5. Membaca Ta’awudz

kaligrafi-10

Isti’adzah

Ta’awudz atau isti’adzah menurut bahasa adalah melindungkan sesuatu kepada sesuatu yang lain. Maka kata-kata naudzubillah artinya kami berlindung kepada. Allah Untuk membaca kita diperintah Allah swt untuk membaca ta’awudz terlebih dahulu. Pada Q.S An Nahl : 98 Allah berfirman :

Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.

Perintah membaca ta’awudz bukan hanya ketika akan membaca Al-quran. Melainkan pada kesempatan atau keadaan lainnya, seperti ketika di dalam kehidupan sehari-hari dituntut menjadi orang yang pemaaf, melakukan amar makruf nahi munkar serta bersikap tegas dan lugas ketika harus berpaling dari orang-orang yang bodoh. Maka apabila setan menghalangi untuk yang demikian, berlindunglah kepada Allah SWT

Jadilah Engkau Pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh. (Q.S Al-A’raf : 199)

Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan Maka berlindunglah kepada Allah[1]. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui. (Q.S Al-A’raf : 200)

[1] Maksudnya: membaca A’udzubillahi minasy-syaithaanir-rajiim.

Memberi maaf, memerintah kebaikan, dan atau memalingkan diri dari orang jahil yang kita banyak keperluan, semua ini tidak ringan karena harus melawan sang penggoda yang tidak kenal lelah, pantang menyerah lagi tak terima rayuan dan sogokan, maka yang akan terasa ringan adalah apabila mengerjakan perkara sebaliknya. Maka tiada jalan, selain dengan bersungguh-sungguh memohon perlindungan kepada Zat Yang Maha Pencipta.


Selanjutnya setingkat lebih sulit membalas kejelekan yang menimpa dengan kebaikan, dalam hal ini tentu daya jihad yang sangat besar diperlukan, tapi bagaimanapun. Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan[2]. (Q.S Al-Mukminun : 96)

Dan Katakanlah: “Ya Tuhanku Aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan syaitan. (Q.S Al-Mukminun : 97)

Dan Aku berlindung (pula) kepada Engkau Ya Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku.”. (Q.S Al-Mukminun 98)

[2] Maksudnya: perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan kaum musyrikin yang tidak baik itu hendaklah dihadapi oleh nabi dengan yang baik, umpama dengan memaafkannya, asal tidak membawa kepada kelemahan dan kemunduran dakwah.

Keterangan-keterangan ini menunjukan bahwa isti’adzah merupakan keharusan bagi setiap mukmin yang akan meningkatkan dan memelihara keimanan serta akhlak karimahnya.

Bacaan Ta’awudz dalam shalat

Rasulullah saw apabila telah berdiri ba’da takbiratul ihram, ia diam sejenak. Diamnya ini tidak lain karena membaca iftitah dan ta’awudz.

Dari abu Said al Khudri dari Nabi saw bahwasanya beliau apabila berdiri salat (ba’da takbiratul ihram) membaca doa iftitah dan membaca “a’udzubillah..-aku berlindung kepada Allah Yang Maha mendengar Maha mengetahui dari setan yang terkututk dari godaannya, tiupannya dan rayuannya”. H,R Ahmad dan At-Tirmidzi

Bacaan isti’adzah ini paling shahih

Masih dari sahabat Abu Said al-Khudri riwayat Abu Daud yang semakna dengan hadis di atas, hanya saja terdapat beberap tambahan bacaan.

Dari Abu Said al Khudri ia mengatakan “adalah Nabi saw apabila bersiri berdiri salat (ba’da takbiratul ihram) dari sebagian malamnya, beliau membaca “subhanaka allahuma…kemudian membaca laa ilaha illallah tiga kali, lalu membaca Allahu akbar kabiran tiga kali, kemudian mmebaca a’udzubillah…Aku berlindung kepada Allah yang maha mendengar Maha Mengetahui dari setan yang terkutuk: Godaan, tipuan, dan rayuannya kemudian membaca (Al-fathihah)_. H.R Abu Daud

Pada hadis ini terdapat jarah, yaiut karena pada sanadnya terdapat rawi bernama Ali bin Ali yang nama lengkapnya ialah Ibnu Najad bin Rifa’ah Ar Rifa’I Al Bashri.

Abu Hatim berkata “dia laa ba’sa bihi” hadisnya tidak dipakai hujjah

Selain ringannya jarah ini ta’dil (pembelaan) terhadapnya sangat banyak, di antaranya Ibnu Main yang terkenal kritis dan keras terhadap rawi-rawi hadis mengatakan “dia itu tsiqat (kuat)” Imam Asy Syaukani menyatakan, hadis ini sebagaimana di atas, diriwayatkan dengan jalan yang banyak yang saling menguatkan satu dengan lainnya, di antaranya diriwayatkan pula oleh Ibnu Majah dan Al-Baihaqi dari sahabat Abdullah bin Mas’ud

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari setan yang terkutuk; Godaan, tipuan, dan rayuannya”

demikian pula diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud serta Ibnu Majah melalui shabat Jubair bin Muth’im

Bahwa ia melihat Nabi Saw salat. Beliau membaca Allah Akbar kabiran Allahu akbar kabiran, alhamdulillahi katsiran alhamdu lillahi katsiran, wa subhanallahi bukratan wa ashilan, Audzubillahi…”

Demikian pula diriwayatkan seperti hadis Jubair oleh Ahmad dari sahabat Abu Umaah. Diriwayatkan pula oleh At-Tirmidzi dari sahabat Umar Bin Khatab dari sahabat Umar bin Khatab dengan mauquf. Selain hadis-hadis di atas yang menunjukan sunnahnya bacaan ta’awudz, lebih kuat karena keumuman ayat-ayat. Maka hadis di atas menunjukan bahwa ta’awudz keberadaannya seperti doa iftitah. Nailul Authar, II:104 dan 105

Adapun di dalam salat membaca ta’awudz dengan bacaan,

“a’udzubillahi minasysyaithaanirrajiim”

Keterangannya sebagai berikut

Ibnul Mundir berkata “menurut hadis nabi Saw. bahwa beliau membaca sebelum qira’ah (fathihah)nya Audzu billahi minasy syaithanir rajim” aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk

Dari Abu Said Al Khudri sesungguhnya Rasulullah saw mengucapkan “A’udzubillahi minasy syaithanirrajim” H.R Abdurrazaq, II:86

Dari Ibnu Umar, bahwa keadaannya ia berta’awudz, ia mengucapkan “a’udzubillahi minasy syaithanirrajim” atau “a’udzu bullahis sami’il alimi minasyaithanirrajim” H.R Ibnu Abu Syaibah, I:286

Maka bacaan ta’awudz ini boleh diamalkan.

Ta’awudz hanya setelah takbiratul ihram

Bacaan ta’awudz tidak disyariatkan kecuali setelah takbiratul ihram, berdasarkan keterangan berikut

Dari Abu Hurairah adalah Rasulullah saw apabila verdiri pada rakaat kedua ia memulai bacaan dengan al-fathihah dan tidak diam terlebih dahulu (tidak membaca doa iftitah dan ta’awudz). H.R Muslim

Riwayat Abu Hurairah yang lkain menerangkan :

Dari Abu Hurairah r.a sesungguhnya Nabi Saw bersaktah (diam) yaitu ketika memulai salat .H.R An-Nasai

Berdasarkan keterangan-keterangan ini Al Imam As Syaukani menerangkan :

Dain hadis ini menunjukan bahwa tidak disyariatkan saktah (diam) sebelum qira’ah pada rakaat kedua, demikian pula tidak disyariatkan ta’awudz padanya dan pada rakaat-rakaat selanjutrnya” Nailul authar, II:280

(Al-Qudwah : 4/15)

About these ads

About rendyadamf
assalamu'alaikum wrwb..salam kenal buat teman - teman semuanya..gw rendy TTL : Bandung, 30-06-84. gw kuliah di UNISBA. gw nulis blog ini hanya untuk curahkan semua pemikiran gw..dan gw udah ubah haluan jalan hidup gw..menjadikan jihad sebagai satu-satunya jalan hidup gw!!

5 Responses to 5. Membaca Ta’awudz

  1. Asslm…
    Akhi, ana mo minta izin sama antum tentang penggunaan gambar kaligrafi yang antum upload di blog ini, gambar tersebut ana jadikan avatar di group facebook “Kajian Karyawan STMIK PPKIA”, afwan akhi bila knfirmasi ini terlambat…
    syukron…

  2. rendyadamf says:

    wa’alaikumussalam wrwb..iya,,salam kenal yah..blog antum juga sangat bermanfaat ^,^

  3. thaa says:

    bolehkah saya bertanya??? bolehkah kita membaca basmalah dahulu baru ta’awudz dalam kegiatan kita sehari2???

  4. nasrullah says:

    afwan
    ana nasrul dari medan
    sya udah bca blog antum
    jadi saya cuma mau tanya
    antum berlandas kan madzhab apa?

    afwan

  5. hendry says:

    Trims….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 63 other followers

%d bloggers like this: