- Bab fi kaifiyat shalati Rasulillah saw bill ail (Ibid I:163 no 405)

Ibnu Majah menggunakannya pada :

- Bab as-siwak (sunan Ibnu Majah, I:106 no 288)

- Bab ma yaqulu bainas sajdatain (Ivid hal 290 no 898)

- Bab al wafa bin Nadzri (Ibid hal 688 no 688)

Penilaian Para ahli terhadap Habib

- Ibnu Ma’in mengatakan “ Tsiqatun, hujjatun”

- Al-‘Ijli mengatakan “ia orang kufah, tabi’in dan tsiqat”

- An-Nasai mengatakan “tsiqat”

- AAbu Hatim mengatakan “shaduq, tsiqat”

- Abu Hatim mengatakan “Tsiqat, hujjatun”

(lihat Hadyus Sari, 1986:415; Tahdzibul Kamal, 1994, V:361-362; Tahzibut Tahdzib, II:178)

- Ad-Dzahabi berkata “ia seorang tsiqat, ahli fikih” (al-kasyif, I:301)

- Ad-Dzahabi berkata “ia dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Ma’in dan lain-lain, dan digunakan hujah oleh setiap yang memisahkan hadis sahih tanpa keraguan” (mizanul I’tidal, I:451)

Adapun mengenai perkataan Ibnu Hibban di dalam kitabnya ats-Tsiqat dan pernyataan Ibnu Khuzaimah di dalam kitab Shahihnya bahwa “ia seorang Mudallis” tidak berpengaruh apapun, karena dengan keterangan-keterangan di atas terbukti bahwa untaian sanad Habib, dari Said bin Jubair, dari Ibnu Abbas dipergukana oleh al-jamaah.

Dengan demikian, sighah ‘an yang digunakan Habib sebanding dengan shigah haddatsana. selain itu ia tidak pernah meriwayatkan hadis kecuali dari sahabat, tabi’in yang tsiqat dan aqran (orang yang sebaya) yang tsiqat. Karena itu, marilah kita perhatikan syuyukh (guru-guru) habib bin Abu Tsabit sebagai berikut :

- dari kalangan sahabat : Ibnu umar, Ibnu Abbas, dan Annas bin Malik.

- dari kalangan tabi’in : Abu Thufail, Ibrahim bin Saad bin abu Waqas, Nafi’ bin Jubair bin Muth’im, mujahid, Atha, Thawus, Abu Shaleh As-Sam’ani, Atha bin Yasar, maimun bin Abu Syabib, Abu Muthawwas, Tsa’labah bin Yazid Al-Hamani, Ikrimah, Kuraib maula Ibnu Abbas.

- dari kalangan aqrannya : Dzarrin bin Abdulah al-Hamdan, Ubdah bin Abu Lubabah, ‘Amarah bin Humair, Muhammad bin ali bin Abdullah bin Abbas (lihat Rijalus Shahihain, I:190)

Adapun murid-murid beliau adalah Al-A’masy, Abu Ishaq As-Syaibani, Husain bin Abdurrahman, Zaid bin abu Anisah, Al-Mas’udi, Ibnu Juraij, Abu Bakar bin Iyas, Mutharrif bin Thuraif, Abu Zubair dan lain-lain

Dengan demikian nyatalah bahwa Habib bin Abu Tsabit adalah rawi yang tsiqat dan masyhur tanpa ada keraguan. Nampaknya agak kurang hati-hati apabila ada yang menyatakan bahwa Habib adalah rawi yang daif.

Kamil Abul ‘Ala

Nama lengkapnya Kamil bin ‘Ala At-Tamimi s-sa’di. Kun-yahnya Abul ‘Ala, sebagian orang mengatakan Abu Abdullah. (Tahdzibul kamal, XXIV:99-100)

Ia dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Ma’in, sedangkan An-Nasai mengatakan “laisa bil qawiyyi” namun ia berkata pula “laisa bihi batsun” kemudian Ibnu Hibban menatakan “ia diantara orang yang mengatakan orang yang membolak-balikan sanad dan memarfu’kan sanad-sanad mursal”

Pernyataan “laisa bil qawiyyi” dari an-nasai tidak dapat dijadikan hujjah utbuk mendaifkan Kamil, karena pernyataan seperti itu termasuk jarh (kritikan) yang mubham (tidak dierangkan sebabnya). Di samping itu ditentang oleh perkataan beliau sendiri “laisa bihi ba-tsun”

Adapun perkataan Ibnu Hibban diatas tidakmenjadikan Kamil rawi yang tercela, karena dalam hal iin beliau terlalu memaksakan dan berlebihan, sebagaimana telah tetap di dalam kebakuannya. Karena derajat sahih, tentu saja tidak akan kurang dari derajat hasan. Wallahu a’lam (Tuhfatul Ahwadzi, II:163)

Selain itu, Imam Al-Hakim setelah meneliti ulang hadis tersebut beliau menyatakan hadis tersebut sahih, bahkan Imam Adz-Dzahabi yang memeriksa kembali hadis penelitian Al-Hakim menyatakan setuju terhadap pernyataan Al-hakim tersebut. (Al-Mustadrak, I:271. lihat pula Zadul Ma’ad, I:239)

Kesimpulan

- Lamanya duduk antara dua sujud bergantung bacaan panjang atau pendeknya.

- bacaan rabbigfirli dan bacaan lainnya dapat diamalkan

- Bacaan-bacaan sujud boleh dibaca lebih dari satu kali

About these ads

About rendyadamf
assalamu'alaikum wrwb..salam kenal buat teman - teman semuanya..gw rendy TTL : Bandung, 30-06-84. gw kuliah di UNISBA. gw nulis blog ini hanya untuk curahkan semua pemikiran gw..dan gw udah ubah haluan jalan hidup gw..menjadikan jihad sebagai satu-satunya jalan hidup gw!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 65 other followers

%d bloggers like this: